[Sai]
Jam makan siang anak-anak baru saja dimulai saat ponsel yang ada di aku celanaku bergetar dengan agak keras. Aku sengaja mematikannya saat mengajar agar anak-anak tidak terganggu kalau ponselku berdering tiba-tiba di tengah-tengah pelajaran sedang berlangsung. Aku membuka pesan baru yang mucul di layar ponselku. Suigetsu. Dia bilang lagu ciptaanku yang dinyanyikan temannya dapat perhatian besar dari beberapa orang.
Aku tersenyum kecil membaca pesannya.
"Kalau begitu, mana royalti untukku?" ketikku di layar ponselku.
"Shimura-san, Anda masih di sini? Tidak ikut makan siang?" seseorang tiba-tiba masuk ke ruangan. Aku menoleh ke arah suara seraya memasukkan ponselku lagi. Miss Senju berjalan ke arahku dengan membawa beberapa buku di tangannya.
"Oh, Senju-san. Tidak. Nanti saja," sahutku.
Miss Senju tersenyum.
"Bagaimana? Apa ada kesulitan saat mengajar di sini? Ah, aku minta maaf kalau anak-anak di sini sangat sulit diatur. Yah, harap dimaklumi," kata Miss Senju, dia menatapku dengan tatapan penuh bersalah.
"Tidak. Aku senang mengajar di sini. Anak-anak mudah sekali beradaptasi. Dan sepertinya mereka sangat menyukai pelajaran musik. Para terapis pendamping juga sangat membantuku," jelasku. Sekali lagi Miss Senju tersenyum.
"Aku sangat lega kalau Anda bilang seperti itu. Aku harap anak-anak itu tidak menyusahkan," kata wanita muda itu.
"Tidak. Tidak sama sekali. Aku menyukai mereka. Ah.. Aku tidak hapal namanya, tapi aku rasa namanya Haruno Sageki kalau tidak salah. Anak itu berbakat sekali. Dia cepat menghapal nada walaupun hanya sekali mendengarnya," kataku.
"Ahh, Sageki? Aku juga berpikiran begitu. Bagaimana perkembangannya?" Miss Senju menatapku antusias.
"Seperti yang aku bilang tadi, anak itu cepat mengenal nada. Kalau dia dilatih lebih intens lagi, mungkin dia bisa memainkan piano dengan sepuluh jari hanya dalam beberapa bulan. Senju-san, sebenarnya apa yang membuatnya berbeda dari anak-anak lain? Aku rasa, setelah mengajarnya di sini selama hampir satu bulan, anak itu sama dengan anak-anak normal yang lain. Dia tidak menunjukkan tingkah laku yang aneh dan mencolok. Hanya saja, caranya berbicara dan mengungkapkan sesuatu.. Tidak seperti anak yang lain," kataku panjang lebar.
Miss Senju menatapku dengan sedikit kaget.
"Aku rasa dewan sekolah tidak salah memintamu jadi guru pengganti di sini, Shimura-san. Anda cermat sekali. Benar. Sageki didiagnosis mengalami sindrom Asperger. Dulu dia pernah didiagnosis mengalami gangguan autisme. Tapi ternyata anak itu menunjukkan perkembangan yang lebih baik jika dibandingkan anak-anak yang mengalami sindrom autisme. Sageki lebih mudah diajak berkomunikasi, dan perkembangan kognitifnya juga sama dengan anak-anak normal lainnya. Jika dilihat dari gejalanya, memang hampir tidak ada bedanya antara asperger dan autis. Tapi orang-orang dengan sindrom Asperger menunjukkan perkembangan dalam berkomunikasi dan kognitif yang jauh lebih baik dibanding orang-orang dengan sindrom autisme. Hanya saja.. mereka tidak bisa mengungkapkan dengan baik apa yang mereka inginkan. Terkadang saat kita tidak paham dengan apa yang mereka inginkan, mereka akan marah. Anak-anak di sini pun begitu. Tapi hanya ada 5 anak yang mengalami sindrom ini di sini, termasuk Sageki," jelas Miss Senju panjang lebar.
Aku mengangguk-angguk mengerti.
"Tapi yang tidak aku paham.. Anak itu selalu mengatakan 'papa' saat mulai menyentuh piano dan memainkannya," kataku.
Miss Senju menghela napas pelan.
"Aku pun juga tidak begitu paham. Ibunya bilang, dulu Sageki sering melihat ayahnya bermain piano. Mungkin piano identik dengan ayahnya, dari sudut pandang anak itu. Mungkin dia ingin mengatakan kalau ayahnya juga sering bermain piano, tapi tidak bisa. Jadi dia hanya mengatakan 'papa'," katanya.
Aku kembali mengangguk.
"Baiklah, Shimura-san. Aku pergi dulu. Anda masih ada jam setelah ini?" tanya Miss Senju. Aku menggeleng.
"Tidak. Aku mengajar di SMA setelah ini," jawabku.
"Baiklah. Kalau perlu bantuan, Anda bisa menanyakan dengan guru-guru di sini," Miss Senju tersenyum seraya berjalan keluar dari ruangan. Aku hanya membalasnya dengan anggukan.
.
.
.
.
.
[Sasuke]
Ada yang menepuk bahuku keras saat aku sedang termenung di depan layar komputerku siang ini sampai aku terlonjak kaget.
"Melamun lagi," Suigetsu muncul di sampingku dengan tiba-tiba.
Aku menatapnya dengan agak kesal.
"Kau.. Bisakah kau tidak selalu mengagetkanku seperti itu?" kataku kesal.
"Kenapa? Apa yang kau pikirkan? Aku membuatnya tadi pagi karena kau masih tidur. Kau ingat kau mabuk berat semalam? Ruang tengahmu berantakan sekali," tanya Suigetsu. Dia menyodorkan secangkir teh panas ke arahku. Aku menerimanya dengan tanpa minat.
"Terima kasih. Aku rasa aku harus menyewa jasa orang untuk mengurus rumah ini. Aku tidak bisa mengurusnya sendirian," kataku seraya meneguk tehku, tanpa menoleh ke arah Suigetsu.
"Aku rasa ada benarnya. Minta saja orangtuamu tinggal di sini," kata Suigetsu.
Aku tidak menjawab dan mengalihkan perhatianku pada lirik lagu yang belum selesai aku kerjakan di layar komputerku. Orangtuaku? Yang benar saja. Aku bahkan belum menghubungi mereka selama berbulan-bulan sejak aku menikah.
"Bagaimana kalau aku jual saja rumah ini? Lalu aku pindah di apartemen? Rumah ini terlalu besar untuk aku tinggali seorang diri," kataku kemudian.
"Kau cari teman saja kalau begitu, biar kau tidak sendirian lagi," ujar Suigetsu sambil lalu. Dia berjalan mengelilingi ruang kerjaku.
"Kau mau menemaniku?" tanyaku.
"Apa? Tidak, tidak. Akan aneh rasanya ada dua laki-laki lajang yang tinggal satu atap begini," tukas Suigetsu buru-buru. Aku tersenyum kecut.
"Daripada aku harus tinggal dengan seorang gadis.. Akan jadi skandal besar nanti," sahutku.
"Bukankah sebelum ini kau juga tinggal dengan seorang perempuan? Tidak ada skandal 'kan?" ujar Suigetsu. Aku kembali terdiam dan hanya meneguk tehku tanpa minat. Tanpa sadar aku sudah menghabiskannya hanya dalam waktu beberapa detik.
"Itu beda. Untuk saat ini, aku benar-benar seorang diri. Kau tahu itu," kataku kemudian.
"Karin bersedia menemanimu di sini kalau kau memintanya," ujar Suigetsu seraya terkekeh geli.
Aku melemparkan pandang kesal ke arahnya.
"Apa tidak ada saran yang lebih gila dari itu?" kataku.
Suigetsu angkat bahu acuh.
"Aku hanya memberi saran 'kan?" ujarnya dengan wajah tak berdosa sama sekali. Dan itu membuatku berdecak kesal. Orang ini kadang-kadang membuatku kesal dengan saran-sarannya yang kadang tak masuk akal. Dan dia selalu mengatakannya dengan wajah datar, seolah-olah itu adalah hal yang mudah sekali untuk dilakukan.
"Yang jelas.. Aku ingin suasana baru," ujarku kemudian.
Diam sejenak. Aku tidak menoleh ke belakang. Tapi aku bisa mendengar suara dentingan logam di belakangku, yang itu artinya Suigetsu sedang mengaduk cangkir tehnya.
"Kau tidak ingin memintanya kembali ke rumah ini?" Suigetsu mengatakan itu dengan pelan.
Aku kembali terdiam di tempatku. Aku tahu ke mana arah pembicaraannya.
"Kami sudah punya kehidupan masing-masing sekarang," jawabku dingin.
Aku mendengar Suigetsu menghela napas panjang.
"Yah.. Kalau itu membuatmu menjadi lebih baik. Aku bertemu dengan Sakura beberapa hari yang lalu. Tidak bertemu, sih. Hanya melihatnya dari kejauhan. Dengan Sageki. Ahh, anak itu sudah semakin besar sekarang. Aku tidak sempat menyapanya karena aku sedang terburu-buru. Kalau ada kesempatan, aku pasti akan menemuinya. Kau mau ikut?"
Aku membuang napas pelan sekarang. Apa yang dipikirkan orang ini?
"Tidak. Kau saja," sahutku singkat.
"Hmm. Hanya saran.. Lebih baik kau selesaikan dulu masalahmu ini sebelum kau melangkah lebih jauh, Sasuke," kata Suigetsu. Sekarang aku benar-benar menoleh ke arahnya. Aku menatapnya dengan pandangan bingung.
"Maksudmu?"tanyaku.
"Aku sudah mendengar gosipnya. Kau pergi berkencan dengan Yamanaka Ino beberapa kali 'kan? Aku tidak kaget. Kau menyukai nona itu aku rasa. Tapi, Sasuke.. Kalau kau memang benar-benar ingin menjalani hubungan yang serius dengan perempuan itu, kau selesaikan masalahmu dengan Sakura. Paling tidak, ceraikan dia dulu," Suigetsu berkata sambil meneguk tehnya sampai habis.
"Apa katamu?" tanyaku kaget.
"Kau harus segera memilih. Bertindak lebih tepatnya. Kalian sudah lama tidak tinggal seatap 'kan? Kau bilang kalian sudah berbeda jalan sekarang. Sedangkan kau sekarang asik pergi ke mana-mana dengan perempuan itu. Jangan menggantungkan Sakura. Segera selesaikan masalahmu ini dulu, lalu kau mulai hubungan yang lebih serius dengan Ino-san. Aku rasa orangtuamu juga tidak keberatan kalau kau akhirnya bersama dengan perempuan ini. Dia sesuai dengan kriteria menantu idaman orangtuamu 'kan?" Suigetsu menatapku serius.
Aku tidak menjawab dan kembali menekuri layar komputerku. Kata-kata Suigetsu tadi memang ada benarnya. Aku terlalu memperpanjang masalahku sampai satu tahun lebih. Kalau memang sudah tidak ada kecocokan dan kami sudah tidak saling mencintai lagi, aku harus mengakhirinya sejak dulu. Dan, yah.. Memulai kehidupan baru yang lebih membahagiakan. Mungkin dengan ini, tidak ada alasan bagiku untuk berjauh-jauhan dengan orangtua dan keluargaku lagi.
"Akan aku pertimbangkan itu nanti," ujarku pelan.
"Pikirkan matang-matang. Aku sudah menghubungi Sakura kemarin, dan aku akan menemuinya malam ini. Ada sesuatu yang ingin kau titipkan?" tanya Suigetsu lagi.
Aku menggeleng pelan.
"Tidak. Nanti saja kalau keputusanku sudah benar-benar bulat," jawabku akhirnya.
"Baiklah. Aku pergi, ya?" Suigetsu menepuk bahuku dengan agak keras sebelum akhirnya keluar dari ruang kerjaku.
Tinggal aku seorang diri di ruangan ini. Masih menatatp layar di depanku ini dengan tatapan nanar. Ucapan Suigetsu beberapa saat yang lalu masih tersimpan dengan jelas di dalam kepalaku dan terus terngiang-ngiang dengan cukup keras.
"Ceraikan Sakura dan kau bisa memulai kehidupanmu yang baru."
Aku menghela napas panjang dan mengusap wajahku dengan frustasi. Mudah sekali Suigetsu berkata seperti itu, tapi pada kenyataannya, proses perceraian 'kan tidak semudah itu. Aku sudah memikirkan hal ini sejak dulu. Tapi ada sesuatu dalam diriku yang mengganjalku untuk melakukan itu.
Aku menatap sekeliling ruangan. Lalu kembali menghela napas panjang. Ruangan ini.. Dan juga semua ruangan yang ada di sini.. Semua menyimpan kenangan tentang perempuan itu. Hanya saja, semua terasa berbeda sekarang. Semenjak dia memutuskan untuk meninggalkan rumah ini. Sampai akhirnya aku bertemu dengan perempuan ini. Yah.. Yamanaka Ino membuatku lupa tentang perasaanku pada Sakura. Perempuan itu benar-benar dewasa dan dia mau mengerti karakterku. Kami jarang bertengkar karena hal-hal sepele. Kepribadiannya dan penampilannya, semua adalah standar idealku tentang seorang perempuan idaman.
Sampai beberapa waktu, aku menyadari kalau aku merindukan berkencan dengan seseorang yang membuatku mengomel sepanjang jalan. Rindu dengan perempuan keras kepala yang semaunya sendiri dan membuatku sibuk mengkritik segala yang dilakukannya. Tapi bisa apa lagi aku sekarang?
*Flashback*
"Kau fansnya 'kan? Kenapa diam saja?"
Aku baru saja selesai menghapus make up dan keluar dari ruang ganti saat aku melihat dua orang gadis berdiri di depan ruang gantiku. Aku mengenal salah satunya, dia adalah ketua fansclub untuk para penggemarku yang ada di Tokyo. Dan dia sering menemuiku atau manajerku, untuk sekedar memberikan hadiah dari fans untukku. Jadi aku mengenal wajahnya, bukan secara personal. Dan aku juga tidak tahu bagaimana caranya, dia selalu bisa menemukanku di manapun aku berada.
Aku melempar senyum padanya dengan ramah.
Gadis ketua fansclub itu menyambutku dengan ramah.
Aku mengerling sekilas pada gadis berambut merah muda sebahu di sampingnya, tapi gadis itu sama sekali tidak melihat ke arahku. Aku tidak ambil pusing tentang itu. Gadis ketua fansclub itu memberikan bingkisan untukku.
"Selamat untuk lagu terbarunya, Sasuke-san. Walaupun tidak menang, tapi kami tetap mendukungmu," ujar gadis itu. Aku mengangguk padanya dan mengucapkan terimakasih sambil masih tersenyum samar padanya. Aku mengambil bingkisan itu dengan kedua tanganku.
"Sakura. Kau bilang kau ingin mengatakan sesuatu padanya," gadis itu menyenggol lengan gadis di sampingnya yang kelihatan tidak begitu peduli dengan itu sambil berbisik pelan. Gadis berambut merah muda itu balas menatapnya dan menoleh ke arahku dengan sekilas.
"Apa? Aku?" dia mengerutkan dahi heran pada gadis ketua club tadi.
"Bukankah kau tadi bilang kalau bisa bertemu dengannya, kau akan mengatakan sesuatu padanya? Kau bilang kalau kau bertemu kau akan bilang-umph!"
Aku terkejut saat gadis berambut merah muda itu langsung mengatupkan tangannya di bibir gadis ketua klub itu dan membuatnya langsung berhenti bicara.
"Aku akan menemui seseorang dulu. Ah, itu Uzumaki-san!" gadis itu melepaskan tangannya dan segera berjalan menyusuri koridor di sebelah kami. Aku hanya menatap kepergiannya dengan tatapan tidak mengerti.
"Hah! Itulah yang namanya Sakura Haruno. Sasuke-san. Maafkan aku. Aku juga tidak mengerti. Padahal dia juga selalu mengikuti beritamu. Tingkahnya aneh!" gerutu gadis ketua klub itu.
Aku angkat bahu acuh setelah itu.
Tanpa aku sadari kalau pertemuan itu adalah awal dari kehidupanku setelah itu.
.
.
Dengan langkah terburu dan hampir setengahnya berlari, aku memasuki toko buku itu dengan kalut. Penyamaranku sama sekali tidak berhasil. Padahal aku sudah sengaja mengenakan mantel kerah tinggi dan topi yang hampir menutupi wajahku. Kacamata bingkai tebalku juga sama sekali tidak bisa mengecohkan fans-ku. Hari ini sengaja aku ingin menikmati hari dengan berjalan-jalan di sepanjang jalan menuju kantor agensiku, karena hari ini turun salju pertama di tahun ini. Tapi fans-fans itu sudah berteriak-teriak histeris saat tahu aku ada di jalan yang sama dan mengejarku sampai ke sini.
Aku menghela napas panjang dan masih terengah-engah saat aku sampai di toko buku itu. Mereka tidak ke sini 'kan? Aku melihat dari kaca etalase besar di toko buku itu untuk memastikan tidak ada yang mengikuti sampai di sini.
"Apa yang Anda lakukan di sini, Tuan?" sebuah suara di belakangku membuatku sedikit tersentak.
Aku segera menoleh ke belakang dan melihat seorang gadis berpakaian seragam karyawan toko buku ini sudah berdiri di sana. Gadis itu menatapku dengan dahi berkerut dan kedua mata hiujau emerald-nya menatapku dengan tatapan penuh selidik. Aku balas menatapnya dengan kedua alis bertaut. Aku sepertinya pernah melihat wajah gadis ini di suatu tempat. Rambut merah muda sebahunya yang diikat ke belakang mengingatkanku pada seseorang.
Untuk beberapa saat, gadis itu hanya menatapku dengan tatapan curiga. Sebelum tatapannya langsung berubah detik berikutnya. Kedua matanya sedikit melebar dan dia menatapku dengan wajah agak kaget.
"Anda.. Bukankah Anda–?"
Gadis itu tidak meneruskan kata-katanya. Saat aku akan membuka mulut untuk mengatakan sesuatu padanya, mataku melihat sesuatu di luar toko buku itu. Aku langsung membelalakkan mata kaget saat melihat segerombolan gadis-gadis SMA yang mengejarku tadi sudah ada di depan toko buku itu.
Aku langsung menoleh pada gadis karyawan tadi dengan cepat.
"Nona! Sembunyikan aku! Cepat!" kataku dengan setengah berbisik. Gadis itu menatapku dengan tatapan kaget.
"Apa?" sahutnya.
Mataku mengerling pada papan nama yang tesemat di dadanya. Sakura Haruno.
"Sakura-san. Tolong sembunyikan aku dari kejaran fans-fans gila ini. Mereka akan mengikutiku ke manapun seharian ini," ujarku. Aku melihat gadis-gadis itu masih mengobrol sambil tertawa cekikikan di depan toko. Saat salah satu dari mereka sudah memegang kenop pintu, aku langsung mengambil inisiatif lain. Aku mengedarkan pandang berkeliling mencari tempat yang bisa untuk menyembunyikan tubuhku yang tinggi ini.
Aku langsung berlari ke arah mesin kasir yang tidak dijaga itu, dan langsung menyembunyikan tubuhku di bawah meja kasir. Untungnya, meja kasir itu lumayan tinggi, jadi aku tidak perlu memaksakan tubuhku supaya tidak terlihat.
Gadis karyawan itu mengikutiku dan masih menatapku dengan tatapan aneh. Tapi dia akhirnya menggeleng dan tidak mengatakan apa-apa saat dia berdiri di depan meja kasir. Aku mencium aroma cherry segar yang manis begitu gadis itu sudah berdiri di depan meja kasir.
"Selamat datang."
Aku mendengar gadis itu mengucapkan salam dengan ramah begitu aku mendengar denting gantungan kunci yang diletakkan di atas daun pintu berbunyi. Itu artinya ada orang yang masuk.
"Nona.. Apa kau melihat Uchiha Sasuke masuk kemari?" aku mendengar seorang gadis bertanya pada gadis karyawan itu di depan meja kasir.
Aku merasakan jantungku berdebar dengan lebih cepat. Kalau gadis ini mengatakan aku ada di sini, awas saja. Hidupnya tidak akan tenang setelah ini.
"Uchiha Sasuke siapa?" aku mendengar gadis karyawan itu bertanya.
"Kau tidak mengenalnya? Idola yang baru debut beberapa bulan yang lalu," jawab gadis yang lain.
"Oh? Apakah ada idola dengan nama seperti itu? Aku pikir kalian mencari paman kalian. Karena namanya mirip dengan nama pamanku. Haha. Maafkan aku. Aku tidak melihatnya."
Aku bernapas lega. Tapi sekaligus menyimpan kekesalan lain dalam dadaku. Aku berterimakasih pada gadis itu, tapi dia mengatai namaku seperti nama pamannya. Sialan.
"Yah.. Sayang sekali."
"Aku pikir dia tadi masuk ke sini."
"Mungkin dia berlari ke tempat lain."
Suara gerombolan gadis-gadis yang saling bergumam itu mulai menjauh dan menghilang begitu aku mendengar gantungan di daun pintu toko buku itu berdenting. Itu artinya gadis-gadis itu sudah pergi.
Aku melihat gadis karyawan toko itu mulai menjauh dan memberiku ruang untuk keluar dari persembunyianku. Aku keluar dari bawah meja itu dengan susah payah dan langsung membenarkan letak bajuku yang berantakan karena terlipat saat aku bersembunyi tadi.
"Nama pamanmu, eh? Apa kau benar-benar tidak tahu siapa aku, Nona?" kataku setengah kesal seraya menoleh ke arah gadis itu. Gadis bernama Haruno Sakura itu hanya angkat bahu begitu aku menatapnya.
Lalu tiba-tiba seperti ada kabel yang dipasang dengan keras sekali dalam kepalaku dan membuatku terkesiap. Aku menyadari sesuatu wajah gadis di depanku itu mengingatkanku pada wajah seseorang. Aku mengerutkan dahi menatapnya.
"Kau.. bukankah kau pernah menemuiku di ruang ganti dengan.. siapa itu namanya? Iya 'kan? Kau gadis yang itu 'kan?" tanyaku dengan nada sedikit mendesak.
Gadis itu kelihatan sedikit salah tingkah, tapi dia berusaha menyembunyikannya.
"Anda pasti salah orang," ujarnya kemudian.
"Tidak. Aku tidak mungkin salah. Ingatanku tidak pernah salah. Kau gadis yang waktu itu 'kan?" kataku dengan yakin.
Gadis di depanku itu menghela napas pendek.
"Kalau iya memang kenapa?" sahutnya dengan wajah tanpa minat.
"Ahh, jadi kau memang benar-benar gadis yang waktu itu?"
"Sakura! Coba kau ke sini sebentar."
Terdengar sebuah panggilan seorang laki-laki dari ruangan di belakang meja kasir ini.
"Baik! Saya akan ke sana sebentar lagi," sahut gadis di depanku itu dengan suara agak keras. Dia lalu kembali menoleh ke arahku.
"Jadi.. Kalau Anda tidak ada urusan lagi di sini, Anda boleh pergi," katanya datar, seraya berbalik dan membelakangiku. Aku terperanjat.
"Ap-apa? Hei! Aku seorang idola, kau tahu itu?" kataku sedikit kesal diperlakukan seenaknya oleh seorang gadis karyawan toko yang notabene adalah penggemarku juga itu.
Tapi gadis itu tidak menoleh lagi ke arahku dan menghilang begitu saja di balik ruangan yang ada di belakang meja kasir ini. Aku mengerjap beberapa kali. Masih berusaha mencerna dan memahami apa yang baru saja terjadi.
Apa ini? Aku baru saja diacuhkan oleh salah seorang penggemarku? Kataku tak percaya.
Dering ponsel yang ada di saku celanaku membuat pikiranku teralihkan dan langsung membuatku tersadar kalau aku harus cepat-cepat meneruskan perjalananku. Aku harus segera sampai di studio untuk recording album baruku yang dijadwalkan akan keluar sebelum Natal.
Dengan mendesis kesal, aku segera keluar dari toko buku itu.
*Flashback ends*
.
.
Aku membuka laci meja kerjaku dan melihat isi di dalamnya. Aku tersenyum getir. Foto ini masih tersimpan rapi di sini karena aku sengaja tidak mengeluarkannya dari tempat ini. Aku mengambil foto itu dan menatapnya lama. Aku bisa merasakan aura kebahagiaan dalam foto itu. Saat melihat Sakura yang sedang menggendong Sageki kecil kami yang baru saja lahir, dan aku duduk di sampingnya, dengan senyuman yang menyiratkan bahwa seolah aku adalah laki-laki paling beruntung di dunia ini.
Hah.. Aku menghela napas panjang. Apakah semua ini akan menjadi masa laluku? Setelah peristiwa di restoran beberapa hari yang lalu, aku belum menghubungi Sakura lagi. Dia tidak menjawab pesan pertamaku. Jadi aku menyimpulkan kalau mungkin dia tidak ingin berbicara denganku lagi. Entahlah.
Aku segera menaruh foto itu dalam laciku dan menutupnya dengan segera sebelum akhirnya aku beralih lagi pada layar komputer di depanku.
.
.
.
.
.
.
.
[Sai]
Aku menatap lembaran kertas di tanganku ini untuk beberapa saat lamanya. Aku sedang menimbang sesuatu sambil terus membaca lembaran kertas itu.
"Ada masalah, Shimura-san?" seseorang duduk di kursi kosong yang ada di kosong dan menyodorkan sebuah cangkir berisi teh hangat kepadaku.
"Oh, Senju-san. Ah, terimakasih," aku menerima teh itu sambil meluruskan sikap dudukku.
"Ada apa? Sepertinya Anda sedang memikirkan sesuatu? Apa hari ini terasa berat sekali? Anak-anak mungkin kelelahan setelah kunjungan ke museum tadi pagi. Jadi agak tidak bersemangat," kata Miss Senju seraya menyeruput tehnya tanpa bersuara.
"Ah, aku rasa begitu. Tapi mereka tidak begitu bermasalah seharian ini," ujarku.
"Oh? Lalu apa yang membuat Anda muram sejak tadi?" tanya Miss Senju lagi.
"Tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu. Begini, Senju-san. Aku mendapat info tentang perlombaan nasional alat musik untuk anak-anak berkebutuhan khusus satu bulan yang akan datang. Aku hanya berpikir... Apa kita bisa, maksudku, apa tidak apa-apa kalau aku merekomendasikan Sageki untuk berpartisipasi dalam lomba ini?" aku menatap Miss Senju untuk meminta pertimbangan.
Miss Senju menatapku tidak yakin.
"Ahh.. Aku rasa Sageki memang cepat sekali menerima pelajaran darimu, Shimura-san. Tapi apa itu tidak terlalu cepat? Maksudku, dia belum bisa memainkan piano dengan sepuluh jari. Apalagi ini perlombaan nasional," katanya kemudian.
"Aku tahu. Tidak masalah dia belum bisa memainkan dengan sepuluh jari. Tapi yang pasti, dia bisa mengingat nada dan memainkan piano dengan lancar tanpa kesalahan," jawabku dengan antusias.
Miss Senju mengangguk mengerti.
"Bulan depan, ya? Apa Sageki bisa melakukannya dengan baik dengan waktu sesingkat ini?" katanya lagi, masih ada keraguan dalam nada suaranya.
"Aku akan melatihnya kalau diijinkan. Lagipula, sekarang tidak sulit bagiku untuk berkomunikasi dengannya. Dia sudah mengenalku sebagai orang yang mengajarinya bermain piano 'kan? Dan karena dia sangat menyukai nada piano, secara otomatis dia nyaman berada di dekatnya. Bukankah begitu, Senju-san?" kataku mencoba meyakinkan perempuan yang lebih beberapa tahun tahun di atasku ini.
Miss Senju kembali mengangguk.
"Aku tidak keberatan untuk ini. Tapi aku khawatir ibunya tidak mudah untuk dimintai ijin tentang ini. Kau tahu Sakura-san? Dia sangat menjaga Sageki," katanya.
Aku menghela napas pendek.
"Aku sudah memikirkan itu. Sageki sering pulang lebih akhir dibanding teman-temannya 'kan? Aku akan memanfaatkan waktu untuk melatihnya. Aku akan bicara dengan Sakura-san tentang ini nanti. Aku harap dia tidak keberatan. Bukan apa-apa.. Hanya saja, anak ini punya bakat yang tidak bisa hanya disimpan saja seperti selama ini.. Sayang sekali 'kan?" kataku.
"Mm. Kau benar. Aku rasa Sakura-san juga tidak keberatan asal itu tidak membuat Sageki tertekan," kata Miss Senju.
"Aku tidak akan membuatnya merasa kelelahan. Karena dia suka sekali dengan piano. Jadi aku rasa tidak perlu ada yang dicemaskan," kataku.
Miss Senju mengangguk mengerti.
.
.
.
.
[Ino]
Aku membereskan beberapa barang yang sudah tidak terpakai dan tidak diperlukan lagi dalam kamarku. Aku sedang tidak ada kegiatan untuk tiga hari ke depan, makanya aku menggunakan waktu liburku ini untuk pulang ke rumah, berlibur dengan keluargaku. Rasanya seperti sudah setahun tidak pulang ke rumah karena terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Padahal kenyataannya, aku baru dua bulan tidak pulang ke sini. Dan keadaan kamar ini masih sama saja dengan terakhir kali aku meninggalkannya dua bulan lalu.
Aku mengambil beberapa kotak yang sudah lama ada di bawah meja riasku. Kotak itu dulu gunanya untuk menyimpan barang-barang yang menurutku berharga. Jadi saat aku ingin mengambilnya, aku tidak perlu repot-repot mencarinya ke tempat yang aku lupa di mana menaruhnya. Simpel. Tapi sekarang kalau dilihat-lihat lagi, kotak-kotak itu hanya memenuhi ruangan saja.
Aku mengambilnya dengan susah payah. Debu tipis segera bertebaran di wajahku. Ahh, ini pasti sudah lama sekali mendekam di sini tanpa disentuh sama sekali..
Kotak-kotak itu tanpa sengaja berjatuhan ke lantai saat aku mencoba mengangkatnya. Bukan hanya debu yang bertebaran, tapi juga sebagian isinya ikut jatuh.
"Hah. Berat sekali~!" gerutuku dengan sedikit kesal.
Aku jongkok dan mulai memunguti barang-barang yang berjatuhan itu saat aku menemukan sesuatu yang membuatku berhenti untuk sejenak.
Tanganku mengambil gantungan kunci bermotif tengkorak yang jatuh di antara kertas-kertas di lantai itu dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa aku jelaskan. Aku mengamati gantungan kunci itu untuk sesaat.
*Flashback*
Aku mengernyitkan dahi menatap gantungan kunci yang diberikan Sai padaku malam ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan untuk ini. Tapi jujur saja, aku lumayan shock dengan pemberiannya ini. Ini adalah perayaan tahun pertama hari jadi kami, dan aku sudah membayangkan hal-hal romantis yang manis malam ini. Setidaknya dia akan memberiku bunga atau boneka untuk formalitas. Ya, aku memang tidak mengaharapkan Sai memberi hal-hal semacam itu. Tapi setidaknya.. Begitulah yang selalu dilakukan seorang laki-laki pada orang yang disukainya 'kan? Apalagi di hari yang spesial untuk kami saat ini.
Tapi.. Sekali lagi aku menatap gantungan kunci bermotif tengkorak itu pandangan bingung.
"Itu gantungan paling bagus yang bisa aku dapatkan sejauh ini. Hanya ada satu dan kata pemilik tokonya tidak dijual di manapun," kata Sai enteng.
Aku sampai tidak tahu harus berkata apa-apa. Kalau aku bilang tidak suka, tentu saja itu akan membuatnya tersinggung. Tapi.. Ayolah. Apa dia pikir kami berdua akan membentuk band rock? Apa aku tipe perempuan yang pantas memakai hiasan seperti ini? Sai... Aku menatapnya lelah.
"Kenapa? Kau tidak suka? Ah, kau bisa menyimpannya saja tanpa memakainya," ujar Sai . Aku tahu dia kecewa karena aku tidak menyukainya. Tapi dia bisa menyembunyikannya dengan baik di balik senyum lebarnya itu.
"Tidak. Aku menyukainya. Terimakasih banyak," kataku kemudian. Aku tersenyum geli seraya memakai gantungan bermotif tengkorak itu di ponselku.
"Kau tidak perlu memakainya kalau."
"Tidak. Aku menyukainya. Sungguh. Oh, kau bilang akan memberikan kejutan untukku. Apa itu?" potongku.
"Benarkah?" tanya Sai .
"Kau ingin menunjukkan apa?" tanyaku tak sabar.
Sai berdehem pelan.
"Tunggu sebentar. Kau tunggu di sini," Sai berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju panggung kecil yang terletak di sudut ruangan kafe ini. Aku menatapnya penuh tanya.
Tapi setelah aku melihatnya mengambil gitar yang tidak terpakai yang disandarkan pada salah satu kursi di sana, baru aku menyadari sesuatu.
*Ends*
"Ino! Apa yang kau lakukan di dalam? Cepat kemari. Makan malammu sudah dingin sejak tadi," suara ibuku dari luar kamarku mengagetkanku dan membuyarkan lamunanku.
"Ahh. Iya. Sebentar lagi aku akan ke sana," sahutku.
Aku memasukkan gantungan kunci itu ke dalam kotaknya lagi dan mencampurnya dengan barang-barang lain yang harus dibereskan. Aku rasa sudah saatnya membuang barang-barang yang tidak diperlukan lagi.
Saat akan memasukkan barang-barang itu mataku tidak sengaja melihat ke arah kalender dinding kamarku. Hatiku mencelos. Besok sudah akhir bulan, ya? Kenapa kebetulan sekali aku tiba-tiba menemukan benda ini tepat dengan hari jadi kami beberapa tahun yang lalu, di tanggal yang sama dengan hari ini? Aku menggeleng keras-keras. Tidak baik mengingat-ingat yang sudah berlalu.
.
.
.
[Sai]
Aku membuka kalender meja yang ada di meja kerjaku tanpa minat. Apa? Besok sudah akhir bulan lagi? Aku menghela napas panjang. Waktu benar-benar cepat sekali berlalu.
Mataku terus terpaku pada tanggal di kalender itu. Aku setengah melamun menatap angka-angka itu. Aku masih memikirkan bagaimana bisa meyakinkan Sakura-san untuk memberikan Sageki ijin agar boleh ikut serta lomba itu. Aku tadi bertemu dengannya. Tapi sepertinya dia sedang terburu-buru. Jadi aku belum bilang itu padanya. Mungkin besok aku akan bilang padanya.
Aku terus menatap angka di kalender itu sebelum aku menyadari sesuatu. Besok akhir bulan 'kan? Bagiku, tanggal itu adalah tanggal yang masih jadi tanggal spesial untukku. Tidak bisa dipungkiri kalau tanggal itu menjadi momen penting untukku. Walaupun sebenarnya tidak akan ada yang terjadi besok. Seperti tahun yang lalu..
Aku menghela napas untuk kesekian kalinya. Aku harus segera pulang. Badanku rasanya lelah sekali. Setelah seharian mengajar outdoor dengan anak-anak itu tadi. Aku juga sebenarnya tidak tahu peranku di sana sebagai guru pengganti atau guru tetap, karena aku tetap diminta mengajar di sana sampai sekarang. Tapi aku memang menikmatinya.
.
.
.
.
.
.
[Ino]
Aku melirik jam tanganku lagi dan membuang napas berat untuk kesekian kalinya. Aku menatap berkeliling dan hanya ada beberapa orang yang masih ada di tempat ini. Beberapa adalah petugas kebersihan yang sedang membersihkan taman dan membuang beberapa sampah yang terlihat mengotori taman. Aku kembali melirik jam tanganku dan melihat ke arah jalan yang menghubungkan ke pintu masuk. Tidak ada tanda-tanda orang yang sedang berjalan dari arah pintu masuk. Aku menghela napas lagi.
Aku tahu memang sepertinya tidak masuk akal sekali untuk mengharap kedatangannya ke sini. Aku tahu rasanya mustahil sekali mengharapkan kedatangannya di tempat ini, seperti dulu. Aku juga tidak tahu apa yang merasukiku sampai aku melakukan hal nekat seperti ini. Hanya saja, aku tidak sanggup lagi untuk berbohong pada perasaanku. Setelah aku memikirkannya semalaman suntuk, aku sudah memutuskannya. Aku memang masih menyukai Sai. Aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini begitu saja. Tiap aku mencoba melupakannya, selalu ada hal yang membuatku ingat padanya. Aku hanya tidak bisa memungkirinya. Perasaanku masih sama padanya.
Dan aku tidak mengharapkan Sai masih memiliki perasaan yang sama denganku. Setidaknya, kalau aku bertemu dengannya sekarang, entah dia masih menyukaiku atau tidak, setelah ini aku bisa membuat keputusanku sendiri.
Aku memandang sekelilingku dengan tatapan nanar. Tempat ini, di tempat pertama kencan kami. Aku ingat sekali bagaimana Sai berusaha bersikap romantis di depanku dengan membawakan bunga untukku. Aku ingat bagaimana dia hampir memberikan bunga itu padaku sebelum ada lebah kecil yang hinggap di salah satu mahkota bunga itu. Saking kagetnya dia melempar karangan bunga itu begitu saja dengan wajah sangat ketakutan. Aku hampir tertawa geli saat itu kalau saja aku tidak kasihan melihatnya kecewa karena telah menghancurkan kencan pertama kami. Aku sampai harus meyakinkannya kalau aku tidak apa-apa, dan bilang padanya kalau aku tidak begitu suka dengan bunga. Dan sejak saat itu Sai tidak pernah memberikanku bunga lagi. Sebagai gantinya, dia selalu mengajakku melihat pertandingan sepakbola setiap akhir pekan. Lalu menonton film hari Minggu-nya. Tapi mungkin aku juga salah saat bilang padanya kalau aku tidak begitu suka dengan hal-hal romantis. Karena sejak saat itu dia tidak pernah mengajakku melihat film romantis. Tapi justru film-film berbau horor dan action. Benar-benar..
Aku ingat sekali bagaimana dia menikmati film bergenre action itu tanpa mempedulikanku yang sudah merasa mual-mual setelah melihat adegan berdarah-darah di dalamnya.
Aku tersenyum geli mengingatnya. Antara senyuman dan perasaan sedih yang dengan susah payah aku tahan. Yah, tempat ini pernah menjadi tempat yang berarti untukku. Dulunya. Tapi tidak untuk sekarang.
Aku mengeluarkan ponsel dari dalam tasku dan melihat layarnya. Sama sekali tidak ada panggilan dari Sai. Aku menghela napas panjang. Sekali lagi aku melihat ke arah pintu masuk tempat itu. Dan sama sekali tidak ada tanda-tanda orang yang sedang berjalan dari arah itu.
Untuk kesekian kalinya aku menghela napas panjang. Yahh, sepertinya memang tidak mungkin 'kan? Aku kembali menoleh ke ponselku. Ragu antara perasaan yang sangat kuat untuk menghubunginya dan harga diri. Akhirnya dengan berat hati aku memasukkan lagi ponselku dan bangkit dari tempatku. Oke. Mungkin memang sudah tidak ada gunanya lagi melihat masa laluku. Aku tahu aku bodoh dengan mengharapkan Sai masih memiliki perasaan yang sama seperti dua tahun yang lalu padaku. Aku rasa dia sudah memiliki orang lain yang dia cintai.
Aku lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang sedikit terluka, perasaan yang sama saat aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya dua tahun yang lalu. Bedanya, tidak ada air mata di sini. Aku bisa menghadapi semua ini dengan lebih tegar aku rasa.
.
.
.
.
.
.
[Sai]
"Bagus, Sageki. Permainan pianomu berkembang pesat sekali. Kau bisa ikut lomba nasional antar sekolah untuk bulan depan aku rasa," aku mengusap ujung kepala Sageki yang sedang duduk di atas kursi sambil masih terus menerus memainkan tuts piano dengan seenaknya. Aku yakin dia tidak mendengar perkataanku tadi. Tapi aku yakin dua orang perempuan yang sedang menunggu di kursi di belakangku itu mendengarkan ucapanku tadi. Aku berbalik dan melihat ke arah Haruno Sakura dan Miss Senju yang sedang sama-sama menatapku dengan pandangan menunggu sesuatu. Aku tersenyum ke arah mereka.
"Beruntungnya, anak ini memiliki kemampuan lebih dalam mengenal nada. Jadi aku tidak kesulitan mengarahkannya dalam mengenali nada-nada baru. Kalau Anda tidak keberatan, Sakura-san. Aku akan mendaftarkannya mengikuti lomba permainan musik tingkat nasional untuk anak-anak berkebutuhan khusus yang diadakan yayasan khusus untuk anak-anak sepertinya," kataku seraya duduk di kursi di samping dua perempuan itu.
"Tingkat nasional? Apa kau yakin, Sai-san? Tapi.. Permainannya bukannya masih terlalu dasar? Aku tidak yakin dia bisa bersaing dengan banyak orang," Sakura menatapku dengan ragu.
"Awalnya aku juga berpikir begitu, tapi menyadari ketertarikannya dengan piano jauh lebih besar dibanding dengan hal lain, aku rasa aku hanya perlu melatihnya sedikit lagi agar dia bisa bermain dengan sepuluh jari," jelasku. Aku mendengar ponselku berdering, tapi aku mengabaikannya. Nanti aku bisa menelponnya lagi.
"Tapi.. Sageki juga harus belajar yang lain. Aku khawatir kalau dia terus menerus berada di dekat piano, dia hanya akan memikirkan piano dan tidak memperdulikan yang lainnya," ujar Sakura. Aku menghela napas panjang.
"Aku tahu kekhawatiranmu, Sakura-san. Aku sudah memikirkan itu. Sageki tidak harus belajar piano sepanjang hari. Dia bisa bertemu dengan teman-temannya di sekolah seperti biasanya. Aku dengar dari Miss Senju kalau anak ini sudah mulai punya teman dekat," aku menatap Sageki yang masih memainkan tuts piano dengan asal.
Miss Senju mengangguk.
"Benar, dia sudah mulai menggabungkan diri dengan anak-anak yang lain. Dan kadang Sageki sendiri yang memulai untuk bergabung. Anak itu jadi manis sekali sekarang. Aku rasa Shimura-san benar, Sakura-san. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama anak itu masih bisa berinteraksi dengan teman-temannya seperti biasa," ujar Miss Senju. Aku masih melihat ada semburat kecemasan di mata perempuan muda di sampingku ini saat matanya menatap lurus ke arah Sageki.
"Tapi, aku.. Begini.. Mungkin sedikit tidak sopan. Tapi.. Aku sudah tidak punya uang untuk membayar biaya tambahan les privatnya," Sakura sedikit menundukkan kepalanya saat mengatakan itu.
Aku terdiam untuk beberapa saat dan akhirnya tersenyum geli.
"Sakura-san, aku sama sekali tidak memintamu untuk membayarku. Aku sangat tertarik dengan kemampuan anak itu, makanya aku tidak bosan melatihnya. Kau tenang saja. Gaji di sekolahku yang dulu masih cukup untuk membeli gitar elektrik baru," ujarku dengan sedikit bercanda. Aku mendengar dering ponsel di tasku. Aku mengabaikannya sekali lagi. Biasanya kalau ada dering berkali-kali seperti ini, itu pasti ulah para murid-murid di SMA dan sekolah musik tempatku bekerja. Mereka sering menggodaku dengan pertanyaan-pertanyaan sepele dan menelponku lalu mematikannya seketika saat aku mengangkatnya.
Sakura tampaknya masih ragu dengan keputusannya. Aku tahu dia pasti mencemaskan anaknya satu-satunya ini. Tapi jujur saja, aku memang tidak ada maksud lain selain mengembangkan bakat musik yang ada dalam diri anak itu.
"Aku tidak memaksamu, Sakura-san. Kalau kau tidak bersedia, aku tidak akan memaksa," ujarku seraya melempar senyum ke arahnya.
"Aku tidak keberatan. Aku berterimakasih karena kalian berdua.. mau memperhatikan anak itu sampai sedetail ini. Aku berterimakasih sekali. Anak itu sangat beruntung bertemu dengan orang-orang seperti kalian. Aku tidak keberatan kalau memang itu untuk kebaikan anak itu nantinya," jawab Sakura panjang lebar. Ada yang menggenang di sudut matanya saat dia mengucapkan itu. Tapi dia buru-buru mengabaikannya dan bangkit dari tempat duduknya untuk menghampiri Sageki yang sedang asik dengan piano di depannya.
"Kalau begitu, artinya ini sudah jadi kesepakatan 'kan? Aku akan melatih Sageki setiap hari setelah ini. Kau tidak keberatan 'kan, Sageki-san?" tanyaku lagi.
Sakura menoleh ke arahku dan mengangguk dengan mantap.
Aku menoleh ke arah Miss Senju yang tersenyum lega ke arahku. Aku membalasnya seraya membuka tasku. Aku penasaran dengan panggilan masuk yang sejak tadi berdering berkali-kali. Aku mencari ponselku dengan susah payah karena tersembunyi di antara kertas-kertas di dalam tasku. Aku membuka layarnya dan terkejut karena ada beberapa pesan masuk dan beberapa panggilan masuk sebanyak ini. Dan aku tambah terbelalak saat aku menyadari kalau aku sangat mengenal nomor telepon ini. Tanpa membaca namanya saja aku tahu siapa pemilik nomor telepon ini. Ino?
Entah kenapa tanganku tiba-tiba gemetar hebat saat membaca nama itu dan saking terburu-burunya membuka pesan itu, ponsel di tanganku hampir tergelincir jatuh kalau aku tidak segera menangkapnya.
Aku membuka pesan pertama. Dikirim pagi tadi. Aku terlalu sibuk mengajar sampai lupa mengecek ponselku.
"Hai. Bagaimana kabarmu? Maaf menghubungimun tiba-tiba. Sudah lama sekali rasanya. Sudah satu tahun lebih, ya? Aku mendengar lagumu. Lagu yang sekarang jadi hits dan dinyanyikan Sasuke-san. Aku tidak menampik kalau lagu itu keren sekali dinyanyikan oleh seorang penyanyi terkenal sepertinya. Tapi tetap saja. Bagiku itu tetap lagu seorang Sai. Dan hari ini adalah hari jadinya lagu itu 'kan? Walaupun sudah lama berlalu, tapi hari ini tetap menjadi sesuatu yang istimewa untukku. Apa tidak keberatan kalau hari ini kita bertemu? Yah, anggap saja sebagai pertemuan kawan lama. Dua hari ini aku sedang libur total. Kalau kau tidak keberatan, sih. Aku akan menunggumu. Di tempat yang sama di hari itu. Seperti beberapa tahun yang lalu. Kau pasti tahu. "
Aku membuka pesan masuk yang lain.
".. Aku tahu kau sibuk sekali pastinya. Maaf sudah merepotkanmu karena memintamu datang ke tempat ini. Mungkin kita bisa bertemu lagi di lain waktu. Sampai jumpa."
Aku melihat daftar panggilan masuk. Semua nomor Ino dan waktu menunjukkan kalau panggilannya baru saja dilakukan. Jadi beberapa panggilan yang baru masuk beberapa saat yang lalu itu dari Ino? Kenapa aku malah mengabaikannya? Ch~!
"Senju-san, aku rasa aku harus segera pergi. Ada janji penting," kataku seraya membereskan barang-barangku yang sebagian masih berceceran di luar tasku dengan tergesa.
"Oh, yah. Terimakasih kerjasamanya, Shimura-san," sahut Miss Senju.
Aku menghampiri Sageki yang sekarang sudah beranjak dari piano dan dia menatapku dengan tatapan mata polosnya itu.
"Kita bertemu lagi besok, Sageki. Aku pergi dulu," aku menundukkan kepalaku sedikit kepada semua orang yang ada di ruangan itu sebelum akhirnya berjalan dengan terburu saat keluar dari tempat itu.
Aku harap waktuku masih banyak. Aku harap masih bisa terkejar dan Ino masih ada di tempat itu. Bukankah ini bertepatan dengan hari di mana aku menyatakan perasaanku padanya tiga tahun yang lalu? Hari di mana aku menciptakan lagu untuknya dan aku nyanyikan langsung di depannya setahun kemudian? Aku tidak berharap banyak. Tapi setidaknya aku masih bisa bertemu dengannya hari ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
