Seperti biasanya, pagi itu matahari bersinar dengan terang, burung-burung bertengger di pohon dan terus berkicau dan juga sebuah jam weker yang berbunyi dengan begitu nyaringnya, menandakan jika hari ini akan di mulai. Hari kedua bersekolah di Fairy Tail, entah mengapa Lucy merasakan sebuah perasaan aneh yang mengganjal dihatinya sekarang, untuk hari itu dia sama sekali tidak tersenyum.
"Pagi-pagi sudah murung, bagaimana mau memulai hari?" Tanya ayahnya sambil meneguk secangkir kopi
"Apa ada masalah?" Kini ibunya bertanya
"Tidak, tidak, aku baik-baik saja kok"
"Bukankah ayah sering berkata padamu, harus sering tersenyum supaya hari bisa terlewati dengan mudah. Mungkin hari ini akan lebih sulit daripada kemarin"
"Sayang, jangan berkata begitu pada anak kita"
"Aku tidak peduli, aku mau berangkat"
"Tapi kamu belum sarapan!"
"Aku tidak lapar, bye-bye"
Rasa lemas yang dirasakannya sampai-sampai membuatnya kehilangan nafsu makan. Lucy terus berjalan kaki hingga sampai didepan sekolahnya, beberapa lelaki yang sepertinya fans menyapanya sambil tersenyum, tetapi Lucy terus berjalan dan pergi ke kelasnya. Di sana sudah ada Natsu, tetapi Natsu sama sekali tidak menyapa Lucy, apa perkataannya yang kemarin itu serius?
"Hey…."
"Nani?" Ucap seseorang yang rupanya Erza
"Natsu hari ini bertingkah aneh"
"Benar juga, dia tidak menyapamu daritadi. Apa kalian sedang perang dingin?"
"Aku tidak tau, kemarin Natsu berkata terserah aku mau melakukan apa, dia tidak akan peduli"
"Jadi benar-benar perang dingin, memang apa yang terjadi di antara kalian?"
Lucy menceritakan awal hingga akhir kejadian, setelah itu Erza hanya manggut-manggut dan berpikir sebentar.
"Masalah ini disebabkan oleh Jellal ya"
"Lho, kamu mana boleh menjadikannya kambing hitam?!"
"Jika bukan karena Jellal karena siapa? Anak itu terlalu ikut campur"
"Tapi…. !"
Ucapan Lucy terhenti setelah melihat Jellal, dia terlihat kaget dan menjatuhkan sebuah kartu. Lucy berjalan menghampirinya dan menjelaskan segala hal yang terjadi.
"Jellal, ini tidak seperti kelihatannya, kamu jangan salah paham" Lucy sepertinya sudah kehabisan kata-kata
"Ini semua salahmu, temanku jadi bertengkar" Ucap Erza terang-terangan
"Erza!"
Untuk sesaat Jellal menundukkan kepalanya dan kemudian memungut kartu yang tadi jatuh, Lucy terlihat sangat khawatir, tetapi ketika mengangkat kepalanya Jellal tersenyum.
"Kamu baik-baik sajakan?"
Hanya sebuah anggukan yang ia berikan, Jellal berjalan dan duduk di bangkunya, meski tadi tersenyum Lucy masih merasa khawatir. Ketika hendak menghampiri Jellal, Erza segera mencegat Lucy dan menyuruhnya duduk di tempat asal.
"Untuk apa mempedulikannya, anak itu hanya merusak hubungan orang"
"Perkataanmu terlalu tajam"
"Ya…Itulah aku, kamu sudah tau bukan?"
"Tapi…Jangan tunjukkan sifat itu didepannya"
"Biar, kenapa kamu peduli padanya? Karenanya hubunganmu dengan Natsu rusak, bagi Natsu dia itu orang ketiga"
"Orang ketiga? Dia terlalu berlebihan…" Gumam Lucy
Erza POV
Heh…Anak itu…Apa dia tidak sadar jika Natsu menyukainya? Sepertinya Natsu masih harus berjuang hingga cintanya tersampaikan, tak lama kemudian guru pun masuk kedalam kelas dan pelajaran segera di mulai. Entah ada apa sekitar jam 8.30 bel istirahat berbunyi, meski ini hari kedua kami sudah belajar seperti biasa.
Ketika jam istirahat tiba aku hendak mengeluarkan bekalku, tiba-tiba saja Jellal menghampiriku dan memberiku sebuah kartu, bukankah ini kartu yang tadi dia jatuhkan? Wajahnya menunjukkan jika dia ingin aku membuka kartunya.
Gomen, kemarin aku tidak sengaja menabrakmu.
"Benar-benar singkat" Ucapku dingin
Entah kenapa tiba-tiba dia salting, padahal aku tidak memujinya atau mungkin dia merasa aku mengejeknya? Apapun tingkahnya aku sama sekali tidak peduli, dialah yang menyebabkan Lucy dan Natsu perang dingin, mungkin aku harus memberinya peringatan.
"Jangan dekat-dekat lagi dengan Lucy, karenamu Natsu dan Lucy sedang perang dingin sekarang"
"Jika kamu mencoba mendekatinya, awas saja"
Sepertinya aku berhasil mengancamnya, Jellal mengambil sebuah notes dari saku celananya dan dia menulis, apa yang akan diucapkannya kali ini? Membela diri?
Gomen, aku tidak tau
"Lagi-lagi minta maaf, sehari kamu bisa minta maaf berapa kali, huh? Juga, jangan tunjukkan ekspresi seperti itu!"
Dengan kasarnya aku mengambil notes tersebut dari tangannya, merobek kertasnya dan menempelkan kertas tersebut dimukanya kemudian pergi meninggalkan kelas. Jellal sempat menatapku untuk sesaat, sebuah wajah yang menunjukkan jika ia tersenyum kecil, dasar aneh…Sudah kukasari masih saja tersenyum. Tujuanku adalah kantin, di sana ada Natsu dan Gray, akan tetapi tidak ada Lucy, kemana dia?
"Di mana Lucy?" Tanyaku pada Natsu
"Tidak tau" Jawab Natsu dengan wajah terkesan cuek
"Kalian benar-benar perang dingin rupanya" giliran Gray yang menjawab
"Terserah, bagaimana kalau hari ini kita nongkrong di cafe?"
"Cafe biasa?"
"Iya, kalian masih ingatkan?" Tanya Natsu
"Tidak mengajak Lucy?" kini aku bertanya lagi
"Jangan sebut nama itu didepanku"
Natsu itu kalau sudah berkata tidak akan peduli maka dia tidak akan peduli, rupanya dia benar-benar serius…Kami bertiga makan di kantin sambil sesekali bercanda, tidak ada Lucy rasanya ada yang kurang, padahal biasanya ia duduk di sebelah Natsu lalu tertawa mendengar candaan darinya. Bel masuk pun berbunyi, aku melihat jika Lucy berjalan didepanku, akan tetapi saat ingin menghampirinya ia malah pergi.
Bel usai pelajaran pun berbunyi, ketika berbenah aku sama sekali tidak melihat Lucy, padahal biasanya dia yang keluar paling akhir. Anak tunarungu itu juga sudah tidak ada di kelas.
"Kita jadi pergikan?" Tanya Natsu yang menghampiriku sambil meggendong tasnya
"Ya, jadi, lagipula jika aku ada jadwal hari ini aku sudah mengatakannya dari awal"
Jarak dari sekolah ke café tidaklah jauh, seperti biasanya café itu begitu ramai, hanya dengan melihatnya dari kejauhan aku sudah tau. Kami bertiga duduk dan melihat menu, seperti biasanya menu dari mereka sangat membuatku tergiur, apalagi harganya terjangkau oleh anak sekolah. Seorang pelayan perempuan datang untuk mengambil pesanan kami, wajahnya sangat familiar, bukankah dia….?
"Lucy?!" Pekikku
"Sejak kapan kamu bekerja di sini?" Tanya Gray yang tak kalah kagetnya
"Baru hari ini, lagipula aku datang kesini bukan untuk bekerja"
"Lalu untuk apa?" Tanya Natsu dingin
"Aku tau kalian akan pergi ke café hari ini, aku juga tau kenapa kalian tidak mengajakku. Jika aku datang kesini dan berlari menghampiri kalian, aku merasa tidak bisa, maka dari itu menurutku lebih baik menyamar jadi pelayan di sini"
"Baka, meski kamu menyamar jadi pelayan di sini aku tetap tidak peduli"
"Natsu! Aku sengaja menyamar supaya bisa minta maaf padamu, karena aku…aku…aku sama sekali tidak memiliki keberanian jika harus datang kehadapanmu dan minta maaf…" Lucy mengenggam nampan dengan begitu erat
"Minta maaf karena sudah dekat-dekat dengan Jellal?"
"Ya, itu maksudku ingin meminta maaf, lagipula aku dan Jellal tidak memiliki hubungan khusus kok, kami baru saja bertemu kemarin"
"Bukan itu yang ingin aku dengar darimu! Aku tidak ingin kamu berteman dengannya, kamu bisa di bully habis-habisan nanti!"
"Aku tidak takut di bully, aku hanya takut kehilangan sahabatku dan teman baru!"
"Lucy! Aku sengaja berkata seperti itu supaya kamu tidak di bully, pada akhirnya kamu akan menyesal nanti, jadi dengarkan aku"
"Menyesal? Aku tidak akan menyesal! Lagipula apa aku melakukan hal yang salah? Jawab aku Natsu, jawab!"
"YA! Berteman dengannya adalah hal yang salah!"
Saat itu aku hanya bisa terdiam mendengar pertengkaran mereka, begitu juga dengan Gray. Tidak ada yang ingin melerai ataupun menyela, semua diam dan bisa ditebak mereka berdua menjadi pusat perhatian di café dan orang yang berlalu lalang pun menonton mereka.
"Ah iya, apa yang ada dikantongmu itu?" Tanya Gray yang mengalihkan topik pembicaraan dan sepertinya berhasil
"Ini? Hanya sebuah kartu dari anak bisu itu"
"Apa kamu memaafkannya?" Gray bertanya setelah membaca isi kartu tersebut
"Tidak, lagipula dia sangat keterlaluan, kesanku padanya selama dua hari ini sangat buruk"
Dengan kedua tanganku, aku merobek kartu tersebut hingga menjadi kecil-kecil, kemudian membuangnya ke udara hingga terbawa angin.
Normal POV
Kedua tangannya berusaha untuk menangkap potongan kartu tersebut, Jellal meratapi kartu yang sudah terpotong-potong itu dengan wajah yang amat sedih. Kartu tersebut menciut karena basah, dari matanya keluarlah sebulir air mata yang semakin lama semakin deras. Apa cinta sebegitu menyakitkannya? Tanya Jellal dalam hati. Lucy menatap wajah Jellal dengan iba, akhirnya ia bangkit berdiri dan pergi.
"Apa pesanan kalian?" Tanya Lucy
"Tidak ada, ayo pergi" Ajak Natsu
Sepertinya bukan hanya hati Jellal yang tersakiti, hati Lucy pun ikut tersakiti. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Natsu yang begitu cuek dengannya, bagaimana kedepannya? Pasti kedua kisah cinta ini mengalami cobaan yang semakin berat.
Bersambung…
A/N : Bisa di bilang aku menceritakan 2 pairing, yaitu NaLu dan Jerza. Lumayan combo :v
