Ultear POV

"Dok, bagaimana keadaan Jellal?" tanyaku khawatir

"Untuk sekarang dia baik-baik saja, akan tetapi kita tidak tau apa yang akan terjadi besok. Mungkin ini terdengar menyakitkan tetapi saya harus memberitaumu, demi kebaikan Jellal"

"Katakan saja, dok"

"Sel kankernya sudah menyebar luas, joke tidak segera ditangani mungkin bisa merusak otaknya"

"Ka..kalau begitu lakukan apapun, aku ingin Jellal selamat"

"Kami sudah melakukan yang terbaik, sekarang kita pasrahkan saja kepada Tuhan"

Pada akhirnya, kalian pada dokter hanya bisa mengatakan itu. Kondisi Jellal dari awal memang sudah kritis, penyakit kankernya sudah lama tidak diobati, sekalinya kambuh langsung membahayakan nyawanya. Kupandangi Jellal dari balik pintu kamar, sudah seharian ini dia terbaring lemah di tempat tidur, aku hanya bisa menunjukkan wajah sendu tanpa mengatakan apapun atau menangis.

"Tidak masuk kedalam kamar?" tanya dokter padaku

"Adikku butuh istirahat total, jika aku masuk hanya akan menganggunya istirahat"

"Bukannya sok tau atau apa, tetapi menurut saya masalahnya lebih dari itu"

"Ba…bagaimana dokter mengetahuinya?"

"Kemarin saya melihat kalian bertengkar di taman rumah sakit, kamu sedang perang dingin dengan adikmu bukan?"

"Ya, itu benar"

"Maukah kamu menceritakannya padaku?"

"Kemarin…"

Flashback…

"Bagaimana keadaanmu sekarang?"

Aku baik-baik saja, nee-san sendiri?

"Kamu tidak lihat? Aku juga baik-baik saja, sudah tiga minggu berlalu ya…wajahmu belum berubah juga"

Wajahku memang sudah begini dari dulu, mau berubah bagaimana?

"Adik bodoh, yang kumaksud adalah ekspresimu, kamu masih terlihat murung"

Aku mau jalan-jalan di taman, apa boleh?

"Tentu, lagipula kondisimu sekarang baik-baik saja, dokter pasti mengijinkan"

Lagi-lagi mengalihkan topik pembicaraan, dia selalu begitu setiap kali aku menanyakan tentang ekspresinya. Setelah dokter mengijinkan kami, aku mendorong kursi roda keluar rumah sakit dan mengajaknya berkeliling. Kebetulan suasana di sana sangatlah sepi, mungkin karena sudah malam, aku duduk di sebuah kursi dan memulai pembicaraan.

"Aku lupa bertanya suatu hal padamu, mengapa papan yang kamu pakai sekarang terlihat memiliki retakkan?"

Itu ya, aku tidak sengaja menjatuhkannya

"Jika jatuh mana mungkin bisa rusak parah seperti itu, pasti rusak parah, benar bukan?"

Memang

"Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Papan itu tidak mungkin kamu jatuhkan begitu saja bukan?"

Aku sudah menyatakan perasaanku pada Erza, tetapi siapa sangka dia membanting papan tersebut hingga hancur berkeping-keping

"Hancur berkeping-keping katamu?! Apa maksudnya melakukan itu?!" ucapku setengah berteriak sambil beranjak berdiri

"Sudah kuduga, mencintainya adalah hal yang salah, sekarang yang kamu rasakan hanyalah sakit hati, aku salah membiarkanmu mencoba untuk mendekatinya"

Nee-san! Aku tidak menyesal sudah mendekatinya

"Tidak menyesal? Bagaimana mungkin kamu tidak menyesal? Kakakmu yang tidak mendekatinya merasa menyesal, kenapa kamu tidak?"

Bagiku, bisa mengenalnya adalah sebuah hal yang harus kusyukuri, meski pada akhirnya dia benar-benar membenciku

"Bersyukur? Bersyukur katamu?! A..aku tau kita harus selalu bersyukur, tetapi, tetapi…"

Maaf

"BODOH! Tidak perlu mengucapkan maaf! Yang seharusnya berkata maaf adalah Erza, ya, Erza si orang tak tau diri!"

"Jellal, kamu selalu berkata akan mengabulkan apapun yang kuiinginkan, kamu masih bisa memegang janji itu bukan?"

Ya, aku bisa, memang nee-san ingin apa?

"Kakakmu ini ingin, berhentilah mencintai Erza dan lupakanlah dia, kalau bisa bencilah dia!"

Aku tidak bisa melakukan hal itu! Jujur saja, sampai sekarang aku masih mencintainya, aku tidak bisa melupakan ataupun membencinya…

"Apa maksudmu berkata begitu?! Itu bukanlah hal yang ingin kudengar! Kamu memang tidak melupakannya, akan tetapi apa Erza mengingatmu? Itu tidak mungkin Jellal, tidak mungkin! Dia pasti ingin melupakan dirimu, dia pasti ingin agar kamu menjauhinya untuk selamanya"

Nee-san tidak mengerti apa-apa

"Tidak mengerti apa-apa?! Aku lebih banyak makan asam garam daripada kamu! Aku sudah melalui masa-masa pahit ketika berpcaran, aku tau mana perempuan yang buruk dan yang baik untukmu, kamulah yang tidak mengerti! Jellal, dengarkanlah kataku, aku tidak ingin kamu merasakan hal-hal buruk seperti yang kualami dulu"

Aku akan tetap menyukai Erza sampai kapanpun

" Jellal baka! Mengapa kamu lebih mencintainya? Bukankah menyukainya hanya membuatmu terluka?! Kamu bodoh, bodoh!"

End

"Rupanya adikmu itu orang yang setia, ya…"

"Memang, dia telah dibodohi oleh cinta"

"Meski begitu, kebodohannya patut diancungi jempol, apa menurutmu akan ada yang bertahan jika sudah disakiti berkali-kali? Pasti sedikit sekali yang bisa bertahan. Sekeras apapun seorang wanita, pasti memiliki hati yang lembut, amati saja sedikit lagi, mungkin usaha Jellal mampu mengubah pemikirannya"

"Itu terdengar mustahil"

"Tidak ada yang mustahil asal berusaha, jika Jellal memang serius, pasti tak lama lagi orang yang disukainya itu akan merasakan niatnya"

"Dokter benar, Jellal sudah berusaha sekeras ini, pasti akan membuahkan hasil manis. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mendengarkan ceritaku"

"Tidak apa-apa, membantu pasien adalah kewajiban dokter, lagipula hari ini saya tidak terlalu sibuk. Masuklah dan temui adikmu itu"

Dokter Makarov, dia adalah dokter yang sekarang menangani Jellal, adikku. Selain mengobati Jellal, dia juga selalu mendengarkanku hingga selesai bicara, bukankah beliau begitu baik? Ketika memasuki kamar, aku tidak tau harus berbicara apa dengannya, ayo Ultear, katakan sesuatu!

"Ma..maaf, tidak seharusnya kakak membentakmu, padahal kamu sudah merasa sedih, tetapi dengan sengaja malah menambah kesedihanmu. Aku pulang dulu, tak lama lagi aku akan kembali. Apa kamu mau menungguku?"

Wajah itu menunjukkan jika dia akan selalu menungguku, aku merasa senang saat mengetahuinya. Jarak dari rumah sakit ke rumah cukup jauh, apalagi hari sudah larut malam, jalanan sangatlah sepi, terpaksa aku jalan kaki karena tidak ada kendaraan yang lewat. Sesampainya di rumah, kuhempaskan tubuhku di atas sofa. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas sehingga berdenting sebanyak tiga kali, tanpa sengaja aku menduduki sebuah buku, siapa yang meletakkan ini di sembarang tempat?

"Bukankah ini milik Jellal?" ucapku sambil bergumam

Buku diary, mungkin ini pertama kalinya bagi Jellal untuk memiliki sesuatu yang pribadi seperti ini. Tidak seharusnya aku membuka buku tersebut, akan tetapi rasa penasaran ini sama sekali tidak bisa kubendung lebih lama, saat membukanya, tanpa sengaja aku menemukan sebuah halaman yang seharusnya tetap menjadi rahasia.

Sebelum waktu memanggil, aku ingin bertemu dengan Erza, sekali saja, apa boleh?

Memang, memang seharusnya menjadi rahasia sampai kapapun. Jujur saja, aku merasa menyesal setelah membaca isi halaman tersebut, apa maksud perkataannya diawal-awal? Apa dia merasa jika sebentar lagi Tuhan akan memanggilnya? Pemikiran macam apa itu?! Buku tersebut pun jatuh dari genggamanku, tetapi kuputuskan untuk tidak memungutnya kembali, setelah mengetahui isi diary tersebut, apa yang akan kulakukan selanjutnya?

Normal POV

Keesokan harinya…

Rupanya jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Ultear terbangun dari tidur lelapnya dan mulai menjalani aktivitas sehari-harinya, tetapi sebelum pergi ke rumah sakit, sepertinya dia memiliki tempat lain yang harus di tuju. Kini ia tengah menatap sebuah sekolah, sekolah bernama Fairy Tail. Ultear sadar betul jika adiknya sedang berada di rumah sakit, dia pergi ke sekolah tersebut untuk menemui seseorang.

"Lucy, ada yang ingin menemuimu di halaman belakang sekolah" ucap salah seorang temannya

"Eh? Tapi siapa ya?"

"Entahlah, temui saja, wanita itu orang baik-baik kok"

Wanita? Siapa yang ingin menemuinya? Lucy semakin penasaran saja. Sesampainya di halaman belakang sekolah, ia nampak kaget melihat Ultear. Apa yang diinginkannya? Tanya Lucy dalam hati.

"Bu…bukankah kamu itu pacarnya Jellal?" tanya Lucy memulai pembicaraan

"Aku kakaknya Jellal"

"Ta-tapi sehari yang lalu kamu berkata jika Jellal adalah pacarmu"

"Ya, aku mengingatnya. Maaf, aku sengaja mengatakan hal itu"

"Kenapa kamu mengatakan kebohongan? Aku pikir Jellal hanya ingin mempermainkan Erza, aku…aku…"

"Ini semua salahku, jadi jangan salahkan Jellal lagi. Aku menemuimu bukan sekedar untuk memberitaukan hal ini saja"

"Hal apa lagi yang ingin kamu bicarakan denganku?"

"Jika kamu bertemu dengan Erza, suruh dia temui Jellal di rumah sakit dekat taman kota"

"Ba-baiklah, tetapi jika aku gagal membujuk Erza, bagaimana?"

"Tidak apa-apa, yang paling penting beritaukah hal itu padanya"

"E..eto, mungkin pertanyaan ini tidaklah penting, tetapi aku merasa heran. Mengapa kamu mengatakan jika Jellal adalah pacarmu?"

"Karena aku, tidak ingin ada lagi yang menyakiti Jellal. Jujur saja, aku tidak suka jika Jellal ingin bertemu dengan Erza, bagaimana jika dia merasa sakit hati lagi? Aku, aku khawatir…"

"Alasan yang masuk akal, akan tetapi kamu merasa benci pada Erza, lalu mengapa…"

"Itu adalah permintaan Jellal, aku ingin mengabulkannya" jawab Ultear memotong pertanyaan Lucy

"O-oh…"

"Benar juga! Sekarang masih liburan musim dingin, apa Erza akan pergi ke sekolah?"

"Dia berkata padaku hari ini akan masuk. Kenapa kamu bisa tau jika aku masuk hari ini?"

"Entahlah, hanya firasat. Baiklah, aku pergi dulu"

"Hati-hati"

Lucy POV

Ternyata wanita itu bukanlah pacar Jellal, mendadak muncul perasaan bersalah dalam hatiku, tanpa tau kebenarannya aku langsung menuduh dia yang tidak-tidak. Ketika akan memasuki kelas, kebetulan aku berpapasan dengan Erza di koridor sekolah.

"Pagi" sapaku padanya

"Oh, pagi"

"Tidak bersama Gray?"

"Dia ada urusan mendadak hari ini, bagaimana lukisanmu, apa sudah selesai?"

"Aku hampir selesai kok! Tetapi sebelum itu, aku ingin membicarakan suatu hal padamu"

"Tentang Jellal?"

"Ya, kau benar"

"Aku malas mendengarnya, lain kali saja"

"Erza! Ini sangat penting. Tadi kakaknya menemuiku, dia ingin kamu menemui Jellal di rumah sakit dekat taman kota"

"Kamu pikir aku peduli? Kenapa tidak kamu saja yang mengunjunginya?"

"Tentu saja aku akan mengunjunginya setelah menyelesaikan lukisanku! Kumohon, kunjungilah Jellal"

"Mengunjungi seseorang yang ingin mempermainkanku? Lucu…"

Mempermainkan? Padahal aku tidak pernah menceritakan kejadian yang kualami dua hari yang lalu, bagaimana bisa Erza berpikiran seperti itu?

"Mempermainkanmu, apa maksudnya?"

"Bukankah Jellal menyukaimu? Aku yakin dia sama sekali tidak suka padaku, pasti baginya aku ini hanyalah peralihan. Seorang lelaki yang tidak jelas apa maunya, menjijikan"

"Tidak Erza, kau salah, Jellal memang mencintaimu. Aku bisa merasakan niatnya, perjuangannya, itu semua demi kamu seorang! Apa kamu tidak merasakannya?"

"….."

"Sekarang kamu sudah mengerti maksudku, bukan?"

"Perjuangannya adalah hal yang sia-sia, rupanya dia itu bodoh tingkat dewa"

"Kamu keterlaluan! Dia tidaklah bodoh, dia itu orang yang setia! Kenapa kamu tidak bisa mengerti?"

"Selesaikanlah lukisanmu, aku ingin pergi ke ruang olahraga"

"Apa hatimu sekejam itu? Apa kamu sangat membenci Jellal?" ucapku dalam hati

"Mungkin sekarang kamu malu untuk mengatakannya, akan tetapi aku yakin, suatu hari nanti kamu akan mengatakannya di hadapan Jellal"

Erza tidak mempedulikan ucapanku yang barusan, aku sangat mengerti perasaannya sekarang. Jika Erza tidak segera mengatakannya, di kemudian hari dia pasti akan menyesal.

Bersambung…

Balasan riview :

SaRaHHeaRt : hahaha iya tuh bener "suka itu kata paling hebat" emg dr lirik lagu oogoe diamond, sesama fans 48 family nih XD Makasih y udh riview, ini pertama kaliny km riviewkan? Thx sekali lg XD

Guest : ane juga sedih bikin si Jellal menderita bngt di cerita ini, kesian dia g ad happynya sm sekali :v Makasih ya udh riview XD

Neiro Suzuki : thx ya udh riview, ini pertama kaliny km riviewkan? Hehehe gak apa-apa kok, g nyangka ak ternyata bnyk bngt SR dr cerita ini :v nanti riview terus yak ampe akhir chap, plisss /memohonmodeon

A/N : Sengaja ak publish chap ini hari ini juga, takut kuota internet abis, soalny abis beres buka ffn mw download besar2an hahaha :v Tp moga2 jgn ya, soalny klo kyk gitu ceritany chap terakhir jd publish bulan Desember /kesiansmpembaca Jgn harap loh ak publish chap terakhir hari Rabu, tgg hr Kamis/Jumat yak, oke? Kalian seneng gak klo dicepetin updatenya? Atau malah g suka? Plis comment :v Makasih ya minna :D