Pagi-pagi sekali seorang wanita berkuncir dua berambut pirang sedang menunggu seseorang didepan gerbang sekolah, baru saja lima menit berlalu, akan tetapi ia merasa tidak sabar. Akhirnya datanglah orang yang di tunggu-tunggu olehnya sedari tadi, segera wanita itu mencegatnya.

"Jellal, sekarang kamu tidak bisa kabur dariku"

Siapa lagi kalau bukan Lucy, satu-satunya teman yang dimiliki Jellal saat ini. Jellal sendiri hanya terdiam dan kemudian berusaha untuk mencari celah supaya bisa masuk, Lucy yang memperhatikan gerak-gerik Jellal pun hanya bisa menghela nafas.

"Ingin sekali masuk ya…Gomen, gomen, aku hanya ingin mengembalikan ini padamu" ucapnya sembari menyerahkan sebuah notes

"Aku tidak sengaja melihat isinya, rupanya kita banyak mengobrol ya, selama dua bulan ini"

Bahasa tubuh yang biasa digunakannya, menganggukan kepala. Lucy hanya bisa tersenyum melihat Jellal yang selalu menganggukan kepala, mereka berdua pergi ke lapangan dan terdiam untuk sejenak, kerena masih pagi belum banyak siswa yang masuk, mungkin itu adalah hal yang wajar karena rata-rata murid yang bersekolah di sini rumahnya dekat.

"Kamu tidak kabur dariku?"

Tidak enak hati

"Jika tidak enak hati kenapa kemarin kamu kabur dariku?"

Tidak apa-apa, aku sedang berlatih menjadi ninja

"Menjadi ninja? Lucu…" ucap Lucy sambil tertawa kecil

"Eh? Sepertinya kertas notesmu sudah mau habis, sudah ada gantinya?"

Belum, aku tidak punya uang untuk membeli yang baru

"Mau kubelikan?"

Tidak perlu, terlalu boros menulis di kertas

"Notes itu sudah usang, apa yang akan kamu lakukan?"

Menyimpannya, lagipula ada banyak kenangan didalamnya

"Kenangan, ya…" ucap Lucy sembari memandang langit pagi

Dengan tangan kanannya, Jellal memegang pundak Lucy, Lucy sendiri memegang tangan kanan Jellal yang kini berada dipundaknya, bukankah dia tidak pernah melakukan hal ini? Ya, ini adalah yang pertama kalinya, hanya sebuah senyum yang bisa Lucy tunjukkan, mungkin dia sudah menerimaku sekarang, ucapnya dalam hati.

Sekarang, Lucy sudah mulai terbiasa dengan mulut-mulut nakal yang selalu membicarakannya, begitu juga dengan Jellal, ya, lambat laun pasti terbiasa. Secara tiba-tiba Lucy berhenti berjalan, ia tengah memikirkan sesuatu, mungkin hal ini tidaklah penting baginya, tetapi penting bagi Jellal.

"Benar juga! Buatlah sesuatu yang bisa di hapus dan kemudian di tulis kembali, seperti papan tulis, hanya saja ukurannya lebih kecil"

Mendengar saran dari Lucy, Jellal tersenyum saat itu juga. Senyum itu…apakah aku pernah melihatnya? Tanya Lucy pada dirinya sendiri, untuk sesaat dia salah tingkah, kemudian pergi meninggalkan Jellal. Lebih baik bukan daripada mempermalukan diri sendiri? Kebetulan di sana ada Erza, segera saja Lucy melangkahkan kakinya lebih cepat, pagi ini diawalinya dengan senyum khas dari wajahnya itu, Erza sendiri sudah bisa menebak jika Lucy sedang berbunga-bunga hatinya.

"Kamu sedang senang bukan?" tanya Erza membuka pembicaraan

"Eh? Darimana kamu tau?"

"Sudah terlihat jelas dari wajahmu, mau menceritakannya padaku?"

"Tentu, sejak awal aku ingin menceritakan ini padamu kok"

"Ceritakan saja"

"Tadi pagi, aku mengobrol dengan Jellal lewat tulisan, dia menepuk pundakku dan saat itu juga jantungku langsung berdebar, kemudian aku memberinya saran tentang masalah yang kini dihadapinya. Apa kamu tau apa yang terjadi selanjutnya?"

"Dia menciummu?" tanya Erza dengan raut wajah kaget

"Bu…bukan! Kau terlalu berlebihan! Dia tersenyum padaku"

"Tersenyum padamu? Apa hal tersebut begitu istimewa?"

"Sangat istimewa, aku merasa dia tidak pernah menunjukkan senyum itu kepada siapapun, apa Erza pernah melihatnya tersenyum?"

"Melihatnya tersenyum? Tidak pernah, lagipula…"

"Apa?"

"Menurutmu, apa mungkin jika Jellal menyukaimu?"

Kini Erza menunjukkan raut wajah yang terkesan serius, berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Lucy. Lucy sendiri hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya karena malu, hampir beberapa menit berlalu dan mulutnya masih terkunci rapat.

Erza POV

"Jika dia tidak menyukaimu, apa kamu menyukainya?" ucapku sambil merubah pertanyaan

"A…aku memang menyukainya…menurutmu apa yang harus kulakukan? A..aku tidak tau harus berbuat apa!"

"Menurutku ya, jujur saja, aku ingin kamu menjauhinya"

"Menjauhinya…? Tapi, kenapa?!"

"Bukankah karena Jellal kamu terus-menerus digosipkan, dibicarakan oleh banyak orang, apa kamu tidak merasa jika Jellal melukai hatimu?"

"Tidak! Aku tidak merasakannya! Aku ingin berteman dengannya, itu adalah niat dari lubuk hati terdalam, niat yang tidak akan bisa dihentikan oleh siapapun!" bentak Lucy

"Aku tidak menyetujui hubungan kalian" ucapku dingin tanpa menengok kearahnya

"Erza! Apa kamu sebegitu membencinya?!"

"MEMANG! Sampai kapapun aku tidak akan pernah memaafkannya, camkan itu!"

Aku sengaja berkata seperti itu didepan Lucy dan juga Jellal, ya, aku sadar dia tepat berada dibelakang Lucy, anak itu rupanya melanggar ucapanku. Guru pun masuk kedalam kelas dan mulai mengajar, sedari tadi aku terus-menerus memperhatikan Jellal dengan tatapan yang terkesan benci, sepertinya dia menyadari hal tersebut dan terus berpaling dari tatapanku. Anak itu…bagaimana bisa dia merebut hati Lucy? Padahal baru saja bertemu selama empat bulan, konyol...

Jam istirahat pun tiba, ingin rasanya aku membuat perhitungan dengan Jellal. Saat itu kelas sangatlah sepi, kebetulan tidak ada siapapun kecuali Jellal, Lucy sendiri pergi ke kantin. Ini kesempatanku.

"Hey" panggilku yang kini duduk disebelahnya

"Apa kamu ingat, pertemuan kita di taman ketika aku berulang tahun?"

Aku tidak mungkin melupakannya, terima kasih kamu sudah datang ke taman dan menemuiku

"Bukankah aku pernah bilang, jangan pernah mengucapkan terima kasih padaku? Membuatku muak saja.."

Oh, maaf

"Aku tidak butuh ucapan maaf darimu. Saat kita berada di taman, apa kamu ingat aku pernah mengatakan sesuatu padamu?"

Banyak hal yang kamu katakan, aku mengigatnya, apalagi saat kamu berkata jangan dekati Lucy dan juga tentang kamu yang membenciku

"Bagus jika kamu mengingatnya, lalu kenapa tidak dilakukan? Ucapanku saat itu benar-benar serius, kamu tidak tulikan?"

Lucy terus mendekatiku, aku tidak bisa menjauh darinya

"Bodoh, kau ini laki-laki atau bukan?!" teriakku kearahnya

"Karenamu perasaan Natsu tidaklah terbalas! Apa kamu tidak menyadarinya?! Natsu menyukai Lucy sejak dulu! Aku heran, mengapa anak tunawicara sepertimu bisa memikat hatinya?! Padahal Natsu membutuhkan waktu bertahun-tahun supaya bisa memikat hati Lucy, sedangkan kamu hanya membutuhkan waktu empat bulan, itu bukanlah waktu yang lama kamu tau bukan?!"

"Kamu sama sekali tidak mengerti! Jika Lucy berpcaran denganmu bagaimana selanjutnya? Pasti akan banyak berita tak sedap tentang kalian! Kalian akan terus dipojokkan, diledeki, di hina, aku tidak ingin sahabatku terluka lagi! Dia terlihat kuat, akan tetapi hatinya tak sekuat yang kau pikirkan Jellal! Kau tidak mengerti apapun tentangnya, hanya Natsulah yang mengerti tentang dirinya!"

Kau benar, aku tidak mengerti apapun tentang Lucy, akan tetapi apa salah jika ingin berteman dengannya?

"SALAH! SANGAT SALAH! Aku sudah tidak tahan melihat Lucy yang terus-menerus di hina seperti itu! Lagipula, sebenarnya Lucy itu membencimu, ya, dia membencimu! Jadi, jauhi dia, jika tidak kau akan tersakiti lebih dari ini"

"Erza! Apa maksudmu berkata seperti itu?!" teriak seseorang yang berasal dari luar

Rupanya Lucy, dia terlihat sedih setelah aku membentak-bentak Jellal, ia masuk kedalam kelas dan kemudian menatap wajahku. Tamparan keras itu mengenai pipiku, baru kali ini aku melihat Lucy yang sangat marah.

"A…aku tidak membenci Jellal, aku…aku memang serius jika aku menyukainya, kenapa kalian menganggap perkataanku dengan tidak serius? Apakah raut wajahku tidak menyakinkan, sehingga Natsu dan Erza tidak percaya padaku?

"Oh, rupanya kamu serius. Aku ingat kamu pernah mengucapkan hal tersebut didepan Natsu dan dia sudah menceritakannya padaku, akan tetapi aku tidak percaya sama sekali"

"Sekarang kamu percaya bukan?"

"Sampai kapapun aku tidak akan pernah percaya. Lucy, pikirkanlah perasaan Natsu, apa kamu tidak sadar jika dia memendam sebuah rasa padamu?"

Lucy POV

Memendam sebuah rasa padaku? Apa maksud perkataan Erza barusan? Tak lama berpikir aku sudah sadar, benar juga…pasti Natsu menyukaiku, kenapa aku tidak menyadarinya sedari dulu? Seharusnya saat hari pertama masuk dia mengatakan cemburu, aku langsung menyadarinya. Rupanya aku tidak hanya menyaikiti Jellal, melainkan juga perasaan Natsu. Mendadak aku teringat akan perkataan Jellal, bukankah dia menyukai Erza? Bagaimana bisa aku lupa? Bagaimana bisa aku berpikir jika Natsu sangatlah berlebihan?

"Kamu sudah sadar bukan? Natsu menyukaimu Lucy, dia sudah menyukaimu sejak kelas dua SMP dan ini adalah balasan darimu? Natsu pasti sedih jika mengetahuinya"

"….."

Segera aku memalingkan mukaku dari Erza, aku sama sekali tidak menyangka akan begini jadinya. Cintaku yang bertepuk sebelah tangan, Natsu yang menyukaiku akan tetapi aku tidak menyadarinya, malah melukai perasaannya. Aku benar-benar merasa berasalah, aku benar-benar bodoh!

"Masalahnya bertambah rumit saja, kuharap Natsu tidak mendengarkan percakapan ini" ucap Erza pada dirinya sendiri

Natsu POV

Dari belakang lemari, aku mendengarkan percakapan Lucy dan Erza dari awal hingga akhir. Apa maksudnya ini…? Lucy sangat serius dengan ucapannya, aku tidak menyangka hal itu sama sekali. Pada akhirnya, aku sama sekali tidak bisa mengungkapkan perasaanku padanya, tetapi Erza membantuku, apa pikiran Lucy akan berubah, setelah Erza berkata begitu? Kuharap ya…

Bersambung…

A/N : Tambah rumit aja deh, beneran :v Ayo, ad yg bisa nebak gak, kira-kira Lucy menjadi suka sama Natsu gak ya? Atau mungkin dia tetap menyukai Jellal? Kalau penasaran baca chap selanjutnya yaa :v

Balasan riview :

Momo Katsuhira-Chan : Udh bagus, untung deh kalo gitu :D Kalo cc g curcol mah belum tentu akan ad yg koreksi kesalahanku hehehe. Bnyk jg yah ternyata penggemar AKB48, jd seneng :D Makasih ya udh riview

kitri si tukang ngidol : Ternyata oshi kita di JKT48 sm AKB48 sama :v Kebetulan bngt yak kkwkww, oke deh, makasih ya udh kasih smngt.

Jujur deh deg2an ane pas ngeliat cerita ini memiliki 18 riview, seneng ga ketulungan! Makasih ya minna :)