[Sasuke]

Suigetsu muncul di studio malam ini dengan rambut berantakan. Aku mengernyitkan dahi menatapnya. Suigetsu tersenyum kepadaku dengan sedikit kikuk.

"Dari mana saja kau?" tanyaku penuh selidik.

"Ada sedikit urusan. Omong-omong.. Kau sudah menggarap lagu terakhir yang kemarin? Sudah selesai?" Suigetsu balik bertanya.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Itu 'kan tugasmu. Tapi untung aku cerdas, jadi aku sudah menyelesaikannya sejak tadi. Apanya yang kolaborasi kalau kau sama sekali belum menggarap liriknya?" omelku.

"Maaf, maaf. Aku menepati janjiku dengan seseorang tadi. Makanya agak terlambat. Kalau aku tidak datang, nanti dia akan marah," jelas Suigetsu.

Aku melihatnya dengan pandangan tak yakin.

"Kau punya pacar baru?" tanyaku.

Suigetsu menggeleng. Dia meneguk air mineral yang sudah tersedia di mejaku dengan terburu sampai mau tersedak saat aku menanyakan itu.

"Bukan. Ahh, tidak usah dipikirkan. Eh, Sasuke, Sabtu ini kau ada waktu?" Suigetsu kembali menatapku. Aku mengingat-ingat untuk beberapa saat.

"Sepertinya tidak. Ada apa? Tumben kau bertanya seperti itu," aku semakin curiga padanya.

"Kenapa kau melihatku seperti itu? Kau mau menemaniku? Keponakanku akan tampil untuk perlombaan alat musik antar sekolah se-nasional di Tokyo Exhibition Sabtu ini. Sekaligus memperingati hari jadi gedung itu. Kau mau datang? Ayo temani aku," ajak Suigetsu. Nadanya sedikit memaksa yang itu artinya aku tidak ada alasan untuk menolaknya.

"Baiklah. Keponakanmu yang mana? Anak dari bibimu lagi? Dia bukannya tahun ini sudah masuk ke sekolah menengah?" tanyaku.

"Bukan. Ahh, nanti kau juga akan tahu. Ajak Ino sekalian kalau perlu," kata Suigetsu.

Aku mengangguk.

"Baiklah. Nanti aku akan menghubunginya," sahutku.

"Wah, wah.. Sepertinya kau semakin akrab dengannya akhir-akhir ini. Karin bagaimana?" Suigetsu bertanya dengan nada menggoda ke arahku.

"Siapa yang peduli dengan gadis itu? Aku harap dia segera menemukan seseorang yang sesuai dengannya. Kau mungkin," sahutku.

Suigetsu terkekeh geli.

"Kau benar-benar menyukai Ino-san, ya?" tanyanya kemudian.

Aku terdiam sesaat. Aku tidak tahu apa yang membuatku ragu untuk menjawabnya, sebelum akhirnya aku mengangguk.

"Emm. Entahlah," jawabku.

Suigetsu menarik napas panjang.

"Baiklah~! Ayo bekerja lagi~! Go go go~!" Suigetsu segera beranjak dari tempatnya menuju tempatnya biasa bekerja. Aku menatapnya dalam diam. Aku tahu ada yang sedang disembunyikannya saat ini. Tapi aku rasa itu bukan urusanku untuk mencari-cari tahu hal semacam itu. Jadi aku mengabaikan perasaanku dan meneruskan pekerjaanku.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

[Sasuke]

Yang aku lihat dari sudut pandangku sekarang hanyalah perempuan berambut merah muda yang sekarang duduk di deretan terdepan bangku penonton itu. Perempuan itu sedang memperhatikan dengan seksama ke arah panggung di depannya. Hal yang sama yang dilakukan orang-orang yang ada di sini. Hanya aku yang telalu disibukkan dengan melihat penampilan anak laki-laki yang sedang bermain piano di atas panggung itu, dan juga perempuan yang sedang menatapnya dengan tatapan haru di bangku penonton secara bergantian. Orang-orang di sini tidak ada yang tahu kalau dua orang itu adalah orang yang pernah menjadi yang terdekat untukku. Yah, lebih dari setahun yang lalu. Waktu cepat sekali berlalu 'kan? Sageki sudah sebesar itu. Dan yang paling membuatku tercengang adalah permainan pianonya yang lembut itu. Gaya duduk dan caranya memegang tuts piano itu.. adalah khasku. Aku ingat sekali saat Sakura bilang Sageki sering melihatku bermain piano diam-diam di luar ruang kerjaku. Sekarang aku tahu seberapa tertariknya anak itu dengan piano. Aku tidak pernah tahu sebelumnya kalau anak itu berbakat dalam bidang music, terutama piano seperti ini. Dan saat melihat anak itu bermain di atas panggung dengan 'gaya'ku itu, aku tidak bisa membantah kalau ada yang memanas dalam dadaku.

"Anak itu benar-benar berbakat. Permainan pianonya lembut sekali walau masih agak kaku," Ino berkata di sampingku dengan nada kagum. Sejak tadi dia sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari anak itu. Seandainya dia tahu siapa anak yang sedang ada di atas panggung itu, seperti apa reaksinya? Bukan hanya dia. Tapi seluruh orang yang ada di sini? Bagaimana kalau mereka tahu kalau anak itu adalah anak seorang super-idol Uchiha Sasuke?

Aku menghela napas panjang. Apa maksud Suigetsu memintaku ke sini sedang dia malah duduk dengan tenang di bangku yang sama dengan Sakura sekarang? Dia bahkan sama sekali tidak menghubungiku sejak aku bilang aku sudah ada di sini. Dia hanya membalas pesanku singkat.. "Duduk dan nikmati saja acaranya".

Ch~! Sialan.

Dari awal aku sudah menduga ada yang aneh dengan ajakannya yang tiba-tiba itu. Dia hanya bilang kalau acaranya pasti akan membuatku terkejut.

Dia memang benar.

Aku memang sangat terkejut begitu nama anak itu dipanggil. Dan anak laki-laki itu muncul dengan raut muka datar seperti biasanya di atas panggung. Dia sempat menoleh ke arah Sakura, dan Sakura mengisyaratkan sesuatu dengan tangannya yang aku artikan sendiri sebagai penyemangat.

Dari tempat dudukku yang berada jauh dari panggung, aku hanya bisa melihat dengan tatapan nanar ke arah Sakura yang sedang menatap Sageki.

Dua hari yang lalu aku menerima pesan darinya. Awalnya aku kaget karena tiba-tiba dia menghubungiku setelah satu tahun sama sekali tidak ada kabar darinya. Tapi aku lebih tercengang saat dia bilang ingin segera mengurus perceraian dariku. Aku benar-benar kaget saat itu. Aku bahkan sama sekali belum berani memutuskan hal itu. Tapi membaca pesannya itu, sekarang aku yakin kalau memang inilah yang seharusnya sudah kami lakukan sejak dulu.

Tepuk tangan orang-orang yang ada di ruangan ini terdengar riuh dan itu membuat lamunanku buyar seketika. Permainan piano Sageki sudah berakhir dan kini anak itu turun dari panggung dan langsung lari ke arah bangku deretan pertama. Sageki segera berlari ke pelukan Sakura, dan Sakura langsung memeluknya dengan erat. Jelas sekali terpancar kebahagiaan di matanya. Aku mendengus pelan. Apa mereka sudah hidup bahagia tanpaku sekarang? Aku melihat seorang laki-laki berambut hitam yang tidak aku kenal dan seorang perempuan cantik berambut pirang ikut memeluk anak itu.

Aku tersenyum miris. Bukankah seharusnya aku juga ada di sana untuk memberi selamat kepada putraku? Aku mendecih pelan. Kau mulai menyesal saat melihat anakmu sudah menjadi pusat perhatian banyak orang, eh, Sasuke? Ke mana saja kau selama ini?

"Ayo, kita pulang," kataku pelan kepada Ino dengan nada dingin.

Ino tampak tidak segera menjawab. Kedua matanya ikut menatap ke depan dengan tatapan nanar. Aku tidak tahu apa yang membuat wajahnya berubah menegang seperti ini. Aku lalu ikut melihat ke depan. Tapi aku tidak bisa menemukan apa yang sedang dilihatnya.

"Ino?" panggilku lagi. Ino tampak terkesiap dan langsung menatapku.

"Eh? Tidak menunggu sampai selesai? Acaranya menarik sekali, Sasuke-kun," katanya.

"Bukankah kau bilang masih ada urusan setelah ini?" tanyaku lembut.

"Ahh, iya, sih. Tapi.. Baiklah kalau begitu," sahut Ino akhirnya. Dia kelihatan salah tingkah.

Aku beranjak dari tempat dudukku dengan cepat dan Ino berjalan di belakangku mengikutiku.

.

.

.

.

.

.

.

[Sakura]

Tangan kananku memegang tangan Sageki dengan erat saat aku berpapasan dengan seseorang di pintu masuk aula ini. Aku tidak segera meneruskan langkahku dan hanya berdiri mematung di sana seperti orang bodoh. Sasuke menatapku dengan tatapan kaget yang sama. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba jantungku berdegup tidak beraturan dan tanganku yang menggenggam tangan kecil Sageki jadi berkeringat dingin. Tidak ada yang bicara di antara kami untuk beberapa saat sebelum akhirnya aku sadar kalau aku harus segera pergi dari sini. Aku mengabaikan tatapan heran Sasuke maupun teman wanitanya yang berdiri di sampingnya dan segera berjalan melewatinya.

"Mama. Papa," suara kecil Sageki membuat dadaku seperti disayat dengan paksa. Tangan Sageki tiba-tiba menarikku dan menggoyang-goyangkannya.

"Bukan. Tidak ada Papa," sahutku dengan cepat. Aku segera menarik tangan kecil itu untuk pergi dari tempat itu dengan paksa.

"Papa! Aku mau bertemu Papa!" Sageki mulai berseru dan itu membuat orang-orang di sekitar kami melihat ke arah kami dengan pandangan bertanya.

"Sageki! Dengarkan Mama! Ayahmu tidak ada di sini!" gertakku dengan nada agak keras. Aku langsung tersentak. Aku sendiri kaget karena baru pertama kali ini aku menggertaknya dengan suara keras.

Sageki terlihat sedikit kaget. Air mata mulai menggenang di matanya tapi dia menahan diri untuk tidak menangis.

"Mama jahat! Aku tidak suka Mama! Papa ada di sini!" seru Sageki lagi, kali ini dengan nada marah.

"Sageki. Sekarang kita pergi dari sini," ajakku dengan sedikit memaksanya. Tapi anak itu bersikeras untuk tetap di sana dan tidak mau pergi. Dia bahkan menampik tanganku dengan keras. Kali ini aku benar-benar tidak berani untuk menatap orang-orang di sekitarku yang mulai menatap kami dengan tatapan aneh.

"Aku tidak mau pergi dengan Mama!"

Seseorang datang menghampiri kami dengan sedikit tergopoh.

"Sageki? Ada apa?" Sai-san langsung berjongkok di depan anak itu dan mengusap wajahnya dengan pelan.

Seseorang menepuk bahuku lembut dan aku melihat wajah Miss Senju berusaha menenangkanku. Perasaanku sudah kalut sekali sekarang, dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku merasakan usapan lembut di bahuku.

"Bagaimana kalau kita beli hot wheel baru? Asal kau jadi anak baik dan tidak berteriak-teriak lagi. Bagaimana? Aku akan mengantarkanmu," aku mendengar Sai berkata pelan pada anak itu.

Sageki masih tidak mau melihatku. Tapi dia mengangguk saat Sai mengajaknya pergi dari tempat itu. Orang-orang di sekitar kami sudah mulai tidak memperhatikan kami lagi.

Aku menarik napas panjang. Walaupun aku tidak melihatnya secara langsung, aku masih bisa merasakan tatapan menghujam milik Sasuke di belakangku. Aku segera mengabaikannya dan berjalan menuju tempat lain. Ada bangku di bawah pohon besar di halaman museum ini.

"Apa yang terjadi? Anak itu baik-baik saja 'kan seharian ini?" tanya Miss Senju.

Aku mengangguk tanpa kata.

"Senju-san. Sebenarnya selama ini ada yang aku sembunyikan.. Dari semua orang. Dan itu membuatku malah tertekan sendiri karena tidak pernah menceritakannya pada siapapun selama bertahun-bertahun," kataku kemudian.

Miss Senju menatapku dengan matanya yang teduh. Inilah alasanku kenapa aku senang berbagi cerita dengan perempuan ini. Dia pandai membuat suasana di mana semua orang nyaman berada di dekatnya.

"Kau bisa menceritakannya padaku kalau kau berkenan. Aku akan mendengarkannya," ujarnya seraya tersenyum ramah.

Aku kembali menarik napas panjang dan menghelanya keras-keras.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

[Sasuke]

Aku menatap ponselku dan melihat satu nama yang tertera di layar ponsel itu dengan lama. Ada suatu perasaan mengganjal yang membuatku tidak berani untuk menekan tombol untuk melakukan panggilan pada nama kontak itu. Aku berkali-kali menghela napas panjang untuk meyakinkan diriku, tapi sampai saat ini pun aku sama sekali belum melakukan panggilan.

Aku membuang napas panjang seraya membuang ponsel itu ke sofa di sebelahku dengan frustasi.

Peristiwa tadi siang di perlombaan musik itu benar-benar membuatku sedikit shock. Bukan karena aku melihat Sageki berteriak-teriak kesal di depan umum. Itu adalah hal biasa yang sudah sering aku lihat dulu, saat dia masih ada di rumah ini. Melainkan sikap keras Sakura yang membentaknya dengan tiba-tiba karena anak itu masih mengingatku. Aku belum pernah melihatnya melakukan itu pada Sageki. Dan kenyataan kalau anak itu masih mengingatku sampai sekarang benar-benar membuatku tercengang. Aku tidak permah menjadi ayah yang baik untuknya. Tapi anak itu masih mengingatku sebagai ayahnya dan bahkan bersikeras untuk bertemu denganku.

"Kenapa?" aku meremas rambutku dengan frustasi.

Aku kesal dengan diriku sendiri.

Aku masih ingat bagaimana saat aku membawa Sakura ke rumah ini pertama kali. Membangun kehidupan rumah tangga yang normal dengannya, tanpa dipengaruhi kehidupan glamour seorang idola. Menyambut kelahiran Sageki di rumah ini. Dan itu adalah kenangan terindah saat aku melihat Sageki akhirnya lahir dari orang yang aku sayangi. Melihat anak itu berjalan pertama kali, mendengarkan suara kecilnya yang memanggilku Papa pertama ... Itu adalah ingatan-ingatan yang tidak pernah bisa aku singkirkan dari kepalaku. Sebelum semuanya menjadi mimpi buruk bagiku. Saat dokter mengatakan kalau anak itu didiagnosis sindrom autisme. Aku mulai menyalahkan semua orang. Aku menyalahkan Sakura. Aku menyalahkan anak itu dan bahkan diriku sendiri.

Dan hari ini semua menjadi jelas bagiku. Aku terlalu dibutakan oleh egoku sendiri. Aku sudah membiarkan Sakura bekerja keras sendirian selama ini demi anak itu. Anak yang lahir dari rahim wanita yang sangat aku sayangi. Dan aku mencampakkan mereka selama setahun ini dan malah mencoba untuk mencari perempuan lain. Laki-laki macam apa aku ini?

Saat aku sedang menyelam ke dalam kenanganku, tiba-tiba sebuah suara terdengar dari pintu depan rumahku. Aku terkejut dan langsung bangun dari sofaku dengan sikap waspada. Siapa yang datang tanpa permisi seperti itu malam-malam begini? Dan bagaimana bisa ada yang tahu password rumahku? Haters? Atau maniak? Aku mengerling pada jam dinding dan melihat sekarang baru pukul delapan malam. Aku segera beranjak dari sofa tempatku berbaring tadi dan berjalan menuju ruang depan. Aku berjalan dengan sikap waspada karena siapa tahu ada orang jahat yang berniat jelek masuk ke rumahku.

Tapi saat aku sampai di ruang depan, apa yang aku lihat sekarang jauh lebih mencengangkan daripada kedatangan orang jahat yang mau merampok rumahmu. Aku terbelalak kaget saat melihat perempuan itu berdiri di sana sedang menatapku dengan tatapan dingin. Rambut merah muda sebahunya yang hanya diikat ke belakang kelihatan berantakan. Napasnya tersengal karena kelelahan berlari.

"K-kau..?" kataku terbata.

Sakura membuang napas.

"Seharusnya kau mengganti kata kunci lama itu. Aku bisa masuk kapan saja ke sini 'kan?" katanya datar.

"Kenapa kau ada di sini malam-malam begini?" tanyaku. Dan aku langsung menyadari kalau pertanyaanku itu kedengaran bodoh sekali kalau diucapkan di depan Sakura.

Sakura menelengkan kepalanya sedikit ke samping dan mengangkat alisnya.

"Benar. Ini sudah bukan rumahku lagi. Jadi harusnya aku tidak datang ke sini tanpa permisi. Maafkan aku," ujarnya.

"Bukan. Maksudku.. Ini sudah malam. Dan kau ke sini malam-malam sendirian?" ralatku langsung.

Sakura hanya tersenyum kecut.

"Aku sudah memencet bel di depan berkali-kali tapi tidak ada respon. Aku tahu kau di dalam. Makanya aku memaksa masuk. Maaf kalau sikapku kasar. Tapi sejak kau sama sekali tidak membalas pesanku tentang perceraian itu, mau tidak mau aku terpaksa harus ke sini sendiri. Untuk bertemu langsung denganmu," jelasnya, masih dengan sikapnya yang tidak ramah padaku.

Aku tidak segera menjawab. Benarkah ada suara bel sejak tadi? Aku tidak mendengarnya. Apa karena aku terlalu disibukkan dengan pikiranku sendiri tadi? Jadi saat aku susah payah ingin menghubunginya tadi, dia sudah ada di sini?

"Aku belum ada gambaran tentang perceraian itu," jawabku.

Sakura menatapku bingung.

"Apa maksudmu?" tanyanya datar.

"Aku seharusnya yang bertanya, apa maksudmu dengan surat perceraian itu?" aku balik bertanya. Sakura balas menatapku dengan dahi berkerut.

"Tidak perlu bertanya pun kau sudah tahu itu. Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi 'kan? Aku tahu kau masih mempunyai beban dengan adanya surat pernikahan itu. Jadi, kalau kita bercerai, aku rasa semua urusan kita sudah selesai. Kau bebas berkencan dengan gadis manapun. Dan aku akan bilang pada Sageki, ayahnya sedang pergi ke suatu tempat dan tidak akan kembali dalam waktu yang sangat lama," jelas Sakura panjang lebar. Walau dia sedang berusaha menjadi perempuan tegar seperti biasanya, aku tahu dia sedang terluka saat ini, karena dia sama sekali tidak menatapku.

"Kau mengatakan padanya seolah-olah aku sudah mati saja," sahutku tak terima.

"Lalu apa? Apa aku harus jujur padanya? Kau tahu dia adalah anak yang tidak bisa berbohong. Dan saat dia mengatakan pada semua kau adalah ayahnya, tamat sudah karirmu," ujar Sakura.

"Kau egois. Seperti biasa," kataku kemudian.

Sakura mendongak menatapku. Aku sedikit tercengang karena matanya sedikit berair.

"Aku tidak ingin mendengar pendapatmu tentangku. Cepat berikan keputusanmu dan aku akan pergi," katanya.

"Kenapa kau ingin kita bercerai?" tanyaku.

Sakura menatapku tak percaya.

"Kenapa kau masih menanyakan itu? Yang benar saja. Sudah jelas 'kan? Untuk apa aku masih berada di bawah bayang-bayangmu kalau kau sudah bermesraan dengan perempuan lain? Dan untuk apa aku mempertahankan semuanya kalau kau sama sekali tidak menganggap Sageki anakmu sendiri? Masih belum jelas? Orangtuamu sama sekali tidak menyukaiku. Aku bertemu dengan mereka beberapa waktu yang lalu dan mereka masih memandangku dengan tatapan seolah aku barang rendahan. Hah! Lihat? Orangtuamu akan senang sekali kalau menantunya adalah seorang perempuan seperti teman wanitamu yang sekarang itu. Bukan perempuan sepertiku yang melahirkan cucu yang tidak bisa mereka banggakan. Jadi apa lagi? Aku akan pergi dari kehidupan kalian," ujar Sakura panjang lebar. Ada airmata yang mengalir dari salah satu matanya tapi segera dihapus dengan tak sabar.

Aku tercenung di tempatku melihatnya seperti itu. Perasaanku ikut terluka saat melihatnya serapuh itu. Aku ingat pertama kali melihatnya menangis dulu. Saat dia merasa frustasi setelah kelahiran Sageki, karena anak itu menangis terus menerus dan ASI-nya tidak mau keluar. Antara kesal, sedih dan frustasi. Saat itu aku bisa memeluknya dan menenangkannya. Tapi tidak untuk saat ini. Aku tidak mungkin memeluknya seperti dulu untuk saat ini. Tidak dengan keadaan kami yang seperti ini.

Aku membuka mulutku untuk mengatakan sesuatu saat ada suara deringan ponsel berbunyi. Aku melihat Sakura buru-buru membuka tasnya. Dia melihat sekilas pada layar ponsel sebelum akhirnya mengangkatnya.

"Halo, Sai-san," katanya.

Aku menunggu untuk sesaat. Raut wajah Sakura sedikit demi sedikit berubah. Alisnya mulai mengerut dan aku tahu dia sedang mendengarkan dengan cemas suara telpon di seberang.

"Ah.. Baiklah. Aku akan segera ke sana. Baiklah. Terimakasih," katanya kemudian dengan terburu. Dia menutup ponselnya dan beralih menatapku.

"Aku akan menghubungimu lagi untuk menyelesaikan masalah ini. Dan jangan pernah mengabaikan pesanku!" katanya. Dia berbalik dengan tergesa tapi aku segera mengejarnya dan meraih lengannya.

"Ada apa?" tanyaku. Aku tahu ada yang tidak beres kalau dia mulai bersikap kalut seperti ini. Dan hanya ada satu alasan kenapa Sakura bersikap seperti ini. Sageki.

Dia berbalik menatapku dan aku terkejut saat wajahnya mulai basah dipenuhi airmata. Dia berusaha melepaskan lengannya dariku tapi aku masih memegangnya.

"Lepaskan aku! Sageki masuk rumah sakit dan sekarang di ruang gawat darurat. Kau masih mau menahanku?" serunya tak sabar, antara kesal dan bingung.

"Apa?" tanganku mulai mengendur karena aku juga terkejut mendengarnya.

Sakura segera melepaskan lengannya tak sabar dan hampir berlari keluar rumah saat aku menahannya lagi.

"Aku akan mengantarmu," aku kembali menarik lengannya dengan paksa.

"Aku akan ke sana sendiri! Kau tidak bisa pergi ke sana sementara semua orang akan tahu kalau kau–!"

"Kau tetap keras kepala! Kau pikir dengan berjalan sendiri ke sana akan menyelesaikan masalah? Pergi dengan mobil lebih cepat dibanding berlari! Ini bukan tentang kita. Tapi anak kita!" potongku dengan cepat.

Sakura menatapku dengan tatapan luar biasa kaget. Aku tahu dia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada satu pun yang keluar. Airmatanya masih meleleh dari sudut matanya.

"Kau benar-benar membuang waktu. Ayo!" aku menarik tangannya dan segera berlari ke garasi dengan cepat. Aku tidak tahu kenapa. Tapi ini pertama kalinya aku merasa secemas ini setelah bertahun-tahun yang lalu, saat menunggu detik-detik kelahiran anak ini. Melihatnya memanggil-manggilku sambil menangis siang tadi adalah pemandangan paling miris yang pernah aku lihat dan itu membuatku sadar kalau aku adalah laki-laki paling jahat di dunia ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC