Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, tak terasa hari ini akan segera berakhir. Seorang lelaki sedang sibuk di luar rumahnya, ia tengah membuat sesuatu, kira-kira apa yang dibuatnya? Ya, tidak ada yang tau. Seorang perempuan menghampirinya, rambut hitamnya yang terurai itu berkibar-kibar karena di tiup angin, cuaca saat itu cukup dingin, sehingga siapapun yang keluar pasti menggunakan jaket.

"Tidak kedinginan?" tanyanya

"Jadi, apa yang sedang kamu buat, Jellal?"

Saat Ultear ingin melihat apa yang sedang di buat oleh adiknya, ia malah menyembunyikan benda tersebut didalam dekapannya, meski begitu usahanya sia-sia, kakanya sudah mengetahui apa yang tengah di buat oleh adiknya itu.

"Sedang membuat papan rupanya, tetapi untuk apa? Tugas sekolah?"

Bukan, ini urusanku, jadi rahasia

"Sudah bisa main rahasia-rahasiaan rupanya"

"Oh! Rupanya kamu sudah mengobrol banyak dengan temanmu itu"

Jellal terpekik dan segera menutup notesnya, mungkin karena angin saat itu cukup kencang, beberapa halaman pun ikut terbalik, menunjukkan percakapan antara Jellal dan Lucy, langsung saja wajahnya memerah seperti tomat. Ultear hanya tertawa kecil melihat ekspresi adiknya itu.

"Sekarang sudah mau jam sembilan, kalau kamu belum selesai pintunya kakak tutup, lho"

Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya dan berlari masuk kedalam rumah, rupanya ancaman tadi berhasil membuat Jellal masuk. Ia meletakkan papan tersebut di atas meja makan, Ultear memperhatikan papan tersebut, biasa saja, terlihat seperti papan tulis dalam ukuran mini. Tiba-tiba saja Ultear tersenyum, dia mengerti kenapa adiknya membuat papan.

"Anak itu pasti tidak memiliki spidol, bagaimana bisa berkomunikasi dengan orang yang disukainya"

Secara sengaja, Ultear meletakkan spdiol di atas papan tersebut. Keesokan harinya Jellal menuruni tangga dengan langkah yang terburu-buru, dia sangat kaget saat melihat sebuah spidol yang sudah disiapkan oleh kakaknya, Jellal menulis di sebuah kertas dan kemudian meletakannya di atas meja makan. Selesai sarapan ia segera berangkat menuju sekolah sambil membawa papan tersebut. Hampir semua siswa memandang aneh Jellal, kecuali Lucy.

"Ohayou, Jellal"

Ohayou

"Jadi papan ini untuk pengganti notesmu? Bagus"

Aku menamainya dengan nama papan penanda isi hati

"Papan penanda isi hati? Itu unik dan terdengar keren, mau ke kelas bersama?"

Kamu jalan duluan saja, aku menyusul nanti

"Baiklah, aku tunggu ya"

Sebenarnya hal itu di sengaja oleh Jellal, ia ingin agar Lucy berjalan terlebih dahulu, sekitar 5 menit kemudian barulah Jellal pergi ke kelas, supaya Erza tidak marah karena ia masih dekat dengan Lucy. Sesampainya di kelas, lagi-lagi semua orang menatapnya dengan pandangan aneh, kemudian salah satu dari mereka kembali mengejek Jellal.

"Hoi Jellal, penampilanmu seperti mau di MOS saja"

"Benar juga ingin di MOS lagi oleh OSIS bukan?"

"Hahahaha! Kamu benar-benar aneh, apa mungkin papan itu kamu gunakan untuk berkaca? Jika iya, maka kau adalah orang gila"

Tawa kini meledak di mana-mana, meski begitu Jellal hanya terdiam dan kemudian duduk dikursinya, ia nampak sedang menulis sesuatu di papan tersebut, setelah selesai menulis ditunjukkannya papan tersebut kepada Erza.

Halo, Erza

"Eh?! Ini pertama kalinya aku melihatmu menyapa Erza" ucap Lucy yang duduk dibelakang Jellal

"Jangan-jangan, anak tunarungu itu ingin lebih dekat dengan Erza. Apa-apaan ini? Lucu sekali…"

"Gray pasti cemburu, hoii Gray, sepertinya anak ini ingin merebut Erza darimu"

"Aku tidak menyukai Erza!" tegas Gray kepada anak-anak tersebut

"Masa? Bukankah kamu penggemarnya? Aku ingat loh kamu pernah berkata, Erza itu sangat keren dan cantik, apalagi saat dia berlatih karate, aku ingin melihatnya dari dekat tetapi malu" ucap seorang temannya sambil menirukan gaya bicara Gray

"Di…diam!"

"Gray, apa itu benar?" tanya Erza sambil melotot

"Me…memang tetapi itukan sudah lama! Jadi, lupakan saja"

Erza hanya menghela nafas dan kemudian kembali memandang lurus kedepan. Sebelum bel masuk berbunyi, Jellal memberikan sebuah gumpalan kertas kepada Lucy.

Saat istirahat nanti, pergi saja duluan

"Baiklah, mungkin hari ini kita tidak bisa makan bersama, aku ada urusan"

Jellal hanya menganggukan kepalanya tanda ia mengerti. Pelajaran pada hari ini pun di mulai, semua murid memperhatikan dengan serius, begitu juga dengan Jellal, hanya saja ada yang mengganjal dipikirannya sekarang. Saat jam istirahat tiba, hanya ada Erza seorang didalam kelas, ini suatu kebetulan yang membuat Jellal sangat gembira, segera saja ia duduk didepan Erza dan memulai pembicaraan.

Sendirian saja? Tidak bersama teman-temanmu?

"Mereka punya urusan masing-masing dan juga, apa maksudmu mendekatiku di saat tidak ada siapapun?"

Aku tidak punya maksud apa-apa

"Tulisanmu acak-acakan sekali, jangan dekat-dekat denganku"

Erza hendak pergi meninggalkan Jellal, akan tetapi tangan kanannya memegang pundak Erza, berhasil mencegahnya pergi, ia menengok kebelakang dan ingin memarahi Jellal, tetapi rasa amarahnya itu reda ketika Jellal menanyakan suatu hal padanya.

Satu kata apa yang paling kamu sukai?

"Pertanyaan yang aneh, tetapi sepertinya aku mengerti maksudmu. Suka, itulah jawabannya"

Tetapi kenapa kata suka?

"Cih…itu karena suka adalah kata paling hebat"

Kenapa bukan cinta, melainkan suka?

"Pertanyaaanmu membuatku kesal saja, memangnya kenapa jika suka itu kata paling hebat? Jika cinta itu kata paling hebat, liriknya jadi aneh, maksudku adalah kata-kata itu berasal dari sebuah lagu yang sangat kusukai. Sudahlah, aku lelah membahasnya"

Kali ini Jellal membiarkan Erza untuk keluar dari kelas, ia duduk dipojokkan dan meringkuk, rupanya ia gagal untuk mengobrol lebih lama dengan Erza, mungkin kedepannya akan semakin susah, begitulah pemikirannya saat itu.

Erza POV

Sebenarnya siapa yang Jellal sukai? Aku sangat berharap ia tidak menyukaiku, lagipula anak tunarungu itu cukup pintar, dia pasti tau jika menyukaiku hanya membuat hatinya terluka, mana mungkin ada orang bodoh yang ingin menyakiti hatinya sendiri? Ponselku rupanya berdering, segera saja aku mengangkat telpon dari ayah.

"Hari ini kamu pulang sendiri ya? Supir sedang cuti karena ibunya sakit, ayah sangat sibuk, kamu bisakan naik kendaraan umum sendiri?"

"Aku bisa, lagipula aku bukan anak kecil lagi"

"Apa mungkin ayah harus meminta Gray untuk menemanimu?"

"Tidak perlu, lagipula hari ini dia ada les biola"

"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa"

Tut…Tut…Tut…

Telpon pun terputus, aku memasukkan handphoneku kedalam kantong rok dan pergi menuju kelas. Masuk kedalam kelas menjadi sangat berat rasanya bagiku, ya, aku harus bertemu dengan Jellal, apa yang akan dia lakukan selanjutnya?

Langit sudah senja, jam menunjukkan pukul empat sore, sekolah baru saja bubaran, benar-benar melelahkan. Aku melangkahkan kakiku keluar dari kelas dan berlari menuruni tangga, akan tetapi aku merasa ada seseorang yang mengikutiku dari belakang. Saat hampir keluar dari sekolah, ia memegang pundakku, langkahku pun terhenti saat itu juga.

"Jellal?" ucapku sambil menengok kebelakang

Hati-hati di jalan

"Kamu membuatku berlari dan kemudian berkata seperti itu? Apa maksudmu?! Aku lelah harus berlari saat menuruni tangga karena kamu berlari sangat cepat"

Maaf, aku tidak bermaksud begitu

"Lagi-lagi berkata maaf, sudahlah aku mau pulang, jangan ikuti aku!"

Aku sangat ingin Jellal menganggukan kepalanya, tetapi kenapa dia tidak melakukannya?! Aku menyelusuri jalan dan ingin menyebrangi jalan, akan tetapi ada begitu banyak mobil dan motor yang melintas, kenapa di saat-saat penting seperti ini tidak ada polisi? Karena tidak terbiasa menyebrang aku pun menyebrangi jalan secara asal-asalan, sebuah motor melintas dengan begitu cepatnya kearahku, seseorang mendorongku hingga ke tepi jalan, rupanya nyawaku terselamatkan.

"Jellal?"

Hanya sebuah senyum yang ditunjukkannya padaku, jadi ini yang Lucy maksud senyum istimewa darinya? Hatiku merasakan sesuatu yang aneh, apa mungkin…? Segera kudorong Jellal hingga dia terhempas kebelakang, aku pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tetapi ia malah berlari mengejarku sambil menunjukkan papan tersebut padaku.

Aku ingin mengantarmu pulang, apa boleh?

"Tidak perlu, rumahku sudah dekat"

"Dan juga…" ucapku sambil berhenti berjalan

"Terima kasih, tetapi jangan anggap jika aku sudah memaafkanmu, sampai kapapun aku tetap membencimu, mengerti?"

Saat menoleh kebelakang Jellal hanya tersenyum sambil melambaikan tangan, aku tidak membalasnya dan terus berjalan. Sesampainya di rumah, kuhempaskan tubuhku diatas kasur, senyumnya benar-benar berarti…aku benci mengakui ini, akan tetapi sepertinya wajar saja jika dia bisa menarik perhatian Lucy, anak itu benar-benar spesial, apa mungkin karena dia berbeda dari kami yang rata-rata normal?

Keesokan harinya…

Tok…tok…tok…

"Maaf, anda mencari siapa?" tanya Juvia sambil menatap wajah pemuda tersebut

"Erza, apa dia sudah bangun?"

"Nona sedang bersiap-siap, jika tuan mau tunggu saja di ruang tamu"

"Baiklah"

Ketika menuruni tangga, aku melihat sosok yang sangat familiar dimataku, bukankan dia Gray? Tetapi untuk apa dia menungguku?

"Yo, aku sudah menunggumu"

"Tapi, untuk apa kamu menungguku?"

"Tentu saja aku ingin pergi ke sekolah bersamamu, mau tidak?" tawarnya

"Baiklah, ayo pergi"

Baru kali ini aku pergi ke sekolah bersama dengan Gray, maklum saja rumah kami berjauhan sehingga tidak pernah pergi bersama. Akan tetapi aku merasakan sesuatu yang aneh darinya, tidak biasanya dia begini, jangan-jangan Gray memiliki maksud tersembunyi.

"Kenapa kamu ingin pergi ke sekolah bersamaku?"

"Aku hanya ingin, tidak punya maksud lain. Ketika jam istirahat nanti, apa kamu mau pergi ke kantin?"

"Bersama dengan Natsu dan Lucy?"

"Tidak, hanya kita berdua"

"Apa maksudmu?!" tanyaku kaget

"Bukankah sudah kukatakan, aku tidak memiliki maksud lain. Jadi kamu mau atau tidak?"

"Baiklah, baiklah, aku mau"

Ajakan Gray tadi kuterima dengan paksa, lagipula rasanya seperti kencan saja, hanya makan dan mengobrol berdua, itu kencan, iyakan? Bahkan ketika berada di kelas, Gray terus mengajakku berbicara, tidak biasanya dia begini, ini berbeda dengan gayanya yang selalu cuek dan dingin.

"Ada apa? Kamu tidak suka berbicara denganku?"

"Ti…tidak, hanya saja aku merasa aneh"

"Sudah kuduga, ini tidak terlihat sepertiku, bukan?"

"Ya…begitulah" ucapku sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal

"Jika sudah waktunya aku akan memberitaumu, mengapa sikapku berubah drastis seperti ini"

"Kenapa tidak sekarang saja?"

"Karena ini bukan waktu yang tepat, sudahlah tunggu saja"

Membuatku semakin penasaran saja….Jam istirahat pun tiba, Gray benar-benar menepati janjinya, kami berdua makan di kantin tanpa Natsu maupun Lucy, aku hanya duduk terdiam begitu juga dengannya, untuk sesaat suasana di antara kami berdua amatlah hening.

Normal POV

Keheningan tersebut pun pecah, karena seseorang melempar kertas dari belakang. Kertas tersebut tepat mengenai kepala Erza, ia mencari darimana asal kertas tersebut, setelah ditemukan Erza segera pergi menghampiri si pelempar kertas tersebut, siapa dia berani-beraninya mengangguku? Ucapnya dalam hati.

"Kamu yang melempar kertas itu bukan?!" tanya Erza sambil membentak orang tersebut

Memang, ada yang ingin kubicarakan denganmu

"Langsung katakan saja, tunarungu"

Aku tidak tau

"Apa maskdumu mengatakan tidak tau?! Bilang saja kamu ingin iseng, jangan bertele-tele seperti itu! Aku tidak suka Jellal!"

Maaf

"BUKANKAH SUDAH KUKATAKAN, TIDAK PERLU MENGUCAPKAN MAAF BAKA!" Erza mengucapkannya sambil menampar Jellal

Sepertinya aku sudah tau apa yang ingin kutanyakan padamu, apa kamu menyukai Gray?

"Menyukai Gray? Aku tidak tau harus menjawab apa"

Itu berarti kamu menyukainya, bukan?

"Ti…tidak…"

"Ada apa ini ribut-ribut, aku mendengarmu berteriak Erza" ucap Gray sambil berlari menghampiri Erza

"Tenang saja, tidak ada apa-apa"

"Anak ini bukan yang membuatmu marah?" tanyanya sambil menunjuk Jellal

"Dia sering membuatku marah, entah apa maunya"

"Jangan pedulikan dia, dan juga, jangan membuang sampah sembarangan, Jellal. Jika ketahuan sekali lagi maka kamu akan di hukum"

Mereka berdua pun pergi meninggalkan Jellal yang masih menundukkan kepalanya. Tamparan itu sangatlah sakit, ia mengusap-usap pipinya dan kemudian menulis di atas papan tersebut, meski tulisannya tidak akan di baca oleh Erza maupun Gray.

Aku hanya ingin kamu melihat isi kertas itu, apa salah?

Apa salah? Jellal pergi ke tempat kesukaannya dan duduk dibawah pohon yang rindang. Dia sudah sadar jika Gray juga menyukai Erza, maka dari itu Jellal bermaksud untuk lebih dekat dengan Erza, melempar kertas tersebut hanya untuk mengalihkan perhatiannya dari Gray, sekaligus untuk mengungkapkan perasaannya pada Erza, sayang rencana itu kini gagal total.

"Jika Erza tidak melihat isi kertas tersebut, maka biarkanlah dia melihat isi hatimu" ucap seseorang yang duduk disebelahnya

Isi hatiku?

"Nama papan tersebut adalah papan penanda isi hati, bukan? Itu berarti ungkapkan saja perasaanmu pada Erza melaluinya"

Menurutmu kapan aku harus mengungkapkannya?

"Itu terserah padamu, lebih baik saat dia sedang sendirian, di saat tidak ada Gray, Natsu ataupun aku disisinya"

Itu ide yang bagus, terima kasih, Lucy

"Senang bisa membantumu, Jellal"

Mereka berdua saling tersenyum satu sama lain, akhir-akhir ini Jellal agak sering tersenyum, ucap Lucy dalam hatinya. Bel usai istirahat pun berbunyi, Jellal pergi ke kelas tetapi tidak dengan Lucy, ada yang tidak beres dengannya.

"Bodoh…aku yang memberi saran itu, bukankah seharusnya aku sudah merelakan Jellal? Tetapi, kenapa dari mataku turun hujan?"

Senyumnya kini berubah menjadi tangisan, ya, Lucy tidak rela jika Jellal lebih menyukai Erza dibandingkan dirinya. Seseorang memeluknya dari belakang, dia tidaklah asing, Lucy memegang tangannya erat-erat, berharap pemuda itu tidak akan melepaskan pelukannya.

"Aku mengerti perasaanmu, tetapi masih ada aku bukan?"

"Natsu…jadi ini yang kamu rasakan ketika aku lebih menyukai Jellal dibandingkan kamu?"

"Memang, bukankah menyakitkan, orang yang kita sukai malah menyukai orang lain?

"Sangat, sangat menyakitkan…Maaf aku membuat hatimu terluka, aku, aku…"

"Bodoh, untuk apa minta maaf? Seharusnya aku yang minta maaf, Lucy"

"Kamu tidak salah apa-apa!"

"Aku bersalah sangat banyak, tidak seharusnya aku meninggalkanmu, maaf"

"Te…tenang saja, aku baik-baik saja, ayo kembali ke kelas"

Dalam hatinya Lucy merasa begitu nyaman, tidak seharusnya dia menangis bukan? Kini pikirannya lebih terbuka, ia hanya berharap jika Jellal berhasil, itu saja.

2 bulan kemudian…

Banyak hal yang terjadi selama dua bulan, Lucy dan Natsu semakin dekat, begitu juga dengan Gray dan Erza, meski begitu Jellal tidak kecil hati, padahal selama dua bulan ini Erza semakin cuek dan dingin padanya. Pada bulan Desember, tanggal 1 setelah bubaran sekolah, Jellal akan mengungkapkan semuanya pada Erza. Sebelum dia selesai berbenah, Jellal datang mendekati dan menepuk pundaknya pelan yang di sambut dengan wajah dingin oleh Erza.

"Ada perlu apa dengannku?" tanya Erza dingin

Aku ingin berbicara denganmu

"Tidak ingin iseng?"

Tidak, kali ini aku serius

"Katakan secara cepat, aku tidak suka membuang-buang waktuku dengan orang sepertimu"

Aku suka pada dirimu

"Kamu sudah selesai menulis bukan? Tunjukkan padaku"

Dengan malu-malu Jellal menunjukkan papan tersebut kepada Erza, untuk sesaat suasana di antara mereka sangatlah hening. Tiba-tiba terdengar bunyi…

BRAANNGGG….!

"AKU TIDAK SUKA DENGAN DIRIMU, JAUHILAH AKU SETELAH KAMU MENEMBAKMU, MENGERTI?!"

Bentakan itu ia hadapi dengan ekspresi sedih bercampur dengan rasa kecewa, meski begitu dia tetap memaksakan dirinya untuk tersenyum, meski papan tersebut di banting dengan keras oleh Erza, baginya itu sama saja dengan membanting hatinya. Apa dia begitu tega membanting hati seseorang sampai hancur berkeping-keping? Batin Jellal.

Lucy POV

Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Erza membanting papan tersebut hingga hancur berkeping-keping, sedangkan Jellal sedang mengumpulkan kepingan-kepingannya sambil tersenyum pilu. Erza pun melewatiku, segera saja aku memegang tangannya dengan kuat.

"Apa maksudmu?"

"Justru seharusnya aku yang bertanya, apa maksudmu memegang tanganku?"

"Seharusnya kamu sadar, apa yang kamu perbuat benar-benar membuat Jellal sedih!"

"Memang aku peduli? Tidak, aku sama sekali tidak peduli"

"Tetapi dia begitu peduli padamu! Setidaknya tolaklah Jellal dengan halus. Apa kamu tau? Membanting papan tersebut sama saja dengan membanting hatinya!"

"Hatinya adalah papan, itu konyol"

"Dia memberitauku, jika nama papan tersebut adalah papan penanda isi hati, bukankah ucapanku yang barusan memang benar? Konyol darimana? Darimananya Erza?!"

"Kamu berkata seakan-akan kamu mengerti apa yang Jellal pikirkan"

"Aku sudah berteman dengannya lebih dari tiga bulan Erza! Aku sangat memahami sifat dan juga pola pikirnya"

"Oh"

Satu kata yang singkat itu diucapkannya sambil berlalu, Lucy hanya bisa terdiam sambil memandang Jellal. Apa setelah ini, Jellal tetap menyukai Erza, tetap berusaha untuk mengejarnya? Tanya Lucy dalam hati, ya…tidak akan ada yang tau.

Bersambung…

A/N : Panjang juga yahh, riview :v

Balasan riview (gomen lama ) :

Momo Katsuhira-Chan : makasih ya cc km udh ksh semangat ke Jellal, baik bngt deh :v Kita liat aja nanti kedepannya gimana. Oke deh sama2 XD Udh jd keharusan buatku untuk membalas riview pembaca.