After You Marry Me

A Kyuhyun and Sungmin Story with "Genderswitch Fanfiction"

Remake from "Setelah Kau Menikahiku" by Novia Stephani (Pemenang ke-1 sayembara mengarang cerber femina 2003)

Warning! Genderswitch, TYPO(S), OOC.

.

Summary : Sungmin tak percaya pada lembaga pernikahan, namun tantangan Kyuhyun untuk membuktikannya tak bisa ditolak. Maka mereka pun melakukan simulasi pernikahan.

.

Chapter 2

.

enJOY^^

.

Suaranya bergetar. "Saya bersedia." Dan wajahnya kelihatan sedikit pucat. Berapa lama ia tidur semalam? Apa ia terjaga berjam-jam dalam gelap, memikirkan lelucon terbesarnya, seperti aku yang nyalang nyaris sepanjang malam tadi?

Ibuku meneteskan air mata sementara senyum lebar memenuhi wajahnya. Ibu Kyuhyun, walau menyaksikan dari kursi rodanya, juga tampak bahagia. Kyuhyun juga. Mungkin dengan orang-orang lain. Seharusnya aku juga merasa bahagia. Bukan diam-diam mencatat seperti seorang ilmuwan yang teliti: perasaanku, reaksi para tamu, wangi bunga mawar putih dan wajah Pendeta.

Pendeta menyuruhku mencium suami baruku. (Simulasi, Sungmin, jangan lupa itu. Suami baru simulasi.) Dengan gugup Kyuhyun menggenggam tanganku. Tangannya dingin. Ekspresi wajahnya aneh, kedua matanya gemerlapan dengan rasa takjub saat aku membuka mata yang tak sadar kututup saat ia mengecup kilat bibirku. Ia mengecup dahiku dengan bibirnya yang nyaris putih. Lalu kami berdua kembali menghadap Pendeta untuk mendengarkan petuah beliau. Kyuhyun menunduk menatap pentofel putihnya dan mataku terpaku pada jempol kakiku yang mengintip dari balik gaunku.

Akhirnya kuberanikan diri untuk berbisik, "Kau pucat sekali."

"Aku lapar. Tidak sarapan tadi pagi."

"Terlalu nervous?"

"Telat bangun. Aku menonton bisbol sampai pagi."

Aku tersenyum.

"Bagaimana aku tadi?" bisiknya.

"Meyakinkan."

Ah~ Kyuhyun, Kyuhyun. Menikah dengannya tidak akan pernah membosankan. Simulasi. Menikah simulasi dengannya tidak akan membosankan, koreksiku.

.

Tiga hari pertamaku sebagai istri Kyuhyun -simulasi- kulewatkan di rumahku sendiri. Tiga hari berikutnya dilewatkan di rumah Kyuhyun, karena kondisi ibunya yang memang telah sangat lama sakit, memburuk, mungkin karena ketegangan yang disebabkan persiapan acara pernikahanku dengan Kyuhyun. Pada hari ketujuh kami pindah ke apartemen milik Kyuhyun sendiri. Dan setelah seharian menata perabotan, memasang tirai dan beragam pajangan, malam itu kami lewati dengan tidur.

Esok paginya, aku terbangun karena mendengar suara-suara di dapur. Aku menemukan Kyuhyun di sana sedang membuat omelet, sementara di atas meja terhidang sepoci kopi yang harumnya menggoda.

"Aku ada rapat pukul setengah delapan," seru Kyuhyun sambil mengangkat omeletnya dan menghidangkannya di piring. "Aku mesti berangkat sebelum setengah enam."

Ku cicipi omelet buatannya. "Aku tidak tahu kau pintar memasak."

Ia hanya mengendikan bahu lebarnya.

"Kalau kau mau menangani urusan masak, aku akan memperbaiki keran dan genting bocor, plus membabat rumput."

Kyuhyun terbahak. "Ini hanya sekali-sekali, Ming. Aku tidak mungkin masak setiap pagi."

"Apalagi aku. Kita perlu cari pembantu."

"Jangan," Kyuhyun menggeleng. "Ia pasti curiga kalau melihat kita tidur di kamar berbeda."

"Jadi?"

Kyuhyun menggaruk kepalanya. "Bisakah kau masak nasi setiap hari?" pintanya."Aku punya rice cooker."

Kutatap wajahnya. Dalam hati aku berpikir, haruskah? Ini hanya sebuah permainan. Tidakkah Kyuhyun akan jadi besar kepala kalau aku mematuhinya? Tapi di lain pihak, kalau aku benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya jadi seorang istri, mungkin ada baiknya aku mengikuti keinginannya.

"Kalau kau mau membawakan lauk dan sayur bergantian denganku, baik."

Ia tersenyum dan beranjak dari meja dan kembali dengan sebuah bolpoin merah. Dilingkarinya tanggal hari itu di kalender yang tergantung di dinding dapur.

"Hari pertama kita menyelesaikan suatu masalah dengan musyawarah keluarga," katanya saat kembali ke kursinya.

"Masih banyak detil-detil seperti ini yang mesti kita sepakati," lanjutnya. "Misalnya, aku ingin kau beri tahu aku jika kau akan pulang terlambat."

Dahiku berkerut. "Untuk apa?"

"Apa kau tidak melapor pada orang tuamu jika kau akan pulang terlambat?"

Aku menggeleng. "Ibuku sudah percaya bahwa aku bisa menjaga diriku sendiri dan tidak akan melakukan hal-hal yang bodoh."

"Tapi aku suamimu. Simulasi memang. Aku perlu tahu kenapa dan di mana kau kalau pulang terlambat."

"Kau kedengaran seperti diktator."

"Kurasa aku tidak minta terlalu banyak."

"Itu terlalu banyak untukku."

Kyuhyun meletakkan sendoknya dan menatapku dengan mata menyala. Aku lupa kapan terakhir kali aku melihatnya marah. Tapi aku yakin aku tak salah membaca gelagatnya kali ini. Ia benar-benar marah.

"Ingat," lanjutku hati-hati. "Aku bukan benar-benar istrimu. Kau tidak punya hak untuk mengaturku seperti itu."

Ia menunduk lama sekali, tangannya terkepal, buku-buku jarinya memutih. Dan ruang makan itu menjadi sangat sunyi senyap. "Baik. Jika itu maumu" desisnya kemudian.

Kami melanjutkan sarapan dalam diam. Aku ingin mengatakan bahwa aku sama sekali tidak menduga permainan itu akan membuat persahabatanku dengan Kyuhyun memburuk. Tapi aku tak berani mengungkapkan itu. Aku yakin Kyuhyun akan semakin berang karenanya.

Kyuhyun meninggalkan meja tanpa mengatakan apa-apa dan pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap ke kantor. Tak lama ia kembali menemui ku di ruang makan. "Aku pergi, Ming," katanya dingin.

Aku bangkit dari meja menghampirinya, berniat untuk memperbaiki situasi. "Sebagian teman-temanku menyarankan ini, kurasa tak ada salahnya untuk kucoba," ujarku seraya perlahan merapikan -meskipun sudah rapi- simpulan dasi biru tua bergaris kuning yang dipakainya. "Sudah rapi. Hati-hati di jalan dan selamat bekerja," lanjutku tersenyum canggung. "Oh, ya. Mereka bilang kau harus mencium keningku."

Ia membungkuk dan menyapu keningku dengan bibirnya yang terkatup dan berlalu tanpa mengucapkan apa-apa lagi.

Dasar tidak tahu terima kasih!

.

Aku sengaja pulang terlambat malam itu. Dalam perjalanan pulang kusinggahi suatu kafe yang belum pernah kukunjungi, sebagian untuk memperoleh kesendirian dan sebagian untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang pasti diberondongkan teman-teman yang biasa bersamaku menghabiskan sore hari.

Perasaanku gundah. Rasa bersalah dan kesal berkecamuk di dadaku. Aku tahu Kyuhyun telah banyak berkorban untuk permainan ini. Tapi walau aku sungguh-sungguh ingin mempelajari bagaimana rasanya menjadi seorang istri, mesti kuakui bahwa aku belum terbiasa menganggap Kyuhyun sebagai suamiku. Bagiku, ia hanya masih seorang sahabat. Dan seorang sahabat tidak boleh menuntut terlalu banyak.

Mataku tertaut pada cincin berlian bermata sapphire blue mungil yang disisipkan Kyuhyun di jari manisku selepas kami mengucap janji di altar. Ini hanya permainan, batinku. Tapi dalam permainan ini, Kyuhyun adalah suamiku. Dan sebagai suamiku, tuntutannya wajar. Jika aku lantas tidak suka dengan keterbatasannya, itu hanya satu pelajaran pertama dari permainan ini.

Kupejamkan mataku dan kutarik napas dalam-dalam. Aku benci kekalahan. Tapi kali ini aku mengalah, bukan kalah. Aku akan belajar satu hal dari semua ini. Bagaimana mengesampingkan keakuan dan memilih kebersamaan. Getir memang. Aku yakin Kyuhyun akan menertawaiku. Jika ia tidak marah-marah dulu.

.

Alangkah terkejutnya aku mendapati apartemen gelap dan kosong. Sudah pukul setengah dua belas malam dan Kyuhyun belum pulang? Kucoba menghubungi ponselnya dan hanya mendapati mailbox.

Dengan menggunakan berbagai tipu daya, memperhitungkan lemahnya kondisi ibu mertuaku, kutelepon rumahnya. Aku bahkan mencoba mengontak kantornya, tanpa hasil. Kyuhyun tidak ada di mana-mana. Inikah balasannya atas penolakanku tadi pagi? Kekanak-kanakan sekali!

Tapi tak urung dengan melarutnya malam, aku jadi semakin cemas. Apalagi hingga pagi Kyuhyun tidak kembali. Ia bahkan tidak pergi ke kantor. Aku minta izin pulang setengah jam lebih awal dengan dalih yang dibuat-buat. Tapi saat aku tiba di rumah, Kyuhyun tetap tidak ada.

Malam itu kulewatkan di sisi telepon, berpikir untuk menghubungi polisi dan rumah sakit. Pukul tiga telepon berdering. Bermacam-macam kengerian terlintas di benakku saat aku mengangkat receiver.

"Ming."

"Kyuhyun?" jeritku. "Kau di mana?"

"Ming, aku minta maaf karena marah dan minggat begitu saja. Boleh aku pulang?"

"Kyuhyun, ini apartemenmu!" Meskipun aku tersenyum, air mata kelegaan mulai meleleh di pipiku. "Kau di mana?"

"Diluar."

"Diluar apartemen?"

"Ya. Dan aku lapar."

"Oh, Tuhan..."

Aku berlari keluar apartemen, kulihat Kyuhyun berdiri persis di depan pintu. Entah sudah berapa lama ia di sana.

"Kau keterlaluan! Aku sudah berpikir untuk menelepon kantor polisi!" teriakku kepadanya.

"Aku juga rindu padamu!" balas Kyuhyun tertawa. Dan mataku rasanya semakin perih melihat tawanya lagi.

"Di mana saja kau dua hari ini?"

"Di hotel kecil dekat kantor."

.

Ia baru saja menghabiskan piring ketiga beef bulgogi kesukaannya. Ia tidak berkomentar ketika melihat bahwa aku sudah membeli semua makanan kegemarannya. Ia hanya makan dua kali lebih lahap.

"Kenapa kau akhirnya memutuskan untuk pulang?" suaraku bergetar.

"Aku perlu baju bersih," ia tertawa malu. "Laundry hotel mahal sekali."

Saat ia mencuci piring makannya dengan punggungnya ke arahku, ia menyambung, "Selain itu , aku khawatir karena kau sendirian di sini."

Dan dadaku tiba-tiba terasa ngilu. "Aku akan pulang terlambat besok," ucapku perlahan. "Aku harus lembur. Dikejar deadline."

Ia berhenti membilas piring dan aku tahu ia berbalik menatapku. Tapi mataku terpaku pada es krim di hadapanku.

"Oke," katanya. "Kau keberatan kalau aku makan malam duluan?"

"Asal kau sisakan cukup untukku," aku tersenyum.

.

Paginya kulihat lingkaran merah kedua di kalender.

Aku bisa mentolerir kebiasaan Kyuhyun membiarkan koran yang telah dibacanya berserakan di ruang tamu. Aku bisa memaklumi kegemarannya menonton film action -genre yang paling tidak kuminati, dan bisbol -olahraga yang menurutku amat membosankan. Aku bahkan bisa memaafkan kebiasaannya mengeluarkan pasta gigi dengan memencet bagian tengah tubenya, tidak dari bawah seperti yang biasa kulakukan.

Hanya satu yang aku belum sanggup terima. Caranya menghabiskan akhir pekannya. Setiap Minggu pagi ia berangkat sebelum pukul enam untuk bermain bisbol dengan teman-temannya, dan sorenya, sekitar pukul setengah empat, ia pergi memancing. Untukku yang selalu menghabiskan waktu luang dengan pergi dari satu galeri ke galeri lain, dari satu pameran lukisan ke yang lain, dari mal ke mal, dan berakhir dengan acara makan-makan, kebiasaan Kyuhyun itu sama sekali tidak bisa tak sanggup menontonnya bermain bisbol atau menemaninya memancing, karena aku dengan sangat cepat akan merasa jemu.

Sebulan pertama aku berusaha mengerti. Ia selalu pulang dengan mata berbinar hingga aku tak tega mengeluh dan protes. Tapi di pekan kelima kesabaranku tandas, dan pagi itu, saat ia tengah memasukkan botol air minum dan kotak rotinya ke dalam tas, aku memintanya untuk tidak memancing.

"Temani aku jalan-jalan ke mal sore ini," pintaku.

"Kau kan bisa pergi sendiri," katanya sambil memasukkan kaus bersih dan handuk kecil.

"Seingatku kau berjanji untuk selalu menggandeng tanganku ke manapun."

"Aku tidak bisa mangkir memancing hari ini, Ming," ia masih tetap tak memandang ke arahku, sibuk dengan sepatunya. "Aku sudah berjanji dengan teman-temanku untuk mencoba tempat memancing baru."

"Kau bisa mencobanya minggu depan."

"Tadi malam tidak ada bulan, Ming. Ikan-ikan akan sangat rakus hari ini," ia tersenyum sambil melompat-lompat dengan sepatu barunya.

"Aku bisa memecahkan rekor sepuluh kilo sore nanti!"

"Minggu depan voucher diskon salonku sudah tidak berlaku lagi," gumamku.

"Pakai voucher dariku saja," sahutnya ringan sambil mulai lari-lari di tempat. "Berapa diskon yang kau dapat dengan voucher itu? Kalau kuberi dua ribu won cukup?"

"Kyuhyun! Itu hanya cukup untuk membeli minum selama di salon."

"Aku bisa cukur rambut plus dipijat plus minum kopi dengan dua ribu won."

"Oh, Tuhan!"

Kyuhyun berhenti berlari-lari dan berdiri di hadapanku dengan tangan di pinggang. "Ming, kau sudah cantik begini. Tidak perlu ke salon lagi."

"Aku sudah cukup yakin dengan kecantikan, terima kasih. Yang aku butuh hanya keluar dari rutinitas harianku, dan aku memilih melakukannya dengan jalan-jalan."

"Jadi? Apa yang kau tunggu? Pergilah. Aku tidak melarangmu. Kalau kau bawakan aku oleh-oleh, aku akan lebih tidak keberatan."

"Ini bukan masalah kau melarang atau tidak, Kyu. Apa enaknya jalan-jalan sendirian? Aku perlu teman."

"Kalau begitu ajaklah teman-temanmu."

"Sudah. Mereka punya acara sendiri-sendiri. Dengan suami-suami mereka."

Kyuhyun mengerutkan keningnya. "Kau mau melewatkan hari Minggu denganku?"

"Ya!"

"Kenapa tidak bilang dari tadi. Tentu saja kau boleh ikut ke lapangan bisbol lagi. Aku akan senang kalau kau ada di sana."

"Kyuhyun!" jeritku. "Kau ini buta, tuli atau imbesil sih? Kau tahu aku benci bisbol dan lebih benci lagi memancing!"

Mata Kyuhyun menyipit. "Dan kau tahu aku alergi jalan-jalan ke mal," desisnya.

"Kupikir sudah waktunya kau mengalah sekali-sekali."

"Mengalah!" suaranya meninggi. "Apa aku masih kurang mengalah selama ini? Ming, kau sudah menyita enam kali dua puluh empat jam waktuku, apa kau tidak bisa memberiku..."

"Enam kali dua puluh empat? Enam kali dua! Kita hanya benar-benar bertemu dan bicara satu jam saat sarapan dan satu jam waktu makan malam!"

"Kita bisa mengobrol lebih banyak kalau kau mau lebih banyak melewatkan waktu denganku! Tapi tidak! Kau lebih memilih mengurung diri di kamar dengan Pavarotti dan Flamingo..."

"Placido Dom ingo! Maaf, Kyu, waktuku terlalu berharga untuk dipakai menyaksikan orang-orang saling membunuh tiap dua menit atau delapan belas orang saling memperebutkan satu bola kecil!"

"Setidaknya itu lebih jujur dan bisa dimengerti dari film-filmmu yang becek air mata itu!"

"Kau kekanak-kanakan!"

"Dan kau, Tuan Putri, kau egois!"

Ia menyambar tasnya dan melangkah lebar-lebar keluar apartemen. Aku beranjak ke ruang makan dan menggebrak meja dengan keras.

Seperti inikah perasaan para istri setelah bertengkar dengan suaminya? Dadaku sesak dan kepalaku sakit. Aku benci menjadi cengeng, tapi air mata kecewa mulai membuat mataku pedih. Aku sama sekali tidak mengira sesuatu seperti ini terjadi padaku. Aku tahu Kyuhyun melakukan semua ini, simulasi ini, untukku, tapi selama ini aku tidak pernah menuntut apa pun darinya. Sebaliknya, aku telah berkorban banyak sekali sejak aku menikah -simulasi- dengannya, mengurangi jadwal clubbing-ku, pulang dari kantor sesegera mungkin, memperhitungkan apa ia akan menyukai makanan yang kubeli. Apa ia telah berbuat sama banyaknya untukku?

Tidak! Kubuka lemari es dan kukeluarkan satu kotak es krim cokelat kesukaanku.

Pagi itu kulewatkan di depan televisi, menyaksikan film melankolis, air mataku kubiarkan meleleh tanpa henti, dan sekotak es krim itu pun habis tanpa terasa. Kyuhyun kembali pukul setengah sebelas, masih cemberut. Ia langsung mandi dan tak lama kemudian kembali ke ruang duduk sudah rapi dengan t-shirt putih an celana jins.

"Kalau kau mau ke mal, aku sarankan kau mandi dan dandan sedikit," katanya.

"Aku tidak mau pergi ke mal."

"Kau bilang tadi pagi..."

"Aku tidak mau merepotkanmu. Aku tidak mau kau gatal-gatal karena alergimu kumat."

"Ming, kalau kita tidak pergi sekarang, kita bisa pulang terlalu sore. Aku ada janji jam empat..."

"Aku bilang aku tidak mau ke mal! Kau bisa pergi memancing sekarang kalau kau mau."

"Jangan seperti anak kecil begini, Ming," geramnya. "Ayo!"

"Tidak! Dan kalau kau marah dan mau minggat seperti dulu lagi, silakan!"

Wajah Kyuhyun benar-benar merah sekarang. "Sungmin! Jangan main-main denganku! Aku tidak mau kau menolak pergi jalan-jalan lalu menghukumku dengan cemberut sepanjang hari begini. Mandi sekarang. Kita pergi setengah jam lagi."

"Aku bukan budakmu. Jangan suruh-suruh aku. Dan aku tetap tak mau pergi."

"Oke. Terserah! Kalau kau mau duduk di sini seharian, makan es krim dan cokelat sambil mengasihani diri sendiri dan melar dan melar dan melar dan melar..."

"Kyuhyun!" jeritku sambil melempar kotak es krim itu ke arahnya. Ia terlambat mengelak dan sisa es krim yang telah mencair melumuri t-shirt putihnya. Aku berlari ke kamarku, membanting pintunya dan melempar diri ke ranjang, sesegukan.

Kudengar ia memaki dan menendang pintu. Saat itu aku takut, takut sekali. Ia seperti telah menjadi manusia lain yang tak kukenali sama sekali, asing dan mengerikan. Kututup telingaku dengan bantal dan aku terus menangis hingga tenggorokanku yang sakit dan kepalaku yang berat memaksaku tertidur kelelahan.

.

.

.

.

.

TBC

.

Chapter 2 datang~

Tengkyuuu buat JOYers yg masi pada bertahan, walopun yg review nggak sebanding sama viewers aku tetep bersyukur masi ada yg mau baca :)

.

Last, review more?