After You Marry Me
A Kyuhyun and Sungmin Story with "Genderswitch Fanfiction"
Remake from "Setelah Kau Menikahiku" by Novia Stephani (Pemenang ke-1 sayembara mengarang cerber femina 2003)
Warning! Genderswitch, TYPO(S), OOC.
.
Summary : Sungmin tak percaya pada lembaga pernikahan, namun tantangan Kyuhyun untuk membuktikannya tak bisa ditolak. Maka mereka pun melakukan simulasi pernikahan.
.
Chapter 3
.
enJOY^^
.
Sorenya aku keluar mengendap-endap. Kyuhyun pasti telah pergi memancing. Memikirkan bahwa ia pergi sementara aku masih menangis karena kata-kata kasarnya membuatku semakin marah kepadanya. Kali ini aku yakin tak ada pilihan lain kecuali meninggalkannya dan kembali ke rumah orang tuaku. Maka selesai mandi aku segera memasukkan semua pakaianku ke dalam kopor. Saat itu Kyuhyun datang. Ia kedengaran sangat gembira, bersiul-siul sejak ia memasuki pintu apartemen. Siulannya berhenti saat ia melihat koporku dari pintu kamar yang terkuak.
"Apa-apaan ini, Ming?" tanyanya.
"Aku akan pulang ke rumah Eomma."
Ia masuk dan duduk di atas kasurku, mengawasi gerak-gerikku.
"Semudah ini kau menyerah?"
"Ini di luar dugaanku."
"Apa?"
"Aku tidak mengira aku menikahi monster."
Kyuhyun terdiam, menunduk.
"Aku...," katanya lirih. "Aku bawa pizza kesukaanmu."
"Aku sudah terlalu gemuk."
Ia menggeleng dengan ekspresi bersalah. "Tidak, kau cantik."
"Aku tidak butuh pendapatmu. Kau bukan suamiku, ingat? Penilaianmu tidak punya arti apa-apa."
"Aku sudah mencoba untuk menjadi suami yang baik."
"Kau gagal."
"Setidaknya aku mencoba. Kau...kau tidak melakukan apapun supaya pernikahan kita berhasil..."
"Simulasi."
Ia menghela napas panjang dan mengangguk singkat. "Simulasi."
"Kau salah, Kyu. Aku sudah melakukan terlalu banyak. Sudah belajar terlalu banyak. Dan aku sudah mengambil keputusan. Aku tidak akan menikah. Aku tidak suka menikah. Apalagi denganmu."
Ia tak mengatakan apa-apa, lama sekali. Ketika ia keluar dari kamarku, aku ambruk ke atas tempat tidur. Semua topeng ketegaranku hancur berkeping-keping. Aku tak pernah menduga Kyuhyun bisa menyakitiku sehebat ini.
Setelah aku bisa sedikit menguasai diri, aku bangkit. Kurapikan dandananku dan kuseret koporku keluar.
"Setidaknya tunggulah sampai hujan reda," suara Kyuhyun menyambutku.
"Terlalu lama," gumamku. "Aku tidak bisa tinggal denganmu selama itu."
Aku tak peduli hujan yang serta merta mengguyurku mobilku saat keluar dari basement gedung apartemen. Meninggalkan Kyuhyun secepatnya, hanya itu yang ada dibenakku. Dan ketika mobilku mulai tersendat terendam genangan air hujan hanya lima puluh meter dari gedung apartemen itu, aku begitu berang dan putus asa hingga aku keluar dari mobil dan menendang pintunya, meninju atapnya, air mataku larut dalam siraman hujan.
Saat itu aku melihat Kyuhyun datang. Tanpa mengatakan apa-apa ia mencabut kunci mobilku dan mengunci mobil itu dari luar.
"Ayo pulang," katanya.
Aku menggeleng tanpa berani menatap wajahnya. Dan ia mengangkatku, menggendongku, tanpa menghiraukan perlawananku. Ia membopongku memasuki gedung, melewati lobby tanpa menghiraukan pandangan orang lain yang kami temui. Hingga di dalam lift sampai di apartemen lagi, ia tak memberiku kesempatan untuk melarikan diri.
Setiba di dalam apartemen, ia mengunci pintu dan menyimpan kuncinya di saku.
"Ganti bajumu," katanya.
"Semua bajuku di dalam kopor."
"Ambil bajuku."
"Tidak akan pernah!"
Ia mencengkeram pergelangan tanganku dan menatapku lurus dengan mata berkobar,"Ini bukan waktunya melawanku, Ming. Kau bisa sakit!"
"Monster," desisku.
.
Malam itu suhu tubuhku menanjak naik, kepalaku sakit dan tenggorokanku terasa nyeri. Aku masih ingat saat Kyuhyun menyuruhku menelan sebutir tablet penurun panas dan aku membangkang. Ketika Oppaku datang untuk memeriksa keadaanku, aku masih bisa menangis dan merengek meminta diantar pulang ke rumah orang tuaku. Setelah itu semuanya kabur.
Kesadaranku kembali dalam kelebatan-kelebatan singkat. Ketika aku terjaga dan menemukan Kyuhyun tengah mengganti kain kompres di dahiku, sentuhannya begitu sejuk dan menenteramkan. Ketika aku tiba-tiba tersentak dari salah satu mimpi burukku dan mendapati Kyuhyun tengah membersihkan ceceran muntahku di lantai. Ketika aku terbangun dari tidurku yang gelisah dan merasakan tangannya erat menggenggam hemariku.
Hingga akhirnya, entah setelah berapa lama, aku terbangun dan nyala api dalam kepala dan dadaku telah padam. Jendela kamarku terbuka dan cahaya matahari hangat menerobos masuk, membawa aroma mawar putih dari rumpun di luar kamarku. Ibuku tengah duduk di dekat jendela, membaca.
"Eomma."
Ibu menurunkan korannya. Senyumnya mengembang saat ia menghampiriku."Bagaimana? Sudah lebih baik?"
"Kyuhyun mana?" bisikku. Ah, pertanyaan bodoh. Mungkin seharusnya aku bertanya di mana aku sekarang atau setidaknya siapa namaku. Kenapa pertanyaan pertamaku harus tentang Kyuhyun? Rutukku pada diri sendiri.
"Masih di kantor. Sebentar lagi juga pulang."
Aku sakit dan dia pergi ke kantor. Suami teladan.
"Eomma sudah berapa lama di sini?"
"Dari pagi. Kau tidak ingat Eomma datang pagi tadi?"
Aku mencoba menggeleng dan kepalaku serta merta terbelah tiga. Tapi yang paling menyakitkanku adalah, Kyuhyun sama sekali tak peduli aku sakit. Aku berbalik dan memejamkan mata. Air mataku yang panas luruh satu-satu.
.
Sore itu ketika Kyuhyun pulang, aku berpura-pura tidur. Aku sama sekali belum siap untuk bicara lagi dengannya. "Bagaimana, Eommoni?" tanyanya, suaranya mendekati tempat tidurku. Dan kemudian tangannya hinggap di dahiku, sejuk dan membawa ketenangan. Dengan punggung tangannya ia menyentuh leherku, dan kalaupun aku sanggup menepiskan tangannya dengan tenagaku yang nyaris nihil, aku tak akan mau melakukannya.
"Tadi bangun sebentar, menanyakanmu. Lalu tidur lagi. Tapi panasnya sudah turun dan tadi siang sudah mau minum susu."
Tangan Kyuhyun berpindah ke bahuku dan mulai memijat dengan lembut. Jangan berhenti, jangan berhenti, jangan berhenti, pintaku dalam hati. Tapi ia bangkit dan merapikan selimutku sambil terus bicara dengan ibuku.
"Jika Eommoni lelah, Eommoni bisa ambil cuti besok."
Ibu tertawa kecil. "Kau sendiri? Kau tidak tidur entah berapa malam dan kau mengerjakan semuanya. Mencuci, membersihkan rumah, mengurus Sungminnie. Apa kau juga tidak lelah?"
"Saya pakai baterai Energizer, Eommoni."
Ibu tertawa lagi, "Kyuhyun, Kyuhyun. Kau mesti istirahat juga. Jika kau sakit, Eommoni tidak yakin Sungminnie bisa mengurusmu sesabar kau merawat dia."
Eomma! Kyuhyun itu hanya menantu Eomma! Cuma simulasi pula!
"Sudah tanggung jawab saya, Eommoni."
Alangkah klisenya!
Sunyi. "Kau betul-betul tidak butuh bantuan Eommoni?"
"Terima kasih. Kalau ada apa-apa, saya pasti telepon Eommoni lagi."
"Baiklah kalau begitu. Kau tinggal menyuapinya nanti malam, jangan lupa obatnya. Jika ia mau, Eommoni sudah masak bubur di dapur. Jika tidak, beri saja apa yang dia mau."
"Ne, Eommoni."
"Dan jangan tidak tidur lagi nanti malam. Sungminnie sudah lebih baik."
"Baik, Emmoni."
Dan saat itu juga aku bersumpah akan membuat malam itu mimpi buruk untuknya. Aku ingin menghukumnya karena kata-katanya yang menyakiti perasaanku. Aku ingin menghukumnya karena ia melukai harga diriku. Dan aku ingin menghukumnya karena ia membuatku benci pada diriku sendiri. Ia yang membuatku sakit dan entah berapa lama tak berdaya, bahkan terpaksa membiarkannya mengurusku seperti bayi. Ia harus membayar untuk semua penghinaan itu. Aku benci, sangat benci padanya.
Aku membuat segalanya sangat sulit untuk Kyuhyun malam itu. Aku memberontak saat ia mencoba menyuapiku. Aku menolak saat ia memintaku meminum obat. Aku memintanya membuka jendela karena aku kepanasan, lalu menutupnya lagi, karena aku kedinginan, lalu membuka lagi, menutup lagi entah berapa belas kali. Aku memintanya membuatkanku susu yang tidak kuminum, merebuskan ramyun yang tidak kumakan, menyiapkan roti yang kubuang ke lantai, mengupaskan apel yang kubiarkan di meja hingga berubah coklat dan memasakkan omelet yang hanya ku cuil sedikit.
Pijatannya di kakiku terlalu keras, terlalu lembek, terlalu kasar, tidak terasa. Dan saat ia mulai terkantuk-kantuk di kursi, aku membangunkannya untuk menyalakan televisi agar aku bisa menyuruhnya mengganti saluran tiap kali ia mulai mengangguk terlelap.
Semua itu akan membuatku sangat puas kalau saja Kyuhyun mau menolak, memprotes, mengeluh, atau bahkan marah dan memakiku seperti dulu. Tapi ia sama sekali tidak mengeluh, tidak membantah. Kesabarannya merusak segalanya. Semakin lama aku semakin menyadari kelembutan dalam suaranya -yang hanya bisa lahir dari kekhawatiran- dan kelelahan di matanya -yang aku tahu hanya bisa datang dari keputusasaan.
Aku dibuatnya merasa bersalah, karena aku sadar ia juga tengah menyalahkan dirinya sendiri, menghukum dirinya sendiri, mungkin lebih berat dari yang kulakukan. Dan kebencianku justru musnah dan berganti dengan rasa kasihan, sesuatu yang sama sekali tak kuharapkan, tapi tak bisa kuelakkan.
.
Menjelang fajar, saat mengawasinya tertidur meringkuk di kursi, aku mengingat lagi pertengkaran yang menerbitkan kebencian itu. Aku mengulang lagi setiap kalimat yang kuucapkan, dan aku tiba-tiba merasa malu. Kenapa semuanya harus terjadi hanya karena sesuatu seremeh itu.
Selama lima belas tahun persahabatanku dengan Kyuhyun, hobi dan kegemarannya tak pernah membuatku merasa terganggu. Masih banyak hal lain yang menyenangkan darinya. Kenapa aku sampai bisa melupakan itu dan membiarkan kemarahan sesaat membutakanku?
Aku tahu permintaanku wajar. Aku tahu aku berhak meminta Kyuhyun menemaniku ke manapun. Dan ia juga sama bersalahnya denganku karena mengobarkan pertengkaran konyol itu. Hanya saja ia lebih berbesar hati untuk menyingkirkan pertengkaran itu sementara aku justru memupuk dendam dan benci padanya. Jadi siapa sebenarnya pemenang dalam kontes kedewasaan ini?
.
Ketika aku terbangun esok paginya, Kyuhyun menyambutku dengan baki sarapan pagi dan senyum lebar. Ia membantuku ke kamar mandi dan aku tidak memprotes ketika ia memintaku untuk tidak mengunci pintu. Ia telah menyediakan bangku di dekat wastafel agar aku tak perlu berdiri saat menggosok gigi. Di rak ia telah menyediakan pakaian bersih untukku dan bahkan meletakkan bedak dan sisirku, hingga saat aku keluar dari kamar mandi, aku merasa jauh lebih segar dan hidup.
Ketika aku kembali ke kamar, aku melihat spraiku telah berganti, mejaku telah rapi kembali dan bunga di dalam vas di atas meja nakas dekat tempat tidurku telah beraganti dengan yang baru. Ketika Kyuhyun duduk di pinggir ranjangku, menambahkan gula pada susu cokelatku dan mengupaskan telur sarapan pagiku, aku hampir menangis karena terharu.
"Kau tidak ke kantor? " tanyaku mencoba membuka percakapan; kata-kata ramah pertama yang kuucapkan padanya setelah pertengkaran kami.
"Ini hari Minggu, Ming."
"Aku sudah sakit selama seminggu?" bisikku tak percaya.
"Ya," Kyuhyun tersenyum." Tapi aku senang kau sudah sembuh sekarang. Aku tidak bisa tenang di kantor karena memikirkanmu."
"Eommaku kan di sini."
"Ya. Aku terpaksa memintanya datang. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaanku minggu lalu. Maaf."
Aku menunduk, bersembunyi dari ketulusan di matanya. Kulirik jam di atas meja nakasku. Pukul setengah delapan pagi. "Tidak bermain bisbol?" Ia menggeleng sambil mengolesi sepotong roti lagi dengan selai nanas.
"Aku mau memberi kesempatan pada Shindong. Sudah dua bulan dia hanya duduk di bangku cadangan." Aku tersenyum.
"Dia kurang berani memukul, tidak sekencang aku. Maklum agak gemuk. Tapi, siapa tahu," ia mengangkat bahu dan tersenyum.
"Kau mau pergi memancing nanti sore?" Ia menggeleng lagi.
"Kenapa?"
"Aku harus memberi kesempatan ikan-ikan itu berkembang biak, Ming. Jika terus aku tangkapi, mereka bisa punah."
"Jika kau memancing lagi, tolong sampaikan terima kasihku kepada mereka, ya."
"Terima kasih untuk apa?"
Untuk menunjukkan sisi lain dari Kyuhyun yang tidak kuketahui sebelumnya, batinku. Tapi yang keluar dari mulutku adalah, "Karena meminjamkanmu untukku hari ini."
Senyum Kyuhyun serta merta surut. Ia mengulurkan tangannya dan disentuhnya lenganku. "Lain kali kalau kau ingin kuantar ke manapun, bisakah kau bilang minimal sehari sebelumnya? Bukannya aku tidak mau, tapi kalau aku sudah berjanji dengan teman-temanku, aku tidak bisa begitu saja membatalkannya kan?"
Aku mengangguk dengan leher tersumbat.
"Aku juga janji tidak akan sering menonton film action lagi," katanya kemudian. "Kita memang perlu mengobrol lebih sering. Jangan menangis, Ming. Nanti air jerukmu asin."
.
.
.
"Selamat ulang tahun, Ming."
Aku terlonjak duduk dan menyalakan lampu. "Kyuhyun! Untuk apa kau sepagi ini di kamarku!"
"Memberimu selamat ulang tahun," jawabnya polos. Dan ia bangkit dari kursinya di sisi tempat tidur kemudian menarikku hingga berdiri. "Ayo! Aku ingin menunjukkan hadiah ulang tahunmu dariku!"
Ia menyeretku ke ruang kerja dan menyuruhku duduk di depan komputerku. Ada dua komputer di ruangan itu, satu milik Kyuhyun, yang sarat dengan berbagai programming software yang digunakannya untuk bekerja. Dan satu lagi milikku, lebih sederhana dan tidak secanggih milik Kyuhyun.
Kyuhyun menyalakan komputerku dan duduk di sebelahku dengan mata berbinar. Sambil tersenyum geli, aku mencoba menebak apa yang telah disiapkan Kyuhyun untukku. Pisi? Personal website, dengan foto dan lagu? Aku menggeleng dalam hati, Kyuhyun tidak cukup romantis untuk itu.
"Kau lihat?" Kyuhyun memotong renunganku.
"Apa?"
"Hadiahku."
Keningku berkerut. Tidak ada yang berbeda dengan tampilan komputer itu. Dengan ragu kuraih mouse dan mengklik tombol Start. Tidak ada yang berubah. Tapi Kyuhyun kentara sekali menjadi semakin antusias. Setelah membuka file-fileku dan sekali lagi tidak menemukan apa pun, aku berpaling pada Kyuhyun dengan ekspresi tak berdaya.
"Kau tidak menemukannya?" tanya Kyuhyun, dengan setitik kecewa dalam suaranya. Aku menggeleng.
"Aku menambah memori komputermu," akunya kemudian. Dan melihat raut wajahku yang tak berubah, ia menambahkan. "Komputermu sekarang bisa bekerja lebih cepat."
Aku ingin sekali berbagi kegembiraannya. Ia terlihat begitu bangga dengan hadiahnya, setidaknya beberapa detik yang lalu, sebelum ia sadar bahwa aku kecewa.
"Oh," hanya itu yang bisa kukatakan. "Terima kasih."
"Kau boleh memelukku kalau mau," katanya tersenyum dan membentangkan kedua tangannya. Kupukul lengannya dan tertawa. Dan pagi itu berlalu seperti hari-hari kemarin.
.
Di kantor teman-temanku menyambutku dengan ucapan selamat dan senyum pernuh arti. Ketika aku memasuki ruang kerjaku, aku mengerti kenapa mereka tampak seperti menyembunyikan sesuatu. Di meja kerjaku ada sebuah kotak panjang dengan tutup selofan. Setangkai mawar putih. Sesaat jantungku rasanya berhenti berdenyut.
Hati-hati kuambil kartu yang menempel pada kotak itu, lupa seketika pada teman-temanku yang pasti mengawasi lewat kaca ruang kerjaku.
'Selamat ulang tahun. Masih ingatkah kau kepadaku? Jika ya, aku menunggu di tempat biasa.'
Mungkinkah?
Aku keluar untuk makan siang lebih awal, mengabaikan godaan teman-temanku yang tak kenal ampun.
.
.
.
.
.
TBC
Chapter 3 dataaanggg~ monggo dinikmati~ :)
Sekali lagi terimakasih untuk view n' review-nya :))
.
Review more?
