Kejadian itu sudah berlalu 3 minggu lamanya, kalender sudah menunjukkan tanggal 24, bulan Desember. Sehari lagi adalah natal, semua sudah memiliki rencananya masing-masing, tetapi tidak dengan Lucy, ada yang tidak beres dengannya. Ketika sedang berada di ruang kelas, seseorang datang menghampirinya, ya, hanya seorang.
"Yo, Lucy!" sapa Natsu
"Natsu rupanya"
"Ada apa? Wajahmu terlihat murung, sebentar lagi natal, bukan?"
"Ya, lalu kenapa? Apakah natal begitu penting?" tanyanya yang berhasil membuat Natsu bingung
"Bukankah kamu menyukai natal lebih dari siapapun? Apa secara mendadak kamu membencinya?"
"Tidak…bukan begitu maksudku, hanya saja…"
"Kau khawatir dengan dia, bukan?"
"Apa salah? Apa kamu akan marah lagi kepadaku?"
"Tidak, aku tidak akan marah, hanya saja mengapa anak seperti dia bisa membuatmu gelisah sampai begini? Apa dia tidak bisa membuat orang lain tidak khawatir padanya selama sehari saja?"
"Dari nada bicaramu, apakah kamu masih membencinya? Apa kamu melupakan janji yang kita buat?"
"Mana mungkin aku lupa"
Flashback…
Saat kejadian di taman belakang sekolah, kami berdua masuk kedalam kelas bersama-sama. Sudah lama sekali aku tidak melakukan hal ini, tetapi saat akan masuk kedalam kelas, Lucy berhenti berjalan dan kemudian berteriak kearahku.
"Natsu! Kumohon berjanjilah kepadaku, setelah kejadian ini janganlah lagi membenci Jellal, sudah banyak cobaan yang harus dihadapinya, jangan menambah bebannya dengan membencinya! Maafkanlah dia, kumohon…"
"Memaafkannya? Aku tidak tau bisa melakukannya atau tidak, jika dia melukaimu lagi, bagaimana?"
"Tidak, tidak akan! Sekarang dia sudah berusaha untuk menghindariku, dia tau jika aku bersama dengannya aku akan terluka"
"Peganglah perkataanmu itu, jika Jellal menyakitimu, aku tidak akan segan-segan untuk kembali membencinya"
"Jadi, kamu berjanji?"
"Ya, aku janji"
End flashback…
"Aku selalu mengingatnya di dalam hati"
"Kalau begitu bagus, aku mau pulang"
"Kamu tidak ada urusan?"
"Tidak ada, hanya ingin menenangkan diri, siapa sangka kamu datang ke sekolah di saat liburan musim dingin"
"I…itu karena, saat mengunjungi rumahmu, ibumu berkata jika kamu pergi ke sekolah"
"Khawatir denganku?"
"Bisa di bilang begitu, aku akan mengantarmu" ucap Natsu menawarkan dirinya
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri"
Lucy POV
Hatiku dipenuhi dengan rasa khawatir dan juga bimbang, aku khawatir karena Jellal tidak masuk tiga minggu lamanya semenjak kejadian itu, aku bimbang karena masih tidak bisa merelakan Jellal yang menyukai Erza, padahal jika tidak merelakannya maka Natsu akan kembali merasakan sakit hati. Aku membenci diriku yang selalu membuat hatinya tersakiti.
Kakiku melangkah tanpa arah tujuan yang pasti, natal ya…bukankah seharusnya itu adalah hari yang membahagiakan bagi semua orang? Tetapi sepertinya, natal kali ini akan kulewati dengan penuh kesedihan. Saat melewati sebuah toko, seorang yang berpakaian sinter klas memberiku sebuah brosur, bukankah ini toko kue yang selalu kukunjungi bersama keluarga? Terlintas sebuah pikiran di dalam benakku, aku ingin membelikan kue untuk seseorang.
"Selamat datang" sapanya ramah ketika aku memasuki toko kue tersebut
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Eto…aku ingin membeli kue ini" ucapku sambil menunjuk kue yang ada di brosur
"Baiklah, harganya…"
Uangku cukup tidak ya? Kuserahkan beberapa lembar uang kertas kepadanya, kue tersebut begitu mahal, mungkin karena kue ini limited edition. Ya, dia begitu spesial seperti kue ini. Setelah keluar dari toko tersebut, tanpa sengaja aku berpapasan dengan Erza dan Gray, jarang-jarang mereka hanya berdua. Apa mungkin Gray mulai berusaha untuk mendekati Erza?
"Hai, Lucy" sapa Erza yang berhenti berjalan
"Hai, Gray, Erza. Jarang-jarang kalian berdua"
"Gray yang mengajakku untuk keluar jalan-jalan, lagipula menurutku lebih baik daripada mengurung diri di rumah"
"Membeli kue untuk seseorang?" tanya Gray sambil melihat sebuah box besar
"Ya, begitulah"
"Apa kamu membelinya untuk Jellal?" kini giliran Erza yang bertanya
"Itu..itu…"
"Sudah jelas, pasti jawabannya iya"
"Darimana kamu tau? Belum tentu bukan aku memberikannya untuk Jellal?"
"Aku mengetahuinya dari ekspresi wajahmu"
"A..aku mau pergi dulu! Semoga hari kalian menyenangkan"
"Sebelum pergi, jawablah pertanyaanku dengan jujur. Apa kamu masih menyukai Jellal?"
Mendengar pertanyaan dari Erza aku pun berhenti berjalan, aku tidak tau harus menjawab apa. Jika menjawab iya, dia pasti kecewa dan merasa aku telah mengecewakan Natsu lagi, jika menjawab tidak, apa Erza akan percaya?
"Sayang, aku tidak tau, apakah aku masih menyukai Jellal atau tidak"
"Kalau Natsu?"
"Aku juga tidak tau, hatiku masih bimbang, Erza"
"Pikirkanlah dengan baik, jangan sampai membuat keputusan yang salah"
"Aku mengerti" jawabku pelan
Yang paling penting sekarang bukanlah hal itu, melainkan memberikan kue ini kepadanya. Aku mencari kesana-kemari, berharap bisa menemukannya di antara banyak kerumunan orang-orang. Entah karena tersesat atau apa, aku sampai di sebuah belokan yang tidak terlihat asing bagiku, inikan jalan pulang ke rumahnya Jellal. Kulangkahkan kakiku lebih cepat, hatiku berdebar-debar karena senang, pasti dia ada di sini, aku yakin!
Ada begitu banyak rumah di sana, kira-kira yang mana ya rumah Jellal? Kebetulan ada seorang tetangga yang keluar dari rumahnya untuk membersihkan salju, segera saja aku menghampirinya dan bertanya di mana rumah Jellal.
"Permisi, di mana ya rumah Jellal?"
"Oh, dia adalah tetangga saya, rumahnya berada di sebelah kiri sana" ucapnya sambil menunjuk sebuah rumah yang ternyata berada di sebelah rumahnya
"Apa Jellal ada di dalam rumah?"
"Kalau itu saya tidak tau, tetapi katanya keluarga mereka pergi ke Australia untuk berlibur, kira-kira sudah tiga minggu lamanya"
"Oh…terima kasih atas informasinya"
"Baiklah, saya mau masuk dulu"
Kupandangi rumah tersebut dengan begitu seksama, tidak ada tanda-tanda jika rumah itu berpenghuni. Aku membentuk sebuah bola salju dan melemparnya ke kaca jendela rumah tersebut, melakukannya berulang-ulang kali hingga merasa lelah. Jellal bodoh, mengapa dia tidak memberitauku kalau ingin pergi ke luar negeri? Diakan bisa mengirimku SMS, kalau tidak mengirim surat, tetapi mengapa mereka sekeluarga pergi selama tiga minggu lamanya? Ini terlalu aneh bagiku.
Karena suasana hatiku begitu buruk, kuputuskan untuk mampir kesebuah restorant dan makan siang di sana, setelah itu melanjutkan perjalanan tanpa arah tujuan yang pasti. Tak terasa matahari sudah mau terbenam, akan tetapi aku tidak pulang, firasatku mengatakan jika Jellal berada di kota ini, padahal itu sama sekali tidak mungkin.
Aku sampai di sebuah taman dan duduk di sebuah kursi, kakiku sangat lelah karena terus berjalan. Taman itu sangat dekat dengan rumah sakit, dari kejauhan aku melihat sebuah sosok yang sangat tidak asing bagiku, secara otomatis kakiku berlari hendak menghampirinya, mengembang sebuah senyum di bibirku, tetapi senyuman itu tak bertahan lama setelah aku melihatnya bersama dengan seorang wanita.
"Jellal baka! Mengapa kamu lebih mencintainya? Bukankah menyukainya hanya membuatmu terluka?! Kamu bodoh, bodoh!" teriaknya sambil meninggalkan Jellal
Ada begitu banyak pertanyaan yang menghujamku, apa mungkin Jellal sudah memiliki pacar? Tetapi mengapa dia mengejar Erza? Ini sama sekali tidak masuk akal! Aku merasa harus mendapatkan penjelasan darinya, sepertinya aku tidak jadi memberikan kue ini kepadanya.
Ultear POV
Mengapa adikku ini begitu bodoh?! Sekarang aku tau penyebab mengapa dia jatuh sakit, penyebab mengapa wajahnya murung selama tiga minggu, penyebab mengapa kondisinya tidak kunjung membaik. Ini semua disebabkan oleh Erza, wanita itu sama sekali tidak tau diri! Apa maksudnya membanting papan yang sudah adikku buat dengan susah payah? Dia mencari kayu kesana kemari, bahkan tangannya sampai terluka karena tidak terbiasa. Saat itu tanpa sengaja aku berpapasan dengan seorang wanita berambut pirang, apa mungkin dia Lucy yang selalu Jellal ceritakan padaku?
"Apa kamu Lucy?" tanyaku ketika berpapasan dengannya
"Ya, aku Lucy, kamu sendiri siapa?"
"Aku? Aku adalah pacarnya Jellal, memang kenapa?"
"Ti…tidak, aku pergi dulu" ucapnya yang kemudian berlalu
Aku sengaja mengucapkan hal itu, tujuanku hanya satu, yaitu aku tidak ingin lagi ada seseorang yang kembali menyakiti hati Jellal. Ayah dan ibu sedang pergi ke Australia, mencari pengobatan terbaik untuknya. Tugasku adalah melindunginya, aku tidak akan membiarkan Jellal terluka lagi oleh perasaan cinta, biarlah dia sendirian, itu lebih baik.
Lucy POV
Apa maksudnya itu? Jellal sudah memiliki pacar? Lalu untuk apa dia mengejar Erza? Apa dia ingin mempermainkannya? Aku tidak menyangka jika sifatnya seperti itu. Kutatap box berisi kue tersebut, padahal tadi aku ingin memberikannya kepada Jellal, tetapi kuurungkan niat itu sekarang. Tanpa sengaja aku bertemu dengan Natsu di jalan.
"Lucy? Sedang apa kamu malam-malam begini?"
"Hanya jalan-jalan saja, kamu sendiri?"
"Entahlah, mungkin menikmati pemandangan di malam hari"
"Oh iya, ini untukmu" ucapku sambil menyerahkan box tersebut
"Terima kasih, pasti kue ini sangat mahal"
"Tidak mahal kok, tetapi spesial"
"Spesial?"
"Ya, kue itu untuk orang yang spesial bagiku"
Ucapanku barusan membuat wajah Natsu memerah, melihatnya begitu aku jadi salah tingkah. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, sebaiknya aku pulang, kalau tidak ayah dan ibu akan cemas.
"Natsu, aku pulang dulu ya"
"Mau kuantar? Sekarangkan sudah malam, tidak baik seorang gadis pulang malam-malam begini"
"Baiklah, kuterima tawaranmu dengan senang hati"
Selama perjalanan pulang kami hanya terdiam satu sama lain, aku jadi merasa agak canggung untuk memulai pembicaraan, lagipula apa yang harus kuomongkan dengannya? Ketika aku sampai di depan rumah, Natsu bertanya suatu hal padaku perihal kue itu.
"Kamu tidak memberikannya untuk Jellal?"
"Tidak, kamu tidak senang aku memberikan kue itu untukmu?"
"Bukan begitu, aku sangat senang, ini pertama kalinya kamu kembali peduli padaku"
"Lagipula sebenarnya, Jellal sudah memiliki pacar"
"Memiliki pacar?! Lalu mengapa dia mengejar Erza?!"
"Aku sendiri tidak tau"
"Anak itu…rupanya dia hanya ingin mempermainkan Erza! Aku tidak terima!"
Aku bisa memaklumi mengapa Natsu sangat marah, kali ini biarlah dia melanggar janjinya, karena Jellal-lah yang bersalah, bukan Natsu. Apa kami sebagai sahabat Erza, hanya tinggal diam saja melihatnya dipermainkan oleh Jellal? Untung saja dia menolak pernyataan cinta darinya, kalau tidak Erza hanya akan merasakan sakit hati. Jadi, selama ini aku salah menilai Jellal?
Bersambung…
A/N : Terjadi kesalahpahaman rupanya :v :v Kedepannya gimana yah?
Balasan riview :
kitri tukang ngidol :
Kasih bocoran deh sama ane, berakhir di chap 9 :v Nanggung bngt yak perasaan wkwkww :v Bener kok 2 tahun, klo mw tgg aj ak bikin cerita pairing NaLu lg. Iya nih baru tau, maklum aku g terlalu ngidol sama AKB48, jd makasih ya buat infonya :D Tenang kok cerita ini gak akan hiatus, ak udh bikin semua ampe lengkap chap 9, jd tinggal publish dan publish. Kalo buat update mah g nentu, rencananya cerita ini mw ak tamatin skrg. Soalny klo cerita ini g tamat sampe bulan Desember kesian sm pembaca, nanti bulan Desember ak agak sibuk soalny hehehe. Oke deh, makasih ya semangatnya. Maaf juga kalau balasanku kepanjangan, abis riview km pnjng bngt wkwkkw XD
Rencananya bakal update lg hari Rabu/Kamis, inget ak mw tamatin cerita ini jd update lbh cpt
