[Sai]
Aku melihat anak kecil yang aku temui beberapa hari lalu di departemen store itu sedang duduk di antara anak-anak kecil lain di dalam kelas itu. Anak kecil itu masih seperti beberapa hari yang lalu saat aku bertemu dengannya di pusat perbelanjaan itu. Masih sibuk dengan dunianya sendiri, seolah orang-orang di sekitarnya ini hanyalah bagian dari dunia di luar dirinya. Ya, begitulah yang aku lihat darinya. Walaupun bukan hanya satu dua orang yang berperilaku sama dengan anak ini. Di sini adalah sekolah inklusi. Jadi kalau aku bertemu dengan beberapa anak dengan tingkah laku yang agak tidak biasa dari perilaku umum seorang anak, mungkin memang aku harus memakluminya.
"Ah, maaf. Anda harus lama menunggu. Mari masuk," seorang perempuan berambut pirang panjang mengenakan seragam guru sekolah ini muncul di sampingku. Dia lalu masuk ke kelas itu mendahuluiku sebelum aku menyusulnya. Aku tidak mengenal perempuan ini sebelumnya. Hanya saja aku tahu nama perempuan ini adalah Tsunade Senju. Dia tadi mengatakannya begitu.
"Anak-anak.. Hari ini ada guru baru untuk kalian. Dia yang akan mengajarkan musik untuk sementara pada kalian sementara Miss Kurenai sedang beristirahat di rumah untuk beberapa waktu. Kalian mengerti? Nah. Ini dia, guru baru kita. Shimura sensei," Miss Senju memanggil namaku, yang artinya itu aku harus segera berdiri di sampingnya agar anak-anak di kelas itu dapat melihatku.
"Halo, anak-anak," kataku memperkenalkan diri pada anak-anak itu. Aku tersenyum geli saat mendengar balasan salam serentak dari anak-anak di kelas itu. Kecuali beberapa anak yang hanya diam saja menatapku tanpa minat, termasuk anak kecil di pusat perbelanjaan itu.
"Semua sudah memberi salam padanya? Sageki? Ayo, beri salam pada Shimura-sensei," Miss Senju berjalan di tengah anak-anak di kelas itu, dan dia berhenti di meja anak yang aku temui di pusat perbelanjaan itu.
Aku melihat anak laki-laki itu hanya melihatku dengan tatapan kosong dan wajah tanpa ekspresi. Dan dengan gerakan kecil dan tidak kentara, anak itu menganggukkan kepalanya sedikit kepadaku. Aku tersenyum ke arahnya.
"Nah, anak-anak. Apa kalian senang dengan Shimura-sensei? Dia guru yang baik. Dia juga akan mengajarkan kalian beberapa alat musik nanti. Siapa yang mau belajar alat musik dengannya, angkat tangan sekarang," Miss Senju masih berjalan mengelilingi kelas dan mengangkat tangannya untuk memberi semangat pada anak-anak itu. Aku melihat beberapa anak mulai mengangkat tangannya dan melihatku dengan antusias.
"Wahh.. Banyak yang berminat. Well done! Kalau begitu, mulai hari ini dan beberapa bulan ke depan sementara Miss Kurenai istirahat, kalian akan diajar oleh Shimura-sensei," ujar Miss Senju. Sekarang dia sudah ada di depan kelas dan berdiri di sampingku.
Aku mendengar sorakan antusias anak-anak di kelas itu. Beberapa di antara mereka berbicara dengan teman-temannya dan ada yang asik dengan mainannya yang ada di mejanya.
"Anak-anak di sini tidak terlalu sulit diatur. Yah. Mungkin ada beberapa yang membutuhkan penanganan khusus. Tapi ada terapis yang mendampingi mereka. Anda tidak perlu khawatir. Mereka anak-anak yang mudah diatur," Miss Senju berbicara pelan padaku.
Aku mengangguk mengerti seraya tersenyum ke arahnya.
"Baiklah. Shimura-san, saya serahkan semua pada Anda sekarang," Miss Senju mempersilakanku maju lebih ke depan.
Aku menarik napas sesaat. Aku sebenarnya tidak begitu yakin bisa menangani anak-anak ini. Apalagi ini adalah sekolah inklusi, di mana murid-murid di sini terdiri dari anak-anak normal dan anak-anak berkebutuhan khusus yang ditempatkan di kelas yang sama. Aku belum pernah berhubungan dengan anak-anak berkebutuhan khusus sebelum ini. Tapi aku terlanjur menyetujui kontrak untuk menggantikan guru musik mereka yang sedang cuti melahirkan. Dan aku tidak yakin dengan keputusanku itu sekarang, setelah aku melihat kondisi anak-anak dan suasana kelas yang ada di sini. Walaupun Miss Senju berkali-kali meyakinkanku kalau dia akan membantuku menangani anak-anak saat pelajaranku, tapi aku tetap tidak yakin dengan kemampuanku. Masalahnya.. Aku agak kaku kalau berhadapan dengan anak-anak. Dan juga, aku tidak bisa berbahasa Inggris. Sedangkan sekolah ini saat ini sedang membuat wacana mengarah ke standar internasional. Itu artinya, anak-anak di sini sudah dibiasakan berbicara bahasa Inggris. Dan itu juga artinya, neraka bagiku. Aku sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris, jujur saja. Tapi mungkin benar kata beberapa orang. Ini adalah tantanganku. Baiklah.
.
.
.
.
.
[Sasuke Uchiha]
"Jangan terlalu bersedih seperti itu," ujar Suigetsu di sampingku. Aku melihatnya sedang menenggak sebotol sake di tangannya. Aku menghela napas panjang.
"Aku tidak sedih. Aku hanya sedikit tidak suka saja. Menyebalkan, kau tahu?" keluhku pada Suigetsu. Aku juga ikut menenggak botol sojuku dengan cepat. Beberapa tegukan sekaligus sampai isi botol itu tinggal setengahnya.
"Kau harus belajar menerima kekalahan. Tidak selamanya kau harus selalu berada di atas kan?" kata Suigetsu, dia kemudian melahap satu iris pizza di atas meja.
Aku kembali menghela napas dan meneguk botol sakeku lagi.
"Jangan terlalu banyak minum. Akan repot nanti," kata Suigetsu dengan mulut dipenuhi makanan.
Aku menatapnya lelah.
"Lagipula kau ini aneh sekali. Kenapa kau menyetujui begitu saja ajakan kencan gila ini? Yang benar saja! Hanya karena dia bilang 'kau boleh makan apa saja dengan gratis nanti', bukan berarti kau mengorbankan sahabatmu ini," omelku kesal. Tapi Suigetsu masih melanjutkan makan dan hanya melihatku dengan sikap acuh. Hah, laki-laki ini benar-benar..
"Kau tenang saja. Dia tidak akan macam-macam. Tidak akan ada yang melihat kita karena ini adalah ruangan private 'kan? Restoran di sini bagus juga, ya? Enak sekali makanannya. Kenapa kau hanya diam saja? Tenang saja, wanita itu bilang dia akan membayar semuanya," kata Suigetsu. Aku mengeryitkan dahi menatapnya. Laki-laki ini akan berubah jadi dewasa di saat-saat yang tepat, tapi akan jadi sangat kekanakan kalau sudah berhadapan dengan banyak makanan seperti ini. Aku iri padanya. Sebanyak apapun dia makan, dia tidak pernah menjadi gemuk.
"Aku sedang tidak enak makan," sahutku, aku meneguk botol sakeku sampai habis.
"Aku mengajakmu ke sini karena sepertinya kau agak aneh akhir-akhir ini. Kau jadi sering diam dan melamun. Apa kau memikirkan albummu? Jangan terlalu dipikirkan. Menang bukan yang utama 'kan? Yang penting fansmu masih setia," ujar Suigetsu panjang lebar.
Aku tidak menanggapi kata-kata Suigetsu dan membuka botol lain yang ada di meja saat ada dua orang perempuan menghampiri meja kami. Aku mendongak untuk melihat siapa yang datang. Sudah pasti aku mengenali salah satu perempuan yang sedang melihatku dengan antusias itu, Karin, stylish-ku. Dan satu lagi perempuan berparas cantik dengan rambut pirang panjang yang dibiarkan tergerai melewati bahunya berjalan dengan anggun di belakang mereka berdua. Aku tidak mengenalnya. Tapi dari pakaiannya, sepertinya dia dari keluarga terpandang. Gaun dan rok selututnya yang berwarna krem kelihatan menyatu dengan ruangan ini. Aku akui, untuk sesaat aku memang agak terpesona saat perempuan itu tersenyum ke arah kami. Dia benar-benar cantik.
"Ah, maaf. Sudah lama menunggu?" tanya Karin. Dia langsung mengambil tempat duduk di samping Suigetsu yang masih asik dengan makanannya.
"Tidak begitu. Silakan duduk. Oh, bukankah ini adalah anak dari pemilik resto ternama ini? Yamanaka Ino? Yang juga idola baru itu kan?" Suigetsu meletakkan makanannya dan menatap perempuan cantik yang kini duduk di sebelah Karin. Perempuan itu balas tersenyum ke arahnya.
"Iya. Kebetulan dia adalah teman satu angkatanku di universitas. Dan kami lumayan dekat karena rumah kami dulu juga hanya berjarak beberapa meter. Kalian sudah memesan sesuatu?" Karin mengerling ke arahku.
"Kami baru memesan makanan pembuka saja. Kami menunggu kalian," jawab Suigetsu. Entah kenapa suasananya jadi sekaku ini.
"Aku akan memesankan sesuatu untuk kalian. Khusus untuk malam ini, aku yang akan mentraktir di sini. Sebagai ucapan perkenalanku dan juga ucapan terima kasih sudah mau berkunjung ke sini. Menu khas di sini adalah makanan Eropa yang dikolaborasikan dengan cita rasa Korea. Aku sudah memesankannya untuk kalian saat Karin bilang sedang dalam perjalanan ke sini tadi. Jadi tinggal menunggu beberapa waktu saja," terang perempuan bernama Yamanaka Ino itu dengan suara tegas dan senyum manis di wajahnya.
"Oh, ya ampun. Kau tidak seharusnya serepot itu. Aku sudah bilang pada mereka akan mentraktir mereka malam ini," kata Karin ke arah Ino.
"Tidak apa-apa, Karin. Anggap saja ini sebagai salam perkenalan," sahut perempuan itu.
"Ah, baiklah. Kalau begitu, aku akan memperkenalkan mereka padamu. Kau sudah sering melihat laki-laki ini mungkin," Karin menunjuk ke arahku.
"Tentu saja. Hampir semua perempuan di Jepang tahu siapa dia. Sasuke Uchiha. Senang berkenalan denganmu," Ino mengangguk ke arahku. Aku balas tersenyum dan mengangguk ke arahnya.
"Aku Suigetsu. Tidak terlalu terkenal, sih. Tapi lagu-lagu Sasuke sebagian besar adalah ciptaanku," kata Suigetsu memperkenalkan diri. Dan kata-katanya itu membuat Ino tersenyum geli. Dia melakukan hal yang sama seperti yang sudah dilakukan padaku sebelumnya. Membungkuk sambil tersenyum manis.
"Kalian sudah menghabiskan berapa botol sake tadi?" tanya Karin sambil menatap botol sake kosong di atas meja.
"Sasuke sudah menghabiskan dua botol. Hampir maksudku," sahut Suigetsu.
"Kalian memang dekat satu sama lain saat di agensi atau memang sudah sedekat ini sebelum masuk dalam satu agensi yang sama?" tanyanya.
"Kami dekat karena kami berada di satu agensi yang sama. Kebetulan, aku adalah stylist Sasuke," jawab Karin.
"Ah, aku mengerti."
Aku melihat dua orang berpakaian pelayan restoran ini berjalan ke meja kami dengan membawa troli berisi nampan dan minuman.
"Maaf, sudah membuat Anda menunggu. Pesanannya," ujar salah satu pelayan yang di depan. Sementara pelayan yang bertugas mendorong troli tampaknya masih malu-malu karena dia hanya menunduk sambil mengambil nampan di atas troli tanpa mendongakkan kepalanya ke arah kami. Ya, mungkin dia masih karyawan baru.
Setelah menyajikan makanan di meja kami, dua pelayan itu undur diri. Entah perasaanku saja atau bagaimana, tapi pelayan yang satunya sepertinya ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini. Mataku terus menatap pelayan itu sampai dia benar-benar menghilang dari pandanganku. Apa hanya perasaanku saja? Tapi hanya ada satu orang di dunia ini yang mempunyai warna rambut seperti itu.
"Sasuke, kau melamun lagi," Suigetsu menepuk bahuku dan membuatku sedikit terlonjak. Karin dan Ino ikut menatapku dengan tatapan heran.
"Ah, tidak apa-apa," elakku seraya kembali meneguk sakeku dengan buru-buru.
.
.
.
.
.
[Sakura Haruno]
Aku segera meletakkan troli makanan tadi di tempatnya dan berdiam diri sebentar untuk menata perasaanku. Apa yang baru saja aku lihat tadi? Aku tidak salah lihat. Dan seharusnya aku memang tidak perlu sekaget ini. Aku tahu akan bertemu dengan orang itu di mana saja. Karena ini Jepang. Semua orang bisa berada di tempat mana pun yang dia suka. Tidak masalah Sasuke akan berada di sini atau di mana pun. Yah, tapi aku cukup kaget juga melihatnya di sini.
"Sakura? Kenapa kau kelihatan buru-buru sekali tadi?" seseorang menepuk bahuku lembut. Aku agak terlonjak dan menoleh ke belakang. Rekanku, Matsuri, menatapku dengan tatapan bingung.
"Kau mengangetkanku. Perutku sakit sekali tadi. Tapi sesampai di sini sudah baik lagi," elakku. Aku menghela napas panjang.
"Aku kira kau jadi nervous. Aku nervous sekali tadi. Kau tahu 'kan siapa tadi? Sasuke Uchiha. Idol terkenal itu. Aku fansnya sejak dulu, kau tahu? Aku tidak menyangka akan bertemu langsung dengannya di sini. Ya ampun. Kau tidak senang? Oh, aku rasa kau malah justru tidak tahu siapa tadi," kata Matsuri panjang lebar.
Aku hanya tersenyum datar.
"Aku tidak melihatnya. Aku terlalu fokus dengan sakit perutku," sahutku kemudian.
"Hah~! Kau ini benar-benar. Aku curiga kau bahkan tidak tahu perkembangan artis-artis jaman sekarang. Ayolah, Sakura. Sebagai seorang yang masih muda, kau terlalu ketinggalan jaman untuk hal-hal seperti ini," Matsuri menatapku dengan tatapan tak percaya. Aku hanya angkat bahu seraya tersenyum kikuk. Kau hanya tidak tahu saja, batinku.
"Tepatnya, aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu lagi," jawabku. Aku mendengar ponselku berdering di saku celanaku.
Aku mengeluarkannya dan membaca nama yang tertera di layar ponselku. Ahh, dari tetangga sebelah apartemenku. Perempuan setengah baya yang mau baik hati menjaga Sageki saat aku bekerja di resto ini. Dia sudah aku anggap seperti nenek untuk Sageki. Nyonya Okada yang baik hati itu sendiri yang menawarkan untuk menjaga Sageki saat aku bekerja karena dia bilang Sageki anak yang manis sekali. Yah, setelah dia melewati beberapa tahapan terapi yang melelahkan selama setahun ini, anak itu memang berubah jadi anak manis yang menggemaskan. Walaupun dia masih terlalu asik dengan dunianya sendiri. Nyonya Okada juga bilang, Sageki sama seperti cucunya yang sekarang ada di Korea karena anaknya bertugas di sebuah perusahaan di Korea.
"Ada apa, Sakura?" tanya Matsuri mengagetkanku.
"Oh, aku rasa aku harus segera pulang setelah ini," jawabku seraya menutup ponselku.
"Kenapa kau selalu terburu-buru pulang? Kau tidak pernah ikut pergi dengan kita? Setidaknya pergi minum sekali-sekali," kata Matsuri.
"Akan aku pertimbangkan ajakan kalian kapan-kapan. Saat aku ada waktu luang. Besok pagi aku harus bekerja di tempat lain," ujarku.
Matsuri terdiam dan menatapku untuk beberapa saat.
"Kau seperti orang yang sedang dikejar deadline, ya? Bekerja siang malam tanpa henti begitu. Kau perlu istirahat sekali-sekali, Sakura. Kau akan kelihatan tua lebih cepat kalau bekerja tanpa henti seperti itu terus. Lihat lingkaran hitam di sekeliling matamu itu," Matsuri menunjuk ke arah mataku.
Aku menghela napas panjang.
"Kalau aku punya waktu luang, aku pasti akan melakukannya. Aku akan pergi ke suatu tempat. Pantai mungkin," kataku. Matsuri tersenyum menatapku.
"Nah, kau harus merencanakan itu dari sekarang," katanya.
"Aku harus pergi ke toilet dulu," aku menepuk bahu Matsuri sebelum akhirnya berjalan dengan terburu ke arah toilet. Aku sedang tidak ingin banyak bicara dengan siapapun saat ini. Aku sedang lelah sekali dan ingin segera merebahkan tubuhku di atas tempat tidur yang empuk. Yah, untuk beberapa jam lagi. Aku menghela napas lelah. Ada yang sedang memberatkan perasaanku saat ini. Aku berada di satu ruangan dengan Sasuke dan itu benar-benar membuat perasaanku tidak nyaman. Aku sudah tidak pernah membahas tentang laki-laki itu sejak aku pergi meninggalkan rumahnya, kecuali kalau Sageki menanyakannya. Itu pun hanya sesekali. Yah, aku sudah terbiasa hidup tanpanya. Agak egois memang. Tapi bukankah laki-laki itu sendiri sama sekali tidak mencoba untuk menghubungiku kalau dia memang menginginkanku untuk kembali ke sana? Buktinya, sampai sekarang pun dia tidak menanyakanku atau bahkan memberiku kabar.
Aku menghela napas panjang sambil mengusap wajahku lelah.
.
.
.
.
.
[Sai]
Aku meletakkan gitarku di atas kursi di sampingku, untuk kemudian beralih ke layar komputer yang masih menyala di atas meja kerjaku. Aku melanjutkan mengerjakan nada lagu yang sudah hampir setengah jadi. Aku mengerjakan proyekku ini sejak semalam dan baru dapat setengahnya saja. Padahal pihak sekolah meminta lagu instrumen ini sudah harus jadi nanti siang. Seharusnya aku mengerjakan sejak beberapa hari yang lalu, tapi baru bisa aku kerjakan semalam karena beberapa hari ini aku terlalu disibukkan dengan pekerjaanku. Mengajar di SMA, sekolah inklusi itu dan juga harus bolak-balik dari Tokyo ke sekolah privat musik milik salah satu sahabatku di Shinjuku. Masih ada satu lagu yang harusnya aku kerjakan, permintaan seorang teman. Hari ini dia bilang akan ke sini untuk menagihnya. Ahh, anak itu urusan mudah. Lagipula dia sedang tidak ada jadwal mendesak sepertiku.
Aku selesai mengedit lagu instrumen yang sudah setengahnya tersimpan di komputerku. Lalu aku mengulanginya lagi dan mendengarkannya dengan seksama untuk meneliti apakah aku melakukan kesalahan. Ahh, sepertinya sudah seperti yang diharapkan. Tinggal mengerjakan beberapa nada lagi.
Sebuah ketukan halus terdengar dari luar ruang kerjaku.
"Masuk," sahutku tanpa menoleh sedikitpun dari layar komputerku.
Dari sudut mataku, aku bisa melihat seseorang masuk dan berjalan ke arahku.
"Yo, man! Kau sudah menyelesaikan lagunya?" seseorang duduk di kursi yang ada di sampingku. Aku masih tidak menoleh ke arahnya. Dari rambut putihnya yang mencolok itu aku tahu siapa orang yang kini duduk di sampingku dengan sikap seenaknya itu. Dia adalah temanku di universitas dulu, sama-sama mengambil jurusan seni musik. Bedanya, sekarang dia bekerja di ranah hiburan.
"Yep. Seperti yang kau minta," sahutku.
"Kau masih tak acuh seperti biasanya, ya?" tanya Suigetsu.
"Aku dikejar deadline, seperti biasa," jawabku.
"Kau akhirnya jadi guru musik yang hebat, kalau aku lihat," puji Suigetsu.
"Tidak sebanding dengan pencipta lagu-lagu hits di kalangan idol," aku menimpali.
Suigetsu hanya tertawa pelan.
"Omong-omong, aku harus mentraktirmu apa? Aku tidak tahu kenapa kau tiba-tiba mau menyerahkan hasil kerjamu ini dengan sukarela padaku," kata Suigetsu.
Aku terdiam untuk beberapa saat. Aku bahkan sudah tidak fokus lagi pada pekerjaan yang dari tadi aku pandangi.
"Karena lagu itu sudah tidak berguna lagi untukku," jawabku kemudian.
"Cih. Salah siapa kau menyia-nyiakan kesempatan itu? Kalau aku jadi kau, aku tidak akan melepaskan gadis itu begitu saja. Dasar. Kenapa para laki-laki di sekitarku bertindak aneh semua?" kata Suigetsu.
Kalimat terakhirnya itu membuatku mau tidak mau menghentikkan pekerjaan dan menoleh ke arahnya dengan dahi berkerut.
"Apa maksudmu?" tanyaku bingung.
Suigetsu hanya angkat bahu.
"Yah, terimakasih untuk ini, ya?" katanya kemudian seraya menepuk bahuku dan berjalan menuju pintu keluar.
Aku bergeming untuk beberapa saat sebelum akhirnya kembali meneruskan pekerjaanku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[Sakura]
Aku baru saja sampai di halaman restoran pukul delapan malam setelah mengantarkan pesanan ke sebuah acara pesta ulang tahun di Chiyoda bersama lima rekanku. Matsuri salah satunya. Dan agak terperanjat saat melihat sebuah mobil yang aku kenal terparkir di antara mobil-mobil mewah lainnya di halaman resto itu. Aku yakin, tidak hanya satu orang saja yang punya mobil seperti itu. Tapi aku tahu plat nomor yang terpasang di mobil itu hanya milik satu orang. Aku menghela napas panjang.
"Kenapa, Sakura?" Matsuri melihatku dengan tatapan ingin tahu.
"Tidak apa-apa," ujarku seraya menggeleng.
"Kau kelihatan pucat. Kau yakin tidak apa-apa? Kau tidak seperti biasanya, Sakura," kata Matsuri. Aku mengibaskan tanganku ke arahku. Walau aku merasa kepalaku berdenyut-denyut sejak tadi. Aku belum sempat makan sejak siang karena harus buru-buru menjemput Sageki tadi dan langsung pergi lagi untuk berangkat bekerja.
"Aku tidak apa-apa. Sungguh. Ayo, kita harus bekerja lagi. Sepertinya tamunya banyak," kataku seraya mendahului Matsuri masuk ke dapur melalui pintu belakang resto.
Sampainya di dapur, penanggung jawab dapur sudah menuggu kami dan meminta kami mengantarkan beberapa makanan ke depan. Aku segera mengambil apron dan troli yang sudah disiapkan. Matsuri segera mengambil tempatnya dan kami berdua dengan sigap segera keluar dapur untuk membawakan pesanan makanan pada meja yang sesuai dengan nomor pesanan.
Aku menelan ludahku dengan susah payah saat troli yang aku bawa melewati meja di sudut ruangan yang agak tersembunyi. Seolah ada sesuatu yang menampar wajahku saat aku melihat pemandangan di meja itu. Aku mengenal perempuan yang sedang duduk menghadap ke arah kami itu. Dia Yamanaka Ino, anak pemilik resto ini dan idola baru yang terkenal itu. Siapa yang tidak mengenalnya? Dia cantik, pintar dan juga ikon sebuah majalah fashion terkenal di Jepang. Gaya berbusananya juga kelihatan elegan sekali. Tidak heran kalau semua laki-laki akan tertarik padanya. Termasuk laki-laki yang sedang duduk membelakangi kami dan duduk di depannya itu. Tanpa melihatnya pun aku tahu siapa dia. Melihat sosoknya dari belakang juga aku sudah tahu tanpa aku harus melihat wajahnya dengan jelas.
Tapi aku tidak mau ambil peduli. Aku berusaha melakukan pekerjaanku seperti biasa walaupun ada sesuatu yang sangat menyakitkan sedang menusuk-nusuk dadaku saat ini. Aku tidak menampiknya. Ya, aku sedang terluka saat ini. Tanganku bahkan gemetar saat menyajikan makanan untuk pelanggan dan berusaha sekuat mungkin untuk tidak menumpahkan satu pun makanan yang ada.
Aku berusaha untuk bersikap seperti biasa. Tapi rasanya kepalaku semakin berdenyut tak karuan dan gemetaran di tanganku bukan lagi berasal dari rasa gugupku karena bertemu Sasuke. Melainkan karena badanku yang rasanya mulai lemas sekali.
'Kenapa di saat seperti ini?' batinku.
Saat aku mendorong troliku menuju meja di mana laki-laki itu duduk, kakiku tidak sengaja menyandung meja yang ada di dekatnya dan membuatku hampir menjatuhkan semua pesanan yang ada di troli dorong itu.
Hampir semua yang ada di restoran itu langsung menatapku dengan pandangan ingin tahu. Tak terkecuali Sasuke dan gadis di depannya. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak akan peduli pada pandangan siapapun dan bagaimana mereka akan memandangku. Yang terpenting saat ini, aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku.
"Sakura, biar aku saja. Kau masuklah ke dalam," Matsuri tiba-tiba sudah ada di sampingku dan merebut troli itu dariku. Dia menatapku dengan wajah cemas.
"Kau benar-benar harus istirahat," bisik Matsuri saat aku berjalan berbalik untuk pergi kembali ke dapur.
Aku hanya menjawabnya dengan senyuman tipis. Saat kakiku akan melangkah kembali ke dapur, kepalaku kembali berdenyut hebat sekali dan aku langsung terhuyung ke depan. Aku langsung berpegangan pada kursi di depanku dan menatap sekelilingku dengan mata terbelalak. Semua yang ada di sekitarku seolah berputar cepat sekali dan membuat perutku mual.
'Ya, ampun. Tidak sekarang,' batinku saat aku merasa sekelilingku mulai menggelap.
"Sakura!" samar-samar aku mendengar Matsuri berseru cemas di dekatku. Tapi aku tidak bisa menoleh ke arahku. Kepalaku terlalu berat untuk digerakkan.
Badanku sudah benar-benar lemas dan rasanya kedua kakiku mati rasa karena aku tidak tahu aku masih berpijak di atas lantai atau tidak.
Saat badanku mulai terhuyung lagi ke depan dan tanganku sudah tidak kuat lagi untuk menahan berat badanku, aku merasakkan seseorang menarik tanganku.
"Aku akan membawanya ke rumah sakit."
Aku mendengar suara seseorang di kejauhan. Suara seorang laki-laki. Tapi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Aku terlalu lelah untuk membuka mataku.
"Apa tidak apa-apa?" suara Matsuri lagi dan aku merasakkan tubuhku diangkat. Kepalaku bersandar pada sesuatu yang hangat. Hidungku mencium aroma tubuh yang sangat kukenal.
Aku berusaha membuka mataku dengan perlahan. Samar-samar aku melihat kedua manik hitam yang sedang menatapku dengan tatapan yang cemas luar biasa.
Aku kembali menutup mataku saat semuanya mulai menggelap dan beberapa ingatan masa lalu tiba-tiba terlintas begitu saja dalam kepalaku. Apakah aku akan mati?
.
*Flashback*
"Kenapa kau tidak mau berpenampilan seperti seorang perempuan yang aku inginkan selama ini?" Sasuke menatapku dengan tatapan penuh ingin tahu. Matanya menatap lurus ke mataku dan itu membuatku sedikit salah tingkah. Tapi aku berusaha bersikap sewajar mungkin.
"Aku tidak perlu menjadi orang lain untuk kau sukai 'kan? Atau aku harus berpura-pura menjadi perempuan seksi agar kau suka padaku?" sahutku saat itu dengan nada setengah bercanda, berusaha mencairkan suasana. Tapi Sasuke sama sekali tidak bereaksi dengan leluconku dan masih menatapku dengan sikap serius.
"Tidak ada salahnya melakukan sesuatu untuk membuat orang yang kau sukai merasa senang 'kan?" katanya.
Aku menelan ludah.
"Aku punya cara sendiri untuk membahagiakan seseorang yang aku sayangi. Bukan dengan menjadi orang lain. Kau tahu, aku ingin seseorang yang mencintaiku apa adanya. Bukan karena aku berpenampilan menjadi orang lain. Yah, tapi itu hanya pendapatku saja," jawabku kemudian.
Aku mengalihkan pandanganku darinya dan mulai menerawang pada langit di atasku. Malam ini benar-benar cerah. Banyak bintang bertebaran di hamparan langit malam yang luas itu. Aku menghela napas pelan. Memandangi langit di malam yang cerah seperti ini benar-benar membuat perasaanku sedikit nyaman dan sejenak melupakan setiap masalah yang sudah mengantri dengan rapi di kepalaku dan mendesak untuk segera diselesaikan. Keheningan yang ganjil mulai menyelimuti kami berdua.
"Maaf kalau sudah mengecewakanmu. Dari awal aku sudah bilang 'kan? Apa yang kau suka dariku? Aku bukan tipe perempuan idealmu. Kau terkenal, banyak perempuan di luar sana yang bersedia melakukan apapun untuk menjadi kekasihmu. Mereka berusaha menjadi seperti perempuan yang kau inginkan. Berbeda denganku," aku berusaha melempar senyum.
Tapi Sasuke tidak menggubrisku.
"Berhenti membanding-bandingkan dirimu dengan perempuan yang lain," katanya kemudian.
"Eh?" aku menatapnya kaget.
"Kau selalu mengatakan seperti itu. Aku bosan mendengarnya. Aku sudah tidak peduli dengan perempuan yang lain kecuali perempuan di hadapanku ini. Ayo kita pergi!" dengan sangat tiba-tiba Sasuke menarik tanganku dan itu membuatku berdiri dengan terpaksa.
"Kita mau ke mana?" tanyaku bingung. Sasuke menoleh ke arahku dan menatapku tajam.
"Menemui orangtuamu, orang tua kita," sahutnya.
Hatiku mencelos.
"Tapi.. Tapi, Sasuke-kun..." aku tidak meneruskan kata-kataku. Aku tidak sanggup mengatakannya lebih tepatnya.
"Apa salahnya mencoba lagi?" tukas Sasuke agak keras. Aku terdiam dan tidak berani menatapnya. Aku tahu apa yang terjadi kalau aku pergi menemui orangtuaku dan mengatakan rencana pernikahan kami. Aku tahu bagaimana reaksi mereka. Aku sangat ingat bagaimana ibuku menatapku dengan wajah tak senang saat aku bilang akan menikah dengan Sasuke beberapa waktu yang lalu. Aku ingat bagaimana reaksi ayahku. Ayah hampir tidak berekasi, tapi menatapku dengan tatapan dingin yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Begitu juga saat aku menemui orangtua Sasuke. Tanpa berusaha menyembunyikannya dariku, mereka jelas-jelas tidak menyukaiku. Dan itu benar-benar membuatku terluka. Aku sudah berpikir akan memutuskan hubungan ini kalau memang benar-benar tidak bisa diharapkan. Tapi sepertinya Sasuke berpikiran lain.
"Aku tidak yakin," kataku kemudian, sangat lirih.
Tapi Sasuke tidak menjawab. Aku merasakan genggaman di tanganku semakin erat dan itu artinya laki-laki di depanku ini sudah membulatkan tekadnya.
"Hanya satu perempuan yang ingin aku jadikan pendamping hidupku. Dan itu kau," katanya tanpa menoleh ke arahku. Saat mendengarnya mengatakan hal itu, aku merasakan dadaku berdesir dengan cepat sekali dan langsung berdegup lebih cepat. Apa dia serius?
Aku tidak menjawab.
"Ayo, kita pergi," Sasuke menarik tanganku untuk pergi dari tempat itu.
*Flashback Ends*
.
"Sakura?"
Hal pertama yang aku lihat saat membuka mataku adalah langit-langit putih bersih yang menggantung di atasku. Aku mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan dengan pencahayaan di sekitarku. Bau obat-obatan mulai tercium di sekelilingku.
"Sakura?" aku mendengar suara Matsuri memanggilku.
Aku menolehkan kepalaku ke arah suara. Matsuri sudah berdiri di pinggir ranjang dan menatapku dengan wajah cemas sekaligus lega.
"Syukurlah, kau akhirnya sadar," katanya.
"Apa kita di rumah sakit?" tanyaku dengan suara serak.
"Kau pingsan dan dokter bilang mungkin kau mengalami animea," terang Matsuri.
Aku melihat selang infus yang kini terpasang di lenganku.
"Aku harus segera pulang," kataku seraya bangkit dari tidurku.
"Apa kau gila?" Matsuri tampak terkejut dan menatapku dengan tatapan protes.
"Anakku sendirian di rumah. Tidak ada yang menjaganya," kataku seraya berusaha melepas selang infus itu dari tanganku.
"Sasuke-san berpesan padaku, kalau kau bersikeras keluar dari rumah sakit dengan keadaan seperti ini, kau akan dilaporkan pihak sekuriti," kata Matsuri.
Aku menghela napas panjang. Aku ingat sekarang.
"Apa dia yang membawaku ke sini?" tanyaku.
Matsuri langsung menatapku dengan wajah antusias.
"Iya. Dia menggendongmu dan membawamu ke sini dengan mobilnya sendiri. Semua orang yang ada di restoran bahkan langsung menahan napas saat melihatnya menggendongmu dengan gaya seperti itu. Benar-benar seperti pangeran dari negri dongeng. Kau beruntung pernah digendong laki-laki seperti itu," terang Matsuri panjang lebar. Tapi aku tidak tertarik.
"Aku harus tetap pulang," kataku bersikeras.
"Sakura, ayolah. Lihat ponselmu. Itu pesan Sasuke-san sebelum pergi tadi," kata Matsuri tak habis pikir. Dia menyerahkan ponselku.
Aku mengernyitkan dahi saat menerima ponsel itu dari tangannya.
Kemudian aku membuka layar ponselku dan melihat sebuah pesan masuk baru. Aku langsung membuka dan membacanya.
From: Sasuke.
Jangan cemaskan Sageki. Makan malam dan semua kebutuhannya sudah beres.
Aku hanya menatap pesan itu untuk beberapa saat. Tanganku sudah akan membalasnya untuk mengucapkan terimakasih, tapi tidak jadi. Sementara Matsuri kini menatapku denganku dengan tatapan bingung.
.
.
.
.
.
.
[Ino]
"Kau tunggu saja di ruang tunggu di belakang stage, nanti panitia akan memanggilmu kalau sudah saatnya kau latihan," Tenten, manajerku, berdiri di sampingku, memegang bahuku dengan raut wajah tidak nyaman.
"Baiklah. Kau mau ke mana?" tanyaku bingung.
Tenten hanya melempar senyum padaku.
"Ke toilet. Sebentar saja," sahutnya. Dia lalu berjalan melewatiku dengan terburu dan segera berjalan ke arah pintu keluar. Aku tersenyum sambil menggeleng pelan. Selalu seperti itu. Yang akan tampil aku, tapi yang tampak gugup dia. Tenten sering minta ijin untuk ke toilet sebelum aku tampil di atas panggung. Bukan sekali ini saja. Aku rasa malah itu sudah menjadi kebiasaan rutinnya.
Aku mengambil tempat duduk yang tersedia di salah satu ruangan itu. Dari sini aku bisa mendengar beberapa orang yang sedang sibuk di atas panggung untuk latihan untuk acara musik nanti malam. Aku sengaja mengambil tempat duduk yang tertutup untuk menghindari orang-orang yang mulai berlalu lalang keluar masuk ruang ganti untuk menuju panggung. Aku juga tidak mengenal beberapa orang itu. Hanya aku tahu sebagian mereka adalah idola baru yang baru debut tahun ini.
"Ahh, kau masih di sini?" Tenten tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam ruangan dan duduk di sampingku beberapa saat kemudian.
"Sepertinya aku dapat segmen keempat. Karena masih ada beberapa artis yang akan tampil setelah ini," jawabku.
"Masih lama, ya?" tanya Tenten lagi.
"Aku rasa," sahutku pendek.
Saat itu juga telingaku tiba-tiba mendengar sesuatu di balik dinding kayu yang memisahkan ruangan ini dengan ruangan di sebelahnya serta untuk menutupi ruangan ini agar tidak kelihatan dari luar panggung. Sesaat tadi aku mendengar suara petikan gitar yang berasal dari atas panggung. Awalnya, aku rasa ada yang salah dengan pendengaranku. Aku ragu kalau ini adalah lagu yang aku kenal. Suara nada yang dihasilkan dari petikan gitar yang sangat khas itu sangat familiar di telingaku. Aku mendengarnya lebih seksama.
Hatiku mencelos seketika saat mendengar suara petikan gitar itu. Aku tidak mungkin salah mendengarnya. Ini satu-satunya lagu yang hanya pernah dinyanyikan oleh satu orang di depanku. Dan aku sangat mengenal setiap nada yang mengalun pelan dengan iringan suara petikan gitar yang sangat khas itu. Tiba-tiba aku merasakan desiran kuat dalam dadaku. Tidak mungkin 'kan? Lagu itu. Hanya milik satu orang dan selama ini belum pernah dinyanyikan oleh siapapun selain penciptanya sendiri. Lalu siapa itu yang sedang menyanyikannya dengan suara sebagus itu?
Aku segera beranjak dari tempat dudukku.
"Ino? Kau mau ke mana?" tanya Tenten. Dia menatapku dengan tatapan heran.
"Aku.. Aku ingin keluar sebentar," jawabku.
"Tapi sebentar lagi kau harus ke atas panggung," kata Tenten.
"Aku tahu. Aku akan kembali tepat waktu," kataku seraya beranjak dari tempat dudukku dan segera berjalan keluar ruangan. Aku masih mendegar suara nyanyian yang dinyanyikan dengan tempo pelan itu saat melewati beberapa orang yang sedang menunggu di ruang tunggu itu. Aku berdesak-desakan dengan beberapa orang saat berada tepat di belakang panggung. Ada beberapa kru yang menatapku dengan pandangan penuh tanya. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin tahu siapa yang menyanyikan lagu itu.
Saat tiba tepat di belakang panggung, aku hanya bisa melihat seseorang di atas panggung duduk di atas kursi sambil memetik gitar di tangannya dengan posisi duduk membelakangiku. Aku tidak bisa melihat siapa orang itu.
"Maaf.. Sekarang giliran siapa yang tampil?" tanyaku pada salah satu kru laki-laki yang ikut melihat di belakang panggung dan berdiri di sampingku.
"Sasuke Uchiha. Itu singel terbarunya katanya," jawab kru itu.
Aku terpaku di tempatku. Lagu itu.. Kata-kata dalam lagu itu.. Petikan gitar itu.. Benar-benar mengingatkanku pada seseorang yang sudah lama sekali berlalu dalam hidupku. Aku masih ingat sekali bagaimana laki-laki itu menyanyikan lagu itu di depanku. Aku masih ingat sekali, saat dia mengatakan kalau lagu ini adalah lagu pertama yang dia ciptakan dengan sempurna. Biasanya dia tidak pernah menyelesaikan lagu ciptaannya sampai selesai. Ya, ini adalah lagu yang pernah dinyanyikan oleh seorang laki-laki yang pernah aku cintai. Dan sekarang orang lain sedang menyanyikan lagu itu dengan sangat merdu di atas sana. Mau tidak mau itu membuatku mengingat semua kenangan yang selama ini sudah coba aku lupakan. Lagu itu seolah membuka kembali memori lama yang sudah aku kunci rapat-rapat.
Aku baru menyadarinya saat aku merasakan ada sesuatu yang hangat merembes turun ke wajahku. Aku mengerjapkan mataku dan menyadari kalau aku baru saja menangis. Aku segera menghapus air mataku. Untung tempat ini gelap dan tidak ada seorang pun yang menyadari kalau ada air mata di wajahku. Aku buru-buru menghapus air mataku dan pergi dari tempat itu. Lagu itu akan terdengar biasa saja di telinga orang banyak. Tapi bagiku, itu adalah lagu yang sangat aku sukai dan juga akan membuatku terluka kalau aku terus menerus mendengarkannya. Ingatan tentang laki-laki itu akan kembali lagi dan aku akan menagis lagi kalau aku terus menerus bertahan pada masa laluku. Toh pada kenyataannya, mungkin di suatu tempat di sana, Sai pasti sudah melupakanku dan mencintai orang lain.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N: ini kenapa pada benci sama Sasuke, ya? -_-
Saya gak benci Sasuke dan gak bikin dia jadi jerk di sini. Tenang. Ada saatnya dia tobat dan kembali jadi so sweet sama Sakura kok. Baik SasuSaku maupun SaIno di sini, gak ada yang bisa move on dr pasangan masing2. Santaaaaii...
