[Sai]
Aku menatap layar televisi di depanku dengan tatapan datar. Ada yang sedang berkecamuk dalam dadaku saat melihat tayangan yang sedang disiarkan di salah satu stasiun swasta itu. Mungkin memang sedang ada yang perang dalam diriku, tapi aku bisa menyembunyikannya dengan sempurna di depan semua orang di ruangan ini. Aku hanya tidak mau mereka melihat seorang Shimura Sai tiba-tiba bertingkah aneh melihat tayangan acara musik seperti itu. Walaupun aku yakin sekali tidak akan ada yang memperhatikanku di ruangan sebesar ini. Dan orang-orang yang sedang duduk di kafe ini sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Aku mengaduk latte yang masih mengepul di depanku dengan perasaan hampa.
"Oh? Jadi ini idola baru yang beritanya heboh itu?" celetuk seseorang di belakangku. Ada dua atau tiga perempuan berseragam SMA lokal yang sejak tadi duduk di belakangku. Karena duduk tepat bersebelahan dengan mereka, mau tidak mau sejak tadi aku mendengar apa yang anak-anak ini bicarakan. Tentang guru mereka, pacar mereka dan bahkan beberapa nama artis. Termasuk seseorang yang sekarang mereka bicarakan saat ini.
Mataku kembali terpaku pada layar kaca televisi di kafe itu. Kata pembawa acaranya tadi, perempuan yang sekarang sedang tampil menyanyikan sebuah lagu itu adalah pendatang baru dan ini adalah acara debutnya. Aku tersenyum tipis saat melihat penampilan perempuan itu di atas panggung.
Kau sudah berubah banyak.. batinku.
Yamanaka Ino tampak begitu lincah membawakan dance modern sambil menyanyikan lagu debutnya di atas panggung saat ini. Suaranya juga jauh lebih bagus dibanding terakhir kali aku mengiringinya menyanyikan lagu dengan gitarku beberapa waktu yang lalu. Penampilannya sekarang juga tampaknya jauh lebih feminim dibandingkan Ino yang dulu. Ino yang masih menjadi kekasihku beberapa bulan yang lalu. Ino yang mengajakku ke sini dan memaksaku untuk minum kopi favoritnya di tempat ini. Tempat ini menjadi tempat favorit kami saat sedang berkencan karena Ino sangat menyukai kopi yang diracik di kedai kopi ini.
Aku menghela napas panjang seraya meneguk latte-ku yang sudah mulai mendingin. Yah.. Itu semua hanya kenangan masa lalu. Perempuan itu kini sudah berdiri di jalannya sendiri. Namanya bahkan sudah dikenal banyak orang sebelum dia debut. Aku rasa, memang inilah jalannya. Berpisah denganku mungkin adalah salah satu hal yang baik untuknya. Bagaimanapun juga, aku rasa aku-lah yang harus segera bergerak dan tidak terus menerus terjebak dalam kenanganku sendiri.
Mungkin aku masih akan sering mengunjungi kafe ini. Seorang diri. Bukan sebagai seseorang Shimura Sai yang ke sini karena Ino.
Aku meneguk latte-ku sampai habis sebelum akhirnya membayar tagihan dan pergi dari tempat itu dengan perasaan tak menentu. Angin musim semi langsung menyambutku begitu aku keluar dari kedai kopi itu. Udara hangat musim semi langsung menyelimutiku begitu aku melangkahkan kakiku di sepanjang perjalananku menuju apartemenku membuat perasaanku sedikit ringan. Aku menarik napas panjang dan menikmati setiap udara yang melewatiku.
.
.
.
.
.
[Sakura Haruno]
Bangunan sekolah itu sudah sepi saat aku tiba di sana dan segera berjalan dengan tergesa masuk ke halaman. Halaman sekolah yang dipenuhi dengan beberapa permainan itu tampak lengang. Kalau aku ke sini lebih cepat, mungkin beberapa anak masih ada yang bermain di tempat ini. Kalau sudah sesepi ini, ini artinya aku sudah terlalu lama datang untuk menjemput Sageki.
Aku masuk ke dalam bangunan sekolah bersamaan dengan seorang perempuan yang berjalan ke arahku dengan menggandeng Sageki yang sedang memegang sesuatu di tangannya. Perempuan muda berkulit putih dan berawajah agak bundar itu tersenyum ramah ke arahku. Dia adalah guru kelas sekaligus yang mendampingi Sageki setiap hari di sekolah ini. Aku membalas senyumannya sambil membungkukkan badanku ke arahnya sebanyak tiga kali.
"Ahh, maafkan aku.. Aku terlambat lagi. Apa Sageki sudah menunggu sangat lama?" tanyaku.
Tsunade Senju, nama perempuan itu, menggeleng sambil mengusap kepala Sageki dengan lembut.
"Tidak terlalu lama. Sageki senang bermain denganku. Benar 'kan?" Perempuan itu menunduk sampai matanya sejajar dengan wajah Sageki. Dan anak itu hanya mengangguk sambil tangannya masih sibuk dengan mainan di tangannya.
Nona Tsunade adalah guru favorit Sageki. Terapis favoritnya tepatnya. Aku sengaja memasukkannya ke sekolah inklusi di kota ini agar dia mendapat penanganan serius dan tidak main-main seperti beberapa tempat yang sudah aku kunjungi sebelum ini. Beberapa kali aku memasukkan Sageki ke sekolah berbasis terapi tapi hasilnya sama sekali tidak kelihatan. Perilaku tantrumnya masih tidak bisa dikendalikan. Dia masih meledak-ledak marah tidak terkendali dan benar-benar membuatku sedikit frustasi. Sampai aku menemukan sekolah ini. Walaupun itu artinya, aku harus bekerja lebih giat lagi agar dapat membiayai biaya sekolahnya. Tapi asalkan ada perubahan yang berarti dalam diri anak itu, aku akan melakukan apa saja. Dan selama setahun aku memasukannya ke tempat ini, aku bisa melihat perubahan itu. Sageki sudah mau mendengarkan perkataan orang lain dan dia tidak berperilaku agresif lagi. Walaupun kadang-kadang kalau aku tidak bisa mengerti apa yang diinginkannya, dia akan marah. Tapi setidaknya aku sudah bisa melakukan apa yang harus aku lakukan saat Sageki mulai berperilaku destruktif lagi.
"Apakah Sageki jadi anak baik seharian ini?" tanyaku pada perempuan berwajah campuran Amerika itu. Sebenarnya aku lebih suka memanggilnya Miss Senju. Semua anak di sekolah ini memanggil semua terapis perempuan dengan panggilan "Miss". Karena sekolah ini sedang dalam tahap menuju standar internasional, jadi tiap anak memanggil terapis atau guru mereka dengan sebutan yang sesuai dengan standar internasional yang berlaku juga.
"Iya. Dia menuruti semua perkataan guru dan terapis. Dia bahkan mau makan sayuran. Iya 'kan, Sageki?" Miss Senju kembali menatap wajah Sageki. Tapi kali ini Sageki tidak bereaksi. Dia terlalu sibuk dengan mainan di tangannya.
"Oh, benarkah? Akhirnya dia mau menyentuh sayurannya?" aku bertanya dengan nada antusias. Sebelum ini Sageki sulit sekali dibujuk untuk makan sayuran. Dia anti-sayuran. Dan hanya tertarik pada yang instan-instan. Aku tahu aku yang salah. Aku tidak membiasakan makan sayuran saat dia masih kecil. Dan sampai sekarang, kebiasaan yang sudah mendarah daging itu sulit sekali untuk dihilangkan.
"Dia bahkan menghabiskan semuanya. Sageki tadi juga memainkan piano dengan baik. Kau ingat? Pi-a-no?" Miss Senju mendekatkan wajahnya sehingga Sageki bisa menatapnya sedang bicara dengannya.
"Piano? Sageki senang," sahutnya sedikit terbata.
Miss Senju tersenyum senang.
"Ahh.. Anak baik. Besok kita bermain piano lagi. Sekarang kau harus pulang. Mamamu sudah menunggumu," Miss Senju berkata sambil menunjukku. Sageki menatapku tanpa ekspresi.
"Mama Sakura?" tanyanya sambil menoleh ke arah Miss Senju.
"Benar. Mama Sakura. Sekarang kau pulang dengan mamamu. Besok kau bermain piano lagi dengan Miss Senju. Kau mau?" Miss Senju mengulurkan tangannya ke arah Sageki. Sageki hanya menatapnya penuh tanya. Lalu dia mengangguk sambil berjalan ke arahku tanpa menoleh ke arah Miss Senju. Perempuan itu hanya tersenyum geli karena Sageki mengabaikan uluran tangannya.
"Anak itu berbakat di bidang musik, Sakura-san. Walaupun belum begitu kelihatan, anak itu lebih cepat mengenal nada dibanding teman-temannya yang lain," kata Miss Senju.
"Oh, benarkah?" tanyaku agak kaget.
"Benar. Makanya aku mencoba mengajarinya bermain piano saat menunggu kedatanganmu tadi. Dan dia kelihatan senang sekali saat melihat piano di ruang musik. Apakah ada piano atau sejenisnya di rumahnya?" tanya Miss Senju.
Aku terdiam sejenak.
"Tidak," jawabku singkat.
"Oh.. Aku rasa dia melihatnya di suatu tempat. Hanya saja, baru kali ini aku melihatnya seantusias itu terhadap sesuatu. Dia kelihatan tertarik sekali dengan piano. Mungkin ayahnya juga suka dengan piano. Karena Sageki tadi langsung berseru 'Papa' dan langsung menghampiri piano itu dengan ceria," cerita Miss Senju sambil menatap Sageki yang berdiri di sampingku sambil memegangi tanganku.
Ada sesuatu yang sangat dingin seperti disiramkan ke dalam perutku saat mendengar itu.
"Mungkin iya," sahutku pelan. Aku tahu ada yang berubah di raut wajahku saat aku mengatakan itu. Dan aku tahu wanita muda keturunan Amerika-Jepang ini menyadari itu, karena Miss Senju langsung menatapku dengan pandangan penuh bersalah.
"Oh, tapi tidak ada salahnya kalau kita mengembangkan bakatnya. Dia cukup cerdas dalam mengenali nada," katanya sambil tersenyum lebar padaku. Aku membalasnya dengan kikuk.
"Iya. Aku akan lebih memperhatikannya. Aku rasa.. Kami harus pamit dulu," kataku.
Miss Senju mengangguk ramah.
Aku menggandeng tangan Sageki untuk meninggalkan gedung sekolah itu. Sageki hanya diam saja sambil mengikutiku. Piano.. Tidak heran kalau Sageki langsung mengenali benda itu. Dia selalu melihat ayahnya memainkan alat itu dulu. Walaupun itu hanya dari jauh. Sageki terlalu biasa mendengar suara piano dan alat musik di rumah kami.. yang dulu tepatnya. Sekarang aku tinggal di daerah pinggiran Tokyo. Di sebuah apartemen sederhana. Awalnya Sageki tidak suka dengan suasana di apartemen itu. Karena itu bukan apartemennya. Bagi anak-anak sepertinya, kebiasaan yang sudah mereka lakukan sejak lama harus terus berlangsung dan saat ada yang membuatnya berubah, itu akan membuat mereka melakukan penolakan. Sageki sangat susah sekali menyesuaikan diri dengan keadaannya yang baru. Dia terus menerus memanggil ayahnya dan bilang ingin pulang. Tapi aku bisa apa? Yang dapat aku lakukan saat itu hanya membantunya dapat menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarnya yang baru. Paling tidak, dia sudah mulai terbiasa dengan apartemen kami yang baru, walaupun itu membutuhkan waktu lebih dari 6 bulan untuk beradaptasi dan emosinya sangat tidak terkendali saat kami baru saja pindah ke tempat itu. Sageki sangat tidak suka dengan perubahan kebiasaan yang mendadak seperti itu. Tapi untungnya, aku bisa mengatasinya dan dia sudah mulai terbiasa dengan semua ini.
"Sageki, kau mau makan apa untuk makan malam?" tanyaku.
Sageki tidak menjawab. Dia malah asik memperhatikan roda mobil-mobil yang sedang melintasi di jalan raya. Dari dulu dia selalu tertarik pada sesuatu yang berputar. Entah ada apa di sana. Tapi tiap ada sesuatu yang berputar di sekitarnya, Sageki akan terus menerus memerhatikannya.
"Mama akan memasakkan sup kentang untukmu. Kau mau 'kan?" tanyaku lagi. Dan Sageki masih tidak melihat ke arahku.
"Mama," panggilnya pelan.
"Ya?" aku menoleh ke arahnya.
"Papa," jawab Sageki kemudian.
"Eh?" aku menatapnya bingung.
"Papa," tunjuknya pada sesuatu di seberang jalan.
Aku mengikuti arah telunjuknya. Sageki sedang menunjuk pada sebuah poster besar yang dipajang di salah satu bagunan outlet baju di seberang jalan. Poster itu menampilkan foto seorang laki-laki memakai baju keluaran terbaru dari brand ternama di Jepang. Poster yang sama yang dipajang di salah satu sudut rumah kami yang dulu. Rumah Sasuke lebih tepatnya. Aku menghela napas pelan. Lalu dengan berat hati menarik tangan Sageki untuk segera pergi dari tempat itu.
Aku tahu anak ini sangat merindukan ayahnya. Tapi aku tidak bisa kembali ke rumah itu lagi. Tidak kalau Sasuke masih menganggap Sageki sebagai pengganggunya.
.
.
.
.
.
.
.
.
[Sasuke Uchiha]
Aku membaca kertas di tanganku ini dengan sedikit berjengit. Kertas berisi lirik lagu ini terasa lima kali lebih berat dari berat sebenarnya. Tulisan dalam huruf kanji Jepang itu bukan masalah untukku. Aku bisa membacanya dengan mudah. Yang membuatku malas sekali adalah kata-kata di dalamnya. "Bisa kau rubah liriknya sedikit?" aku menaruh kertas itu di atas meja dengan sedikit kesal. Suigetsu Hozuki menatapku lelah. Laki-laki itu lalu mengambil kertas itu dengan wajah tidak suka.
"Apa lagi yang harus dirubah?" tanyanya. Suigetsu adalah pencipta lagu terkenal di Jepang. Hampir semua lagu yang dinyanyikan idola Jepang adalah lagu ciptaannya. Beberapa yang menjadi hits maksudku. Dan dia adalah teman SMA-ku. Jadi sudah menjadi hal biasa kalau aku bekerja sama dengannya dalam membuat sebuah lagu. Suigetsu juga yang membantuku menyelesaikan album debutku dulu.
"Lalu apa lagi yang perlu dirubah?" tanyanya bingung.
"Kata-katanya. Kau memasukkan kata 'sakura' terlalu banyak di situ. Fans akan mengiraku seperti orang yang tidak bisa membuat lirik lagu nanti," protesku setengah kesal.
Suigetsu menatapku dengan pandangan heran.
"Memang apa masalahnya? Semua orang memasukkan kata 'sakura' di lagu mereka. Lagipula ini sudah lagu untuk musim semi, wajar kan? Kenapa kau harus mengeluh tentang itu?" kata Suigetsu sambil mengamati kertas di tangannya dengan seksama.
"Tapi itu terlalu banyak. Dan.. lebih baik kau ganti saja liriknya. Beres 'kan?" aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju pintu.
"Kau mau ke mana?" Tanya Suigetsu.
"Mencari udara segar sebentar," jawabku. Suigetsu menatap Sasuke dengan pandangan ingin tahu saat laki-laki itu membuka pintu studio.
"Sasuke Uchiha.. Kau yakin kau baik-baik saja? Kau jadi lebih emosional sejak beberapa bulan terakhir ini," kata Suigetsu. Dia menatapku dengan tatapan penuh tanya. Ada sedikit kekhawatiran dalam pandangannya. Aku tersenyum ke arahnya.
"Jangan khawatir. Aku tidak apa-apa," kataku kemudian.
Suigetsu mengangguk kepadaku dengan sikap kikuk. Lalu dia membelakangiku dan mulai fokus lagi pada pekerjaannya. Aku menarik napas panjang dan segera keluar dari studio itu. Aku masukkan kedua tanganku ke dalam saku celanaku dan berjalan dengan sikap tak acuh. Sebenarnya aku sama sekali tidak acuh. Hanya saja pikiranku tiba-tiba jadi sedikit terganggu. Entah karena aku yang terlalu sentimen atau memang karena lirik lagu tadi yang membuatku sedikit kacau.
Aku membuka sebuah pintu transparan di ujung koridor dan angin musim semi segera menyambutku begitu aku melongokkan kepalaku keluar pintu. Aku melangkahkan kakiku ke balkon dan menyandarkan tubuhku di pembatas tembok dari beton itu sambil melihat pemandangan sekelilingku. Suasana distrik Shibuya di malam hari benar-benar membuktikan kalau kota ini adalah pusat segala jenis kegiatan. Walaupun jam sudah menunjukkan kalau sebentar lagi pergantian hari, tapi masih banyak orang berlalu lalang di jalanan. Suara kendaraan dan percakapan orang-orang yang lewat di jalanan masih terdengar memenuhi kota ini. Aku menghembuskan napas pelan.
Melihat suasana seperti ini membuat perasaanku sedikit nyaman. Setidaknya dapat mengalihkan dari segala kepenatan di dadaku.
Tiba-tiba ponselku berdering pelan di saku celanaku. Aku merogoh sakuku dan segera mengambil ponselku.
"Ahh…" aku mendesah kecewa. Hanya bunyi alarm yang belum sempat aku non-aktifkan. Aku segera mematikannya. Begitu layar ponsel yang menampilkan layar alarm tertutup saat aku menon-aktifkannya, layar ponselku digantikan oleh sebuah gambar seorang perempuan sedang tertawa dengan anak laki-laki berumur tiga tahun. Aku belum sempat untuk menggantinya karena terlalu sibuk. Sebuah pertanyaan tiba-tiba melintas begitu saja dalam benakku.
'Kau memang sengaja tidak menggantinya 'kan?'
Sekali lagi aku membuang napas panjang.
Hampir satu tahun setelah Sakura memutuskan pergi dari rumah. Sampai sekarang sama sekali tidak ada kabar apapun darinya. Sakura sama sekali tidak menghubungiku. Aku juga tidak berusaha untuk menghubunginya. Waktuku terlalu disibukkan dengan pekerjaanku. Aku melakukan banyak tur keluar kota dan ke Jepang beberapa bulan ini, jadi aku tidak sempat untuk memikirkan perasaanku. Tapi saat aku berdiri di atas balkon ini sendirian sambil menatap suasanan malam dari atas sini, rasanya aku jauh sekali dari segala kepenatanku selama ini. Itu artinya aku mau tidak mau harus kembali teringat pada perasaanku sekarang. Benar. Aku terluka, jujur saja. Tapi aku tidak bisa berbuat banyak. Aku tidak bisa mencegahnya. Sekali Sakura sudah membuat keputusan, itu artinya aku tidak bisa melakukan hal lain. Mungkin benar kata Suigetsu, aku terlalu mudah melepaskannya.
Aku akui itu. Aku rela tidak mendengarkan perkataan kedua orangtuaku demi menikahinya. Antara orangtuaku dan orangtuanya tidak setuju saat kami berdua mengatakan keinginan kami berdua untuk menikah. Dengan berbagai macam alasan. Tapi aku bisa mengambil kesimpulan kalau asal usul keluarga Sakura-lah yang jadi alasan kenapa orangtuaku menolaknya. Alasan orangtua Sakura sudah jelas, mereka tidak suka memiliki menantu dari dunia hiburan. Sedangkan orangtuaku, tentu saja karena harga diri. Orangtuaku adalah keluarga terpandang di kota asalku, Konoha. Mereka menginginkan menantu dari keluarga terpandang juga. Sedangkan keluarga Sakura adalah keluarga biasa yang hidup pas-pasan dan bukan keluarga terkenal.
Tapi aku terlanjur jatuh cinta padanya dan tidak menginginkan siapapun untuk kunikahi selain gadis itu. Dan akhirnya, kami menikah dengan restu mereka yang dipaksakan.
Aku belum mengatakan pada orangtuaku tentang perpisahan kami. Mereka akan semakin memojokanku dengan ini. Kami memang belum bercerai. Hanya berpisah. Entah untuk selamanya atau sementara. Dan orang tuaku tidak akan peduli tentang itu. Mereka juga sama sekali tidak menanyakan tentang cucunya. Mereka tidak menyukainya dan itu kelihatan sekali. Aku tahu memang menyakitkan saat melihat orangtua kita sama sekali tidak menaruh simpati sama sekali pada anak kita. Tapi aku tidak bisa mengeluhkan tentang itu. Aku sendiri juga tidak bisa menerima keadaannya. Saat aku mencoba untuk mendekati anak itu dan mencoba membuka hatiku padanya, perilaku agresifnya membuatku kesal untuk berada di dekatnya. Jadi aku tetap menjauhinya dan itu membuat Sakura marah padaku beberapa kali. Dan puncaknya adalah setahun yang lalu. Sampai sekarang aku sama sekali belum mendengar berita tentangnya. Aku harap dia baik-baik saja di suatu tempat.
Tidak ada yang tahu hubungan rahasiaku dengan Sakura kecuali Suigetsu. Rumah tanggaku pun hanya diketahui orang-orang terdekatku saja. Suigetsu sejak awal memang sudah tahu ada yang tidak beres denganku, dia terus menerus menanyaiku sampai akhirnya aku mengatakan yang sebenarnya padanya. Dia satu-satunya orang yang memegang kartu As-ku. Yang artinya, Suigetsu adalah yang paling tahu apa yang sedang terjadi antara aku dan Sakura saat ini.
Pintu di belakangku mengayun terbuka dan kali ini wajah Suigetsu yang muncul.
"Liriknya sudah selesai. Ayo, kita latihan lagi," katanya.
"Hm," sahutku seraya berjalan mengikutinya.
.
.
.
.
.
.
[Sai]
Aku baru saja kembali dari toilet saat aku mendapati ada seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia sekitar 4 tahun sedang duduk di bangku pianoku. Aku mengerutkan kening heran menatap anak laki-laki itu. Siapa dia? Batinku. Setahuku anak-anak TK yang baru saja menjadi peserta paduan suara yang diselenggarakan pusat perbelanjaan ini dalam rangka memperingati datangnya musim semi sudah pulang semua sebelum aku pergi ke toilet. Apa ada salah satu anak yang terlewatkan olehku?
Aku angkat bahu dan mendatangi anak itu. Anak laki-laki itu mempunyai potongan rambut hitam dengan poni pendek menutupi dahinya. Wajahnya menunduk dan kedua tangannya menekan tuts-tuts piano dengan asal.
"Halo," sapaku, mencoba bersikap ramah padanya.
Anak itu sama sekali tidak memberi respon pada kedatangan maupun sapaanku. Padahal aku jelas-jelas ada di sampingnya. Matanya masih terus memperhatikan piano di depannya, sambil tangannya masih memainkan nada dengan asal. Tapi entah kenapa, nada yang dimainkan dengan asal itu tidak terlalu membuat telingaku risih mendengarnya.
"Siapa namamu?" tanyaku lagi. Sekali lagi. Anak itu tetap bergeming. Aku mengerutkan dahi menatapnya. Apa ada yang salah denganku? Anak ini tidak mengalami gangguan pendengaran 'kan?
"Wahh.. Kau sedang memainkan apa?" tanyaku lagi. Kali ini aku jongkok di samping kursi piano dan berada tepat di sampingnya.
"Papa," sebuah suara keluar dari bibir mungilnya.
"Eh? Papa?" tanyaku lagi.
"Papa. Ini," tangan kecilnya bergerak dengan asal di atas tuts-tuts piano.
Aku mengerutkan dahi bingung.
"Kau mencari ayahmu?" tanyaku lagi.
Tapi anak itu tidak menjawab pertanyaanku lagi dan kembali sibuk dengan piano di depannya.
"Sageki. Oh?"
Aku berdiri sambil menoleh ke belakang. Seorang perempuan muda berambut merah muda sebahu berjalan terburu-buru ke arahku. Perempuan muda ini berjalan dengan wajah minta maaf ke arahku.
"Ahh, maafkan saya.. Sageki sudah lancang," katanya seraya membungkukkan badannya ke arahku berkali-kali.
"Oh? Anak ini? Dia keponakanmu?" tanyaku.
Perempuan itu menggeleng.
"Tidak. Bukan. Dia anakku. Maafkan saya kalau dia mengganggu Anda," ujar perempuan itu, seraya menatapku dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Oh, iya. Tidak apa-apa. Anak ini sama sekali tidak menggangguku. Dia mungkin hanya bermain-main di sini," kataku menenangkannya.
"Ahh, maaf," kata perempuan itu lagi. Aku hanya membalasnya dengan anggukan singkat. Perempuan itu lalu segera menghampiri anak laki-laki tadi.
Aku tidak tahu ini hanya perasaanku saja atau bagaimana. Tapi melihat cara perempuan itu berbicara dengan anak itu, rasanya tidak seperti pada umumnya. Dengan lembut dia meraih tangan anak itu dan mengajaknya bicara dekat dengan telinganya. Mengatakan sesuatu yang akhirnya membuat anak itu berhenti bermain dan segera berdiri dari kursi itu. Anak laki-laki itu menggenggam tangan perempuan yang menggandengnya itu dengan erat.
"Sekali lagi saya minta maaf atas kelancangan anak ini. Saya yang lalai karena tidak memperhatikannya tadi," kata perempuan itu, minta maaf sekali lagi.
"Tidak apa-apa, Nona. Kau tenang saja," ujarku akhirnya, dengan senyuman ramah.
"Sageki, ucapkan terima kasih pada paman ini," kata perempuan itu, menatap anak laki-laki itu. Tapi anak itu sama sekali tidak menatapnya dan malah memperhatikan sekelilingnya.
Perempuan itu kembali menatapku sambil tersenyum kikuk.
"Anak ini.. Mohon Anda memaafkannya. Dia.. agak berbeda dari anak-anak lainnya," katanya. Aku mengangguk mengerti.
"Baiklah. Jangan khawatir," sahutku kemudian.
Perempuan itu lalu undur diri dan menggandeng tangan anak itu. Masih dengan tangan yang menggenggam tangan ibunya, anak itu kembali menoleh ke belakangnya. Awalnya, dia hanya menatapku, tapi hanya sekilas. Lalu pandangannya jatuh pada piano di belakangku. Dia menatap piano itu lama sekali sebelum akhirnya mereka berbelok dan menghilang dari pandanganku. Aku angkat bahu sambil membereskan barang-barangku. Setelah ini aku harus mengunjungi TK inklusi yang berada di bawah yayasan yang sama dengan SMA tempatku bekerja saat ini. Mereka memintaku untuk mengajarkan musik di sana untuk sementara karena guru mereka sedang cuti melahirkan.
Aku segera meninggalkan tempat itu.
.
.
.
.
.
.
[Sasuke Uchiha]
"Kenapa kita berhenti di sini?" tanyaku pada Suigetsu. Aku menatap keluar jendela mobil yang baru saja diparkirkan Suigetsu di tepi jalanan pusat kota ini. Suigetsu mematikan mesin mobilnya.
"Aku ingin membeli sesuatu. Kau tunggu saja di mobil," katanya. Dia membuka pintu mobil dan berjalan keluar dan menghilang di antara pedagang kaki lima dan para pembeli yang memenuhi pinggiran jalan itu. Aku membuka jendela mobilnya sedikit. Di malam hari seperti ini tidak akan ada yang peduli aku idol atau bukan, apalagi di tempat seramai ini. Lagipula, kebanyakan orang yang ada di sini adalah laki-laki atau perempuan paruh baya. Mereka tidak akan mengenalku.
Aku mengedarkan pandang di sepanjang jalanan itu. Banyak toko yang menjual berbagai barang murah dan dijual secara grosir. Aku tersenyum kecut.
Aku pernah ke tempat ini.. Beberapa tahun yang lalu. Karena seseorang memaksaku untuk datang ke sini musim dingin lima tahun yang lalu.
*Flasback*
"Kau mau ke mana?" aku bertanya dengan agak kesal kepada Sakura yang sudah berjalan mendahuluiku dengan langkah terburu itu. Gadis itu berbalik dan menatapku dengan tak sabar.
"Kenapa jalanmu lambat sekali? Aku bisa kehabisan nanti. Ini hari terakhir diskon di tempat itu," sahut Sakura. Dia kembali berbalik dan berjalan mendahuluiku. Aku terpaksa memakai masker di wajahku karena udara sangat dingin dan aku sedang agak flu. Lagipula kalau aku tidak memakai masker, akan jadi bahaya nanti kalau sampai aku masuk ke pemberitaan gosip murahan yang sering membuat para artis turun pamor itu.
"Apa? Diskon apa? Jadi kau jauh-jauh ke sini hanya untuk memburu diskon? Yang benar saja!" aku menggerutu kesal. Sakura kembali menoleh dan melihat ke arahku.
"Bukankah kau yang bilang malam ini aku boleh memintamu mengantarkanku ke mana saja?" tanyanya. Wajahnya agak tidak suka.
"Benar, tapi.. Kau mau membeli apa, sih?" tanyaku penasaran.
Sakura menghela napas pelan.
"Bukan level-mu. Makanya tadi aku bilang, kau tunggu saja di mobil. Kenapa kau malah mengikutiku ke sini? Lagipula, flu-mu akan tambah parah nanti," omelnya.
"Lalu aku akan membiarkanmu berjalan sendirian malam-malam begini? Banyak laki-laki di sana. Apa jadinya kalau perempuan berjalan malam-malam sendirian di tengah-tengah laki-laki sebanyak itu?" aku balas berkata kepadanya. Sakura kembali menghela napas.
"Kau terlalu khawatir. Ada beberapa barang yang ingin aku beli di sana. Hari ini diskon hari terakhir, jadi aku tidak boleh melewatkannya," kata Sakura. Dia sudah berbalik dan akan kembali berjalan mendahuluiku tapi aku segera menarik tangannya dan membawanya kembali ke mobil yang terparkir tak jauh dari tempat kami berdiri.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" Sakura bertanya dengan nada protes.
"Banyak orang di sana," jawabku singkat dan segera memaksanya masuk mobil sebelum aku sendiri masuk dan duduk di jok depan.
"Namanya juga pasar, tentu saja ramai. Kau tunggu di sini sebentar. Aku akan kembali dalam beberapa menit," kata Sakura, masih keras kepala. Gadis ini benar-benar..
"Aku akan membelikanmu yang lebih mahal dari yang ada di sana. Jadi, kita pulang," kataku, tanpa menoleh ke arahnya.
"Sasuke-kun.. Kau ingat dengan apa yang kita bicarakan dulu? Hubungan ini bukan tentang materi. Bukan hanya sekedar materi 'kan? Aku tahu kau bisa membeli apapun yang kau mau. Tapi kau tahu aku. Itu bukan duniaku. Aku ada di sini sekarang. Dan inilah duniaku," aku mendengar Sakura berkata pelan di sampingku. Aku tidak berbicara untuk beberapa saat dan sibuk menyalakan mesin mobilku.
"Suatu saat kau juga akan ada di dunia yang sama denganku, kalau kau sudah menikah denganku," kataku pelan, masih tidak menoleh ke arahnya.
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara di antara kami, hanya terdengar deru mesin di tengah keheningan yang ganjil ini. Ini pertama kalinya aku membicarakan tentang pernikahan dengannya. Jadi wajar saja kalau Sakura pasti kaget mendengar ini.
"Apa kau pikir aku akan benar-benar menikah denganmu?" suara Sakura memecah keheningan yang ganjil ini, di samping deru mesin yang masih menyala. Aku segera mematikannya. Dan keheningan yang aneh kembali menyergap kami.
Aku menoleh ke arahnya.
"Apa kau tidak berpikir begitu?" tanyaku.
Sakura hanya angkat bahu sambil tersenyum geli.
"Entahlah, aku tidak pernah berpikir ke arah itu. Kau tidak pernah bilang akan menikah dengan perempuan sepertiku di setiap wawancaramu dengan beberapa media. Kau selalu bilang ke media kalau kau paling suka dengan perempuan berambut panjang yang feminim, suka berdandan, dan pintar memasak. Dan kau tahu.. Aku sama sekali tidak termasuk kriteriamu," Sakura tersenyum geli sendiri, tapi dia tidak menatapku.
"Jadi kau pikir selama ini aku menganggap ini semua main-main?" tanyaku, dengan nada yang luar biasa serius. Aku tidak tahu kenapa aku melakukan ini. Yang aku tahu, aku hanya ingin gadis itu tahu apa yang aku rasakan saat ini.
"Aku tidak tahu. Yang aku tahu.. Kau sangat menyukai perempuan yang feminim dan berambut panjang. Itu saja. Makanya aku tidak pernah menuntut lebih darimu. Aku pikir kau hanya mengisi waktu luang sampai kau menemukan gadis yang kau cari itu," sahut Sakura. Dia menyandarkan punggungnya di jok tanpa menatapku sama sekali. Walau kelihatannya dia mengatakan hal itu sambil lalu, aku tahu dia sedang menyembunyikan sesuatu dalam dirinya. Karena sedari tadi dia sama sekali tidak menatapku dan malah asik dengan ponselnya.
Aku menghela napas keras.
"Aku memang menyukai perempuan seperti itu. Feminim, berambut panjang, cantik dan suka berdandan. Oh.. Dan juga dewasa. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau pada kenyataannya aku sama sekali tidak bisa berpaling dari gadis keras kepala, tidak feminim, suka mengomel dan masakannya tidak enak seperti ini?" kataku, seraya menghadap ke depan, menyandarkan kepalaku dengan lelah ke jok dan berpura-pura frustasi.
Kali ini Sakura menoleh ke arahku dan menatapku dengan tatapan penuh tanya.
"Siapa maksudmu gadis keras kepala dan suka mengomel itu?" tanyanya setengah kesal.
Aku menoleh ke arahnya, menyandarkan tanganku ke sandaran jok perempuan itu sampai wajahku berjarak beberapa senti darinya dan menatapnya lekat. Aku tahu Sakura akan selalu salah tingkah kalau aku mulai melakukannya dengan seperti ini. Dia segera memalingkan pandangannya dariku dan mulai menyibukkan melihat ke arah lain.
"Apa ada gadis lain seperti itu yang bisa membuatku tidak habis pikir memikirkannya? Gadis yang ceroboh dan selalu telat saat janjian. Mana ada perempuan feminim yang bisa seperti itu di dunia ini? Dan aku tidak percaya kalau aku sama sekali tidak bisa berpaling dari gadis seperti itu. Kau harus berubah saat kita menikah dan punya anak nanti," kataku panjang lebar. Masih belum beranjak dari posisiku.
Sakura segera menoleh ke arahku dengan kaget.
"Ap-apa?" dia menatapku kaget. Walaupun dalam suasana gelap seperti ini, aku bisa melihat wajahnya merona merah.
Aku melepas maskerku dan masih menatapnya.
"Apa kau tidak mendengarku? Sakura.. Menikahlah denganku," kataku lembut.
Sakura mengerjap sekali dan kembali mengalihkan pandangannya dariku.
"Apa yang kau bicarakan di tempat seperti ini? Kau mabuk?" tanyanya.
Aku tidak menjawab. Aku meraih wajahnya dan dengan lembut memaksanya untuk melihat ke arahku. Kami bertatapan satu sama lain untuk beberapa saat. Walaupun selama ini Sakura selalu bertingkah seolah sama sekali tidak peduli padaku, tapi saat melihat ke dalam mata hijaunya yang menatapku penuh damba ini, aku tahu dia juga mencintaiku.
Aku tahu Sakura tidak seseksi perempuan-perempuan yang ada di duniaku dan sering berkeliaran di sekelilingku. Aku sering mengamatinya diam-diam. Seluruh tubuhnya. Dan bertanya-tanya sendiri, apa yang menarik dari perempuan ini? Mungkin aku sudah gila. Tapi inilah aku. Aku mencintainya. Mencintai gadis ini. Apa yang dilakukannya, keras kepalanya. Dan ... Aku menelan ludah. Aku melihat bibirnya yang hanya dipoles dengan pemerah bibir warna pink itu. Aku sama sekali belum pernah menyentuhnya selama satu tahun kami berpacaran. Tidak ada salahnya kalau malam ini adalah ciuman pertama kami 'kan? Pada akhirnya..
Aku mendekatkan wajahku pada wajah gadis itu.
*Flashback Ends*
Aku merasakan sesuatu yang dingin mengenai pipiku dengan tiba-tiba dan itu membuatku terlonjak kaget. Seseorang sudah berdiri di luar mobilku dan memegang dua kaleng soju sambil tersenyum ke arahku.
"Kenapa melamun sendirian?" Suigetsu muncul dengan wajah ceria di samping mobilku.
"Kau mengagetkanku!" aku menghela napas lega. Aku benar-benar kaget beberapa saat tadi.
Suigetsu masuk ke dalam mobil sambil membawa beberapa kantong plastik dan bau bumbu bakar mulai memenuhi mobil ini.
Mesin mobil dinyalakan beberapa saat kemudian sebelum akhirnya mobil itu kembali membelah jalanan. Aku melihat beberapa orang masih berlalu lalang dalam kepadatan malam kota ini. Banyak orang baru saja pulang dari tempat kerjanya dan berjalan dengan malas-malas di pinggiran jalan. Banyak toko-toko yang masih buka dan beberapa remaja berjalan bergerombol di sisi jalan. Aku sedang asik menikmati pemandangan itu saat mataku menatap sosok tak asing yang sedang berjalan sendirian dengan langkah sayu.
Aku sangat mengenal sosok itu. Sakura!
Aku menegakkan tubuhku dengan sikap hati-hati dan melihat ke arah Sakura yang sedang berjalan seorang diri di trotoar jalan yang sepi itu. Aku merasa Suigetsu juga sedang memelankan laju mobil yang kami tumpangi. Dia menatap ke arahku sekilas dengan penuh tanya.
Aku menggeleng pelan.
"Terus saja," kataku kemudian.
Suigetsu tidak mengucapkan apa-apa dan kembali melajukan mobilnya.
Aku kembali menyadarkan tubuhku pada jok dan menghela napas pelan. Apa yang dilakukannya di jalanan selarut ini? Apa dia baru saja pulang kerja? Wajahnya lebih tirus dibanding terakhir kali aku melihatnya. Ini pertama kali aku melihatnya sejak setahun yang lalu kami memutuskan untuk berpisah.
Aku menahan diri dengan keinginanku untuk menghentikan mobil dan menghampirinya. Pertama, ada banyak orang di sekitarnya. Kedua.. Sakura sendiri yang memutuskan untuk pergi dariku. Aku tidak akan memaksanya pulang kalau dia sendiri tidak mau pulang. Aku tahu Sakura. Dia tetap akan bersikeras pada keputusannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
A/N: Hmmmm *ngusap2 dagu* Jadi, postingan yang sebelumnya yang tentang unek2 tentang Naruto Gaiden itu sudah saya hapus karena ada yang bilang itu melanggar aturan FFN. Yah, saya emang sukanya ngelanggar aturan, sih. Tapi ya sudah, deh. Saya kan masih junior di sini. Ikut kata tetua saja.
Dan kemarin juga ada yang bilang saya kesannya kayak penulis sombong yang sukanya update cerita tapi fic lama gak pernah diupdate. Duh! *garuk2 pantat* Saya gak bilang kalo fic2 itu gak bakal saya lanjut. Cuma namanya juga otak manusia, kadang ada batasnya kan? Nah, kalo udah mentok mau diapain lagi. Saya nulis fic ini juga cuma buat iseng2an doang. Gak ada niat sombong2an. Hmmm, ya sudahlah. Saya terima semua kritik dan saran dan flamer juga boleh deh (paling langsung hapus kalau yng ini mah).Ya sudah, saya minta maaf kalau terkesan sombong, ya? :)
Makasih atas segala bentuk perhatiannya.
Untuk kotak review, yang berhubungan ama ceritanya aja, yaaa...
