WRONG REVENGE

Chapter 4

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Tragedy, Hurt/Comfort, Crime

Warning : Typo(s), mungkin ga kerasa tragedy-nya, OOC, alur cepat.

Pair : MinaKushi (always!)

A/N : Hm, gomennasai minna, sungguh ini adalah keterlambatan yang sangat terlambat. Lagi agak sibuk soalnya, laptop aja jarang ku hidupin.

arigato for :

masika 3

Aggee

kagamine 15

guest

mounstha chan

Vanny Zhang

Uchihakhamya

RinIzumIcha

Sifa.A.A

hottestqueen

Natsuki Shido

#Maaf kalau ada penulisan yang salah untuk pen-name. Terima Kasih untuk Review kalian ya...

Chapter 4 . RnR ! Don't Like, DON'T READ ! Enjoy!

Suasana sore hari dibelakang sekolah saat ini sedang mencekam, perkelahian antara Ketua OSIS dengan murid baru itu tiba-tiba berhenti saat sang ketua OSIS, mengungkapkan hal yang tak terduga…

"aniki…d-dia mengajarimu…" Suara Kushina menjadi serak.

"ya, dia mengajariku Naginata, Kushina" Minato mulai mencengkram pergelangan Kushina.

"sekarang kau mau mendengarkanku?" Suara Minato mulai melembut.

Kushina mengangguk.

Dan sekarang, Kushina dan Minato sedang berada di Ichiraku ramen, sementara Fugaku dan Mikoto sudah pulang.

"ini ramen kalian.." Teuchi-san meletakkan ramen didepan mereka berdua.

"ceritakan dengan detail…" Kushina melipat tangannya dan tak melepaskan pandangannya ke Minato.

"kenapa nggak sambil makan ramen?" tanya Minato

"kalau aku makan, aku nggak bisa konsentrasi mendengarkanmu …"

Minato tertawa pelan. "baiklah…baiklah…"

Setelah itu Minato menceritakan semuanya, dari awal ia bertemu dengan Taka, menjadi muridnya, diajari Naginata, berkelahi dengan geng lain, sampai meninggalnya Taka.

Mata Kushina berkaca-kaca, saat ia kembali diyakinkan kalau Taka sudah meninggal.

"Aku diberi tau kecelakaan yang menimpa Taka secara kasar, tidak ada yang bercerita detail padaku, saksi mata hanya melihat kalau ia tiba-tiba berlari ke tengah jalan dan tertabrak truk yang sedang membawa bahan baku bangunan. Kejadian itu saat tengah malam, tak ada yang melihatnya dengan jelas, penerangan di TKP kurang, Kushina…jadi, maafkan aku, aku…juga kehilangan Taka, ia sosok kakak yang baik, aku…sangat kehilangan dia…"

Jelas Minato panjang lebar, ia mengeratkan pegangan pada kedua sumpitnya, tangannya gemetar, Kushina sedikit simpati padanya, dengan pelan, Kushina mengusuk punggung Minato.

"Aku jadi sedikit mengerti kenapa kau sangat kehilangan aniki, aku tidak heran kalau kau menyebutnya kakak yang baik, kau bukan adik kandungnya, sudah merasa kehilangan seperti ini, apa lagi aku…adik kandungnya…" Kushina menatap sendu ramen yang mengepulkan asap didepannya.

"Kau tahu-"

"ya, aku tahu…" Potong Minato cepat.

"hei, dari mana kau tau apa yang ku tahu? kau sok tahu-ttebane…"

"aku tau kalau kau akan mengatakan ini, 'aniki sangat menyukai ramen yang sedang ada dihadapanku sekarang ini' ya kan?" Tebak Minato.

"D-darimana kau tahu-ttebane?! apa kau bisa membaca pikiran seseorang?" Kata Kushina spontan. Sontak Minato tertawa.

"Menurutku, orang yang sedang bersedih itu gampang dibaca pikirannya, apalagi kalau orang putus cinta, kalau nggak bunuh diri, pasti jadi gila dia" Jawab Minato sambil meniup ramen disumpitnya.

"A-aku nggak kayak gitu kok!" Kushina memalingkan wajahnya.

"Tapi, aku tidak bisa menyalahkan tebakanmu. Aku memang bersedih sekarang." Lanjut Kushina sambil mengaduk ramennya.

Lalu mereka makan dalam diam, suasana sangat hening.

Kushina menahan air matanya.

Bagaimana pun shock masih ia rasakan sampai sekarang.

Setelah makan, mereka berjalan menuju apartemen Kushina, Kushina sudah tidak membenci Minato seperti dahulu, meski ia belum bisa menerima Minato sepenuhnya.

"menangislah kalau kau mau Kushina…" ujar Minato ditengah jalan, memecah keheningan diantara mereka berdua.

"menangis? aku tidak mau menangis…" jawab Kushina agak ketus.

"aniki tidak memperbolehkanku menangis, menangis itu ciri orang lemah, aku tidak mau jadi orang lemah." Ujar Kushina lagi.

Minato hanya terdiam. Mereka kembali dalam suasana hening sampai mereka berada didepan apartemen Kushina.

"Terima kasih untuk ramennya, kau mau membayar 5 mangkuk ramenku, aku memang suka ramen. Mau masuk dulu?" Tawar Kushina.

"baiklah, mungkin aku bisa minta segelas air putih…" Jawab Minato.

Kushina segera mempersilahkan masuk Minato keruang tamu, ia pergi ke dapur mengambil minuman.

'aku kembali ke ruangan ini…' batin Minato, mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Ia merogoh isi tas punggungnya, mengambil sebuah kertas yang terlihat usang.

Kushina kembali dari dapur sambil membawa segelas air putih, dan meletakkannya diatas meja.

"terima kasih…" dengan segera, Minato menegak minuman itu sampai habis.

Setelah minum, Minato menyodorkan amplop usang itu kepada Kushina,

Dahi Kushina mengernyit, "nani kore? apa ini?"

"Aku juga tidak tau,"

"kalau nggak tau, ngapain dikasih ke aku? baka Minato!" ujar Kushina sewot.

"huh, aku hanya menjalankan perintah Taka…"

Saat mendengar kata 'Taka' Kushina langsung terdiam.

"kenapa ngga dibuka? itu dari kakakmu…" ujar Minato sambil menyandar ke sofa.

Dengan ragu, Kushina membuka surat itu, ternyata didalam amplop pertama, masih ada amplop lagi. Matanya terlihat meneliti sekilas saja.

"kapan kau dapatkan ini?" Tanya Kushina.

"1 tahun lalu."

"dimana?"

"di tempat ini…"

"huh…dasar aniki baka…" ujar Kushina.

"ada apa Kushina?" Minato jadi penasaran.

"nggak ada apa apa kok…"

Suasana kembali hening, Kushina kembali membaca surat pertama itu.

Minato melihat jam tangannya.

"ah, sudah malam, aku pamit dulu…"

"ya, hati hati dijalan…."

Kushina mengantar Minato kedepan pintu, setelah berpamitan lagi, Kushina segera menutup pintu dan mandi.

Sementara Minato, ia berbelok ke sebuah gang kecil.

"haah, dasar Minato, kau lama sekali…" ujar lelaki berambut seperti nanas yang sedang menghirup rokoknya, Shikaku Nara.

"hem, maaf, ada perlu sebentar kok…" Balas Minato sambil memasuki ke sebuah rumah, mendahului Shikaku.

"akhirnya kau datang juga Minato!" Teriak lelaki berambut pirang, Inoichi.

"kenapa kau sangat tak sabaran Inochi? Ini cuma 'penertiban' saja bukan?" balas Minato sambil membuka bajunya, sampai lekukan six-pack terlihat jelas di perutnya.

"bukan begitu, tapi lama kelamaan mereka bertindak seenaknya, beberapa peralatan bengkel juga jadi rusak…" jawab lelaki gendut berambut merah, Chouza.

"oh, mana Fugaku?" tanya Minato reflex.

"entahlah, mungkin masih di'sekap' sama Mikoto" jawab Shikaku santai.

Minato hanya menjawabnya dengan suara kecil, ia melilitkan perban di wajahnya, hanya rambut kuning dan mata birunya yang terlihat, tapi setelah itu ia menggunakan lensa warna merah dimata kirinya.

"memang daerah mana yang buat keributan lagi?" tanya Minato.

"sebelah barat, entah apa yang membuat mereka memberontak lagi, mungkin karena kita sudah agak lama tidak muncul lagi." jawab Inoichi.

Minato mengenakan jaket berwarna merah dan kuning, wajahnya yang tertutup perban memang terlihat tidak rapi, tapi menimbulkan kesan tersendiri.

Minato dan ke tiga temannya memang ditakuti hampir seluruh geng di Konoha, mereka memang sering mengalahkan geng besar dengan mudah. Tapi, bukan urusan dengan gengg yang akan mereka hadapi.

Mereka segera bergerak ke arah barat, lalu berhenti didepan sebuah bengkel yang lumayan besar.

Prang….! Bruk…!

"huh, buat rugi aja nih!" ujar Inoichi sambil memandang ke dalam bengkel.

"haaahhh! aku sudah muak dengan tempat ini ! hanya janji belaka! katanya bakal dapat uang banyak! ternyata cuma janji busuk!" seorang pria bertag-name Katan sedang membanting peralatan sampai hancur.

"hei, tenanglah! bisa bisa Minato-san datang dan menghancurkanmu!" salah satu pria lain membujuknya untuk tenang.

"aku tidak peduli meski Minato atau siapapun yang datang kesini…!" ujar Katan sambil melempar kunci inggris keluar jendela, dan-

prangg! kacca hancur berantakan, tapi kunci inggris itu ditangkap dengan sigap oleh Minato.

Orang didalam bengkel tidak mengetahui bahwa Minato ada didepan bengkel.

"siapa yang memasukkan lelaki itu kedalam bengkel?" tanya Minato sambil memutar mutar kunci inggris ditangannya.

"tidak tau, mungkin ia asal join, tanpa sepengetahuan kita…" balas Chouza.

Suasana didalam bengkel terdengar lebih sunyi dari yang tadi.

Minato melangkah masuk, ia tidak kaget dengan kondisi bengkelnya sekarang. semuanya berantakan. Minato menahan amarahnya.

"apa bengkel ini masih buka?" tanya Minato tiba-tiba, membuat semua karyawan bengkel menoleh.

"apa kau buta?! pintu dari tadi sudah tertutup. memang kau siapa? kau seperti pemulung yang tidak punya uang, pergi saja, kau tidak pantas disini…" balas Katan dengan sombongnya.

Semua karyawan disitu memilih diam. Daripada kebagian bogem mentah dari Minato.

"kau pasti karyawan baru kan?" tanya Minato lagi.

"sok tau kau, aku sudah lama kerja disini…"

Sementara diluar-

"menjauh dari kaca…" perintah Shikaku. Inoichi dan Chouza mundur bebrapa langkah.

Minato hanya diam, dan melangkah mendekati Katan.

"kau berani sekali ya? kulihat kau memang ada disini…" Ucapan Minato menggantung.

"tapi, aku tak pernah punya karyawan sepertimu…!"

Minato mengangkat kerah Katan dan melemparnya ke arah kaca depan.

Prangg! Brukk!

Kaca depan hancur berantakan. Katan terpelanting keluar.

Untung saja Shikaku, Inoichi dan Chouza menjauh dari kaca.

"tuh, sudah kubilang kan? ayo masuk, kupikir urusannya sudah selesai…" ujar Shikaku santai dan melangkahi tubuh Katan yang sedang meringkuk kesakitan.

"huh, kau malah menambah pengeluaran, Kaca depan kau pecahkan…" kata Shikaku.

"ah, maaf, kuganti dengan uangku sendiri nanti…" Minato mulai meredakan emosinya.

"untung diluar sudah sepi…kalau ada yang lihat, bisa jadi masalah nih…" Inoichi juga masuk sambil menyingkirkan pecahan kaca dengan kakinya.

"jadi…siapa diantara kalian yang mengizinkan dia masuk?" Minato mulai mengintrogasi karyawannya.

"a-anu, dia memaksa masuk, dia menunjukkan bakatnya membenahi mesin dengan baik, kami pikir ia akan bekerja baik dengan bakatnya yang baik itu, kami menyukainya awal-awal, tapi lama-lama ia meminta bayaran lebih, padahal lama kelamaan kerjanya asal-asalan, banyak konsumen yang mengeluh karenanya" karyawan wanita bagian kasir angkat bicara.

"kenapa kalian tidak memecatnya?" balas Minato.

Karyawannya terdiam.

Minato memiliki beberapa bengkel tersebar dibeberapa daerah yang strategis di Konoha, hanya sedikit karyawannya yang tau siapa dia dan siapa namanya. Minato memang agak menyerahkan bagian bengkel pada anak buahnya yang tidak bersekolah. Jadi Minato jarang ada di bengkel.

"aku mau mengecek bengkel malam ini, besok aku akan disini mulai pagi, jadi, bekerjalah yang baik!" Perintah Minato.

"baik!" jawab seluruh karyawannya.

Jam 1 malam Minato baru sampai di apartemennya. Ia sangat lelah, tapi matanya tak kunjung terpejam, entah kenapa konsentrasi dan emosinya naik turun setelah Kushina sering bertemu dengannya.

Walau ia tau Kushina tidak menyukainya, tapi, Minato menaruh hati padanya.

Ia tidak bisa berbohong pada Taka, ia menyukai adiknya, menyuaki adik dari sensei-nya.

Bahkan dulu, Minato yang sering mengajak Taka pergi ke Uzushio, pergi memata-matai Kushina.

Minato tidak berani bertemu dengan Kushina secara langsung saat itu, ia masih belum berani menghadapi perempuan semacam Kushina.

Ia paham betul, Kushina itu bagaimana, apa yang disukainya, apa yang dibencinya, apa yang membuatnya bahagia.

Tapi, sepertinya mendapatkan Kushina itu, butuh perjuangan.

"ia masih membenciku, ia tidak menyukaiku. pertemuan pertama dengannya juga buruk. ah! kenapa aku sampai perlu berkelahi dengan Kushina waktu itu?! aku yang salah, aku terbawa suasana!" Minato merapatkan selimutnya.

"ia masih berduka karena aniki-nya…ah, sepertinya ini bakalan rumit!"

Minato cepat memjamkan matanya, memaksa dirinya untuk tidur.

Ia tidak sabar bertemu dengan Nona Uzumaki besok.

.

.

.

To Be Continue…

A/N:

Maaf untuk para readers, aku publishnya lama ya? (banget!)

habis, ffn masih error kemarin, ini aja baru bisa buka aku, ke warnet aja jarang.

maaf kalau chapter ini kurang memuaskan, feel author agak kacau, a.k.a lagi galau.

the last…review ya!

-ハナミ