Naruto berjalan menuruni tangga rumahnya yang sepi. Sangat sepi. Matanya menyapu keseluruh penjuru ruangan. Tidak ada orang, hanya keheningan yang menyapanya.

'Kemana semua orang?' tanyanya dalam benak.

Lantas, ia segera menuruni tangga dan bergegas untuk mencari semua penghuni rumahnya. "Kaa-san! Tou-san!" Naruto memanggil kedua orang tuanya.

Tidak ada sahutan yang berarti.

"Nii-chan! Aniki!" Kembali Naruto memanggil. Kali ini kedua kakaknya. "Semua orang? Pelayan! Ebisu-san?!" Pemuda tampan itu mulai cemas karena rumahnya benar-benar kosong tanpa penghuni. Hati Naruto mendadak tak enak. Ia mulai mencari keseluruh ruangan. Namun tetap nihil.

"Kalian semua kemana?" Ia mulai panik karena keanehan ini. Rasanya, tadi pagi saat sarapan semua penghuni rumahnya masih tetap utuh. Tapi kenapa rumahnya sekarang kosong? Kemana perginya semua orang? Kenapa hanya dia yang tidak diajak?

Mereka meninggalkan aku? Pikir Naruto mendadak kalut. Ia menyisir rambut pirangnya frustasi.

Selanjutnya, Naruto pergi keruang keluarga. Disana, samar-samar ia bisa mendengar suara. 'Pasti mereka disana!' pikirnya senang.

Tapi..

Kosong.

Disana ia hanya mendapati televisi yang menyala tanpa ada yang menonton. Ia mendesah frustasi. "Astaga!"

Naruto kemudian mendudukan dirinya disofa berwarna coklat empuk yang berada diruang televisi tersebut. Sembari dalam hati terus bertanya, kemana semua orang. Sejenak ia berfikir, sebelum ia menyadari bahwa televisi tengah menyiarkan kabar tentang dirinya.

Dikabarkan bahwa penyanyi sekaligus aktor yang tengah naik daun saat ini, yaitu Namikaze Naruto tengah mengalami kondisi yang sangat mengerikan.

Naruto mengernyit heran saat reporter yang Naruto tahu adalah sepupunya sendiri, Uzumaki Karin tengah membawakan sebuah berita dengan gambar dirinya yang memenuhi layar kaca.

"Mengerikan?" bisiknya dengan raut wajah yang tersinggung.

Bersumber dari narasumber yang dipercaya, kami mendapatkan informasi bahwa Namikaze Naruto saat ini sedang mengandung.

Mata Naruto terbelalak seiring jantungnya yang berhenti ketika ia mendengar kabar tersebut.

Lalu, dilayar kaca terlihat Deidara dan Sasori yang hendak diwawancarai oleh Karin. Naruto tak berkedip terhadap televisi. "Nii-chan, Aniki..."

"Deidara-san, Sasori-san, bagaimana pendapat anda tentang semua yang menerpa adik anda?"

Sasori menjawab terlebih dahulu. Ekspresinya sangat dingin dan datar. " Aku tidak mempunyai adik laki-laki yang hamil," tandasnya kejam.

Hati Naruto bagaikan tertusuk pedang. Dengan ekspresi wajah yang tak tergambarkan, Naruto memandang layar kaca dengan pedih.

"Apa m-maksudnya semua ini?" Bisiknya nanar seraya mencengkram perutnya.

"Benar, laki-laki tidak hamil. Kami semua tidak mengakui dia sebagai Namikaze lagi, un." Lalu disana disorot Kushina dan Minato yang sedang menggeleng dengan ekspresi jijik.

"Ti-tidak..," lirih Naruto perih. "I-Ini semua bohong...!"

"TIDAK!" Teriaknya. "Kalian semua tidak mungkin melakukan ini semua padaku!" Lanjutnya putus asa. Dengan segera, Naruto mengganti channel. Berusaha menepis fakta. Namun, naas. Ketika ia mengganti channel, siaran malah berganti dengan berita yang menampilkan Sasuke Uchiha.

"Teme?"

Disana Sasuke terlihat sedang menggandeng perempuan cantik berrambut pirang dengan mata aquamarine yang indah. Terlihat sangat mesra dengan Sasuke yang tersenyum seraya memeluk pinggang perempuan itu. Naruto semakin tertohok. Hatinya jauh lebih sakit lagi ketimbang pernyataan Sasori dan Deidara.

Sasuke menatap kamera dengan tajam, lalu setelah menyeringai ia berkata. "Perkenalkan, dia calon istriku. Bulan depan kami akan menikah."

Lalu, kamera blitz menerpa pasangan itu. Sasuke Uchihapun pergi meninggalkan para wartawan yang mengejarnya.

Tubuh Naruto bergetar hebat. Matanya kosong dan tak fokus. Wajahnya pucat pasi. "I-ini bohong! SEMUANYA BOHONG!" Raung Naruto pedih. "TIDAAAK! KALIAN SEMUA TIDAK MUNGKIN MENGINGGALKAN AKU!"

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : SasuNaru, Slight ItaFemKyuu, KakaIru, SasoSaku dan XXXDei.

Rate : M (Gak ada Hard but Soft lime dari sekarang)

Gendre : Romance , Drama.

Warning : YAOI, GAY STORY, MPREG, TYPOS, MISS, SOFT Lemon, dll

.

.

Sasuke memandangi wajah kekasihnya penuh sayang. Rasanya, beribu kata manis takkan pernah bisa menggambarkan bagaimana isi hati pemuda Uchiha itu. Terlampau bahagia. Bagaimana tidak? Jika pada kenyataannya ia akan menjadi seorang ayah. Ya, dia akan segera mempunyai anak dari pemuda yang paling dicintainya didunia ini melebihi apapun. Naruto Namikaze akan memberinya keturunan. Entah keajaiban apa yang menimpanya. Sudah mendapatkan Naruto menjadi pendamping hidupnya saja sangat menyempurnakan hidupnya.

Sasuke membelai pipi Naruto dengan lembut dan penuh kasih.

Mempunyai keturunan?

Angan itu sudah ia buang jauh-jauh saat ia mulai menyadari orientasi seksualnya yang bersifat Narutoseksual.

Lalu sekarang?

Ia akan mempunyai anak! Sangat sempurna.

Uchiha Sasuke akan menjadi orang yang paling bahagia. Sasuke tersenyum. Kali ini benar-benar tersenyum tulus, bukan menyeringai seperti biasanya. Lalu, ia mencium bibir Naruto dengan lembut. Hanya sebentar, namun rasanya sangat manis. Hanya lumatan yang tak lebih dari tiga detik, tapi bibir lembut Narutonya sanggup membuat seluruh tubuhnya menjadi lumer. Sasukepun duduk disamping ranjang seraya memandangi pemuda yang kini sedang terlelap begitu damai.

"Bagaimana keadaannya?"

Sasuke yang tengah duduk seraya memandangi Naruto segera mengalihkan perhatian kepda suara baritone yang sangat dikenalnya. "Ayah.."

Uchiha Fugaku yang baru datang langsung saja menanyakan bagaimana keadaan calon menantunya. Tadi, ia mendengar kabar yang sangat luar biasa dari istrinya di telpon saat ia sedang ada meeting. Naruto hamil. Dan Fugaku memutuskan langsung meninggalkan meeting tersebut untuk menemui anak dari Minato itu. Ia ingin melihatnya sendiri.

Sebelum Sasuke menjawab pertanyaannya, kepala keluarga Uchiha itu memandang anaknya dengan tatapan bangga.

'Sasuke kau memang hebat. Ayah bangga,' batinnya. Fugaku adalah salah satu orang yang sangat memegang teguh prinsip pria sejati, berfikir jika seorang lelaki yang belum berhasil membuahi seorang betina, maka si jantan belum bermetamorfosis menjadi pria sejati. Akan tetapi, Sasuke – anaknya, tidak diragukan lagi kesejatiannya. Ia bahkan mampu membuahi seorang jantan. Superior pria sejati. Tajam sekali, pikirnya entah kemana.

Tatapan itu sampai pada Sasuke. Dan ia tersenyum bangga kepada ayahnya, lalu ia mengangguk. Seolah berterima kasih.

Kalau saja Minato ada disana dan tahu apa isi dari kepala para Uchiha ini, mungkin beberapa saat ia akan meminta izin untuk pergi ke toilet. Alasannya sederhana, ia mual.

"Ia hanya butuh istirahat, mungkin ia terlalu kaget mendengar kabar bahagia ini," jawabnya setelah beberapa detik ayah dan anak itu saling bertatapan. Kabar bahagia? Uchiha memang seenaknya mengambil keputusan.

"Hn." Fugaku mengangguk mengerti. "Jaga dia dan cucu ayah baik-baik,"

"Hn." Pasti ayah.

Kali ini, Fugaku semakin mendekat kearah Naruto yang kini sedang tertidur diranjang. Dalam diam, Fugaku memperhatikan pemuda pirang itu. Wajahnya damai sekali. Paras itu memperlihatkan kesempurnaannya. Bagaimana hidung bangir yang pas pada wajah tampan itu. Bagaimana bulu lentik yang tertutup membingkai matanya bulatnya. Dan bagaimana bibir mungil itu diwarnai merah muda yang alami. Cantik. "Kau sangat beruntung," gumam Fugaku yang tertuju untuk Sasuke. Tangannya mengusap rambut pirang Naruto penuh sayang. Setelahnya, si pirang menggeliat nyaman. Menggemaskan, seperti kucing. Fugaku tersenyum geli.

"Hn," gumam Sasuke senang tatkala melihat ayahnya begitu menyayangi Naruto – calon menantunya.

Fugaku berbalik kepada anak bungsunya, lalu dengan gaya seorang ayah yang berkharisma ia berkata dengan mantap. "Tidak ada pertunangan bulan depan."

Sasuke terkesiap dan memandang ayahnya bertanya.

Fugaku menyeringai. "Kami akan segera mengadakan pernikahan untuk kalian berdua. Aku akan berbicara dengan Minato untuk masalah ini. Ayah ingin semuanya dipercepat. Ayah ingin kalian menikah sepuluh hari lagi."

Dan, Sasuke menyeringai sangat lebar ketika keputusan mutlak itu keluar dari mulut ayahnya. "Terima kasih, ayah."

"Hn." Onyx tajam sang kepala keluarga Uchiha itu memancar bersemangat.

"Tapi, ayah.. Aku rasa akan sedikit sulit. Minato-san sangat ketat," komentar Sasuke membuat Fugaku mengernyit tidak suka ketika kalimat tidak optimis itu keluar dari mulut si Uchiha bungsu. Rupanya, Sasuke sedang main strategi. Jadi anak manja, biar dia gak usah capek. Licik sudah jadi tabiatnya.

"Serahkan saja semuanya pada ayah," jawab Fugaku santai. "Apapun yang terjadi, Minato akan menyetujuinya," lanjutnya dengan seringai yang terlihat kejam dan mencurigakan.

Nun jauh disana, Minato yang sedang mendengarkan presentasi kliennya mendadak merinding.

"Baiklah, Ayah. Terima kasih." Bersamaan dengan meluncurnya kalimat itu, dalam hati Sasuke menyeringai keji. 'Sepuluh hari lagi, kau akan benar-benar jadi milikku. Jangan pernah berfikir bisa lepas dan menolakku lagi, Dobe-chan.'

Haaaa-ah..

Dasar Uchiha! Tidak ayah, tidak anak, sama-sama bastard!

.

.

"TIDAAAK!"

Sasuke tersentak kaget. Ia segera berlari dan memeluk Naruto yang tiba-tiba saja bangun dan berteriak. Selepas Fugaku pergi, Sasuke berniat untuk pergi keluar sekedar untuk membeli minum. Namun, teriakan Naruto barusan menjadi alasan satu-satunya untuk tak mungkin pergi.

"Ada apa?" tanyanya dengan nada yang cukup khawatir. Nada yang tak pernah Sasuke keluarkan selain kepada ibunya. Pemuda dipelukannya bergetar hebat. Sasuke semakin cemas, apalagi ia yakin kalau Naruto sedang terisak. "Ada apa, Naruto?"

Naruto semakin terisak. Sepertinya ia memanglah belum sepenuhnya tersadar.

Sasuke semakin mengeratkan pelukannya. "Tenanglah, ada aku disini," bisik Sasuke tapat ditelinga Naruto. Badan Naruto sedikit melunak dan tenang walaupun isakannya masih terdengar. Hingga beberapa menit posisi itu tetap bertahan. Disela-sela kekhawatirannya, Sasuke sedikit berpikir lega. Naruto tidak menolak sentuhannya. Mungkin ia harus sedikit bersyukur,

"Lepaskan aku."

atau tidak.

Mau tak mau Sasuke melepas pelukannya dengan rasa enggan yang besar. Ia sedikit memeberikan jarak diantara mereka hanya untuk memastikan bagaimana ekspresi si pirang saat ini. Tapi percuma. Naruto memunduk dan Sasuke tidak dapat melihat matanya.

Ketika mimpi tadi terbayang lagi, Naruto menggigit bibirnya. Sasuke beringsut mendekat. "Kau kesakitan?" tanyanya.

"Tidak," sahut Naruto sambil menggeleng dengan wajah murung. "Pergilah, aku tidak ingin kau ada disini."

Wajah sang Uchiha langsung berubah kaku. Alisnya sedikit mengernyit penuh kesedihan. Namun, itu hanya sedetik. Karena detik berikutnya ia berkata, "jangan bercanda Dobe. Aku tidak mungkin meninggalkan kau beserta anakku tanpa penjagaan."

Naruto mendelik tajam. "Jangan berlebihan, Teme!"

Sasuke memutar matanya – malas. "Lihat kondisimu baik-baik, Dobe," katanya dengan nada jengah, "kali ini fikirkan kesehatan bayi kita!" lanjutnya seraya menjauhkan cengkraman tangan Naruto dari perut Naruto sendiri. "Kau akan menyakitinya, Dobe," desis Sasuke tak suka.

Naruto tersentak mendengar nada Sasuke berbicara. Wajahnya dua kali lipat lebih murung.

'Bayi kita? Menyakitinya?'

Entah kenapa amarah Naruto kembali menyeruak. "Aku tidak mau hamil," katanya putus asa. "Laki-laki normal tidak ada yang hamil. Aku menjijikan," gumamnya frustasi mengabaikan Sasuke yang melotot karena mendengar apa yang Naruto ucapkan barusan.

Sasuke menghela nafas berat – sembunyi-sembunyi. "Kau butuh istirahat," kata Sasuke akhirnya ketika ia tak mengerti dengan apa yang Naruto pikirkan saat ini. Ia lebih memilih untuk bersikap tenang. "Tidurlah," lanjutnya seraya mendorong Naruto untuk kembali berbaring.

Naruto menolak. Entah kenapa ketika ia melihat wajah Sasuke, hatinya memanas. Bagaimana pria tampan didepannya memeluk wanita lain, walau nyatanya hanya didalam mimpi. "Jangan sentuh aku!"

Sasuke mengerang. "Ada apa denganmu, Dobe?" tanyanya tidak mengerti.

"Semuanya gara-gara kau, berengsek!" Naruto meledak, ia menatap wajah bosnya dengan tatapan menyalahkan. Sasuke sering menerimanya, namun kali ini pria Uchiha itu sama sekali tidak bisa mengeluarkan ekspresi tenang seperti biasanyanya.

"Kau menghancurkan semuanya!" Lanjut Naruto berteriak, "pergi!" Usirnya tak ingin melihat wajah Sasuke.

Dalam pikirannya terpenuhi oleh hujatan publik mengenai dirinya yang kini hamil. Bagaimana ia menanggung malu dan karirnya hancur.

Lalu keluarganya?

Tidak.

Ini tidak boleh terjadi.

Naruto kalut dengan pikirannya sendiri.

"Dobe, tenanglah.." Sasuke melunak melihat betapa kacau dan muram ekspresi ukenya tercinta. "Semuanya akan baik-baik saja," bisiknya ketika ia berhasil menangkap tubuh mungil pemuda yang berusia sembilan belas tahun ini.

Naruto bergetar ketakutan. Dan tidak ada yang lebih cemas dari pada Sasuke. "Aku menjijikan," bisik Naruto frustasi, sudah kehilangan kekuatan untuk melawan Sasuke yang kini memeluknya erat.

"Sssst.. Tenanglah.. Kau sama sekali tidak menjijikan, sayang. Aku sangat mencintaimu. Aku berjanji akan bertanggung jawab atas semuananya," ucapnya lembut kemudian ia mengecup kening Naruto dengan penuh kasih. Naruto diliputi rasa hangat. Kini ia lebih tenang, entah kenapa kata-kata Sasuke seperti siraman air dingin ketika ia terbakar.

"Jangan pergi."

Sasuke tersenyum lembut mendengar gumaman Naruto. Pria tampan itu tak membalas. Ia mengeratkan pelukannya.

.

.

AAAAA

.

.

Diantara semuanya, Kushina dan Mikoto lah orang yang paling bergembira mendapatkan kabar kehamilan Naruto. Dua ibu-ibu itu tak hentinya saling melempar tawa yang begitu menyenangkan didengar oleh Fugaku. Minato tidak ada, ayah dari ketiga pemuda Namikaze itu tengah sibuk dalam pekerjaannya sebagai CEO.

"Aku akan menghubungi Itachi. Anak itu mungkin belum tahu. Sudah lama juga Itachi tidak pulang ke Jepang," ujar Mikoto disela-sela perbincangan mereka tentang rencana pernikahan Sasuke dan Naruto yang akan dilaksanakan menjadi pesta yang paling mewah yang pernah ada.

"Ah, Itachi-kun ya.. Aku juga merindukannya," sahut Kushina setuju. "Aku ingin melihat cucumu, Miko-chan."

Mikoto mengangguk antusias. Ia juga sangat merindukan cucunya, Kurama. "Ini akan menjadi berita hebat untuk Itachi dan Kyuu-chan."

Wajah Kushina berbinar, "aku juga akan memberikan kejutan untuk Minato!" celetuknya.

Mikoto dan Fugaku saling bertatapan heran. "Kau belum memberitahu Minato-san?" tanya Mikoto mewakili suaminya.

Kushina menggeleng cepat, lalu terkikik senang. Kikikan yang membuat Sasori kini membatu ditangga. Jika saja kikikan itu tertuju untuknya, mungkin ia tidak akan tidur nyenyak selama seminggu.

Bukannya berlebihan, terakhir mendengarnya, waktu Deidara ditemukan mengenaskan di kamarnya sendiri. Entah apa yang dilakukan ibunya yang cantik itu. Mengingatnya, membuat Sasori merinding.

Ayah yang malang, begitulah isi pikiran Sasori.

"Minato pasti akan terkejut, ttebene!"

Tentu saja, jawab Sasori dalam hati. Ayahnya bukan hanya terkejut karena mendengar anak bungsu kesayangannya akan menikah, tetapi ia yakin Minato Namikaze yang sangat terkenal dengan wibawanya itu akan menangis darah karena menyesali bahwa ia telah kecolongan. Narutonya hamil.

Sial! Mengingat itu, Sasori tiba-tiba ingin memukul wajah Sasuke dan membuat wajah sempurna itu tidak punya bentuk lagi.

Lalu, ia segera menuruni tangga.

Ia segera mengangguk penuh hormat begitu matannya bertatapan langsung dengan kepala keluarga Uchiha yang mahsyur itu.

"Paman tidak bekerja?" Setelah Sasori bergabung duduk diantara para orang tua, segera pemuda berwajah awet muda itu berbasa basi sekedar untuk menghormati sahabat ayahnya tersebut.

"Hn," gumam Fugaku yang sama sekali tidak dipahami Sasori. "Aku membatalkan seluruh kegiatanku hari ini untuk melihat keadaan Naruto, lalu istriku memintaku untuk kesini," jawab Fugaku mengartikan gumaman singkat tadi.

Sasori hampir saja tidak bisa menahan diri untuk memutarkan matanya karena mendengar nada antusias Fugaku ketika membicarakan Naruto. Ia menghela nafas berat. Tentu saja ia lakukan diam-diam.

Sejujurnya, diantara semua orang, Sasori-lah yang paling tidak rela mendengar kabar tersebut. Naruto, adiknya yang bahkan baru lulus sekolah menengah dua tahun lalu dihamili si brengsek Uchiha. Naruto, adiknya yang paling manis dan menggemaskan akan diambil alih oleh Uchiha Sasuke. Naruto akan dinikahi oleh si Uchiha.

Sial, ia benar-benar tidak rela.

'Berani sedikit saja ia menyakiti adik kecilku, jangan harap ia akan menemukan dirinya utuh,' batin Sasori kejam.

Fugaku sang partner mengobrol agak merinding ketika melihat wajah Sasori. Mata hazel nut nya benar-benar kosong. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

Kushina yang menyadari keterdiaman Sasori segera berdehem dan mengirimkan sinyal yang berbahaya dari matanya 'Apa – yang – sedang – kau – pikirkan – anak psikopat?

Kini Sasorilah yang merinding. "Ehm... Maafkan aku." Ia menggaruk kepalanya grogi karena tertangkap basah sedang melamun.

"Hn."

"Bukankah kau harus menjemput Sakura-chan?" Itu bukan pertanyaan tapi itu merupakan kalimat mengusir yang paling halus dan manis yang pernah ia dengar. Ia tersenyum kaku.

"Paman, Bibi, aku pamit dulu untuk menjemput Sakura. Kami akan segera bergabung untuk makan malam," pamitnya kepada Mikot dan Fugaku yang diam-diam sweatdrop melihat interaksi dua Namikaze tersebut.

"Hn."

"Hati-hati, Sasori-kun."

"Hati-hati di jalan, sayaaaang~"

Sasori segera mengambil kunci mobil yang berada disaku kemejanya, dan berlalu dengan cepat.

.

.

Bersambung di chapter berikutnya..

I need ur support...

Review, please...