Keesokan harinya…
"Ohayou, Jellal" sapa Lucy yang ikut berjalan di sebelahnya
Entah karena sengaja atau kebetulan, mereka berdua bertemu ketika akan berangkat ke sekolah. Jellal sengaja memperlambat jalannya supaya Lucy berjalan terlebih dahulu, tetapi cara itu gagal membuat Lucy pergi untuk meninggalkannya.
"Kenapa jalannya lama? Nanti kita terlambat" ucap Lucy yang menunggu Jellal
Pada akhirnya mereka berdua pun sampai di sekolah secara bersamaan, lagi-lagi ada mulut nakal yang membuat gosip tentang mereka. Bahkan, entah sengaja atau tidak salah seorang yang melewati mereka menyandung Lucy hingga dia hampir terjatuh, langsung saja Jellal berusaha untuk menangkap tubuh Lucy dan mereka pun menjadi pusat perhatian.
"Ciee, ciee…"
"Seperti putri dan pangeran" ucap salah satu dari banyaknya kerumunan
Entah karena apa keringat Jellal bercucuran, apa mungkin dia tidak terbiasa dengan situasi ini? Tanpa sengaja matanya melihat Erza yang saat itu ingin masuk kedalam sekolah, segera Jellal berlari meninggalkan Lucy.
"Kenapa ramai?" tanya Erza yang menghampiri Lucy
"Tadi saat Lucy terjatuh, Jellal menangkapnya, seperti kisah pangeran dan putri bukan?" jawab salah satu dari mereka
"Mereka sudah pacaran rupanya"
"Natsu pasti cemburu jika mengetahui berita ini"
"Lagipula, selera Lucy sangat buruk menurutku, menyukai anak tunarungu seperti dia, padahal aku yakin pasti ada lelaki yang lebih baik darinya"
Mulut-mulut itu terus berbicara tanpa henti, Lucy menundukkan kepalanya dan berlari meninggalkan Erza. Ketika berlari, ia bisa melihat jika di mana-mana ada orang yang menggosipinya. Sesampainya di kelas Lucy mengatur nafasnya terlebih dahulu dan kemudian duduk, tak lama Lucy duduk Natsu masuk kedalam kelas, lagi-lagi mulut nakal itu berbicara menyebarkan gosip.
"Kamu tau tidak? Kabarnya Lucy dan Jellal sudah pacaran lho"
"Ah, masa? Bukannya Natsu menyukai Lucy ya? Pasti dia cemburu banget"
"Lagian, anak tunarungu itu benar-benar suka merusak hubungan orang. Kalau tidak ada dia, Lucy dan Natsu pasti masih dekat"
"Selanjutnya dia mau merusak hubungan siapa ya?"
"Atau mungkin setelah Lucy, dia mau mendekati Erza?"
"Tunarungu kok playboy, anak itu benar-benar tidak tau diri"
Yang berbicara adalah Mirajane, di kenal sebagai ratu gosip di kelas, sedangkan lawan bicaranya adalah Lisanna, bisa bilang mereka berdua ini adalah penyebar gosip, tak lama lagi pasti gosip Jellal dan Lucy berpacaran akan menjadi tren di sekolah mereka. Lucy yang saat itu duduknya tidak terlalu jauh dari Jellal pun bertanya.
"Kamu tidak mendengarkan perkataan mereka bukan?"
Aku mendengarkan, lagipula aku tidak tuli.
"Jangan dimasukkan kedalam hati, ya?"
Bukankah seharusnya aku yang menulis itu? Mereka semua mempergunjingkanmu
"Tapi aku tidak apa-apa kok"
Aku memang bisu, tetapi hatiku peka, kamu tidak bisa berbohong didepanku
"….." Lucy terdiam setelah membaca pesan tersebut
Aku tidak ingin kamu mendekatiku lagi
"Ta…Tapi, kenapa?"
Aku tidak suka kamu di bully oleh mereka, lebih baik kamu mempererat hubunganmu dengan Natsu, tidak usah khawatirkan aku lagi mulai sekarang
"Jellal! Kita ini teman, kamu mana boleh begitu?"
"Kemarin kamu memberikan bunga bukan pada Erza? Apa di terima?" tanya Lucy menunggu jawaban dari Jellal
Jellal sama sekali tidak membalas perkataan Lucy yang barusan. Mendengar pertanyaan yang Lucy ajukan mendadak membuat wajahnya sedih, tanpa bertanya sekali lagi, Lucy sudah tau jika bunga yang diberikan olehnya telah di tolak Erza. Ketika mereka berdua saling terdiam satu sama lain, Natsu datang menghampiri Lucy.
"Apa benar, jika kamu dan Jellal pacaran?"
"Itu tidak benar! Kami hanya berteman, aku sudah mengatakan hal ini berulang kali Natsu!"
"Aku tidak bisa percaya padamu! Kalian semakin hari semakin dekat, sudah jelaskan jika kalian pacaran?!"
"Natsu! Sekali kukatakan tidak tetap tidak, padahal kupikir setelah ulang tahun Erza yang kemarin hubungan kita bisa kembali seperti sedia kala, ternyata tidak"
"Aku juga berpikiran begitu awalnya, jika kamu ingin hubungan kita seperti dulu, kumohon jangan berteman dengan Jellal! Sekarang kamu sudah merasakan akibatnya bukan?"
"Ya, aku merasakannya dengan sangat jelas, meski begitu aku tidak bisa"
"Tidak bisa kenapa?! Apa meninggalkannya adalah hal yang sulit?! Jika sulit itu tandanya kamu memang menyukainya, aku katakan sekali lagi, aku cemburu dengan hubungan kalian!"
"Kamu berkata jika aku menyukainnya? YA! Aku memang menyukainya, puas?!"
Setelah berkata begitu, Natsu menampar pipi kanan Lucy sampai merah. Pada awalnya Lucy hanya menundukkan kepala, kemudian ia menangis, ketika mengangkat kepalanya, Lucy balas menampar Natsu dan ia berlari meninggalkan kelas. Gildarts-sensei yang saat itu ingin masuk terheran-heran melihat Lucy keluar dari kelas.
"Pelajarankan sudah di mula, kenapa Lucy keluar?"
"Sebenarnya…"
"Biar aku saja yang menceritakannya" ucap Natsu memotong perkataan Erza
Lucy POV
Kini aku berada di kamar mandi wanita, di sana aku hanya bisa menangis, menangis dan menangis. Baru pertama kalinya ini Natsu menamparku, apa begitu sikapnya terhadap sahabat sendiri? Lagipula, mengapa aku berteriak jika aku menyukai Jellal? Rupanya aku termakan oleh rasa amarah, tetapi itu memang benar, maka dari itu aku ingin dekat dengannya, mengobrol dengannya lewat kertas, hanya itu yang kuiinginkan, apa salah?
"Lucy, apa kau di dalam?" tanya seseorang yang mengetuk pintu toilet
"Erza?"
"Keluarlah, pelajaran sudah mau di mulai"
Perasaanku sudah jauh lebih baik, akhirnya aku keluar dan ikut ke kelas bersama Erza. Setelah meminta maaf, aku duduk dibangku-ku dan memperhatikan pelajaran, meski aku tidak terlalu fokus.
Ketika bel istirahat berbunyi, Natsu kembali datang menghampiriku, apa dia mau meminta maaf? Sudah terlihat jelas dari raut wajahnya, aku sendiri mencuekinya dan sibuk sendiri mengerjakan soal.
"Gomen, aku tidak ada maksud untuk menamparmu, tadi aku terlalu terbawa emosi"
"Aku juga terlalu terbawa emosi tadi, maaf ya. Apa pipimu masih sakit?" tanyaku tanpa menengok kearahnya sama sekali
"Sudah tidak, apa boleh aku bertanya?"
"Mau bertanya apa?"
"Kamu tidak menyukai Jellal-kan? Kamu bohong bukan?"
"Bohong? Aku tidak pernah bohong kepada sahabatku, orangtuaku dan juga yang lain. Aku selalu berkata jujur, memang aku menyukai Jellal. Setelah ini terserah padamu, apa kamu masih mau mendekatiku atau mungkin menjauhiku seperti dulu"
Kemudian aku meninggalkan Natsu di kelas seorang diri dan pergi mencari Jellal. Sepertinya dia serius ingin menjauhiku, meski begitu aku akan tetap berteman dengannya.
Normal POV
Sementara Lucy sedang mencari Jellal, Jellal sedang berlari di sekitar koridor sekolah. Terkadang karena tidak berhati-hati Jellal menabrak beberapa orang yang sedang lewat. Di telinganya selalu terngiang-ngiang akan gosip yang dibicarakan oleh teman-temannya, bahkan ketika melewati koridor ia selalu mendengar ada yang membicarakan dirinya, selalu dia dan dia, apa mereka tidak memiliki hal lain untuk digosipkan?
Ketika berlari melewati tangga, ia terjatuh dan membentur anak tangga, meski begitu kakinya tetap berlari menuju halaman belakang sekolah. Tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang lebih tinggi darinya, bukankah itu Sting? Kakak kelas yang di kenal paling menakutkan.
"Apa maksudmu menabrakku?"
"Sepertinya dia itu anak bisu yang sering dibicarakan" ucap salah seorang temannya
"Apa mungkin selain bisu kamu juga buta? Kemana matamu?" tanya Sting sambil mengangkat dagu Jellal
"Sepertinya dia harus di beri pelajaran supaya mengerti"
Sting melayangkan pukulan kepada Jellal, sebuah pukulan yang membuatnya jatuh di atas rerumputan. Hanya sorot mata ketakutanlah yang kini dia tunjukkan, akan tetapi semakin takut Jellal maka keinginan Sting untuk mengahajarnya pun semakin besar. Tidak ada yang melerai, semua menonton dan menyoraki mereka.
"Kenapa tidak di balas? Apa kamu pikir aku selemah itu, huh…?"
Serangan yang ia berikan semakin menjadi-jadi saja, meski sudah terkapar tak berdaya, Sting sama sekali tidak mengenal kata ampun. Jellal mengeluarkan sebuah notes dari kantong celananya juga sebuah pulpen, Sting tidak tau apa yang akan Jellal perbuat, dengan kaki kirinya ia menginjak tangan kanan Jellal sampai berulang-ulang kali.
"Apa yang mau kau lakukan sialan? Mau membela diri dengan menulis di notes itu?"
Dengan kasarnya, Sting mengambil notes tersebut secara paksa dari tangannya, kemudian membacanya isinya lalu membuangnya ke tanah, bahkan ia menginjak notes tersebut sampai rusak. Melihatnya Jellal tidak tinggal diam, dia mengambil notes tersebut dan memeluknya dengan begitu erat.
"Ohh, rupanya notes itu penting bagimu, seharusnya tadi aku merobek-robeknya dan kemudian membakarnya menggunakan korek api"
Perkataan yang barusan dilontarkan sukses membuat Jellal tidak bergidik sama sekali dan semakin ketakutan. Sebuah senyum kemenangan pun ditunjukkan oleh Sting, akan tetapi senyum itu tidak berlangsung lama karena Erza datang secara tiba-tiba dan menendang punggung Sting.
"Kau! Apa maksudmu mengangguku?" bentak Sting kearah Erza
"Seharusnya aku yang bertanya, apa maksudmu menganggu orang yang lebih lemah darimu?"
"Cih…Kau harus menerima akibatnya karena telah mengangguku!"
Pahlawan, mungkin itulah anggapan Jellal terhadap Erza sekarang. Terjadi pertarungan sengit di antara mereka yang akhirnya dimenangkan oleh Erza, siapa sangka wanita yang satu ini begitu kuat sampai-sampai Sting kalah.
"Dasar bodoh, seharusnya kamu kabur, sudah tau akan di hajar masih dilayani. Sepertinya otakmu itu agak miring"
"Dan juga…Jangan tunjukkan ekspresi seperti itu didepanku, aku tidak ingin mendapatkan ucapan terima kasih dari orang yang kubenci"
Sebuah ekspresi penuh rasa syukurlah yang saat itu Jellal tunjukkan pada Erza, setelah kejadian itu semuanya berlalu dan melanjutkan aktifitas masing-masing, sedangkan Lucy baru saja sampai di halaman belakang sekolah dengan dipenuhi keringat.
"He..Hey…Kamu baik-baik saja?" tanya Lucy menghampiri Jellal
"Lukamu parah, mau kuantar ke UKS?"
Ia hanya menggelengkan kepala dan kemudian bangkit berdiri, ketika Lucy hendak memegang bahunya, dengan tangannya sendiri Jellal menyingkirkan tangan Lucy dan pergi meninggalkannya seorang diri. Mata Lucy melihat sebuah notes yang sudah kotor dan kusut, tidak asing bagi Lucy, sudah pasti ini milik Jellal, saat membulak-balik halaman di notes tersebut, sebuah kertas melayang dan terjatuh di atas rerumputan, Lucy memungutnya lalu membacanya. Tulisan ini…seperti menunjukkan keputusasaan Jellal.
Apa aku begitu buruk, sehingga semuanya membenciku?
Meski tulisan tersebut acak-acakan, Lucy masih bisa membacanya dengan jelas. Kertas tersebut terlepas dan terjatuh di atas rerumputan, ketika Lucy mengambilnya, ia meremas kertas tersebut sampai remuk dan melemparnya sejauh mungkin.
"Apa yang anak bodoh itu pikirkan? Aku sama sekali tidak mengerti"
Bersambung…
Balasan riview :
Kitri tukang ngidol : Yap, artinya papan penanda isi hati. Sebenarnya aku sendiri terinspirasi dr lagu JKT48, kan JKT48 pny versi indony Kokoro no Placard hehhee, tp mau JKT48 sm AKB48 sama aja. Sesama family 48kan hohoohho…baru kali ini aku nemu org yg ngidol, tos dulu dongg hehehe….makasih udh riview :D
Momo Katsuhira-Chan : Gomen yah, sebenarnya aku g bs bedain tunarungu, tunawicara, tundaksa, dll. Yang bener emg tunawicara, maaf sekali lagi. Terima kasih atas koreksinya. Makasih ya udh riview :D
