Ohh... hay... holaaaa...

Selamat pagi siang malem semua

Saya lama sekali nggak update yang ini.. maafkan saya minna-sama

Yahh..,, yang ini reviewnya lebih sedikit dari yang brother's smile ya? tapi nggak masalah sihh.. yang penting aku suka ini.

Ahh.. untuk permintaan sequel dari ini. dimana Gempa hidup sendiri. Aku masih nggak bisa nentuin. Mungkin ada mungkin juga enggak. Aku nggak tau konflik apa yang cocok buat itu. hehehe...

well dari pada panjang-panjang langsung saja

Selamat membaca

Warning: gaje, abal, OOC, no power, no alien, typo(gak tanggung-tanggung typonya bisa sampai satu kata) dan beragam genus dan family(?)kesalahan lainnya.

Hidup itu sulit, kenyataan itu pahit, dan waktu takkan bisa kembali ketika kamu sudah berjalan maju. Meski sulit Halilintar harus menerima kenyataan pahit dimana adik terkecilnya harus pergi di pelukannya dan sikap adik Gempa yang tak pernah mau memaafkannya bahkan bertatap muka dengannya. Belum lagi penyakit yang dideritanya sejak lahir yang semakin parah dari waktu ke waktu.

Saat ini Halilintar ada disekolah. Sikapnya menjadi seorang penyendiri setelah kematian orang tuanya dan semakin menjadi orang yang penyendiri yang bisa disebut anti-sosial sejak kematian adiknya. Seperti hari ini, ia hanya duduk termenung dikelasnya dan menatap guru yang sedang mengajarnya datar. Ia mencoba memahami semuanya agar ia masih tetap dapat sekolah dengan beasiswa yang didapatkannya. Keuangan keluarganya sangatlah sulit sekarang. Ia lah yang mengatur semuanya agar adiknya tak tahu apapun tentang sulitnya keuangan keluarganya sekarang. Ia akan dengan segera membeli bahan makanan ketika bahan makanannya telah berkurang. Lalu segera kesekolah Gempa untuk meminta keringanan waktu dan agar para guru disana tidak memberitahukan apapun pada Gempa. Meski biaya sekolahnya dan Gempa diberi keringanan bahkan Halilintar sekolah dengan gratis bukan berarti ia bisa cepat membayarnya. Mengingat tubuhnya yang mengidap penyakit jantung lemah. Pihak sekolah mengetahui hal itu karena doter yang selalu merawat dan membiayainya berobat memberi surat kepada pihak sekolah.

Seperti biasa Halilintar harus pergi ke restoran tempatnya bekerja sebagai pelayan. Meski ia anti-sosial ia masih bisa tersenyum saat melakukan perkerjaan paruh waktunya. Pekerjaannya tidak terlalu sulit. Hanya mengantarkan pesanan-pesanan pengunjung, pekerjaan itu tak mengganggunya meski dengan kondisi fisik yang tergolong lemah karena penyakitnya. Hingga waktu menunjukkan pukul 18.00, sang manager restoran menyuruhnya pulang karena tahu kondisi fisik Halilintar.

"Halilintar kau pulanglah. Kau juga harus menjaga kondisi tubuhmu." Kata manager perempuan berumur sekitar 40 yang menjadi sahabat ibunya dulu. Karena itulah Halilintar diperbolehkan bekerja disini.

"Tak apa bu. Saya masih bisa bekerja satu jam lagi." Kata Halilintar menolah dengan halus.

Sang manager hanya tersenyum dan menggeleng.

"Sudahlah kamu pulang saja. ini bayaranmu hari ini." ucap Ibu itu memberikan sedikit uang pada Halilintar. Disana Halilintar di bayar perjam dan akan disuruh pulang pukul 18.00 karena kondisi fisiknya.

"Terimakasih bu" ucap Halilintar dan pamit untuk pulang. Mau tak mau Halilintar harus pulang sekarang padahal ia harus memiliki uang untuk membeli bahan makanan. Ia berjalan pulang kerumah. Memang rumah dan tempatnya bekerja tidak begitu jauh dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Ia membuka amplop yang diberikan oleh manager, ada 9 lembar uang 10 ribuan. Memang ia hanya bekerja selama 3 jam di sana karena ada sedikit pembinaan untuk olimpiade sampai jam 3 sore.

"Kurang 25 ribu untuk membayar SPP Gempa bulan ini. Bahan makanannya juga habis. Huhh..." gumam Halilintar pelan. Ia berjalan langsung menuju kamarnya tanpa menyalakan lampu, tak lupa menutup pintunya. Entah mengapa ia suka kegelapan, ia suka tiduran diam dikegelapan. Sampai dikamar ia mengambil obatnya ketika dirasakannya dadanya sangat sakit. ia meminum obatnya dan menelannya dengan air yang selalu disiapkannya di dekat meja. Dadanya masih terasa sakit ia menatap obat itu. Dan melemparnya kesal. Ia sudah muak minum obat. Obat itu tak pernah menghilangkan penyakitnya dan hanya mengurangi sakit yang dideritanya. Ia akan mati, tak peduli ia meminum obat itu atau tidak ia akan tetap mati. Ia bingung, di satu sisi ia ingin pergi saja dari dunia ini namun disisi lain ia ingin menemani adiknya lebih lama lagi. Ia tak peduli meski adiknya menganggapnya tak ada. Asal ia masih bisa melihat wajahnya dan tahu bahwa Gempa naik-baik saja adalah kebahagiaannya yang tak ternilai harganya. Gempa memang tak pernah tersenyum padanya namun ia sudah sangat senang mengetahui bahwa Gempa selalu tersenyum diluar sana.

Halilintar mendengar suara handphone di sakunya.

"Ahh.. Ternyata dokter Burhan. Hallo?"

"Halilintar. Kamu tak lupa untuk kontrol kan hari ini? Seharusnya siang tadi kamu kemari."

"Ah.. Maaf dok. Saya lupa saya akan segera kesana sekarang." Halilintar segera bersiap-siap untuk pergi ke tempat dokter burhan. Selesai mandi dan bersih-bersih Halilintar segera pergi. Saat menuruni tangga ia melihat sang adik yang sedang menyiapkan makan malam.

"Aku keluar dulu." kata Halilintar pamit kepada adiknya. Ia tahu adiknya takkan mendongakkan kepalanya apalagi menjawab pamitannya. Meski ia berharap adiknya itu akan mengucapkan 'hati-hati' atau 'jangan pulang terlalu malam' tapi harapan hanya tinggal harapan, sang adik tetap melanjutkan makan dan menganggap Halilintar tak ada. Halilintar mendesah dan segera berlalu pergi ke tempat dokter burhan.

Perjalanan dari rumah ke tempat dokter burhan memerlukan waktu 20 menit menggunakan sepeda. Sesampainya di rumah sakit tempat dokter burhan bekerja Halilintar segera menuju ruangan dokter burhan.

"Selamat malam dok."

"Ahh.. Malam Halilintar. Kamu hampir lupa ya tadi? Duduklah!" kata dokter Burhan mempersilahkan Halilintar duduk.

"Maaf dok. Tadi siang saya harus pembinaan dan bekerja." Kata Halilintar dan duduk di depan dokter burhan.

"Kamu harus menjaga kondisi kamu. Aku tahu kamu harus menghidupi Gempa. Tapi kamu juga harus beristirahat. Kondisi kamu bisa semakin memburuk jika kamu memaksakan diri." Kata dokter Burhan mewanti-wanti.

"Saya mengerti dok."

"Huhh... Baiklah lebih bak kita mulai saja kontrolnya." Kata dokter Burhan mendesah. Pasien didepannya ini memang keras kepala, selalu memaksakan diri. Padahal ia tahu umurnya takkan lama lagi. Segala kontrol yang rutin dilakukannya seminggu sekali itu telah selesai.

"Hali.. Maaf tapi kondisi kamu semakin sedang memburuk kamu harus istirahat total besok." Kata dokter burhan lembut ketika melihat kondisi Halilintar yang semakin memburuk.

"Baik dok." Kata Halilintar pasrah. Ya.. dia sudah pasrah dengan nasibnya sekarang.

"Baiklah. Kamu boleh pulang sekarang besok kamu kesini lagi untuk mengambil obat. Nanti malam kamu minum obat yang dulu saja. besok baru diganti."

"Baik dok permisi." Ucap Halilintar pamit.

Hari telah malam, tak banyak lampu rumah yang menyala. Namun jalanan masih ramai pengendara. Besok ia harus beristirahat total. Tapi bahan makanan dirumahnya tinggal sedikit dan dia juga tak memiliki uang untuk membelinya. Ia harus bekerja besok. Ia tak peduli dengan kondisinya, yang pasti ia ingin Gempa tidak merisaukan masalah keuangan keluarga mereka.

Sesampainya dirumah, ia mendapati rumahnya yang lampunya masih menyala. 'Apa Gempa belum tidur?' Dilihatnya jam yang ada ditangannya menunjukkan pukul 22.00. Biasanya Gempa sudah tidur ketika ia pulang. Setelah meletakkan sepedanya di samping rumah dan menguncinya, Halilintar membuka pintu rumah perlahan. 'Tak dikunci? Tumben.' Halilintar semakin menyerngit heran. Dia melangkah masuk dan mengunci pintu rumah. Mungkin Gempa masih menonton TV atau mengerjakan tugasnya. Dilubuk hati Halilintar ia berharap Gempa bangun dan menunggunya pulang namun ia tahu itu takkan terjadi. Dia melihat ke ruang TV namun tak ada siapapun disana. 'Apa mungkin Gempa lupa mematikan lampu?' pikir Halilintar. Tanpa pikir panjang ia mematikan semua lampu dan beranjak tidur. namun saat melewati kamar Gempa, ia melihat pintu kamar yang tak sepenuhnya tertutup. Ia membuka pintu itu dan mengintipkekamar Gempa. Lampunya masih menyala namun sang adik sudah terbang kealam mimpi. Halilintar membuka pintu itu semakin lebar dan melangkahkan kaki masuk kekamar adiknya. Ia tak pernah melihat kamar adiknya sejak kematian Taufan. Gempa selalu menutup dan mengkunci kamarnya. Dilihatnya kamar Gempa penuh dengan foto-foto apalagi foto Taufan. Semua tersusun rapi di meja dan ada yang di gantung didinding. Tidak seperti kamarnya yang sangat kosong dan tak ada apapun kecuali almari, meja belajar dan ranjangnya. Ia melangkah kearah ranjang Gempa dan duduk disampingnya. Hatinya terasa sejuk ketika melihat wajah polos adiknya yang sedang tertidur. Wajah yang lama sekali tak dilihatnya. Tangan Halilintar mengelus lembut rambut Gempa. Entah mengapa hatinya terasa sakit namun senang secara bersamaan, ia merasa inilah saat terakhirnya melihat adik kecilnya yang tertidur seperti ini. Ia merasa esok akan menjadi hari yang menyakitkan sekaligus melegakan secara bersamaan. Tanpa disadarinya air mata jatuh dari kedua bola matanya.

"Sebenarnya aku tak mau meninggalkanmu. Aku tak mau membiarkan menjalani kehidupan ini sendirian. Tapi aku tak bisa melawan takdir yang akan mengambil nyawaku." Ucap Halilintar dengan bibir bergetar. Ia tak tahu apa yang telah diucapkannya tapi ia merasa ingin mengucapkannya sekarang.

Tanpa diduganya tubuh Gempa bangun dan memeluknya. Tubunnya membeku dan shock dengan apa yang dilakukan Gempa saat ini. 'Hangat' ia lama sekali tak merasakan kehangatan ini. Ia ingin merasakan kehangatan ini lagi. Namun ia tahu waktunya tak banyak, ia membalas pelukan Gempa dengan tubuh yang sedikit kaku karena tak terbiasa dipeluk. Namun ia senang dapat memeluk saudaranya seperti ini. ia ingin selamanya bisa disamping adiknya dan selalu memeluknya namun waktu terus berjalan dan semakin membawanya pada ajal. Cukup lama ia memeluk saudaranya, akhirnya ia melepaskannya. Gempa masih tertidur.

"Dia tidur rupanya!" kata Halilintar pelan dan membaringkan Gempa kembali. Halilintar tersenyum dan beranjak. Ia mematikan lampu di kamar Gempa dan mengucapkan selamat tidur untuknya.

"Selamat tidur, Gempa" ujar Halilintar lembut dan pergi kekamarnya untuk beristirahat.

OooooooooO

Pagi menjelang Halilintar membuka matanya dan beranjak bangun. Inginnya ia bekerja hari ini mengingat bahan makanan yang tinggal sedikit. Namun ia juga ingat pesan dokter semalam. Ia harus beristirahat total hari ini. Tapi kebahagiaan adiknya adalah yangn terpenting. Toh.. hanya bekerja sedikit takkan membuatnya kenapa-napa.

Halilintar membersihkan diri dan bersiap untuk bekerja di restoran milik sahabat ibunya. Selesai mandi dan bersih bersih Halilintar memutuskan untuk mengenakan jaket dan topi kesayangannya. Ia melihat kamarnya. Buku kemarin lusa malam belum di bersihkan dan juga selimutnya yang belum di rapikannya.

'Nanti sajalah' pikir Halilintar dan beranjak turun kebawah. Di bawah ia melihat Gempa yang duduk dimeja makan. Halilintar mengambil tempat duduk yang jauh dari Gempa. Seperti hari hari biasanya jika ia duduk di meja makan saat Gempa makan, ia hanya akan sakit dan sedih ketika sang adik akan memilih untuk membawa makanannya menuju kamarnya.

"Aku akan pergi hari ini. Mungkin seharian, jadi kamu nggak usah memasakkanku makan siang." Ucap Halilintar kepada adiknya. Ia melihat sang adik berhenti sebentar dan hanya mengangguk singkat lalu kembali berjalan ke kamarnya. Entah mengapa Halilintar merasa hatinya menghangat, ia masih ingat betul bagaimana kehangatan pelukan dari adiknya kemarin. Ia merasa senang, meski ia tahu Gempa secara tidak sadar saat melakukannya tapi ia yakin jauh di lubuk hati adiknya itu Gempa masih menyayanginya. Pemikiran itu membuatnya tersenyum. Senyum bahagia karena iaberfikir bahwa adiknya menyayanginya dan senyum menyakitkan karena ia tahu ia harus meninggalkan Gempa sebentar lagi.

Halilintar melanjutkan makannya. Ia melihat jam yang ada di dinding menunjukkan pukul 07.00. Ia beranjak dan mencuci piringnya. Selesai mencuci piring Halilintar berangkat untuk bekerja di restoran. Sesampainya di restoran ia melihat restoran itu tutup. Dilihatnya salah satu pelayang yang bekerja di restoran itu, Halilintar menghampirinya dan bertanya padanya apa yang terjadi.

"Kenapa tutup?"

"Kamu tak tahu? Ibu dari pemilik restoran ini meninggal dunia. Jadi retoran akan tutup hari ini." kata orang itu memberi tahu. Halilintar terkejut dan bingung. Ia tak tahu harus pergi kemana lagi untukmencari uang. Sementara ia harus mendapatkannya besok karena besok adalah tenggat waktu untuk pembayaran SPP Gempa. Bahan makanan juga sudah habis. Biasanya tak sesulit ini untuk mencari uang, karena bayaran dari retoran itu cukup untuk biaya hidup mereka sehari-hari. Namun sekarang ia harus mencari uang kemana lagi? Mencari pekerjaan bukan perkara yang mudah apalagi untuk dirinya yang masih kelas SMA. Restoran ini pun menerimanya karena manager restoran ini adalah sahabat ibunya. Tapi bagaimana sekarang?

"Hai Halilintar? Jangan melamun." Kata pelayan restoran yang ada di depannya menyadarkan Halilintar dari lamunannya.

"Ahh.. Iya. aku pergi dulu." ucap Halilintar dan pergi mencari pekerjaan di tempat lain. Hampi 2jam ia berputar putar dan mencari pekerjaan. Namun tidak ada yang menerimanya.

"Huhhh... Darimana aku akan mendapatkan uang sekarang?" gerutu Halilintar.

Ia berjalan pelan melewati pasar tradisional. Ia masuk ke dalam pasar tradisional itu berharap mendapatkan pekerjaan disana. Ia melihat banya anak-anak seumuran dengannya ataupun Gempa yang berlalu lalang mengangkuti berbagai maca barang. Ada yang mengangkut sayuran, beras, dan sebagainya.

"Permisi. Apa kau bekerja disini?" tanya Gempa pada seorang anak yang baru saja mengangkut sayuran.

"Iya. kamu mau bekerja? Mau aku antar ke bos?" tanya anak itu. Halilintar merasa senang ada juga pekerjaan yang bisa dilakukannya. Tapi dia juga ragu, kondisi fisiknya tak sekuat mereka. Bahkan seharusnya ia beristirahat total hari ini. namun jika ia mengingat SPP dan bahan makanan yang sudah habis Halilintar tak punya pilihan lain kecuali melakukan pekerjaan ini.

"Baiklah." Kata Halilintar menyetujui.

Anak itu mengangguk dan memawa Halilintar ke tempat bosnya. Helilintar mengikuti anak itu dari belakang. Ia bingung, anak ini baik juga. Ia sama sekali tak mengenalnya bahkan tak tahu namanya tapi anak ini mau membantunya mencari pekerjaan. Anak itu berjalan kearah parkiran dimana ada seorang lelaki yang berumur sekitar 30an tahun yang sedang duduk sambil mengeceki buku.

"Bos. Ada yang ingin pekerjaan lagi." Ucap anak itu santai.

"Siapa Ren?"

"Ini. Eh.. siapa tadi namamu kita belum kenalan?" ucap anak itu pada Halilintar.

"Halilintar."

"Ehh... Halilintar. Nama yang lucu. Ini bos Halilintar."

"Oke lah.. Kau bisa mengangkut barang?" tanya orang yang dipanggil bos itu.

"Bisa" kata Halilintar singkat.

"Kau tunggu sebentar sampai pick up pengangkut sayuran datang. Lalu kau angkati saja bawa masuk ke pasar. Kau juga Ren. Kau ikuti saja kemana Rendi membawa sayuran itu." ucap lelaki itu menjelaskan.

"Bayarannya?" tanya Halilintar singkat.

"Itu gampang laahh... aku bayar 20 ribu untu angkut satu mobil. Gimana?"

"Tak bisa lebih tinggi?"tanya Halilintar.

"Tak bisa laahhh... biasanya juga segitu. Kalau kau tak mau. Ya sudah.." Halilintar bingung. 20 ribu itu jumlah yang kecil. Ia bisa melihat pick up-pick up itu membawa banyak sekali barang. Tapi ia tak punya pilihan lain.

"Baiklah." Ucap Halilintar akhirnya memutuskan.

Tak lama kemudian sebuah pick up datang dengan banyak sayuran yang diangkutnya. Diluar dugaan banyak anak yang menjadi kuli angkut disini. Halilintar membawa sekeranjang besar sayuran dan berjalan mengikuti anakyang diketahui namanya adalah Rendi. Cukup lama jauh juga ia berjalan dan sampailah mereka disebuah kios yang penuh sayuran.

"Kau taruh disitu saja." kata irang yang menjaga kios itu.

Halilintar dan Rendi menurunkan bawaannya dan kembali ke pick up. Ternyata tidk terlalu sulit hanya tiga atau empat kali angkutan dalam satu pick up. Tidak seperti dugaannya yang hanya berdua mengangkuti sayuran. Halilintar dapat menganggut sayuran 5 pick up. Dalam sehari.

Hari telah sore, tubuh Halilintar penuh peluh dan nafas yang masih ngos-ngossan. Dadanya terasa agak sakit namun masih bisa ia tahan. Kepalanya juga berdenyut dan terasa berat. meski kelelahan dan tubuhnya terasa berat. Namun melihat interaksi disini semuanya jadi lebih ringan. Ada sekitar 10 anak disini. Mereka bercanda dan tertawa. Meski ia tak terlalu bergabing dengan mereka tapi ia senang melihatnya.

"Itu bos" teriak salah satu anak ketika melihat bos mereka datang sambil menghitung uang. Semua berbalik dan menghampiri bos mereka tak terkecuali Halilintar. Namun tidak seperti anak-anak lain yang menyerobot dan berteriak. Halilintar hanya diam sambil menunggu mereka.

"Hei kenapa diam saja?" tanya Rendi sambil merangkul pundaknya. Halilintar memberinya death glare dan membuat Rendi melepaskan rangkulannya.

"Kau? Siapa tadi namamu?" tanya lelaki itu.

"Halilintar." Jawab Halilintar singkat.

"Kau mengangkut 5 kan? Ini 100 ribu." Ucap lelaki itu dan memberikan uang untuk Halilintar. Halilintar hanya mengangguk dan menerima uangnya.

"Kemarilah lagi besok." Kata lelaki itu lagi. Halilintar hanya mengangguk sebagai jawaban dan pergi pulang karena pekerjaannya sudah selesai.

"Hei jangan pulang dulu lahh.." kata Rendi menarik tangan Halilintar.

"Sudah sore, aku mau pulang." Ucap Halilintar singkat dan melepaskan tangan Rendi. Ia berjalan kearah pasar untuk membeli bahan makanan.

Halilintar keluar dari pasar dengan bahan makanan yang dibelinya. Ada sedikit sisa uang di sakunya. Ada sekitar 30 ribu 25 untuk melunasi SPP Gempa sehingga hanya menyisakan 5 ribu.

Waktu menunjukkan pukul 17.45 saat ia sampai dirumah. Ia melihat Gempa yang sedang memasak dan menghampirinya. Ia meletakkan bahan makanan itu di meja beserta uang yang digunakan untuk membayar SPP bulan ini. ia langsung pergi kekamarnya untuk membersihkan diri. Badannya terasa lemas sekali. Kepalanya berdenyut dan terasa sakit. 'Mungkin hanya kelelahan.' Fikir Halilintar menenangkan diri. Sesampainya di kamar ia melihat kamarnya itu rapi. Buku-bukunya sudah dirapikan begitu pula selimutnya. 'Apakah Gempa?' Halilintar segera kekamar mandi untukmembersihkan diri. Selesai membersihkan diri Halilintar pergi ke ruang makan.

Seperti biasanya Halilintar mengambil tempat duduk yang jauh dari mengambil makanan yang ada dimeja dan menyantapnya. Ia lapar sekali sejak siang tadi ia lupa makan karena harus mengangkuto barang-barang. Ia melihat adiknya yang hanya diam ditempatnya. Dia merasa aneh, meski ia senang adiknya mau makan satu namun ia merasa canggung dengan situasi ini. sudah lama sekali ia tidak makan satu meja dengan adikknya. Terakhir ia makan satu meja dengan adiknya ini adalah 4 tahun yang lalu sehari sebelum ajal menjemput malaikat kecilnya. Halilintar hanya menunduk dan menyelesaikan makannya. Selesai makan Halilintar berdiri dan hendak istirahat dikamarnya. Namun ia berhenti saat Gempa meletakkan obatnya di atas meja. Mata Halilintar terbelalak kaget. Ia lupa bahwa kemarin obatnya ia lempar di ranjang.

"Ini obat apa?" tanya Gempa datar dan menatap kakaknya. Halilintar gelagapan dan kebingungan. Reflek Halilintar mencoba mengambil obat itu. Namun Gempa segera mengambil kembali obat itu dan memegangnya kuat.

"It-itu." Halilintar bingung mencari alasan. Ia tak bisa jujur bahwa itu adalah obat jantung lemahnya. 'Bagaimana aku bisa teledor sihh?'

"Engg.. Itu suplemen." Ucap Halilintar berbohong. Ia melihat sang adik menyerngitkan dahinya.

"Aku tak pernah melihatmu meminumnya?" Tanya Gempa tak percaya. Sambil meletakkan obat Halilintar di atasm meja.

"Engg... Aku meminumnya di kamar" kata Halilintar dan cepat-cepat mengambil kembali obatnya.

Halilintar segera mengambil piringnya dan mencucinya. Selesai mencuci piring Halilintar bergegas pergi kekamar. Namun saat ia berjalan kepalanya terasa berdenyut, dadanya terasa sesak dan sakit, serta tubuhnya terasa sangat berat dan lemas. Ia merasa tubuhnya hampir terjatuh dan detik berikutnya kesadarannya telah menghilang.

OooooooooooO

Halilintar merasa berat. Tubuhnya lemas dan kepalanya berdenyut sakit. Namun ia merasakan tangannya digenggam lembut dan penuh sayang. Ia juga merasakan tangannya basah dengan liquid yang hangat. Ia membuka matanya perlahan. Dilihatnya sang adik yang menggenggam tangan Halilintar dan di tempelkannya ke pipi. Halilintar tersenyum lembut. Ia menggerakkan tangannya yang bebas untuk mengusap air mata yang ada di pipi adiknya.

"Gempa.. Jangan menangis" ucap Halilintar sambil tersenyum lembut.

Dilihatnya Gempa yang semakin sedih dan menggenggam tangannya semakin erat. Halilintar bingung namun dengan cepat Halilintar tahu apa yang terjadi. Adiknya telah tahu apa yang terjadi padanya. Gempa tahu bahwa ia mengidap penyakit 'Jantung lemah'. Halilintar masih mengusap lembut wajah Gempa dan menariknya dengan lembut ketika ia ingin duduk. ketika ia ingin duduk Gempa menahan tubuhnya agar tetap berbaring dulu. Wajah Gempa terlihat sangat khawatir padanya.

"Nii-san jangan bangun dulu. Nii-san tidur saja"

Halilintar tersenyum lembut dan menuruti adiknya. sudah lama sekali ia tak di panggil 'nii-san' oleh adiknya itu. Ia merasa sangat bahagia sekarang. kata-kata yang di inginkannya keluar dari mulut adiknya tersebut oleh adiknya sekarang. meski atinya sakit juga ketika mengingat bahwa sekarang adalah akhirnya. Ia melihat adiknya akan beranjak meninggalkannya. Halilintar segera memegang tangannya ketika Gempa akan berjalan keluar. Ia melihat sang adik membalikkan badan dan menatap mata Halilintar. Halilintar menatap adiknya dan memintanya untuk jangan pergi meninggalkannya. Dilihatnya sang adik yang kembali duduk disampingnya dengan matanya yang masih menatap Halilintar.

"Nii-san mengapa tak menceritakannya padaku?" ucap Gempa pelan.

Seperti yang sudah diduganya, Gempa memang tahu perihal penyakitnya. Halilintar hanya bisa diam dan menunduk. Ia merasa tangannya kembali digenggam oleh adiknya. tangan Halilintar kembali mengusap kepala Gempa. Dilihatnya Gempa yang menatap mata Halilintar lama. 'Mungkin ini saatnya.'

"Gempa jangan sedih jika aku pergi. Maaf aku tak bisa menemani Gempa lagi. Maaf kan nii-san karena menolak ajakan Taufan dan membuatnya pergi meninggalkan kita. Maafkan nii-san karena dengan bodohnya membuaut Taufan pergi sendiri. Maafkan nii-san yang dengan egoisnya tak bisa tersenyum untuk Taufan dan Gempa. Maaf nii-san seharusnya kita bersama tapi... " ucap Halilintar sedih. Namun ucapannya segera dipotong oleh Gempa.

"Nii-san stop. Berhenti berbicara seperti itu. Nii-san pasti sembuh. Nii-san pasti sembuh.."Halilintar tahu kata nii-san akan sembuh adalah kata-kata yang digunakan Gempa untuk meyakinkan dirinya sendiri. Halilintar tersenyum, ia melihat air mata adiknya kembali mengalir. Halilintar menggeleng. Ia tahu penyakitnya takkan sembuh, bahkan ia merasa waktunya takkan lama lagi. Ia mencoba duduk dan kali ini dibiarkan oleh adiknya.

"Gempa.." panggil Halilintar lembut. Halilintar terkejut ketika Gempa langsung memelukanya. Namun ia juga merasa senang.

"Nii-san jangan mengucapkan apapun. Nii-san pasti sembuh. Gempa sayang pada nii-san. Gempa tidak meu kehilangan nii-san" ucap Gempa sembari terisak. Ia merasa hangat. Ia merasa senang akhirnya sang adik memaafkannya. Akhirnya sang adik kembali memanggilnya 'nii-san'. Ia senang adiknya kembali memeluknya. Air matanya kembali menetes.

"Nii-san senang sekali ketika Gempa memanggilku lagi. Nii-san senang sekali ketika nii-san bangun melihat Gempa yang memgang tanganku. Nii-san senang sekali memiliki adik seperti Gempa. Gempa, jaga diri kamu yaa! Nii-san sayang pada Gempa. Nii-san pasti akan tetap menjaga Gempa diatas sana." Ucap Halilintar sambil mengelus kepala adiknya.

Ia merasa sang adik mengeratkan pelukannya.

"Berhenti.. jangan berkata seperti itu lagi"

Tubuh Halilintar semakin ringan. Ia merasa akan terbang sekarang. Halilintar akan pergi sekarang. Ia akan menemui malaikat kecilnya di surga sana.

"Sampai jumpa Gempa. Nii-san sayang Gempa"

Matanya semakin menutup dan kesadarannyapun menghilang.

'Selamat tinggal dunia'

OooooooooO

Halilintar merasa berada ditempat yang asing. Ia melihat sekelilinganya dengan bingung. Hanya ada warna putih namun menyejukkan.

"Onii-chan. Halilintar onii-chan." Terdengar suara orang yang sangat ia rindukan selama ini. Suara malaikat kecilnya, suara penghangat hatinya. Halilintar membalikkan badannya dan melihat sang malaikat tersenyum ceria kearahnya. Senyum yang di rindukannya. Halilintar menghampirinya.

"Taufan!"

"Halilintar Onii-chan ayo pulang. Kita pergi ke tempat ibu dan ayah." Ucap Taufan ceria. Ia menggenggam tangan Halilintar dan menuntunnya ke tempat kedua orang tuanya yang berdiri sembari tersenyum lembut kearahnya. Halilintar tersenyum pada Taufan dan mengikutinya menuju kehidupan abadi mereka di surga.

END

Waaaahhh.,... udah 2 minggu ya?

Hehehehe... maaf kan saya karena lama sekali update.. inspirasi lagi kosong...

Susah banget ternyata bikin cerita yang sama tapi beda sudut pandang. Harus gendaliin cerita saya biar sama kayak sudut pandang yang lain.. huhh.. tapi yaaahhh.. jadinya gini.

Maaf jika gaya bahasanya beda-beda. Habis baru buka laptop suruh matiin. Huhh... lanjut lagi .. gaya bahasanya udah beda.. huhhh...

Aneh ya kerjaannya Halilintar? Aduhh.. itu Cuma ngarang-ngarang aja sihh.. biar menderita gitu #dihajar_fans_BBB_Halilintar

Lebih pendek dari yang sudut pandang Gempa ya? hahaha.. maaf.

Akhirnya mana aneh banget lagi.. hahaha.. berantakan deh pokoknya huu..huu..huu.. #nangis #dirajam

Maaf kalo ini kurang nge-feel. Tapi saya akan lebih buat yang feelnya krasa.. tapi bentaran yaaa..

Hahaha...

Terimakasih telah membaca fic saya minna.

Akhir kata review please.