Disclaimer: Ingat, kalau saya yang punya, saya tidak akan menulis penpik. Kurobas dan all chara belong to Fujimaki-sensei

Enjoy!

.

.


Chapter 2 : Rainbow

.

.

Ketiga chibi dengan warna kontras itu tengah terkulai bosan di atas bentangan karpet import di dalam kamar si kembar. Cuaca tak bersahabat di luar sana, telah menghalangi trio ricek itu untuk bersuka ria. Ekspedisi rutin di pekarangan rumah Akashi yang luasnya kolosal itu pun harus di-pending untuk sementara waktu.

Seijuurou yang syahdu telentang, tengah memandang langit-langit. Paras cantik bocah merah itu dilipat bosan.

Tetsuya sedang tidur tengkurap dengan kepala disangga telapak tangan. Pipi putih rutin mengembung dan mengempis karena jenuh.

Yang terakhir, ada Furihata yang duduk anteng dengan posisi kaki ditekuk santun. Si choco ini pun hanya terdiam menatap tabur hujan dari balik kaca jendela.

"Tetsuya bosan ..." Bocah yang paling kecil di sana menggeliat gelisah. Terlalu lasak berguling, kakinya menyundul mantap pucuk kepala bertutup surai merah.

"Maaf ... Nii-sama," tutur Tetsuya lirih saat melihat sang kakak menyingkirkan kaki mungilnya dengan sedikit keki. Kepala biru permen karetnya mendapat posisi paling pewe di atas pangkuan Furihata.

Seijuurou menghela nafas. Seluruh kejengkelannya menguap saat melihat tampang datar namun penuh arti milik kembaran birunya. Andai kaki nyeleweng tadi bukan milik Tetsuya, Seijuurou akan dengan senang hati unjuk kemahirannya dalam ilmu bergunting.

"Ki ni sunna, Tetsuya. Gak masalah kok." Yang sulung mengusap benang-benang langit. Seijuurou gemas melihat raut melas Tetsuya yang ditekuk melas sedemikian rupa meski masih deadpan. Sepasang biner ruby kini beralih pada dunia di balik jendela diikuti dengan decakan lidah.

"Tch, kapan hujannya berhenti, sih? Apa mereka semua tidak tahu kalau aku yang absolut ini mulai jenuh?!"

Furihata sebagai chibi yang paling waras hanya bisa geleng-geleng mendengar testimoni Seijuurou. Tampaknya hanya dia seorang makhluk bantet di sana yang masih bisa berpikir wajar. "Kurasa hujannya akan lama ..." pelayan mungil itu menggumam pelan. Jemarinya reflek mulai berlari di antara helaian sutra di atas pangkuan.

"Mungkin tidak ya, kalau setelah ini ada pelangi?"

"Pelangi?" Tetsuya bertanya dengan nada diseret. Suasana yang mellow dan pangkuan hangat Furihata. Masih ditambah belaian dari yang bersangkutan. Bagai lullaby yang mujarab, tidak heran kalau kesadaran Tetsuya mulai terbunuh.

"Um." Serabut karamel naik turun antusias mengikuti pemiliknya yang angguk-angguk. "Pelangi biasanya muncul setelah hujan seperti ini. Indah sekali, lho. Sei-sama dan Tetsu-sama pernah lihat pelangi? Ah, Tetsu-sama jangan tidur di sini! Nanti bisa masuk angin!"

Seijuurou menyorot Furihata singkat sebelum akhirnya menggulirkan kedua manik scarlet-nya kembali ke arah jendela. "Tentu saja. Anak macam apa yang belum pernah lihat pelangi, apalagi yang absolut sepertiku," sahut yang merah berbonus dengusan.

"Tentu saja ..." Keringat seukuran telur bergulir di ubun-ubun Furihata. Tampaknya tanpa sadar kata-kata si babu kerdil telah menyundut ego sang emperor cilik.

"Kalau masih di panti, biasanya kami akan berlomba mencari pelangi. Yang pertama menemukannya yang menang." Tawa rendah sarat nostalgia melesat dari bibir Furihata. "Ramai sekali lho. Kadang-kadang sampai berantem."

Seijuuro dan Tetsuya mengatupkan bibir terdiam. Kedua bocah kembar itu memandang gelagat si pelayan yang tidak seperti biasanya—canggung, akward plus kikuk. Paras berbingkai karamel tersebut kini tampak ceria layaknya anak-anak seusianya.

Mungkinkah, Furihata kangen dengan teman-temannya di panti?

"Nee, Fulihata-kun ..."

"Ya?" Masih menyunggingkan senyum, perhatian Furihata kini fokus pada buntalan baby blue di atas paha. Tetsuya menatapnya curious dengan sepasang orb besar berwarna cerulean.

"Apa Fulihata-kun pelnah menemukan pelangi?" Tetsuya bertanya cadel. Meski dilafal secara monoton, sebaris diksi tadi tetap mewakili ekspetasi sang penanya mengenai keseharian pelayannya sebelum bertemu—baca: menjadi milik—mereka.

"Sore wa maa ..." Furihata mendadak tersipu. Sambil tertawa kikuk, telunjuk bocah itu mulai menggaruk lahan kecil di pipinya. "Tidak seperti yang lain, Aku kurang sigap, jadi belum pernah sekalipun jadi yang pertama menemukan pelangi."

"Sekali pun belum pelnah?"

Kepala bertutup light brown menggeleng. "Zenzen." Belum pernah sekalipun.

"Oh."

"Tentu saja kan?" Seijuurou buka mulut setelah lama bungkam. Sepasang maniknya masih belum hengkang dari tarian hujan di luar sana. "Orang macam apa yang akan melakukan hal sia-sia seperti mencari pelangi? Benda itu akan muncul, dicari tidak tidak."

Furihata terdiam sesaat. Matanya beralih dari sepasang aqua menuju punggung kepala yang dipenuhi oleh surai sewarna ruby. "Iya juga ya." Dia terkekeh pelan, yang entah mengapa terdengar begitu hampa di telinga si kembar.

-S-V-C-

"Sei-sama! Tetsu-sama!"

Jerit melengking yang melesat dari pita suara Furihata melabrak lenggangnya lorong mansion. Dua individu yang namanya disebut lantas menghentikan kegiatannya hanya untuk ditubruk oleh blur serwarna kayu jati.

"Furihata, kau ini kenapa?!" Seijuurou sensi. Diberondong si babu chibi saat tengah pamer pose absolut pada Tetsuya bukanlah hal yang menyenangkan baginya.

Melihat wajah gahar si Akashi sulung, Furihata yang biasa sudah pasti akan ngompol sambil sesenggukan. Sayangnya saat ini berbeda. Bahkan intesitas deathglare seorang Akashi Seijuurou pun masih belum bisa merontokan senyum selebar pantat yang menjamah wajah Furihata Kouki.

"Aku menemukannya!" Furihata menjerit girang. Seijuurou mulai khawatir dengan kelangsungan gendang telinganya.

"Menemukan apa, Fulihata -kun?" Tetsuya kalem dan terlampau santun untuk ukuran bocah ingusan. Alis biru berkerut halus melihat tingkah pelayannya yang kini hiper layaknya anak anjing ketika salah makan gula.

Senyum di wajah Furihata semakin lebar. Seijuurou mulai merinding. Tetsuya khawatir si coklat benar-benar telah salah memakan makan siang Nigou.

"Aku menemukannya! Aku menemukan pelangi!"

-S-V-C-

Sepasang kembar dengan collab merah-biru tersebut hanya bisa mengekor patuh dari balik bokong si brunette. Masing-masing satu dari tangan kedua Akashi telah ditawan oleh Furihata yang kini sedang bringas menyeret mereka ke luar rumah.

"Lihat!" Telunjuk kurus Furihata menjulur pada angkasa yang menaungi taman di sebelah barat kediaman Akashi.

Mengikuti gestur si kokoa, biner ruby-turqouise pun mendongak. Di atas sana, segaris busur dengan tujuh lapis warna tengah membelah birunya langit.

"Ah, pelangi. Ternyata kau berhasil menemukannya. Yoku yatta na, Furihata." Seijuurou sok berwibawa, mendaratkan tepukan bangga pada bahu pelayannya.

Tetsuya menepukan tangannya perlahan. Ujung bibirnya naik, memberi sedikit ekspresi pada facial-nya yang terlalu datar. "Omedettou, Fulihata-kun."

"Hehehe." Furihata menggaruk rambut coklatnya malu-malu. Bocah itu salting namun masih sempat berbesar kepala pula.

Tidak setiap hari mantan bocah panti itu mendapatkan pencapaian gemilang layaknya hari ini. Apalagi sampai mendapat pujian dari dua chibi yang terkenal suka nge-troll di sebelahnya. Kurang senang apa coba?

"Hai. Doumo, doumo." Si coklat bungkuk-bungkuk untuk menunjukan apresiasi karena telah dipuji.

Sayang, kakak beradik itu malah tidak melihat Furihata. Fokus pandangan mereka kini berpusat pada fenomena alam yang masih menggantung di atas kepala. Tidak terbaca apa yang tengah mereka pikirkan saat ini.

"Telakhil kali Tetsuya dan nii-sama lihat pelangi, waktu itu okaa-sama yang peltama menemukannya," Tetsuya berujar lirih sambil masih memandang langit. "Ah, kupikil ... memang selalu kaa-sama yang menemukan pelangi duluan."

"Yap. Kaa-sama selalu tahu kapan dan di mana pelangi akan muncul. Kira-kira sudah berapa lama sejak hari itu?" Kedua biner delima Seijuurou belum beranjak dari garis mejikuhibiniu di atas kepalanya.

"Lama sekali, Tetsuya sudah tidak ingat ..."

Furihata mendadak nerfes hingga ke ujung jempol karena digerayangi hawa gloomy milik Seijuurou dan Tetsuya.

Jujur, tidak banyak yang diketahui chibi kokoa itu mengenai mendiang Nyonya Akashi. Yang diketahui hanyalah bahwa beliau adalah carbon copy dari putra bungsunya—sama-sama berambut biru dan memiliki mata biru.

Siapa yang menyangka kalau pelangi akan mengingatkan si kembar pada sang bunda yang telah pergi mendahului mereka?

"Ano, Sei-sama ... Tetsu-sama ..." Furihata celingak-celinguk. Bocah itu tidak menduga kalau kedua majikannya akan bersedih—meski yang ditunjuk akan segera menampiknya mentah-mentah lalu berkata, 'seorang Akashi tidak bersedih karena itu adalah tanda kelemahan'.

Sungguh, sejak kapan cerita ini berubah menjadi begitu suram?

"Kau tahu, Furihata." Selesai bergalau ria, tabiat Seijuurou sebagai diktator mini telah balik dalam kapasitas maksimum. Melankolis yang tadi hinggap, telah sirna diganti raut bossy andalannya.

"Kaa-sama selalu bilang kalau pelangi itu mengingatkannya padaku dan Tetsuya. Apa kau tahu alasannya?"

"Hmmm ..." Furihata mencubit dagunya dalam konsentrasi. "Mungkin karena beliau berharap Sei-sama dan Tetsu-sama akan tumbuh tinggi setinggi pelangi di atas sana?"

Sudut pada kelopak mata sewarna apel washington berkedut. "Jawabanmu salah, Furihata. Jawabanmu salah dan entah mengapa aku merasa kau mengejek tinggi badanku dan Tetsuya." Seijuurou angkat tinju. "Dan orang macam apa yang akan tumbuh setinggi itu?"

"Aku tidak bermaksud seperti itu ..." Furihata sweatdrop. Toh, dia sendiri juga kuntet, tidak berhak mengolok si kembar yang hanya tertinggal beberapa inchi di bawahnya.

"Alasannya adalah kalena bos-nya pelangi adalah melah dan langitnya belwarna bilu ..." jelas Tetsuya dengan muka super datar. Ah, yang bungsu pun tampaknya juga telah kembali pada karakter default-nya.

"Bosnya pelangi? Oh, maksudnya warna yang paling atas itu ya?" Furihata manggut-manggut.

"Kaa-sama sering bilang kalau dibanding warna yang lain, merah dan biru itu selalu tampak lebih dominan."

"Yup. Merah dan biru memang jauh lebih kuat. Seperti super heroes." Si pelayan mengamini pernyataan majikannya. "Sasuga Sei-sama dan Tetsu-sama. Bahkan langit juga ikut-ikutan warna kalian."

" ... Bagaimana dengan Fulihata-kun?"

"Eh?"

"Bagaimana dengan walna coklat milik Fulihata-kun?" Tetsuya mengulang pertanyaannya.

"Aku?" Telunjuk Furihata mengarah pada dirinya sendiri. Makhluk chibi berambut bronis itu mulai menggaruk tengkuknya bingung.

"Ano, karena tidak ada warna coklat di langit, tempatku tidak bersama dengan Sei-sama dan Tetsu-sama. Kalau aku..." Sepasang butir mini berwarna coklat beredar menjelajah sekitar. "Ah, itu! Aku berada di bawah. Seperti tanah, kayu dan genangan di sana. warna kami sama, kan?"

Seijuurou dan Tetsuya hanya terdiam. Fokus keduanya kini beralih dari langit namun menuju segumul air keruh yang ditinggalkan hujan di taman belakang rumah mereka.

-S-V-C-

Furihata berdiri di depan sebuah pintu dengan wajah gugup. Sudah cukup lama ia berjibaku di sana menanti majikan bungsunya. Lima belas menit berlalu sejak Tetsuya dipanggil sang ayah dan masih belum muncul hingga saat ini.

"Ah, Tetsu-sama." Furihata mendekati si baby blue yang kini menarik knop pintu ruang kerja ayahnya. Satu tangan mungil si Akashi bungsu melingkar pada secarik kertas berukuran A4.

Melihat raut cemas pelayannya, Tetsuya hanya menggeleng. Seragam TK masih melekat pada raga bocah biru itu. Tetsuya masih belum sempat ganti ketika sang ayah memanggilnya.

"Tetsuya dimalahi Tou-sama," ujar sang majikan cilik lirih. "Tou-sama bilang kalau tadi Bu Gulu telepon dan celita kalau nilai menggambal Tetsuya jelek."

Furihata diam.

Sudah bukan rahasia lagi kalau Tuan Besar Akashi sangat tegas dalam membesarkan kedua putranya. Bocah coklat itu hafal betul dengan tabiat Tuan Masaomi yang tidak sudi mentolerir kekurangan, tidak peduli sekecil apapun itu.

Apalagi kali ini berhubungan dengan Tetsuya yang notabene sering dielu-elukan sebagai prodigy artist atau seniman jenius pada usianya. Jelas saja Akashi Masaomi tidak akan tinggal diam saat mengetahui kinerja si bungsu menurun di sekolah.

"Boleh lihat gambarnya, Tetsu-sama?" Furihata penasaran seperti apa gambar yang kini jadi bahan perkara.

Secarik kertas yang bersarang di tangan Furihata tengah menampakan bentangan taman bunga yang berhias langit biru dan pelangi. Gradasi warna, tarikan tiap garis dan prespektif gambar di sana bukanlah goresan kikuk bocah berumur lima tahun. Di salah satu sudut kertas itu tertera huruf A yang diikuti sebuah garis horizontal pendek.

"Gambarnya bagus seperti biasa. Memang apa yang salah?"

Sungguh keterlaluan sang guru memberi nilai A minus pada karya seindah ini.

Tetsuya cuek, menolak untuk berkomentar. "Lihat pelanginya," perintah si kepala azure singkat. Kuudere sekalipun ia juga Akashi, tidak heran bila terkadang bisa ketus juga.

"Pelangi?" Furihata patuh. Kedua biji kokoanya digulir untuk berpusat pada lapisan garis dengan warna beragam di salah satu sisi kertas. "Memang apanya—Tetsu-sama!" Butir coklat melebar dramtis saat menemukan apa yang salah di sana.

"Kenapa ada warna coklat dalam pelanginya?!"

Tidak heran guru TK-nya ribut, ternyata Akashi Tetsuya telah melakukan sebuah gebrakan drastis dalam karyanya.

"Kenapa semua melibutkan hal itu?" Tetsuya menggerutu dengan wajah yang ditekuk. "Tetsuya menggambal apa yang Tetsuya suka dan jika menurut Tetsuya pelangi tampak lebih baik ketika ada coklat, maka akan Tetsuya gambal dengan walna coklat." Begitu mutlak, tanpa menyisakan ruang untuk protes. Tidak diragukan lagi, Tetsuya adalah seorang Akashi.

Dengan itu, yang biru pun berbalik meninggalkan Furihata yang hanya bisa mangap dengan selembar kertas di tangannya.

"Bagus kan, Furihata?" Seijuurou yang entah muncul dari mana, menepuk pelan kepala Furihata sebelum akhirnya berjalan mengejar adiknya. " ... Sekarang kau bisa bersamaku dan Tetsuya di langit."

Lagi-lagi perasaan itu muncul. Rasa hangat yang membuncah dan memenuhi tiap relung dadanya hingga terasa sesak. Rasa itu hanya muncul ketika dia bersama dengan kedua majikannya. Tanpa disadarinya, bibir Furihata telah membentuk kurva ceria. Chibi choco itu pun tertawa sambil menyongsong punggung kedua kembar di depannya.

"Tunggu aku, Tetsu-sama! Sei-sama!"

Hari ini, harta karun Furihata Kouki semakin bertambah. Bukan emas atau uang. Bukan pula sesuatu yang bisa dipegang dan disimpan dalam peti. Namun sesuatu yang tak nampak dan takkan lekang dimakan waktu.

.

.

.

.

Satu lagi, siapa pun tidak menduga bahwa ini adalah awal dari kebiasaan ajaib Tetsuya untuk menambah satu shade coklat dalam pelanginya. Dan hal itu akan terus awet bahkan ketika anak itu tumbuh dewasa ...

- Chapter 2 /Rainbow/ End –

Minna, saya ucapkan terima kasih karena sudah mau menyempatkan diri untuk melongok cerita ini. Semoga update-nya diterima ... Maaf kalau kurang adegan pem-bully-an yang ditunggu-tunggu—reader-nya pada maso :D. Yang ini khusus untuk fluff dulu, oke?

Balasan review untuk yang tidak bisa di-PM:

Untuk Unknown-san, Saya senang fic saya bisa membuat anda terhibur. Untuk bagian review yang no comment, saya ikutan no comment karena tidak tahu harus comment apa *ditabok. Thanks for your review! Have a nice day.

Terima kasih atas semua support-nya. Special thanks for Yuna Seijuurou, Nenami Megumi, Aho Bishounen, Unknown-san, .1, owlkitty06, CALICO, Anne Garbo, Nearo O'nealy. Juga untuk yang sudah fav dan follow! Thanks 4 you all!

See you next time.