After You Marry Me

A Kyuhyun and Sungmin Story with "Genderswitch Fanfiction"

Remake from "Setelah Kau Menikahiku" by Novia Stephani (Pemenang ke-1 sayembara mengarang cerber femina 2003)

Warning! Genderswitch, TYPO(S), OOC.

.

Summary : Sungmin tak percaya pada lembaga pernikahan, namun tantangan Kyuhyun untuk membuktikannya tak bisa ditolak. Maka mereka pun melakukan simulasi pernikahan.

.

Chapter 5

.

enJOY^^

.

"Kita tidak bisa bertemu lagi Kangin-ah," ujarku pada Kangin di telepon. Separuh jiwaku rasanya terbang dan hilang saat kata-kata itu kuucapkan.

"Kenapa? Kyuhyun melarangmu?"

"Dia tidak tahu apa-apa."

"Kenapa kau terus memikirkan dia, Min. Pikirkan dirimu sendiri. Apa kau sudi menghabiskan hidupmu dengan orang yang tidak kau cintai, sedangkan denganku kau bisa mendapatkan semuanya?"

Kugigit bibir ku saat setetes air bergulir di pipiku.

"Min, akuilah. Aku menemukan separuh hatiku padamu dan hidupmu baru akan lengkap denganku. Selama ini, aku sendirian dan kau dengan Kyuhyun, hidup kita hanya mimpi, cacat, timpang. Dan kita baru akan memulai hidup setelah kita bersama. Saat ini kau tidak punya apa-apa, Min, tidak juga masa depan. Tapi berdua, kita akan miliki segalanya..."

"Hentikan," potongku dengan suara bergetar.

"Kalau kau minta aku untuk berhenti berusaha mendapatkanmu lagi, kau hanya buang-buang waktu dan tenaga. Kau tahu aku tidak semudah itu disuruh mundur. Ini menyangkut sisa hidupku dan hidupmu. Tidak ada yang lebih penting dari itu dan aku tidak akan berhenti sampai kau kembali denganku."

"Aku tidak bisa..."

"Kenapa tidak?"

Ya, kenapa tidak. Pernikahan ini hanya sebuah permainan. Menyenangkan memang, tapi tetap hanya sekadar sandiwara. Jika begitu, kenapa rasanya berat sekali memutuskannya?

"Kau tidak mencintai Kyuhyun, Min. Kau berbeda dengannya, jadi bukan kesalahanmu jika kau tidak bisa mencintainya. Satu-satunya perasaan yang layak kau simpan untuknya hanya iba, karena ia tidak akan pernah bisa mendapatkan hatimu dan ia akan selamanya menikah dengan perempuan yang mencintai lelaki lain."

"Aku..."

"Akuilah, Min, kau mencintaiku. Kebersamaan kita adalah takdir."

Kututup mikrofon dengan tanganku dan menghela napas panjang. Seluruh tubuhku rasanya terbakar dan lunglai dan dunia seperti berputar makin cepat. Kupejamkan mataku. "Aku tidak mencintaimu," gumamku.

"Lebih keras lagi."

"Aku tidak mencintaimu."

"Kau berbohong."

Lama sekali aku terdiam sebelum akhirnya sanggup mengucapkan, "Ya."

"Min," suara Kangin gemetar. "Aku berjanji untuk selalu membuatmu bahagia."

Aku tahu sejak awal bahwa permainanku dengan Kyuhyun akan berakhir, cepat atau lambat. Tapi hatiku tetap enggan berdamai dengan kenyataan bahwa aku harus bicara padanya tentang perpisahan. Aku sadar bahwa Kyuhyun sendiri tidak berhak dan tidak mungkin menghentikanku. Bahkan, mungkin ia akan merasa lega dengan keputusanku itu, karena akhirnya ia bisa membenahi hidupnya sendiri lagi. Mustahil ia akan menolak berpisah denganku. Apalagi, aku juga tahu ia sangat menyayangiku dan ingin aku bahagia.

Dan aku tahu, keputusan untuk kembali pada Kangin adalah yang terbaik untukku dan masa depanku, sesuatu yang pasti akan didukung oleh Kyuhyun. Aku yakin keputusanku itu tidak merugikan siapa pun. Kenapa aku harus segan menyampaikannya pada Kyuhyun? Mulanya aku berjanji pada diriku sendiri untuk mencari waktu yang tepat, tapi saat itu tak pernah datang. Setiap kali, aku dilanda keraguan dan akhirnya membatalkan niatku. Kangin tidak bisa mengerti itu.

"Aku ingin kita menikah sebelum aku kembali ke Jerman, Min. Tapi kita harus memikirkan pendapat orang lain yang pasti berkomentar kalau kau menikah denganku segera setelah proses perceraianmu selesai. Dan aku hanya di sini lima bulan lagi."

"Aku tahu, aku juga berpikir begitu. Tapi...entahlah."

"Apa kau tidak yakin aku akan membuatmu bahagia?"

"Aku..." aku tergagap dan menggeleng, meskipun Kangin tak mungkin melihatnya.

"Jadi, bicaralah dengan Kyuhyun."

.

Sore itu, aku pulang dengan hati berat. Aku sudah bertekad untuk bicara dengan Kyuhyun malam itu juga. Aku tak akan menundanya lagi. Begitu aku tiba di rumah, Kyuhyun sudah menungguku di depan pintu apartemen. Matanya berbinar dan wajahnya berseri saat aku mendekatinya, hingga aku jadi berpikir, ada apa sebenarnya.

"Kenapa kau sudah pulang?" tanyaku.

Kyuhyun menyilangkan telunjuknya di depan bibir dan menggandeng tanganku ke dalam apartemen.

"Ada apa?"

"Sst!"

Ia membawaku menuju balkon, dan dengan bangga ia mengembangkan tangannya. Di sana ada sebuah ayunan rotan berwarna putih, cukup lebar untuk tiga orang, dengan bantal-bantal yang terlihat sangat mengundang, berwarna merah muda dengan gambar...mawar putih?

"Ini hadiah ulang tahun pertama pernikahan kita," katanya.

Mataku beralih cepat dari ayunan rotan itu. Wajah Kyuhyun benar-benar sumringah. Di matanya ada sekelumit keheranan melihat wajahku yang pasti telah berubah warna.

"Aku...aku tidak punya hadiah apa-apa," gumamku sambil kembali menatap ayunan itu, menyembunyikan kalutku. "Aku lupa..."

Kyuhyun tertawa. "Kau bahkan tidak ingat ulang tahunmu sendiri," katanya.

Ia duduk di ayunan itu. "Ayo," katanya sambil menarik tanganku.

Aku duduk di sampingnya, tak tahu harus mengatakan apa. Aku benar-benar tidak ingat bahwa setahun lalu hari itu, aku dan Kyuhyun menikah, simulasi. Kenapa Kyuhyun harus menganggap hari itu demikian istimewa sementara aku sendiri sama sekali tak mengingatnya?

Kyuhyun mulai berayun-ayun pelan sambil menggenggam tanganku. Ia sedang menceritakan sebuah kejadian lucu di kantornya, tapi aku sama sekali tak mendengarkan. Di kepalaku berdenging ribuan kata-kata yang akan segera kuucapkan padanya. Aku telah berlatih dalam hati untuk mengutarakan segalanya, tegas dan jelas. Tapi sekarang, semua ketetapan hati yang telah kubangun runtuh berserpihan.

"Ming, kau tidak menyimak kata-kata Seonsaeng, anak nakal," teguran Kyuhyun membuyarkan renunganku. "Ada apa?"

Kutatap matanya. "Kyu, Kangin pulang."

Dahinya berkerut. "Kangin?"

"Kim Youngwoon, mantan kekasihku yang pergi ke Jerman."

"Oh," ia mengangguk. "Kapan?"

"Sebulan lalu, saat aku berulang tahun." Ia mengangguk lagi. Aku tak bisa mengucapkan apa-apa setelah itu.

"Dia sudah menikah?" tanya Kyuhyun, seperti mendorongku bicara. Aku menggeleng.

"Lalu?"

"Dia ingin menikah denganku," ujarku cepat-cepat, tanpa memandang wajahnya. "Ia hanya di sini lima bulan lagi. Karena itu, aku ingin kita segera bercerai."

"Oh."

Kyuhyun tak mengatakan apapun selama beberapa saat. Pertanyaan berikutnya ia ajukan dengan ringan, seolah sambil lalu, "Kau yakin ia mencintaimu?" Aku mengangguk.

"Kau yakin akan bahagia dengannya?" Sekali lagi aku hanya mengangguk.

"Kalau begitu, selamat," ketulusannya terdengar hangat. "Aku ikut bahagia."

Kuberanikan diri untuk menatap wajahnya. Dan aku tidak menemukan setitik pun kekecewaan di sana. Rasa lega meruahi hatiku. Kyuhyun bertanya beberapa hal tentang Kangin dan semuanya kujawab dengan antusiasme gadis belasan tahun yang dimabuk asmara. Tapi setelah beberapa saat, aku sadar jika ia tidak sungguh-sungguh memperhatikan ceritaku.

"Kyu?" tegurku.

"Ya?"

"Kau tidak mendengarkan. Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Aku sedang berpikir...gadis mana yang bisa kuajak selingkuh, supaya kau punya alasan untuk bercerai denganku."

.

Malam itu aku terbangun saat Kyuhyun mengguncang bahuku. "Ming, bangun!"

"Ada apa?" gumamku. Jam alarm di sisi ranjangku baru menunjukkan pukul tiga lima belas dini hari.

"Ganti baju cepat, kita harus ke rumah sekarang. Eomma meninggal."

Aku terlonjak duduk. "Apa?"

"Ganti baju," perintah Kyuhyun sambil meninggalkan kamarku.

Aku terpaku sejenak sebelum akhirnya berlari mengejar. "Kapan?"

"Baru saja."

"Di?"

"Rumah. Ganti bajumu. Kita berangkat lima menit lagi."

"Kyuhyun..."

Ia membanting pintu kamar di depanku.

Aku kembali ke kamarku dan bergegas mengganti piyamaku dengan baju yang pantas. Ketika aku keluar, semua lampu belum menyala dan pintu depan masih tertutup. Juga pintu kamar Kyuhyun. Kuketuk pintu itu perlahan.

"Kyu, aku sudah siap."

Tidak ada jawaban.

Aku menyelinap masuk. Kamar Kyuhyun gelap, tapi dengan cahaya samar lampu taman aku bisa melihatnya meringkuk di sudut, wajahnya tersembunyi di balik kedua tangannya. Ia menepis tanganku, bahkan mendorongku terjungkal saat aku menyentuh bahunya. Tapi ketika untuk ketiga kalinya kuulurkan tanganku, ia tidak lagi menghindar, dan dalam rangkulanku ia menangis.

Hanya saat itu Kyuhyun tidak bisa mengontrol emosinya. Setelah itu ia kembali menjadi Kyuhyun yang rasional dan berkepala dingin, yang mengurus pemakaman, menerima para tamu dan menghibur keempat kakak perempuannya dengan ketenangan yang nyaris mengerikan.

.

Sore harinya, saat aku tengah membantu merapikan kembali ruang tamu, kakak tertua Kyuhyun, Heechul Eonni, menghampiriku.

"Min, bawa Kyuhyun pulang."

"Apa tidak sebaiknya dia di sini dulu, Eonni?"

Heechul Eonni menggeleng. "Coba lihat sendiri," katanya sambil menunjuk ke halaman belakang.

Kyuhyun kutemukan di sana, sedang mengisap sebatang rokok. Ia sudah sepuluh tahun berhenti merokok dan melihatnya kembali pada kebiasaan itu membuatku sadar ia sedang bergelut dengan kepedihan yang lebih dalam dari yang ditunjukkannya. Ketika aku mendekat, kulihat asbak di sampingnya telah penuh dengan puntung rokok dan kotak di atas meja tinggal berisi satu batang.

Kucabut rokok itu dari antara jemarinya dan kubunuh di asbak. Kyuhyun tidak memprotes, ia bahkan tidak menatapku. Aku sadar Heechul Eonni memang benar, aku harus segera membawa Kyuhyun jauh-jauh dari semua kenangan tentang ibunya.

"Aku ingin pulang, Kyu, " ujarku sambil memegang tangannya.

Ia menggeleng pelan. "Aku akan menginap di sini. Kau pulanglah sendiri, besok aku pulang naik bus saja."

"Aku tidak ingin sendirian di apartemen."

Kyuhyun menghela nafas berat dan akhirnya bangkit. Ia berpamitan pada kakak dan iparnya kemudian keluar untuk mengambil mobil. Saat itu Heechul Eonni mengamit tanganku dan berbisik, "Aku senang Kyuhyun sudah menikah denganmu. Kau pasti bisa menghiburnya di saat-saat seperti ini. Ia paling merasa kehilangan dengan meninggalnya Eomma. Kau tahu, ia tinggal dengan Eomma selama hampir tiga puluh tahun."

Aku terpana sesaat. Dadaku ngilu. Kupeluk Heechul Eonni dengan hati menggigil. Bagaimana bisa kukatakan padanya bahwa aku dan Kyuhyun sudah sepakat untuk mengakhiri pernikahan ini secepatnya?

.

Setibanya di rumah, Kyuhyun langsung menuju ke kamarnya.

"Kau mau kumasakkan nasi goreng, Kyu?"

"Nanti saja. Aku tidak lapar."

"Kau tidak makan apa-apa dari tadi pagi. Nanti kau sakit. Mau ya?"

Kyuhyun mengangguk dengan mata hampa. Aku jadi semakin khawatir melihatnya. "Tunggu di sini," ujarku lagi. "Aku tidak akan lama."

Ketika aku baru saja mengambil kimchi dari lemari es, aku mendengar suara Kyuhyun di kamar mandi. Ia kutemukan membungkuk di wastafel, menangis dan muntah hampir bersamaan. Untuk sesaat kepanikan melumpuhkanku dan aku hanya bisa terpaku di ambang pintu, tak pasti apa yang harus kulakukan.

Insting pertamaku adalah berlari keluar mencari bantuan. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Kyuhyun dalam keadaan seperti itu. Kuhampiri Kyuhyun dengan ragu. Perlahan kuelus punggungnya dan sentuhanku agaknya sedikit menenangkannya, kemudian lambat laun isaknya mereda. Ini membuatku lebih yakin dengan apa yang harus kulakukan selanjutnya.

Kupijat tengkuknya dan kuseka keringat di dahinya. Tapi tiba-tiba saja ia terkulai lemas, dan jika saja aku tidak segera meraihnya ke dalam pelukanku, ia pasti akan terpuruk ke lantai. Pelan-pelan kupapah ia ke kamar dan kubaringkan di ranjang. Kubuka kemejanya yang basah dan kuselimuti badannya yang menggigil.

"Mianhae..." bisiknya. "Aku tidak bisa menangis di depan kakak-kakakku. Mereka..."

"Aku tahu. Tidak apa-apa," tanganku masih gemetar saat aku mengelus rambutnya. "Aku buatkan teh panas, nanti kau minum, ya."

Ia mengangguk dan aku beranjak meninggalkannya. Ketika aku kembali, ia terlihat sedikit lebih baik. Dihirupnya sedikit teh yang kubawa. Wajahnya tidak lagi pucat setelah itu. Ketika aku merapikan kembali selimutnya, ia memegang tanganku.

"Terima kasih."

"Kau pernah melakukan lebih dari ini untukku."

"Bukan untuk tehnya. Untuk tidak memberiku pernafasan buatan," ia tersenyum nakal.

"Oh, kau!" aku ikut tersenyum, lega.

"Dan untuk menikah denganku," lanjut Kyuhyun kemudian, ekspresinya begitu serius. "Setidaknya sebelum meninggal, Eomma bisa tenang karena mengira aku sudah beristri. "

Aku tertegun sesaat. Suaraku goyah dan terbata saat aku bicara, "Aku yang harus berterima kasih padamu."

"Untuk apa?"

"Untuk setahun yang kau lewati denganku. Untuk kesabaranmu. Pengorbananmu."

Kyuhyun tersenyum kecil. "Aku tidak melakukan apapun yang tidak kusukai. Ini setahun yang sangat menyenangkan untukku, seharusnya aku yang berterima kasih."

"Jangan memaksa," aku mencoba bercanda. "Aku yang harus berterima kasih. Mengalahlah sedikit."

Kyuhyun tersenyum dan mencubit hidungku. Tangannya tidak sedingin tadi dan itu melenyapkan sisa-sisa kekhawatiranku.

"Aku masih tidak mengerti kenapa kau akhirnya mau terlibat dengan ide gilaku ini," katanya.

"Entahlah, Kyu," aku tertawa kecil. "Mungkin aku sudah sangat lelah berkilah tiap kali ibuku merongrong soal pernikahan. Dan aku melihat usulmu itu sebagai jawaban yang paling jitu untuk menyelesaikan dua masalah sekaligus, keenggananku untuk menikah, karena tidak ada calon yang pas dan keinginan ibuku yang menggebu-gebu untuk segera melihatku menikah."

"Apa yang kau dapat setelah setahun kita menikah?" tanyanya dengan mimik lebih serius.

Aku terdiam sejenak. "Banyak," jawabku akhirnya. "Aku belajar bahwa aku tidak menikah dengan malaikat atau monster, tapi dengan manusia, yang punya kekurangan yang harus kumaafkan dan keistimewaan yang tidak bisa kuabaikan. Aku belajar bahwa dalam pernikahan, bila kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan tidak selalu berarti kekalahan, tapi bisa jadi suatu kemenangan bersama."

Aku ingin menambahkan bahwa pernikahan membutuhkan cinta dan kesetiaan seperti gurun memerlukan air, tapi aku tidak punya nyali untuk menyatakan semua itu.

"Kau memang selalu pintar bicara," Kyuhyun tersenyum.

"Kau sendiri? Apa yang kau pelajari selama ini?"

"Hanya satu. Hidupku mungkin tidak akan pernah sebahagia ini lagi setelah kau pergi."

Aku tertegun. "Apa maksudmu?"

Kyuhyun bangkit dan duduk mencangkung menatapku. "Tahun ini adalah saat paling bahagia dalam hidupku. Setiap aku bangun pagi dan mendengar suaramu, aku jadi berpikir aku adalah laki-laki paling bahagia di dunia ini. Dan setiap malam saat aku pulang dan kau tersenyum menyambutku, aku merasa aku jadi manusia paling beruntung di seluruh jagad raya. Aku jadi sangat terbiasa dengan kehadiranmu bahkan mulai berharap kau akan bersamaku terus, walaupun harapan itu, aku tahu, konyol. Tapi jika kau mencintai seseorang seperti aku mencintaimu, kau akan kehilangan akal sehat."

Kutatap wajah Kyuhyun lekat-lekat. Ia tidak terlihat sedang bercanda. Ia tampak sangat tenang dan serius.

"Aku masih belum mengerti," bisikku.

"Pernikahan ini tidak pernah hanya sebuah simulasi untukku, Ming. Ini adalah pernikahan sesungguhnya untukku."

"Apa maksudmu kau mencintaiku?" suaraku tercekik.

"Apa yang tidak kau pahami? Tentu saja aku mencintaimu," kata-kata Kyuhyun begitu lugas, menghantamku seperti sebuah pukulan keras yang membuatku terhempas. "Aku mencintaimu sejak kau memarahiku karena nyaris melindas kelincimu, lima belas tahun yang lalu, saat kita masih sama-sama belasan tahun. Dan aku tidak pernah bisa berhenti mencintaimu hingga kini."

"Kau...kau tidak pernah..."

"Kau tidak pernah memberiku kesempatan. Kau selalu sedang jatuh cinta dengan orang lain atau patah hati karena orang lain, dan kau selalu datang padaku menceritakan semuanya. Aku tahu aku bukan lelaki Idamanmu. Aku tidak menggambar. Tidak menulis puisi. Kalau kau bilang sebuah lukisan itu bagus, aku tidak mengerti kenapa. Aku bukan jago pidato dan calon ketua OSIS yang kau gilai di Senior High School. Aku bukan aktivis kampus yang membuatmu mabuk kepayang saat kuliah dulu. Aku terlalu biasa-biasa saja. Aku tahu ini sangat menyedihkan, memalukan dan aku benci kau kasihani. Tapi selama ini aku benar-benar tidak punya keberanian, belum lagi kesempatan, untuk berterus terang kepadamu."

"Kau tidak pernah biasa-biasa saja, Kyu," ujarku lirih. "Kau istimewa dengan caramu sendiri."

Ia mengangkat bahu. "Tidak cukup untuk kau cintai."

Sesaat aku hanya bisa terdiam, menatap kedua mata Kyuhyun, mencari tanda-tanda jika semua ini hanya salah satu dari sekian banyak permainannya. Tapi ia terlihat sungguh-sungguh.

"Kenapa kau katakan semua ini padaku saat kita akan berpisah seperti ini? Apa yang kau inginkan?" tanyaku datar.

Kyuhyun tersenyum kecil. Ada kepedihan dalam senyumnya, sesuatu yang tak pernah kutemukan sebelumnya. "Aku sendiri tidak tahu kenapa aku harus mengatakan semua ini padamu. Aku hanya ingin kau tahu aku mencintaimu. Bukan karena aku masih berharap kau akan mencintaiku juga, sekarang tidak ada bedanya lagi. Tapi aku ingin kau tahu kalau kau tetap memiliki cintaku, apapun yang terjadi, bahkan jika akhirnya kau benci padaku atau melupakanku sekalipun."

Ia tertunduk sesaat. Ada sorot yang asing berpijar di matanya saat ia kembali menatapku. "Dan jika kau tanya apa yang kuinginkan, aku ingin kau di sini bersamaku, seumur hidupku. Aku ingin kau belajar dan akhirnya benar-benar mencintaiku, mungkin tidak akan pernah sedalam dan separah cintaku padamu, tapi setidaknya kau tidak lagi menganggapku hanya sekedar sahabatmu, tapi juga kekasihmu. Aku ingin mencintaimu lebih dari yang pernah kutunjukkan."

Ia menghela nafas berat. "Tapi itu semua keinginanku. Bukan kemauanmu. Kebahagiaanku, belum tentu kebahagiaanmu juga."

Lama kami berdua saling berpandangan.

"Terima kasih, Kyu," desahku akhirnya. Kupeluk ia erat-erat, menyembunyikan air mataku di bahunya.

.

.

.

"Aku sudah bicara dengan Kyuhyun, Kangin-ah. Tapi aku terpaksa menunda proses perceraian itu. Kyuhyun baru saja kehilangan ibunya. Rasanya tidak pantas bicara masalah perceraian saat ini."

"Berapa lama?"

"Entahlah. Sebulan dua bulan mungkin."

"Kau tahu waktu kita sangat terbatas, Min. Aku tidak bisa menunda kepulanganku ke Jerman. Dan aku tidak tahu kapan aku bisa kembali ke sini lagi. Mungkin tidak dalam setahun atau dua tahun ke depan. Dan kita akan kehilangan waktu yang harusnya bisa kita lewati berdua."

"Aku tahu, Kangin-ah. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Kyuhyun sekarang. Dia membutuhkan aku."

"Aku lebih membutuhkanmu dari dia, Min. Dan pikirkan dirimu sendiri. Apa kau tidak ingin kita bisa seterusnya bersama?"

Aku menghela nafas panjang. "Entahlah, Kangin-ah, " bisikku.

"Apa maksudmu?" suara Kangin terdengar kaget.

"Aku...aku tidak akan bahagia kalau Kyuhyun menderita."

"Min! Kau tidak...Dengar, pikirkan baik- baik. Menurutmu, kalau kau tersiksa hidup dengannya, ia akan bahagia?"

"Aku tidak merasa menderita menjadi istrinya."

"Tapi kau tidak bahagia!"

"Aku bahagia, Kangin-ah. Mungkin tidak seperti saat aku bersamamu. Tapi Kyuhyun membuatku bahagia."

"Kau tidak bisa melakukan ini, Min. Kau hanya kasihan padanya. Sebentar lagi kau akan berubah pikiran dan saat itu kau akan menyesal karena membuang kesempatan ini."

"Aku bisa belajar memaafkan diriku sendiri."

"Min, kau tidak mencintainya!"

"Ia mencintaiku. Itu lebih dari cukup."

"Kau hanya bingung, Min. Aku mengerti. Tapi apa kau lupa kalau aku sangat mencintaimu?"

"Aku tidak akan pernah lupa, Kangin-ah."

"Lantas apa yang membuatmu berubah pikiran secepat ini?"

"Kyuhyun mengajariku tentang cinta."

"Hanya karena itu?"

"Juga karena aku yakin, aku akan belajar mencintainya."

"Min..."

"Selamat tinggal, Kangin-ah. Mudah-mudahan kau akan sebahagia aku nantinya, atau mungkin lebih bahagia lagi."

Telepon kututup sebelum air mataku luruh.

"Ming..."

Aku tersentak dan berbalik seketika. Entah sudah berapa lama Kyuhyun berdiri di belakangku. Wajahnya penuh tanda tanya dan ia menggeleng perlahan sambil duduk di lantai di sisi kursiku.

"Kenapa?" tanyanya.

Aku tak bisa menjawab. Air mataku menetes satu-satu dan dengan lembut ia menyeka pipiku dengan jarinya.

"Aku tak bisa melihatmu begini ," lanjutnya pelan. "Ini keputusan yang sangat konyol, Ming. Kau benar-benar akan membiarkan kesempatanmu berlalu sekali lagi?"

Aku mengangguk.

"Dia akan membuatmu sangat bahagia, Ming." Aku mengangguk.

"Kau akan menyesal." Aku mengangguk.

"Kau akan sedih, kecewa..." Aku mengangguk.

"Kau tidak mencintaiku." Aku menggeleng.

Kyuhyun terbelalak. "Lee Sungmin!" pekiknya tertahan.

"Cho Kyuhyun!"

.

.

.

.

.

FIN?

.

Ini sesuai sama cerita aslinya, end-nya emang gini...saya ada rencana bikin sekuel/epilog, ada yg berminat? Tapi mungkin agak lama karna bikinan saya sendiri...kalo kemaren2 kan cepet karna cuman ganti cast sama rombak dikit2 biar masuk sama karakter OTP, walopun terlalu maksain jadinya OOC :D

Oya, ada yg ngasi masukan buat naikin rate juga, liat nanti aja, oke?! #smirk

.

Special Thanks To : Brieanita ; kyuxmine ; Love Kyumin 137 ; LS-snowie ; dewi. k. tubagus ; Chella-KMS ; Dorakyumin ; kmskjw21 ; tiasputrii ; Jihae Kyumin ; sparkyuvil ; Prince Changsa ; lovelylee ; Chikyumin ; imah ; Kyuminsimple0713 ; chocokyu ; Siatha Ahsani Fatiha ; Zianna Pudinna Faza137 ; guixian ; dan 5 GUEST.

.

Last, review more?