Disclaimer : om Masashi

Pair : SasuNaru slight KakaIru

Rate : M (untuk sekarang)

Gendre : Romance,Drama

Warning : YAOI,ANEH,GAJE,TYPOS,DLL.

.

.

SELAMAT MEMBACA!^^

.

.

Jangankan bicara,hanya untuk berdehempun Kiba yakin tenggorokannya tak mampu. Pria manis bertato unik diwajahnya itu,hanya bisa tertunduk dengan tubuh gemetar plus keringat dingin ditubuhnya. Lain Kiba, lain Hinata. Gadis cantik baik hati namun nasibnya malang itu, sedari tadi hanya bisa sesegukan dipelukan sang kakak sepupu alias Neji. Pria berwajah tampan nan kalem itu,hanya bisa mematung dengan wajah yang tak berubah sama sekali, yaitu datar. Benar-benar tidak bisa menebak apa yang pemuda Hyuuga itu pikirkan.

"Maaf,Neji-nii.. Tapi sungguh, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini dengan Hinata-chan," ucap Naruto datar memecahkan keheningan yang mencekam itu. Matanya mengerling kearah Kiba yang masih setia menunduk. Sahabat Inuzuka-nya itu hanya bergumam kata maaf dengan rona wajah yang menyiratkan penyesalan yang mendalam atas kejadian luar kehedaknya itu.

Luar kehendak?

Ya, sahabatnya itu bilang bahwa: dirinya dan Hinata melakukan 'itu' saat keadaan sedang mabuk, dan sama sekali tidak sengaja. Namun, apapun alasannya, Naruto tetap merasa sangat kecewa kepada mantan kekasih (Karena baru saja Naruto memutuskan Hinata) dan sahabatnya,Kiba. Nasi sudah menjadi bubur ,dan Hinata tidak mungkin mengembalikan kehormatannya. Sehingga, artis yang sedang naik daun itu lebih memilih mengakhiri semuanya. Ia terluka, bukan karena cintanya dikhianati, ia yakin Hinata sangat mencintainya. Gadis baik hati itu, tidak mungkin melakukan hal yang dapat mencoreng klan Hyuuga.

Naruto hanya sangat kecewa.

"Hiks.. Na-naru-kun.. Hiks.. Kumohon ja-jangaan.. Aku sangat mencintaimu," gadis indigo itu masih berusaha meyakinkan orang yang paling dicintainya untuk mencabut keputusannya, walaupun tangisnya masih pecah hingga saat ini. Kenapa semua ini jadi rumit begini? Kenapa adegan 'asusila' dirinya dan Kiba harus tersebar didunia maya? Ia sudah cukup malu dengan reaksi publik kepadanya, ditambah dengan keluarganya yang menghujam keras kepadanya. Dan sekarang Naruto memutuskannya, bahkan sebelum Neji menyampaikan niatnya untuk melanjutkan hubungannya kejenjang yang lebih serius. Tapi, ternyata itu semua hanya imajinasinya saja. Dan, semuanya hancur.

Hinata sungguh gadis cantik baik hati yang kebetulan bernasib sangat sial.

'Maafkan aku Hinata, semua ini salahku,' Kiba membatin bersalah. 'Tapi, aku akan bertanggung jawab dengan semua ini, karena aku sangat mencintaimu,' lanjutnya.

Naruto hanya mendesah. Dalam hatinya, sungguh ia sangat tidak enak hati dan kasihan kepada gadis cantik itu. Sebenarnya, dalam hatinya yang polos ia percaya Hinata dan Kiba tidak mungkin sengaja melakukannya. Pikirannya yang masih jauh dari polusi juga menyangkal semua prasangka buruk terhadap kemungkinan kejadian ini adalah jebakan yang dilakukan pihak tertentu terhadap Hinata. Ia, yakin semua ini hanya kecelakaan yang tak disengaja.

Haaah.. Dasar polos!

"Gomen Hinata.. Aku tetap tidak bisa. Dan Kiba?" Naruto berbicara bergiliran kepada Hinata, kemudian memanggil sahabatnya.

Kiba menatap Naruto dengan ragu-ragu. Sungguh, ia sangat malu kepada Naruto. "Gomen..," lirihnya.

"Aku sangat kecewa.." lirih Naruto pahit mengutarakan isi hatinya. "Tapi aku juga tahu.. Kalian berdua takkan mungin sengaja melakukannya. Aku percaya kepada kalian," katanya bijak,sangat baik hati dan terkesan dewasa.

Pada saat yang bersamaan Neji meyakini dirinya melihat perubahan raut wajah Kiba yang semakin menunjukan rasa bersalahnya. 'Ada yang tidak beres dengan bocah Inuzuka ini.'

Naruto kemudian beranjak dari sofa berwarna krem itu, sedikit merapikan jaketnya dulu sebelum berujar. "Sepertinya, tidak ada yang harus kita bicarakan lagi. Aku pergi," pamitnya tanpa menoleh kebelakang lagi, kearah 3 orang yang sedang duduk dalam kebisuan. Pemuda manis itu pun meninggalkan ruangan kerja Hinata, berniat menemui manajernya yang mungkin sedang kalang kabut mengkhawatirkannya, karena sebentar lagi acara "Talk Show" yang dihadirinya sebagai bintang tamu setengah jam lagi akan mulai.

.

.

AAAAA

.

.

"Aah.. nnnh.. Kaka- annh.. shi.. Hentikan..aaah!" Iruka mendesah hebat saat tangan Kakashi membelai dadanya lembut seraya menghisap area sensitif lehernya.

"Tapi, tubuhmu menginginkannya, Iru-koi," jawab Kakashi disela-sela cumbuan panasnya.

Iruka hanya mengeliat gelisah, apalagi tangannya sukses dicengkram pria mesum diatasnya. Ka Sungguh, sebenarnya dalam hati , Iruka sudah mencak-mencak menyumpahi kelakuan mesum kekasihnya yang sudah tingkat akut. Namun sungguh sial, tubuhnya sama sekali tidak sesuai dengan akal pikiran dan hati nuraninya.

"Ahh.. Henti-khaan.. ahn.. Baka!" teriak Iruka kesal. Ia terus berusaha memberontak agar terlepas dari Kakashi yang saat ini malah sedang berusaha melepaskan kancing celana Iruka dengan tidak sabar.

"Apa kalian berdua sudah selesai aku sepertinya harus segera pergi ke gedung D untuk menghadiri acara Tlak Show"

Suara super datar dan tanpa intonasi itu mengintrupsi kegiatan panas KakaIru. Jika anda berpikir si Author typo pada pernyataan diatas, itu salah. Memang begitu, Naruto memang mengucapkannya tanpa intonasi sedikitpun alias lempeng. Sehingga membuat Author cengok sendiri, karena takjub saat melihat wajah super datar Naruto yang dapat melebihi datarnya wajah para Uchiha.

Oke, Back to story..

Iruka terpekik kaget masih dalam posisi panasnya.

Pandang

Pandang

Pan-

Blush!

"HUWAAAAA... MENYINGKIRA DARI ATASKU MANUSIA SAWAH!" Dengan wajah super merah, Iruka berteriak seraya menyingkirkan Kakashi dengan sekuat tenaga. Dan?

Bruugh!

Debaman keras terdengar dilantai, hasil bunyi dari pantulan tubuh Kakashi dan keramik.

"Awww! Kejam sekali dirimu wahai Kekasih!" seru Kakashi dengan lebay seraya meringgis berlebihan. Sungguh, Naruto yang melihatnya hampir muntah dibuat illfeel. Sementara Iruka medelik penuh dendam kematian kearah Kakashi.

Lalu, secepat kilat mereka berdua merapihkan pakaian mereka yang sedikit berantakan, akibat kegiatan tadi.

'Haaah.. Gagal deh dapet jatah,' Kakashi membatin nista.

"Ma-maafkan aku Naru.. Err.. Apa sudah waktunya Talk show?" Iruka bertanya dengan pertanyaan bodoh, sangat gugup dengan wajah berkeringat dinginnya.

Naruto memutar matanya bosan, ia mengibas-ngibaskan tangannya keudara. "Paman Iruka tidak usah segugup itu, aku sudah biasa melihatnya." Ujar Naruto santai seraya membuka menentang kostum yang akan ia pakai sebentar lagi. 'Aku hanya mengira tadinya kukira paman mengkhawatirkan keadaanku, tapi...' batin Naruto tidak melanjutkan kata-katanya karena sebal.

Iruka sweatdrop, sementara Kakakshi hanya nyengir.

Pandangan Iruka beralih kepada Kakashi, wajahnya berubah murka. "Pergi dari hadapanku manusia sawah! Aku tidak mau melihatmu lagi!" kesalnya kepada sang kekasih. "Ayo.. Naru-chan! Sebaiknya kau segera bersiap-siap!" Lanjutnya mengalihkan kepada Naruto dengan nada lembut, kentara dengan nada yang ia berikan kepada Kakashi. pria dewasa berwajah manis itu lantas mengajak mengajak Naruto keruang berhias.

"Ha-ah.. Mempunyai Uke galak memang sedikit merepotkan. Apalagi dalam keadan PMS begini," keluhnya edan. Tunggu saja sampai Iruka mendengar keluhanmu Kakashi! Mungkin Iruka takkan segan-segan membunuhmu.

Penata rias wanita itu tidak henti-hentinya berdecak kagum dalam hati saat ia merias wajah tampan tapi err.. Cantik itu. Walaupun dia sudah menjadi penata rias tetap sang penyanyi selama hampir enam bulan lamanya, tapi ia tak pernah melewatkan rasa kagumnya saat melihat wajah malaikat Naruto.

'Kawaii.. Tapi sayang, kenapa ada wanita yang tega mengkhianati pemuda sesempurna ini?' batin penata rias itu mengingat gosip panas yang pagi tadi ia lihat dimajalah.

"Selesai, Naruto-san!"

Naruto sedikit tersentak, lantas ia segera menoleh dan terkekeh kearah wanita itu, "Arigatou Tenten-san!" ucap Naruto seraya tersenyum lima jari andalannya. Tenten mengangguk dengan wajah merona.

"Huuuft.. 5 menit lagi ya?" guman Naruto berbisik pelan. Ia mendesah berat. Pikiriannya menerawang entah kemana.

'Sepertinya, mulai sekarang wartawan akan selalu mengejarku,' batinnya mengeluh. Dengan menggunakan jas putih dengan dasi hitam, Naruto memantapkan dirinya didepan cermin.

Seperti biasa ... Awesome!

Pikirnya Narsis.

"Naru.. Take ke tiga kamu main. Bersiap-siaplah!" seru Iruka diluar. Naruto tak menyahut, ia hanya sedikit mengangguk. Lalu, dengan mantap ia melangkah keluar, bersiap menghadapi berjuta pertanyaan yang akan ia dengar dari wartawan dan masyarakat. Dan sungguh Naruto tidak mengetahui bahwa seluruh fansnya mensyukuri apa yang tengah terjadi padanya.

.

.

AAAAA

.

.

Uchiha Sasuke adalah seorang presiden direktur dari Sharingan entertaiment, dan mungkin beberapa tahun kedepan akan menjabat sebagai CEO untu menggantikan ayahnya. Sasuke adalah termasuk pria kategori tersexy kedua didunia, selain karena prestasi dibidang bisnis yang sukses besar, ia juga dianugerahi dengan paras yang luar biasa tampan dan tubuh bak model profesional .

Kekayaan, kekuasaan, kesempurnaan fisik, otak jenius.

Empat komponen yang membuat sosok Uchiha Sasuke menjadikannya terlihat sempurna, dan tentunya dikagumi dan dipuja banyak orang, terutama kaum hawa. Namun, pria berperangai dingin itu, sama sekali tidak memperdulikan semua itu. Manuisa tetap manusia bukan? Pasti ada kelemahannya. Dan sosok Uchiha Sasukepun punya kelemahan. Satu kelemahan saja.

Ia adalah seorang Gay _ralat_ Narutoseksual. Sasuke hanya tertarik pada Naruto, tidak pada yang lain, tidak juga pada wanita paling cantik sedunia. Dia hanya Naruto seksual.

Tapi, Sasuke tidak menganggap itu satu kelemahan. Malah ia terlihat bangga dengan itu.

"Karena, memiliki uke sepertimu adalah sebuah anugerah yang terindah Naru-sayang," bisik Sasuke seraya menatap lekat-lekat paras manis dan begitu cantik yang ada diponselnya. Lelaki yang sudah ia cap paten menjadi miliknya, kekasihnya, ukenya, pendamping hidupnya sampai ajal menjemput, bahkan sampai hidup lagi, pikirnya edan.

Lalu?

Ia menyimpan kembali ponselnya dan mengedarkan pandangannya seluruh ruangan kerjanya yang mewah dan sangat luas itu. Onyxnya berhenti tepat dijam dinding yang menunjukan pukul 10. 15 pagi. Tersenyum sedetik, lantas ia bangkit dan mengambil sesuatu diatas meja kerjanya. Dan..

Klik!

"Kita sambut bintang tamu kita, Namikaze Naruto!"

"Arigatou.. Selamat pagi menjelang siang Minna-san!"

"Apa kabar Naruto-san? Apakah harimu menyenangkan?"

"Ah! baik Konan-san! Eerr.. hehe.. Kurasa menyenangkan."

Pria tampan berusia 26 tahun itu, duduk nyaman diatas sebuah sofa khusus miliknya seranya memandang lekat kearah televisi yang sedang menyiarkan acara Talk shoe yang dibintang tamui oleh Naruto. Haaah.. Sasuke merasa dirinya menjadi seorang maniak. Mengapa ia begitu terobsesi dengan pemuda 19 tahun itu?

Mungkin pesona Naruto saja yang salah. Ia mulai menyalahkan Naruto atas perangainya.

Kring Kring Kring..

'Telpon sialan!' umpat Sasuke merasa acara kesukaannya terganggu. Namun, si raven tetap beranjak dan mengangkat teleponnya. Bagaimanapun dia tidak mau merusak citra profesionalnya sedikitpun. Uchiha itu perfeksionis.

Klik!

"Hn?" gumam pemuda itu malas seraya menempelkan telepon itu ditelinganya.

"A-ano maaf tuan. Hyuuga-san sedang menunggu diluar." Sahut seorang wanita diseberang sana penuh rasa hormat, tapi terselip nada kegugupan dicampur genit didalamnya.

"Hyuuga?" beonya heran. Ada urusan apa Hyuuga itu dengannya? Tumben sekali, rela-rela menemuinya sampai ke kantornya. Hell no.. Uchiha dan Hyuuga itu sudah mendarah daging menjadi rival. Yah.. Apapun alasannya pasti ini adalah situasi yang sangat penting.

"Suruh dia masuk!" perintahnya sebelum menutup telepon itu sepihak. Selanjutnya, Uchiha muda itu mematikan Televisinya dahulu, walau dengan ogah-ogahan sih. Tapi kan gak etis juga kalau ada si Hyuuga bertamu tapi Televisinya hidup. Kemanakah citra Uchiha yang workholic itu?

Tak berapa lama, terbukalah pintu kantor Sasuke, menampakan seorang pemuda tampan berambut cokelat panjang tengah berjalan penuh keangkuhan kearahnya. Dan adu death galre Uchiha-Hyuuga tar terelakkan.

Neji mendudukan dirinya tanpa aba-aba seenaknya tanpa izin dari sang pemilik. Sasuke mendengus atas tingkah seenaknya si Hyuuga itu.

"Aku tidak tahu seorang Hyuuga bersikap tidak sopan seperti itu," kata Sasuke menyindir dengan nada yang terdengar dingin sekaligus muak.

"Lebih baik daripada Uchiha yang bersikap kotor dan licik," timpal Neji sengit. Mereka berdua benar-benar membuka acara pembicaraan dengan tidak berprikepembukaan bicara.

Sasuke memandang Neji tajam, "Apa maksud mulut busukmu itu Hyuuga?" desisnya marah karena tidak terima atas apa yang dikatakan lawannya.

Neji terkekeh merendahkan, dan itu membuat Sasuke semakin muak.

"Kau kira aku tidak tahu kelakuan busukmu Uchiha. Semua yang menimpa Hinata itu salahmu! Selama ini, aku tahu kau menginginkan Naruto," katanya blak-blakan dengan tenang namun sangat terdengar emosi.

Sasuke terpaku sebentar, sebelum seringai licik terpatri diwajah tampannya. "Heh! Punya bukti apa kau menuduhku ahn?" tantangnya menyebalkan.

Neji mengepalkan tangannya kuat. "Karena aku tahu caramu yang menghalalkan segala cara!" desisnya rendah.

Memutar matanya bosan, lantas Sasuke berujar, "Jangan meras dirimu suci Hyuuga! Kau kira aku tidak tahu rencana licikmu untuk mendapatkan Naruto? Jangan bercanda! Bahkan aku tahu rencana busukmu itu! Mudah ditebak!"

Braak!

Suara gebrakan meja yang Neji hasilkan membuat suasana itu semakin mencekam dan tegang. Sasuke tetap dengan wajah datarnya memandang Neji yang sedang melotot.

"Kenapa? Kau berniat mempercepat pernikahan mereka berdua, kemudian memanfaatkan Namikaze crop untuk kepentinganmu pribadi dan setelah itu kau merebut suami dari sepupumu sendiri dengan menusuknya dari belakang. Bukankah aku tepat sasaran Hyuuga? Hohow.. bahkan itu terdengar lebih busuk."

"DIAM KAU! UCHIHA BASTARD!"

.

.

AAAAA

.

.

"Ha-ah.. Akhirnya selesai juga!" desah Naruto seraya menyenderkan tubuhnya dijok mobil mewah mercedesnya. "Paman Iruka..?" panggilnya kemudian kearah pria dewasa disampingnya yang sedang duduk dibelakang stir.

"Hmm.. Ya?" sahutnya mulai memajukan mobilnya.

"Apa paman yakin para pemburu berita itu sudah tidak mengejar kita lagi?" tanyanya khawatir. Matanya mengedarkan kearah luar dengan rasa gelisah.

"Tidak, percayalah.. Kakashi sudah mengatasi semuanya. Tenang saja." Jawabnya membuat Naruto mendesah_lega.

Hari ini Naruto begitu lelah, sangat lelah. Setelah acara Talk show itu Naruto langsung dikerubuni dan dikejar-kejar para wartawan dan paparazzi yang meminta keterangan atas semua yang terjadi dengan kelanjutan hubungannya dengan Hinata Hyuuga. Astaga! Mereka itu apa tidak mengerti? Perasaannya saja masih galau, apa mereka tidak bisa membuatnya beristirahat sekarang?

Dan beruntunglah Naruto mempunya presdir seperti Uchiha Sasuke yang perhatian. Dia dibebaskan setelah acara tadi, padahal jadwalnya masih banyak.

'Si teme itu.. Mulai menyoggokku,' batin Naruto geli. Naruto kemudian mengingat kejadian tadi pagi sebelum ia berangkat bekerja saat ia sarapan bersama dengan boss nya itu.

"Jadilah kekasihku."

Sungguh, itu adalah kalimat sederhana yang efeknya luar biasa untuk Naruto. Ia sedikit bergidik saat membayangkan seringai mesum dan tatapan tajam ala predator Sasuke.

'Aiiish.. Kenapa aku malah memikirkan si siteme pantat ayam itu sih?' pikirnya menggerutu sendiri.

...

Warn: lemon dimulai (dibawah umur dilarang baca!)

Setelah sampai ke appartementnya, Naruto langsung saja menghempaskan tubuhnya diatas ranjang king sizenya, tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Tak butuh waktu yang lama untuk si pirang melaju kealam mimpi.

Beberapa lama kemudian, seorang pria membuka pintu kamar Naruto. Ia berjalan menghampiri pemuda yang terbaring nyenyak diranjangnya. Onyxnya memandang lembut kearah pemuda yang tidur dengan nafas yang teratur dan wajah damai.

'Sangat cantik,' pikirnya kemudian. Pemuda yang ternyata Sasuke itu lalu duduk disebelah Naruto.

Senyuman tipis terpatri diwajahnya. "Sepertinya kau sangat lelah sayangku..," gumamnya seraya menyondongkan tubuhnya kewajah Naruto dan mengecup bibir ranum pemuda yang telah diklaim kekasihnya itu.

Merasa ada sesuatu yang mengganggu, Naruto melenguh pelan "Nngh.."

Narutopun terbangun. Matanya membuka sempurna. Menyadari kehadiran seseorang didepannya Naruto terbelalak. "Uchiha! Apa yang kau lakukan dikamarku?!"

Sasuke tersenyum watados, "Sudah bangun sayangku? Koniciwa..,"katanya santai seraya menyeringai saat menyadari wajah Naruto yang pucat pasi.

"Pergi ka-uuuummmph!" seruan Naruto terpotong saat tiba-tiba Sasuke menciumnya kasar. Matanya terbelalak.

"Mmmh.. mmph.. te-mmmph –mmeh.. jang-annmmph!"

Salah langkah. Dengan Naruto yang berusaha bicara, membuat Sasuke mendapat kesempatan untuk melesakan lidahnya kedalam rongga mulut Naruto. Dengan lihainya Sasuke mengobrak abrik mulut Naruto, mengecap rasa manis dan nikmat mulut Naruto. Si pirang terus berusaha memberontak, namun sayang usahanya sia-sia. Keadaan ia yang baru bangun tidur membuat tenaganya melemah. Sasuke menghisap kuat lidah Naruto, terkadang memelintir dan menari-nari didalam rongga hangat itu. Mengabsen seluruh gigi Naruto dengan penuh Nafsu, sehingga suara kecipak- kecipuk dan gemelutuk antar gigipun terdengar nyaring dikamar yang sepi itu, hingga tak terasa aliran saliva meluncur diantar dagu mereka. Sasuke kemudian melepaskan cumbuannya saat menyadari Naruto hampir pingsan karena kehabisan oksigen.

"Hah.. hah.. brengsek kau Teme!" marah Naruto sepenuh hati kepada Sasuke. Ia berusaha bangun, namun naas tangan Sasuke segera menahan tubuhnya, mengunci badan mungil Naruto dengan tubuhnya sendiri. Sasuke menindihnya.

"Maaf sayang.. Aku benar-benar menginginkanmu, aku sudah tidak tahan," suara rendah serak penuh nafsu itu membuat Naruto merinding seketika. Apalagi mata sayu Sasuke memandangnya dengan wajah super mesum.

"Ja-jangan Su-suke.. Kumohon!" pinta Naruto bergetar. Benar-benar takut dengan keselamatan keperjakaaan bokongnya. Mendengar Naruto berbicara entah kenapa ia malah semakin terangsang, Sasuke menjilat pipi Naruto yang menggoda, kemudian berbisik ditelinga sebelah kanan Naruto dengan nada seduktif.

"Kenapa kau takut sayang? Bukankah kita sepasang kekasih?" katanya sinting, benar-benar menganggap Naruto sudah menjad miliknya.

Naruto melotot, "Jangan seenaknya Teme, aku tidak pernah sekalipun pe-AAKH!" ia terpekik saat merasakan perpotongan lehernya digigit gemas Sasuke, yang ia yakini pastilah meninggalkan jejak merah disana. "A-apa yang kau laukan bastard! Sa-Sakit tauuu!" sungutnya misuh-misuh. Ia berusaha melepasakn dirinya dari jeratan kuat Sasuke, namun nihil memang sudah nasibnya aja bertenaga uke.

'Oh.. Kami-samaa tolong hambamu yang imut ini!' ratap Naruto plus narsis, yang bikin Author sweatdrop sendiri.

Sasuke menyeringai, "Tenang saja Dobe, aku akan bermain lembut," ucapnya sama sekali tidak menghiraukan Naruto yang setengah mati ketakutan.

Bermain lembut?

Apanya yang bermain lembut kalau awalnya sudah gigit-gigit gitu! Pikir Naruto.

Tiba-tiba saja Sasuke menyerang Naruto dengan ciuman ganas namun terkesan lembut. Dengan cepat ia melucuti pakaian Naruto hingga dada menggoda Naruto terekspos jelas. Sasuke melepaskan ciumannya. Memandang Naruto penuh nafsu. Wajah ukenya itu semakin menggairahkan, mata yang sayu, nafas yang memburu, bibir merah yang sedikit membengkak akibat ciuman panasnya, muka yang merona dengan peluh didahinya yang menkilat ditambah dengan perut dan dada telanjangnya.

Ugh..! miliknya menegang dua kali lipat.

"Hentikan Sasuke!" Naruto berteriak panik, entah apa yang akan terjadi setelah ini. Sasuke menyerang dada Naruto dan menghisapnya kuat. "Aaaakh! Sasuke.. akh hentikan! Kumohon!"

Seakan menulikan telinganya dari jeritan Naruto, Sasuke malah semakin bernafsu menghisap dan memilin puting susu Naruto. Bagi, Sasuke suara jeritan Naruto bagaikan nada yang mengalun erotis ditelinganya, sehingga menambah semangatnya untuk menggagahi Naruto sekarang juga. Entah, sejak kapan celana Naruto terlepas dari kakinya, keadaan Naruto sekarang telah telanjang bulat.

"Kau indah sekali Naru..," kata Sasuke sebelum ia menyerang perpotongan leher Naruto dan menghisap kuat disana, meninggalkan beberapa kiss mark yang mungkin takkan hilang untuk dua hari kedepan.

"Nngh.. Henti-nggh..kan sukeeeh.." Naruto ingin sekali menangis sekarang, tapi tubuhnya entah kenapa mulai tidak sesuai dengan akal pikirannya. Ia mulai menikmati sentuhan-sentuhan yang diberikan Sasuke.

"Tapi, tubuhmu menikmatinya, sayangku..," sahut Sasuke dengan seringai mengerikan dimata Naruto. Ia melanjutkan kembali serangannya kepada Naruto, memberikan beberapa tanda kemerahan disekitar dada Naruto. Sedangkan, Naruto terusa saja menggeliat, mendesah tertahan karena ia tak mau mengeluarkan desahannya untuk Sasuke, bisa-bisa tuh si ayam brengsek besar kepala. Ia menggigit bibir bawahnya keras, hingga sedikit meninggalkan luka berdarah.

Tapi..

Tubuhnya sudah mulai terangsang, ia menikamati sentuhan ini. 'Sasuke sialan!' Makinya dalam hati.

"Aaaah... mmmh..engh!" Naruto mencengkram sprei kuat saat kejantanannya dikulum oleh saluske. Sakuke sungguh lihai memainkannya. Menjilat, mengulum dan menghisap nya dengan permainan yang sangat luar biasa sensainya untuk Naruto. Sehingga, akhirnya desahan yang tertahan sejak tadi tadi tahan keluar juga.

"Aahh.. ahn.. Sukeeeeh.. su-dah.. ahh.."

Damn! Suara seksi Naruto membuat Sasuke lupa segalanya. Dengan cepat dan nafas yang sudah memburu Sasuke menanggalkan semua pakaiannya, melempar baju yang ia kenakan sembarangan. Sehingga sekarang ia telanjang bulat. Naruto terperangah sekaligus melotot, saat melihat tubuh telanjang Sasuke yang luar biasa keren dan sixpack, sempat terpaku sebentar. Sebelum, wajahnya berubah bertambah merah saat melihat kejantanan Sasuke yang ukurannya luarbiasa 'wooow'. Ia mulai khawatir dengan bokongnya, apakah anusnya muat? Sasuke menyeringai senang saat melihat wajah Naruto yang terpesona itu.

Naruto menggelengkan kepalanya, tersadar saat lamunan nista itu terbesit dalam pikirannya. Ia buru-buru bangkit menyelamatkan dirinya mumpung ada kesempatan. Dan, sungguh Naruto ditakdirkan hari ini keperjakaannya direnggut oleh Sasuke. karena lagi-lagi Sasuke menindihnya cepat, tidak membiarkan Naruto pergi.

"Nikmatilah Sayaaang.. ," serak Sasuke seraya mencumbu Naruto kembali. Tangannya tidak tinggal diam, langsung saja menggenggam milik Naruto, dan memaju mundurkannya membuat Naruto mau tak mau keenakan.

"AAKH! Sa-Sakit!" Naruto berteriak kesakitan saat Sasuke memasukan jarinya kedalam anusnya yang sempit.

"Hentikan! Sa-sakit! AAAH!" teriaknya lagi lebih kencang saat Sasuke menambah lagi dua jarinya kedalam anus Naruto.

"Kau sangat sempit Naruu," Sasuke memasukan jari ketiganya makin dalam, dirasakannya anus Naruto yang begitu hangat dan sempit.

"Sakit sasukee! KELUARKAAN!" Naruto berteriak menggeliat menahan rasa sakit dibokongnya, air matanya perlahan keluar. Sasuke yang melihatnya sedikit tak tega, ia mengecup bibir Naruto lembut.

"Tahan sayang, sebentar lagi.." Suara lembut penuh kasih sayang dari Sasuke, mau tak mau membuat Naruto lebih tenang , entah kenapa saat melihat sorot mata Sasuke hatinya terasa hangat dan nyaman. Membuatnya merasa rileks, ketakutan yang ia rasakan sedari tadi perlahan terkikis.

Naruto mendesah lega,saat Sasuke mengeluarkan ketiga jarinya dalam anusnya.

"Gigit tanganku saat kau merasa kesakitan," Sasuke memerikan tangannya. Tidak tahu setan apa yang merasuki Naruto, akhirnya ia mengangguk pelan. Menuai senyum tulus dari Sasuke.

Sasuke memposisikan kejantanannya tepat didepan anus Naruto. Dengan perlahan ia memasukan miliknya kedalam anus Naruto, takut membuat Naruto tersakiti.

"AAAKKKHH!" Teriak Naruto seraya mengigit kuat tangan Sasuke, sehingga sang empu mendesis sakit. Tapi, ia tak memprotesnya karena melihat wajah kesakitan Naruto. Hingga, seluruh kejantanannya masuk sepenuhnya kedalam anus Naruto. Sasuke mengecup kedua bola mata Naruto lembut, saat air mata itu kembali turun. Setelah, melihat Naruto lebih rileks, ia mulai memanju mundurkan pinggulnya perrlahan dan lembut.

"Ngghh.. ahh.." Sasuke memaju mudurkan kejantanannya lebih cepat dan edua tangannya mencengkram paha Naruto. Membuka lebih lebar untuk mempermudah aksesnya.

"Ngggh,, ah.. ah.. ahh.. " Naruto mendesah. Antara sakit dan nikmat saat kejantanan Sasuke yang besar menyentuh titik kenikmatannya.

"Disana ya.." seringai Sasuke saat mengetahui titik kenikmatan Naruto.

Sasuke merunduk membawa tubuhnya lebih merapat dengan Naruto, memperhatikan wajah cantik Naruto yang telihat sangat menggoda. Wajahnya dipenuhi peluh dan merah, rambut jabriknya tak karuan bercampur dengan keringat sehingga teerlihat lepek. Sangat manis, pikir Sasuke.

"Hmmph.. nghh.. Sssh," Naruto mengerang dalam ciuman Sasuke, tubuhnya sudah sangat terasa lemas, ia bahkan tak melawan lagi.

"Aku mencintaimu Naru," ucap Sasuke disela-sela genjotannya. Ia meneringai saat melihat wajah kenikmatan Naruto, sehingga gerakannya ia percepat, menuai desahan menggila dari Naruto. Tangannya beralih kepada penis Naruto yang terlupakan tanpa menghentikan penetrasi dan ciumannya. Sehingga memberikan kenikmatan yang menjalar kepada Naruto, melupakan rasa sakitnya. Sasuke merasa Naruto akan sampai pada puncaknya, ia juga demikian.

"Nghh.. Sukeeh.. nggh.."

"Sebut namaku Naru ahh.. ssst.." kata Sasuke seraya terus mepercepat penetrasinya.

"NGGHH..AHH.. SASUKEEE!"

"Narutoooo! Aaah!" Sasuke membuyarkan benihnya kedalam anus Naruto, sementara benih Naruto meleleh menciprat perutnya, mengalir membasai seprai. Akhirnya mereka sampai pada puncaknya bersama, dengan meneriakan namanya masing-masing. Tubuh Sasuke ambruk diatas tubuh Naruto, nafas mereka memburu.

"Hah.. hah.. Aku mencitaimu Naru.. kau milikku!" ujarnya posesif, seraya mngecup bibir Naruto sekali lagi.

"Hah.. Hah.. BASTARD UCHIHA!"

.

.

TBC..

FYUUUH.. akhirnya lemon pertama Kira jadi.. haduh ancur gitu ya?

Maaf chap ini agak gaje. Heheh..

Oia, maaf Kira belum sempat balas review Minna-san. But, makasih.. karena berkat review kalian Kira semangat nulis.

Makasih yang udah review, jangan kapok. Suarakan pendapatmu dikotak review ya..

Sekali lagi maaf belum bisa balas karena Kira gak keburu ngetiknya, ini juga kira sempet-sempetin. Sekarang kira lagi ujian, jadi gitu deh.. hehe..

Yosh..

Akhir kata..

REVIEEEW!