BAKTERI CINTA KONOHA

Tadaima

Poft.

"Huaaah!" Shizune terlonjak kaget oleh kehadiran Naruto yang begitu tiba-tiba di depannya. Hampir saja Shizune menabrak pemuda cepak ini dan menjatuhkan setumpuk kertas di pelukannya.

Beberapa orang yang berlalu lalang disekitar lorong sempat tertarik oleh suara teriakan Shizune, namun kemudian mereka kembali melanjutkan aktivitasnya karena ternyata Shizune tak mengalami sesuatu yang gawat.

"Nee-chan. Kebetulan sekali." Naruto tersenyum sumringah.

"Dimana kamar Hinata?" Tanya Naruto tak sabar.

"Kau hampir membuatku mati kaget dan kau bahkan tak menanyakan keadaanku?!" Omel Shizune tanpa menjawab pertanyaan Naruto.

"Ah, gomen. Hehe." Naruto menggaruk-garuk belakang kepala cepaknya dengan gerakan kikuk. Tak lupa sebuah cengiran menghiasi wajah tampannya.

"Bantu aku membawa semua kertas ini, baru aku akan memberitahumu dimana kamar Hinata." Tawar Shizune.

"Hmm…" Gumam Naruto.

"Baiklah. Serahkan padaku kertas-kertas itu." Sanggup Naruto. Naruto kemudian mengambil alih setumpuk kertas yang berada dalam pelukan Shizune.

"Kemana aku harus membawa semua kertas ini, Nee-chan?" Tanya Naruto. Shizune tersenyum simpul.

"Ayo ikut aku." Shizune melangkah mendahului Naruto.

.

.

"Jadi, kemana saja kau selama ini?" Tanya Shizune setelah beberapa langkah berjalan berdampingan bersama Naruto.

"Aku dirumah." Jawab Naruto.

"Dan mengerjakan misi."

"Lalu darimana kau tahu Hinata masuk rumah sakit?" Tanya Shizune kembali.

"Sai yang memberitahuku." Jawab Naruto. Shizune menghela nafas panjang.

Langkah kaki Shizune dan Naruto yang lambat membuat jarak antara lorong tempat mereka berdua bertemu dan lobi rumah sakit menjadi terasa jauh.

"Sebenarnya Kiba sudah pernah memberitahuku jika Hinata sakit." Cerita Naruto lambat-lambat.

"Lalu apa kau menjenguknya?" Pancing Shizune. Naruto menggeleng lemah.

"Aku sudah berjanji tak akan membawanya terjebak dalam situasi sulit." Naruto memberi alasan.

"Lagipula aku…" Naruto menggantung kalimatnya.

"Jadi, Hinata sakit apa?" Tanya Naruto mencoba membuat Shizune lupa dengan kalimatnya yang masih tergantung.

Shizune harus mendongakkan kepala untuk dapat menyamakan pandangan dengan Naruto yang semakin bertambah tinggi dari 3 tahun yang lalu sebelum Naruto berkelana keluar desa.

"Sebenarnya Hinata tidak sakit," Shizune mulai bercerita.

"Hinata hanya tak sadarkan diri."

"Aliran cakra Hinata entah kenapa kembali kacau."

"Bahkan lebih kacau daripada saat pertama kali dia belajar menjadi seorang Miko."

"Bagaimana bisa?" Potong Naruto yang mengerutkan keningnya bingung.

"Aku juga tak tahu." Shizune menggeleng pelan.

"Hokage-sama sebenarnya sudah mengirimkan kabar Hinata pada Tsunade-sama."

"Dari balasan surat, Tsunade-sama berpendapat bisa jadi ini karena Hinata terganggu konsentrasinya saat melatih dirinya menyerap cakra alam khusus yang bersuhu dingin." Naruto terlihat begitu meresapi tiap cerita yang didengarnya dari Shizune.

"Mungkin saja konsentrasi Hinata selalu terganggu karena terlalu banyak memikirkanmu, Naruto." Tebakan Shizune sukses membuat wajah tan Naruto sedikit ternoda oleh rona merah tipis.

"Aku sendiri sebenarnya tidak begitu paham apa bedanya cakra alam yang diserap Hinata dengan senjutsu milikmu." Shizune mendekapkan kedua tangannya di depan dada dan memasang wajah berfikir serius.

"Karena Hinata selalu berlatih seorang diri."

"Tapi aku tahu dari cerita Tsunade-sama jika gulungan tentang Miko di temukan di sekitar lokasi perumahan Uchiha."

"Tsunade-sama sebenarnya pesimis Hinata mampu menguasainya. Tapi ternyata dia bisa."

"Bahkan Tsunade-sama sendiri tak tahu bagaimana Hinata tiba-tiba dapat mengendalikan aliran cakra alam khusus tersebut dalam tubuhnya."

Shizune melirik Naruto. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa Naruto benar-benar memahami ceritanya.

"Jadi jika kau benar-benar menyayanginya, Naruto."

"Carilah rahasia dibalik kekuatan Miko ini."

"Karena itu aku tidak takut mati jika itu berarti aku melindungimu, Naruto-kun." Tanpa sadar Naruto baru saja memejamkan mata langitnya menggali ingatannya tentang keberanian Hinata yang membuatnya menyadari perasaan Hinata.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Shizune khawatir. Raut wajah Naruto terlihat begitu penuh tekanan.

"Tentu saja aku akan melakukannya." Naruto segera menghapus semua beban dari wajahnya.

"Selama aku masih hidup, aku tak akan membiarkan hal buruk terjadi pada Hinata." Shizune tersenyum simpul melihat bagaimana Naruto mencoba menghibur mereka berdua.

"Jangan sok keren begitu." Sindir Shizune.

"Kau lupa apa yang baru saja aku katakan?"

"Besar kemungkinan sebab Hinata seperti ini adalah karenamu." Shizune berhenti melangkah.

"Sekarang kita sudah sampai di lobi."

"Berikan kembali padaku kertas-kertas itu." Shizune kembali mengambil alih setumpuk kertas dari pelukan Naruto.

"Kamar Hinata ada di lorong tempat kita bertemu tadi." Shizune terlihat sedikit kerepotan membawa tumpukan tinggi kertas yang berisi data penyakit aneh di banyak negara yang belum di temukan obatnya.

"Apa?!" Pekik Naruto sweatdrop.

"Kenapa kau tak bilang daritadi, ttebayou!" Protes Naruto.

"Jika aku jujur, kau tidak akan membantuku membawa semua kertas ini." Shizune membela diri.

"Ya. Maksudku, tapi kan aku bisa saja meminta bunshinku membantumu." Sanggah Naruto.

"Owh, aku lupa." Jawab Shizune tanpa nada menyesal sedikitpun.

"Arggh!" Naruto mengacak rambut cepaknya frustasi.

"Sudahlah. Terima kasih, Nee-chan." Naruto berbalik pergi dan berlari kembali ke lorong yang dimaksud Shizune.

"Kamarnya nomor 4, Naruto!" Teriak Shizune.

"Oke!" Naruto terlihat mengacungkan jempolnya walau tak menolehkan kepala kuningnya sedikitpun pada Shizune.

oOo oOo oOo

Naruto berdiri diam di depan pintu kamar pasien nomor 4 yang tergantung papan nama Hyuuga Hinata, yang sudah hampir 20 kali lebih dieja Naruto dalam hatinya.

Tangan kanan Naruto yang penuh perban terulur ragu menyentuh kenop pintu kamar pasien Hinata. Ada sedikit rasa takut menggelanyuti hatinya. Bukan takut berhadapan kembali dengan tetua klan atau Hiashi yang mungkin saja saat ini ada di dalam kamar pasien Hinata, tapi Naruto merasa takut jika dia harus melihat wajah atau tubuh Hinata yang kemungkinan besar penuh luka mengingat dengan cakra yang terkendali saja Hinata tak mampu menyembuhkan lukanya sendiri, apalagi dengan aliran cakranya yang sekarang kacau balau.

Kriiieeet…

Naruto akhirnya berhasil meneguhkan hati membuka pintu kamar pasien Hinata lebih lebar. Pandangan aneh orang-orang yang berlalu lalang di lorong membuatnya merasa risih sendiri. Naruto meneguk ludah dengan susah payah sebelum mengambil langkah pertama masuk dalam kamar pasien Hinata yang dipenuhi oleh wangi bunga lavender.

Blum.

Bahkan setelah menutup kembali pintu kamar Hinata, Naruto tak kunjung melangkah lebih jauh dari pintu. Keringat dingin mulai menetes dari keningnya. Jantungnya dirasakan Naruto berdetak diluar normal saat diujung sana, mata langit Naruto berhasil menangkap sosok gadis yang terbaring tenang dan Naruto sangat yakin gadis itu adalah Hinata.

"Hahh…" Naruto menghela nafas berat.

"Sial! Apa yang aku lakukan sih!" Umpat Naruto pada dirinya sendiri. Naruto akhirnya nekat melangkah mendekati ranjang Hinata.

Benar saja tebakan Naruto jika gadis yang terbaring di atas ranjang adalah Hinata. Memangnya siapa lagi yang akan berbaring di atas ranjang dikamar pasien yang tergantung nama Hyuuga Hinata di pintu masuknya? Tapi setidaknya saat ini Naruto bisa bernafas lega. Walau tak terusik sedikitpun tidurnya oleh Naruto, setidaknya gadisnya itu terlihat baik-baik saja dari fisiknya.

Hembusan nafas Hinata begitu teratur. Surai biru panjang Hinata dikepang seluruhnya dan dibiarkan tergantung disisi kanan kepala sang gadis, bergerak naik dan turun mengikuti gerakan nafas Hinata. Semua terlihat normal jika saja warna kulit wajah Hinata tak memucat, dan terlihat lebih pucat daripada warna kulit Sai.

"Karena itu, Hinata. Jangan berlatih diam-diam menjadi Miko dan membahayakan dirimu seorang diri."

"Ajari aku semua tentang Miko yang harus aku tahu."

"Dan aku akan mengajarimu tentang cakra Kurama, sebanyak apapun yang kau inginkan."

"Jangan hanya melindungiku. Biarkan aku juga melindungimu."

Naruto tersenyum miris mengingat bagaimana dulu dia bersikap sok keren di depan Hinata, yang pada akhirnya tak dapat ditepatinya juga.

"Aku bukan hanya tak mampu melindungimu." Gumam Naruto seorang diri.

"Mungkin benar kata Shizune-Nee, aku yang telah membuatmu seperti ini."

"Maafkan aku, Hinata." Naruto mengulurkan tangannya, membelai lembut pucuk kepala Hinata.

"Sial, dingin sekali tubuhnya!" Naruto mengukur suhu tubuh Hinata dengan menyentuhkan punggung tangannya yang penuh perban di hampir seluruh wajah Hinata. Tangan Naruto bahkan bergerak turun menyentuh leher Hinata.

"Hn? Apa ini?" Gumam Naruto saat tangannya merasakan ada yang mengganjal di leher gadis indigonya ini.

Ternyata sebuah kalung. Kalung berlambang klan Uzumaki. Kalung yang dibeli Naruto sebelum berangkat berkelana 3 tahun lalu.

'Jadi, dia tak melepasnya sampai sekarang?' Batin Naruto dalam hati. Padahal kalungnya saja sudah hilang entah kapan dan dimana, Naruto lupa. Dipandangnya Hinata dengan tatapan tak mengerti, menebak-nebak apa yang sebenarnya disukai Hinata darinya.

Detik selanjutnya, mata langit Naruto terbelalak kaget melihat sebuah luka sabetan benda tajam, yang ditebak Naruto adalah bekas sabetan kunai, yang mengintip dari balik baju Hinata yang tak sengaja terbuka saat Naruto mengeluarkan kalung Hinata. Didorong oleh rasa penasaran yang tinggi, Naruto nekat saja menurunkan baju Hinata lebih rendah lagi.

Blush!

Naruto tahu ini bukan saatnya tersipu malu. Tapi melihat bagian tubuh Hinata yang selalu tersembunyi sedikit banyak membuat wajah Naruto memanas tanpa izin. Apalagi ketika Naruto menyentuh bagian itu selama beberapa belas detik untuk menyembuhkannya dengan cakra kyuubi, entah kenapa tubuhnya jadi ikut memanas.

Tak ingin pikirannya menjadi liar, Naruto memutuskan untuk menutup baju Hinata setelah luka Hinata sembuh total dan selanjutnya menyingkap selimut Hinata. Naruto melarikan mata langitnya pada bagian tubuh Hinata yang lain. Kali ini tangan sang gadis. Memang tak ada lagi luka yang tertangkap mata langit Naruto, bahkan kaki sang gadis yang tak tertutupi pakaianpun terlihat baik-baik saja. Tapi luka yang ditemukannya sebelumnya membuat jantungnya berdesir khawatir.

Tak mendapatkan hasil yang dibayangkan, Naruto kembali membenarkan selimut Hinata.

"Berapa banyak luka yang kau sembunyikan dariku, Hinata?" Tanya Naruto pada Hinata yang tentu saja tak akan menjawabnya.

.

.

Naruto masih mengelus lembut pucuk kepala biru Hinata lambat-lambat. Sepertinya Naruto sedang melamunkan sesuatu karena suara pintu kamar Hinata yang terbuka pelan bahkan tak mampu mengusiknya.

"Maafkan aku, Hinata."

"Aku tak akan lagi menjauhimu."

"Sekarang bangun dan bukalah matamu." Pinta Naruto.

"Apa kau tahu? Aku sangat merindukanmu." Kali ini tangan Naruto membelai lembut pipi Hinata yang nampak tirus dibandingkan dengan terakhir kali Naruto melihatnya.

"Lalu apa kau juga merindukanku, Naruto?" Sepasang mata langit Naruto mendelik kaget mendengar suara berat nan tegas yang sangat dihafalnya.

Naruto menarik cepat. Tangannya yang hampir saja mengelus bibir mungil Hinata pun ditariknya cepat. Dan dengan gerakan cepat pula Naruto bangkit dari duduknya disisi ranjang Hinata untuk berbalik, membalas tatapan tajam mata amethyst laki-laki Hyuuga di depan pintu masuk kamar passion Hinata.

'Gawat, Sejak kapan dia ada disana, ttebayou?' Naruto meneguk ludah dengan susah payah.

"O-ohayou, Ji-san…" Sapa Naruto sedikit gagap.

"Ohayou, Naruto." Balas Hiashi singkat.

"Ikutlah denganku. Ada yang ingin aku bicarakan." Ajak Hiashi tanpa banyak basa-basi. Bahkan tanpa menjenguk Hinata terlebih dahulu.

"Hahh…" Naruto menghela nafas berat.

Naruto melirik sebentar pada Hinata yang masih tetap memejamkan matanya sebelum melangkah pergi menyusul langkah Hiashi yang sudah saja menghilang dari balik pintu kamar pasien Hinata.

Blum.

Setelah menutup pintu kamar pasien Hinata, Naruto memutar kepala kuning cepaknya ke kiri mencari keberadaan Hiashi. Naruto setengah berlari mendekati Hiashi yang duduk tenang di kursi tunggu pasien, mengabaikan beberapa orang yang berlalu lalang disekitarnya, yang entah kenapa dipilih Hiashi jauh dari kamar pasien Hinata.

"Apa yang ingin kau bicarakan, Oji-san?" Tanya Naruto segera.

"Duduklah." Perintah Hiashi.

Naruto tak membantah, segera diambilnya tempat duduk disamping Hiashi. Namun bahkan setelah 15 menit duduk berdampingan, Hiashi tak juga membuka mulut.

"Maaf, aku bermaksud segera pergi setelah menjenguk Hinata." Naruto mencoba memecah kecanggungan antara dia dan Hiashi.

"Aku tak pernah bisa menjadi seorang ayah yang baik." Naruto mengerutkan keningnya bingung dengan pembuka obrolan yang dilakukan Hiashi.

"Aku terlalu keras mendidik kedua anak perempuanku."

Naruto kini tahu Hiashi sepertinya ingin mengungkapkan isi hati yang selalu disembunyikannya baik-baik dalam hati.

"Saat mereka masih kecil, aku bahkan membuat mereka saling bertarung satu sama lain." Naruto memutuskan untuk menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan memberi kesempatan pada Hiashi untuk mengambil alih obrolan mereka.

"Aku selalu menganggap Hinata lemah."

"Melatihnya sangat keras untuk menjadi penerus klan."

"Tapi aku tak pernah peduli bagaimana usahanya berlatih."

"Yang aku pikirkan hanya bagaimana agar Hinata menjadi kunoichi yang tangguh dan kuat."

"Dia kunoichi yang sangat tangguh dan sangat kuat, Hiashi Ji-san." Potong Naruto tanpa diminta. Hiashi bergeming, bahkan menoleh pada Naruto pun tidak.

"Aku tahu. Tapi aku terlalu angkuh untuk memuji putriku sendiri." Balas Hiashi.

"Sekarang melihatnya terbaring seperti itu, membuatku merasa sangat takut."

"Aku sangat takut akan kehilangan Hinata." Hiashi berusaha keras menahan getaran pada suaranya.

"Sudah hampir tiga hari Hinata tak sadarkan diri."

"Dan tubuhnya semakin lama terasa semakin dingin seperti es."

"Jika kita tak menemukan cara untuk menormalkan cakranya, Hinata akan mati beku." Hiashi memutar kepala, menatap Naruto dengan mata amethyst yang kali ini menurut Naruto terasa begitu hangat.

"Aku mohon padamu, Naruto. Selamatkan Hinata." Pinta Hiashi.

"Tolong selamatkan putriku."

Hati Naruto berdesir senang mendengar bagaimana Hiashi tak lagi mampu menyembunyikan kekhawatirannya akan keadaan Hinata. Tapi Naruto tak segera menjawab. Otaknya mulai berfikir keras mempertimbangkan kemungkinan ini adalah satu-satunya kesempatan baginya untuk bisa mendapatkan restu dari Hiashi dan tetua pertama, walau harus memanfaatkan situasi genting.

"Jika aku berhasil menyembuhkannya, bolehkah aku meminta imbalan?" Tawar Naruto. Tatapan mata amethyst Hiashi kembali menajam.

"Apa yag kau inginkan?" Tanya Hiashi dengan suara yang kembali menegas.

"Aku ingin Hinata." Naruto membalas tatapan mata Hiashi dengan keseriusan yang memenuhi sepasang mata langitnya.

"Biarkan aku menikah dengannya, Hiashi Oji-san." Pinta Naruto tanpa merengek.

"Aku akan selalu melindunginya, dan membuatnya bahagia." Janji Naruto.

"Bukankah itu yang kau inginkan?"

"Bagaimana jika aku tak menyetujuinya?" Tanya Hiashi setelah terdiam beberapa lama. Naruto melarikan mata langitnya dari Hiashi. Sedikit kecewa rasanya mendengar pertanyaan balik dari Hiashi.

"Tentu saja. Aku akan tetap menyembuhkannya." Jawab Naruto.

"Bagaimanapun juga aku mencintainya."

Naruto tak menyadari senyum tipis yang disungging Hiashi untuknya.

oOo oOo oOo

Tok. Tok. Tok.

Sakura mengetuk pintu kamar Sasuke dengan kekuatan yang ditingkatkannya dengan sengaja karena kesal.

"Sasuke-kun! Lama sekali!" Teriak Sakura.

"Memangnya berapa lapis pakaian yang harus kau pakai?!" Protes Sakura tak mendapat sedikitpun jawaban dari Sasuke yang sedang mengganti pakaian di dalam kamarnya.

"Sasuke-kun! Apa boleh aku saja yang mengganti pakaianmu?!" Usul Sakura asal.

"Berisik!" Sakura terperanjat kaget saat Sasuke tanpa aba-aba membuka pintu kamarnya.

"Loh? Kenapa pakaianmu masih sama?" Tanya Sakura bingung. Ingatannya yang buruk atau memang Sasuke dari tadi tak mengganti pakaiannya.

"Aku tidak ikut ke rumah sakit." Bibir tipis Sakura segera mengerucut kesal mendengar jawaban Sasuke.

"Lalu untuk apa aku berdiri di depan kamarmu begitu lama?!" Protes Sakura.

Kruuuuk Kruuuuk Kruuuuk…

"Kau baik-baik saja?" Tanya Sakura khawatir melihat wajah Sasuke yang memucat. Apalagi mendengar suara perut Sasuke yang berdendang sangat keras.

"Perutku." Keluh Sasuke.

"Aku harus pergi ke toilet." Sasuke kembali ke dalam kamarnya tanpa menutup pintu. Toh Sakura juga bukan orang asing baginya.

"Nggak nyangka Sasuke bisa mulas juga." Komentar Sakura sembari menggelengkan kepala merah mudanya heran.

Sakura masuk dalam kamar Sasuke, membereskan baju yang banyak berserakan di bawah lemari dan ranjang Sasuke.

"Hmmmph!" Sakura mati-matian menahan tawa mendengar suara kentut kecil Sasuke.

"Sakura! Kau di dalam?" Teriak Sasuke. Sepertinya Sasuke ingin memastikan tak ada seorangpun yang mendengar suara kentut yang menurutnya memalukan.

Masih dengan mulut terbekap erat menahan tawa, diam-diam Sakura keluar dari kamar Sasuke dan berjalan cepat menuju manapun ruang di dalam rumah Sasuke untuk dipakainya melepas tawa yang membuat perutnya terasa kaku.

"Hahahahaha," Sakura memutuskan dapur adalah ruang yang tepat karena lokasinya jauh dari kamar Sasuke.

"Hahahahahaha," Sakura harus berkali-kali menyeka setetes air mata di kedua sudut matanya karena tertawa terlalu lepas.

oOo oOo oOo

Naruto merubah posisi tidur miringnya menjadi terlentang. Sudah sedari tadi Naruto mencoba mengistirahatkan pikirannya, namun tak kunjung berhasil juga. Padahal jam kecil disamping tempat tidurnya sudah menunjukkan hampir tengah malam. Ingatannya tentang keadaan Hinata membuatnya merasa sangat resah.

Walaupun ingin sesegera mungkin mencari solusi dari kasus Hinata, Naruto tak tahu kemana dan langkah apa yang harus ditempuhnya. Hampir semua orang yang tahu tentang rahasia Miko sudah ditanyainya, tapi hasilnya nihil. Mereka semua tak benar-benar tahu tentang Miko.

Sebenarnya Naruto ingin bertanya pada Sasuke. Tapi tak mungkin. Kasus Hinata bahkan harus disembunyikan rapat-rapat dari Uchiha terakhir itu. Biarlah Naruto akan memintanya bantuan Sakura saat gadis itu nanti tak berada di dekat Sasuke.

"Jika kita tak menemukan cara untuk menormalkan cakranya, Hinata akan mati beku."

"Aku mohon padamu, Naruto. Selamatkan Hinata."

"Tolong selamatkan putriku."

Kini Naruto merubah posisi tidur terlentangnya menjadi tengkurap. Kepala kuningnya menoleh ke samping kiri.

"Jika aku berhasil menyembuhkannya, bolehkah aku meminta imbalan?"

"Apa yag kau inginkan?"

"Aku ingin Hinata."

"Biarkan aku menikah dengannya, Hiashi Oji-san."

"Aku akan selalu melindunginya, dan membuatnya bahagia."

"Bukankah itu yang kau inginkan?"

"Bagaimana jika aku tak menyetujuinya?"

"Tentu saja. Aku akan tetap menyembuhkannya."

"Bagaimanapun juga aku mencintainya."

"Huaaaa!" Naruto dengan wajah memerah malu mengacak rambut cepaknya frustasi.

Bagaimana mungkin dia berani berkata gombal seperti itu di depan Hiashi. Walaupun benar apa yang dikatakannya. Tetap saja Naruto jadi terlihat seperti sosok laki-laki melankolis. Sekarang sudah sangat terlambat untuk mengoreksi pilihan katanya pada Hiashi.

Kryuuuk…

"Aduh, aku lapar…" Keluh Naruto memegangi perutnya.

"Aku lupa aku bahkan belum makan lagi sejak siang, ttebayou." Suara Naruto bergetar menahan lapar.

Naruto bangun dari tidur tengkurapnya dengan malas. Kemudian dengan langkah gontai Naruto bangkit dari ranjang dan berjalan menuju dapur, mencari sisa-sisa ramen instan yang mungkin selamat dari sitaan Sakura beberapa hari lalu.

"Ah, ketemu!" Naruto tertawa sumringah berhasil juga menemukan satu bungkus ramen di sela belakang tempat piringnya yang tak seberapa banyak.

Selesai memasak air, memasukkan semua bumbu ke dalam cup ramen yang sudah dituangi air panas, yang perlu Naruto lakukan hanyalah menunggu selama beberapa menit. Menunggu ramen seperti ini entah kenapa tiba-tiba mengingatkan Naruto pada saat Hinata pertama kali memasak ramen dengannya dulu.

"Ah, airnya sudah mendidih, Hinata."

"Ayo, aku akan membantumu. Aku adalah pembuat ramen terenak nomor 2 setelah Paman Teuchi, ttebayou."

"Heeey! Jangan kau masukkan bumbunya ke dalam air dulu, Hinata!"

"Hn?" Naruto mengerutkan kening saat menyadari tulisan kadaluarsa di bungkus ramen.

"Owh bagus. Ini satu-satunya ramen yang aku punya dan sudah kadaluarsa." Gerutu Naruto seorang diri.

"Tak apalah. Aku sudah terlatih makan makanan kadaluarsa." Naruto tak ingin ambil pusing dengan tanggal yang tertera pada bungkus ramennya.

"Akhirnya matang juga." Naruto semakin memperlebar tutup ramennya.

"Itadakimasu…"

"Heh?! Kenapa dibuang?!"

"Eh?"

"Susunya sudah basi, Naruto-kun."

Gerakan Naruto terhenti tiba-tiba saat ingatan tentang percakapan kecil dengan Hinata kembali diingatnya.

"Ceritakan kalau aku makan banyak dan baik-baik saja. Aku bukan tukang pilih-pilih makanan."

"Aku tambahkan miso dan kecap asin di ramenku."

"Ah! Tapi aku tak hanya makan ramen."

Kali ini ingatannya pada Minato mengganggu pikiran Naruto. Jika ayah dan ibunya tahu dia makan ramen kadaluarsa, Naruto yakin keduanya akan sangat kecewa. Naruto menurunkan sumpit berisikan banyak ramen yang hampir saja masuk dalam mulutnya. Selera makannya sudah menghilang sekarang.

"Sial!" Umpat Naruto. Naruto berdiri dengan kesal menenteng ramennya dan membuang begitu saja ramen itu ke tempat sampah.

"Malam-malam seperti ini, mana ada kedai makanan yang buka, ttebayou." Gumam Naruto seorang diri.

"Sepertinya besok kabar kematianku karena kelaparan akan menyebar keseluruh desa," Khayal Naruto berlebihan.

"Ah! Benar juga!" Naruto memukulkan genggaman tangan kanannya di atas telapak tangan kirinya yang terbuka.

"Lebih baik aku ke rumah Sasuke saja." Merasa mendapatkan ide cemerlang, Naruto menghilang ke dalam kamarnya untuk mengambil jaket dan kembali menghilang dibalik asap putih. Tentu saja tujuannya adalah rumah Uchiha Sasuke.

OOo oOo oOo

Poft.

Naruto sengaja muncul di pintu masuk rumah Sasuke karena tidak mau mencari gara-gara dengan Sasuke jika sahabatnya itu memergokinya masuk dalam rumahnya menggunakan jurus ninja.

"Kenapa rumah Sasuke sepi sekali, ya?" Gumam Naruto seorang diri. Tentu saja seharusnya sepi. Ini sudah hampir tengah malam dan sepertinya Naruto melupakan itu.

Naruto berjalan tanpa suara menuju dapur Sasuke. Bukan dengan langkah mengendap-endap seperti pencuri, tapi memang Naruto tak merasa berada dalam situasi yang mengharuskannya berbuat gaduh.

"Hahh… tidak ada makanan!" Desah Naruto kecewa saat meja makan Sasuke begitu bersih dari makanan yang biasanya banyak berjajar.

Naruto melanjutkan pencariannya menuju lemari es Sasuke.

"Cih. Dasar orang aneh penggila tomat." Komentar Naruto saat melihat isi lemari es Sasuke hanya dipenuhi oleh tomat dengan berbagai ukuran.

"Apa Sakura-chan menginap disini ya? Aku akan memintanya memasak untukku." Naruto mulai melangkah meninggalkan dapur Sasuke yang mengecewakan menuju kamar yang disediakan Sasuke khusus untuk Sakura di rumahnya.

Tok. Tok.

"Sakura-chan, apa kau ada di dalam?" Bisik Naruto. Tidak ada jawaban dari Sakura.

Tok. Tok. Tok.

"Sakura-chan?" Naruto mengeraskan suaranya.

"Sial! Sepertinya dia tidak disini." Putus Naruto tanpa membuka pintu kamar Sakura untuk mengintip ke dalam.

Naruto tak ingin mengambil resiko terkena pukulan mematikan Sakura karena nyelonong saja masuk dalam kamar seperti yang pernah dilakukannya dulu. Sialnya saat itu Sakura sedang mengganti bajunya. Untung saja Sasuke sedang dalam jam dinasnya di Kepolisian Konoha, jika tidak mungkin Naruto tinggal nama saja karena hangus terbakar oleh amaterasu Sasuke.

Naruto memutuskan melangkah menuju satu-satunya harapannya saat ini. Kamar Sasuke. Jika pemuda emo itu ada di dalam dan belum terlelap, Naruto bisa meminta Sasuke memasak untuknya. Masakan Sasuke lumayan bisa diandalkan daripada masakannya walau keduanya sama-sama hidup sendirian sejak kecil.

.

.

Melihat pintu kamar Sasuke yang sedikit terbuka, membuat sebuah cengiran rubah tersungging di wajah berkumis Naruto. Setidaknya harapannya mendapatkan makanan malam akhirnya terwujud juga. Walau hanya semangkok sup tomat tak jadi masalah.

"Masih sakit, Sasuke-kun?"

Naruto menghentikan langkahnya lebih jauh saat mendengar suara Sakura dari balik kamar Sasuke yang hanya diterangi cahaya redup lampu malam.

"Sedikit." Jawab Sasuke dari balik selimutnya dalam posisi tidur miring membelakangi Sakura.

"Apa kau sakit karena masakanku?" Tanya Sakura khawatir. Takut Sasuke tak mau memakan masakannya lagi.

"Tidak. Semalam aku makan ramen yang kau sita dari Naruto." Jawab Sasuke.

"Heh? Kenapa dimakan?" Tanya Sakura terkejut.

"Semua ramen itu sudah kadaluarsa. Karena itu aku menyitanya dari rumah Naruto." Jelas Sakura.

'Hahh… Sial!'

'Lalu kenapa kau sembunyikan dirumahku?!' Umpat Sasuke dalam hati.

"Maaf ya, Sasuke-kun. Aku lupa membuangnya." Sesal Sakura yang tak mendapat tanggapan dari Sasuke.

Naruto menyandarkan tubuhnya di tembok samping pintu kamar Sasuke, menikmati percakapan antara Sakura dan Sasuke saat mereka sedang berdua saja.

"Tadi Ino datang." Cerita Sakur, mencoba mengalihkan kekesalan Sasuke.

"Dia bilang Hokage-sama memberikan misi pada kami untuk mencari tanaman obat."

"Kami akan berangkat besok pagi." Sakura diam menunggu tanggapan dari Sasuke.

"Kau sudah tidur, Sasuke-kun?" Tanya Sakura yang tak kunjung mendapatkan sebuah tanggapan dari Sasuke. Sasuke memang sedang berpura-pura tidur. Jika tidak, Sakura tak akan segera pulang dan beristirahat.

"Kalau begitu lebih baik aku pulang." Pamit Sakura saat Sasuke masih tak juga memberi tanggapan.

Sebelum benar-benar pergi, Sakura mengecek suhu tubuh Sasuke dengan telapak tangannya terlebih dahulu. Merasa kening Sasuke sedikit dingin, Sakura merapatkan selimut Sasuke.

"Jangan khawatir. Setelah minum obat tadi, besok pagi pasti perutmu tidak akan mulas lagi." Sakura menepuk lembut pundak Sasuke beberapa kali.

Perlakuan lembut Sakura justru membuat Sasuke menahan keras gemerutuk giginya. Gadis ini selalu saja membuat Sasuke mengingat kasih sayang Mikoto yang selama ini berusaha dilupakannya. Itulah kenapa bahkan sampai sekarangpun Sasuke selalu menganggap Sakura menyebalkan.

"Aku akan kemari sebelum berangkat misi bersama Ino." Janji Sakura.

"Oyasumi, Sasuke-kun." Sakura mengecup pelan kening kiri Sasuke yang tak tersembunyi oleh juntaian rambut ravennya.

"Eh?" Sakura terlonjak kaget karena saat berbalik pergi, tiba-tiba Sasuke menghentikan langkahnya dengan mencengkram erat pergelangan tangannya.

"Loh? Kau belum tidur, Sasuke-kun?" Tanya Sakura heran.

"Kau belum menjawab pertanyaanku!" Sakura bingung kenapa tiba-tiba Sasuke terlihat marah. Seingat Sakura, Sasuke hampir tidak pernah lagi menggeram marah padanya seperti sekarang setelah perang dunia berakhir.

"Maaf, mungkin aku lupa." Dengan lembut Sakura menjawab. Sakura memutuskan untuk duduk kembali di tepi ranjang Sasuke seperti sebelumnya. Sakura ingin mencari tahu kenapa kekasihnya itu marah tanpa sebab padanya.

"Bisakah kau ulang pertanyaanmu yang belum aku jawab?" Pinta Sakura.

Sasuke tak segera menjawab. Yang dilakukannya hanyalah memandang tajam emerald Sakura.

"Kenapa?" Sasuke terlihat begitu berat mengulang pertanyaannya.

"Kenapa kau mencintaiku?" Tanya Sasuke.

Sakura tertegun mendengar pertanyaan Sasuke. Seingat Sakura, Sasuke tidak pernah sekalipun menanyakan pertanyaan seperti itu padanya. Tapi mungkin juga Sakura yang benar-benar lupa.

Tentu saja Sakura tidak akan ingat, karena selama ini Sasuke selalu menanyakannya saat gadis musim seminya itu sedang tertidur lelap disampingnya.

"Haruskah aku menjawabnya?" Sakura membalas pertanyaan Sasuke dengan sebuah pertanyaan juga. Sasuke seolah mengatakan iya dari tatapan mata onyx tajamnya.

"Hahh…" Sakura menghela nafas panjang.

"Aku tak tahu, Sasuke-kun." Sakura menggeleng lemah.

"Aku pernah berfikir aku punya banyak alasan kenapa aku mencintaimu." Sakura memberanikan diri untuk menguraikan perasaannya. Sangat kecil kemungkinan dia mendapatkan kesempatan seperti ini lagi. Memberitahu Sasuke semua yang dipikirkan dan dirasakannya.

"Tapi ketika semua alasan itu tak lagi bisa aku jadikan alasan, ternyata aku masih tetap mencintaimu."

"Kau selalu begitu keras berusaha mendorongnya keluar dari kehidupanmu,"

"berkali-kali kau hampir membunuhku,"

"bahkan kau melukai perasaanku terus-menerus,"

Walau hatinya terasa perih harus kembali mengingat masa lalunya yang menyesakkan, tapi Sakura sudah berjanji tak akan menjadi gadis yang cengeng di depan Sasuke lagi.

"Saat itulah seharusnya aku benar-benar kehilangan alasan untuk mencintaimu." Sakura membalas tatapan tajam Sasuke dengan wajah serius.

"Jadi jika kau bertanya kenapa aku mencintaimu?"

"Itu hanya karena aku mencintaimu."

Naruto mendongakkan kepala kuning cepaknya. Sepertinya apa yang dipikirkan oleh Jinchuuriki kyuubi ini sama dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Sakura.

Mata onyx Sasuke membulat lebar. Jawaban Sakura membuat emosinya kembali tak normal.

"Kau!" Mata emerald Sakura membulat lebar saat mata onyx Sasuke tiba-tiba saja berubah menyala merah dan berhiaskan 3 tomoe yang berjajar rapi. Mata yang sebenarnya sangat ditakuti Sakura.

"Jangan pernah meninggalkanku!" Pinta Sasuke. Sakura tersenyum tipis. Perlahan dilepaskannya cengkraman tangan Sasuke pada pergelangannya.

Sakura kemudian membawa tubuh kekar Sasuke bersandar nyaman ke dalam pelukannya. Atau mungkin Sakura yang bersandar nyaman pada tubuh kekar Sasuke.

"Bahkan saat kau memintanya, apa aku pernah meninggalkanmu?" Tanya Sakura. Sasuke bergeming.

"Jangan khawatir. Aku akan selalu ada disisimu." Sakura semakin menyamankan pelukannya saat Sasuke dirasakannya juga balas memeluknya. Mata sharingan Sasuke sudah kembali berubah menjadi mata onyx normalnya.

"Sasuke-kun," Panggil Sakura setelah mereka berdua saling berpelukan untuk beberapa lama.

"Hn." Gumam Sasuke yang sudah kembali tenang.

"Berjanjilah jangan pernah menatap anak-anak kita dengan mata sharinganmu." Pinta Sakura.

Blush!

Tanpa Sakura tahu, wajah Uchiha Sasuke memerah padam.

"Hn." Jawab Sasuke singkat.

Naruto tersenyum penuh arti. Bersyukur dalam hati untuk semua yang terjadi. Bersyukur karena Sasuke mau menerima ajakannya kembali ke Konoha, dan mau mencoba membuka hatinya untuk Sakura. Bersyukur Sasuke akhirnya mendapatkan kebahagiaan cinta yang sama dengan yang didapatkannya dari Hinata.

Tak ingin kehadirannya mengganggu Sasuke dan Sakura, Naruto memutuskan untuk pergi dari rumah Sasuke. Kali ini Naruto tahu dimana dia bisa mendapatkan banyak makanan gratis. Kamar pasien Hinata.

oOo oOo oOo

Krauk. Krauk. Krauk.

Suara kunyahan renyah Naruto mengisi keheningan di kamar pasien Hinata. Sudah hampir 3 buah apel dihabiskan oleh Naruto dengan tak henti menatap wajah damai Hinata.

"Kenapa?"

"Kenapa kau mencintaiku?"

'Ya. Kenapa kau mencintaiku, Hinata?' Tanya Naruto dalam hati.

"Haruskah aku menjawabnya?"

'Apa kau juga akan menjawabnya seperti Sakura-chan?'

Krauk. Krauk. Krauk.

Naruto sekarang lambat-lambat mengunyah buah pearnya.

"Jadi jika kau bertanya kenapa aku mencintaimu?"

"Itu hanya karena aku mencintaimu."

"Hahh…" Naruto menghela nafas berat.

Naruto meraih tangan Hinata dan menggenggam erat tangan yang terasa sangat dingin itu. Tak lama kemudian, Naruto membimbing tangan Hinata untuk dijadikannya tempat bersandar kepala kuning cepaknya yang berdenyut-denyut.

'Apa yang harus aku lakukan untuk membangunkanmu, Hinata?' Tanya Naruto frustasi dalam hati.

.

.

'Gaki!'

Mata langit Naruto terbuka cepat. Tiba-tiba saja dia sudah berada di alam bawah sadarnya dan tertidur di atas tubuh Kurama.

'Kurama?!'

'Apa aku tertidur? Bagaimana aku bisa ada disini, ttebayou?' Tanya Naruto bingung.

'Aku yang membawamu kemari.' Jawab Kurama.

'Kau terlihat sangat menggelikan dengan wajah galaumu itu.' Sindir Kurama kemudian.

'Urusai!' Pekik Naruto.

Naruto kembali berbaring di atas tubuh Kurama yang lembut karena penuh dengan bulu orangenya.

'Apa yang harus aku lakukan, Kurama?' Tanya Naruto setelah diam berfikir beberapa saat.

'Aku tak suka melihatnya tertidur seperti itu.' Naruto menghela nafas berat.

'Kau ini bodoh, ya?' Tanggapan Kurama membuat urat kesal Naruto mengeras. Bukan membantu menemukan solusi, yang Kurama lakukan sejak tadi hanya mengatainya. Andai saja Naruto punya Minato dan Kushina untuk ditanyai, pasti akan lebih baik.

'Seharusnya kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang dan selanjutnya.'

'Bukankah Hinata pernah menceritakannya padamu?' Kurama memojokkan Naruto.

'Uhm, baiklah. Aku memang pelupa.' Naruto mencoba membela diri.

'Tapi untuk yang satu ini aku benar-benar tidak ingat.' Naruto bangkit dari posisi tertidurnya dan duduk bersila di atas punggung Kurama.

'Bodoh!' Lagi-lagi Kurama membuat urat kesal Naruto mengeras. Bibir anak tunggal Yondaime Hokage ini mengerucut kesal.

'Ingat-ingatlah apa yang pernah diceritakan gadis itu setelah kalian pulang dari kedai ramen.' Kurama memberikan Naruto sebuah petunjuk walau Kurama tak yakin Naruto mengerti maksudnya.

.

.

'Hmm…' Naruto masih saja belum mengerti maksud Kurama.

Seingat Naruto walau tak sering, dia dan Hinata pernah beberapa kali makan bersama di kedai ramen Paman Teuchi. Bagaimana bisa Kurama berharap Naruto mengingat semua percakapan mereka?

'Tunggu dulu.'

Saat-saat terakhir Naruto hampir menyerah, tiba-tiba Naruto merasa tahu bagian mana yang Kurama maksudkan.

'Jika aku tidak salah ingat, Hinata bilang cara kerja jutsunya adalah menjaga keseimbangan suhu cakra dalam tubuhnya.' Naruto memutar kepala menatap leher Kurama yang penuh bulu.

'Dia bilang dia menyadarinya setelah kepergianku dari desa.'

'Apakah itu yang kau maksud, Kurama?' Tanya Naruto penuh semangat.

'Yo.' Jawab Kurama singkat.

'Tapi aku masih tidak mengerti bagaimana ceritanya itu memberiku petunjuk bagaimana aku bisa menyembuhkannya.' Naruto memiringkan kepala kuningnya bingung.

'Grrrr!' Ucapan Naruto membuat Kurama menggeram kesal. Bagaimana bisa Kurama memiliki Jinchuuriki selamban Naruto.

'Bodoh!' Naruto terjungkal dan jatuh berguling-guling ke bagian belakang tubuh Kurama saat Kurama tiba-tiba menegakkan tubuh bagian depannya tanpa peringatan.

'Bukankah Hinata pernah bilang jika dia membutuhkan cakraku sebagai penyeimbang kekuatan hasil serapannya dari alam?!' Teriakan Kurama menggema di seluruh kandangnya. Gigi taring Kurama terlihat sangat menyeramkan saking kesalnya akan kelambatan otak Naruto.

'Lalu apa maksudnya itu, ttebayou?' Tanya Naruto yang tak bergerak dari posisi nunggingnya di atas tubuh belakang dekat ekor kyuubi.

'Pikir, Naruto! Kapan Hinata pernah menyerap cakraku sebelum kau berkelana keluar desa!' Kurama memberi petunjuk yang sangat jelas pada Naruto.

'Hmmm…' Naruto terlihat berfikir.

'Ah! Aku tahu!' Naruto tertawa lebar merasa memahami petunjuk yang diberikan Kurama.

'Saat perang dunia, bukan? Aku pernah membagi banyak cakramu padanya dan yang lain.' Tanya Naruto memastikan.

'Grrrr…' Kurama kembali menggeram kesal.

'Terserah kau saja lah.' Kurama yang sudah menyerah membimbing Naruto memilih untuk kembali tidur dan menyandarkan kepalanya di atas kedua kaki depannya yang ditekuk.

'Hey, Kurama! Jangan tidur! Bantu aku!' Naruto memutar arah dan mulai merangkak mendekati leher Kurama.

'Kurama! Kurama!' Bujuk Naruto yang menarik sedikit daging di daerah leher Kurama. Sia-sia saja. Kurama masih terlalu kesal kembali menanggapi Naruto.

'Cih. Kau ini suka ngambek seperti Shino.' Komentar Naruto.

Naruto kembali berbaring di atas leher Kurama, yang bergerak naik turun beraturan karena gerakan nafas Kurama, kali ini dalam posisi terlentang. Cukup lama Naruto menerawang dan mencoba menyerapi cerita Hinata. Setidaknya Kurama membantunya memahami bagian mana yang penting untuk kasus Hinata ini.

'Hinata bilang jika setelah menyembuhkan lukaku, tubuhnya menyimpan cakra alam yang bersuhu dingin terlalu banyak..' Naruto bergumam seorang diri. Walau diam sebenarnya kyuubi tetap setia mendengarkan gumaman Naruto.

'Ah, mungkin itu sebabnya cakranya terasa dingin. Padahal cakra Sakura-chan dan ninja medis yang lain rasanya hangat.' Naruto menanggapi sendiri tebakannya.

'Lalu, Hinata bilang dia bisa menyeimbangkan cakranya saat cakramu masuk dalam tubuhnya.'

'Hinata bilang karena dia tak perlu mengobatiku lagi saat aku berkelana, dia hanya perlu menyeimbangkan cakra alam yang bersuhu dingin itu dan cakramu yang panas dalam tubuhnya.' Naruto masih terus berusaha menganalisa situasi.

'Hinata juga bilang jika dia tak mampu menyembuhkan dirinya sendiri karena dia harus menyimpan cakramu dalam waktu lama tanpa bisa memanfaatkannya entah kenapa.'

'Berbanding terbalik denganku, ya.' Komentar Naruto sendiri.

'Hey! Aku hebat sekali bisa mengingat hampir semua ucapannya.' Kyuubi harus mati-matian menahan geraman sweatdropnya mendengar kenarsisan Naruto yang menurutnya tak penting.

'Tunggu dulu, Kurama!'

'Kau bilang Hinata pernah menyerap cakraku sebelum aku pergi berkelana keluar desa?' Naruto duduk tegak tiba-tiba menyadari sesuatu.

'Dia menyerap berarti bukan aku yang memberikannya.'

'Ah! Aku tahu! Dia menyerapnya saat kita berciuman!'

Slap. Tap.

Naruto melompat turun dari leher Naruto.

'Kurama! Terima kasih.' Naruto memeluk hidung kyuubi.

'Maaf aku harus meminta cakramu lagi.' Naruto kemudian mencium hidung hitam kyuubi dengan penuh sayang sebelum berlari keluar dari kandang kyuubi.

Tanpa disadari Naruto yang telah berlari keluar dari kandang, kyuubi membuka sebelah matanya untuk mengawasi punggung Naruto yang semakin mengecil. Kurama menyeringai sedikit sebelum kembali memejamkan mata dan kembali menikmati waktu bersantainya.

.

.

Mata langit Naruto terbuka lebar begitu kembali pada alam sadarnya. Ternyata Naruto tertidur dengan bersandarkan pada tangan Hinata yang digenggam erat oleh kedua tangan kekarnya. Naruto meletakkan kembali tangan Hinata disamping tubuh sang gadis pelan.

"Tak disangka ternyata cara untuk membuatmu bangun begitu menyenangkan Hinata." Naruto menyeringai sedikit mesum.

Tak ingin membuang banyak waktu lagi, Naruto ingin menguji deduksi yang dibuatnya bersama Kurama.

Naruto mengubah posisi duduknya dari kursi di samping ranjang Hinata, menjadi duduk disamping tubuh bagian tengah Hinata. Naruto membelai lembut surai panjang gelap Hinata yang terkepang rapi dan disandarkan disamping kanan kepala sang gadis, sebelum mulai membunuh jarak antara keduanya.

"Persiapkan dirimu untuk menjadi istriku, Hinata." Bisik Naruto sebelum benar-benar menempelkan bibirnya pada bibir mungil Hinata.

Di pengujung malam yang dingin, Naruto mulai berbagi cakra kyuubi dengan Hinata. Membiarkan gadis itu menyerapnya sampai batas yang dibutuhkan gadis indigonya untuk menormalkan kembali aliran cakra dalam tubuhnya.

oOo oOo oOo

Seorang laki-laki tua bermata putih menatap diam tulisan nama Hyuuga Hinata yang tergantung di kamar pasien nomor 4 Rumah Sakit Konoha.

"Kenapa kau tak memberitahuku dari awal, Hiashi?!" Tanya tetua pertama dengan nada kecewa.

"Maaf, Tetua. Aku tak ingin mengganggu konsentrasimu menghadiri pertemuan penting di Komugakure." Jawab Hiashi. Tetua pertama bergeming.

Pertemuan dengan Raikage memang penting. Tapi Hinata juga tak kalah penting. Seberapapun kerasnya tetua pertama mendidik Hinata dan Hanabi, dua gadis itu tetap cucu kandung yang sangat disayanginya.

"Tetua, bagaimana jika kita masuk ke dalam?" Usul Hiashi.

"Seburuk apapun keadaan Hinata, akan lebih baik jika kau melihatnya selagi dapat." Kata Hiashi pesimis. Mata amethyst Hanabi terasa panas mendengar kata-kata Hiashi. Seolah ayahnya itu siap melepas kakak perempuannya saat ini juga.

'Hiashi-sama.' Gumam Neji dalam hati. Walau terlihat biasa saja, Neji yakin sebenarnya dalam hati Hiashi merasakan kesedihan yang sangat sejak hari pertama Hinata tak kunjung sadarkan diri.

Beberapa anggota bunke lain yang ikut menjenguk Hinata saling berbisik menyesali apa yang baru saja mereka dengan dari Hiashi.

"Baiklah." Setuju tetua pertama dengan berat hati.

Kriieeet….

Pintu kamar pasien Hinata terbuka sangat pelan karena memang tetua pertama tak ingin cepat-cepat melihat keadaan cucunya yang terbaring tak berdaya di tempat tidur. Cahaya mentari pagi Konoha terlihat memenuhi seluruh kamar pasien Hinata, membuat banyak pasang mata amethyst silau olehnya.

Nafas klan pemilik byakugan ini tercekat ditenggorokan masing-masing saat sebuah pemandangan mencengangkan tersaji di depan mereka semua.

Hinata tak terbaring lemah seperti yang dibayangkan. Sebaliknya, gadis indigo itu terlihat sangat sehat. Bahkan gadis itu sekarang sedang tertawa kecil karena mendengarkan cerita penuh semangat pemuda kuning cepak yang duduk di sebuah kursi di samping kiri ranjangnya. Tawa yang bahkan orang butapun tahu adalah gambaran kebahagiaan sang gadis.

"Hinata," Panggil Hiashi penuh ketidakpercayaan.

Hinata dan Naruto menoleh bersamaan. Terkejut karena ketidaksadaran mereka akan kehadiran banyak anggota bunke klan Hyuuga, dan beberapa anggota Souke klan, di dalam kamar pasien Hinata.

"Tou-sama," Balas Hinata.

Jika saja Hiashi tak menjenguk Hinata berkali-kali, Hiashi tak akan percaya jika orang mengatakan padanya bahwa anak gadisnya itu sebelumnya tak sadarkan diri selama 3 hari.

"Byakugan." Desis hampir setiap anggota klan, terkecuali Hiashi dan tetua pertama, hampir bersamaan.

"Nee-sama!" Segera setelah mematikan byakugannya, dan melihat aliran cakra Hinata yang mengalir sangat normal, Hanabi berlari menerobos Hiashi dan tetua pertama mendekati ranjang Hinata.

"Yokatta, Nee-sama… Hiks. Hiks. Hiks." Hanabi tak lagi mampu menahan air mata bahagianya.

"Hanabi-chan, jangan menangis." Pinta Hinata dengan suara lembutnya yang biasa.

"Hinata-sama. Syukurlah kau sudah sadar." Neji ternyata mengikuti langkah Hanabi mendekati ranjang Hinata.

"Un. Aku sudah tidak apa-apa, Nii-san. Terima kasih." Hinata menyungging senyum lembutnya yang biasa.

"Hinata-sama, kau berhasil membuat kami semua ketakutan." Ko hampir saja ikut menangis seperti Hanabi. Sekarang bahkan semua anggota klan, terkecuali Hiashi dan tetua pertama, sudah berdiri di dekat ranjang Hinata.

"Gomenasai, Ko." Lirih Hinata.

"Apa kau tidak melindukanku, Hinata-sama?" Tenten mencoba mencairkan suasana tegang dengan membuat sebuah cicitan kecil, seolah si kecil Kaoru dalam gendongannya yang sedang berbicara.

"Hahahaha," Semua orang tertawa mendengar suara lucu Tenten.

"Eh, Kaoru-kun." Hinata ikut tertawa kecil.

"Tentu saja aku sangat merindukanmu." Melihat Hinata yang mengulurkan tangannya, Tenten memindahkan si kecil Kaoru dari gendongannya ke dalam gendongan Hinata. Hinata mencium sayang pipi gembul Kaoru.

"Kami semua merindukanmu, Hinata-sama." Tenten tersenyum tulus yang dibalas Hinata tak kalah tulusnya.

"Heh!" Naruto menyeringai penuh kemenangan pada Hiashi dan tetua pertama yang masih saja belum beranjak dari depan pintu masuk kamar pasien Hinata yang terbuka lebar.

.

.

Naruto berdiri tegak menghadap Hiashi dan tetua pertama, meninggalkan kerumunan anggota klan bunke dan Hanabi yang mengerubungi Hinata. Walau terlihat sibuk menanggapi gurauan anggota klannya, sulit bagi Hinata untuk tak berkali-kali melirik khawatir pada Naruto. Hinata menebak-nebak, kali ini apa lagi yang akan dirundingkan Naruto dengan ayah dan kakeknya.

"Aku ingin menagih janjimu, Oji-san." Ucap Naruto tanpa keraguan.

"Aku sudah berhasil menyembuhkan Hinata."

"Jadi biarkan aku menikahinya."

Tetua pertama tak tampak terkejut sama sekali dengan desakan Naruto.

"Sepertinya aku sudah pernah menjelaskannya padamu jika Hinata harus menjaga darah murninya dan menikah dengan pemuda dari klan souke." Tetua pertama membuka suara.

"Jika kami mengizinkanmu menikahinya, itu berarti kami melanggar peraturan klan." Naruto terlihat tak benar-benar peduli dengan apa yang diucapkan tetua pertama.

"Hinata membutuhkanku." Tegas Naruto.

"Dia membutuhkan cakra kyuubi yang hanya ada pada diriku."

"Dan aku hanya bisa memberikannya dengan cara khusus." Jelas Naruto selalu memberi tekanan pada kata "hanya".

"Katakan bagaimana caramu memberikan cakra kyuubi padanya." Perintah Hiashi.

"Tidak. Aku tak bisa mengatakannya." Tolak Naruto.

Tentu saja. Naruto pernah hampir mati oleh jyuuken Neji saat dia pertama kali mencium Hinata dulu. Dan Naruto tak sebodoh itu mau mengambil resiko benar-benar mati oleh jyuuken banyak orang Hyuuga di dalam kamar Hinata saat ini.

"Intinya kalian tak berada dalam kondisi dimana bisa melakukan tawar menawar denganku." Tegas Naruto.

Jika boleh jujur sebagai seorang ayah, Hiashi cukup bangga dengan keteguhan hati Naruto memperjuangkan cintanya untuk Hinata. Tapi Hiashi sebagai ketua klan tak boleh sembrono mengambil keputusan. Kepentingan klan tetap diatas segalanya.

"Baiklah."

Naruto dan bahkan Hiashi terbelalak tak percaya mendengar persetujuan tetua pertama begitu mudahnya.

"Aku akan memberimu izin untuk menikahi Hinata dibawah satu kondisi."

Tiba-tiba saja Naruto merasa deg-degan menanti lanjutan kalimat tetua pertama.

"Apa itu?" Tanya Naruto tak sabar.

"Anak laki-lakimu yang memiliki mata seperti kami, akan menyandang nama klan Hyuuga." Naruto tak segera menjawab. Bagaimanapun juga ini keputusan yang sulit.

"Bukankah aku sudah katakan kalian tak berada dalam posisi bisa menawarku?" Ingatkan Naruto.

"Dan kau tak berada dalam posisi menolak tawaranku, Naruto." Balas tetua pertama.

'Duke! Si tua ini benar-benar menyebalkan!' Umpat Naruto dalam hati.

Naruto bersidekap dalam posisi berdiri. Mata langit terpejam saat pemuda kuning cepak itu berfikir keras. Naruto tak boleh menyia-nyiakan persetujuan dari tetua pertama. Naruto menoleh sejenak menatap Hinata yang tertawa kecil mendengarkan gurauan anggota klan bunke untuknya, untuk mencari keteguhan hati.

"Baiklah. Aku setuju." Jawab Naruto kemudian.

Naruto tak ingin membuang banyak waktu memikirkan hal-hal yang berat seperti anak. Biarlah nanti dia akan membuat banyak anak dengan Hinata. Jadi ada banyak kemungkinan anak mereka memiliki mata birunya dan menjadi penerus klan Uzumaki.

Tetua pertama menyungging sebuah senyum tipis yang aneh. Sudah ditebaknya jika Naruto akan menyetujui persyaratan yang diberikannya begitu saja. Lagipula tetua pertama yakin jika anak-anak Naruto nanti akan memiliki mata byakugan sepertinya karena memang mata ini lebih dominan dari mata safir Naruto yang normal.

"Kalau begitu persiapkan dirimu untuk menikahi Hinata besok." Nasehat tetua pertama pada Naruto sebelum berbalik pergi meninggalkan Naruto.

"Yosha!" Naruto yang tak benar-benar mendengarkan ucapan melakukan gerakan menghormat penuh semangat dengan tangan kanannya yang penuh perban dan memamerkan sebuah cengiran rubah yang sangat lebar.

Hiashi menggelengkan kepala coklatnya beberapa kali karena sweatdrop sebelum berbalik pergi menyusul tetua pertama.

"HEH?! BESOK?!" Teriakan Naruto yang baru sadar dengan kejanggalan kalimat tetua pertama menggema hebat memenuhi lorong rumah sakit.

"Sudah aku duga dia benar-benar lamban." Gumam tetua pertama.

"Apa kau benar-benar akan menikahkan mereka besok?" Tanya Hiashi khawatir.

"Tentu saja tidak." Jawab Tetua tenang.

'Hahh…' Hiashi menghela nafas lega dalam hati.

"Tetua. Apa kau yakin dengan keputusanmu ini?" Tanya Hiashi kembali.

"Bukankah kau juga termasuk pihak yang merasa senang dengan keputusan ini, Hiashi?" Pertanyaan balik tetua pertama berhasil menohok perasaan Hiashi.

"Setelah Neji, sekarang Hinata. Pasti nanti Hanabi dan Konohamaru yang akan membuat gaduh klan kita." Hiashi cukup terkejut karena tetua pertama ternyata tahu rahasia yang disembunyikan Hiashi rapat-rapat tentang cinta kedua putrinya.

"Mungkin ini saatnya kita merubah aturan dalam klan kita, Hiashi." Gumam tetua pertama.

"Ya. Mungkin kau benar, Tou-sama." Hiashi tersenyum tipis dengan sendirinya.

oOo To Be Continue oOo

Minna, maaf ya menunggu lama.

Cand harap chapter ini tidak mengecewakan ^^

Ditunggu reviewnya, Minna!

Ah, It's Time to replay ^^

Hq-san : "Hahahahaha… Gomenne, Hq-san. Gak bukan maksud Cand buat Hinata-chan menderita. Semoga chap ini bisa memberi angin segar buat cinta kasih Hinata dan Naruto, Hehe ^^"

Nafas-san : "Ya, Cand setubuh deh sama kamu :p"

Ares-san : " ^^ "

Hanazonorin-san : "Apa artinya kakkoi? Bukan ganteng kan?"

Durara-san : "Loh kenapa kok gak bisa baca lagi, Durara-san?"

Tamu-san : "Tolong jangan bakar saya, nanti saya tidak cakep lagi :p Mulai sekarang review terus loh ya…"