Erza POV
Apa Lucy memiliki maksud tersendiri saat berkata begitu? Mendadak aku sama sekali tidak bisa melupakan perkataannya barusan. Ruang olahraga sangatlah sepi, hanya ada aku seorang di sini. Bola basket yang tergeletak begitu saja di lantai langsung kuambil dan kemudian memasukkannya kedalam ring, membosankan jika bermain seorang diri. Tiba-tiba saja terdengar suara tepuk tangan dari arah yang tidak terlau jauh, siapa yang berada di ruang olahraga ini selain diriku?
"Gray?" ucapku menyebut namanya
"Kamu pasti tidak menyangka jika aku berada di sini"
"Te-tentu saja! Katanya kamu ada urusan, tetapi mengapa sekarang kamu berada di sini?"
"Urusanku adalah ingin menemuimu"
"Heh…konyol"
"Sekarang sudah jam sepuluh pagi, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?"
"Tentu, tetapi kita akan pergi kemana?" tanyaku penasaran
"Menurutmu?"
Aneh, mengapa dia bertanya balik? Padahal pertanyaanku belum dijawab olehnya. Kami berdua pun keluar dari sekolah bersama-sama dan menyelusuri jalan menuju suatu tempat, rupanya dia hanya membawaku ke sebuah cafe yang biasa kami kunjungi. Seperti biasanya, di cafe itu aku memesan strawberry cake dan secangkir kopi hangat, tetapi baru satu suap aku sudah berhenti memakannya, seperti ada yang kurang.
"Ada apa? Kuenya tidak enak?" tanya Gray heran
"Bukan, hanya saja seperti ada yang kurang"
"Aku mengerti maksudmu, biasanya ada Natsu yang selalu bercerita banyak hal, lalu disampingmu ada Lucy yang selalu tertawa setiap kita bercanda. Aku merasa persahabatan kita tidak selekat dulu"
"Ada benarnya juga, aku ingin bersama lagi seperti dulu" ucapku sambil mengepalkan tangan karena merasa gelisah
"Kira-kira Lucy pergi kemana ya?"
"Mungkin ke rumah sakit menjenguk Jellal"
"Apa dia masih perhatian pada Jellal? Bagaimana hubungannya dengan Natsu?"
"Entahlah, aku tidak banyak bicara dengannya selama beberapa minggu ini, tetapi tadi Lucy mengatakan suatu hal padaku"
"Hal apa?"
"Dia menyuruhku untuk pergi menjenguk Jellal di rumah sakit"
"Lalu, apa kamu akan pergi?" tanya Gray sambil menundukkan kepalanya
"Tidak, aku tidak akan pergi, lagipula aku sama sekali tidak peduli dengannya. Yang kuiinginkan adalah kita bisa berkumpul seperti dulu, itu saja"
"Tenang saja, kita pasti bisa berkumpul seperti dulu" Gray mengucapkannya sambil mengelus kepalaku lembut
Lucy menjadi aneh, sekarang Gray juga menjadi aneh, kemana sikap cueknya itu? Setelah menghabiskan kue dan kopi, kami berdua kembali berjalan-jalan di sekitar pertokoan. Secara kebetulan kami melewati sebuah rumah sakit, bukankah rumah sakit itu adalah tempat Jellal di rawat? Seseorang yang kukenali baru saja keluar dari sana, tidak lain dan tidak bukan adalah Lucy, sahabatku sendiri, rupanya dia menepati perkataannya saat di koridor sekolah.
"Yo, Lucy"
"Kalian berdua akhir-akhir ini bersama terus?"
"Memang, apa kamu cemburu?" tanya Gray usil
"Ti…tidak! Lagipula aku…sudahlah lupakan"
"Kamu habis menjenguk Jellal?" kini Gray bertanya lagi
"Iya, kondisinya memburuk dan juga papan itu tidak sebagus dulu"
"Apa kamu bermaksud untuk menyindirku?"
"Bu…bukan begitu Erza! Aku hanya menceritakan yang tadi kulihat kepada Gray"
"Bagiku itu seperti menyindirku, kamu pasti masih tidak terima karena aku membanting papan tersebut, iyakan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Jangan bohong! Kau taukan jika aku benci dengan seseorang yang suka berbohong?!"
"Aku…aku"
"Lucy, apa kamu sadar? Sekarang kamu menjadi aneh, apa kamu tidak menghargai persahabatan yang sudah terjalin lama di antara kira berempat?"
"…."
"Sepertinya Jellal sudah mencuci otakmu itu"
"Ini tidak ada hubungannya dengan Jellal! Aku, aku sangat menghargai persahabatan yang terjalin, kumohon jangan kaitkan masalah ini dengannya, aku tidak suka! Kalian selalu menyalahkannya, padahal dia tidak salah apapun!"
"Ayo kita pergi" ucapku sambil menarik tangan Gray
Ucapan Lucy tadi berhasil membuat mulutku bungkam, sehingga kuputuskan untuk pergi meninggalkannya, entah sudah berapa kali aku meninggalkannya seorang diri, apa ini masih pantas di sebut sebagai persahabatan? Aku terus berjalan tanpa arah tujuan yang pasti dan kemudian berhenti di sebua tempat yang sama sekali tidak kukenali. Hamparan bunga putih yang tertutupi oleh salju?
"Tempat ini indah" puji Gray sambil membersihkan salju yang menempel di bunga tersebut
"Maaf, tetapi sepertinya kita tersesat"
"Terima kasih sudah mengajakku ke tempat seindah ini, terimalah hadiah dariku" Gray mengucapkannya sambil menyelipkan sebuah bunga ditelingaku
Mendadak wajahku memerah, dia…sejak kapan Gray menjadi begitu romantis? Kumalingkan wajahku darinya karena rasa malu yang amat luar biasa, ketika kutengok dia terlihat sedang tertawa kecil.
"Ke..kenapa kamu tertawa? Padahal tidak ada yang lucu" ucapku masih memalingkan muka darinya
"Wajahmu benar-benar manis saat sedang malu, kita inikan sahabat, untuk apa malu?"
"Ta..tapi…ah sudahlah, lupakan. Lebih baik kita keluar dari sini sebelum malam"
"Baiklah, kamu yang pimpin jalannya"
"Kenapa aku?!"
"Karena kamu yang membawaku kesini, kalau kamu tidak mau…"
"Biarkan aku yang menuntun jalanmu" lanjutnya
Dia menggandeng tanganku?! Apa mungkin untuk membalas yang tadi? Padahal aku tidak sengaja memegang tangannya, entah mengapa aku merasa jika Gray sangat mengetahui tempat ini, dia memilih jalan tanpa rasa ragu. Tak lama kemudian pun kami berdua sudah keluar dari sana, kupandangi langit untuk sesaat, apa mungkin takdir yang memerintahkan supaya kita berdua pergi kesana? Tetapi terdengar konyol.
"Apa yang sedang kamu lihat?" tanya Gray membuyarkan lamunanku
"Hanya melihat langit"
"Mau melihat bintang? Aku tau tempat yang pas, ayo!" ajaknya
"He…hey, kamu tidak perlu menggandeng tanganku, aku bisa jalan sendiri" ucapku sambil berusaha mengikuti langkah kakinya
"Bukankah jika begini terlihat seperti orang sedang kencan?"
"Kencan?"
Gray menganggap ini seperti kencan? Kupandangi punggungnya yang kekar itu, dia sudah lebih tinggi dari waktu SMP, waktu berjalan dengan sangat cepat ya…seingatku saat itu, aku masih lebih tinggi darinya beberapa centimeter, tetapi sekarang dia sudah melampauiku. Larinya juga menjadi cepat seperti Natsu. Ternyata waktu bisa merubah seseorang menjadi lebih dewasa. Secara tiba-tiba aku merasa ragu, apa aku ini sudah dewasa? Kenapa pemikiranku seperti anak-anak?
"Wajahmu terlihat bimbang, ada apa?" tanya Gray yang menghentikan larinya dan memandang wajahku
"Gray, apa aku sudah dewasa?" tanyaku serius
"Tentu saja iya, kamu menjadi lebih tinggi, lebih cantik dan lebih tegas, bukankah itu perubahan yang bagus?"
"Tetapi, aku merasa pemikiranku masih seperti anak-anak. Aku membenci Jellal hanya karena dia merebut Lucy dariku, bukankah orang dewasa yang sesungguhnya tidak akan seperti itu?"
"Terkadang, orang dewasa pun bisa membuat kesalahan. Itu hal yang wajar, Erza"
"Tapi…tapi, aku merasa bersalah terhadap Lucy dan Jellal. Apa kesalahanku masih bisa dimaafkan?"
"Tergantung Lucy dan Jellal, apa mereka bersedia untuk memaafkanmu atau tidak"
"Bodohnya diriku, aku..aku…"
Air mata terus-menerus menetes dari pelupuk mataku, ini tidak seperti diriku yang biasanya, kemana hilangnya ketegaranku? Gray merangkulku dan membiarkanku menangis didalam pelukannya, begitu hangat dan nyaman, suasana hatiku yang tadinya buruk pun kini berubah menjadi lebih baik, dia mempererat pelukannya dan membelai kepalaku pelan seperti tadi lalu membisikkan sesuatu padaku. Suara tangisanku memecah keheningan malam di pinggir sungai, aku tidak sadar jika seseorang sedang memperhatikan kami.
Lucy POV
Erza dan Gray berpelukan? Apa ini mimpi? Ternyata Gray serius jika dia menyukai Erza, aku hanya bisa menunjukkan senyum pilu dan perlahan-lahan meninggalkan mereka berdua. Saat sedang berjalan aku teringat akan perkataan Jellal di rumah sakit.
Flashback…
"Setelah sembuh apa yang akan kamu lakukan?" tanyaku sambil memandangnya
Aku ingin mendekati Erza sekali lagi, tetapi apa aku bisa?
"Tentu kamu bisa, usahamu akan terbayar Jellal" ucapku menyemangatinya
End flashback..
"Mungkin kamu tidak akan bisa mendekati Erza, Jellal" ucapku seraya memandang langit yang dipenuhi oleh bintang
Aku berhenti berjalan dan menyenderkan diri di sebuah batang pohon, apa yang telah kulakukan, aku mengucapkan sebuah kebohongan padanya, setelah kejadian itu mana mungkin Erza akan menyukai Jellal? Sudah pasti dia akan menyukai Gray, apa benar yang Erza katakan jika usaha Jellal selama beberapa bulan ini sia-sia? Hari Minggu, tanggal 25 Desember ini kuhabiskan dengan penuh penyesalan, sebuah penyesalan yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.
Erza POV
"Terima kasih, bisikanmu barusan benar-benar menenangkan hatiku"
"Sama-sama, lagipula aku tidak pernah melihatmu menangis sebelumnya"
"Aku tidak ingin kamu melihat wajahku yang habis menangis, pasti aku terlihat jelek" ucapku sambil tersenyum
"Tidak kok, kamu tetap terlihat cantik apalagi jika tersenyum, aku suka senyumanmu itu. Kumohon tunjukkan sekali lagi padaku"
"Apa-apaan kamu ini"
"Jangan mendorongku seperti itu"
Untuk sesaat kami bermain dorong-dorongan dan kemudian berhenti. Langit malam sangatlah indah, apalagi aku bisa melihatnya dengan sahabatku. Tiba-tiba saja aku teringat akan sesuatu dan bangkit berdiri, Gray yang saat itu sedang duduk sangat kaget melihatku beranjak berdiri secara tiba-tiba, dia pun ikut berdiri dan bertanya.
"Tiba-tiba kamu beranjak berdiri? Apa kamu ingin pulang?"
"Bukan itu, aku ingin pergi kesuatu tempat"
"Kemana?"
"Kamu pulang duluan saja! Aku harus menyelesaikan masalah ini!"
"Hey!"
"Jadi pada akhirnya, aku tidak bisa mengungkapkan rasa ini padamu" ucap Gray sambil memandang punggung Erza yang terus berlari
Lucy POV
Mataku tidak salah lihat bukan? Itukan Erza, tetapi untuk apa dia berlari secepat itu di malam hari begini? Sepertinya dia menuju suatu tempat, apa mungkin rumah sakit? Tetapi aku tidak yakin sepenuhnya, karena itulah aku memutuskan untuk diam-diam mengikutinya dari belakang.
Ultear POV
"Kondisi Jellal sudah sangat kritis, mungkin dia tidak akan bertahan lama" ucap dokter Makarov sambil menatapku dan Jellal
"Bukannya menyumpahi atau apa, tetapi menurutku Jellal tidak akan bertahan hingga hari esok. Wajahnya terlihat begitu kesakitan" ucapku sambil menatapnya iba
Ada begitu banyak selang yang berada ditubuhnya, mengapa dia harus di siksa ketika ajal akan menjemputnya? Saat-saat menegangkan itu benar-benar membuatku merinding, aku sama sekali tidak berani untuk menatap wajahnya, kualihkan pandanganku darinya dan menatap sebuah vas bunga. Perlahan-lahan aku memperhatikan bunga yang berada di dalam vas tersebut, apa terjadi sebuah keajaiban dalam satu malam? Bunga yang awalnya layu tersebut tiba-tiba saja mekar tanpa kusadari.
Bagaimana itu terjadi aku sama sekali tidak mengerti, sedangkan bunga yang satu lagi layu begitu saja, kelopak demi kelopak terus berguguran dan pada akhirnya bunga itu benar-benar rontok. Setetes air mata keluar dari pelupuk mataku dan mengenai bunga yang telah gugur tersebut.
"Jadi, begini akhirnya? Menyedihkan untukmu, Jellal" ucapku sambil memandang bintang dari jendela
Kedua bunga ini kuibaratkan sebagai Jellal dan Erza, pada awalnya bunga kedua mekar dengan begitu sempurna, berbeda dengan bunga pertama yang masih kuncup dan tak tau kapan mekarnya, akan tetapi sekarang ini keadaan telah berbalik, rupanya Erza sudah menyadari perasaan Jellal terhadapnya, tapi…tapi kenapa…kenapa…aku merasa tidak adil untuk Jellal, andai saja perempuan tak tau diri itu bisa menyadarinya lebih cepat, mungkin tidak akan seperti ini jadinya.
Elektrokardiograf yang berada di sisi kanan Jellal mulai mengeluarkan bunyi-bunyian yang sama sekali tidak ingin kudengar, perlahan-lahan tapi pasti detak jantungnya mulai melemah dan akhirnya…
tut…tut…tut (A/N : Bukan suara telpon atau kereta api loh!)
"Akhir yang buruk…dia belum datang sampai sekarang" gumamku
"Dia meninggal dengan tersenyum, kamu tidak perlu menangisinya" ucap dokter Makarov menghampiriku
"Tapi…tapi…harapan terakhirnya adalah bisa bertemu dengan orang tak tau diri itu, tetapi mengapa tidak terkabul?"
"Kalau sudah begitu mau bagaimana lagi, kita berdoa saja semoga terjadi keajaiban"
Seseorang menggebrak pintu dan kemudian berlari menghampiri Jellal, bukankah dia Erza? Tanyaku sambil menengok kearahnya.
Erza POV
"Tangannya hangat…."
"Jellal belum lama meninggal" ucap seorang wanita dingin kepadaku
"Dia sudah meninggal?"
"Ya, lalu kenapa? Baru merasa menyesal sekarang? Seharusnya sudah dari lama sekali kamu merasa menyesal"
"Ultear, ini bukan saat yang tepat untuk memarahinya" ucap seorang dokter yang berada di sisi wanita itu
"Kalau saja bukan untuk Jellal, aku tidak akan melakukan ini. Terima kasih sudah datang untuk menjenguk di saat-saat terakhir dalam hidupnya, kamu lihat senyum yang terukir diwajahnya itu? Dia sudah menunggu kedatanganmu, Erza. Aku senang kamu datang"
"….."
Kupandangi tanganku untuk sesaat, bukankah tangan kanan ini telah membanting papan tersebut? Pada akhirnya aku mengerti ucapan Lucy tiga minggu lalu, Lucy memang benar, membanting papan tersebut sama saja dengan membanting hatinya. Apa yang telah kulakukan selama ini? Rasa menyesal terus menghantuiku, pada akhirnya aku belum sempat meminta maaf kepadanya ketika dia hidup. Jika sekarang aku meminta maaf, bukankah itu sia-sia?
"Kapan pemakamannya?" tanyaku sambil membalikkan badan
"Besok" ucapnya acuh tak acuh
"Terima kasih"
Sekarang aku tidak bisa mengatakan apapun, mulutku terlalu kaku untuk meminta maaf ataupun berbicara. Aku keluar dari ruangan tersebut dan pulang ke rumahku, rupanya Gray menungguku di depan rumah sakit.
"Anak itu telah tiada bukan?" tanyanya padaku
"Darimana kamu tau?"
"Tergambar jelas diwajahmu, pada akhirnya kamu menyesal"
"Aku tidak mengerti, mengapa penyesalan selalu datang di akhir?"
"Jika datang di awal sepertinya aneh"
"Besok aku akan datang kepemakamannya, kalau kamu mau datang saja"
"Sepertinya aku harus berpikir terlebih dahulu"
Lucy POV
Ini bohongkan? Dari balik tembok aku mendengar percakapan Ultear dengan Erza, aku hanya bisa terdiam dan kemudian memasuki kamar tersebut. Rupanya mereka serius, benar juga, untuk apa berbohong di saat-saat seperti ini.
"Maaf, aku tidak bisa menepati perkataanku. Erza tidak mungkin menyukaimu, dia lebih menyukai Gray. Maafkan perkataanku tadi siang ya?"
"Tadi siang kita baru saja mengobrol, kamu terlihat sehat ketika aku datang menjengukmu, tetapi sekarang kamu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sampai jumpa"
"Dunia memang kejam ya?"
Air mata tidak mau jatuh dari mataku, padahal aku sangat sedih saat ini, mengapa tidak mau turun? Kuusap buliran air tersebut dan kemudian tersenyum untuk mengantar kepergiannya, memang seharusnya begini, dengan begitu dia bisa pergi dengan tenang tanpa mengkhawatirkanku maupun Erza dan juga kakaknya.
"Sampai jumpa di pemakaman, Jellal. Aku turut berduka cita untukmu, Ultear-san" ucapku yang kemudian berlalu
Jam berdentang sebanyak tiga kali, menunjukkan jika sekarang sudah jam dua belas tengah malam. Pergi di tengah malam begini, berhati-hatilah Jellal.
Normal POV
Keesokan harinya…
Hari yang paling menyedihkan bagi mereka semua, tanggal 26 Desember ini, Jellal akan dimakamkan di dalam tanah yang amat dalam. Kebetulan saat itu Erza baru saja datang, bertepatan ketika peti tersebut akan dimasukkan kedalam tanah.
"Ada kata-kata terakhir sebelum Jellal dimakamkan?" tanya Ultear sambil memandang Erza
"Aku…"
"Untuk terakhir kalinya, kumohon balaslah ungkapannya di papan ini" Ultear mengucapakannya sambil menyerahkan sebuah papan yang dipenuhi retakan
Selesai menulis ia pun melemparkan papan tersebut dan di kubur bersama dengan tanah. Setelah berdoa, Erza bermaksud untuk pulang kerumahnya.
"Tidak ingin menghampirinya?" tanya seorang lelaki kepada seseorang di balik pohon
"Erza pasti ingin sendiri untuk saat ini, aku akan mengungkapkannya nanti. Kamu sendiri, kapan ingin menyatakan perasaanmu pada Lucy?"
"Kapan ya? Mungkin setelah dia berhasil melupakan Jellal"
"Mau menunggu?"
"Tentu, aku akan menunggu sampai dia siap, ya…meski kedepannya membutuhkan waktu yang lama"
Natsu dan Gray hanya memandang makam tersebut dari balik pohon, entah karena alasan apa mereka berdua tidak mengunjungi makan Jellal. Ultear sendiri masih berada di sana, memandangi sebuah batu nisan yang bertulisan nama adiknya tercinta.
"Hey kau melihatnya dari surga bukan? Meski perasaanmu tidak terbalas, Erza membalas perjuanganmu, syukurlah, usahamu selama ini tidak sia-sia. Tuhan memang baik…"
Meski kamu membenciku, biarkanlah aku mengucapkan maaf untuk terakhir kalinya. Aku menyukai perjuanganmu, Jellal. Terima kasih sudah mencintaiku meski aku membencimu, terima kasih…
"Walau tidak di jawab, walau nampak kesulitan, bisa jadi Happy. Inilah yang terjadi pada Jellal, meskipun gagal, dia tetap tersenyum untuk terakhir kalinya. Mengingatkanku pada sebuah lagu, bukankah adikku yang bodoh itu memang terinspirasi membuat papan tersebut dari lagu?"
-Papan Penanda Isi Hati-
Tamat
A/N : Yang di garis miring itu kata-kata balasan untuk Jellal, endingnya aneh? Sorry :v Riview aja :v :v Sedih yah… Maaf ya gan, aku jd PHP-in kalian, mw di publish kemarin tp g bs dibuka ffn-nya. Ya udh deh baru bisa hari ini, ak g publish hari Kamis karena lom ada yg riview, udah gitu aja, sekian penjelasan SPJ dr author gaje ini :v :v
