Adegan demi adegan untuk pembuatan proyek video klip lagunya sudah Naruto lalui dengan sukses. Para awak kamera tersenyum puas saat pekerjaan mereka tidak melelahkan seperti biasanya. Inilah kelebihan Naruto. Bisa dibilang pemuda pirang ini adalah seorang jenius untuk bidang ini. Semuanya selalu nampak natural, sehingga tak perlu banyak terinterupsi oleh teriakan "CUT!" dari sang sutradara. Well, Naruto seperti orang yang sengaja dilahirkan untuk dunia hiburan ini. Sosok yang dikirim Tuhan untuk membuat siapapun akan merasa terhibur.

"Mukamu pucat, Naru." Iruka membawakan sapu tangan untuk diberikan kepada Naruto. "Akhir-akhir ini kondisi fisikmu tidak sekuat biasanya. Apa kau tak lupa untuk meminum vitamin?" tanya Iruka seraya menunggu Naruto untuk selesai membersihkan keringat pada wajahnya.

Naruto berpikir sebentar, lalu ia mengambil milkshake yang Iruka pegang. Ia menyeruputnya dengan rakus. "Tidak. Aku selalu meminumnya," jawab Naruto. Ia kembali meneguk minumannya sebelum membuang bungkusan itu sembarangan. Iruka melotot. "Heheh," kekehnya gerogi. "Sepertinya tubuhku memang sedang dalam kondisi yang kurang baik. Akhir-akhir ini aku sering muntah-muntah," jelasnya lagi karena ingin menyelamatakan diri dari ceramahan panjang Iruka tentang 'buang sampah pada tempatnya'.

Raut wajah Iruka berubah cemas. "Seharusnya kau kembali check up, Naru."

"Nii-chan juga bilang seperti itu," timpal Naruto. "Katanya jika sore ini aku masih seperti itu, dia akan memaksaku kerumah sakit." Nada suara Naruto berubah tidak suka.

Iruka mengangguk setuju. "Deidara-san, benar." Iruka akan tahu Nii-chan yang Naruto maksud adalah Deidara, karena untuk Sasori biasanya Naruto akan memanggil Aniki. "Sebaiknya kau ikuti sarannya."

"Tidak mau, ttebayo!" Naruto memang tidak menyukai rumah sakit. Alasannya simpel, hanya karena bangunan itu baginya sangat terlihat angker. "Aku akan segera sembuh. Dan tidak akan muntah-muntah lagi!"

Beberapa detik setelah mengucapkan itu, perut Naruto bergejolak hebat.

Lalu?

HOEEKKK!

Naruto muntah. Iruka meringgis seraya memijat tengkuk artisnya itu dan berkomentar. "Sepertinya harapanmu tidak akan tercapai."

Naruto memuntahkan seluruh isi perutnya. Perutnya pucat pasi dengan keringat dingin pada tubuhnya. "Hah.. Hah.."

"Kau istirahat setelah ini. Paman akan mengantarmu," tukas Iruka yang kentara dengan nada khawatirnya. Lalu, ia menjawab beberapa pertanyaan orang-orang yang berada di lokasi syuting itu tentang kondisi Naruto.

"Naruto tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan. Izinkan dia untuk beristirahat hari ini. Mohon kerja samanya."

Setelah mengucapkan itu, Iruka membawa Naruto ke apartemen, walaupun meninggalkan banyak kepala yang cemas dan penasaran dengan artis favorit mereka itu.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : SasuNaru, Slight ItaFemKyuu, KakaIru, SasoSaku dan XXXDei.

Rate : M (Gak ada Hard but Soft lime dari sekarang)

Gendre : Romance , Drama.

Warning : YAOI, GAY STORY, MPREG, TYPOS, MISS, SOFT Lemon, dll

.

.

.

.

Pesawat Sasuke mengalami delay untuk tiga jam. Maka, ketika pemuda raven itu mendengar kabarnya, tentu saja marah besar. Apakah ia harus menunda pertemuannya dengan Naruto ? Oh, tidak terima kasih.

Tiga hari yang lalu ia sudah menunda kepulangannya ke Jepang, karena Itachi mengancam akan bunuh diri kalau ia pulang. Alasannya? Tidak rumit, hanya Kyuubi. Kyuubi yang mendadak meminta suaminya untuk menjemputnya di Belanda, dan Itachi si pecundang – menurut Sasuke – itu tidak mungkin menolak keinginan honey bunny sweety Kyuu-chan. Bukan masalah sih kalau Itachi mau bunuh diri, yang menjadi masalah adalah muka menjijikan Itachi saat memohon-mohon. The hell. Sasuke merinding.

Jadilah ia harus mendekam di Amerika selama seminggu penuh. Sial! Padahal ia sudah frustasi ingin segera bertemu dengan Naru-chan unyu-unyu manisnya.

Dan sekarang, ia harus menunggu lagi selama tiga jam? Kesabarannya sudah mencapai ubun-ubun. Kerinduan akan Naruto sudah tak bisa ia toleransi. Maka dengan aura yang gelap dan membuat semua orang merinding, Sasuke mengeluarkan ponselnya di tengah bandara yang mendadak mencekam itu.

Klik.

"Moshi-mos – "

"Itachi, kirim pesawat pribadi kepadaku, SEKARANG!"

"Ada ap –"

"Lakukan atau aku akan mengirim foto-foto mabukmu kepada Rubah galak itu."

Dan, Itachi tak bisa menolak permintaan adik durhakanya. Lima belas menit kemudian, Sasuke sudah duduk dikursi penumpang pesawat pribadi yang dipesan oleh Itachi dengan harga yang selangit. Perjalanan cukup panjang, empat jam Sasuke tidak merasakan nyamannya duduk. Walaupun pada kenyataannya, pesawat itu sangat mewah dengan segala kenyamanananya. Namun, bagi Sasuke, tidak ada Naruto maka tidak ada kenyamanan untuknya. Lalu, bagaimana ia bisa duduk diam didalam pesawat itu empat jam lagi tanpa Naruto?

Berita buruk.

Semakin hari, ia sudah semakin kecanduan terhadap Naruto Namikze. Bagaimana itu bisa terjadi?

"Kau!" Tunjuk Sasuke kepada pramugari satu-satunya di pesawat itu. "Ambilkan aku jeruk dan buatkan aku ramen."

Wanita cantik itu menggangguk anggun dengan rona merah pada pipinya. Mencoba menarik perhatian Sasuke dengan senyumannya yang begitu memikat. Sayang, pramugari itu salah target. Karena, secantik apapun wanita yang berada dihadapannya. Tak pernah akan membuat Sasuke melirik, walau hanya sedetik. Karena, segala pusat perhatiannya sudah tertuju pada satu orang.

Namikaze Naruto.

Tapi,

Sejak kapan Sasuke menyukai jeruk dan ramen? Jangan tanya! Sasuke sendiri tidak tahu. Yang pasti seminggu terakhir ia selalu menginginkan ramen dan jeruk.

Ramen, makanan yang secuilpun tak pernah diliriknya. Jenis makanan yang selalu Sasuke hindari. Satu hal yang Sasuke tahu bahwa, ramen merupakan makanan hidup mati Naruto.

Apakah kerinduannya terlalu dalam? Sehingga, membuatnya menginginkan makanan yang selalu dimakan oleh Naruto?

Well, itu akan terjawab seiring berjalannya waktu, Sas.

Empat jam kemudian, Sasuke tiba di bandara Narita. Kedatangannya menjadi sorotan kagum semua orang yang melihatnya. Bagaikan pangeran, Sasuke turun dari pesawat dengan gaya angkuh, bagai dunia adalah miliknya. Paras tampan sempurnanya semakin meyakinkan gadis-gadis yang berada disana bahwa Uchiha Sasuke adalah seorang pangeran. Berlebihan? Tentu saja tidak.

Tap!

Satu pijakan, akhirnya Sasuke menginjak kembali tanah Jepang. "Aku pulang, Dobe-chan." Dan seringainya mengiringi.

.

.

AAAAA

.

.

Hal pertama yang dilakukan Naruto di sore hari saat ia terbangun dari tidurnya sama saja dengan kebiasaan bagaimana setiap pagi ia bangun. Ia berguling turun dari tempat tidur, pergi menghadap jendela yang menghadap timur, lalu memandang kearah langit. Mentari masih setia. Ia melihat jam dinding masih menunjukkan pukul tiga sore. Artinya masih ada dua jam sebelum Deidara menjemputnya untuk ke dokter.

Tadi Naruto diantarkan Iruka ke apartemennya. Setelah Iruka memberinya obat anti mual dan obat sakit kepala, Naruto diberikan makan. Setelahnya, ia yakin, ia tertidur. Ia tidur siang cukup lama. Matahari menyinari seluruh wajahnya. Ia menguap dan merentangkan tubuhnya, dan menggeleng-geleng agar rambut pirangnya tidak terlalu kusut. Setelah matanya terbuka sepenuhnya, barulah ia melihat Uchiha Sasuke bersandar ke hidran tempat parkir. Sasuke menatapnya dengan penuh perhatian dan menyeringai. Membuat Naruto melotot dan merinding.

"ASTAGA!" teriaknya bagai melihat hantu. Naruto segera meraih jubah tidurnya dan segera memakainya untuk buru-buru menutupi tubuhnya. Usaha yang sia-sia, karena lelaki itu telah melihat Naruto dalam keadaan setengah telanjang. Well, Naruto hanya memakai boxer putih motif oranyenya.

"Ya ampun," desah Naruto dengan wajah memerah karena malu. Oke, sebenarnya Naruto tidaklah apa-apa jika yang memandangnya itu bukan Sasuke si pelaku pemerkosaannya dua minggu yang lalu. Seringai berbahaya yang baru saja ia lihat bukanlah pertanda baik bagi keselamatan hidupnya. Buru-buru Naruto mengganti pakaiannya dengan kaos polo biru dan celana jeans cokelat. Ia merapikan penampilannya ketika suara bariton Sasuke datang di balik pintu.

"Tadaima, Naru- sayang." Seperti biasa, Sasuke tak perlu bersusah payah untuk mengetuk pintu. Karena, apartemen Naruto adalah apartemennya juga. Bukankah ia calon suaminya? Sasuke memang agak err.. Apa ya? Kepedean.

"Kapan kau kembali?" tanya Naruto memincingkan matanya saat melihat Sasuke duduk di sofanya.

Sasuke mendengus. "Begitukah cara menyambut calon suamimu yang baru pulang dari luar negri, Dobe?"

"Memang apa yang kau harapkan, Teme?"

Naruto memandang Sasuke yang tengah melepaskan jas kerjanya kemudian membuka dua kancing kemeja abu-abunya. Sepertinya, Sasuke belum sempat mengganti pakaian, pikir Naruto. Gurat kelelahan pada wajah datar Sasuke, mau tidak mau membuat Naruto melunak. Ada sedikit rasa senang saat melihat Sasuke baik-baik saja. Agaknya, Naruto juga diam-diam menikmati pemandangan didepannya.

"Kau bisa memelukku atau menciumku."

Naruto tersentak dan rasa kesal langsung menyerbu dirinya. "Kalau begitu kau bisa pergi sekarang," tukas Naruto memberi nada permusuhan. "Percaya diri sekali kau," tambahnya.

"Chk.. Chk..," decak Sasuke. "Satu bulan lagi kita akan menikah, Dobe-chan. Itu sudah pasti, maka biasakanlah" tandasnya dengan tatapan tajam penuh obsesi.

"Persetan dengan pernikahan konyol itu!" Naruto merinding. Sejujurnya, walau ia tak bisa menampik pesona Sasuke, tapi tetap Naruto adalah normal.

Namun, Sasuke tak memperdulikan omongan Naruto yang seperti angin lalu baginya itu. "Duduklah." Nada perintah diberikan Sasuke.

Naruto memandanganya kesal, namun tubuhnya merespon kata-kata Sasuke dengan baik. Lalu, menepi. Mata birunya menatap penasaran pada bungkusan yang Sasuke bawa.

Tatapan bagai anak kecil yang menginginkan sesuatu.

Sasuke tersenyum kecil. Ah.. Betapa manisnya Naruto. Ia sangat-sangat merindukannya. Sasuke membawa kantong kertas berisi donat dan mulai mengeluarkan isinya di meja. "Donat dan susu cokelat."

"Untukku?"

"Hn."

Naruto menerimanya dengan sumringah dan senyuman yang lebar. "Kelihatannya enak,ttebayo!"

Dan, jantung Sasuke hampir keluar karena bertalu terlampau kencang. Itulah senyuman tulus pertama Naruto yang diberikan kepadanya.

"Makanlah, aku tahu kau menyukai donat itu." Ia tidak aka pernah menyesal untuk mampir di toko donat langganan Naruto.

Naruto nyengir. "Un!" Ia mengambil salah satu donat yang menggiurkan itu lalu menggigitnya. "Ini enak sekali, ttebayo!" komentarnya sambil menjilati jari-jarinya. Toping cokelatnya sangat lezat, donatnya lembut. Meskipun donat itu adalah donat yang sama di pesan Iruka tadi pagi. Namun aneh, donat yang dibawa Sasuke terasa nikmat sekali. Padahal, Naruto yakin rasanya masih sama. Perutnya tidak mual sama sekali, malah terkesan sangat menerima.

Perut yang pilih-pilih, pikir Naruto.

Sasuke dengan seksama memandang Naruto. Ia terpesona melihat Naruto menjilati jari-jarinya. Apa yang diingikannya dari lidah itu saat menyentuh tubuhnya. Bagian paling privasi tubuhnya, yang sekarang ini masih terlarang dibeberapa negara untuk melakukannya.

Sasuke belum pulih dari kekagumannya melihat Naruto meregangkan tubuhnya dibawah sinar mentari sore dengan tubuh tanpa atasan. Memperlihatkan betapa seksinya pemuda itu. Apa Naruto tidak membayangkan betapa menggoda gerakkannya ketika dia merentangkan tubuhnya seperti kucing? Ia tidak hanya melihat kulit tan selembut madu, namun dada tanpa penghalang itu sangat menggairahkan. Memanjakkan matanya yang kehausan selama seminggu ini.

"Malam ini aku akan menginap disini."

Suara Naruto yang tersedak menjawab pernyataan tanpa intonasi Sasuke. Seenaknya sekali pria ini.

"Kenapa?" tanya Sasuke mengancam.

"Jangan seenaknya, Paman Teme!"

Sasuke memutar kedua oniksnya ketika Naruto memanggilnya paman. The hell. Mereka hanya berbeda tujuh tahun. "Kau. Akan. Menerimanya. Dobe-chan."

Naruto manyun, walaupun bulu kuduknya berdiri melihat bagaimana mata hitam itu memakunya. "Kau menyebalkan!"

Sasuke berdiri, ia merenggangkan tubuhnya dan menghampiri Naruto yang kini sedang memandang kesamping. Sedang marah. Diam-diam lelaki itu berdiri di belakang Naruto. Lalu, menyeringai.

Dan?

Ia memeluk Naruto dari belakang kursi dengan Sasuke yang berdiri dan Naruto duduk membelakangi Sasuke. Naruto tersentak kaget. "Apa yang kau lakukan, Teme?!" Diwajahnya menjalar warna suam-suam merah.

"Aku sangat merindukanmu, Naru." Sasuke berbisik begitu dalam ditelinga Naruto. Lidahnya menjilat pipi kenyal Naruto layaknya sedang menjilat madu. "Manis, manis sekali."

Naruto membatu dengan mata terbelalak. Sensasi gelinya membuat seluruh anggota geraknya lumpuh. Tidak merasa jijik, tapi orientasi normalnya masih bekerja. "Hentikan, Teme," desis Naruto saat tangannya Sasuke menahan kedua tangan Naruto yang hendak memberontak.

Sasuke menyeringai berbahaya. "Kau kira, kau punya kesempatan untuk menolak pernikahan kita, Naruto?" Nada suaranya sama berbahayanya dengan seringai maupun tatapannya.

Naruto meringgis dalam hati. Tidak tahu harus menyalahkan siapa karena ia harus dicintai orang brengsek macam Uchiha yang satu ini. Ketika tangan Sasuke mulai merambat pada area selangkangannya, Naruto menyerah. "Oke, Teme – pedo – ero kau menang. Hentikan tanganmu atau aku akan membencimu selamanya,"ancam Naruto.

"Hn." Sasuke memang melepaskan cengkraman tangannya tapi tidak dengan bibirnya yang langsung mencium Naruto dengan buas kentara dengan rasa rindunya yang seminggu terakhir menjadi siksaan yang nyata baginya. Naruto tidak menerima ciumannya, ia memberontak keras. Namun percuma, jiwa Sasuke yang sedang dilanda nafsu memang susah untuk dikalahkan walaupun Naruto adalah seorang lelaki sejati yang mempunyai tenaga besar. Super dominasi. Naruto yang mempunyai posisi yang tidak menyenangkan – menengadah keatas dengan kedua tangan Sasuke menangkup wajahnya– tentu saja sangat sulit untuk melepaskan ciuman beringas dan menuntut dari Sasuke. Ia kewalahan. Ciuman itu tidak menyakitinya, namun bibir Sasuke membuatnya takut. Karena, ciuman itu lama-lama akan dinikmatinya.

'Ah! Kenapa seperti ini!' teriak Naruto dalam hati. Lidah Sasuke menerobos lancang. Mengaduk lidah Naruto yang diam pasif. Memutar dan menghisap sehingga desahan kecil lolos dari mulut Naruto yang mulai panik karena ciuman itu semakin memabukkan. "Sasuke, hentikan." Suara Naruto terdengar kepayahan saat ia mencoba berbicara.

"EHEM!"

Dan deheman keras yang tiba-tiba hadir menjadi pihak ketiga menghentikan ciuman paksa Sasuke. Deidara berdiri dibelakang pintu apartemen yang terbuka lebar. Pada wajahnya yang manis itu tergambar jelas ia tengah menahan kedutan pada dahinya yang lama kelamaan akan membuat uratnya putus. "Sore yang panas sekali," sindirnya tajam seraya menatap Sasuke penuh dengan kebencian yang tidak di tutup-tutupi.

Sasuke memutar matanya, sebelum ia melepas dekapannya pada Naruto ia berbisik. "Nanti kita lanjutkan lagi, sayang." Suaranya syarat akan janji sensual.

Naruto bersyukur Deidara datang tepat waktu. Kalau tidak, mungkin ia sudah dilahap habis si brengsek ini.

Tapi,

Tetap saja malu ketahuan berciuman dengan Sasuke. Walaupun, dilihat dari segimanapun ini adalah ciuman sepihak.

"Aku datang lebih awal, Naru-chan. Karena aku sangat khawatir dan perasaanku mendadak tidak enak. Jadi, Nii-chan kesini."

Keputusan yang tepat, pikir Naruto.

Ia memberikan cengiran grogi kepada kakaknya. Wajahnya merah bagaikan terbakar matahari. "T-tidak apa-apa kok, Nii-chan. Lebih cepat lebih baik."

Sasuke mendengus mendengarnya sama sekali tidak menggubris aura permusuhan yang diberikan Deidara kepadanya. Alih-alih menyambut kedatangan calon kakak iparnya, Sasuke malah bertanya menyebalkan. "Untuk apa kesini?" Suaranya sangat datar.

Naruto menatap tajam Sasuke. "Kau bisa lebih sopan lagi, Teme." Itu perintah.

Deidara masuk kedalam dengan gusar dan mendelik sebentar kearah Sasuke sebelum membuat senyuman manis kepada Naruto. "Kita akan berangkat sekarang, Naru. Cepatlah siap-siap, un!"

Naruto beranjak dari kursi dan memberikan jempolnya tanda setuju kepada Deidara. "Oke! Tunggu sebentar, Nii-chan!"

"Tunggu!" interupsi Sasuke sehingga Naruto berhenti melangkah dan menoleh kearahnya. "Mau kemana kau?" tanyanya tidak suka karena ia baru saja datang untuk melepas rindu tetapi Naruto haruslah pergi seperti itu.

Deidara yang duduk seraya memakan donat yang tadi dibawakan Sasuke menjawabnya. "Untuk apa kau tahu?"

Sasuke menoleh kearah Deidara dengan tatapan tak suka. "Tentu saja aku harus tahu. Dia calon istriku. Kau tahu itu, Deidara Namikaze."

Deidara mendecih. "Yah, ingatkan aku untuk itu," timpalnya cuek. Sasuke menggeram.

Sementara itu, Naruto tidak peduli, ia memutuskan kedalam kamarnya untuk mandi dan siap-siap. Ia sudah janji kepada Deidara untuk pergi kedokter sore ini. Kalau tidak, artinya ia harus cuti selama seminggu hanya untuk tidur dalam pengawasan Deidara si kakak yang terlalu protektif itu.

"Aku tidak akan membiarkan Naruto pergi tanpaku," ucap Sasuke seenaknya.

Si Namikaze kedua itu memutar matanya bosan. "Terserah." Terpenting Naruto harus pergi kedokter dan memeriksakan kesehatannya. Tidak ada waktu untuk berdebat dengan orang keras kepala macam Sasuke. Lagian, melihat adegan ciuman tadi, ia mau tak mau haruslah menerima bahwa memang adiknya yang lucu itu akan segera menjadi milik orang lain. Walaupun, ia memang tidak rela. Tapi, apa ada hak untuk Deidara melarang Naruto menjalani hubungan dengan manusia berkepala bokong unggas ini? Tidak. Bagi Deidara kebahagiaan Naruto adalah yang terpenting.

Sepertinya, Deidara memang tidak menyadari ciuman paksa tadi.

Lima belas menit kemudian, Naruto keluar dengan wajah lebih segar. Memakai jaket hitam dan celana jeans hitam. Dibalik jaketnya, Naruto memakai kaos biru. Maskulin dan sangat tampan. Saat melihatnya, Sasuke bahkan tidak menyesal sama sekali telah menjadi orang yang paling brengsek di dunia hanya untuk menjadikan Naruto milikknya seorang.

"Ayo berangkat!" Deidara berseru kepada adiknya dan dibalas anggukan dari Naruto.

.

.

AAAAA

.

.

Perjalan dari apartemen Naruto ke rumah sakit tidaklah sebentar dan lancar. Setelah, perdebatan yang sengit antar Sasuke dan Deidara tentang siapa yang menjadi supir, lalu dimenangkan oleh Sasuke sehingga mengakibatkan Deidara menjadi supir , sementara Sasuke dan Naruto duduk nyaman dibelakang. Kemudian, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit mobil itu tak pernah sepi dari teriakan Naruto dan Deidara kepada Sasuke yang mesumnya minta ampun. Selalu, mencari kesempatan kepada Naruto. Dengan memeluk atau mencuri cium dari Naruto.

Sebelum berhenti tepat diparkiran rumah sakit, Deidara memijat pelipisnya pening. 'ASTAGA! KENAPA NARU-CHAN HARUS MENYUKAI ORANG SEPERTI DIA?!' Jeritan itu terdengar dalam hati dan pikiran Deidara yang frustasi.

Apasih kelebihannya Sasuke? Brengsek, iya.

Deidara melupakan kalau Sasuke itu sangat tampan, bertubuh layaknya tubuh yang dimimpikan seluruh pria dimuka bumi, jenius, kaya raya dan digilai perempuan.

"Rumah sakit?" beo Sasuke tatkala ia memperhatikan sekelilingnya. Ia menatap Deidara dengan tatapan – mau – apa – kita – pergi – kesini?

Naruto manyun. "Aku tidak mau kerumah sakit!"

Deidara mendecak, adiknya memang susah kalau berurusan dengan rumah sakit. "Kau harus, un!" Dan tatapan bertanya – kenapa – dari Sasuke membalasnya.

Namun, Deidara lebih senang menceramahi adiknya ketimbang menjawab tatapan tanya si irit bicara Uchiha brengsek itu. "Sudah hampir dua minggu kau muntah-muntah, un. Kesehatanmu juga sangat menurun, kau sering mudah kelelahan. Jadi, kau harus mau!"

Naruto membuang muka, sebal.

Walaupun kesal karena diabaikan Deidara, Sasuke tetap mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Jadi, Naruto selama dua minggu ini sakit?

Dengan cepat dan tanpa basa-basi , Sasuke menggandeng tangan Naruto dan menyeretnya masuk ke lobi rumah sakit untuk menemui dokter.

"Brengsek! Lepaskan tanganmu!"

Kali ini, Sasuke memang setuju dengan Deidara yang membawa Naruto untuk memeriksa kesehatannya. "Jangan keras kepala, Dobe. Dengarkan kakakmu."

Untuk pertama kalinya, Deidara tersenyum dan bekerja sama dengan Sasuke. "Bawa anak nakal itu ke lantai tiga dan temui dokter Kurenai."

"Hn."

Naruto yang sedang diseret seperti itu hanya bisa memutar matanya. "Menyebalkan," dengusnya hanya bisa pasrah.

.

.

Dokter Kurenai kembali melihat catatannya. Diwajahnya tersampir jelas raut kebingungan. Kadang kala ia menghela nafas atau mengkerutkan keningnya dengan dalam. Ekspresi sang dokter tentu saja menjadikan yang melihatnya sangat khawatir.

Naruto tidak kenapa-kenapakan?

Naruto menaikkan alisnya excited ketika Kurenai memandangnya dengan tatapan tidak percaya. "Namikaze-san, bolehkah saya memeriksa anda kembali?"

"Ada apa Kurenai-san?"

Sang dokter memandang Namikaze lain yang bertanya. "Aku tidak yakin. Mungkin pemeriksaanku keliru, maka aku ingin mencoba memastikannya kembali," jawabnya.

Naruto dan Sasuke saling melemparkan pandangan bingung.

"Bolehkan saya memeriksa anda kembali?" tanya Kurenai lagi. Ia memakaikan stetoskopnya kembali pada kedua telinganya. Dan menyuruh Naruto untuk tidur di ranjang pasiennya, lalu rasa dingin menjalar di perut Naruto ketika sang dokter mulai menekan perutnya dengan stetoskop.

"Aneh sekali," komentar Kurenai lebih untuk dirinya sendiri. Naruto mengernyit mendengarnya. "Apa dok?" tanyanya sangat penasaran.

Kurenai menggeleng. Lalu, begitu saja meninggalkan Naruto yang kebingungan dengan sikap aneh sang dokter. Kurenai membawa catatannya dan kembali mencatat sesuatu didalamnya dengan serius sehingga membuat Deidara dan Sasuke semakin cemas dengan keadaan Naruto yang sebenarnya.

"Bagaimana keadaan adik saya, dok?" akhirnya karena tidak tahan Deidara memutuskan untuk bertanya.

Alih-alih menjawab pertanyaan Deidara, Kurenai malah menatap penuh minat kepada sang Uchiha. "Apakah anda kekasih dari Namikaze-san?"

"Hn. Aku calon suami Naruto," jawab Sasuke mantap. Mendengarnya, Naruto melotot.

Sial, Uchiha memang suka seenaknya!

Kurenai mengangguk mengerti, lalu ia kembali bertanya, "apakah kalian pernah melakukan hubungan intim?" pertanyaan itu sangat frontal dan tanpa tedenga aling-aling apapun, wajahnya yang memandang Sasuke dengan sangat serius.

Wajah Deidara memerah karena pertanyaan mesum itu. Sasuke measih tetap datar walaupun sebelah alisnya nampak naik karena keheranan. Dan Naruto?

"APA-APAAN PERTANYAAN ITU, TTEBAYO!"

Marah, karena Kurenai malah bertanya hal yang tidak-tidak ditengah pemeriksaan ini. Dokter macam apa itu?

Kurenai tersentak karena bentakkan keras dari Naruto. Ia mendelik artis papan atas itu. "Diamalah, dan jawab saja pertanyaanku," katanya dengan nada dingin sehingga amarah Naruto surut dan terganti dengan perasaan merinding.

Me – menyeramkan!

Sasuke tidak ambil pusing dengan pertanyaan Kurenai yang tidak layak ditanyaakan itu. Bukannya merasa terganggu layaknya Naruto, Sasuke malah menjawabnya dengan bangga. "Hn. Kami pernah melakukannya." Oniksnya beralih kepada Naruto yang shock karena jawaban Sasuke. Ia menyeringai kepada calon istrinya. Naruto membatu.

"Begitu," lirih Kurenai dengan anggukan puas. Deidara sweatdrop. Jangan bilang dokter ini adalah seorang fujoshi? pikirnya memincing. "Kapan terakhir kali kalian melakukannya?"

Oke, Naruto fix ingin mencari lubang untuk menyembunyikan wajahnya yang pastinya semakin merah karena sangat malu.

"Dua minggu yang lalu." Jawaban itu cepat sekali, Sasuke seperti tak perlu berpikir barang sedetik pun.

Naruto menggeram. "Kenapa kau malah menjawabnya, brengsek?" Itu memalukan, tambah Naruto dalam hati menjerit.

Tentu saja. Siapa yang tidak senang, ketika ia memberitahukan pada orang lain bahwa Naruto si tampan yang menjadi gandrungan pemuda dan pemudi diseluruh pelosok negerinya adalah miliknya? Egoismenya berhasil membuat Sasuke bangga dan merasa menjadi orang yang paling hebat kerana bisa mengalahkan ribuan orang itu. "Aku hanya menjawab jujur, Dobe." Kembali ia menyeringai.

Naruto terserang emosi berat. "Setelah ini, aku akan membunuhmu," desisnya keji.

Sasuke memutar matanya bosan. "Hn." Sasuke tidak peduli, malah menantang kekasihnya dengan tatapan, aku – akan – lebih – dahulu – memperkosamu – Dobe.

"Keparat," geram Naruto yang mengerti isi otak mesum bos pedofilnya.

Sang dokter yang sedari tadi sibuk sendiri dengan catatannya, akhirnya bersuara. "Sekarang aku yakin, hipotesisku tidak akan salah," katanya membuat fokus ketiga pemuda yang berada disana beralih padanya.

"Hipotesis apa, Dok?" tanya sang kakak ketika rasa khawatir kembali merasukinya.

Naruto menatap Kurenai dengan penasaran.

"Kalian sepertinya salah mengunjungi dokter," ucapnya membuat Sasuke dan Deidara bingung karena tidak mengerti . Sedangkan Naruto sangat setuju dengan ucapan Kurenai. Seharusnya aku memang tidak mengunjungi dokter mesum ini, pikirnya.

"Maksudnya?"

Sang dokter menatap Deidara, kemudian tersenyum. "Kasus ini memang sangat jarang terjadi. Mungkin hanya satu berbanding seratus ribu, tapi – "

"Tapi?" Kali ini Sasuke yang terdengar mendesak dan penasaran.

"Ini memang sudah pernah terjadi sebelumnya. Kalian akan kaget mendengarnya. " Lalu, Kurenai beralih menatap kepada Naruto yang masih setia duduk di ranjang pemeriksaan, senyumannya semakin lebar.

"Apa yang terjadi padaku?" Naruto tidak suka sama sekali dengan senyuman mencurigakan Kurenai. Hatinya menadak terserang rasa khawatir dan tak enak.

Sesuatu yang buruk pasti terjadi padaku, pikirnya gelisah.

"Untuk memastikannya, sebaiknya kalian segera bawa Namikaze-san pergi ke dokter kandungan."

Semua orang terlihat terkejut.

Kurenai tertawa renyah. "Selamat Uchiha-san, sepertinya anda akan segera mendapatkan momongan dari Namikaze-san."

Sasuke terbelalak. "Maksudmu, Naruto .. itu.." Tenggorokan Sasuke tercekat. Ia merasa sedang berada diatas awang-awang. Kurenai melihatnya dengan kekehan geli karena raut datar yang dari tadi Sasuke pertahankan sudah hancur karena ekspresi kaget itu.

"Ya. Namikaze-san sedang mengandung anak anda, Uchiha-san. Usia kandungannya dua minggu."

Mulut Naruto menganga dengan wajah pucat pasi. Lantunan suara Kurenai seperti lantunan malaikat penjemput nyawa. Ia bagaikan terkena petir di siang bolong.

Ia memandang Kurenai dan Sasuke bergantian. Otaknya mendadak memutih.

Sekarang ia yakin, Kurenai bukan hanya dokter mesum.

Tapi,

Ia juga DOKTER GILA!

Dan, Narutopun tak sadarkan diri.

.

.

TBC..

Oh.. Maafkan aku teman-teman karena belum bisa menghadirkan Uchiha Kurama menjadi pengganggu pasangan ini..

Tadinya, memang sudah muncul, tapi karena aku pengen cepet-cepet selesein fik ini, jadinya di skip. Mungkin, akan menjadi pertimbangan kembali kemuculan tokoh lain di cerita ini. Serius, karena aku sudah semakin tidak punya waktu untuk menulis.

Well, jadi jangan heran kalo aku emang lelet banget untuk update. Heheh... #nyengir

Tapi, janji ko, aku bakal selesein semua fik aku. Tapi, dengan waktu apdet yang tidak bisa ditentukan.. Mohon maklumnya ya..

Btw, masih ada yang ingat dengan fik ini tidak ya? Nyeehehe..

Semakin tidak jelas ya ceritanya? #pundung..

Gomen!

Tapi, apapun yang terjadi aku sangat membutuhkan dukungan dari kalian untuk menyulut semangatku.. :D

Oia, ada yang menantikan kelanjutan fic NaruSasu, Naruto will be Mine?

Aku stuk sama adegan action. Hehe.. Aku buka lowongan untuk berduet deh untuk fic itu. ada yang bermintat colab melanjutkan fic itu gak? Heheh... #ngarep. Aku sangat tunggu loh... :D I need you..

Terakhir,

Bersediakah meninggalkan jejak? :D

Love u!