"Aku ingin menikahi Naruto."

Suasana diruangan itu berubah menjadi seperti kuburan– hening. Semua orang nampak sedang sibuk mencerna kata-kata gila Sasuke barusan. Kalimat itu pendek, namun sangat sulit sekali untuk dicerna disetiap otak mereka yang mendadak kosong.

Hingga..

"Aku ingin menikahi Naruto." Sasuke kembali mengucapkan kata-kata itu dengan lebih keras dan tegas tanpa ragu saat melihat tampang tolol semua orang.

Lalu?

"KYAAAAAAAA!" Teriakan histeris ala Fujoshi Kushina dan Mikoto menyadarkan semua orang.

Dan tragedipun dimulai.

"A–APAA?!" Deidara berteriak kesetenan yang ditahan Sasori karena berusaha menggapai meja yang akan dilemparkan kearah Sasuke– berniat membunuh.

Sedangkan Minato nampak menjatuhkan rahangnya sendiri, pria itu mematung. Fugaku sampai menggoyangkan bahu Minato untuk memeriksa apa sahabatnya itu masih hidup atau sudah mati. Siapa tahu Minato mendadak serangan jantung'kan? Kejam sekali.

Naruto?

Pemuda berkapasitas otak pas-pasan itu masih sibuk mencerna apa yang sedang terjadi sekarang dengan lemot, kata-kata Sasuke terus perputar diotak kecilnya. Tidak menghiraukan teriakan dua wanita yang mendadak gila atau kedua kakaknya yang sibuk mengamuk. Ia hanya sedang berusaha memahami kalimat mengerikan Sasuke barusan. Hingga satu menit berlalu begitu saja,dan wajah Naruto berubah pucat seperti mayat dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya saat ia berhasil mencerna apa yang sedang terjadi sekarang.

"W-Whaaat?!" lirihnya shock dengan mulut yang menganga lebar– teramat lebar dengan tidak elitnya. Hampir saja Naruto pingsan kalau Sasuke tidak menahan tubuhnya. "Apakah aku mengaggetkanmu, Naru-chan?" bisiknya tak berdosa dengan seringai kepuasan kepada Naruto yang otaknya mendadak memutih.

"JANGAN MEMELUK ADIKKU, BANGSAT!"

"DEIII! TAHAAAAN!"

"KYAAAA! YAOIII!"

"DIAAAAAAAAAAAAMMMMM!"

Teriakan dahsyat Fugaku berhasil membungkam mulut semua orang– kaget. Minato melotot horor kearah Fugaku karena ia tak percaya suara yang nyaris seperti singa mengaum itu berasal dari mulut sahabat yang ia juluki sebagai 'Tukang es keliling'. Kedua Uchiha itu tampaknya berhasil membuat Minato hampir mendadak mati jantungan sebanyak dua kali.

"Naruto? Dobe...? Hey bangun! Dobe!"

Apalagi sekarang? Semua orang menoleh kearah Sasuke yang menepuk-nepuk pipi Naruto dengan cemas.

"Chk.. Dia pingsan." Dan perkataan yang terkesan santai nan lempeng dari Sasuke tersebut menjawab tanya semua orang.

Wew, Santai sekali kau Sas!


Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : SasuNaru slight KakaIru, ItaFemKyuu, SasoSaku, DeiXXX, NejiNaru

Rate : M

Gendre : Romance,Drama

Warning : YAOI,ANEH,GAJE, LIME, MPREG, TYPOS,DLL


...

Pertama kali Naruto membuka matanya, rasanya sangat damai dan tentram. Dia menggeliat kecil namun tak berniat untuk bangun dari kasur empuknya. Lalu tiba-tiba badannya mengigil hebat mengingat mimpinya barusan.

"Oh God! Tadi itu mimpi yang mengerikan, ttebayou!" merindingnya saat mengingat seringai keji Sasuke dan pernyataan gilanya. 'Aaah.. Aku mengigil!' batinnya histeris sendiri. 'LUPAKAN! LUPAKAN ITU NARUTOO!'

"Apanya yang menegrikan,un?" Deidara datang dibalik pintu dengan membawa segelas susu Vanila ditangannya. "Kau sudah sadar ternyata.. syukurlah un," katanya lagi tersenyum lega melihat Naruto sepertinya sudah tidak apa-apa. Lalu dia duduk disamping adiknya setelah menyimpan gelasnya pada meja. Ia mengusap kepala Naruto dan memandang wajah mengkerut adiknya yang nampak sedang berpikir keras. Tetap terlihat imut dimata Deidara yang gemas.

"Sudah sadar?" beo Naruto heran. "Memangnya aku kenapa, Nii-chan?"

Deidara menghela napas panjang– menahan rasa kesalnya saat mengingat kejadian tadi. "Kau tak ingat? Kau pingsan setelah si kepala ayam itu mengataka ggrrr.. Ingin menikahimu," ujarnya menggeram menahan gemelutuk giginya yang beradu saat mengatakan kalimat terakhir. Ia benci si kepala ayam, titik.

Naruto bangun dari tidurnya dengan cepat. "Tu-tunggu Nii-chan! Ja-jadi yang tadi itu bukan mimpi?" tanyanya susah payah melotot horor kearah Nii-channya yang sedang menggeleng lemah penuh kemirisan. "Ya Tuhan! Si Teme itu memang sudah gila!" Serunya frustasi mengacak-ngacak rambutnya. Dia mengamati sekitar, dan ia yakin bahwa yang terjadi padanya bukanlah sebuah mimpi. Namun ,kenyataan pahit yang melandanya. Ya, Naruto masih berada diVila keluarga Uchiha.

Deidara memeluk Naruto. "Sudah tak apa, un. Nanti kita selesaikan masalah ini. Ayo kita keruang tamu, semuanya sudah menunggumu Naru-chan." Naruto mendesah berat kemudian mengikuti kakaknya dengan lemas. Kenapa ini harus terjadi padaku? Renungnya dalam hati.

Setibanya diruang tamu, Naruto disambut senyuman manis semua orang, anehnya– termasuk Fugaku. Akan tetapi, Ia anggap senyuman manis yang sedikit mencurigakan itu sebagai pertanda bahwa mereka 'senang' melihat ia sudah siuman. Sayangnya, Naruto memang terlalu polos, hingga ia lebih memilih berpositif thinking ketimbang mendengar suara hatinya. Lantas Naruto mendudukan dirinya disamping Anikinya, Sasori. "Kau sudah baikan, Naru?" sang kakak mengelus rambut pirangnya penuh sayang.

"Ya!" Jawab Naruto dengan cengiran khasnya yang manis. Membuat semua orang ikut tersenyum saat melihat wajah kawai itu. "Eh? Tem– maksudku Sasuke mana?" Refleks Naruto bertanya saat ia tak mendapati Boss- Pedofilnya disana.

Mikoto dan Kushina saling pandang kemudian terkikik, membuat Naruto heran dan sisanya sweatdropped. "Sasu-kun, pulang duluan Naru-chan. Dia diminta Itachi-kun dan Kyuu-chan membantu pekerjaannya diAmerika selama seminggu sebelum kepulangannya," jelas Mikoto seraya memandang Naruto penuh minat sehingga sang empu harus menelan ludahnya merasa tak enak. Oh yeah, ganjil sekali senyuman 'manis' itu. "Bibi, sudah mengabarkan kalau Naru-chan sudah siuman, Sasuke sangat lega mendengarnya."

"Oh," gumam Naruto pendek sedikit mengangguk kaku, dan sepertinya si pirang menyadari tentang bertanya soal Sasuke adalah sebuah kesalahan.

Hening..

"Errr... Ja-jadi ada apa ini?" tanya Naruto gelisah dan benar-benar merasakan firasat buruk saat semua orang terus menatapnya dengan senyuman– yang sekarang menurut Naruto– mengerikan. Artis tampan multi talenta itu melirik kearah Nii-chan dan Anikinya menuntut penjelasan, namun hanya dibalas padangan yang sulit untuk diartikan dari keduanya. Hal itu tentu saja membuat hati Naruto semakin tak enak.

'Mereka semua kenapa sih? Ada apa ini? Mereka mulai membuatku takut, ttebayo!'

"Jadi begini Naruto.." Fugaku mengawali dengan semangat, Naruto menarik napas. "Ini soal pernikahanmu dan Sasuke," lanjut Fugaku yang terus berbicara dengan nada semangat yang terdengar aneh saat nada itu bercampur dengan nada datar .

'Sudah kuduga..' Desahnya dalam hati. 'Gah! Teme sialan! Pedofil!' pemuda itu terus menyerapah kepada Sasuke yang mungkin dilain tempat sedang menikmati kebahagiaannya.

"Kami semua sudah sepakat akan melaksanakan pertunangan kalian bulan depan," ujar Fugaku lugas.

Naruto seperti hendak pisan lagi karena shock. Deidara yang berada disisi Naruto mengguncangkan bahu sang adik untuk memastikan bahwa Naruto tak lupa bernapas.

"Ap- Ap-," rahang Naruto naik turun. Minato khawatir melihat anaknya yang seperti kehilangan kata-kata. "Apa yang kalian bicarakan?"Naruto berhasil memaksanya keluar. "Tunggu!" Dia berhenti. "Pertunangan aku dan Sasuke?!" pekiknya mulai bisa menguasai dirinya.

"Naru-chan tenang, un! Kau seperti akan pisan lagi,un!" Nii-channya yang mempunyai sifat brother complex itu terlihat khawatir.

"Bagaimana aku bisa tenang?"! geram Naruto. Sasori hanya mengelus pundak sang adik untuk menenangkannya.

"Naruto dengarkan kami dulu!" Minato mulai berbicara saat melihat kepanikan diwajah putra bungsunya. "Ini memang pasti terlalu cepat untukmu, dan mungkin terlalu mendadak," lanjutnya. Dan yang lainnya ikut mengangguk seakan mendukung apa yang Minato katakan. "Sasuke sangat serius dengan pernyataannya. Dan kami semua sudah memutuskan untuk.. untuk.." Minato terus mengulang-ngulang seperti kepayahan saat akan melanjutkan kalimat selanjutnya , "Untuk.. " Ini terasa berat untuknya, ia lalu menatap sang istri memelas dan seketika itu juga ia menelan ludahnya susah payah dan memantapkan hati. "Untuk merestui hubungan kalian dan memutuskan untuk kalian bertunangan bulan depan." Akhirnya keluar juga. Minato merinding saat melihat Kushina menyeringai dan memberinya isyarat jempol.

"Jangan bercanda! Ja-jadi Tou-san dan Kaa-san menyetujuinya? Dei-nii dan Saso-aniki juga?" pemuda itu menatap satu per satu wajah kedua orang tuanya dan kakak kembar tapi bedanya dengan tatapan tak percaya. Ia mengdesah frustasi saat anggukan semangat Kushina dan tiga anggukan lemah lainnya menjawab pertanyaannya. "Kenapa kalian bisa melakukan ini semua padaku?" tanya Naruto tak habis pikir.

Mata Kushina berkaca-kaca dengan pandangan sayu. "Naru-chan, Sasuke-kun itu sangat mencintaimu. Kaa-san yakin dia pasti bisa membahagiakanmu," katanya dengan sangat manis dan lembut sehingga membuat Naruto tak tega untuk marah.

Mikoto ikut-ikutan. "Kushi-chan benar Naru-chan. Lagi pula dengan adanya pernikahan kalian maka Uchiha-Namikaze akan menjadi keluarga, itu adalah harapan kami semua, iyakan?" tanya wanita cantik itu meminta persetujuan semua orang, dan Fugaku mengagguk seraya tersenyum tipis. Catat! Fugaku tersenyum lagi. Sementara, Deidara dari tadi sudah komati-kamit sendiri, mengutuk Ibunya yang sudah mengancamnya, sehingga ia tidak bisa melakukan apa-apa sekarang. Naruto adik kecilnya yang manis akan menikah? Dengan seorang PRIA? What the hell?

Naruto yang diberi jurus mata ala kucing terbuang oleh Kushina dan Mikoto jadi semakin tak tega untuk marah dan membantah. Apalagi ini harapan semua orang. Apakah ia harus menghancurkan harapan kedua orang tuanya tersebut? Ia menggeleng lemah saat memikirkan tentang itu. Naruto itu anak baik dan berbakti, pasti tidak akan membuat orang tuanya kecewa. Diam-diam Kushina menyeringai, ia memang malaikat berhati iblis karena memanfaatkan kelemahan Naruto tersebut. Salahkan hasrat Fujoshinya yang kelewat dahaga itu. Ini memang kesialan Naruto. Cih..

'Fufufu... Naru-chan dengan Sasuke-kun? Kyaaaa! Mereka sangat serasi, ttebene!' batin sinting Kushina.

"Tapi–"

"Kau takkan menolak keinginan suci kami'kan Naru-chan sayang~?" Tiga Namikaze memutar matanya saat melihat Kushina mulai berhasil menggoyahkan pertahanan Naruto dengan wajah memelas hampir menangis dan alasan yang berlebihan itu.

"Tapi Kaa-san, Naru itu NORMAL! Dan juga–"

"Naru-chan, kau tak usah malu-malu untuk mengakuinya!" Mikoto memotong dengan semangat.

"Mengakuinya? Apa maksud bibi?" Ia mengalihkan perhatiannya kepada Mikoto dengan penuh.

Wajah Mikoto berubah merah–malu-malu, kemudian ia memandang lekat Naruto yang mendadak takut karena seringai mesum itu keluar dari wanita anggun nan cantik macam Uchiha Mikoto. "Kau–" tunjuk Mikoto tepat dihidung Naruto.

"Ya?" Naruto mengangguk kaku.

"Dan Sasuke pernah melalukan 'itu' kan? Dan Naru-chan tidak bisa berkilah dari kami, karena kami sudah melihat buktinya, Kyaaaaa!" Histeris wanita itu seraya menunjuk leher Naruto yang dipenuhi kiss mark yang diciptakan Sasukedengan indahnya.

HAH?!– baiklah Naruto ingin nangis sekarang.

"Dan Sasuke-kun juga sudah mengakuinya! Ah.. Bibi tidak menyangka hubungan kalian sudah sejauh itu, Kyaaa!"

JEGEEEEEERRRRRR!

'BASTARD! GO TO HELL UCHIHAAAAAA!'

Sekarang Naruto yakin, Uchiha memang diciptakan untuk menjadi iblis.

.

.

AAAAA

.

.

Tiga jam perjalanan Konoha- Amerika, membuat sang Uchiha bungsu cukup kelelahan. Setibanya di appartement mewah kakaknya ia langsung menghempaskan tubuhnya disofa empuk berwarna cream itu. Itachi, si sulung Uchiha hanya mendengus mendapatkan kelakuan adiknya yang memang tak berubah. Tetap dingin, arogan dan tak sopan seperti biasa. Bahkan untuk sambutan yang ia berikan ditanggapi dengan cueknya oleh Sasuke. Keterlaluan sekali outotonya itu!

"Chk.. Tidak ada pelukan untuku, Sas?" tanya Itachi lebih bermaksud menyindir ketimbang bertanya namun tetap ditanggapi dingin oleh adiknya tersebut. Itachi mendesah pasrah karenanya, lalu memilih pergi kedapur untuk membawa beberapa minuman dan cemilan untuk Sasuke. Ia menaruh makanan itu dimeja sebelum ia duduk disofa yang sama dengan adiknya tersebut. Ia memandang Sasuke yang sedang meneguk minuman bersoda dengan dahaganya, Itachi tahu Sasuke pasti lelah. Ia teringat bagaimana ia menghubungi adiknya secara mendadak dan menyuruhnya kemari. Dengan alasan darurat, pria tampan berumur 30 tahun yang sudah menjadi ayah itu berhasil memaksa Sasuke– walaupun ia harus mendapatkan kemarahan adiknya terlebih dahulu. Meskipun sifat adiknya itu tidak ada manis-manisnya sama sekali, tapi Itachi tahu Sasuke selalu peduli padanya.

"Istitirahatlah.. Besok kita bahasa masalahnya," katanya pengertian.

"Hn. Tidak perlu, sekarang saja. Lebih cepat lebih baik," sahut Sasuke seperti biasa flat. Mata onyx tajam Sasuke mengerling kearah sekitar dengan penasaran. "Kemana Rubah galakmu dan Kurama, aniki?" tanyanya heran saat tak mendapati wanita galak yang sudah menyandang predikat istri seorang Uchiha Itachi, dan Keponankan kecilnya yang hiperaktif, Uchiha Kurama.

Itachi mendengus ketika Sasuke tak pernah berubah untuk memanggil Senju-Uchiha Kyuub i– istrinya, dengan sebutan itu dari zaman ia masih pacaran. "Itu masalahnya. Kyuu-chan sedang mengunjungi Tou-san dan Kaa-san di Belanda bersama Kurama, tapi ia terserang demam disana. Ia memintaku untuk menjeput mereka disana besok," jelas Itachi kemudian berhenti sejenak. "Tapi besok aku harus mengadiri meeting penting dan itu tidak bisa ditunda lagi. Jadi, aku meminta bantuanmu untuk menggantikannya," lanjutnya panjang lebar.

"Hn," respon Sasuke tak berarti sedikit membuat Itachi yang sudah ngomong panjang lebar dongkol. Tapi ia harus sabar, yang penting Sasuke tak keberatan untuk membantunya. Itachi memang seorang persdir– seperti Sasuke– namun ia mengelola perusahaan Seju corp, perusahaan milik Istrinya Senju Kyuubi. Fugaku sendiri tak keberatan anak sulungnya itu memilih mengurus perusahaan miik menantunya, karena bagaimanapun Kyuubi adalah pewaris tunggal perusahaan besar tersebut. Ia beranggapan selama masih ada Sasuke yang bersedia mengurus Uchiha entertaiment – perusahaannya– itu bukanlah masalah. Terlebih, banyak keuntungan yang diterima Fugaku dengan bekerja sama denganperusahaan tersebut. Uchiha sekali bukan?

"Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Sasuke setelah beberapa keheningan yang lalu, dia merogoh saku celananya dan mengambil ponsel yang ia matikan sejak tadi karena perjalanan, lalu menghidupkannya.

"Kau hanya perlu mempelajari dokumen yang telah kubuat saja," sahut Itachi seraya mengambil cemilan yang ia bawa sendiri.

"Hn."

"Chk.. Kau tak pernah merubah kebiasaanmu outoto! Semakin mirip Tou-san," komentar Itachi jengkel karena ia harus mendengar jawaban 'Hn' terus dari adiknya, yang ditanggapi putaran mata onyx Sasuke yang tak peduli sama sekali. Setelah ponsel Sasuke aktif kembali, beberapa email langsung diterimanya. Dia membuka satu persatu pesan itu dengan wajah datar karena isinya yang tak menarik sama sekali seperti pemberitahuan jadwal baru dari Kakashi. Hingga, wajar datar itu berubah menjadi seringai yang begitu lebar saat ia membuka email dari sang Kaa-san. Itachi yang melihat bagaimana wajah adiknya yang jarang berekspresi menjadi tertarik.

"Mendapatkan sesuatu yang menarik eh?" tanya Itachi kepo.

"Hn. Bukan urusanmu," sahut Sasuke sembari beranjak dan membawa kopernya hendak pergi kekamar, ingin segera beristirahat.

"Ayolah.. Sasuke," gemas Itachi membuat Sasuke mendengus mendengar nada yang sama sekali tak Uchiha itu dari mulut kakaknya. "Apakah itu seorang gadis?" tebak Itachi.

Sasuke berhenti dari kemudian menoleh kearah kakaknya. "Menurutmu?" seringainya.

Itachi tertegun sebentar. "Oh wow! Gadis hebat manakah yang berhasil membuatmu jatuh cinta?!" serunya heboh sendiri–salah faham. "Aku harus mengenalnya!"

Sasuke mendengus. "Segera, kau akan mengtahuinya, baka-aniki," sahut Sasuke santai kemudian membuka pintu kamar tamu yang biasa ia pakai jika sedang kesana dan menutupnya, meninggalkan Itachi dibelakang yang masih tak percaya mendengar adiknya yang berhati sebeku dan sedingin es telah jatuh cinta. Kyuu-chan pasti kaget! Pikir Itachi.

Pemuda dengan wajah sempurna itu menghempaskan tubuhnya keranjang, seringai itu masih setia bertengger diwajahnya yang putih tanpa cela. Sasuke sepertinya sedang bahagia, sangat malah. "Kau tidak pernah bisa lepas dariku Dobe-chan. Apapun yang terjadi Kau hanya milikku.. Milikku seorang .. khekhekhe.." gumamnya seraya terkekeh– terdengar seperti seorang psikopat dengan menekan setiap suku kata sehingga membuatnya terdengar mutlak.

'Sasuke, kami semua berhasil membujuk Naru-chan untuk bertunangan denganmu bulan depan. Sesuai keinginanmu sayang~'

Ps: Kau harus menepati janjimu pada Kaa-san untuk mengirimkan gambar yang sudah Kaa-san pesan!

Aah.. memiliki otak jenuis seperti Sasuke memang sangat menguntungkan, apalagi yang diimbangi dengan kelicikannya. Fufufu.. Apapun akan dilakukannya, demi mendapatkan apa yang ia inginkan, termasuk memanfaatkan kelemahan semua orang.

Karena..

Uchiha selalu mendapatkan apa yang ia inginkan! Dan ia harus mendapakan Naruto untuknya, hanya untuknya. Siapapun yang menghalanginya, maka bersiaplah menghadapi Neraka yang ia buat. Hohoho.. Obsesi akan Naruto membuat Sasuke menjelma menjadi seorang iblis yang nyata. Mengerikan.

.

.

AAAAA

.

.

Tiga hari berlalu. Naruto masih berada dimansion kedua orang tuanya besama kakak-kakaknya. Tiga hari itu juga ia habiskan untuk bermalas-malasan menikmati masa cuti kerja –yang diberikan Sasuke– sekaligus memberikan kesempatan untuk manajernya– Iruka, beristirahat atau pacaran dengan paman mesum a.k.a Kakashi. Seperti sekarang, pemuda itu masih bergumul dibawah selimut tebalnya walau sekarang sudah menunjukan pukul sepuluh pagi. Tubuh yang terbilang mungil itu menggeliat kecil saat mendengar suara Nii-channya yang membangunkan dibalik pintu kamarnya.

"Ya, Naru bangun Nii-chan!" serunya menjawab panggilan Deidara.

Naruto tak langsung beranjak, ia memilih merenung sendiri. Mengingat kejadian tempo hari yang hampir membuatnya skor jantung karena perbuatan nekad Sasuke. Ia mendesah berat, tangannya mengurut pangkal hidungnya yang sedikit pening. Akhir-akhir ini banyak sekali kejadian luar biasa yang menimpa kehidupannya yang nyaman. Dimulai dari Hinata dan Kiba, yang membuat dunia keartisan Naruto jadi kacau karena kejaran wartawan ,sehingga ia harus ekstra mengeluarkan tenaga saat ia pergi shooting,dan jadwalnya jadi kacau. Naruto bahkan sudah cukup merasakan sakit hati saat kekasih dan sahabatnya berkhianat. Sekarang apalagi? Kenapa ia harus mendapatkan masalah tentang pernikahan bodoh itu dengan bos pedofilnya? Tidak cukupkah kehidupannya yang sudah kacau sekarang bertambah kacau?

"Jika memang aku harus menikah diusia muda aku rela, tapi bisakah pasanganku Normal? Tidak gila seperti Si TEME?! Dan terpenting–" Naruto berhenti untuk menormalkan kembali nafasnya yang mendadak memburu, kemudian melanjutkan, "kenapa aku harus menikah dengan seorang PRIAAAA?!" teriaknya berguling-guling diatas kasur dengan frustasi. Keadaan yang memprihatinkan untuk artis papan atas seperti Naruto. Pemuda itu berhenti, dan mencoba mencegah dirinya sendiri untuk tidak berbuat nekad seperti bunuh diri– misalnya.

Dan yang membuat Naruto lebih frustasi adalah..

Kenapa ia harus menerima pernikahan itu?

Bisa saja kan menolak? Ah.. Pasti ini gara-gara kekuatan iblis para Uchiha! Pikir Naruto kalap mulai tidak bisa berpikir rasional. Pemuda itu kemudian dengan lemas membawa dirinya kekamar mandi dan tiga puluh menit selanjutnya ia sudah siap dengan penampilan kasualnya. Mencoba menyemangati dirinya, pemuda itu lantas bernyanyi solo, menyanyikan salah satu single nya yang lagi cihuy dipasar indusrti.

"Dei-niichan~,Saso-aniki~, Ohayou!" sapa Naruto secerah mentari kepada kakaknya yang sibuk menonton Tv.

"Ohayou Naruu!" balas kedua kakaknya kompak tersenyum tak kalah lebar kepada adik kesayangannya. Naruto segera menghampiri kedua kakaknya, dan duduk diantara Deidara- Sasori. Ia mengembungkan pipinya sebal saat tahu apa yang sedang kedua kakaknya tonton. Infotaiment lagi? Oh My God! Sepertinya kedua kakaknya itu tidak pernah bosan untuk melihat perkembangan gosip mengenai dirinya. Dasar brother complex!

"Ne, kenapa sih harus nonton gosip menyebalkan itu?" tanya Naruto merajuk manyun seraya berusaha merebut remot yang dipegang Sasori tapi percuma.

"Kami harus harus mengetahui perkembangan gosipnya, un! Lihatlah.. Sekarang semakin tak masuk akal saja! Namikaze si artis multi talenta depersi karena patah hati? Tidakkah itu keterlaluan, un? " sungut Deidara kesal mengomentari gosip yang beredar yang semakin memanas karena ketidakhadirannya akhir-akhir ini.

Naruto memutar matanya bosan. "Ayolah.. Itu bukanlah hal yang luar biasa! Namanya juga gosip. Apalagi gosip tentang Naru yang tampan dan super ganteng ini! Heheheh~!" Tukas Naruto dengan cengir narsisnya, membuat Sasori sweatdrop dan Deidara gemas.

"Sudah sarapan?" tanya Sasori mengalihkan pembicaraan yang dijawab gelengan Naruto yang sibuk menjauhkan tangan Deidara dari pipinya. "Aniki sudah siapkan sarapan dimeja makan. Makanlah dulu, akhir-akhir ini kesehatanmu menurun Naru," lanjut Sasori seraya menggeplak Deidara yang nyaris menganiaya lebih ganas lagi pipi Naruto kesayangannya.

"SASO-BAKA! GRRR!" Marah Deidara.

"Rasakan itu, weee! Dasar Nii-chan jahat! Hahaha.." Girang Naruto yang merasa dibelain Anikinya. Sementara itu Deidara hanya melotot kearah adiknya yang sedang tertawa puas. Naruto tak memperdulikan pelototan maut itu, dengan sengaja ia malah berpura-pura tak melihatnya mengindahkan aura setan yang menguar dari kakaknya yang semakin pekat. "Eh? Saso-aniki yang masak? Memangnya Kaa-san kemana?" tanyanya heran sekaligus senang. Sejak kepergian kedua kakaknya ke Harvad, Naruto belum pernah merasakan kelezatan masakan Sasori lagi. Anikinya yang satu ini memang jago masak, tidak seperti Deidara yang Hobby meledakan dapur dengan masakan gatotnya.

"Kaa-san dan Tou-san harus pergi ke Taiwan untuk beberapa hari. Katanya ada meeting mendadak," jelas Sasori sama-sama tidak ambil pusing kekesalan Deidara yang semakin memuncak karena merasa dicuekin.

"Oh.. Okey! Makasih Aniki~," sahut Naruto kemudian segera melesat kedapur untuk menikmati masakan sang kakak.

"Hmm.." balas pemuda merah marun itu seraya tersenyum kecil dan mematikan TV, lalu pergi meninggalkan Deidara yang pundung dipojokan kursi–sendirian. Kasihan.

TENG TONG TENG TONG

Tak lama, suara bel rumah terdengar diseluruh penjuru kediaman mewah itu. Naruto masih asik dengan sarapan enaknya buatan sang kakak, ia memilih melanjutkan makannya. Toh masih ada pelayan'kan yang bisa membukakan pintu untuk tamu itu? Kenapa ia harus repot-repot?

"Wuiih.. Saso-aniki memang jago masak!" Pujinya seraya terus menyantap sarapannya dengan lahap. Ramen kari ayam memang enak, apalagi disajikan dengan daging yang banyak! Ah.. Indahnya hidup! Biarlah ia sejenak melupakan masalahnya saat memakan makanan terenak sedunia ini– err.. menurutnya.

"Naruto-sama?" Panggil seseorang.

"Hmm.. Ada apa Ebisu-san?" tanya Naruto setelah berhasil menelan makanan berlemak tinggi itu, menunggu apa yang akan pelayannya katakan.

Belum sempat menjawab sang majikan, suaranya terpotong oleh teriakan cempreng seorang wanita.

"KYAAA! NARU-CHAN!"

Naruto sweatdrop seketika saat melihat seorang gadis cantik dengan rambut pink berkibar berlari kearahnya. Dan..

Grap!

"Akh! Sakura-neechan! Jangan memelukku erat-erat begini! Ugh.. Aku bisa mati,ttebayo!"

Gadis yang ternyata bernama Sakura itu terkekeh tak berdosa sama sekali tak peduli dengan gerutuan pemuda dalam dekapannya. Gadis itu malah membuat pelukkannya semakin mengerat, membuat Naruto semakin tersiksa karenanya. Oh sungguh, Naruto itu tidaklah lemah. Dia masih seorang pemuda yang mempunyai kekuatan lebih dibandingkan wanita. Tapi beda kamus kalau yang dihadapi adalah seorang Haruno Sakura. Naruto yakin wanita ini punya hubungan kekerabatan dengan makhluk hijau bernama Hulk.

Cup! Cup!

Dua kecupan dipipi gembil Naruto dan Sakura akhirnya melepaskan pelukkan mautnya. "Ne~ Apa kabar Naru-chan? Kau baik-baik sajakan? Maksudku– digosip itu kau katanya sedang dalam keadaan buruk, Nee-chan sangat khawatir, jadi Nee-chan langsung kesini! Nee-chan juga sangat merindukanmu! " Cerocos Sakura, sedangkan Naruto dalam keadaan mengembalikan napasnya yang hampir tak berhembus lagi akibat ulah calon kakak iparnya.

'Kami-sama.. Dia benar-benar tak berubah! Tetap mengerikan!' serunya dalam hati.

Dia menghembuskan napasnya–lega. "Ya ampun! Kenapa Nee-chan tidak mengatakan secara langsung kalau Nee-chan merindukan Saso-aniki sih?" gerutunya memutar matanya sebal.

Sakura nyengir. "Heheh.. Itu juga sih!" Katanya malu-malu. "Tapi benarkan kau tak apa?" tanyanya lagi khawatir. Naruto menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Sakura terlihat lega karenanya. "Itu baru Naru-chanku yang ku kenal!" Katanya senang seraya mengacak surai pirang pemuda manis yang sangat disukainya.

Naruto nampak tak suka dengan perlakuan Sakura yang membuatnya seperti anak kecil. Hey! Naruto itu 19 tahun, pria pula! "Hentikan itu Sakura-neechan!" tepis Naruto yang dihadiahi kikikan wanita cantik itu.

"Ya sudah.. Nee-chan mau keatas dulu! Sepertinya Saso-kun sudah menunggu!" Pamitnya seraya melambai dengan wajah sedikit merona, meninggalkan Naruto yang menggerutu karena sikap Sakura yang tak berubah itu. Selanjutnya, Naruto kembali memakan ramennya yang sempat terpotong. Slluurp.. Srllluup! Enyaak!

"Ehm.. Na-Naruto-sama?"

"Eh? Ebisu ada apa lagi?"

"Gomen.. Tapi tamu anda sudah menunggu," katanya seraya menunduk kepada sang majikan. Naruto mengkerutkan dahinya saat mendengar kalimat Ebisu. Tamu untuknya? Dia kira hanya Sakura yang datang.

"Ya sudah.. Suruh tunggu diruang tamu, aku akan kesana setelah menghabiskan ini!" cengirnya seraya menunjuk Ramen dengan sumpitnya. Ebisu tersenyum lembut melihat tingkah majikannya yang masih kekanakan. Lalu segera melaksanakan perintahnya.

Beberapa saat saat setelah kepergian Ebisu, Naruto berhasil menghabiskan porsi besar ramen itu. Ia segera beranjak seraya menepuk-nepuk perutnya yang sedikit kembung akibat terlalu banyak menampung ramen. Namun, ia sedikit meringgis saat merasakan gejolak diperutnya yang kemudian mendorong kearah tenggorokannya, serasa mau muntah. Naruto berhasil menahannya, lalu bergegas menemui sang tamu. Naruto berharap yang datang bukanlah Sasuke. Ia belum siap untuk bertemu dengannya sekarang. Semoga saja, harapnya.

"Neji-san?" Panggil Naruto sedikit tak percaya melihat siapa yang duduk dikursi ruang tamu kediaman Namikaze. Neji berdiri, kemudian tersenyum kecil kearah Naruto yang sedang menghampirinya. Setelah Naruto menyuruhnya duduk kembali, pria Hyuuga itu memandang wajah manis yang begitu ia rindukan.

"Apa kabar Naru?" Tanya Neji mengawali.

"Ano.. Baik," sahut Naruto. "Etoo.. Ada apa ya Neji-san?" To the point Naruto setelah menjawab pertanyaan sang Hyuuga.

Neji kembali tersenyum kecil. Ia mengerti mengapa Naruto bertanya demikian. Bagaimana tidak? Kehadirannya yang tiba-tiba kesini pastilah mengganjal untuk Naruto. "Aku kesini karena sejujurnya khawatir dengan keadaanmu, Naru." Naruto nampak tertegun. Neji melanjutkan berbicara, "beberapa hari ini aku datang berniat menemuimu ditempat kerjamu. Tapi Iruka-san bilang kau sedang cuti. Apa benar tak apa?" tanyanya setelah menjelaskan.

Naruto tersenyum seraya menggeleng kecil. "Terima kasih, tapi aku benar-benar tak apa. Jadi, sebenarnya ada apa Neji-san mencariku?" Naruto sedikit mengeluh saat gejolak ditenggorokannya kembali menyerangnya. 'Aku ingin muntah!' batinnya menahan.

Neji sepertinya menyadari raut wajah Naruto menjadi khawatir. "Benarkah? Kau tampak pucat, Naru?" sekali lagi Neji memastikan namun tetap dijawab gelengan oleh Naruto. Neji menghela napas panjang sebelum berbicara. "Aku mencarimu untuk meminta maaf atas kejadian yang menimpamu bersama Hime. Kami sangat menyesal untuk itu. Mohon maafkan!"Neji sedikit membungkukan badanya.

"Ah! Neji-san jangan seperti itu!" Naruto terlihat tak enak. "Aku benar-benar telah memaafkan Hinata. Aku bahkan sudah melupakan kejadian itu. Mungkin inilah yang terbaik untuk kita semua. Aku ikut senang jika Kiba dan Hinata bahagia. Hehehe~"

Kali ini Neji Hyuuga yang tertegun. Wajah yang tenang itu sedikit mengasilkan rona merah yang samar. Hey! Senyuman Naruto itu loh, maknyus banget. "Kau memang malaikatKU Naru," lirih Neji pelan.

"Eh? Apa Neji-san mengatakan sesuatu?" Naruto memiringkan kepalanya nampak imut. Neji menggeleng seraya menahan laju darah pada hidungnya yang nyaris tumpah melihat pemandangan indah itu. "Tidak," jawabnya pendek.

Naruto manggut-manggut, kemudian nyengir polos. "Yosh! Neji-san jangan sungkan seperti tadi ya!"

Neji tertawa kecil, hatinya menghangat saat ia bisa kembali melihat keceriaan yang beberapa waktu kebelakang tak dilihatnya. "Aku benar-benar merindukanmu, Naru," ujar Neji keceplosan.

Eh?

Naruto membatu terlihat kaget mendengarnya. Matanya sedikit membola saat memandang wajah cool Neji. Entah kenapa dimatanya sekarang bukanlah sosok Neji yang dilihatnya. Tapi..

'Sasuke..'

Wajah tersenyum Sasuke tiba-tiba terbenak diotaknya. Wajah Naruto pun merona karenanya. Sayangnya, Neji tampak salah faham dengan ekspresi Naruto sekarang. Ia kira wajah merona Naruto yang manis itu karena ulahnya yang berhasil membuat Naruto salah tingkah. Sang Hyuuga'pun terbang dengan angannya.

"Naru?" panggil Neji menyadarkan Naruto yang sibuk dengan pikirannya. Si pirang tersentak karenanya, buru-buru ia mengelengkan kepalanya cepat.

'Ya Tuhan! Apa aku baru saja membayangkan si Teme? Noooooooo! Ada apa denganmu wahai Naru ganteng?!' batinnya lebay bikin Author kejang.

Naruto lalu tersadar dengan perkataan Neji tadi. Ia merasa tak enak karenanya. "Err... tadi itu maksudnya apa ya?" tampangnya sedikit berubah horor sedikit menahan rasa mual yang semakin menjalar.

"Lupakan saja," kata Neji enteng seraya mesem-mesem sendiri– masih salah faham. Naruto mengangguk tak yakin.

Hening..

"Ugh.." lenguh Naruto menutup mulutnya dengan sebelah tangan, sepertinya ia sudah tak kuat untuk menahannya lebih lama lagi. Ia berdiri, sehingga membuat Neji terfokus kepadanya.

"Kenapa Naru?" tanya Neji khawatir. Naruto menggeleng, lalu mengisyaratkan tangannya kepada Neji untuk menunggunya. Narutopun berlari begitu saja meninggalkan Neji yang terheran-heran.

.

.

HOEKK HOEEKK HOEEKK!

Naruto mengeluarkan seluruh isi perutnya. Ia mengerang saat rasa pening dikepalanya menyebar keakar setiap syaraf yang ada diotaknya, menyebabkannya terasa tertusuk-tusuk jarum. Tak berapa lama ia kembali muntah-muntah hebat.

"Naru, kau kenapa,un?!" panik Deidara yang tadi mengikuti Naruto berlari, lalu ia memijit pundak Naruto yang tengah muntah hebat.

"Hoekk.. uhg.. Hoekk..!" Naruto kembali muntah, kemudian mencuci mulutnya dengan air yang ia dapatkan darik kran. "Hosh.. Hosh..." Nafasnya terengah. "Naru mual, Nii-chan.. ugh.."

Deidara mendesah berat. "Akhir-akhir ini kau sering muntah-muntah,un. Kaya orang hamil saja,un!" ceplos Deidara tanpa sadar, membuat Naruto kesal saat itu juga.

"JANGAN BERCANDA NII-CHAN! TIDAK LUCU TAU!" Teriaknya tak habis pikir. Bibirnya mengerucut lucu, dengan wajah sedikit pucat dan lemah.

'Bahkan Naru-chan lebih sensitif dari biasanya.. Janga-jangan...' Pikir Deidara kemana-mana, namun segera dienyahkannya. Pikiran macam apa itu? Naruto'kan cowo hey!

"Ya sudah, sekarang Naru-chan istirahat dulu,Oke? Biar Nii-chan antar!" Tukas Deidara yang diamini Naruto dengan lemas.

AAAAA

.

.

"Aaahnn.. mmmhh.. Sasukeehh.. ahnn.."

"Panggil namaku Naru.. ahh.."

"Le-lebih.. ahh.. mmh.. lebih cepat.. ahhh.. Sasukeeh.."

"Sas.. uuh.. keeh.. ahnn.. ngh.. mmmh!"

"SASUKEEE!"

"NARUTOO!"

Sasuke terbangun dengan wajah merah padam dan peluh memenuhi tubuh atletisnya. Matanya melirik kekanan dan kekiri, kemudian mengerang pelan seraya menjambak rabutnya terlihat frustasi.

"Shit!" Umpatnya lirih.

Lagi-lagi ia bermimpi bercinta dengan Naruto. Indah sih, tapi itu membuatnya sangat tersiksa. Lihat sekarang! Celananya lagi-lagi harus lengket dengan cairannya sendiri. Semenjak kejadian dimana ia 'bercinta' dengan Naruto– kalau tidak mau disebut memperkosa– pemuda Uchiha itu selalu dihantui dengan tubuh indah Naruto yang mengerang dibawahnya. Jika sudah seperti ini, ia akan menjadi seperti orang gila karena tersiksa dengan kerinduannya akan seorang Naruto. Bagaimana bisa pemuda itu membuat seorang Uchiha Sasuke sampai seperti ini? Sungguh sulit diterima akal sehat! Bahkan seorang model paling cantik sekelas Haku pun tak sedikitpun membuat Sasuke tertarik. Tapi Naruto? Pemuda itu bahkan sudah mencuri hati Sasuke saat pertemuan pertama meraka. Lama-lama membuatnya semakin kecanduan dengan sosok Naruto, dan berhasil membuatnya menjadi sosok yang obsesif dan posesif seperti sekarang. Ironis.

Sasuke dengan malas bangkit dari ranjangnya, ia mengambil handuk kemudian beranjak kekamar mandi. Sebelum memandikan tubuhnya, Sasuke menatap dirinya dibalik cermin. Sempurna, ia yakin melihat sosok dirinya yang sempurna dengan wajah tampan tanpa cela dan tubuh atletis bak model. Bukannya narsis, tapi Sasuke tidak bodoh untuk menilai dirinya sendiri. Bibirnya tiba-tiba membentuk sebuah seringai, dengan sorot mata yang tajam ia menunjuk dirinya sendiri.

"Kau–" ucapnya menunjuk cermin layaknya sedang berbicara dengan orang lain. "Sebentar lagi akan mendapatkan uke manismu," lanjutnya dengan seringai yang semakin melebar.

"Akan kubuat kau tergila-gila padaku, bocah rubah!" katanya seraya meninggalkan cermin dengan kepercayaan diri penuh. "Sampai jumpa besok, Naruto.." gumamnya lagi lirih.

Ah.. Sasuke sudah tidak sabar menanti hari esok. Besok ia akan kembali ke Konoha dan HARUS langsung menemui Naruto kesayangannya. Apapun yang terjadi.

.

.

AAAAA

.

.

Deidara dengan telaten menyelimuti tubuh Naruto dengan selimut berwarna oranyenya. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Naruto tertidur. Dia mendesah berat, tiga hari kebelakang Naruto selalu seperti ini membuat Deidara khawatir saja. Jikapun masuk angin maka itu akan sembuh dalam waktu semalam tapi tidak dengan Naruto. Anak itu malah terlihat semakin parah, dan itu selalu terjadi dipagi sampai siang dan terjadi lagi saat malam hari. Sepolos-polosnya Deidara, tapi ia juga pintar. Gejala seperti ini nyaris seperti wanita hamil, akan tetapi itu tidak mungkin. Naruto kan laki-laki? Meskipun Deidara tahu, Naruto pernah 'melakukannya' dengan calon suami semenya. Apa mungkin?

Deidara menggelengkan kepalanya. "Apa sih yang ku pikirkan?" Bisiknya seraya beranjak setelah meninggalkan sebuah kecupan manis didahi sang adik. "Mungkin lebih baik besok kupaksa Naru-chan untuk pergi kedokter."

Blam!

Pintu tertutup dengan hati-hati. Namikaze kedua itu segera bergegas, karena ia akan segera menemui tamu yang ditinggalkan adiknya. Ia berjalan melewati kamar Sasori, namun tiba-tiba langkahnya berhenti saat ia mendengar suara-suara aneh didalam kamar tesebut. Seperti suara desahan seorang wanita? Penasaran, akhirnya Deidara nekad mendekati kamar tersebut dan suara itu semakin jelas tertangkap oleh suaranya.

"Akh.. ahhnn.. Le-lebih cepat Sa.. ahh.. soo-kunhh.."

"Hhh..ahh.. kau sempit seklih Sakurah.. uuh.."

"Ahhh.. ahhn... mmmhh.. Fasterr uhnn Sasoorii.."

Mata Deidara terbelalak sempurna. Pemuda itu bahkan tidak tahu kalau Sasori seceroboh itu untuk melupakan ia menutup pintu. Kedua mata aquamarinenya dengan jelas melihat bagaimana adegan panas itu terjadi, dimana Sasori dengan gencarnya 'menghajar' Sakura yang terus mengerang dibawahnya.

Oh Shit! HOT banget!

"Saso-baka-hentai! Kenapa dia ceroboh sekali ,un? Gila permainannya mantep,un!" Seru Deidara berbisik. "Mentang-mentang gak ada Tou-san dan Kaa-san, dia melakukannya dirumah! Bikin iri saja,un!" kesal Deidara setengah iri. Namun, beberapa detik kemudian kekesalannya berubah menjadi seringai licik.

Lalu?

Set! Ia mengambil sebuah ponsel dan dengan kekehan liciknya ia merekam semua kegiatan Sasori dengan Sakura. "Khukhukhu.. Kali ini kau akan kalah,un! Lihat saja, ini akan ku manfaatkan!" kekehnya dengan wajah iblis.

Haaah.. Sepertinya Deidara melupakan tujuannya tadi. Apa kabar Neji ya?

26 menit kemudian..

Klik! Deidara menyimpan videonya dengan sukses. Lalu, ia segera meninggalkan tempat itu, tak lupa menutup pintu dahulu. Ya, bagaimanapun sebagai saudara kembar Deidara itu care sama Sasori, walaupun beda sih. Pemuda itu berjalan lambat, sangat malah. "Ugh.." Lenguhnya tiba-tiba. Dengan gerakan patah-patah Deidara menengok kebawah celananya. "Sial!" rutuknya. Wajah pemuda berwajah uke itu merah padam dengan peluh membasahi dahinya. Setengah jam memonton adegan panas SasoSaku ternyata membuat sesuatu diselangkanyannya membengkak. Deidara terus merutuki Sasori karenanya. Ah.. Nelangsanya hidup menjomblo itu begini jadinya. Salahkan mantan kekasihnya– Shion– yang selingkuh sehingga membuat Deidara sedikit jera untuk lebih dekat dengan seorang wanita. 'Enak nya jadi Sasori, punya kekasih setia seperti Sakura,un!' batinnya nelangsa sekaligus ngiri.

Eh?

"Yak! Aku lupa menemui tamunya Naru-chan,un!" Pekiknya seraya berlari dengan tergopoh-gopoh.

...

Neji duduk dikursinya dengan gelisah, sesekali mata peraknya melirik kearah jam tangannya. Naruto lama sekali, ini sudah hampir satu jam. Tapi pemuda manis itu tak menampakan batang hidungnya juga, membuatnya khawatir. Apa Neji cari saja? Ia takut terjadi sesuatu dengan pemuda yang dicintainya tesebut.

Tap Tap Tap..

Suara langkah kaki berderap cepat tertangap telinga Naji. Sang Hyuuga berharap suara itu milik Naruto. Ia pun menoleh akan tetapi tak mendapati Naruto disana. Sedikit menaikan sebelah alisnya, saat ia melihat pemuda pirang yang berpostur lebih tinggi dari Naruto menghampirinya.

"Gomen, membuat anda menunggu lama,un!" Ujar Deidara dengan nada yang terengah antara capek dan menahan 'sesuatu'.

Glup! Neji menelan ludahnya gugup dengan nafas yang tertahan. "Y-ya." Hanya itu yang keluar dari mulutnya sementara sepasang mata perak itu masih setia memandang Deidara dengan tatapan sulit diartikan.

"Syukurlah.. haah," ucapnya menghela nafas. "Maaf, sepertinya Naru kurang sehat. Dari kemarin dia kurang enak badan. Dia memang selalu memaksakan diri dan mengatakan semuanya baik-baik saja,un. Dia sekarang sudah istirahat! Katanya mohon maaf karena telah meninggalkanmu begitu saja, umm.."

"Neji. Panggil saja begitu!" potong Neji, Deidara mengangguk.

"Baiklah Neji-san. Harap memaklumi adik saya," lanjut Deidara tersenyum manis.

"O-oh.. Ya tak apa. Sampaikan salamku untuk Naru dan semoga cepat sembuh . Kalau begitu saya permisi dulu," pamit pemuda tampan dengan perangai kalem itu sedikit membungkukan badannya kemudian beranjak pergi.

"Arigato. Aku akan sampaikan!" Sahut Deidara ramah kemudian memandang punggung Neji yang menjauh. Lalu Deidara berbalik hendak pergi kekamarnya, sebelum panggilan dari suara baritone Neji menghentikannya.

"Maaf, Namikaze-san!"

"Un?"

"Bolehkah saya tahu Nama anda?" Deidara sedikit mengernyit sebelum mengangguk dan tersenyum kembali.

"Deidara. Namikaze Deidara." Neji tersenyum kecil, selanjutnya kembali melangkahkan kakinya. Deidara mengangkat bahunya tak peduli.

Sesampainya dimobil Neji mengatur nafasnya kembali. Ia mendengus kecil dengan mulut yang menyeringai. "Apa semua Namikaze itu cantik dan... menggoda?" gumamnya pelan sebelum melajukan mobil mewah putihnya membelah jalan.

.

.

Tbc..

.

.

Hahaha.. #ketawahambar

Oke Kira harap setelah baca chap ini para Reader kagak cengok apalagi ngebanting meja..

Kenapa?

Kira lebih dari sadar untuk ke-gaje-an chapter kali ini. Jadi mohon maklum yeah.. Ha.. #Ditimpuk

Aih.. lebih baik Kira sekarang bales Riview aje ya tapi gomen nih disingakat aja ya..! Sekalian mau ngenalin chibi Uchiha, karakter OC yang bakalan maen di next chap. Sape ya?

Nah.. kite panggil aja langsung! Kur.. Kur! #teriak pake toak lambai tangan ke bocah oranye.

Kurama: Grr.. #deathglare . Kur?

Me: #nelenLudah.. Oke maksud aye Kurama-chan! #ngelengos. Nah.. Mumpung ada disini, sono kenalin deh nama n riwayat hidup ku-chan sebelum bantuin kakak ehmimutehm ini balas riview!#nyengir awesome

Kurama: #nahanMuntah. O-key deh..! haloo.. My Name is Uchiha papa Itachi sama Mama Kyuubi. Rambutku oranye mirip mama Kyuu, tapi kulit ,mata semuanya mirip papa sih.. engh.. Kecuali keriputnya deh.. he..#nyengir

Me:#sweatdrop. Mirip kyuubi nih bocah.. Oke.. Umur berapa? Terus kesukaannya apa?

Kurama: Hn. Umur 4 tahun. Kesukaaanya sama kaya papa, Onigiri buatan mama Kyuu! Eng.. sama- uhm.. #blush

Me: Napa lu cah? #bingung

Kurama: #blush.. Sama Su-suka .. Kak Naruto! #kepiting rebus

Me: Oh.. #lempeng.. saingan dong, sam om lu yang teme itu?

Kurama: #mayun.. Iya! Tapi aku tak akn menyerah karena itulah jalan Ninjaku! Hahah..

Me: #ngegeplak pala bocah. Serius! Nih.. #nyodorin buku!

Kurama: [nih orang beneran kagak seru!] #megangin kepala. Jahat~! #ambil buku

Me: nape mau nangis? Kagak bakal terpengaruh deh.. seimut2nya yu, tetep imutan... #liat kaca

Kurama: #kejang.. Oke deh cepet! Aku mau syuting lagi! #kesal

Me: yaudah bacain deh tuh pertanyaannya ntar aye jawab atu2.. #ngupil

Kurama : #ngangguk.. Dengerin nih pertanyaanya! SasoDei kembar, twincest dong? Apdet kilat ya? Itakyuu ga ada? Naru hamilkan? Sasu diterimakan lamarannya? Neji suka Naru? NejiNaru ada lemon gak? Ada yang suka sama sasu lagi gak? Ini fic ampe berapa cahpter? Trus si Dei pasangannya sama siapa? #nyerocos lempeng

Me: #nganga, nelen ludah.. Lu bocah! Kira-kira dong kalo nanya! Atu-atu nape? Kan bingung mau jawab gimana! Dasar.. #elus dada..

Yaudah deh.. jawabnya dikomulatifkan.. ehm...

SasoDei emang sengaja dibikin kembar, soalnya pengen sesuatu yang baru aja, ya walopun sedikit memaksa sih.. ha.. gak, disini mereka ga ada hubungan kesana. Mereka tetep jadi sodara yang rukun. Kira sengaja bikin mrk kmbar coznya pengen mereka berdua punya pasangan masing-masing tapi ikatan antara sasodei tetep kuat, jadi sodara kembar aja.

Sori.. Kira ga bisa apdet kilat.. soalnya Kira udah gak kaya dulu lagi, kesibukan diduta meningkat. Jadi, kalo ada waktu luang aja kira bisa ngetik-ngetik. Gomen ne.. moga ada yang setia ..

ItaKyuu? Tadinya ga akan ada tuh pair. Tapi.. emang sih rada kurang kalo gak ada mreka. Jadi rencananya next chap bakalan ada. Tapi sorry lagi gak YAOI coznya FemKyuu.. yah.. Pengen aja. He..

Ini FIC pastinya MPREG. Jadi, pasti juga dong Narunya.. ehm ehm... hehe..

Neji jelas udah jadi saingan dari awal buat Sasuke. tapi.. kehadirannya gak bakalan extrem coznya Kira punya rencana lain n Fic ini gak bakalan dibikin berat. Mau fokus ke Bastard-an Sasuke aja n cara tuh orang naklukin Naru. Jadi, Lemon NejiNaru dipastikan ga ada. He..

Sasu diterima? Jawaban ada di chap atas.. Sasu ada yang ngejar2? Entar deh dipikirin lagi kesononya.. kalo dihadirkan sekarang bakal rumit. Kira males.. ahaha... #tengok fic lain yang rumit

Fic ini rencananya bakal rada panjang, jadi lebihlah di 10 chapter.. hihi...

Dei pasangannya siapa? Oh.. masih rahasia. Kalo ada yang req juga boleh ko.. he..

Fyuuh... #ngelap keringat+ celingak celinguk.. Kurama kemana ya? Err... ko gak ada? Masa boso ah.. kabur kali yee.. ahahah... #dibekep..

Nah.. segitu aja Minna.. Gomen nih ngikut ngegaje.. maklum author lagi stress ya kaya gini.. he..

Makasih buat yang udah mau riview, gomen kalo pertanyaannya masih belum kejawab semuanya... Sekali lagi maaf..

Terus Kira juga gak bisa sebutin atu-atu yang udah ngeriview, gomen.. but... thanks.. #pelukcium

Ahkir kata..

Reviewnya jangan lupa! #kaloBerkenan :D

Jaa ne~