Lucy POV
Flashback…
"Hey, apa kamu benar-benar serius?" tanyaku sambil menatap wajahnya
Tentu, memang kenapa?
"Memang sih tidak seharusnya aku ikut campur, tetapi bukankah kamu sudah mendengarnya dari Erza secara langsung? Kesannya kepadamu selama dua hari ini sangat buruk!"
Lalu, kenapa?
"Mencintainya hanya akan membuatmu sakit hati…Bukankah kamu sudah merasakannya?"
Lagipula itu hanya sebuah kartu
"Meski kamu berkata begitu, aku melihatmu menangis, tau"
Ya, pada akhirnya kami berdua hanya bisa terdiam di halaman belakang sekolah. Ini adalah hari ketiga semenjak kejadian itu dan sekarang sudah sebulan lebih berlalu…
Tidak terasa sudah satu bulan lebih aku melewati masa-masa SMA, rupanya waktu berjalan dengan sangat cepat. Percakapanku dengan Jellal saat itu seperti baru dilakukan kemarin saja. Meski sudah satu bulan berlalu, hubunganku dengan Natsu tidak kunjung membaik, sedangkan hubungan Jellal dengan Erza sepertinya tidak ada perkembangan, malah semakin buruk.
Sesampainya di sekolah, aku mengambil sepatu di loker dan kemudian menutupnya kembali. Kulihat Jellal berada tidak jauh di sana, segera aku menghampirinya, sekedar untuk menanyakan kabar.
"Bagaimana, apa suratmu di terima?" tanyaku memulai pembicaraan
Dia menolaknya, apa suratku begitu buruk?
"Aku tidak pernah melihat isinya jadi aku tidak tau, lagipula itu adalah surat ke enam yang kamu kirim dan semuanya di tolak…"
Sepertinya perkataanku barusan membuat Jellal drop, aku benar-benar merasa bersalah mengatakan hal seperti itu. Semenjak ia mengatakan jika menyukai Erza, Jellal mulai mengirimkan surat setiap seminggu sekali, tetapi yang selalu kudengar darinya adalah suratnya di robek, kalau tidak di buang.
"Apa kamu sadar jika cara ini sia-sia?"
Kalau begitu aku harus bagaimana?
"Bagaimana ya? Aku juga bingung, kalau sudah ada ide kuberitau, deh"
Akhirnya Jellal bisa tersenyum kembali, meski sebenarnya aku tidak bisa menjamin ucapanku barusan. Kami berdua pergi ke kelas bersama-sama, kalau kuperhatikan ada beberapa mulut nakal yang membicarakan kami, aku tau ini akan terjadi untuk apa menyesal…
"Ohayou" sapaku pada seluruh isi kelas
"Sepertinya kalian berdua semakin dekat, pacaran?" tanya salah satu dari mereka
"Tidak, hanya berteman"
"Hoi bisu, gak habis tuh kertas kamu tulisin terus? Pemborosan itu namanya"
"Dia itu kan kaya, kertas segitu mah sedikit baginya. Lagian anak kayak gitu diajakin ngobrol, bikin capek aja tau"
"Masa, anak pejabat punya teman orang cacat? Malu-maluin tau"
Ejekan yang mereka lontarkan membuatku terdiam untuk sejenak, aku mengepalkan tanganku untuk meredam amarah, kemudian aku menarik tangan Jellal dan mengajaknya untuk duduk. Beberapa dari mereka tertawa, bahkan berbisik-bisik seperti sedang bergosip. Suasana kelas yang tadinya ricuh kini menjadi tenang karena bel masuk sudah berbunyi, bisa di bilang aku terselamatkan sekarang.
PR yang diberikan oleh Laxus-sensei seperti biasanya, sangat sulit. Erza datang menghampiriku dan duduk didepanku, hanya dia yang masih memperhatikanku sampai sekarang, meski terkadang setiap kali kami mengobrol sering keluar ucapan pedas dari mulutnya itu.
"Apa kamu masih bisa bertahan?" tanyanya basa-basi
"Ya…Tentu, lagipula aku sudah tau kok akan begini jadinya"
"Meski Natsu berkata dia tidak akan peduli padamu, sebenarnya dia masih memperhatikanmu dari jauh"
"Eh? Maksudmu?"
"Saat kamu di ejek, dia terlihat marah tetapi emosinya berhasil Gray redam. Itu tandanya dia masih perhatian padamu, aku benarkan?"
"Memang sih, cuman…Kami tidak bisa sedekat dulu sekarang"
"Jika kamu meninggalkan Jellal, kalian bisa dekat seperti dulu"
"Tidak bisa! Apa ada orang lain yang mau berteman dengannya? Tidakkan?!"
"Lagi-lagi keras kepala"
"Kamu juga orangnya keras kepala, aku tetap pada pendirianku!" tegasku
Apa aku terlalu egois? Ya, aku memang egois sekarang, pasti Erza, Gray dan Natsu sudah menggangap aku berubah 100% sekarang, dari yang tadinya selalu mendengarkan saran dari orang, kini jadi keras kepala. Aku keluar dari kelas dan pergi ke halaman belakang sekolah, tiba-tiba saja saat perjalanan menuju kesana aku mendapatkan sebuah ide, segera aku mempercepat langkahku dan berlari menghampiri Jellal.
"Hey, hey" ucapku sambil menepuk-nepuk bahunya
Lagi-lagi dia kaget ketika aku menepuk bahunya, padahal aku merasa tidak melakukan hal yang membuatnya terkejut. Aku duduk disebelahnya sambil berteduh di bawah pohon, benar-benar nyaman…apalagi bisa bersama dengan semuanya, aneh mendadak aku menjadi sedih.
"A…Ah iya…Aku punya ide"
Ide apa?
"Menulisnya tidak perlu cepat-cepat, seperti orang tergesa-gesa saja" ledekku
Katakan saja, aku tidak tau lagi harus bagaimana
"H'ai, h'ai. Tiga hari lagi ulang tahunnya Erza, sekarangkan hari Kamis, berarti hari Minggu ya? Iya benar hari Minggu, ideku adalah berikan saja hadiah ulang tahun untuknya"
Hadiah seperti apa?
"Hmm…Lebih baik kamu membuat sesuatu, seperti origami? Tetapi sepertinya itu tidak cocok untuk hadiah ulang tahun. Yang paling penting buatan tangan, terserah kamu saja, kalau mau beli ya beli"
Aku tidak punya uang
"Gomen, gomen, apa kamu sudah punya ide?"
Sepertinya
"Baguslah, semoga saja hadiah itu bisa mempererat hubunganmu dengan Erza"
Meski aku mengatakan hal itu, hatiku berkata lain, aku merasa takut jika hadiah itu membuat hubungan Erza dan Jellal semakin terpaut oleh jarak. Semoga saja tidak, aku juga harus segera mempersiapkan hadiah untuk Erza, kira-kira memberikan dia apa ya?
Erza POV
Tiga hari lagi adalah ulang tahunku yang ke-16, kira-kira akan menjadi hari yang seperti apa ya? Ketika jam pulang sekolah tiba, aku membuka lokerku dan melihat sepucuk surat. Pasti Jellal yang mengirimkannya, ini sudah surat ke-tujuh yang dia kirimkan padaku. Aku membukanya dan kemudian membacanya.
Jika kamu ada waktu, temui aku di taman jam enam sore hari Minggu.
Dia ingin menemuiku? Apa sih yang dia inginkan? Aku meremas-remas kertas tersebut dan membuangnya ke tong sampah, awalnya menanyakan kabar dan cerita-cerita, sekarang ingin bertemu, banyak sekali maunya…Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, bertepatan saat aku keluar sekolah, sebuah mobil jemputan datang untuk menjemputku, tetapi di perjalanan kami terjebak macet yang cukup parah. Ayahku yang saat itu mengendarai mobil, bertanya padaku.
"Sebentar lagikan hari ulang tahunmu, apa kamu ingin mengadakan pesta?"
"Tidak perlu, aku akan merayakannya di cafe bersama sahabat-sahabatku"
"Apa kamu akan mengundang Lucy?"
"Tentu, yang sedang perang dingin dengannyakan bukan aku, melainkan Natsu"
"Kamu tidak khawatir jika nanti Lucy dan Natsu bertengkar?"
"Tidak akan, jika sampai iya akan kuhajar dia"
"Sebaiknya jangan galak-galak dengan lelaki, nanti kamu tidak punya pacar"
"Pacar? Aku tidak butuh" ucapku sambil menunjukkan aura mengerikan yang sukses membuat ayah terdiam
"Ha…Hari ini ibu memasakkan makanan kesukaanmu, kamu harus makan lebih banyak"
"Biasanya bibi Juvia yang memasak, kenapa tiba-tiba mama yang masak?"
"Entah, ayah juga tidak tau"
"Dan juga, biasanya yang menyetir adalah Elfman-san"
"Ayah tidak ada pekerjaan, makanya sempat untuk menjemputmu"
Mobil pun kembali berjalan dan kemudian berhenti di depan sebuah rumah megah, ya itu adalah rumahku. Ayahku adalah seorang pembisnis yang sukses, maka dari itu dia jarang berada di rumah, sedangkan ibu memiliki segudang kegiatan, misalnya arisan, pergi nonton atau mungkin bergosip dengan tetangga.
"Sayang rupanya kamu sudah pulang" sapa ibuku yang sedang berada di kebun
"Sedang merangkai bunga?"
"Iya, lihat bagus tidak?"
"Ya, bagus. Aku masuk dulu"
Hari ini benar-benar melelahkan, langsung saja aku pergi berendam di bathtub untuk merilekskan pikiran dan badan. Setelah selesai, aku pergi untuk makan malam, bisa kulihat ada begitu banyak hidangan yang tersedia di meja makan (A/N : Orang kaya emang beda…) Selesai makan, aku pergi membereskan buku dan mengerjakan PR. Seperti biasanya PR yang diberikan Laxus-sensei sangatlah sulit, kira-kira setelah ini melakukan apa ya? Didekatku ada ponsel, segera aku menyambarnya dan mulai mengutak-atiknya. Niatku hanya ingin mengirimkan undangan ulang tahun.
To : Lucy
Kamu taukan hari Minggu ini aku ulang tahun? Aku ingin merayakannya di café yang biasa kita kunjungi, sekitar jam 4 sore, bisa tidak?
Aku mengirim dua SMS yang sama ke Natsu dan Gray, akan tetapi sudah lama menunggu tidak ada balasan dari mereka, apa mereka tidak bisa datang?
Normal POV
Keesokan harinya…
"Jadi, apa hadiah yang akan kamu berikan kepada Erza?" tanya Lucy pada Jellal sambil mengambil sepatu dari loker
Jellal mengeluarkan sebuah bunga koran dari dalam tasnya, raut wajah Lucy mendadak berubah, apa tidak apa-apa jika Jellal memberikan bunga koran kepada Erza? Tanya Lucy dalam hati, lagipula Erza adalah anak orang kaya, apa bunga koran akan di pandang olehnya?
Raut wajahmu mendadak aneh, apa bunga koran buatanku seburuk itu?
"Tidak kok bagus, hanya saja…Jawablah dengan jujur, jika bunga itu di tolak oleh Erza, apa yang akan kamu lakukan?"
Tidak tau
"Jawaban yang singkat" ucap Lucy sambil meyenderkan punggungnya di loker
Lucy sendiri kurang tau apakah Jellal pesimis atau optimis, jika dilihat dari raut wajahnya yang sekarang ia terlihat optimis, tetapi apakah raut wajah itu akan bertahan lama? Mereka berdua pergi ke kelas bersama-sama, Lucy bisa melihat jika Erza agak murung hari ini.
"Wajahmu murung"
"Apa iya? Kalian jadi tidak datang ke cafe hari Minggu?"
"Ke cafe? Gomen, aku ada acara hari Minggu" ucap Natsu yang menyela pembicaraan mereka berdua
"Aku juga ada urusan" kini Gray yang mengucapkannya
"Apa kamu ada waktu?" tanya Erza kepada Lucy
"A…Ah…Gomen, aku juga sibuk hari Minggu"
Sebenarnya mereka bertiga berbohong, kira-kira kenapa begitu ya? Raut wajah Erza semakin murung saja, Lucy sendiri merasa bersalah telah membohongi Erza sampai-sampai membuatnya sedih.
Hari Minggu…
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, meskipun ketiga sahabat itu berkata tidak akan ada yang datang, Erza tetap bersiap-siap pergi ke cafe. Benar saja, sesampainya di sana tidak ada Lucy, Gray maupun Natsu. Mungkin Erza harus merayakan ulang tahunnya sendirian tahun ini, ia memesan segelas teh hangat dan duduk dengan begitu santainya sambil memandang langit.
"KE-JU-TAN!" teriakan itu membuat Erza terkejut sampai-sampai teh yang dia minum tumpah
"Natsu, Gray, Lucy?!"
"Yo, selamat ulang tahun Erza"
"Tapi kalian berkata hari ini sibuk…"
"Kami bertiga sengaja berkata begitu, karena kami ingin memberikan surprise" jelas Gray
Dari belakang punggung Lucy, ia menyodorkan sebuah strawberry cake, bisa dibilang itu adalah kue kesukaan Erza. Setelah meniup lilin dan mengajukan permohonan, mereka bertiga mengobrol sambil menyantap kue ditemani matahari terbenam dan secangkir teh hangat. Pesta yang sederhana itu berhasil membuat Erza memancarkan sebuah senyum.
Sekitar jam 7 malam, mereka semua pulang ke rumah masing-masing. Erza yang saat itu melewati taman, melihat Jellal yang sepertinya sedang menunggu seseorang, Erza teringat akan surat yang waktu itu Jellal masukkan kedalam lokernya, pasti sedang menunggu kedatangannya. Entah merasa kasihan atau apa, Erza memutuskan untuk menemuinya.
"Kamu menungguku?"
Anak tunarungu itu hanya memberikan sebuah anggukan, kemudian ia memberikan serangkaian bunga yang terbuat dari koran, Erza menerimanya dan membaca kartu yang terselip di antara bunga itu.
Selamat ulang tahun
"Kamu tau ulang tahunku dari Lucy?"
"Lagi-lagi menganggukan kepala" gerutu Erza
"Akan kuberitau suatu hal padamu, aku membencimu.."
"Mau tau kenapa? Aku tidak suka dekat dengan orang yang pekerjaannya merusak hubungan orang. Apalagi karenamu Lucy terus-menerus di ejek tiap hari, kamu tidak merasa kasihan padanya?"
"Kutegaskan sekali lagi, jangan dekati Lucy, kamu hanya membuatnya tersakiti"
Tak lama kemudian hujan pun turun dengan derasnya, sebuah mobil jemputan datang untuk menjemput Erza, dengan teganya Erza membuang bunga koran tersebut kedalam genangan air. Setelah Erza pergi, Jellal menatapi bunga koran yang ia buat dengan susah payah, perlahan-lahan mulai layu karena air dan akhirnya pun tidak berbekas. Untuk beberapa saat ia terdiam dan kemudian melangkahkan kakinya dan pergi dari taman.
Sesampainya di rumah, tubuhnya basah kuyub karena terguyur air hujan. Kakaknya yang saat itu sedang memasak, memandangi adiknya dengan heran.
"Tubuhmu basah kuyub, ada apa?"
Jellal sama sekali tidak menatap wajah kakaknya itu, karena penasaran kakaknya yang bernama Ultear pun datang mendekatinya.
"Kamu terlihat sedih, hadiahmu di tolak, bukan?"
"Adik bodoh…Jangan menggelengkan kepala, dari raut wajahmu sudah terlihat sangat jelas"
"Bunga kuncup yang tak tau kapan mekarnya, atau mungkin bunga itu akan layu?"
Sebuah pengibaratan yang sepertinya Jellal mengerti, ia mengambil sebuah kertas dan bolpoin lalu menuliskan sesuatu di atas kertas tersebut, kemudian pergi menaiki tangga.
Aku akan membuat bunga itu mekar dan memiliki wangi yang harum!
"Apa kamu bisa?" gumam Ultear setelah membaca pesan tersebut
Bersambung…
A/N : Ngerti gak? Kalau kalian gak ngerti berarti cuman author yg ngerti hahaha XD /sombong:v
Balasan riview :
Ren Ryugazaki : Maaf yah, sebenarnya ane lbh ke JeLu wkwkw. Jerzanya emg krg kerasa, itu di sengaja. Plg nanti lah di akhir2 baru ad kisah ttg mereka ya meski akhirnya sedih. Menurut agan lebih baik di ganti pairing menjadi JeLu atau tetap Jerza? Saran dong, makasih ya udh riview
Vorgo24 : sukur deh klo bgs hehehe, gimana yah, makasih atas sarannya, akan tetapi saya lebih fokus ke JeLu dan Jerza, mungkin untuk NaLu ada nanti di chap2 lain, gomen, gomen. Kalau di perbanyak saya juga gak ada ide, gantinya nanti saya bikin cerita pairing NaLu deh, di tgg aja ya udh mw beres soalnya. Makasih :v
Entah mengapa merasa cerita ini gaje (?)
