An OnKey Fanfiction
Only One
Cast :
Kim Kibum (SHINee), Lee Jinki (SHINee), Kim Jonghyun (SHINee), Lee Taemin (SHINee), Choi Minho (SHINee), Wu Yifan (EXO), dll baca sendiri coba~
Genre :
Romance / Angst / Humor
Disclaimer :
Semua cast milik orang tua masing–masing, Tuhan Yang Maha Esa dan agensi mereka :') No copycat, no copydog, copymouse dan segala jenis hewan(?) Tapi cerita ini murni milik sayah ^^
Warning :
YAOI / BOYS LOVE | CHAPTERED | TYPO(S) | OOC | DON'T LIKE DON'T READ | NO BASH JUSEYO *tebar cium*
Note :
Cerita ini sebenernya terinspirasi sama anime yaoi berjudul "Love Stage" ^^ Gk sepenuhnya sih, Cuma sifatnya si seme yang bikin terinspirasi kekeke –_–"
HAPPY READING ^^
[Chapter 2 : Do You Remember Me?]
"Annyeong, Kibum–ah!"
Seorang namja berkacamata tebal segera menolehkan kepalanya ke arah suara yang memanggil namanya. Namja tersebut membelalakkan matanya setelah mengetahui sang pemilik suara yang begitu dikenalinya.
"Ya ya ya! Jangan berjalan terlalu cepat, Kibum–ah!" Namja belo yang memanggil nama Kibum tadi segera mengejar namja cantik itu ketika menyadari kalau Kibum berusaha mempercepat langkahnya.
"Ada apa?" Tanya Kibum, singkat, padat dan jelas.
"Yaa setidaknya berhentilah dulu! Aku lelah berjalan cepat seperti ini." Langkah Kibum terhenti, lalu ia mendongak menatap wajah Minho –si namja belo– dengan malas.
"Ada apa Choi Minho–ssi?"
"Aku ingin berangkat sekolah dengan tenang kali ini, jadi tolong jangan mengikutiku lagi."
Minho tertawa kecil sambil meraih pundak Kibum. "Kau to the point sekali, Kibum–ah? Aku jadi semakin jatuh cinta padamu."
Kibum menghembuskan nafasnya dengan kasar. Oh ayolah, ia hanya ingin berangkat sekolah dengan damai, belajar di sekolah dengan nyaman, pulang dari sekolah dengan tenang, lalu tidur di rumah dengan nyenyak. Bukannya bertemu dengan makhluk jadi – jadian dengan mata belo seperti kodok ini. –_–
"Rayuanmu itu sudah basi, Mr. Choi."
Minho tersenyum geli melihat ekspresi yang ditunjukkan Kibum padanya. "Aaahh kyeopta~~"
" Aku jadi ingin mencu– Eoh? Kenapa pipimu lebam begitu, Kibum–ah? Dan… Ah sudut bibirmu ada bekas lu–''
"Aku tidak apa – apa, Minho–ssi. Jangan pedulikan aku." Dengan gerakan cepat, Kibum menepis tangan Minho yang hendak menggapai wajahnya.
Wajah Minho berubah muram seketika. "Ya! Tidak apa – apa bagaimana? Kau terluka seperti ini bagaimana aku bisa tidak peduli padamu? Katakan padaku siapa yang melakukan ini padamu?"
"Jangan membentakku seperti itu! Bukan siapa – siapa. Sudah kubilang jangan pedulikan aku!"
Minho memijat keningnya sebentar, lalu menatap lekat pada Kibum. "Arrasseo arraseo. Aku tidak akan membahas itu lagi."
"Tapi …" Minho mengeluarkan smirk andalannya. "... setidaknya hari ini kau tidak diganggu oleh anak – anak berandalan itu berkat aku yang ada di sampingmu hari ini. Bagaimanapun juga mereka takut denganku. Ah, aku sudah seperti bodyguard setiamu, Kibum–ah. Keren sekali aku ini."
Dan untuk kesekian kalinya Kibum menghembuskan nafasnya kasar sambil memutar bola matanya jengah. tanpa basa – basi, ia segera meninggalkan Minho dengan langkah yang panjang. Sedangkan Minho? Ia sedang sibuk berangan – angan tentang ia dengan Kibum tanpa mengetahui bahwa pujaan hatinya itu sudah meninggalkannya dari tadi –_– Pabboya~
…
Sekolah masih lumayan sepi saat Kibum –dan Minho yang mengikutinya di belakang– sampai di depan gerbang. Kibum memang selalu berangkat satu jam atau setengah jam lebih awal agar terhindar dari anak – anak usil yang suka mengganggunya. Meskipun Minho selalu di sampingnya untuk menjaganya, tetap saja ia harus bersikap waspada jika saja anak – anak itu melakukan hal di luar batas. Lagi pula ia juga tidak ingin menggantungkan 'keselamatan'nya pada Minho.
Kibum melangkah memasuki sekolah dengan lengan Minho yang –dengan cepat–melingkar di pundak kecilnya. Jujur, sebenarnya ia sangat risih. Namun percuma saja melawan kodok burik di sampingnya ini, kekuatannya sudah seperti Hulk menurut Kibum.
Baru beberapa langkah Kibum dan Minho memasuki sekolah, nampak seseorang berambut hitam legam berlarian menuju ke arah mereka berdua sambil melambai – lambaikan tangannya.
"Kibum! Minho!" Minho terpana akan pemandangan Taemin yang tengah berlari di depannya.
"Selamat pagi, Kibum, Minho. Semoga hari kalian menyenangkan!" Sapa Taemin, ceria.
"Selamat pagi. Kau juga ya, cantik." Minho menjawab dengan nada menggoda dan wajah yang dibuat – buat. Sungguh membuat Kibum ingin muntah untuk kedua kalinya pagi ini.
"Ya! Apa kau bilang?! Cantik?" Taemin tidak segan – segan memberi jitakan yang lumayan keras untuk Minho.
"Cantik sih, tapi sayang sekali kau galak seperti singa betina yang kelaparan." Cibir Minho sambil mengelus kepalanya yang terkena jitakan Taemin.
Taemin hanya mendengus kesal, ia sudah lelah meladeni sikap namja sok tampan di depannya ini. Pandangan Taemin berpindah pada Kibum yang hanya melihat percakapan mereka berdua dengan tatapan yang –amat– sangat datar.
Taemin tersenyum ramah. "Pagi Kibum–ah! Kkajja kita pergi ke kelas bersama!" Tangan Taemin langsung merangkul pinggang Kibum dan menggiringnya menuju kelas, meninggalkan Minho yang bersungut kesal karena Kibum–nya diambil oleh singa betina galak itu.
"Kau ada piket 'kan hari ini?" Tanya Taemin, berusaha 'sok' dekat. Kibum hanya merespon dengan gelengan kepalanya saja.
"Eoh? Lalu kenapa kau berangkat pagi – pagi sekali seperti ini?" Kibum terkejut dengan pertanyaan yang meluncur dari mulut Taemin. Mana mungkin ia menjelaskan secara detail bahwa ia adalah korban bully di sekolah ini kepada murid baru? Ia menggigit bibirnya pelan berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
"Eh? Ya Kibum–ah! Kibum–ah!" Taemin berteriak kepada Kibum yang tiba – tiba berlari menuju kelas mendahului Taemin dan Minho. Taemin tak habis pikir, seingatnya ia bertanya dengan baik – baik dan tidak ada unsur – unsur mengancam. Tapi kenapa Kibum seakan menghindari pertanyaannya tadi?
Tak berapa lama Taemin merasa mendapat cubitan keras di pipinya hingga memerah. Ia menengok ke arah kanannya untuk melihat sang pelaku, Minho.
"Kau berani sekali menanyakan hal sensitif seperti itu kepada Kibum? Aku tidak terima! " Sungut Minho.
"Hah?" Kini rasa bingung Taemin melipat ganda setelah mendengar gerutuan Minho kepadanya. Apa sih maksudnya?
"Hah? Apa maksudmu? Aku benar – benar tidak mengerti."
Minho menghela nafasnya panjang, lalu melihat Taemin dengan pandangan meremehkan. "Ck, aku lupa jika kau adalah murid baru. Beradaptasilah dengan lingkunganmu secepatnya, dengan itu kau bisa tahu lebih dalam tentang Kibum sepenuhnya."
"Ya ya ya! Tunggu! Aish." Taemin menggerutu pelan melihat Minho yang berlari menyusul Kibum. Apa maksud perkataan manusia kodok jadi – jadian itu?
"Hyung, aku merasa aneh. Apa benar perkiraanku kalau Kibum sering dibully di sekolah? Bertolak belakang sekali dengan Kibum sewaktu kecil yang kau ceritakan kemarin." Taemin menyeruput jus mangga–nya sambil sambil sesekali menatap mata bulan sabit milik namja di depannya.
"Bukti apa yang menguatkanmu, hm?" Sahut Jinki, santai. Berusaha menyembunyikan ekspresi kekagetannya mendengar penuturan adiknya itu.
"Tadi lamat – lamat aku mendengar anak di seberang bangku–ku membicarakan tentang Kibum yang terjebak di toilet dua minggu yang lalu, hyung. Ta–" Taemin menghentikan ceritanya ketika sang objek pembicaraan baru saja lewat berdampingan dengan namja sok keren –menurut Taemin– bermata besar. Jinki dan Taemin merasa atmosfer di kantin berubah seketika. Terlihat beberapa haksaeng yang berbisik – bisik sambil menatap lekat pada sosok Kibum dan Minho yang sedang memesan bubble tea. Jinki bahkan hampir memukul haksaeng di dekatnya yang memanggil Kibum dengan 'namja sampah'. Beruntung Taemin dengan sigap menenangkan amarah kakak kesayangannya itu.
Jinki melihat lekat pada Kibum yang terlihat seperti memasang sikap waspada sambil sesekali menunduk dan terus meremas – remas blazer–nya. Sedangkan Minho? Ia tersenyum lebar sambil beberapa kali berusaha menggoda Kibum meskipun percuma karena yang digoda hanya menunduk. Minho seperti mengabaikan teriakan iri dan tatapan membunuh –kepada Kibum tentunya– dari beberapa haksaeng yang juga merupakan fans berat Minho.
Jinki berdecak pelan melihat pemandangan yang disuguhkan tepat di depan matanya itu. "Ck. Itu kah namja yang menyukai Kibum, Taemin–ah?"
Taemin terkejut mendengar pertanyaan Jinki yang tiba – tiba. Oh, apakah hyung–nya saat ini sedang dilanda kecemburuan besar? Moment berhargaini perlu diabadikan mengingat Jinki belum pernah sekalipun mempunyai kekasih ataupun seseorang yang dicintainya, begitu pikir Taemin. Ia juga mempunyai keinginan besar menggoda kakaknya setelah ini.
"Ah, iya hyung. Dia yang namanya Minho. Dia menyukai Kibum sejak sekolah dasar. Kira – kira begitu yang aku dengar dari obrolan anak sebelah."
"Eumm hyung, kau baik – baik saja 'kan?" Taemin melihat Jinki menggertakkan giginya. Ia belum pernah melihat hyung–nya terlihat marah luar biasa seperti ini sebelumnya. Niatan Taemin untuk menggoda Jinki pun sirna sudah.
"Bahkan aku jauh lebih tampan dari kodok burik itu, cih." Jinki mengalihkan matanya kesal. Oh, dan sekarang Taemin diliputi rasa menyesal setelah mengatakan secuil informasi yang ia dapatkan dari hasil mencuri dengar obrolan anak sebelah tentang Minho kepada Jinki. Taemin dapat melihat kilatan api kemaraham yang sangat jelas di mata tipis milik Jinki.
Merasa ditatap oleh dua manik hitam milik Taemin dengan namja di sebelahnya –ia sama sekali tidak tahu siapa namja yang sedang merengut sambil membuang mukanya itu–, Minho segera melambaikan tangannya ke meja Taemin. Taemin mengerjapkan matanya cepat melihat Minho –dan Kibum yang tengah diseret paksa oleh Minho– menghampiri mejanya dengan Jinki. Lengannya refleks menyikut Jinki yang masih asyik dengan tteokbokki–nya.
"Hyung, mereka kemari!" Jinki hampir tersedak kue beras pedasnya itu mendengar perkataan Taemin barusan. Dengan tergesa, ia merapikan blazer–nya dan berusaha setampan mungkin di pertemuan pertamanya dengan Kibum setelah beberapa tahun tidak bertemu.
Ia melihat Kibum yang terus menunduk sambil sesekali membenahi letak kacamata tebalnya duduk tepat di hadapannya. Tentu Jinki sangat senang dapat melihat langsung wajah manis Kibum dari dekat, meski terhalang beberapa helai rambut pendek yang menghuntai di depan wajahnya. Namun kebahagiaannya Jinki memudar setelah ia mengingat bahwa makhluk jadi – jadian serupa kodok tengah duduk berdampingan dengan Kibum-nya.
"Hai Taemin–ah!" Sapa Minho sambil meletakkan dua gelas bubble tea miliknya dan milik Kibum di meja. Mata Minho beralih pada Jinki yang terlihat sedang menahan kesal.
"Hai, aku Minho. Kelihatannya aku belum pernah melihatmu di sini." Tanya Minho, ramah. Ia lumayan terkenal di sekolah, jadi ia juga hafal hampir semua wajah – wajah yang berada di sekolah ini. Tapi sekalipun ia belum pernah bertemu dengan namja ini. Apa ia murid baru sama seperti Taemin?
"Aku murid baru, sama dengan Taemin." Sahut Jinki, singkat. Ia ingin Kibum-nya yang menyapa dirinya lebih dulu, bukannya namja tiang –dan jelek-ini.
"Iya, aku murid baru disini. Dan aku juga kakak Taemin." Jawab Jinki ketus. Pandangannya tetap tertuju pada Kibum –yang masih menunduk- tanpa sekalipun menoleh pada Minho yang sedang mengajaknya berbicara.
Minho membelalakkan matanya. "Ah jadi sunbae adalah hyung-nya Taemin? Wah kebetulan sekali, aku teman sekelasnya Taemin, sunbae." Minho mengulurkan tangan kanannya bermaksud mengajak Jinki bersalaman.
Dengan wajah yang sangat terpaksa, Jinki menerima uluran tangan Minho dan menjabat tangannya. "Senang berkenalan denganmu."
Taemin melihat kedua namja di depan dan di sampingnya ini layaknya drama – drama yang ada di televisi. Namun ia sedikit takut jika hyung-nya kelewat batas. Bagaimanapun ia adiknya, dan ia juga paham betul jika seorang Lee Jinki sangat mengerikan saat marah.
"Kalau boleh aku tahu, siapa nama sunbae?"
"Namaku Lee Jinki."
DEG
Kibum mengangkat kepalanya seketika. Matanya terbelalak dan wajahnya menunjukkan ekspresi kekagetan yang sangat kentara. Bibirnya bergetar. Ia berusaha mengatakan sesuatu, namun suaranya seakan tertahan di tenggorokan.
Minho yang berada di sampingnya sangat heran melihat ekspresi Kibum. "Kau kenapa Kibum-ah? Apa kau sakit?"
"J-ji.. Jinki hyung?"
Mata Jinki berbinar – binar mendengar Kibum memanggilnya. "Kau ingat aku, Kibummie?"
Minho semakin heran dan bingung melihat Jinki dan Kibum terlihat seperti saling kenal. Dan kebingungan Minho mencapai level teratas ketika tiba – tiba Kibum bangkit dari duduknya, lalu meninggalkan cafetaria dengan tergesa - gesa.
"Ya Kibum-ah, mau kemana kau? Ah, aku permisi dulu sunbae. Tunggu Kibum-ah!" Minho segera berlari menyusul sambil membawakan bubble tea milik Kibum yang tertinggal. Jinki menatap shock pada Kibum yang tiba – tiba saja meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.
Taemin yang melihatnya pun merasa simpati dan segera menenangkan hyung-nya. "Hyung.. Kau tak apa?"
"Ada apa dneganmu, Kibummie.." Ucap Jinki, lirih.
~TBC~
Hai hai, chapter 2 update~! Maaf ya baru bisa update bagi yang nungguin ff ini lama banget hehe
Aku belum sempet ada inspirasi ngelanjutin cerita ini gara – gara pikiranku ngestock ke KaiSoo mulu *_*
Tapi tetep pairing utama yang sangat aku favoritin itu OnKey huhuhuhu~
Aku usahain cepet update lagi kok, asal ada yang review tulisanku ini aja hehe
Okay akhir kata, mind to review? ^^
