Pagi hari menjelang, mentari mulai mengintip diufuk timur. Pemuda dengan surai pirangnya masih setia menyembunyikan Shapphirenya dibalik kulit putih agak karamelnya, seakan menantang sang mentari bahwa ia tak sedikitun terpengaruh dengan cahaya hangat itu.

"Naru-chan..."

"Ugh.. 5 menit lagi paman..," suara serak itu menyahut seraya mengangkat kelima jarinya keudara.

Pemilik suara pertama hanya tersenyum seraya mendengus kecil melalui hidungnya. Kemudian, ia beringsut keatas ranjang memposisikan dirinya disamping pemuda yang tengah meringkuk bak kucing kedinginan yang berlindung dibawah selimut tebal.

Menggemaskan!

"Ini sudah jam 9 pagi, Naru-chan..," ucapnya lagi menimpali Naruto seraya menopang kepalanyanya dengan tangan, menyampingkan tubuhnya kearah pemuda terlampau manis disampingnya.

Hening..

Ko rasanya itu bukan suara pamannya ya? Mirip suara...

Shapphire itu terbelalak.

"EEEEEEEEH?" teriak pemuda itu Shock dengan mulut menganga, masih dalam posisi tidurnya.

"Urusai Dobe!"

"TIDAAAAAAKKK! AKU DIPERKOSA TEMEEEEE! HUWEEEE!"

Dan Sasuke tuli untuk beberapa saat. Ia mendesah pasrah, sudah mengira hal ini akan terjadi. Namun, ia kembali menyeringai saat melihat Naruto kesusahan menggerakan tubuhnya dengan bebas. Kerutan didahi Naruto sudah jelas menandakan artis yang digemari para seme itu tengah kesakitan.

"Auw! I-itaii.. issh!" ringis Naruto saat mendudukan tubuhnya, bokongnya terasa hancur dan panas disaat yang bersamaan. Dengan wajah yang memerah menahan kesal dan malu saat mengingat kembali kejadian semalam, Naruto menatap Sasuke sengit.

"Kau brengsek!" Tunjuk Naruto tak sopan tepat dihidung Sasuke yang kini tengah menatapnya datar, "Harus. Bertanggung. Jawab. Dengan. Semua. ini!" katanya dendam penuh penekanan disetiap katanya, napasnya memburu emosi. Ia kembali melihat tubuhnya yang dipenuhi kiss mark dimana-mana, ia jadi dongkol kembali. Semalam bahkan Naruto tidak ingat Sasuke 'menghajarnya' entah berapa ronde. Sepuluh jarinya saja bahkan Naruto tak yakin cukup untuk menghitungnya. Maniak sinting!

Sasuke hanya tersenyum dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin. Ia mengangguk antusias, menanggalkan imej seorang Uchihanya sendiri. Lalu?

"Baiklah.. Bulan depan kita menikah!"

Hening..

.

.

"DASAR GILA! BUKAN ITU YANG KUMAKSUD!"

.

.

Disclaimer : Om Masashi

Pair : SasuNaru slight KakaIru

Rate : M

Gendre : Romance,Drama

Warning : YAOI,ANEH,GAJE,TYPOS,DLL


Nasib yang sama menimpa Iruka dipagi hari yang teramat cerah ini. Pria berusia 29 tahun yang masih terlihat manis itu bangun dalam keadaan telanjang, hanya ditutupi sehelai selimut. Wajah yang dihiasi luka melintang dihidungnya itu nampak tertekuk merenggut kepada kekasihnya yang saat ini masih setia memeluknya. Kalau saja situasinya ia tidak 'meninggalkan Naruto di Appartement sendiri', maka diperkosa oleh Kakashi sepuluh kali seharipun ia rela. Sungguh sangat rela.

Tapi..

"Aku meninggalkan Naruto sendiri yang sedang tertidur, tanpa mengunci pintu. Oh Tuhaan..!" desah Iruka frustasi. Ia memandang Kakashi sebal, dirinya yakin si manusia sawah disampingnya ini sudah terbangun dari tadi. Hanya saja, ia pura-pura tertidur.

"Semua ini gara-gara kau manusia sawah! Kau tiba-tiba saja datang dan mengangkutku bagaikan karung beras," gerutunya kemudian seraya menjauhkan tangan Kakashi dengan kasar. Ia kemudian bangun dan membawa dirinya kekamar mandi. Entah kenapa ia merasakan firasat buruk terhadap Naruto.

"Haah.. semoga saja Naruto tidak kenapa- kenapa," doa Iruka setulus hati. Yang dirinya tidak ketahui adalah kenyataan bahwa memang telah terjadi hal yang buruk dengan keponakannya itu.

Naruto diperkosa Uchiha Sasuke. Bukankah itu kejadian buruk?

Sementara itu, diam-diam Kakashi menyeringai dalam tidurnya. 'Khekhekhe.. Akhirnya, gajiku Sasuke naikan dua kali lipat'.

...

Naruto benar-benar merenggut, dia sangat ngambek sekali. Sama sekali tidak berbicara sedikitpun kepada Sasuke yang saat ini tengah membawa sebuah nampan berisi sandwich dan susu cokelat khusus buatannya, yang pastinya hanya untuk Naruto. Pemuda itu menghampiri Naruto, menyimpan nampan berisi sarapan pagi ke meja pinggir ranjang yang kini sudah dirapihkan akibat dari 'kekacauan' semalam. Sementara itu, Naruto nampak tidak memperdulikan kehadiran Sasuke, ia malah sengaja menganggap Sasuke tidak ada.

Sasuke mendesah berat. Luka lebam diwajahnya cukup menjadi bukti bahwa Naruto benar-benar marah kepadanya. Oh ayolah.. Siapa yang akan senang jika ada yang memperkosamu? Untunglah.. Naruto tidak mengalami depresi juga.

Tapikan lain cerita kalau yang memperkosanya Uchiha Sasuke? Bukankah itu suatu anugerah? Pikir Sasuke edan.

"Makanlah Dobe. Semalam bukankah kau tak sempat makan? Sedikit saja sayang.." Rayu Sasuke lembut dengan nada suara yang terdengar sangat perhatian sekali, yang membuat Naruto semakin ingin muntah saat mendengarnya. Demi Tuhan! Sasuke rela melakukan apa saja untuk menggembalikan senyuman cerah dari pemuda yang sudah menjadi obsesinya sejak lama itu.

Sejujurnya, Sasuke merasa tak enak membuat Naruto tidak bisa melakukan apa-apa sekarang. Pemuda cantik itu nampak kesakitan. Tapi.. Ia tak pernah menyesal dengan hal ini. Karena, ini semua memang rencananya. Dari mulai menyuruh Kakashi menculik Iruka, sampai ia memperkosa Naruto. sungguh itu memang kehendaknya. Beginilh cara ia mendapatkan Naruto, setelah Naruto sendiri mengacuhkannya beberapa bulan kebelakang. Jadi, semua ini salah Narutokan? Suruh siapa menolak cintanya berpuluh-puluh kali.

"Kalau tidak makan, aku berjanji akan memperkosamu saat ini juga Dobe!" ancam Sasuke yang tentu saja berhasil menarik perhatian Naruto kepadanya. Naruto melotot sengit kearah Sasuke tentu saja dengan rasa yang penuh dendam.

"Jangan kau berani melakukan itu lagi brengsek! Aku tidak sudi disentuh olehmu!" desis Naruto menahan amarah.

Cukup, pagi ini ia sudah mengeluarkan seluruh kemarahannya kepada Sasuke. Tubuhnya yang lemas dan jauh dari kata baik-baik saja membuatnya semakin lelah untuk sekedar membentak marah. Apalagi memang, perutnya belum diisi dari kemarin malam. 'Ini semua gara-gara si Teme!' gerutu Naruto dalam hati. Lantas dengan pura-pura terpaksa, Naruto mengambil sarapannya dengan muka manyun, yang menurut Sasuke itu sangat menggemaskan.

Dalam hati Sasuke tertawa geli melihat cara makan Naruto yang sok ogah, tapi seperti orang kelaparan. Seperti anak kecil yang sedang ngambek kepada ibunya. Lalu, pemuda yang berusia 26 tahun itu mengacak rambut Naruto gemas, seraya tersenyum kecil dan mengecup bibir Naruto sekilas yang tidak sempat Naruto hindari.

"Hari ini kau tidak usah bekerja. Semua jadwalmu sudah aku batalkan, istirahatlah. Aku mencintaimu." Ujar pria sangat tampan itu sangat lembut hingga membuat Naruto sempat terpana karena ia merasakan sengatan kecil diulu hatinya saat memandang Sasuke.

Entah kenapa ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

'Aku mulai gila. Mungkin ini efek dari rasa depresi karena kejadian semalam. Ya ini semua efek depresi. Oh tidak! Aku harus segera ke psikiater!'


Sasuke bersandar pada kursi kerjanya. Dihadapannya sebuah laptop yang masih ON terpampang, jari-jarinya dengan lincah mengetik kata perkata. Hingga, keyword 'enter' dengan pasti ia tekan. Pemuda itu terlihat puas, seringai dibibirnya cukup membuktikan kalau sang presdir itu sedang dalam mood bagus.

"Kerja bagus Kiba," katanya kepada diri sendiri yang ternyata setelah mengirim sebuah email . Mendapatkan kabar bahwa Kiba berhasil membujuk Hinata keluar Negeri dan melamar gadis cantik itu, merupakan kabar yang sangat menggembirakan untuk Sasuke.

Sejujurnya, Sasuke merasa amat bersalah dengan kejadian Hinata itu. Ia mengakui bahwa dirinyalah yang menyuruh Kiba untuk menjebak Hinata.

Tapi..

Tidak sampai main telanjang-telanjangan seperti itu, apalagi sampai melakukan hubungan intim. Ayolah.. Sebrengsek-brengseknya Uchiha, ia tidak suka jalan kotor. Ini adalah kesalahan Kiba. Sasuke mana tahu, ternyata pemain gitaris band Akatsuki itu menyukai wanita Hyuuga , dan menanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkannya. Sasuke sempat murka juga karena dengan pikiran bodoh Inuzuka itu, pemuda jabrik itu malah memperkeruh suasana dengan menyebarluaskannya diinternet.

Padahal..

Sasuke Cuma minta Hinata sedang berciuman saja dengannya, itupun cukup dikirim lewat email Naruto saja. Tapi bukankah itu masih tetap cara yang kotor ya? Entahlah.. Mungkin tidak terlalu ekstrim seperti foto adegan ranjang?

"Setidaknya si baka mengerjakan tugasnya dengan baik," lirih Sasuke lagi sedkit mendengus geli saat mengingat bagaimana wajah Kiba ketika ia mengancamnya akan membunuh seluruh koleksi anjing pemuda itu.

Tok tok tok..

Ketukan pintu membuat Sasuke kembali keduniannya. Lantas ia mengambil remot tersedia dimejanya, menekan tombol open, dan terbukalah pintu itu menampakan wajah tertutupi masker dengan rambut spike silvernya.

"Hai bos besar!" sapanya yang terdengar kelewat semangat ditelingan Sasuke. Tentu saja, ia tahu apa yang membuatnya bersikap seperti itu, kalau bukan..

"Hn, tenang saja gajimu aku naikan dua kali lipat."

"Hehehe..."

.

.

AAAAA

.

.

"Tunggu saja sampai kau melihatnya, Sasori. Dia itu sungguh sangat manis dan menakjubkan. Amat sangat menakjubkan, dan wajahnya Ya tuhan... Sangat cantik,un."

"Hmmm.."Sasori berguman malas seraya menganggukan kepalanya sedikit.

Deidara tampak menyesal dengan perkataannya. "Apa aku terlalu banyak bercerita?" tanyanya merenggut atas reaksi sang lawan bicara.

Sekali lagi Sasori mengangguk, "Untuk satu perjalanan penuh kurasa cukup banyak Dei," timpalnya malas, kembali fokus pada jalan karena pemuda itu sedang menyetir.

Deidara malah cengengesan tak jelas, kemudian menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Itu karena aku sungguh tidak sabar bertemu lagi dengannya Sasori." Ujarnya. "Memangnya kau tidak Sasori?" Lanjutnya

"Aku juga merindukannya. "

"Ya benar, kita merindukannya. Suara imutnya, wajah cantiknya, tingkah lucunya, dan waaah.. semuanya, un." Tukas Deidara teramat antusias layaknya bocah, padahal umurnya sudah menginjak 23 tahun. "Oia, berapa lama ya kita tidak bertemu dengannya?"

"4 tahun."

"Chk.. Cukup lama,un. Pantesan rasanya sangat rindu sekali, walaupun kita sering melihatnya ditelevisi dan majalah, un." Decak pemuda bersurai blonde panjang itu menimpali.

Sasori tersenyum lembut membayangkan orang yang kini menjadi objek pembicaraan mereka. Kemudian menoleh kearah Deidara dengan tatapan datar dan tak suka.

"Waah.. Kit-"

"Cukup Dei!" sela Sasori sebelum Deidara mengoceh tak jelas lagi. "Berhenti berbicara seolah-olah aku tidak mengenal adik kandungku sendiri! Dan Naruto itu tidak Cantik!"

Hening..

Deidara nampak melongo dengan tampang bodoh, kemudian menepuk jidatnya sendiri. "Hehehe.. Aku lupa. Ku kira Cuma aku yang menjadi kakak kandung Naru-chan~, un." Ujarnya membuat Sasori sweatdrop.

Sasori memutar matanya bosan.

"Merepotkan memang mempunyai kembaran 'berbeda' sepertimu." Keluhnya aneh sendiri terhadap kembaran tapi beda itu. Kadang Sasori tak percaya bahwa makhluk bodoh dan polos disampingnya adalah adik kandungnya sendiri. "Cepat turun! Kaa-san dan Tou-san pasti sedang menunggu!" perintahnya ketus yang disambut dengan wajah cemberut Deidara.

"Kau memang kakak yang tak asik, un!"

"Kau yang aneh Dei!" Erang Sasori frustasi.


Kushina dan Minato begitu bahagia menyambut kedatangan dua anak kembar tapi bedanya itu. Setelah 4 tahun mereka pergi untuk menimba ilmu, akhirnya Sasori dan Deidara pulang juga.

"Tadaima Kaa-san, Tou-san!" seru Sasori dan Deidara berbarengan saat tiba didepan pintu. Sang ibu langsung berhambur kepada kedua anaknya itu, memeluk dua-duanya langsung dalam satu pelukan.

"Okaeri.. Saso-kun, Dei-chan.. Kaa-san merindukan kalian.." Tukas Kushina mencium pipi masing-masing sang anak. Dan Sasori harus sekuat tenaga untuk tidak mendorong wajah ibunya.

Minato sang kepala keluarga menyaksikannya dengan sebuah senyuman hangat. "Okaeri," timpalnya. Pria 45 tahun yang masih terlihat tampan dan awet muda itu lantas membawa kedua anaknya untuk memasuki mansion. "Ayo.. Sebaiknya kita mengobrolnya didalam saja."

Semuanya kemudian mengikuti sang kepala keluarga memasuki mansion. Deidara dan Sasori langsung disuguhkan pemandangan yang amat mereka rindukan. Selama 4 tahun, ternyata rumah mereka tak banyak berubah.

'Semoga.. Kamarku juga tak banyak berubah.' Batin Sasori dan Deidara satu hati.

"Ngomong-ngomong.. Dimana Naru-chan, un?"

.

.

AAAAA

.

.

"Oh.. Tuhan.." Erang Naruto. Bagaimana semuanya bisa begini? Kenapa Sasori dan Deidara harus mempercepat kepulangan mereka? Ini gawat! Kaa-sannya barusan menghubunginya untuk pulang pada jam makan malam. Bukannya Naruto tak senang, demi ramen yang ada didunia ini! Naruto amat bahagia mendengar kedua kakaknya balik dari Amrik. Tapi..

"Kenapa harus pada saat keadaanku seperti ini sih?" keluhnya mengamati dirinya yang bahkan untuk bangun dari tempat tidunya pun perlu usaha yang keras. Ditambah tubuhnya yang dipenuhi kissmark yang belum hilang disekitar leher paling parah. Damn! Sasuke Uchiha, mati kau!

"Naruu.. Makan siang sudah siap!" Terdengar suara pamannya memanggil diluar.

Naruto mengehela napas berat.

Ia kembali melilitkan syal yang sempat tergeletak disampingnya, untuk menutupi bekas merah dilehernya itu. Dengan langkah tertatih Naruto kemudian keluar dari kamarnya.

"Bagaimana keadaanmu lebih baik Naru? Makanya kalau jalan hati-hati, kan kau sendiri yang merasakan akibatnya jika tersandung." Omel Iruka dengan nada khawatir saat melihat Naruto berjalan dengan tertatih. "Untung ada Sasuke-san yang menolongmu semalam, kalau tidak, aku takkan memaafkan diriku sendiri yang meninggalkanmu sendiri dirumah yang mengigau berjalan kearah tangga."

Itulah kebohongan konyol yang dibuat Sasuke Uchiha kepada Iruka untuk menutupi kebrengsekannya. Dan sungguh Naruto tidak mengira bahwa pamannya memang terlalu polos untuk mempercayainya.

'Kukira akulah disini yang paling bodoh!' dumel Naruto yang tanpa sadar telah mengakui bahwa memang dirinya bodoh. Lantas pemuda itu mendudukan dirinya dengan perlahan dan hati-hati, tidak mau menambah rasa linu pada bokongnya.

"Masih sakit?" tanya suara maskulin dingin menuai desisan si pirang sekaligus tatapan tajamnya kepada makhluk ayam yang dengan tanpa wajah berdosanya duduk disisi sebelah kanannya.

"Berhentilah menganggap appartementku seolah rumahmu untuk sekedar pulang makan siang Uchiha-san. Aku tidak mengira kau semiskin itu sehingga 'menumpang' makan dirumah orang lain. " ucap sarkas Naruto penuh dengan penegasan. "Dan aku rasa kau tak perlu bertanya lagi dengan pertanyaan 'masih sakit?' mu itu!" cicit Naruto penuh arti sekaligus menyinggung. Sementara, Sasuke nampak tidak memperdulikan apa yang dikatakan dobenya, ia malah asik mengambil lauk yang tersedia dimeja itu.

"Jaga sikapmu Naruto! Dia adalah orang yang telah menolongmu! Ah.. Maafkan Naruto, Sasuke-san," kali ini suara teguran Iruka kepada Naruto bergantian dengan nada menyesal yang ia berikan kepada Sasuke. "Cepat minta maaf pada Sasuke-san, Naruto! Dan berterima kasihlah atas kebaikannya!" pelotot Iruka dengan nada yang tak ingin dibantah.

Secepat kilat Naruto memandang pamannya dengan tatapan tak percaya. Ia membawa jari teluntuknya persis didepan hidungnya. "Aku? Meminta maaf dan berterimakasih padanya?" tunjuknya kepada Sasuke. "Oh Tuhaaaaan!" ia mengangkat tangannya menyerah. "Apa yang harus kumaafkan darinya? Dan apa yang membuatku harus berterimakasih padanya?" pekik Naruto dramatis. 'Jikapun ada yang harus meminta maaf adalah si Teme ini orangnya! DIA TELAH MEMPERKOSAKU PAMAAN!' Teriaknya dalam hati melanjutkan penuh dengan kegusaran. Tentu saja dalam hati, karena Naruto belum gila untuk memberi tahu pamannya bahwa ia telah diperkosa seorang lelaki. Lelaki diperkosa lelaki! Bukankah itu terdengar menggelikan dan memalukan? Harga dirinya sebagai pria sejati berhasil membuat mulutnya terkatup untuk tidak membeberkan hal yang sebenarnya.

"Hn. Tak apa Iruka-san. Aku memakluminya." Ujar Sasuke sok menggeleng menuh maklum kepada Iruka seolah ia sudah biasa dan mengerti dengan sikap tak sopannya Naruto. "Dobe ini sepertinya malu untuk mengungkapkannya." Lanjutnya benar-benar berakting malaikat.

CTAK!

Iruka memandang Sasuke penuh kekaguman. "Anda baik sekali. Seharusnya Naruto dapat melihat ketulusamu." Ucap Iruka benar-benar tidak tahu situasi.

CTAK CTAK!

"Hn. Tak apa. Aku harus membiasakannya mulai sekarang. Itu untuk kelanjutan masa depan kita."

"A-ah! Ma-masa depan ki-kita?"

"HENTIKAN OCEHAN KALIAN BERDUA ATAU AKU AKAN BUNUH DIRI SEKARANG JUGA!" teriak Naruto mengalihkan Iruka dan Sasuke dengan menodongkan pisaunya kearah lehernya,

Hening..

Hening...

Dan makan siangpun berlangsung dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa. Sesekali Iruka melirik kearah Naruto dengan pandangan khawatir. 'Kenapa anak ini bersikap aneh? Apa ini semua gara-gara masalahnya dengan Hinata-san? Aah.. Kasihan sekali kau Nak.'

.

.

AAAAA

.

.

Makan malam dikeluarga Namikze begitu terasa hangat dan menyenangkan, apalagi dengan kehadiran Naruto keluarga itu nampak lebih ceria dan hidup. Naruto, sesaat itu bahkan dapat melupakan berbagai masalahnya ketika kedua kakaknya sibuk menceritakan pengalam mereka selama di Amerika dengan bumbu candaan dan kejahilan mereka terhadap Naruto. Naruto sangat bersyukur atas hal Naruto berhasil membohongi kedua kakaknya ketika ia ditanya dengan pertanyaan:

"Kenapa kau memakai pakaian begitu?"

Atau

"Apa kau tidak panas Naru memakai pakaian setebal dan setertutup itu?"

Beruntunglah ia adalah seorang aktor yang baik, sehingga dengan alasan kurang enak badan ditambah jurus matanya yang berkaca-kaca berhasil membuat kedua kakaknya yakin. Sedangkan, Sasori dan Deidara menangkap maksud dari jawaban Naruto itu dengan presepsi yang berbeda. Dalam diamnya, batin kedua kakak itu prihatin kepada sang adik.

Sasori dan Deidara benar-benar mengira Naruto dalam keadan terguncang sehingga membuat kesehatan adiknya menurun. Pasca melihat berita dari internet bahwa adiknya baru menghadapi masalah dengan pacar pertamanya_Hinata_ kedua anak kembar tapi jauh berbeda itu langsung mempercepat jadwal kepulangan mereka dan memesan tiket keKonoha karena khawatir dengan keadaan sang adik tercinta. Salahkan sifat over protektif mereka berdua kepada adik manisnya itu. Dan saat melihat keadaan Naruto sekarang, mereka berdua takkan menyesali keputusannya tersebut. Dan mereka bertekad, terlebih Deidara untuk menghibur adiknya.

"Bagaimana kalau besok kita pergi ke taman bermain, un?!" seru Deidara ditengah cabda ria mereka.

Naruto nampak terpekik senang dengan mata berkilat. "YATTA~!"

Sedangkan Sasori hanya mengerling tak suka.

"Dei.. Kita bukan anak kecil lagi! Dan kau ingin membuat Naru tersiksa dengan kejaran fansnya ditempa terbuka itu?" Tukas Sasori yang berhasil membuat fantasi Deidara dan Naruto tentang menaiki roller coaster, hancur dalam sekejap.

"Huuuufft..," desah dua blonde itu berbarengan terduduk lemas yang berlebihan.

"Anak-anak!" Interupsi Kushina mengalihkan mereka bertiga. Kushina membawa sebuah nampan dengan beberapa cemilan untuk anak-anaknya, wanita yang masih terlihat cantik itu lantas tersenyum dengan manisnya. "Kalian asik sekali sih, sampai-sampai menghiraukan Kaa-san dan Tou-san," katanya pura-pura merenggut seraya mendudukan dirinya diantara Sasori dan Naruto.

Ketiga anaknya hanya terkikik menanggapi.

"Ayolah Kaa-san.. Tidak usah begitu. Ini soal anak muda." Kata Sasori yang sukses membuat semuanya meledak tertawa, karena Kushina betambah cemberut saat dirinya merasa paling tua.

"Wah.. Wah.. Asik nih!" kali ini Minato menghampiri istri dan anaknya, bergabung disisi Deidara dan merangkulnya.

Dan berlanjutlah, reuni keluarga itu yang amat terasa manis. Bersenda gurau bersama yang selama ini jarang mereka temui. Hahh.. Keluarga Namikaze memang membuat semuanya iri. Dan lagi-lagi si bungsu Namikaze menjadi korban kejahilan dan godaan kakak beserta orang tuanya.

"Berhenti menyebutku manis atau cantik! Aku ini laki-laki tulen!"

"HAHAHA! Mana ada laki-laki yang cemberut seperti itu saat ngambek, un!"

"Ah.. Naru-chan.. Benar-benar Kawaii,ttebene!"

"Kaa-san sama saja!"

"AHAHAHAHHA..."

Walau mulutnya cemberut, dalam hati Naruto tersenyum amat bahagia. Ia bahkan melupakan seluruh masalah beserta keartisannya. Didepan keluarganyalah Naruto akan menjadi dirinya sendiri, dan bersama keluarganya Naruto sangat amat bersikap manja.

Semuanya, diam-diam bersyukur saat melihat rubah kecil mereka kembali ceria. Mereka benar-benar khawatir dengan masalah Naruto saat ini. Yang mereka tidak ketahui adalah Naruto sebenarnya sudah melupakan masalahnya dengan Hinata.

Uchiha Sasuke.

Itulah yang menjadi masalahnya sekarang.

"Eh.. Sudah malam! Cepat kalian tidur! Saso dan Dei kan baru pulang, pasti kalian cape! Dan Naru, kau juga sama harus istirahat. Kondisimu kurang fit! Kau juga Anata.. Kau pasti lelah dari kemarin kerja terus! Ohya.. Kalian juga besok harus bangun pagi karena kita semua akan berangkat menemui sahabat Kaa-san dan Tou-san..."

Dan omelan wanita satu-satunya itu menghentikan kegiatan malam dikediaman Namikaze dengan sempurna.

.

.

AAAAA

.

.

Spechless. Naruto tak bisa berkata apa-apa lagi saat wanita cantik bersurai raven memeluknya erat. Mencubit pipinya serta menciumi pipi gembilnya dengan pekikan kata 'kawai' yang dia ulaingi sepanjang menit. Bukan. Bukan karena pelukan wanita itu yang membuat Naruto tak bisa berkata-kata.

Melainkan..

Pria dengan rambut raven melawan gravitasi berdiri persis dibelakang wanita yang kini memeluk Naruto seraya menyeringai senang. Ini buruk! Adalah hal yang Naruto tidak ingin temui hari ini adalah pria yang menjadi bosnya itu, yang bernama..

"Ah.. Sasuke! Kenapa kau berdiri saja! Cepat beri salam kepada paman dan bibi!" Mikoto, nama wanita yang sedang memeluk Naruto memberi perintah kepada pemuda yang ternyata adalah anaknya untuk memberi salam kepada Minato dan Kushina.

"Selamat siang, Tou- ehm.. paman, bibi." Sapa Sasuke dengan teramat sopan sehingga membuat hati Naruto tak tenang saat mendengarnya.

"Wah.. Wah.. Ini Sasuke, Miko-chan? Ya Tuhaaan.. Dia tampan sekali!" Kali ini Kushina yang terpekik saat melihat wajah aristokrat sang Uchiha. Minato bahkan harus berdehem keras untuk menyadarkan istrinya yang mulai histeris sendiri, atau entah sang kepala keluarga Namikaze itu sedang cemburu karena Istrinya kepincut berondong ganteng.

Fugaku, si bapak-bapak dingin hanya melihat kejadian ini dengan wajah temboknya, alias datar.

"Lama tak jumpa Fugaku." Minato menyapa dengan wajah cerianya, lelaki itu menjabat lengan sahabat lamanya dengan erat.

"Hn." Dan itu yang hanya Minato dapatkan atas sikap ramahnya. 'Si tukang es keliling memang tak berubah.' Dongkol Minato seraya tersenyum kecut.

Mikoto kemudian saling berpelukan rindu dengan Kushina. Tentu saja saat Naruto berhasil meloloskan jeratan Mikoto yang teramat erat itu. Sasuke, yang melihat kesempatan untuk berdekatan dengan uke tercintanya langsung menghampiri Naruto.

"Halo Dobe? Sepertinya kita memang ditakdirkan jodoh ya?"

"Dalam mimpimu Uchiha!" timpal Naruto pelan namun mendesis. Sasuke hanya tersenyum kecil. Ya TERSENYUM.

"Hn." Gumamnya.

Nuaruto melirik kearah Sasuke dengan alis yang dinaikan sebelah. "Sepertinya kau sedang senang Teme? Sampai-sampai terus tersenyum seperti itu." kata Naruto agak merinding saat melihat si pangeran es senyum-senyum sendiri. Ganteng sih, tapi horor.

"Hn. Lihat saja.. Hari ini kau akan mendapatkan kejutan love," bisik Sasuke seduktif mencondongkan tubuhnya kearah Naruto sehingga bibirnya sedikit menyentuh cuping telinga Naruto.

Blush! Wajah Naruto merona hebat saat ia mendapatkan nada lembut sehingga ada rasa yang menggelitik hatinya. 'Perasaan ini lagi! Ughh!'

Sasuke, yang melihat reaksi Naruto kembali tersenyum penuh arti. 'Sedikit-sedikit,' batinnya.

"Naru.. Sedang apa kau disini,un?"

"Cepatlah kedalam.."

Naruto dan Sasukepun menoleh ketika Deidara dan Sasori menghampiri mereka. Dua anak kembar tapi beda itu kemudian mengajak Naruto dan Sasuke untuk mengikuti yang lainnya kedalam sebuah villa keluarga yang sepertinya sudah disiapkan oleh Mikoto khusus untuk pertemuan ini. Deidara, sempat bertanya saat melihat keakraban Naruto dan Sasuke, dan dijawab dengan alasan yang sangat logis dan nyata , bahwa: Sasuke adalah bos sang adik. Pemuda yang begitu protektif kepada sang adik itu entah kenapa merasa tak enak saat melihat cara memandang Sasuke kepada Naruto.

Seperti ingin memakannya bulat-bulat.


Ruangan yang sejuk dan unik. Itulah yang kira-kira para Namikaze rasakan ketika memasuki villa elite milik Uchiha itu. Ruangan itu bercat krem dengan tata ruangan yang sederhana namun terkesan mewah, juga perabotan yang tidak banyak sehingga tidak terkesan ramai. Kesan santai sepertinya cocok untuk villa ini.

Mereka semua langsung digiring (?) oleh Mikoto keruang makan. Memang sekarang sudah waktunya makan siang, sehingga reuni keluarga ini dimulai dengan lunch. Betapa Sasori, Deidara dan Naruto sangat bahagia ketika makanan keramat yang begitu mereka favoritekan dihidangkan dengan khusus oleh Mikoto. Ramen. Oh.. Uchiha memang sangat baik! Pikir ketiga orang itu mendadak memuja Uchiha.

Sementara itu, yang melihat bagaimana antusiasnya keturunan Minato itu, hanya tersenyum maklum. Minus Sasuke yang melongo melihat bagaimana buas dan rakusnya sang uke tercinta memakan makanan berlemak dan tidak sehat itu_menurutnya.

Setelah bertumpuk mangkuk bekas ramen dan piring sisa makan, akhirnya dua kelurga ini memilih untuk berbincang-bincang diruang santai.

Minato dengan Fugaku nampak mengobrol asik, walaupun sebenarnya yang mengoceh hanya Minato, Fugaku si tukang es keliling_ julukan dari Minato_ hanya menanggapi seperlunya.

Kushina dan Mikoto tentu saja heboh dengan sesuatu yang mereka obrolkan entah apa, tapi 'Kyaa' 'kyaa' ibu-ibu itu berhasil membuat semua orang curiga dan memandang aneh dua wanita cantik itu.

Sisanya, alias para anak malah asik dengan kegiatan sendiri-sendiri. Tidak tahu deh apa yang mereka lakukan, jujur saja Author bingung mau ngetik apa. #ketawa Narvous.

Hingga, sang Uchiha muda alias Sasuke si ganteng kalem jengah dengan posisinya sendiri apalagi sejak tadi si uke manisnya menghiraukannya begitu saja, terkesan menghindarinya. Itu menjengkelkan.

"Ekhemm!" dehem Sasuke keras membuat semua orang menghentikan aktifitas mereka dan menoleh kearahnya. Sasuke agak sedikit nervous karenanya, hanya sedikit. Dengan cepat ia mengendalikan dirinya menjadi cool dan datar.

"Ada yang mau aku sampaikan kepada Tou-san dan Kaa-san, serta paman dan bibi," ujarnya seraya memandang satu persatu wajah orang tua dan calon mertuanya tersebut.

"Hn, apa itu Sasuke?" akhirnya Fugaku bersuara juga, sementara yang lainnya hanya menanggapi dengan senyuman dan anggukan.

Naruto, jujur saja menjadi was-was sendiri saat Sasuke mencuri-curi pandang kearahnya disertai seringai anehnya. Sasori menatap datar Sasuke, sementara Deidara menaikan sebelah alisnya menantikan apa yang akan diucapkan pria yang lebih tua 3 tahun darinya itu.

"Aku..."

Sasuke menggatungkan kalimatnya sehingga membuat semua orang penasaran dan menahan nafas bersamaan, terutama Naruto yang mendadak pucat pasi saat onyx itu memandangnya penuh arti, sebelum Sasuke mengalihkannya kepada kedua orang tuanya lagi.

"Aku ingin menikahi Naruto."

.

.

Tbc..


Heheh.. kecewa? Gomen banget reader-san.. Sungguh, Kira gak bermaksud membuat reader kecewa karena disini Romance SasuNarunya kurang. Itu seluruhnya disengaja karena alur kedepannya biar nyambung. #ALESAN ngomong aja kurang ide. T.T

Sedikit kasih bocoran, Kira akan membuat Fic ini M-preg Yaoi. He.. jadi, harus begini dulu deh.. ^^,

Lemon, dll nya ditunda dulu Minna-san.. XD

Yosh segitu aja capcusannya.. XD, Kira mau bales Review dulu, tapi maaf disingkat aja yah.. Hoho..#DIGOROK

.

.

Balasan Riview:

Itakyuu? Aah.. Gomen mereka ga bisa dikontrak dific ini.. #AuthorMiskin

Saingan Sasu? Hehe.. ada, Yaitu Neji. Nanti sang Hyuuga akan muncul. Kenapa gak Gaara? Engh.. bosen. He.. terus si Neji bakal lakuin apa? Eet.. Rahasia dong... XD #Dibunuh.

A: Woy Thor, lemonnya ko dikit? Gaje lagi!

Heheh... #ngelap muka pake lap pel. Gomeeeeen! Kira masih polos sebenarnya, jadiii gitu hasilnya.. T.T #Reader muntah.

Oiya, ko Sasu tiba2 sasu rape Naru? Itu akan dijelasin sedikit diatas. He.. sebenarnya silahkan reader-san simpulin sendiri kenapa Sasu langsung maen rape Naru gitu. He.. takut diambil Neji mungkin?

Pria tersexy ke 1 siapa thor? Jelas Naruto versi "Naruto wil be Mine". Muehehehe... #ngarang

Naru cinta Sasu? #smirk.. Silahkan simpulkan sendiri. Huehehe.. #ditabok

Updatenya? Ah.. Gomen itu Kira ga jamin cepet-cepet..

Spesial to "Guest" yang udah Flame Kira :

Atas dasar apa kamu ngatain aku jalang, goblok ato anjing? Tulisannya dijaga dong..

Apa aku ngerugiin kamu dengan Fic YAOI ini? plis bgt ya! Baca dong WARNINGNYA.

Silahkan jika kamu mau hina fic aku yang jelek ini, aku nerima. Memang biginilah tulisanku. Tapi, jangan ngatain orang gitu dong kalo gak suka. Tinggal cuekin aja nih Fic, n kalo anti yaoi u gak usah baca. Toleransilah buat kita yang emang menyukai Yaoi. Udah segitu aja. Semoga ngerti deh.. tiap orang punya hobby masing2 bro!

Sekian balasan dari Kira, semoga tidak kecewa dengan balasan gaje itu. apalagi tidak mencakup semua.. Gomen ne? He.. Apalgi nyelip sesuatu diatas sana. XD

Peluk cium buat Reader yang udah bersedia membaca fic gaje ini. ;*

SPESIAL THANKS FOR:

Subaru Abe, Angel Muaffi, Amach cie cerry blossom, Aozora Azkiys, EXOSTics, a( guest) , , RaFa LLight S.N, Jaylyn Rui , de-chan love-OPFTNS, Kagami Uchiha, yunaucii , RANadAU, .Micha007, Armelle Aquamar Eira, 7D, Arisa Akutagawa, Icha Clalu Bhgia, kkhukhukhukhudattebayo, Noirouge, hanazawa kay, 989seohye, Qhia503, Sachi Alsace, yuki amano, zhe, miszshanty05.

Akhir kata..

REVIEW! ^^,

Jaa ne!