After You Marry Me
A Kyuhyun and Sungmin Story with "Genderswitch Fanfiction"
Remake from "Setelah Kau Menikahiku" by Novia Stephani (Pemenang ke-1 sayembara mengarang cerber femina 2003)
Warning! Genderswitch, TYPO(S), OOC.
.
Summary : Sungmin tak percaya pada lembaga pernikahan, namun tantangan Kyuhyun untuk membuktikannya tak bisa ditolak. Maka mereka pun melakukan simulasi pernikahan.
.
Chapter 4
.
enJOY^^
.
Dalam perjalanan aku kembali memikirkan mawar putih itu. Sejak aku melihatnya, aku tahu jika itu bukan dari Kyuhyun. Kyuhyun mustahil bisa seromantis itu. Hanya satu orang yang kutahu pernah dan selalu memberiku mawar putih. Dan ia adalah milik masa lalu yang tak pernah kubayangkan bisa dan akan kembali. Tapi pesan itu?
Restoran itu masih seperti yang kukenang. Sederhana dan tidak mencolok di bagian luarnya. Tetapi begitu aku masuk, aku menemukan kedamaian dan ketenangan dalam interiornya yang lapang dan asri, dengan kolam-kolam kecil berisi teratai merah jambu dan putih serta suara gemericik air terjun buatan di sepanjang satu dindingnya.
Tidak ada yang berubah. Dan meja nomor lima itu masih sedikit di sudut, terhalangi serumpun gelagah. Ketika aku menghampiri meja itu, aku tidak lagi merasa sebagai Sungmin yang berusia tiga puluh tahun, yang dewasa dan percaya diri, tapi seorang gadis berusia dua puluh tahun, yang tercabik di antara cinta dan ambisi.
Di meja itu seharusnya seseorang menantiku, seperti sepuluh tahun yang silam. Sebagian hatiku mengingatkan untuk tidak terlalu berharap, masa lampau mustahil kembali lagi. Tapi segalanya masih begitu serupa dulu, hingga aku sulit memisahkan kini dan saat itu.
Apalagi saat lelaki di meja itu bangkit menyambutku, menggenggam tanganku dan mengucapkan namaku. "Min," kelembutan suaranya masih seperti yang kuingat. Dan wajahnya, walau mulai sedikit berkerut, masih persis seperti yang kukenang. "Kau datang."
"Annyeong, Kangin-ah," sapaku sembari duduk di hadapannya, tak melepaskan mataku dari senyumnya. Aku tiba-tiba sadar dengan rasa rindu yang lama tak pernah kugubris, dahaga yang bertahun-tahun tak kuizinkan untuk ada. Perasaanku berkecamuk, galau yang belum pernah lagi kurasakan tentang siapa pun juga. Menggelikan sekali kalau seorang perempuan seusiaku masih demikian terguncang karena pertemuan dengan mantan kekasihnya.
"Terima kasih mawarnya," ujarku, sedatar yang mampu kulakukan. Sayangnya, getaran di suaraku membeberkan semuanya. "Kau masih ingat."
"Aku tak bisa lupa, meski ingin sekalipun," katanya tersenyum.
"Kapan kau pulang?"
"Tadi pagi."
"Dengan anak istrimu?"
Kangin tertawa kecil. "Ini agak memalukan. Tapi aku masih sendiri, Min."
Jawabannya begitu mengejutkanku hingga sesaat aku tak tahu harus mengatakan apa.
"Aku tidak bisa membayangkan menikah dengan siapapun selain denganmu," senyumnya padam dan di matanya bergelora lagi pesona yang pernah dan mungkin masih bisa meluluhkan hatiku. "Sepuluh tahun aku mencari, dan aku tetap tak bisa menemukan penggantimu."
Aku menunduk, bibirku terkatup erat. Sepuluh tahun yang lalu, di tempat ini juga ia melamarku, dan aku menolak. Aku tak bisa membiarkan peluang karier yang telah susah payah kurebut tersia-sia begitu saja, bahkan untuk satu-satunya lelaki yang ingin kunikahi. Aku tak bersedia hanya menjadi bayangannya, terperangkap dan layu di negeri asing, walau ia adalah orang yang menguasai separuh jiwaku.
Dan ia pergi. Di awal perpisahan surat-suratnya datang dengan teratur, tak satu pun kubalas. Bertahun-tahun ia tetap mengirim kartu ulang tahun dan Natal, yang semua kubakar, sampai aku tak lagi peduli, sampai suatu hari tidak ada lagi kartu yang datang. Dan dengan sedih aku harus mengakui bahwa lelaki sesempurna Kangin pun suatu ketika akan melupakanku.
"Kau sendiri bagaimana, Min?"
"Aku sekarang editor senior," jawaban itu terdengar menyedihkan, hampa makna. Apa artinya seuntai jabatan di sisi...cinta? Kesetiaan?
"Selamat!" ia kedengaran tulus, tapi di hatiku kata itu menyakiti. "Aku selalu yakin kau yang terbaik untuk pekerjaan itu."
"Kau pernah ingin merenggutku dari ini semua," ujarku lirih. Apa jadinya kalau dulu kukatakan "ya"? Sepuluh tahun bersama Kangin, seperti apa?
Ia menggeleng. "Aku hanya memintamu memilih."
Matanya tertambat pada cincin di jari manisku. Suaranya pelan saat ia bertanya, "Kau sudah menikah?"
Aku mengangguk. Ia tertawa kecil, agak gugup. "Dngqn siapa?" tanyanya lirih.
"Kyuhyun," jawabku kaku.
"Kyuhyun? Cho Kyuhyun temanmu?"
"Sahabatku."
"Sahabatmu," desahnya. "Sudah berapa putramu?"
Aku menggeleng. "Belum ada," bisikku.
Kangin menatapku lekat. Dua kali ia tampak seolah akan bicara, tapi setiap kali, ia berhenti. Akhirnya, dengan senyum kecil ia mengeluarkan sebuah kotak mungil dari sakunya.
"Aku...," dibukanya kotak itu. "...Aku sendiri menganggap diriku gila, karena membawakanmu ini. Tapi, Min, maaf kalau aku terus-terang seperti ini, dibenakku kau masih Sungmin-ku yang dulu. Aku tahu dalam sepuluh tahun segalanya bisa terjadi dan kau pasti sudah menikah. Tapi..."
Dikeluarkannya sebuah gelang mungil berhias batu-batu semi-mulia. Aku terkesima.
"Aku tahu kau suka perhiasan antik. Ada kenalanku yang membuka toko barang antik di Muenchen. Aku membeli ini darinya," tanpa meminta izinku, ia telah memasangkan gelang itu di tanganku.
"Terima kasih," gumamku terpesona. "Cantik sekali."
"Kau suka?"
Aku mengangguk. Dan teringat lagi hadiah ulang tahun dari Kyuhyun. "Kau...Sebetulnya kau tidak perlu repot-repot...," suaraku keluar dengan susah payah.
"Sebetulnya aku mau membawakanmu karpet antik yang aku yakin akan membuatmu tergila-gila. Aku sudah membelinya karena itu mengingatkanku padamu. Setiap kali aku berbelanja barang antik aku tak bisa tidak mengingatmu," ia tertawa kecil. "Tapi aku tidak bisa membawanya ke sini. Bawaanku sudah banyak sekali. Ibuku memesan oleh-oleh untuk semua sanak family dalam radius dua ratus lima puluh kilometer."
Aku tersenyum kecil. Tapi dalam benakku berkelebat pertanyaan demi pertanyaan. Apakah Kyuhyun tahu hadiah seperti apa yang akan membuatku bahagia? Apa ia mengenal selera dan kegemaranku? Aku menggeleng dalam hati. Tidak. Tidak.
Kangin masih bicara panjang lebar tentang bisnis yang dilakukannya di Jerman. Aku kembali diingatkan tentang kecerdasan dan keluasan wawasannya. Apalagi sepuluh tahun berada di negara lain telah menjadikan Kangin yang dulu kukenal lembut dan peka, semakin lapang hati dan terbuka. Kalau ada yang berubah dalam dirinya, semua itu hanya menjadikannya sempurna. Dan pikiran itu menorehkan nyeri di hatiku. Sudah terlambat, sambatku pada diri sendiri.
Ia bercerita tentang barang-barang antik yang juga jadi salah satu kegemarannya. "Jika saja kau bersamaku, Min," katanya dengan mata berbinar. "Kita bisa menghabiskan waktu mengaduk-aduk Eropa mencari barang antik..."
Ia melihat ekspresi wajahku dan berhenti bicara. "Maaf," katanya sejenak kemudian.
"Aku harus kembali ke kantor," gumamku kaku.
"Baiklah. Mau kuantar?"
"Aku ada mobil."
Ia menahan tanganku saat aku hendak berdiri. "Min, aku tahu semuanya berbeda sekarang. Tapi, kalau kau tidak keberatan, bisakah kita bertemu lagi sekali-sekali selama aku di sini? Aku perlu teman yang bisa mengantarku jalan-jalan mengunjungi galeri dan art shop."
Undangan yang sangat menggoda, yang memenuhi benakku serta merta dengan masa lalu dan janji akan sesuatu yang lebih istimewa lagi, jika saja aku bisa mengucapkan ya.
Kangin membaca keraguanku dan sesaat sorot matanya meredup. "Kita bisa jalan-jalan bertiga, kau, Kyuhyun dan aku," katanya. "Aku tidak punya banyak teman di sini."
"Aku pikir-pikir dulu," jawabku cepat-cepat, sebelum hatiku dikuasai kehausan untuk berlama-lama dengan Kangin.
Kangin merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. Di belakangnya ia menuliskan sederet nomor. "Hubungi aku jika kau bersedia. Aku menunggu."
.
Malamnya aku berbaring di kamar, menatap kartu nama itu lekat-lekat seperti gadis belia yang sedang dimabuk kepayang. Aku bukan remaja lagi dan seharusnya aku lebih bisa menguasai diriku sendiri. Tapi aku tak bisa membohongi hatiku sendiri. Kehadiran Kangin membangunkan lagi semua harapan dan khayalan yang kukira telah lama lenyap. Tapi masih adakah kemungkinan antara aku dan Kangin?
Ia mengira dan aku telah meyakinkannya, kalau aku telah menikah dan segalanya telah berakhir. Yang ia tidak ketahui, pernikahanku dengan Kyuhyun hanya sebuah permainan yang bisa kusudahi kapanpun aku mau. Tapi, kalau pun ia tahu, apakah segalanya akan berbeda? Apa pendapatnya kalau aku menceritakan semua padanya?
Aku ingin tidak memikirkan Kangin lagi. Apa yang kuharapkan bersamanya mustahil terjadi. Tapi, hidup dengan Kyuhyun seperti ini selamanya juga tidak mungkin. Semua ini hanya sandiwara yang akan berakhir, cepat atau lambat. Apakah kembalinya Kangin suatu kesempatan kedua yang semestinya kuraih karena mungkin tidak akan pernah ada lagi? Tapi bagaimana?
.
Kiriman bunga kedua datang dua hari kemudian.
'Aku memikirkanmu.'
Tahukah ia bahwa aku pun tak bisa menghapuskan senyum, mata, wajah dan suaranya dari benakku?
Kotak mawar yang ketiga datang di akhir pekan.
'Maaf kalau kau menganggapku lancang karena terus mencintaimu. Tapi bisakah kau menghentikan badai?'
Aku tak bisa. Aku bahkan tak kuasa membendung gemuruh di hatiku sendiri. Aku ingin bersamanya, selamanya. Dan itu mustahil.
.
Sore itu, sebelum aku pulang, kutekan nomor yang sudah kuhapal diluar kepala itu. "Jika kau ada waktu, kita bisa melihat pameran lukisan di galeri baru dekat kantorku."
"Kau yang menentukan apa aku punya waktu atau tidak, Min."
.
Dan esok harinya kuhabiskan bersama Kangin, mendiskusikan lukisan dan benda seni, sesuatu yang lama ingin kuulangi lagi. Aku tak bisa memungkiri betapa menyenangkannya berbincang dengan Kangin, membicarakan seribu satu hal yang tak pernah kusinggung saat bersama Kyuhyun.
Setelah lama membicarakan masalah seni rupa, Kangin tiba-tiba bertanya. "Kenapa kau menikah dengan Kyuhyun?"
"Kenapa kau bertanya?"
"Seingatku, ia bukan tipemu." Aku tertunduk. "Kenapa, Min?"
"Kyuhyun mencintaiku," bisikku pelan.
"Apa kau mencintainya." Kebisuanku memberinya jawaban. "Apa kau bahagia?" lanjutnya lirih.
Kutatap matanya yang teduh dan hangat. "Ya."
"Jangan berbohong."
"Kyuhyun suami yang baik."
"Tapi apa kau bahagia?"
Bagaimana mengatakan bahwa aku tidak pernah merasa sebahagia saat itu, melewatkan waktu bersamanya?
"Berapa lama kau menikah dengan Kyuhyun?"
"Setahun."
"Maaf jika ini menyinggung perasaanmu. Tapi apa kau menikahinya karena terpaksa? Karena usia dan..."
"Stop!"
Aku bangkit dan meninggalkannya.
.
'Maafkan aku jika perasaanmu terluka karena pertanyaanku. Tapi bisakah kau renungkan perasaanku sendiri? Bagaimana hatiku tersiksa ketika tahu pernikahan tidak membuatmu bahagia?'
Kartu itu bergetar di tanganku dan tulisannya kabur dalam genangan air mataku.
"Min?" tanya sekretarisku yang entah kapan, telah memasuki ruangan. "Ada apa?"
"Tidak apa-apa," bisikku, mencoba mengendalikan diri. "Tolong keluar sebentar. Aku harus menelepon Kyuhyun."
Begitu ia keluar, dengan sangat enggan kudial nomor kantor Kyuhyun. Aku tiba-tiba sadar bahwa sejak menikah dengannya aku tak lagi pernah mengadu dan bertanya kepadanya tentang segala hal yang menyangkut hati dan perasaan. Dan kini, aku tahu aku sangat membutuhkan masukannya, seperti dulu, sebelum ia menjadi suami simulasiku.
"Kyu."
"Ming? Ada apa pagi-pagi begini?"
"Aku...Kau tahu...," aku terbata. Bagaimana mulai menceritakan pada suamiku -walaupun hanya simulasi- bahwa aku sedang dirundung kasmaran kepada lelaki lain? Kyuhyun tidak akan marah, aku tahu. Dia tidak berhak untuk itu. Tapi itu tidak membuat segalanya mudah. Ia bukan lagi sekadar seorang sahabat tempat curahan keluh kesah dan semua masalahku.
Ia adalah suamiku, simulasi atau bukan sekalipun. Dan menceritakan hal seperti kartu dari Kangin dan bunga mawar putihnya terasa sangat tidak pantas dan kejam untuk dilakukan.
"Ya?" desak Kyuhyun.
"Aku...Kyuhyun, kau kenal Sunny, kan?"
"Sekretarismu? Tentu."
"Mantan kekasihnya yang pilot itu kembali."
"Lalu?"
"Sekarang mereka sering bertemu. Suami Sunny tidak tahu, tentu. Tapi sekarang Sunny bingung. Ia mengaku jatuh cinta lagi dengan mantan kekasihnya itu. Dan si mantan kekasih ini pun ingin menikahi Sunny."
"Tapi Sunny sudah punya anak dua, kan?"
"Ya. Tapi menurut si pilot ini, anak bukan masalah. Mereka boleh memilih untuk tinggal dengan siapa."
"Lalu, apa hubungannya semua itu denganmu?"
Aku menghela nafas. "Sunny bertanya apa yang harus dia lakukan. Aku tak bisa menjawab."
"Dan kau bertanya pada Seonsaengmu. Baik. Eh! Tunggu sebentar," meskipun ia menutup mikrofon telepon, aku bisa mendengarnya berteriak kepada seseorang di ujung sana, "Tunggu sebentar, ini istriku! Ya, mulailah dulu. Aku menyusul."
Istriku. Aku istrinya. Istrinya. Dan jantungku rasanya melesak ke dalam bumi.
"Maaf. Mereka benar-benar tidak bisa apa-apa tanpaku...," suara Kyuhyun kembali di telepon.
"Karena kau yang membuatkan kopi?"
"Kau!" ia tertawa, lalu segera kembali serius. "...Kupikir Sunny dan pacarnya terlalu egois. Mereka tidak bisa lagi hanya memikirkan keinginan mereka sendiri. Ada suami Sunny dan anak-anaknya yang juga harus diperhitungkan."
"...Tapi kalau Sunny tidak bahagia lagi menikah dengan suaminya, apa pernikahan itu harus dan bisa dipertahankan?"
"Sebaiknya kau tanya Sunny, apa dia benar-benar mencintai mantan kekasihnya itu, atau mereka hanya terpesona dengan nostalgia masa lalu? Apa mereka benar-benar saling membutuhkan atau mereka hanya ingin mengulang keindahan masa pacaran mereka dulu? Kalau hanya itu yang mereka inginkan, mereka akan kecewa kalau terus bersama, karena Sunny dan kekasihnya sudah jadi orang-orang yang berbeda, sudah lebih dewasa, bukan lagi remaja yang masih hijau."
"Sunny bilang dia hanya mencintai lelaki itu, bukan suaminya. Ia tidak pernah mencintai suaminya."
"Kalau begitu kenapa dulu ia menikah?"
"Keadaan."
"Maksudnya?"
"Adik-adiknya sudah ingin menikah semua, tapi orang tuanya tidak mengizinkan karena mereka tidak mau Sunny dilangkahi."
"Astaga. Kasihan sekali."
"Jadi bagaimana?"
Kyuhyun diam sejenak. "Aku tidak tahu, Ming. Yang aku tahu, aku tidak mau jadi penyebab ketidakbahagiaan seseorang. Jika aku sarankan Sunny untuk meninggalkan kekasihnya, siapa tahu ia tidak akan pernah bahagia karena merasa terpaksa terus bersama suaminya. Jika ia meninggalkan suaminya, aku juga tidak menjamin ia akan bahagia dengan orang yang hanya mengenalnya di permukaan, tidak utuh, seperti suaminya."
"Lantas aku harusbbilang apa?"
"Sampaikan saja petuahku ini pada Sunny. Bilang saja ini saran dari pakar pernikahan kelas dunia yang reputasinya tidak diragukan lagi."
"Kau sama sekali tidak membantu," desahku.
"Ini bukan keran bocor atau teve rusak yang bisa diperbaiki begitu saja, Ming. Sedangkan memperbaiki teve rusak saja aku menyerah, jangan lagi mengurusi rumah tangga orang."
"Bodohnya lagi, aku bertanya kepadamu."
"Itulah, Ming. Aku sendiri heran kenapa aku mau membuang waktuku dan terpaksa terlambat ikut rapat untuk memberimu saran yang tak berguna."
Aku tertawa pahit. "Ya, sudah. Pergilah membuat kopi sekarang. Terima kasih untuk saran dan waktumu."
"Sama-sama. Oh! Bosku ke sini. Aku harus pergi. I love you, Chagiya!" ia berteriak. Lalu kudengar suaranya, sedikit menjauh dari telepon. "Ne, Sajangnim, sebentar. Istri saya..."
Kututup telepon, tiba-tiba merasa begitu dingin dan sendiri.
.
.
.
.
.
TBC
.
Chapter 4 hadir buat yg udah nungguin :D
.
Special Thanks To : Brieanita ; kyuxmine ; Love Kyumin 137 ; LS-snowie ; dewi. k. tubagus ; Chella-KMS ; Dorakyumin ; kmskjw21 ; tiasputrii ; Jihae Kyumin ; sparkyuvil ; Prince Changsa ; lovelylee ; dan 3 GUEST.
.
Last, review more?
