BAKTERI CINTA KONOHA

… xxx …

Sebelum melanjutkan membaca, Cand mau kasih warning. Mungkin rate di chap 4 dan chap 5 harus Cand naikin jadi rate-M ^^ Tapi Cand tetap menjaga agar gak terlalu vulgar.

Pesan khusus Cand untuk Cici-kun, gomenasai Cand gak menepati janji buat update cerita minggu lalu. Hountou ni gomenasai, Imouto-chan :'(

… xxx …

Tadaima

Sluuurp. Sluuurp. Sluuurp.

Bruak.

"Ahhh…." Dengan wajah puas Naruto membanting mangkok ramennya kasar.

"Paman! 1 mangkok lagi." Pesan Naruto penuh semangat.

"Oke!" Jawab Paman Teuchi tak kalah bersemangat.

"Berisik!" Bentak Sasuke yang sedari tadi hanya menahan rasa kesalnya dalam hati.

Baiklah Sasuke mengerti Naruto pasti bersemangat karena kurang seminggu lagi akan menikah dengan Hinata, tapi tak perlu seberisik sekarang bukan? Sasuke yang akan menikahi Sakura 3 bulan lagi saja tak sekalipun menampakkan kebahagiaan yang berlebihan di depan banyak orang seperti yang Naruto lakukan belakangan hari ini.

"Ah, Teme! Kau terlihat tampan jika sedang marah. Hahahaha!" Tawa Naruto meledak untuk guyonan garing yang bahkan Sasuke dan Sai yang tersenyum sweatdrop tak tahu bagian mana yang lucu.

"Dasar bodoh!" Gumam Sasuke yang lebih memilih kembali melanjutkan makannya daripada menganggapi Naruto.

"Sudah. Sudah. Jangan bertengkar." Lerai Ayame walau sudah sangat terlambat.

"Waaaah… Arigatou, Ayame Nee." Dengan menyungging sebuah cengiran lebar, Naruto menerima semangkok ramen jumbonya yang ketiga.

"Apa kau tidak takut sakit perut terlalu banyak makan ramen, Naruto?" Tanya Sai dengan nada khawatir.

"Hm?" Naruto memiringkan sedikit wajahnya dan melirik Sai dengan satu matanya.

"Apa kau mau bilang ramenku bisa membuat orang sakit perut, pemuda pucat?" Ayame berkacak pinggang dan mendelik kesal pada Sai.

"Ah, gomen. Bukan begitu maksudku." Sai menggosok-gosok tengkuknya tak enak hati.

"Aku sudah selesai makan." Sasuke mendorong mangkok ramennya yang tanpa sisa sedikitpun menjauh darinya.

Naruto melirik Sasuke dengan sudut mata langitnya saat pemuda tampan itu berdiri dan merogoh kantong celananya, mengeluarkan beberapa koin uang untuk membayar semangkok ramen yang sudah habis dimakannya.

"Terima kasih untuk ramennya." Ucap Sasuke pada Ayame.

"Aku pergi." Pamit Sasuke dengan wajah tampannya yang datar pada Naruto dan Sai yang masih sibuk mengunyah ramen mereka.

"Teme! Sampaikan salamku pada Sakura-chan." Terlalu semangat Naruto berteriak hingga beberapa sisa ramen dalam mulutnya yang belum sempat tertelan menyembur keluar.

"Kyaaa… Sasuke-kun manis sekali." Ayame menjerit gemas, memuji perubahan sikap Sasuke yang walau menurut Naruto dan Kakashi masih terlihat dingin dan menyebalkan seperti sebelumnya, banyak orang yang justru menilai Sasuke sekarang menjadi jauh lebih manis dan sopan dari sebelumnya.

"Fiuh..." Sai menghela nafas lega.

Untunglah kali ini sikap manis Sasuke menyelamatkannya dari omelan Ayame. Karena walau telinganya sudah kebal mendengar kecerewetan makluk bernama wanita, terutama kekasihnya Yamanaka Ino dan rekan satu timnya Haruno Sakura, tapi tetap saja jika ada pilihan lain Sai lebih suka berhadapan dengan seratus shinobi level chunnin atau mengerjakan misi tingkat S sendirian.

"Wah, akhirnya selesai juga." Paman Teuchi ikut bergabung.

"Jadi bahkan kau tertarik untuk menikah juga, Naruto?" Goda paman Teuchi kemudian.

"Hahahaha, ya begitulah, Paman." Naruto tertawa malu-malu, satu tangannya yang masih memegang sumpit sibuk menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Dengan gadis Hyuuga itu?" Tanya Paman Teuchi memastikan.

"Ya. Ya. Tentu saja." Naruto mengangguk penuh semangat dengan membawa cengiran rubahnya.

"Beruntung sekali kau dapat istri secantik Hinata, Naruto."

"Dia sepertinya gadis yang sangat baik dan penyayang." Ayame tersenyum tipis namun tak mengurangi ketulusannya pada Naruto.

Mengenal Naruto sejak kecil membuat Ayame tahu bagaimana Naruto sangat membutuhkan seorang wanita yang sabar dan penyayang seperti Hyuuga Hinata disampingnya. Senyuman tulus yang disungging Ayame merupakan perwujudan rasa syukurnya untuk pemuda cepak yang sudah dianggapnya adik ini karena akhirnya Naruto akan punya orang lain yang sangat menyayanginya dengan tulus tanpa memandang siapa Naruto saat ini selain Umino Iruka.

Bagaimana Ayame bisa tahu cinta Hinata tulus kepada Naruto padahal Ayame tidak terlalu mengenal Hinata seperti Ayame mengenal tim 7? Tentu saja itu karena sejak kepergian Naruto berkelana keluar desa selama 3 tahun, Hinata pernah beberapa kali datang ke kedai ramen bersama Ino dan Sakura. Dan setiap kali tiga kunoichi itu datang, warung ramen akan penuh dengan cerita cinta Hinata sejak di Akademi pada Naruto dan godaaan-godaan yang dilayangkan oleh Ino, Sakura, dan Ayame jika tidak sedang sibuk. Senang sekali rasanya menggoda gadis pemalu yang penuh semangat seperti Hinata. Apalagi jika sedang salah tingkah, Hinata jadi bersikap sedikit konyol.

Mungkin sebenarnya saat masih kecil dulu Hinata pernah datang ke kedai ramen Teuchi, tapi sebelum tahu jika Naruto dan Hinata menjalin hubungan dekat. Ayame memang tak terlalu memperhatikan gadis-gadis yang mampir ke kedai ramen ayahnya, walau Hinata sekalipun. Karena Ayame hanya menaruh perhatian pada gadis yang berhubungan dekat dengan Naruto, tentu saja saat itu adalah Sakura yang digilai oleh Naruto, dan Ino yang suka sekali bertengkar dengan Sakura untuk memperebutkan perhatian Sasuke.

Tanpa sadar Ayame melarikan pandangannya pada Sai yang tengah berjuang menghabiskan ramennya. Jika tidak salah berdasarkan cerita Sakura, Sai adalah kekasih Ino. Senyum tipis disungging Ayame sekali lagi. Rasanya sedikit lucu melihat bagaimana anak-anak ini saling memperebutkan perhatian lawan jenis yang mereka sukai dulu, dan sekarang mereka malah menjalin hubungan dengan teman gadis mereka sendiri yang Ayame yakin bahkan tidak pernah terlintas sedikitpun sebelumnya dalam benak anak-anak ini.

"Aku dengar dia juga gadis yang hebat." Paman Teuchi ikut memberi pujian.

"Ya. Ya. Dia gadis yang hebat." Cengiran Naruto mengembang semakin lebar mendengar pujian Paman Teuchi pada gadisnya.

"Tapi sayang nasibnya malang karena harus menikah dengan Naruto." Sai ikut berkomentar, sebuah senyum tanpa rasa bersalah disunggingnya segera.

"Ya. Ya. Kasihan sekali Hinata." Naruto mengangguk-angguk simpati, masih belum menyadari sindiran Sai padanya.

"Eh?" Semua sudah terlambat saat Naruto sadar.

"Hahahahaha." Tawa Paman Teuchi dan Ayame sudah menggema di seluruh kedai, dan entah bagaimana ceritanya orang-orang baik ninja maupun warga sipil yang kebetulan juga makan ramen di sana ikut menertawakan kelemotan otak Naruto.

Tap.

Seorang ANBU Konoha dengan topeng harimau mendarat di belakang Naruto dan Sai. Menghentikan niat Naruto yang baru akan melompat, hendak mencabik-cabik wajah innocent Sai dengan kuku rubahnya.

"Naruto-san. Sai Taichou. Hokage-sama memanggil kalian." Seorang ANBU Konoha, menghilang segera setelah menyampaikan pesan untuk Naruto dan Sai dari Rokudaime Hokage.

oOo oOo oOo

Naruto dan Sai yang sudah kembali berdamai, berjalan bersama menuju kantor Hokage untuk menemui Rokudaime Hokage yang memanggil mereka melalui salah seorang ANBU Konoha. Kedua pemuda tampan ini memilih untuk berjalan santai saja menuju kantor Hokage daripada melompati atap rumah warga atau membuang-buang cakra menggunakan hiraishin maupun shushin. Sekali-sekali tak ada salahnya membuat Kakashi menunggu mereka. Toh mereka sudah bertahun-tahun dibuat menunggui Kakashi yang masih saja tersesat di jalan yang bernama kehidupan itu meskipun Kakashi sudah memiliki Hatake Shouta.

Entah kenapa kali ini sepanjang jalan Sai lebih banyak diam, tak seperti sebelumnya di kedai ramen. Karena itu Naruto memecah kesunyian diantara mereka berdua dengan bersiul. Siulan yang sepertinya adalah sebuah lagu cinta. Naruto yang benar-benar sedang kasmaran ini, menyandarkan kepala kuningnya yang didongakkan ke atas pada kedua tangannya yang saling bertautan di belakang kepalanya.

"Naruto." Naruto menolehkan kepala tanpa menghentikan siulannya.

"Bolehkah aku tahu bagaimana caramu menyembuhkan Hinata dengan sangat cepat?" Pertanyaan Sai menghentikan siulan Naruto, walau tak merubah posisi awal Naruto.

"Maaf, Sai. Aku tak bisa memberitahumu." Tolak Naruto setelah terdiam beberapa lama. Pandangan Naruto kembali menerawang ke langit Konoha, tempat anak-anak awan saling berkejaran satu sama lain.

"Aku ingin menjaga rahasia itu berdua dengannya." Tambah Naruto lebih seperti sebuah gumaman.

"Ah, begitu." Sai mengulum senyum palsunya.

Kedua pemuda tampan ini kembali terdiam untuk beberapa menit ke depan. Tenggalam dalam pikiran mereka masing-masing.

"Apa kau lupa aku adalah kapten ANBU?"

"Aku bisa mendapatkan banyak informasi dari berbagai sumber yang terpercaya."

Naruto mengerutkan keningnya, menatap tak nyaman pada Sai yang tiba-tiba saja berwajah serius.

"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan padaku?" Naruto menurunkan kedua tangannya, menghentikan langkahnya, dan menatap Sai tak kalah serius. Uzumaki Naruto benar-benar terlihat keren jika sedang serius seperti sekarang.

"Kau tahu apa maksudku." Jawab Sai dengan nada datar.

Swiiing…

Angin peralihan musim menerjang dua pemuda yang saling bertatapan serius ini.

"Dengarkan aku, Naruto."

"Sebenarnya ada yang mengganjal di pikiranku beberapa hari ini." Naruto diam, menanti kelanjutan kalimat Sai.

"Kau memberi Hinata asupan cakra dari kyuubi untuk menyeimbangkan aliran cakranya, bukan?"

Mata langit Naruto membulat terkejut mendengar tebakan Sai yang begitu tepat sasaran. Di sisi lain tak adanya satupun bantahan yang dikeluarkan oleh Naruto, membuat Sai semakin yakin dengan hipotesanya.

"Aku tak tahu seberapa banyak cakra kyuubi yang kau alirkan pada tubuh Hinata."

"Aku juga tidak mengerti kenapa Hinata membutuhkan cakra kyuubi untuk menyeimbangkan aliran cakranya."

"Yang aku khawatirkan adalah jika cakra kyuubi mengalir dalam tubuh Hinata, suatu saat nanti Hinata akan berubah menjadi seorang monster saat dia tak mampu menguasai emosinya."

"Seperti yang terjadi padamu sebelum kau berhasil berteman dengan kyuubi." Sai memberi sedikit jeda pada kalimatnya agar Naruto bisa memahami maksudnya.

"Dan jika itu terjadi lalu Hinata menyerang desa, kita tak punya pilihan lain kecuali untuk membunuhnya."

Mata Naruto membulat penuh rasa terkejut mendengar rentetan kalimat Sai. Tak sekalipun Naruto pernah berfikir seperti yang Sai fikirkan. Tak pernah sejauh itu.

"Maaf Naruto, tapi tugas utama kita sebagai shinobi adalah melindungi desa dari semua hal yang mengancamnya."

"Bahkan jika itu istrimu."

Naruto mengeratkan kepalan tangannya. Ingin sekali memukul Sai yang semudah itu menyampaikan pikirannya tanpa mempertimbangkan perasaan Naruto. Tapi sial bagi Naruto dia tak bisa melakukannya. Walau menyakitkan untuk mengakuinya, tapi semua yang dikatakan Sai memang benar adanya.

oOo oOo oOo

Malam sebelum pernikahan Naruto dan Hinata

"Bersulang!"

Tring. Tring. Tring.

Suara gelas-gelas yang saling berbenturan semakin meramaikan suasana kedai Yakiniku_Q yang memang sudah ramai dari awal.

Gelak tawa di meja 5 Yakiniku_Q berbaur dengan ragam suara di dalam kedai. Saat ini hampir semua anggota rookie berkumpul untuk merayakan pelepasan status lajang pahlawan dunia Shinobi, Uzumaki Naruto.

Hampir semua karena memang hanya 5 orang yang datang. Sakura, Ino, Lee, Shino, dan Naruto sendiri. Naruto tahu jika Sasuke tak bisa datang karena sedang banyak laporan sehubungan dengan kegiatan bulanan Kepolisian Konoha yang harus dikerjakannya untuk diserahkan kepada Rokudaime Hokage 2 hari lagi karena sebelumnya Naruto sedikit berbuat kerusuhan di kantor Kepolisian Konoha. Lalu dari Shino Naruto tahu jika sore tadi sebelum Naruto datang ke kantor Kepolisian Konoha, Kiba tiba-tiba saja mendapatkan misi dari Sasuke untuk memeriksa sesuatu yang aneh di perbatasan desa.

Dan dari Lee Naruto tahu jika Neji dan Tenten akan datang walau terlambat karena mereka berdua harus melakukan sesuatu entah apa itu.

"Ngomong-ngomong dimana Shikamaru dan Chouji?" Tanya Naruto pada Ino yang datang paling lambat dari teman-teman yang lain. Diantara semua anggota rookie yang tidak datang, memang Naruto belum tahu alasan ketidakhadiran Shikamaru dan Chouji.

"Mereka berdua pergi ke Suna untuk menemui Kazekage," Jawab Ino meletakkan dagingnya berjejer di atas panggangan.

"Misi?" Tanya Naruto lagi.

"Bukan. Untuk melamar." Jawab Ino sembari menyungging senyum geli.

"HEH?! Shikamaru akan melamar Gaara, ttebayou?!" Naruto menjerit kaget. Keempat temannya segera saja terjungkal ke segala arah mendengar teriakan Naruto.

"Tentu saja melamar Temari-san, AHO!" Naruto menjitak keras-keras kepala kuning Naruto. Menyalurkan semua rasa kesalnya akan kebodohan Naruto.

"Ittai," Rengek Naruto yang sibuk mengelus kepalanya yang benjol. Setetes air mata menggantung di kedua sudut mata langitnya.

"Ya, ampun." Ino menggeleng sweatdrop.

"Hinata. Bagaimana bisa menyukai Naruto yang bodoh." Gumam Shino.

"Urusai!" Teriak Naruto tak terima pada Shino.

"Tenanglah, Naruto-kun."

"Biar aku menyanyikan sebuah lagu untukmu." Tawar Lee dengan semangat mudanya. Sepertinya hanya Lee seorang yang tak terpengaruh moodnya oleh kebodohan Naruto.

"Heh? Memangnya kau bisa menyanyi?" Cibir Naruto.

"Kau tak perlu khawatir. Aku sering melatih suaraku dengan Gai-sensei." Lee mengacungkan jempolnya dan mengedipkan sebelah matanya pada Naruto. Sakura memutar bola emeraldnya sweatdrop. Bagaimana bisa dia lupa jika Lee tak jauh beda kekonyolannya dengan Naruto.

"Aku. Aku. Aku ingin ikut bernyanyi." Ino menawarkan diri, mengacungkan satu tangannya tinggi-tinggi agar terlihat oleh Lee.

"Maaf, Ino-san. Hanya Sakura-san yang boleh bernyanyi bersamaku." Tolak Lee penuh percaya diri. Begitu tak sengaja matanya dan Sakura saling bertatapan, Lee mengedipkan satu matanya dengan genit pada Sakura.

"Hahahaha." Tawa Naruto meledak melihat bagaimana Sakura bergidik ngeri.

"Kalau kau macam-macam dengan Sakura-chan, kau tak akan selamat dari chidori Sasuke, Lee." Nasehat Naruto di sela tawanya yang belum mereda.

"Tidak apa, Naruto-kun. Cinta memang butuh perjuangan." Lee mengangkat satu tangannya yang terkepal tinggi-tinggi, menandakan ninja yang tidak bisa ninjutsu ini sedang terbakar semangat masa mudanya.

"Hahh…" Sakura menghela nafas berat, tak tahu harus seperti apa menanggapi Lee.

"Hahahahahaha." Tawa Naruto semakin menggelegar.

Sakura, menopang dagu dengan satu tangan dan menghadap Naruto, mengembangkan senyuman tulus ikut merasakan kebahagiaan Naruto saat ini. Setelah 3 tahun kepergian Naruto dari desa, seingat Sakura hampir tidak pernah Naruto tertawa selepas sekarang. Rasanya lumayan kangen juga melihat sikap konyol sahabat kuning jabrik, ah salah, sahabat kuning cepaknya ini.

"Cih. Dia meremehkan suaraku." Ino melengos kesal pada Lee. Memalingkan wajah cantiknya pada daging bakarnya yang kelihatannya sudah matang.

Tuk. Tuk. Tuk.

Ino memutar kepala pirangnya ke samping kiri saat merasa ada seseorang yang menunjuk-nunjuk bahunya.

Cup.

"Ekh?!"

Sakura, Lee, Shino, dan Naruto yang sudah berhenti tertawa memutar kepala hampir bersamaan mendengar pekikan kecil Ino. Di sana, di tempat Ino duduk, entah sejak kapan Sai tiba-tiba sudah ada disana. Tersenyum tanpa rasa bersalah pada Ino yang mengatupkan kedua tangannya untuk menutupi mulut mungilnya yang menganga kaget.

Pemuda pucat yang baru menyelesaikan tugasnya sebagai kapten ANBU ini baru saja menggoda kekasihnya dengan muncul tiba-tiba dan mengecup cepat bibir mungil Ino. Naruto mengerjapkan mata langitnya beberapa kali. Benar juga, Naruto baru sadar dia melupakan ketidakhadiran Sai.

Blush!

Wajah Ino memerah padam. Sai memang bukan laki-laki yang romantis. Bahkan sifat Sai sedikit banyak begitu mirip dengan Sasuke terutama di bagian wajah mereka yang terlihat sangat dingin walau tampan saat sedang serius. Tapi ketika sekali saja Sai bersikap romantis, seperti sekarang misalnya, pemuda pucat itu selalu mampu membuat Ino melambung tinggi oleh rasa tersanjung dan rasa bahagia yang sangat sulit tergambarkan.

"Sai-kun," Protes Ino setengah memekik karena tertahan oleh kedua tangan yang masih setia menutup mulutnya, mencoba menyembunyikan semburat merah pada kedua pipinya yang putih.

"Aku sangat merindukanmu, cantik." Bukan merasa malu atau bersalah mencium Ino tanpa permisi di depan teman-temannya, Sai malah menyungging sebaris senyum tipis yang membuatnya terlihat semakin tampan dalam pandangan Ino.

"Sai! Kau mau pamer, Hah?!" Teriak Naruto tak terima. Seenaknya saja Sai bermesraan dengan Ino di depan matanya padahal Naruto harus menahan rindu karena tak boleh bertemu dengan Hinata hampir selama 1 bulan sejak tanggal pernikahannya dan Hinata di tetapkan.

"Sai! Jangan seenaknya berciuman di depan umum, Baka!" Umpat Sakura kesal.

"Sai-kun! Semangat masa mudamu terlalu berlebihan." Lee sepertinya sudah berhasil bangkit dari rasa terpuruknya.

"Sai! Mungkin jika kalian menikah, kalian akan punya banyak anak." Gumaman Shino kalah keras dengan protes teman-temannya yang lain.

.

.

Tap. Tap. Tap.

Suara derap langkah berat seperti tertelan begitu saja oleh kegaduhan di Yakiniku-Q malam itu.

"Neji, bagaimana jika kita pulang saja?" Bujuk Tenten, yang berusaha keras mengimbangi langkah panjang suaminya.

"Mungkin Kaoru sudah bangun dan mencarimu." Bujuk Tenten tanpa menyerah.

Neji tak sedikitpun menghentikan langkahnya. Berita yang tak sengaja di dengarnya dari percakapan Hiashi dan Hinata di kediaman mereka membuat kepala Neji mendadak mendidih. Tak ingin hanya berkutat dengan spekulasinya, Neji memutuskan untuk mencari Uzumaki Naruto, laki-laki yang bertanggungjawab penuh dengan semua yang terjadi pada adik sepupu yang sangat disayanginya.

"Anata…" Suara Tenten semakin lirih. 10 tahun lebih menjadi teman satu tim, dan hampir dua tahun menjadi istri Neji membuat wanita cantik berwajah oriental ini tahu bahwa jika ekspresi Neji setegang ini, itu berarti suaminya tak ingin ada yang menghalanginya.

Neji memecah keramaian dan berjalan tanpa rasa ragu. Tentu saja sangat mudah mencari keberadaan Uzumaki Naruto bagi laki-laki Hyuuga yang memiliki mata spesial byakugan ini. Tak lagi mendengar rengekan Tenten, membuat Neji berhenti berjalan untuk menatap istrinya yang masih setia mengekor.

"Pulanglah dan temani Kaoru." Perintah Neji dengan mata byakugannya yang masih aktif. Tenten menggeleng cepat.

Neji diam untuk mempertimbangkan sesuatu.

"Baiklah. Kalau kau masih keras kepala, berjanjilah jangan ikut campur apapun yang terjadi nanti." Tenten mengerutkan kening merasa khawatir dengan rencana yang diam-diam yang dibuat oleh suaminya.

"Wakatta." Tenten memilih mengangguk setuju walau dibelakang, jari telunjuk dan jari tengah kanannya di tautkan sebagai tanda bahwa Tenten tidak berjanji dengan sungguh-sungguh.

Detik selanjutnya Neji dan Tenten kembali meneruskan langkah menuju meja 5 kedai Yakiniku_Q tempat teman-teman mereka berkumpul.

.

.

Neji yang sudah menonaktifkan byakugannya dan Tenten yang berwajah cemas berdiri diam di meja 5 Yakiniku-Q. Entah apa yang terjadi sebelumnya, yang jelas keempat temannya nampak sedang melakukan protes atau mungkin godaan besar-besaran pada Sai.

"Neji?" Sai yang lebih dulu menyadari kehadiran Neji.

"Neji! Tenten!" Panggil Lee penuh semangat. Sementara itu Shino, Ino, Sakura dan Naruto memutar kepala bersamaan mencari keberadaan Hyuuga Neji dan Hyuuga Tenten.

"Ah, Neji?!" Naruto menyambut Neji dengan suka cita. Bagaimanapun juga mulai besok Neji akan menjadi kakak iparnya.

"Kau datang juga?" Naruto beranjak dari duduknya dengan penuh semangat, bermaksud menyongsong kehadiran kedua kakak iparnya. Tenten menatap Neji khawatir. Walau tak benar-benar tahu apa yang sedang dipikirkan Neji, Tenten yakin sesuatu yang besar akan terjadi.

"Apa kau kemari dengan Hinata juga?" Neji masih keukeh dengan kediamannya walau Naruto sudah berdiri tegak dihadapannya.

"Neji?" Panggil Naruto bingung. Jangankan menjawab pertanyaannya, tersenyum walau tipispun Neji tak melakukannya.

"Jyuuken!" Tanpa peringatan, Neji mengaktifkan byakugannya dan memukul cepat dada Naruto dengan telapak tangannya yang berselimutkan cakra biru.

"Ugh!"

Brug.

Naruto terlempar ke belakang dan baru berhenti saat tubuhnya membentur tembok.

"HAH?!" Semua teman mereka yang hadir menganga tak percaya.

Persis seperti sebelumnya. Walau tak sampai menjebol tembok Yakiniku-Q, tapi suara benturan tubuh Naruto dan tembok yang sangat keras berhasil menyita hampir seluruh pengunjung Yakiniku-Q.

"Kkkhh!" Naruto terbatuk darah.

"Naruto!" Sakura yang telah mengatasi rasa terkejutnya melompat dan mendarat di samping Naruto yang memegang dadanya yang terasa panas.

"Bertahanlah." Sakura segera mengakifkan jutsu penyembuhnya. Cakra berpendar kehijauan segera menyelimuti kedua telapak tangan gadis musim semi Uchiha Sasuke ini.

Tap.

Langkah Neji terhenti saat Sai melakukan shushin. Tiba-tiba saja Sai sudah merangkul leher Neji dengan sebilah kunai yang berkilat tajam.

"Apa yang kau lakukan?!" Tanya Sai dengan nada dingin. Neji bergeming.

"Neji, ada apa denganmu?" Tanya Lee bingung.

"Mungkin Neji masih tak rela Naruto menikah dengan Hinata." Tebak Shino

Dengan semua yang terjadi, Ino sudah tak lagi tenggelam dalam ketersipuannya. Mata laut Ino berkaca-kaca, menatap wajah dingin Sai tak percaya. Seperti inikah Sai jika sedang serius menghadapi musuhnya? Sai jadi terlihat sangat menyeramkan. Ino bahkan bisa merasakan aura membunuh dari Sai.

'Sai-kun,' Panggil Ino dalam hati.

"Jangan ikut campur, Sai!" Jawab Neji dengan suara tak kalah datar.

"Tidak bisa." Tolak Sai.

"Naruto adalah rekan dan bawahanku." Sai mengeratkan kunainya pada leher Neji.

"Ada apa?"

"Ada yang bertengkar sepertinya."

"Bukankah itu Hyuuga Neji?"

"Ya, dan teman-temannya."

"Apa yang terjadi? Bukankah Naruto-san akan menikah dengan salah satu anggota klan Hyuuga?"

"Ya sepertinya begitu."

"Sudah. Bubar. Bubar."

"Kita tak selevel dengan mereka."

"Jangan ikut campur urusan mereka."

Sai bergeming. Tak menanggapi komentar tamu-tamu kedai Yakiniku-Q yang tertarik oleh suara keras akibat tubuh Naruto yang membentur tembok kedai. Walaupun ada kemungkinan Rokudaime Hokage akan menghukumnya karena memakai kekerasan di depan umum, Sai menutup mata demi melindungi Naruto. Toh setidaknya Sai tak membocorkan identitasnya sebagai ketua ANBU.

Tes.

Darah Neji mulai mengalir tipis dari lehernya saat Sai benar-benar menggores leher Neji dengan kunainya.

"Turunkan tanganmu, Neji!" Ancam Sai saat merasakan Neji hendak membuat sebuah segel.

Sreet. Tap.

Tenten melompat dan mendarat tepat di belakang Sai. Menghunuskan kunai ke tengkuk Sai dengan kedua tangannya.

"Turunkan kunaimu atau aku akan menusukmu." Ancam Tenten.

Percuma. Tenten hanya seorang wanita, karena itu tak akan mampu menakuti Sai sekeras apapun Tenten mencoba. Sai pasti bisa dengan mudah melumpuhkan Tenten, dan lagi mungkin Tenten lupa jika Sai adalah kapten ANBU yang sudah lama malang melintang di dalam misi rahasia yang hampir selalu mampu merengut nyawanya.

Ino berdiri cepat. Tak terima Tenten berani mengacungkan kunai pada kekasihnya. Ino membentuk sebuah bulatan dengan kedua jempol dan kedua jari telunjuk serta kedua jari tengah yang saling berkaitan, mengaktifkan shintenshinnya. Ino mengarahkan tangannya ke kanan dan ke kiri, sedikit bingung siapa yang akan diserangnya. Neji ataukah Tenten.

"Shintenshin no jutsu." Akhirnya Ino memilih masuk dalam tubuh Tenten.

Slap.

Shino bergerak cepat menangkap tubuh Ino yang melemas.

Klang. Klang. Klang.

Ino yang berhasil masuk dalam pikiran Tenten menjatuhkan begitu saja kunai yang sebelumnya membahayakan leher Sai. Ino kemudian membuat Tenten berdiri lemas, kepala bercepol Tenten tertunduk ke bawah.

Slap.

Lee merangkul pundak Tenten. Walau tak jatuh, tetap saja Lee mengkhawatirkan Tenten.

"Kenapa mereka saling menyerang ya?"

"Hey, sudah aku bilang kita tak usah ikut campur urusan para shinobi hebat itu."

"Bagaimana jika kita melapor ke kantor Hokage?"

"Jangan. Ke kepolisian Konoha saja."

"Iya kau benar juga. Sasuke-san juga pahlawan dunia shinobi yang hebat. Dia pasti bisa menghentikan mereka.

Orang-orang mulai berbisik di sana sini dengan penuh semangat.

.

.

Wessst. Wessst. Wessst.

Slap.

Naruto menggenggam pergelangan tangan kurus Sakura erat.

"Cukup, Sakura-chan. Aku baik-baik saja." Lirih Naruto yang menghapus darah dimulutnya dengan tangan yang lain.

"Demo…"

"Tak apa." Naruto menyela protes Sakura.

"Bagaimana jika kita melapor ke kantor Hokage?"

"Jangan. Ke kepolisian Konoha saja."

"Iya kau benar juga. Sasuke-san juga pahlawan dunia shinobi yang hebat. Dia pasti bisa menghentikan mereka.

"Lalu siapa yang melapor?"

"Jangan aku. Aku takut."

Naruto merasa tak tenang mendengar bisik orang-orang disekitarnya apalagi membawa-bawa nama Sasuke dan Kepolisian Konoha. Naruto masih tak tahu alasan Neji tiba-tiba menyerangnya dengan jyuuken, tapi yang jelas ini pasti berhubungan dengan Hinata. Dan jika ternyata juga menyangkut tentang Miko, maka Sasuke tak boleh tahu bagaimanapun caranya.

"Sai! Turunkan kunaimu." Perintah Naruto. Sai masih bergeming dalam posisinya.

"Taichou. Onegai." Pinta Naruto dengan suara tegas.

Walau masih memasang sikap waspada, perlahan namun pasti Sai benar-benar menurunkan kunainya dari leher Neji yang sudah ternoda darah.

Naruto berdiri dengan bantuan Sakura. Walau tak bisa tegak sama sekali, Naruto memaksakan diri untuk berjalan mendekat pada Neji yang masih mempertahankan tatapan permusuhan pada Naruto.

"Kenapa kau menyerangku?" Tanya Naruto dengan wajah meringis menahan sakit. Kurama sedang tidur atau apa, Naruto tak tahu. Yang jelas entah mengapa saat ini kyuubi tak mengalirkan cakra penyembuhnya seperti biasanya. Naruto jadi merasakan panas dan sakit di dadanya lebih lama daripada biasanya.

"Hinata-sama…"

"Jika ini tentang Hinata, ikutlah denganku ke suatu tempat." Sela Naruto cepat. Benar dugaannya, sikap Neji sekarang memang ada hubungannya dengan Hinata.

Neji terdiam untuk beberapa saat. Sesaat yang lalu Neji terlalu fokus dengan Naruto dan kunai Sai sampai tak menyadari banyak pasang mata yang diam-diam memperhatikannya dan teman-temannya.

"Baiklah," Neji mengangguk mengerti.

Tepat setelah Neji menyelesaikan anggukannya, Naruto sudah menghilang saja dengan hiraishin yang susah payah dipelajarinya agar bisa menyamai ayahnya.

Neji akhirnya menaruh perhatian pada Tenten yang bersandar penuh di dada Rock Lee. Tak lucu memang jika Neji merasa cemburu pada Rock Lee yang notabene adalah rekan satu timnya dan Tenten, tapi mau bagaimana lagi? Tenten adalah istri dan ibu dari anak lak-lakinya. Melihat Tenten sedekat itu dengan laki-laki selain dia, rasanya sangat tak menyenangkan.

"Bisakah kau keluar dari tubuh istriku, Ino?" Tanya Neji tanpa mengharap balasan dari Ino, karena Neji segera mengalihkan pandangannya pada Rock Lee.

"Tolong kau antar dia pulang, Lee." Pinta Neji.

"Tak masalah." Sanggup Lee segera.

"Kau pantas menjadi kapten ANBU!" Puji Neji pada Sai masih dengan posisi membelakangi pemuda pucat itu, sebelum menghilang di balik asap putih untuk menyusul Naruto.

"Terima kasih." Seolah semua ketegangan yang terjadi beberapa saat lalu antara dirinya dan Neji hanya sebuah akting, Sai menyungging lebar-lebar senyum palsunya.

oOo oOo oOo

Hening.

Setelah mendengar semua cerita Naruto, tentang bakteri cinta, tentang Miko, tentang aliran cakra Hinata yang kacau, tentang hubungan cakra kyuubi dan Hinata, Neji tak tahu harus menanggapi seperti apa semua informasi yang baru saja di dapatkannya dari Naruto.

"Jadi kau tidak mencari keuntungan mendapatkan restu Hiashi-sama dan Tetua pertama dengan membiarkan Hinata-sama sakit?" Tanya Neji panjang lebar.

"Tentu saja tidak, ttebayou!" Sanggap Naruto cepat.

"Mana mungkin aku tega membiarkan Hinata menderita seperti itu?"

"Lagipula aku selalu menyibukkan diri dengan misi agar tak merindukannya."

"Aku tak mungkin bisa memikirkan rencana sepicik itu, Neji!" Naruto benar-benar berusaha meyakinkan Neji.

"Jika bukan karena kyuubi yang memberitahuku, aku mungkin juga akan kehilangan dia."

"Aku. Aku sendiri takut hidup tanpa Hinata." Suara Naruto semakin lirih, bahkan terlalu lirih hingga angin malam mampu menenggelamkan suaranya.

Mata amethys Neji menerawang jauh ke langit malam Konoha. Keheningan mulai kembali mendominasi. Seolah kedua pemuda ini berlomba menghitung bintang yang lumayan banyak menghiasi langit Konoha malam ini.

"Naruto. Sejak kecil Hinata-sama sudah banyak mengalami penderitaan." Neji mulai bercerita masih dengan tatapan menerawang.

"Dariku, Hiashi-sama, dan klan Hyuuga."

Naruto memilih diam untuk meresapi tiap kata yang keluar dari mulut Neji.

"Aku percaya kau bisa membuatnya bahagia."

"Karena kau pemuda yang dicintai Hinata-sama."

"Bahkan nyawamu lebih berharga dari nyawa Hinata-sama sendiri."

"Tidakkah kau menyadarinya?" Naruto hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Tak sanggup menahan rasa haru, bangga, kecewa pada dirinya sendiri, rasa bersalah, dan banyak lagi rasa yang bercampur aduk jadi satu dalam hatinya sekarang.

"Tapi kenapa kau harus meracuni Hinata-sama dengan cakra kyuubi."

Mata Nauto membulat tak percaya dengan kemiripan kata-kata Neji dengan Sai. Dan Naruto tak menyukai kelanjutan dari kalimat Neji yang terkesan masih menggantung.

"Aku tahu kau sudah berteman dengan kyuubi."

"Kau mampu menguasai cakranya tanpa masalah."

"Tapi kau seharusnya tidak lupa jika Hinata-sama bukan seorang jinchuuriki."

"Apa yang harus kita lakukan jika Hinata-sama menjadi seorang monster karena terlalu banyak menyimpan cakra kyuubi? Apa yang akan kita lakukan jika Hinata-sama berubah seperti Kinkaku dan Ginkaku?"

Deg.

Jantung Naruto seolah berhenti berdetak saat itu juga. Kaki dan tanggannya mulai terasa dingin.

"Apa yang akan kita lakukan?!" Pertanyaan ulang Neji membuyarkan lamunan Naruto.

"Kau tidak perlu khawatir." Jawab Naruto setelah terdiam beberapa menit.

"Itu tidak akan terjadi pada Hinata."

"Jikapun apa yang kau takutkan benar terjadi, aku tak akan membiarkan Hinata menderita sendirian."

"Aku akan mati bersamanya."

'Ya. Seperti yang ayah dan ibu lakukan. Mati bersama aku pikir bukan ide yang terlalu buruk.' Tekad Naruto dalam hati.

Neji mencoba mencari kesungguhan dari mata langit Naruto yang berkilat-kilat penuh keteguhan hati.

"Kau tidak akan menarik kata-katamu, bukan?" Tanya Neji memastikan.

"Kau tak perlu meragukan jalan ninjaku, Neji!" Tegas Naruto.

oOo oOo oOo

Swiiing…

Uzumaki Naruto tak benar-benar peduli pada dinginnya angin malam yang sedari tadi meminta perhatiannya dengan selalu membelai lembut kulit tan Naruto. Jinchuuriki kyuubi ini tak berhenti berfikir sejak Neji pamit pulang 1 jam yang lalu.

"Yang aku khawatirkan adalah jika cakra kyuubi mengalir dalam tubuh Hinata, suatu saat nanti Hinata akan berubah menjadi seorang monster saat dia tak mampu menguasai emosinya."

"Seperti yang terjadi padamu sebelum kau berhasil berteman dengan kyuubi."

"Dan jika itu terjadi lalu Hinata menyerang desa, kita tak punya pilihan lain kecuali untuk membunuhnya."

"Maaf Naruto, tapi tugas utama kita sebagai shinobi adalah melindungi desa dari semua hal yang mengancamnya."

"Bahkan jika itu istrimu."

Naruto membebani kedua matanya yang tertutup dengan satu tangan yang bertumpu di atasnya.

"Naruto. Sejak kecil Hinata-sama sudah banyak mengalami penderitaan."

"Dariku, Hiashi-sama, dan klan Hyuuga."

"Aku percaya kau bisa membuatnya bahagia."

"Karena kau pemuda yang dicintai Hinata-sama."

"Bahkan nyawamu lebih berharga dari nyawa Hinata-sama sendiri."

"Tidakkah kau menyadarinya?!"

"Tapi kenapa kau harus meracuni Hinata-sama dengan cakra kyuubi."

"Aku tahu kau sudah berteman dengan kyuubi."

"Kau mampu menguasai cakranya tanpa masalah."

"Tapi kau seharusnya tidak lupa jika Hinata-sama bukan seorang jinchuuriki."

"Apa yang harus kita lakukan jika Hinata-sama menjadi seorang monster karena terlalu banyak menyimpan cakra kyuubi? Apa yang akan kita lakukan jika Hinata-sama berubah seperti Kinkaku dan Ginkaku?"

Tanpa sadar air bening meleleh perlahan dari sudut mata Naruto.

'Ayah, Ibu. Apa yang harus aku lakukan, ttebayou?!'

'Kenapa aku harus selalu terjebak dengan masalah rumit seperti ini?' Adu Naruto bingung.

'Grrrr…'

Naruto menurunkan tangannya dan membuka mata langitnya cepat saat mendengar suara geraman kasar dan udara panas berhembus di sekitar wajahnya.

'Kurama?' Panggil Naruto heran.

Sejak perang dunia 4 berakhir, kyuubi sering sekali memanggil Naruto ke kandangnya untuk mengobrol atau menasehati Naruto. Daripada sebagai seekor bijuu dan jinchuurikinya, Naruto sering merasa hubungannya dengan kyuubi cenderung seperti seorang kakak dan adiknya. Hampir setiap kali Naruto merasa masalahnya terlalu berat, kyuubi akan membantunya mencari jalan keluar. Seperti sekarang, Naruto tiba-tiba sudah ada di atas satu tangan kyuubi yang terbuka.

'Kau membuatku muak melihat kecengenganmu, Gaki!' Komentar tajam kyuubi. Naruto memalingkan wajah sedihnya dari kyuubi.

'Aku bingung sekali.' Adu Naruto sedih.

'Hinata. Apa aku salah memberikan cakramu padanya?' Telinga kyuubi bergerak pelan.

'Bagaimana lukamu? Apa masih sakit?' Suara kyuubi terdengar melembut untuk seekor bijuu.

Naruto tersentak sedikit kaget, baru menyadari jika sebelumnya dia terluka akibat jyuuken Neji. Naruto menggeleng segera saat tak merasakan lagi panas di dadanya.

'Sudah sembuh walau lebih lambat dari biasanya.' Jawab Naruto.

'Bagaimana rasanya saat kau terluka tapi tak bisa sembuh begitu saja?' Tanya Kurama lagi.

'Tentu saja itu menyakitkan sekali, Kurama.' Jawab Naruto dengan kening berkerut bingung.

'Lalu menurutmu, apa yang akan Hinata rasakan jika kau tak memberikan cakraku saat dia membutuhkannya? Dia bahkan tak bisa menyembuhkan lukanya sendiri tanpa cakraku.' Ingatkan Kurama.

Mata Naruto membulat untuk kemudian berkaca-kaca, menatap Kurama dengan pandangan tak mengerti. Dalam hati Naruto merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa dia melupakan kenyataan bahwa Hinata tak mampu segera menyembuhkan luka kecil sekalipun tanpa bantuan cakra kyuubi sekarang.

'Jadi apa kau masih menyesal memberikan cakraku pada Hinata?' Tanya kyuubi pada Naruto yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

Naruto tak tahu harus menjawab pertanyaan kyuubi seperti apa. Membiarkan Hinata menyerap cakra kyuubi di satu sisi benar dan di sisi lain juga salah. Naruto benar-benar dibuat depresi. Kenapa juga Hinata harus belajar menjadi Miko jika malah membuat keadaan bertambah rumit seperti sekarang. Naruto tak benar-benar mengerti apa manfaat Hinata mati-matian belajar menjadi Miko.

'Kau tak usah bingung seperti itu, Naruto."

"Aku akan menawarkan sebuah penyelesaian untukmu.'

'Pasang telingamu baik-baik karena aku tak akan mengulanginya lagi.'

Beberapa lama setelah mendengarkan penjelasan kyuubi, Naruto sudah bisa menyungging senyum penuh kelegaan.

oOo oOo oOo

Ckluk. Ckluk. Ckluk.

Naruto terkantuk-kantuk dalam duduknya. Sakura melirik Naruto khawatir. Tak ada satupun cerita yang di dengarnya dari Naruto setelah Naruto meninggalkan kedai Yakiniku_Q bersama Neji. Padahal Sakura begitu penasaran dengan apa yang terjadi antara mereka. Apa yang mereka bicarakan malam itu di atas kepala Yondaime Hokage.

Walaupun ingin bertanya sekarang, Sakura tak bisa melakukannya. Ada Sasuke yang duduk tenang disampingnya. Yang mengerutkan keningnya bingung pada Sakura yang berkali-kali terpergok mencuri pandang padanya. Karena itu yang bisa dilakukan Sakura adalah menyimpan rapat-rapat rasa penasarannya sampai keadaan memungkinkannya untuk memberondong Naruto dengan banyak pertanyaan.

Sraaaak…

Sakura memutar kepala ke arah pintu geser yang terbuka. Mata emeraldnya membulat saat Neji terlihat berdiri di sana untuk membuka pintu dan membiarkan Hinata dan rombongan klan Hyuuga masuk ke dalam kuil.

Sakura, dan tiga laki-laki yang menemaninya menjadi keluarga Naruto sempat terpana sesaat oleh Hyuuga Hinata yang tersenyum kecil pada mereka.

"Naruto. Naruto. Bangunlah!" Desis Sakura sembari menggoyang-goyang bahu Naruto kasar agar anak Yondaime Hokage ini segera bangun dari tidurnya.

"Bangun bodoh! Pengantinmu sudah datang!" Sakura semakin keras mengguncang bahu Naruto. Pasalnya semua anggota klan Hyuuga yang ikut dalam upacara pernikahan Naruto dan Hinata sudah masuk ke dalam kuil.

Keringat dingin mulai mengalir di kening Sakura saat bahkan setelah semua anggota klan Hyuuga duduk di tempat mereka masing-masing, Naruto masih saja tertidur dalam duduknya. Untung saja Naruto tak mengeluarkan suara-suara aneh yang akan membuat Sakura malu.

"AAAARRRGHHH!" Sakura terlompat ke belakang dan jatuh di dada Sasuke, saat tiba-tiba Naruto menjerit sangat keras.

"Ittai!" Naruto mengelus sisi perut kanannya yang terasa perih akibat cubitan maut Guru Iruka.

"Gomen ne, Sasuke-kun." Ucap Sakura mendongakkan kepala permen kapasnya demi menatap Sasuke.

"Hn." Jawab Sasuke singkat disertai sebuah anggukan kepala.

"Iruka-sensei! Kenapa kau mencubitku, ttebayou?!" Protes Naruto masih dengan wajah setengah mengantuk. Naruto masih tak menyadari jika di dalam ruangan sudah banyak pasang mata amethyst yang menatapnya geli. Beberapa dari mereka masih sibuk mengelus dada karena merasa kaget dengan jeritan keras Naruto yang begitu tiba-tiba. Bahkan Hyuuga Hiashi sekalipun harus berjuang keras menjaga wibawanya setelah terlonjak kaget.

Iruka mendelik tajam pada Naruto. Dengan gerakan mata, Iruka berusaha membuat Naruto menyadari kehadiran klan Hyuuga. Untunglah kali ini tak butuh usaha lebih bagi Iruka. Naruto yang mengerti peringatan yang diberikan oleh Iruka dengan gerakan lambat, memutar kepala kuning cepaknya demi menatap satu per satu pasang mata amethyst yang entah sejak kapan sudah banyak berjajar di depannya.

Naruto bergidik ngeri saat mata langitnya bertabrakan dengan tatapan tajam dari Hyuuga Hiashi yang menunjukkan ketidaksukaannya akan sikap konyol Naruto di hari pernikahan Naruto dengan putri sulungnya.

Tak ingin bermimpi buruk nanti malam, Naruto cepat melarikan mata langitnya. Sekilas pintas saja saling bertukar pandang dengan tetua pertama yang memandangnya tak kalah tajam, Hanabi dan Tenten yang mati-matian menahan tawa geli, serta Neji yang diperban lehernya sedang memijit keningnya frustasi. Naruto masih meneruskan petualangannya sampai berhenti pada seorang gadis cantik yang duduk tepat di depannya dengan menyungging senyum tipis yang menawan.

Blush!

Sedikit demi sedikit wajah Naruto mulai bersemu merah. Mulut sang jinchuuriki kyuubi ini bahkan sampai menganga tak percaya. Apakah gadis yang duduk berhadapan dengannya sekarang benar Hyuuga Hinata?

Bukan maksud Naruto meragukan status Hinata sebagai gadis cantik. Hanya saja Hinata yang memakai shiromuku putih dan wata boushi sebagai hiasan kepalanya nampak sangat, sangat, sangat mempesona. Apalagi senyum tipisnya yang begitu hangat pada Naruto, dan rona merah di pipi yang membuat Hinata terlihat sangat manis, dan bibir merah maron Hinata yang baru sekali ini terlihat sangat seksi dalam pandangan Naruto, dan mata amethyst Hinata yang berkilat-kilat jenaka, dan, dan…

"Kirei!" Naruto memuji Hinata sangat keras hingga tak satupun orang dalam kuil yang tak mendengar pujiannya.

Semua orang tersenyum geli melihat bagaimana Hinata sukses menjerat Naruto dengan pesona alaminya. Tak terkecuali Hiashi yang tak bisa menahan diri untuk tak tersenyum tipis mendengar pujian Naruto pada Hinatanya. Uchiha Sasuke pun sampai menyeringai geli mendengar pujian tak sadar Naruto pada Hinata.

"Ufu." Hinata tertawa kecil. Akhirnya setelah sekian lama Naruto memujinya juga. Didepan semua orang. Di salah satu hari paling spesial dalam hidupnya.

"Ah," Sai, masih dengan mempertahankan senyum gelinya, mulai sibuk melukis ekspresi wajah Naruto dan Hinata saat ini.

oOo oOo oOo

"Hahahahaha," Gelak tawa banyak terdengar hampir di seluruh sudut ruang pertemuan utama klan Hyuuga.

Selesainya upacara pernikahan di kuil, acara memang dilanjutkan di kediaman Hyuuga. Banyak sekali shinobi-shinobi dari berbagai desa yang berbaur dan membentuk kelompok-kelompok kecil.

"Selamat, Naruto."

Naruto yang baru saja selesai berbicara dengan Tsunade dan Godaime Mizukage, menoleh kesamping demi melihat siapa yang baru saja memberinya ucapan selamat.

"Gaara!" Pekik Naruto girang.

"Arigatou." Naruto segera menyambut uluran tangan Gaara dan menggenggamnya erat. Mencoba membagi kebahagiaannya bersama jinchuuriki ichibi untuk yang kedua kalinya ini.

"Yo. Yo. Bocah kuning. Ternyata seleramu tinggi juga. Yo." Killer Bee dari Komugakure ikut bergabung.

"Bee-san!" Naruto kembali memekik senang.

"Dasar bocah sialan! Kenapa kau mendahuluiku. Aku bahkan belum mendapatkan pacar. Bakayaro. Konoyaro." Killer Bee masih terus melagukan rapnya.

"Itu karena aku ini lebih tampan darimu. Yeah." Naruto membalas dengan rap anehnya. Melihat dua jinchuuriki di depannya saling bertukar rap, diam-diam Gaara ingin belajar melakukan rap juga. Biarlah nanti Gaara mengajak Kankorou belajar ngerap. Sepertinya akan menyenangkan jika image menyeramkan sebagai jinchuuriki ichibi yang kedua kalinya bisa dihilangkan Gaara. Mungkin saja penduduk Suna dan kedua kakaknya akan lebih menyukainya.

"Naruto!" Naruto kembali memutar kepala cepaknya melihat siapa lagi yang memanggilnya.

"Kiba! Akamaru! Shino! Shikamaru! Lee! Chouji! Sai! Teme!" Naruto memanggil semua nama temannya dalam satu hembusan nafas.

"Kau tak perlu mengabsen kami seperti itu, Naruto!" Balas Kiba.

"Hai, Gaara-san. Bagaimana kabarmu?!" Sapa Lee lebih dulu.

"Baik." Gaara mengangguk sekali pada Lee disertai sebuah senyum tipis persahabatan.

"Wah, menjadi Kazekage benar-benar harus menjaga wibawa ya, Gaara." Komentar Kiba.

"Tentu saja. Bagaimanapun juga dia pemimpin tertinggi di Suna." Sela Shikamaru.

"Ciee… Yang membela adik ipar." Goda Naruto.

"Mendokusai!" Balas Shikamaru malas.

"Selamat untuk pernikahanmu," Sai mengulurkan tangan pucatnya. Tidak seperti biasanya, kali ini Sai tersenyum tulus untuk Naruto.

"Aku punya hadiah spesial untukmu." Ucap Sai kemudian.

"Terima kasih, Sai. Aku akan senang hati menerimanya." Naruto menjabat tangan Sai dengan membawa cengiran rubahnya.

"Selamat, Naruto."

"Terima kasih, Shikamaru."

"Omedettou, Naruto-kun."

"Terima kasih, Alis tebal."

"Aku tak menyangka kau akan menikah dengan Hinata. Tapi selamat."

"Haha. Terima kasih, Shino."

"Aku dan Akamaru berdoa untuk kebahagiaanmu dan Hinata."

"Terima kasih, Kiba. Terima kasih, Akamaru."

"Makanannya enak-enak. Terima kasih, Naruto!"

"Hey, Chouji! Mana ucapan selamat untukku?!"

'Selamat untukmu, Naruto.' Sasuke hanya menyeringai tipis melihat kehebohan teman-temannya.

Detik selanjutnya obrolan seru terjadi antara para shinobi ini. Ditengah obrolan yang lebih di dominasi oleh teman-temannya yang cerewet, Naruto memonyongkan bibirnya untuk berbisik pada Sasuke dan Sai dengan membuat seringai aneh.

"Apa kalian tahu darimana aku mendapatkan pakaian ini?" Naruto masih mempertahankan seringai anehnya. Sasuke dan Sai saling melirik diam.

"Kau membelinya di toko kan?" Sai yang akhirnya menanggapi pertanyaan Naruto.

"Salah."

"Kakashi sensei yang membelikannya, ttebayou!" Naruto menjawab sendiri pertanyaannya karena Sasuke dan Sai tak kunjung menjawab.

"Hahahaha," Naruto tertawa bangga.

Sasuke dan Sai kembali saling melirik, menyangsikan apa yang baru saja dikatakan Naruto.

"Jangan bercanda!" Sangsi Sasuke.

Tak masuk akal bagi otak jeniusnya Kakashi yang untuk mentraktir semangkok ramen bagi tim 7 saja selalu bisa mencari alasan untuk kabur, sekarang membelikan montsuki haori hakama yang berkali-kali lipat jauh lebih mahal daripada semangkok ramen untuk Naruto.

"Kalian iri kan?" Naruto masih mempertahankan rasa bangganya pada Sasuke dan Sai.

"Hahahaha…" Sementara Naruto menikmati tawa bangganya, diam-diam Sasuke dan Sai dalam hati masing-masing bertekad untuk memaksa Kakashi membelikan mereka hakama yang sama seperti Naruto saat mereka menikah nanti.

oOo oOo oOo

Cukup lama juga Naruto bercengkrama dengan teman-temannya. Entah kenapa tiba-tiba Naruto merindukan Hinata. Aneh memang. Padahal belum sampai 2 jam Naruto berpisah dengan Hinata setelah upacara pernikahan mereka selesai.

Naruto memutar kepala kuning cepaknya diam-diam untuk keberadaan gadisnya, ah bukan, istrinya yang segera bias ditemukannya berdiri di ujung lain untuk menemani tamu wanitanya saling bertukar kata. Tanpa sadar Naruto menyungging senyum saat Hinata terlihat malu-malu menanggapi godaan mereka.

Entah berapa lama Naruto bertahan pada posisinya, yang jelas tiba-tiba saja Hinata menoleh dan tersenyum manis pada suami 3 jamnya.

Blush!

Naruto bingung apa yang terjadi dengan dirinya sendiri. Naruto tak bisa menemukan alasan yang masuk akal kenapa wajahnya selalu memanas dan jantungnya berdegup tak normal tiap kali bertatapan dengan Hinata sejak pagi tadi.

"Terima kasih untuk memilihku, Naruto-kun."

Mata Naruto membulat lebar setelah Hinata menyempurnakan kalimat tanpa suaranya pada Naruto. Butuh waktu sedikit lama untuk Naruto lepas dari keterpanaannya.

"Terima kasih untuk mencintaiku, Hinata." Balas Naruto meniru cara Hinata, berkata tanpa suara.

Detik selanjutnya kedua suami istri 3 jam ini saling melempar senyum bahagia.

oOo oOo oOo

Pesta pernikahan Naruto dan Hinata akhirnya benar-benar selesai saat matahari mulai tergelincir di ufuk barat. Kedua pengantin yang terlihat lelah ini diantar oleh Hiashi sendiri menuju kamar pengantin mereka yang sebelumnya adalah kamar Hinata.

"Sudah sampai. Kalian masuklah." Hiashi tanpa ragu membukakan pintu kamar untuk Naruto dan Hinata.

"A-arigatou, Tou-sama." Kata Hinata tak enak hati. Hiashi menganggukkan kepala sekali.

"Arigatou, Hiashi-san." Naruto kelihatannya masih belum biasa memanggil orang lain ayah selain Namikaze Minato.

"Naruto!" Naruto dan Hinata berhenti berjalan saat Hiashi memanggil.

"Ya?" Jawab Naruto segera.

"Perlakukan Hinata dengan lembut." Nasehat Hiashi sebelum menutup pintu kamar Naruto dan Hinata.

Blush! Blush!

Naruto dan Hinata dengan wajah memerah padam segera saja memalingkan wajah masing-masing. Keduanya juga jadi salah tingkah satu sama lain.

"A-aku akan mengganti pakaianku dulu." Gagap Naruto. Pemuda jabrik ini berjalan cepat menuju kamar mandi dalam kamar.

"Ba-baiklah, Na-Naruto-kun." Jawab Hinata tak kalah gagap.

Cklek. Blum.

"Hahh…" Hinata menyembunyikan wajahnya yang terasa sangat panas di balik telapak tangannya. Tak pernah terpikirkan oleh Hinata jika ayahnya bisa menggodanya seperti itu.

Cklek.

"Eh?" Hinata mengangkat wajahnya saat mendengar suara pintu kamar mandi yang dibuka.

"A-aku lupa mem-membawa baju ganti, hehe." Naruto nyengir kikuk.

'Sial!' Umpat Naruto dalam hati sepanjang perjalanannya mencari baju ganti dan kembali ke kamar mandi. Seumur hidupnya belum pernah dia merasa setegang dan sekikuk ini saat berhadapan dengan orang lain.

Cklek. Blum.

"Haaahhh…" Hinata berjongkok dan kembali menenggelamkan dalam-dalam wajahnya di balik telapak tangannya.

Bahkan tanpa menyentuh sekalipun Hinata bisa merasakan debaran jantungnya. Debaran yang sangat cepat dan keras. Hinata sampai takut jika jantungnya akan meledak.

oOo oOo oOo

Hinata mengulurkan tangan kanannya, menyentuh bayangan wajahnya yang tersenyum dalam kaca. Senyum yang walau tipis tak bisa menyembunyikan sedikitpun kebahagiaan yang dirasakannya.

Hinata tak pernah menyangka jika hari ini akhirnya benar-benar datang juga. Hari dimana dia menjadi pengantin Naruto. Hari dimana Hinata akan memulai hidup barunya dengan menyandang nama Uzumaki di depan nama kecilnya.

"Naruto-kun," Tanpa sadar Hinata memanggil nama Naruto.

"Ya, Hinata." Jawab Naruto dengan raut wajah sedikit bingung.

'Eh?' Hinata menoleh cepat, menatap Naruto yang menenteng Hakama di tangan kanannya. Hinata berani bertaruh pasti Naruto melepaskan hakamanya dengan bantuan bunshinnya sendiri.

"Na-Naruto-kun, se-sejak kapan kau berdiri di sana?" Gagap Hinata dengan wajah memerah malu.

"Ehm, sejak kau tersenyum sendiri." Jawab Naruto sembari menggaruk-garuk pipi berkumisnya yang entah kenapa ikut-ikutan tersipu.

"Kau belum mengganti bajumu?" Tanya Naruto kemudian, berusaha mencairkan suasana canggung diantara keduanya.

"A-aku tidak bisa melepaskan shiromuku ini sendiri." Adu Hinata. Tangannya sibuk menyentuh manapun bagian shiromukunya untuk menutupi rasa gugupnya.

"Ehm," Naruto mulai kebingungan, tangannya tak mau berhenti menggaruk alis kuningnya. Berfikir bagaimana cara lari dari keadaan yang tidak menguntungkan baginya ini.

"A-apa kau bi-bisa membantuku me-melepasnya?" Hinata menundukkan wajahnya yang memerah padam. Berusaha mati-matian menahan rasa malunya demi melaksanakan nasehat tetua perempuan dan Hyuuga Tenten padanya malam sebelum hari pernikahannya dan Naruto.

Naruto menganga lebar tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Hinata yang biasanya pemalu sekarang malah terdengar seperti sedang menggodanya. Jikapun benar Hinata melakukannya, tidak salah memang toh mereka sudah resmi menjadi suami istri. Tapi yang Naruto sesalkan adalah kenapa Hinata melakukannya di saat yang tidak tepat seperti sekarang.

"Na-Naruto-kun?" Panggilan Hinata membuat Naruto refleks mengatupkan mulutnya.

"Oh, o-oke." Jawab Naruto kikuk.

"A-aku akan menggantung hakamaku dulu,"

Naruto berjalan lambat melewati Hinata. Berkali-kali Naruto merutuki dirinya sendiri dalam hati. Rasanya semua usahanya meneguhkan hati bahwa dia harus bertahan sepanjang sisa malam, sampai dia jatuh tertidur saat sedang menunggu kedatangan Hinata di dalam kuil, berakhir sia-sia. Naruto tak menyangka jika ternyata tidak mudah untuk melakukannya saat hanya berdua bersama dengan Hinata seperti sekarang. Tak menyangka jika ternyata menahan diri seperti ini berkali-kali lipat jauh lebih susah daripada belajar senjutsu di gunung Myoboku.

Naruto menggelengkan kepala cepaknya tanpa sadar. Dulu saat masih genin, Naruto pernah beberapa kali menjalankan misi bersama Hinata. Bahkan setelah 2 tahun mengikuti Jiraiya, Naruto juga pernah beberapa kali menjalankan misi bersama Hinata. Yang berarti Naruto pernah tidur bersama Hinata walau tak cuma berdua saja. Tapi rasanya Naruto tak pernah ingat kepalanya bisa berdenyut-denyut dan otot-ototnya mulai terasa menegang seperti sekarang.

Naruto ternyata terlalu meremehkan kekuatan dari pesona seorang wanita. Pantas saja Jiraiya tak bisa menahan diri untuk tak mengintip Tsunade walau Tsunade pernah hampir membuatnya mati karena pukulan mematikan Tsunade yang mematahkan beberapa tulang rusuknya.

'Kuso! Kuso! Kuso!' Naruto semakin banyak merutuki dirinya sendiri. Jika terus seperti ini, Naruto yakin pertahanan dirinya untuk tak menyentuh Hinata akan hancur dalam beberapa detik saja. Padahal Naruto tidak tahu hal buruk seperti apa yang akan terjadi jika Hinata menyerap terlalu banyak cakra kyuubi saat mereka berciuman, atau melakukan lebih dari sekedar berciuman seperti yang tertulis dalam buku yang dipinjamkan Kakashi padanya seminggu yang lalu.

"Naruto-kun," Hinata kembali membuyarkan lamunan Naruto yang walaupun sudah menggantung hakamanya, tetap tak bergerak dari depan lemari pakaian mereka.

"Ah, eh, oke."

Naruto berjalan lambat untuk kembali pada Hinata.

Glek.

Naruto menelan ludah dengan susah payah. Hinata benar-benar terlihat seperti ramen jumbo special Paman Teuchi yang hanya dibuat pada hari ulang tahun kedai ramen itu. Begitu menggodanya. Apalagi dalam jarak sedekat ini, Naruto bisa melihat dengan jelas leher jenjang Hinata yang begitu mulus karena istrinya itu menggelung tinggi surai biru indahnya.

'Kuso! Kuso! Kuso!' Naruto tak mau berhenti merutuki dirinya sendiri.

"Ano Naruto-kun, ji-jika kau keberatan, a-aku akan meminta bantuan Nee-san." Sepertinya Hinata bisa merasakan kesusahan hati Naruto.

"Ah," Naruto sedikit salah tingkah. Naruto mengepalkan kedua tangannya erat sebelum kembali melanjutkan katanya yang tergantung.

"Biar aku yang melakukannya." Naruto mulai mengangkat kedua tangannya yang bergetar untuk melepaskan satu per satu bagian shiromuku Hinata.

Naruto dan Hinata seperti bisa mendengar debaran jantung masing-masing saat Naruto mulai menurunkan bagian kerah shiromuku Hinata sampai sebatas bahu. Hinata menekankan kuat-kuat tangannya yang saling menggenggam di depan dadanya saat tangan Naruto berhenti bergerak, seolah menikmati kulit mulus Hinata yang tersaji di depan matanya.

Glek.

Sekali lagi Naruto meneguk ludah dengan susah payah. Naruto tanpa sadar sedikit mencengkram bagian leher shiromuku Hinata yang tergenggam di dalam tangannya. Sesuatu dibawah sana mulai terasa menyesakkan bagi Naruto.

'Gomenasai, Hinata. Gomenasai.'

Naruto tak bisa menahan dirinya lagi. Diangkatnya dagu Hinata tinggi-tinggi, dibunuhnya jarak antara dirinya dan Hinata, dan dikecupnya bibir ranum Hinata yang sedikit terbuka sebelumnya.

'Hountou ni Gomenasai.' Naruto mulai memperdalam ciumannya pada Hinata.

.

.

"Naruto. Hinata-sama rela mati untukmu."

Naruto mengerutkan keningnya di tengah ciumannya dengan Hinata.

"Aku percaya kau bisa membuatnya bahagia."

"Karena kau pemuda yang dicintai Hinata-sama."

"Bahkan nyawamu lebih berharga dari nyawa Hinata-sama sendiri."

Naruto mulai tak menikmati ciuman yang sedang dilakukannya sekarang.

"Apa yang harus kita lakukan jika Hinata-sama menjadi seorang monster karena terlalu banyak menyimpan cakra kyuubi? Apa yang akan kita lakukan jika Hinata-sama berubah seperti Kinkaku dan Ginkaku?"

Naruto membuka mata langitnya yang terpejam, mangamati dari dekat wajah Hinata yang memerah padam tepat di depan matanya.

"Dan jika itu terjadi lalu Hinata menyerang desa, kita tak punya pilihan lain kecuali untuk membunuhnya."

"Maaf Naruto, tapi tugas utama kita sebagai shinobi adalah melindungi desa dari semua hal yang mengancamnya."

"Bahkan jika itu istrimu."

Naruto melepaskan ciumannya dan mendorong tubuh Hinata menjauh darinya dengan lembut. Hinata, dengan nafas memburu dan wajah memerah padam, menatap Naruto tak mengerti kenapa tiba-tiba Naruto menatapnya dengan tatapan sendu.

"Karena itu aku tidak takut mati jika itu berarti aku melindungimu. Karena aku mencintaimu, Naruto-kun."

Naruto menarik Hinata ke dalam pelukannya. Dadanya bergemuruh hebat menahan berbagai rasa yang tiba-tiba menyesakkan hati. Hinata, yang berdiri pasrah dalam pelukan Naruto, semakin tak mengerti apa yang terjadi pada Naruto saat suaminya mulai menekankan kepala biru Hinata ke dalam dadanya. Naruto mempertahankan posisinya sampai jinchuuriki kyuubi ini merasa sudah bisa menguasai dirinya.

Naruto kembali mendorong tubuh Hinata menjauhinya dengan lembut dan saling bertukar pandang dengan mata indigo Hinata.

"Ada apa, Naruto-kun?" Tanya Hinata dengan tatapan khawatir.

Naruto mengulum sebaris senyum tipis setelah menggelengkan kepala cepaknya beberapa kali.

"Kau pasti lelah."

"Lebih baik kita beristirahat." Usul Naruto lembut.

Hinata tahu Naruto menyembunyikan sesuatu darinya. Semua itu terlihat jelas dari tatapan Naruto padanya. Tapi jika Naruto tak mengatakan apapun padanya, Hinata yakin belum saatnya dia tahu. Dan Hinata tak keberatan untuk sabar menunggu sampai Naruto bercerita atas keinginannya sendiri.

"Un." Hinata menganggukkan kepalanya pelan dalam kuncian tangan Naruto dikedua bahunya.

'Tiga hari. Hanya tiga hari. Beri aku waktu 3 hari, Hinata.' Naruto tak kunjung melepaskan tatapan teduh Hinata yang terasa hangat di hatinya.

oOo To Be Continue oOo

Author Note :

Entah apa yang ada dalam pikiran Cand waktu ngetik cerita ini. Jujur Cand bingung apa yang harus diketik waktu Cand sadar jika dalam chapter ini Cand harus menyisipkan adegan rate M.

Owh, Minna.

Gomenasai (_ _ ") sepertinya ini rate-M yang gagal. Dan mungkin chap depan juga rate-M.

Maaf jika feel di chapter ini mungkin kurang terasa. Tapi Cand tetap menunggu review kalian. Direview beneran loh yah. Cand bener-bener pengen tahu apa yang ada dalam pikiran kalian waktu baca chap ini. Terima kasih untuk sabar menunggu updetan cerita Cand :'*

Yosh!

Waktunya Cand balas-balas review :

Nafas-san : "Iya ini lanjutannya udah diupdate. Ditunggu review isi ceritanya ya ^^"

Hq-san : "Gomen Hq-san, Cand belum mudeng maksudnya H/C nya di anak NH. Hehe."

Selena-san : "Cieee Cand malu ne dipuji Selena-san. Arigatou gozaimasu -,-"

Durara-chan : "Eh, jangan semua? Emang durara chan mau NH punya anak berapa? Wkwkwk :D"

Hana-san : "Haha. Gomen ya kepanjangan ceritanya jadi capek. Apa perlu Cand pendekin nih ceitanya? Wah Cand gak janji ya. Cand sebenarnya masih burem sweet moment itu sebenarnya kek apa. Hehe author geje emang. Yosh! Ditunggu reviewnya `,`"