Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto
.
.
.
.
Warning:
OOC.
Typo.
Alur gaje.
Dan lain-lain yang gak berkenan.
.
Pokoknya baca aja kalau penasaran.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Maybe tomorrow you'll say that you're mine
You realize, I could change
I'm gonna show you I mean it for life
I'll get you back, some day..."
.
.
.
ooO0Ooo
[Sai]
Aku menatap ponsel di tanganku dengan nanar. Tanganku gemetar hebat saking paniknya. Masih ada noda darah yang belum sepenuhnya terhapus dari sela-sela kuku jariku. Bajuku bagian depanku juga kena darah karena mengangkat Sageki yang kakinya terluka parah saat menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit ini. Aku benar-benar kalut sekarang. Aku tidak menyangka anak itu akan lari begitu saja ke jalan raya tanpa aku tahu alasannya. Untuk anak seumurannya memang belum begitu mengerti bagaimana cara menyeberang jalan raya dengan benar. Bagaimana ini? Sakura-san akan marah padaku kalau sampai terjadi yang serius pada putranya satu-satunya ini.
"Shimura-san. Ada apa?" aku mendengar suara seorang perempuan memanggilku dari ujung koridor rumah sakit ini.
Aku mendongak dan melihat Tsunade-san berjalan terburu-buru ke arahku. Rambut panjangnya hanya diikat sembarangan ke belakang dan aku lihat dia hanya mengenakan piyama tidur yang ditutupi mantel panjangnya. Dia bahkan hanya mengenakan selop rumah.
"Senju-san, untung kau segera datang. Aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskan pada Sakura setelah ini. Keadaan Sageki sedang kritis dan dokter sedang menanganinya. Aku tidak tahu," kataku dengan cemas. Aku belum pernah memperlihatkan kekalutanku pada orang lain dengan terang-terangan sebelum ini. Tapi karena aku merasa sangat bersalah sekali, sampai aku tidak tahu bagaimana harus bersikap tenang seperti biasa.
"Oke. Tenangkan pikiranmu dulu. Tarik napas pelan-pelan lalu ceritakan padaku apa yang terjadi. Kau menelponku dengan suara cepat sekali sampai aku harus buru-buru ke sini," kata Tsunade-san dengan suara lembutnya yang khas yang membuatku merasa lebih tenang.
Aku menarik napas panjang.
"Sageki... Dia tiba-tiba berlari ke arah jalan raya, seperti melihat sesuatu yang membuatnya ingin mengejarnya. Aku sudah berjanji padanya akan membelikan mainan baru untuknya siang tadi. Jadi aku rasa aku harus memenuhinya. Tapi aku tidak tahu apa yang membuat anak itu berlari dengan tiba-tiba tanpa aku bisa mencegahnya," ujarku panjang lebar.
"Aku mengerti. Lalu bagaimana keadaan anak itu sekarang? Aku sudah menghubungi Sakura-san saat sampai di sini tadi, dan dia bilang sebentar lagi akan sampai," kata Tsunade-san.
Aku kembali membuang napas berat.
"Anak itu.. Aku harap tidak terjadi apa-apa dengannya," hanya itu yang bisa aku katakan saat ini.
"Kita hanya bisa berharap seperti itu. Dokter akan melakukan yang terbaik untuknya," kata Tsunade-san seraya menepuk bahuku lembut.
Aku hanya mengangguk dan mataku masih terpaku pada pintu ruang operasi di depanku. Berharap dengan sepenuh hati kalau dokter akan segera keluar dan bilang kalau semua sudah ditangani dan anak itu baik-baik saja.
Dan seperti yang aku duga, ada seseorang keluar dari ruangan itu. Aku dan Tsunade-san segera berdiri dengan sikap waspada. Suster berusia sekitar 30 tahun itu menatap kami berdua.
"Kalian orangtuanya?" tanyanya ramah.
"Bukan. Kami hanya gurunya. Ada apa?" tanyaku dengan cemas. Aku terus berdoa dalam hati kalau aku tidak akan mendengar berita buruk darinya.
"Anak itu tidak terluka parah. Hanya saja kaki kanannya retak dan kami akan segera melakukan operasi. Anak itu memanggil ibunya terus sejak tadi. Kalau bisa, orangtuanya menemuinya dahulu sebelum kami akan melakukan operasi," jelas suster itu panjang lebar.
"Ahh, tapi.. Orangtuanya belum.."
"Itu Sakura-san!" aku mendengar suara Tsunade-san sedikit berseru di sebelahku.
Aku melihat ke ujung koridor rumah sakit dan melihat perempuan muda itu setengah berlari dengan wajah luar biasa cemas ke arahku. Seorang laki-laki berpostur tinggi berjalan mengikutinya di belakang dengan sikap tenang. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena dia memakai topi yang sengaja dipakai sampai menutupi sebagian wajahnya.
"Bagaimana? Bagaimana Sageki? Dia baik-baik saja?" Sakura berkata dengan kalut dan matanya yang sembab menatapku khawatir. Tidak ada kemarahan dalam sorot matanya itu, dan itu membuatku sedikit lega.
"Anda orangtuanya? Kebetulan sekali. Anda dipersilakan menemuinya sebelum kami melakukan prosedur operasi untuk kakinya. Dia tidak apa-apa. Hanya kaki kanannya retak dan perlu diberi sedikit alat bantu. Tidak perlu khawatir," kata perawat itu sambil tersenyum menenangkan Sakura.
"A-ah.. Baiklah," sahut Sakura dengan suara bergetar.
Dia lalu berjalan mengikuti perawat masuk ke dalam ruang operasi.
"Sebaiknya Anda menemaninya, Sasuke-san. Aku rasa Sakura-san juga butuh seseorang untuk menenangkannya di dalam sana. Aku yakin perawat tidak akan keberatan Anda ada di dalam sana kalau mereka tahu posisi Anda," aku mendengar Tsunade-san berkata pelan kepada laki-laki yang berdiri di sampingnya yang sejak tadi tidak berkata apa-apa.
Saat laki-laki itu melepas topinya aku baru tahu kalau aku mengenalnya. Dan aku terkesiap saat melihat laki-laki itu berjalan membelakangi kami dan berjalan memasuki ruangan di depan kami. Aku mengernyitkan dahi menatapnya. Lalu menatap Tsunade-san dengan penuh tanya, seolah memintanya untuk menjelaskan sesuatu.
"Kenapa? Dia ayahnya. Tidak masalah 'kan?" sahut Tsunade-san dengan santai.
Aku membelalakkan mata menatapnya.
"Apa yang kau katakan?" tanyaku kaget.
"Dia ayahnya. Ayah kandung dari Haruno Sageki. Mengagetkan, bukan? Tapi memang itulah kenyatannya. Ini sebenarnya rahasia sesama perempuan. Tapi karena kau yang membawa Sageki ke sini, aku mengatakannya padamu. Mereka berdua sudah menikah secara diam-diam selama ini, dan Sageki adalah anak mereka. Itu saja," Tsunade-san tersenyum sambil pura-pura menutup mulutnya dengan jarinya.
Aku lalu teringat sesuatu tentang beberapa kejadian siang ini dan sesaat sebelum insiden ini terjadi tadi.
"Ahh.. Jadi itu alasan kenapa dia memanggil-manggil ayahnya siang tadi setelah bertemu dengan laki-laki tadi? Dan aku rasa aku ingat. Di seberang jalan tempat kami berjalan tadi, ada VCR besar yang menayangkan iklan laki-laki itu. Itu alasannya dia tiba-tiba menyeberang jalan? Karena dia mengira itu ayah-nya? Ahh, aku mengerti sekarang," aku mengangguk mengerti. Jadi itu alasannya selama ini Sageki selalu menyebut piano itu 'papa' padahal dia tahu itu namanya piano. Yang dia ingat tentang piano itu adalah ayahnya.
"Omong-omong, Shimura-san. Sebaiknya kau segera berganti baju. Kau tidak mau orang-orang mengira kau baru saja melakukan sesuatu yang buruk dengan darah menempel di baju depanmu seperti itu 'kan?" ujar Tsunade-san dengan setengah bercanda.
"Aku akan menunggu sampai operasi selesai dan memastikan Sageki baik-baik saja, baru aku bisa pulang dengan lega," ujarku.
Tsunade-san hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[Sakura]
Aku menghela napas panjang melihat tubuh kecil Sageki terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit pagi ini. Kata dokter, anak ini sempat kehilangan banyak darah dan sempat hampir koma karena kepalanya terbentur jalan. Tapi untungnya tidak ada yang lebih parah dari kakinya yang retak dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit sampai gipsnya boleh dilepas. Dia pingsan karena terlalu terkejut dengan benturan itu. Untunglah. Semua baik-baik saja sekarang.
Aku mengusap rambut hitamnya dengan lembut. Anak ini masih tertidur dengan lelap sejak minum obat sejak setelah sarapan tadi. Kata Miss Senju, siang ini mungkin teman-teman sekolahnya akan datang menjenguk ke sini. Aku tidak tahu kalau di sekolah Sageki sepopuler ini. Tapi kata Miss Senju lagi, banyak teman perempuannya yang menanyakan kenapa dia tidak kelihatan di sekolah selama dua hari. Aku tersenyum antara geli dan heran. Anak-anak kecil jaman sekarang.
"Rupanya kau cukup populer di kalangan anak-anak perempuan, ya? Kau tidak akan meninggalkan Mama kalau sudah punya pacar nanti 'kan?" gumamku pelan seraya mengusap wajahnya dengan pelan.
Aku menghela napas panjang sambil mengamati wajah kecil Sageki. Aku selalu mengamati wajahnya seperti ini setiap malam saat anak ini sudah tertidur lelap seperti ini. Semakin bertambah umurnya, wajahnya sudah mulai kelihatan cenderung ke mana. Bentuk wajahnya mirip dengan ayahnya. Terutama bagian rambut dan matanya. Tapi hanya itu. Karena kata banyak orang, wajahnya cenderung mirip denganku.
Aku mengusap rambut Sageki dengan lembut.
Tiba-tiba sebuah ketukan halus terdengar di belakangku.
"Permisi," sebuah suara lembut menyapaku dari belakang.
Aku menoleh ke belakang dan langsung terpaku di tempat begitu tahu siapa orang yang sekarang berdiri di depan pintu kamar rumah sakit itu.
Seorang perempuan muda berambut pirang panjang yang diikat ke belakang berdiri di depan pintu sambil tersenyum dan menunduk dengan sopan ke arahku. Aku membalasnya dengan kikuk.
"Bolehkah.. Aku masuk?" tanya perempuan itu hati-hati.
"Silakan," sahutku kaku. Perempuan itu masuk sambil membawa sebuah bungkusan dengan paper bag bergambar meriah di tangannya. Aku tidak mengenal siapa perempuan ini, tapi aku tahu siapa namanya. Tentu saja. Aku masih bekerja di restoran miliknya sebagai pramusaji di sana sampai beberapa hari yang lalu. Selain itu, dia juga adalah idola terkenal yang baru debut beberapa bulan ini. Dia Yamanaka Ino. Aku tidak tahu apa yang bisa membawanya sampai ke sini. Aku yakin dia tidak mengenalku sebagai salah seorang karyawan yang bekerja di restoran miliknya sampai dia mau bersusah payah datang ke sini. Tapi apapun alasannya. Tetap saja kedatangannya sama sekali di luar perhitunganku.
Aku melihat perempuan itu meletakkan bungkusan yang dia bawa di atas meja di samping ranjang tempat Sageki tidur. Aku masih tidak tahu harus berkata apa.
"Kata Suigetsu-san, anak ini suka sekali mainan. Aku membelikannya untuknya. Semoga dia suka," kata Ino sambil tersenyum menatapku.
"Ah. Terima kasih banyak. Tapi.. Maaf kalau ini terlalu lancang dan sama sekali tidak sopan. Tapi.. Maaf, kita berdua tidak saling mengenal 'kan? Jadi, kedatangan Anda benar-benar membuatku terkejut," kataku kemudian.
Ino hanya mengangguk sambil tersenyum mafhum.
"Aku tahu kedatanganku pasti akan mengejutkanmu. Anggap saja aku adalah fans anak ini. Setelah melihatnya bermain piano di perlombaan itu, aku sangat menyukainya. Dia anak yang berbakat," katanya.
"Jadi, Anda datang saat itu?" tanyaku, pura-pura kaget. Padahal jelas-jelas aku melihatnya ada di sana saat itu.
"Iya. Suigetsu-san yang mengundangku. Dan aku tidak menyesal datang ke sana. Aku tidak menyangka, anak-anak berkebutuhan khusus juga punya bakat khusus yang bisa membuat orang-orang normal seperti kita kagum," jawab Ino.
"Suigetsu? Jadi kalian saling mengenal satu sama lain?" tanyaku lagi.
"Iya. Aku mengenalnya karena dia dan Sasuke-san adalah sahabat dekat," jawab perempuan itu singkat.
Aku mengangguk mengerti.
"Tentu saja," sahutku kemudian.
"Dan Suigetsu-san juga sudah mengatakan semua padaku," kata Ino tiba-tiba.
"Eh?" aku menatapnya bingung.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan mengatakannya pada publik. Rahasiamu dan Sasuke-san aman di tanganku," ujar Ino. Dia tersenyum sambil menyimpulkan dua jari kanannya.
Aku mengerjapkan mata menatapnya.
"Apa?" tanyaku lagi, masih bingung menatapnya. Aku pasti tampak seperti orang bodoh saat ini. Tapi aku sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan perempuan ini.
Perempuan di depanku itu menghela napas panjang sebelum akhirnya mengatakan sesuatu.
"Sakura-san. Sejak perlombaan itu dan pertemuanku dengan kalian di sana, saat melihat anak ini tiba-tiba berteriak-teriak marah saat berpapasan dengan kami waktu itu, aku jadi berpikir sendiri.. dia meneriakkan Papa setelah melihat Sasuke-san. Aku lalu ingat aku pernah menemukan sebuah foto di rumahnya. Sebuah foto Sasuke-san sedangmenggendong seorang anak kecil dan seorang perempuan di sampingnya. Aku tidak begitu mempedulikannya saat itu. Aku pikir itu hanya fotonya dengan seorang fansnya, atau mungkin saudara jauhnya. Tapi lalu aku sadar kalau foto itu bukan hanya sekedar foto fans setelah aku bertemu dengan kalian di perlombaan itu. Aku baru menyadari kenapa Sasuke-san hanya diam saja saat perlombaan itu padahal biasanya dia selalu mengomentari apapun yang ada di sekitarnya. Aku tahu ada yang aneh dengan semua ini. Jadi, aku bertanya pada Suigetsu. Dan dia mengatakan semua padaku," ungkap Ino panjang lebar. Dia mengakhiri kata-katanya dengan hembusan napas panjang.
Kami terdiam untuk beberapa saat. Hanya terdengar suara lalu lalang di luar kamar itu saat keheningan menyergap kami untuk beberapa saat.
"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membohongi semua orang. Aku tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapinya. Tapi semua sudah berakhir, Ino-san. Antara aku maupun Sasuke sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kau tenang saja. Meskipun akhirnya kau tahu kalau ini adalah anaknya, anggap saja kau tidak tahu apa-apa. Sasuke pun.. Selama ini dia sepertinya juga tidak memperdulikan sudah punya anak atau tidak. Jadi bersikap saja sepertinya. Anggap semua yang kau dengar dari Suigetsu itu adalah lelucon konyol," kataku kemudian. Aku menahan segala perasaan terluka yang kini kembali merobek-robek di ulu hatiku.
Ino tampak terkejut dengan perkataanku.
"Aku tidak mengerti dengan ucapanmu. Tapi sepertinya, kau sudah mengambil keputusanmu sendiri. Aku hanya ingin mengatakan.. sepertinya anak ini sangat membutuhkan ayahnya. Mungkin ini bukan urusanku, tapi.. setidaknya, kembalilah pada Sasuke-san," ujarnya.
Aku hanya tersenyum kecut.
"Tidak ada gunanya. Aku pergi karena aku punya alasan untuk pergi. Kembali ke rumah itu tak ada artinya kalau Sasuke masih memandang Sageki sebelah mata. Apa pada akhirnya dia mau mengakuinya setelah tahu kalau anak ini punya bakat? Ke mana dia selama ini, saat aku mati-matian berjuang sendirian menemani Sageki? Apa dia peduli? Sama sekali tidak. Jadi sekarang dia mulai mau mengakuinya setelah anak ini jadi anak penurut?" ujarku dengan sinis. Aku tidak tahu kenapa aku jadi sekesal ini dengan tiba-tiba.
"Aku minta maaf. Tapi.. tidak seperti yang kau lihat. Sasuke-san peduli. Dia peduli padamu dan anak ini," kata Ino.
"Apa?" aku kembali menatapnya bingung.
"Kami memang sering menghabiskan waktu berdua akhir-akhir ini. Pergi ke tempat yang kami inginkan, bersenang-senang di sana. Tapi terkadang, Sasuke-sansepertinya tidak benar-benar fokus pada apa yang ada di sekitarnya saat dia sendirian. Dia berkali-kali bilang padaku ingin menjual rumah miliknya karena terlalu besar, tapi berkali-kali juga dia bilang tidak jadi menjualnya karena banyak kenangan di sana," jelas Ino panjang lebar.
Aku masih menatapnya dengan pandangan penuh tanya.
"Lalu? Bukankah selama ini hubungan kalian baik-baik saja?"
Ino mendesah.
"Aku sudah bilang padamu. Hubungan kami hanya sebatas itu. Suigetsu-san bilang padaku, Sasuke-san tidak seperti itu saat kalian berkencan dulu. Dia bahkan mengeluh terus pada Suigetsu-san setelah kencan. Kalian bertengkar seminggu sekali, lalu berbaikan lagi dua hari setelah itu. Begitu seterusnya. Karena hal sepele. Kau selalu datang terlambat saat janjian dan Sasuke-san akan memarahimu sepanjang. Tidak suka diperlakukan romantis dan selalu lupa memberikan coklat saat valentine. Kau pernah memasakan coklat untuknya, tapi karena terlalu matang, rasanya jadi pahit sekali. Suigetsu-san menceritakan semua padaku. Saat-saat di mana ada seorang gadis yang bisa membuat laki-laki seperti Sasuke-san mengomel setiap hari," terang Ino panjang lebar. Dia tersenyum geli kepadaku.
"Tapi itu hanya masa lalu," jawabku pendek.
"Kalian bisa memulainya lagi setelah ini 'kan? Pikirkanlah Sageki kecil ini. Bukan perasaan kalian saja. Ayolah. Kalian sudah tidak berkencan lagi. Ada anak ini," kata Ino.
"Lalu bagaimana dengan perasaanmu sendiri?" tanyaku kemudian.
"Aku? Tidak ada masalah denganku. Karena... ada orang lain yang aku sukai," kata Ino dengan suara yang sangat pelan dan tampak ada kesedihan dalam bola matanya. Tapi lalu dia kembali menatapku dengan tatapan tegas. "Jadi, Sakura-san, mulailah berbaikan dengan Sasuke-san. Dia pasti akan jadi ayah yang bertanggung jawab kalau kau memberinya kesempatan," lanjutnya. Dia mendekatiku dan meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
"Aku akan pergi. Terima kasih karena mau menerimaku dan mendengarkan kata-kataku. Aku akan senang sekali mendengar kalau kau sudah kembali ke rumah itu. Aku akan datang ke sana, sebagai sahabat. Dan dengan kekasihku, tentu saja. Sakura-san? Katakan iya. Katakan aku akan melihatmu dan Sageki saat aku ke rumah Sasuke-san nanti," kata Ino dengan nada agak memaksa. Dia lalu tersenyum sebelum akhirnya berpamitan padaku dan berjalan keluar pintu.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanyaku sesaat sebelum perempuan itu melangkahkan kakinya keluar dari pintu.
"Aku hanya tidak sanggup melihat.. seorang anak yang hidup terpisah dengan ayah yang sangat dia rindukan. Sampai jumpa, Sakura-san," Ino sekarang benar-benar meninggalkan kamar rumah sakit itu.
Aku tercenung di tempatku sepeninggal perempuan itu. Aku menghela napas untuk kesekian kalinya sebelum aku bisa mencegah air mataku menetes.
.
.
.
.
.
.
.
.
[Ino]
Baik aku maupun Sai tidak ada yang saling bicara satu sama lain ketika kami terjebak dalam suasana seperti ini. Kami hanya bertatapan satu sama lain tanpa saling bicara dan hanya membiarkan detik-detik berharga ini dengan saling diam.
Aku sengaja datang ke kafe ini malam ini setelah selesai melakukan rekaman untuk menghilangkan penat. Sudah lama sekali rasanya aku punya waktu untuk diriku sendiri dan pergi minum untuk melupakan kepenatanku. Aku datang ke sini sendirian dan berharap aku bisa menghabiskan waktuku sendiri. Melupakan segala pekerjaanku dan kisah asmaraku.
Tapi aku justru bertemu dengan orang terakhir yang ingin aku temui untuk saat ini.
Sai. Dan dia juga sama terkejutnya denganku.
"A.. Keberatan kalau aku duduk di sini?" tanyanya seraya menatap bangku kosong di depanku. Berusaha memulai percakapan dan memecahkan keheningan yang ganjil ini.
"Iya. Tentu saja tidak," jawabku kikuk.
Sai lalu duduk di bangku kosong di depanku. Dan kami berdua kembali terdiam cukup lama. Seorang perlayan datang sambil membawakan pesanan Sai.
"Sudah lama sekali tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" tanyaku agak kikuk.
"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja," jawab Sai datar.
Aku mengangguk. Kenapa sepertinya hanya aku sendiri yang merasa secanggung ini? Sai tampak setenang biasanya dan seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami.
"Aku kaget melihatmu di pertunjukan musik kemarin. Aku tidak menyangka, kau yang melatih anak itu. Kau ... kau semakin hebat," ujarku canggung. Aku tidak tahu kalimat apa yang harus aku lontarkan untuk memuji kemampuannya. Nyatanya, dia bisa melatih seorang anak berkebutuhan khusus adalah sesuatu yang tidak pernah aku duga.
"Terimakasih," ujar Sai.
Kami berdua kembali terdiam. Aku meneguk sakeku dan Sai mulai membuka botol minumannya. Dia menuangkan minumannya ke gelasnya dan meneguknya.
"Aku datang hari itu," kata Sai tiba-tiba.
"Eh?" aku menoleh ke arahnya.
"Aku datang. Tapi aku terlambat dan kau sudah tidak ada di sana," jawab Sai , dia meletakkan botolnya di atas meja dan beralih menatapku dengan tatapan serius. Dan tiba-tiba suasana di antara kami jadi semakin canggung.
"B-benarkah?" tanyaku lagi.
"Maaf. Aku baru menyadari itu.. Aku ingat itu hari apa. Tapi aku tidak memperdulikannya. Karena aku pikir itu sudah tidak berguna lagi. Aku terus menerus mengabaikan semuanya, bahkan perasaanku sendiri. Aku sering melarikan diri dan membohongi semua orang termasuk diriku sendiri kalau kau hanyalah seorang perempuan di masa laluku. Tapi setelah malam itu, aku menyadari. Aku masih terus mengharapkanmu untuk kembali lagi padaku. Walaupun kelihatannya tidak mungkin," kata Sai panjang lebar.
Aku membelalakkan mata menatapnya.
"Apa yang kau bicarakan itu benar-benar.. benar-benar–?" aku tidak sanggup meneruskan kata-kataku. Kini dadaku berdesir cepat sekali.
"Aku belajar dari banyak orang di sekitarku. Dan menyia-nyiakan kesempatan adalah hal yang sangat bodoh," jawab Sai seraya menuangkan minumannya lagi.
"Lalu.. Apa yang akan kau lakukan?" tanyaku penasaran.
Sai tidak segera dan malah melihatku seraya tersenyum lebar.
"Aku tidak mengharapkanmu untuk masih menyimpan perasaan itu. Hanya saja.. aku tidak ingin terus menerus tertekan oleh perasaanku sendiri. Benar. Aku menyukaimu. Perasaanku masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Kalau kau bersedia, kita bisa mengulangi semua dari awal. Tapi aku tidak memaksa. Kalau kau sudah memiliki orang lain yang kau cintai. Setidaknya aku sudah jujur pada perasaanku.. dan juga padamu," kata Sai .
Aku terdiam dan tidak segera menjawab. Batinku sedang berperang saat ini. Antara keegoisan dan juga naluriku sebagai seorang perempuan. Laki-laki ini..
Tenggorokanku tercekat dan rasanya sakit sekali.
"Selama ini.. Aku hanya berpikir, kau tidak akan pernah kembali lagi padaku," kataku kemudian. Susah payah menahan tangis yang sudah ingin keluar.
"Apa maksudmu?" Sai bertanya sambil menatapku heran.
Aku tidak segera menjawab dan hanya menunduk menatap lantai di bawahku, meredam suara hingar di sekelilingku dengan batinku yang sedang berkecamuk saat ini.
"Aku hanya berpikir, kalau kita tidak bisa bersama lagi sejak itu. Jadi, aku mencoba untuk melupakanmu," kataku akhirnya, dengan lirih sekali.
Sai tidak segera menjawab. Aku tahu dia kini sedang menatapku dengan tatapan kaget.
.
.
.
[Sai]
Aku menatap Ino dengan tatapan kaget. Seharusnya aku tahu kalau hal ini pasti akan terjadi. Aku juga berusaha untuk melupakannya kan? Jadi kenapa aku harus kaget mendengarnya mengatakan itu?
"Kau membuatku hampir putus asa, kau tahu? Aku memang berusaha untuk melupakanmu. Tapi aku sama sekali tidak bisa. Aku bodoh sekali, ya?" Ino kembali meneguk minumannya, kali ini langsung dari botolnya. Dia meneguknya tanpa henti sampai botol itu hampir habis. Aku menatap dua botol kosong yang sudah teronggok tak berdaya di sampingnya. Dia sudah menghabiskan dua botol itu sendirian, dan kali ini hampir yang ketiga? Pantas wajahnya sudah memerah seperti itu, pikirku.
"Ada apa? Kenapa kau selalu pergi tanpa meminta penjelasanku? Kenapa kau selalu pergi seolah kau tidak ingin tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kau selalu bersikap seolah tidak ada yang terjadi dan pergi dengan sikap acuh begitu? Kenapa?" Ino berseru kesal ke arahku. Dia meletakkan botol di tangannya ke atas meja dengan keras.
Aku mengerjapkan mata menatapnya. Beberapa orang yang duduk di dekat kami langsung menatap ke arah kami dengan tatapan aneh.
" Ada denganmu?" tanyaku kaget.
"Ada apa denganmu? Aku sama sekali tidak mengerti laki-laki sepertimu. Kenapa kau selalu bersikap seperti ini dan tidak mengatakan semua padaku? Kenapa kau selalu diam saja dan tidak mengatakan semuanya? Kenapa kau membiarkanku terkatung-katung sendiri seperti orang gila setahun belakangan ini? Kenapa?" Ino menatapku dengan tatapan marah.
Aku menatap sekelilingku dan minta maaf pada orang-orang yang duduk di dekatku karena mereka mulai menatap kami dengan tatapan penuh tanya.
"Kau mulai mabuk, Ino," kataku dengan nada penuh penekanan. Ino meraih botolnya lagi dan hampir meminumnya, tapi tanganku lebih dulu merebut botol itu darinya.
"Kembalikan! Kau yang membuatku seperti ini!" Ino menampik tanganku dengan keras.
"Kau mabuk. Ayo aku antar kau pulang," kataku seraya beranjak dari kursiku dan berjalan menghampirinya.
"Kenapa~? Kenapa kau lakukan itu, ? Jawab aku. Kenapa? Kenapa kau mencampakkanku?" tanya Ino lagi sambil dia menunjuk wajahnya dengan jari telunjuknya dan menatapku.
"Aku tidak mencampakkanmu. Kau mabuk. Sudah, jangan bicara macam-macam lagi," kataku kemudian. Aku meraih lengannya dengan susah payah karena dia berkali-kali menampiknya dengan keras.
"Tapi kau meninggalkanku," kata Ino kemudian, kali ini dengan suara lirih. Sangat lirih sampai aku hampir tidak mendengarnya. Aku terdiam untuk beberapa saat.
"Aku tidak pernah meninggalkanmu," sahutku kemudian. Aku benar-benar harus menahan maluku saat melihat orang-orang melihat kami dengan tatapan aneh.
"Ch! Bohong!" Ino memukul pipiku pelan. Aku menatapnya terbelalak. Baru kali ini dia melakukannya padaku.
"Kau pasti benar-benar mabuk. Ayo, pulang," aku berusaha melingkarkan lengannya ke bahuku dengan susah payah. Ino berkali-kali hampir terjatuh karena sepatu hak tingginya sendiri.
"Aku tidak mau! Kenapa kau memaksaku?" Ino berseru marah sambil melepas tangannya.
"Tapi kau mabuk dan bicaramu mulai tidak karuan," kataku. Aku kembali meraih lengannya dan mengalungkannya ke bahuku lagi sebelum Ino mencegahnya.
"Apa kau masih mencintaiku?" tanyanya. Mata biru lautnya menatapku lekat. Aku tahu dia sedang tidak sadar dengan apa yang dikatakannya. Tapi tatapannya itu membuatku tersadar. Dia masih Ino yang dulu di mataku.
"Tentu saja," jawabku kemudian, dengan suara pelan. Aku akan mengalungkan lengannya lagi, tapi Ino kembali mencegahnya.
"Buktikan. Kalau kau masih.. mencintaiku," ujarnya. Matanya masih menatapku dengan tatapan polosnya. Aku tidak bergerak dari tempatku, dan balas menatapnya dengan lekat. Entah berapa lama kami saling bertatapan seperti ini. Aku mungkin sudah kehilangan akal pikiranku dengan menghiraukan tatapan beberapa orang yang sedang duduk di sekitar kami.
"Ayo, pulang," kataku kemudian. Tapi Ino tetap bergeming dan masih menatapku.
"Hah. Kita pulang!" aku mengalungkan lengannya dengan paksa ke bahuku dan menyeretnya keluar dari kafe itu. Dia pasti benar-benar mabuk sampai mengatakan hal-hal gila seperti itu tadi. Ino protes dan berusaha melepaskan diri saat aku membawanya ke mobilku, tapi aku tetap memeganginya sampai akhirnya dia menyerah dan tidak sadarkan diri. Akhirnya aku menggendongnya sampai ke mobilku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[Sakura]
Aku menutup ponsel di tanganku dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Lalu pandanganku mengarah pada tempat tidur di sampingku. Sageki sudah bisa duduk dan kini sedang bermain dengan mainan yang dibawa Suigetsu dua hari yang lalu. Dia akan minta turun dari ranjang kalau tidak dialihkan perhatiannya dengan mainan seperti itu.
Aku kembali menghela napas panjang.
Telepon dari orangtuaku barusan membuat perasaanku tidak enak.
Dari awal mereka memang tidak menyetujui pernikahanku dengan Sasuke. Dan begitu mereka tahu kalau aku melahirkan anak yang berbeda dan tidak seperti anak lainnya, mereka mulai menyalahkanku. Aku berkali-kali meyakinkan mereka kalau Sageki sama dengan yang lain. Dia tidak abnormal maupun gila. Dia hanya memiliki kebutuhan khusus.
Tapi mereka bersikeras untuk tetap memintaku pulang.
Dan saat itu aku masih bertahan.
Walaupun itu artinya, aku harus menyembunyikan pertengkaranku dengan Sasuke karena anak ini dari mereka. Aku selalu bilang pada mereka kalau hubunganku dan Sasuke baik-baik saja. Walaupun pada kenyataannya, itu sama sekali tidak sesuai.
Dan begitu mendengar kabar Sageki masuk rumah sakit karena kecelakaan, mereka tetap menyalahkanku. Tapi aku mengabaikannya. Begitulah cara mereka mencemaskan orang lain. Kalau orangtuaku mulai menyalahkanku karena tidak hati-hati, itu artinya mereka sangat mencemaskan Sageki. Aku sudah melarang mereka untuk datang kemari karena terlalu jauh. Dan aku tidak mau mereka melihatku dan Sasuke masih saling berdiam diri seperti ini.
Aku menarik napas panjang saat pintu geser ruangan itu terbuka.
Sesaat aku hanya menatap dua orang yang berdiri di ambang pintu itu dengan tatapan terkejut. Lebih terkejut daripada apapun yang pernah terjadi dalam hidupku.
Aku tidak pernah mengharapkan kedatangan dua orang ini di sini.
Tapi sekarang mereka ada di sini. Sedang menatapku. Masih dengan tatapan seperti dulu. Tatapan tidak suka.
Mereka adalah orangtua Sasuke.
Aku segera berdiri dari dudukku dan membungkukkan badanku dengan sopan kepada mereka.
"Apa kau tahu artinya menghormati orang tua? Seharusnya kau menghubungi kami kalau ada apa-apa dengan anak ini," tiba-tiba ibu Sasuke berkata dengan nada sinis seraya berjalan menghampiri Sageki.
Aku mengerutkan dahi menatapnya. Tapi segera menyadari situasinya dan langsung minta maaf seraya kembali membungkukkan badanku.
"Suigetsu yang mengatakan padaku kalau cucuku sedang dalam perawatan di rumah sakit," ujar ayah Sasuke, dengan suara yang dalam dan berat. Dia berjalan dengan perlahan ke sisi ranjang yang satunya.
"Begini jadinya kalau memisahkan anak dan ayahnya. Aku sudah mendengar semuanya. Anak ini meraung-raung tak karuan begitu melihat Sasuke. Seharusnya kau memikirkan terlebih dahulu saat akan membawa anak ini pergi dari rumah," ibu Sasuke mulai bicara dengan nada sinis yang sama sekali kedengaran tidak enak di telingaku. Aku menggeleng pelan seraya menghela napas lelah. Aku sudah lelah disalahkan terus sejak tadi.
"Jangan menyalahkan Sakura terus menerus, okaasan!"
Sebuah suara lain tiba-tiba terdengar di pintu. Aku menoleh untuk melihat siapa yang datang.
Sasuke sudah berdiri di sana, hanya menggunakan pakaian kasual dan menatap kedua orangtuanya dengan tatapan tajam.
"Apa salahku? Aku mengatakan sesuatu yang benar 'kan? Coba saja kalau anak ini tidak dipisahkan darimu. Dia tidak akan mengalami hal semalang ini. Untung saja dia tidak apa-apa," kata ibu Sasuke seraya mengusap rambut Sageki dengan lembut. Anak itu mengerutkan dahi tidak suka.
"Kami berdua salah. Itu saja. Jangan hanya menyalahkan Sakura karena ini. Dia sudah merawat Sageki jadi seperti sekarang. Siapa yang dulu bilang kalau dia adalah anak yang tidak bisa diandalkan? Kalian lihat sendiri 'kan sekarang?" kata Sasuke seraya menatap kedua orangtuanya bergantian.
"Karena dia punya bakat musik darimu," sahut ayahnya.
"Bakat itu tidak akan ada apa-apanya kalau tidak ada yang mendampingi dan mengarahkannya. Selama ini Sakura sudah berjuang mati-matian untuk membuat anak itu memiliki nilai tambah seperti anak-anak lain. Dan sekarang kalian masih menyalahkannya?" kata Sasuke.
Aku menunduk dengan kedua tangan terpaut di depan. Aku tidak berani mendongak dan melihat ke arah Sasuke maupun kedua orangtuanya. Aku mengenal nada suara yang kesal dan marah itu.
Sama seperti beberapa tahun yang lalu ...
Saat Sasuke meminta ijin pada kedua orangtuanya untuk menikahiku. Seperti inilah ketegangan yang terjadi pada saat itu.
"Kenapa kalian tiba-tiba kemari?" nada suara Sasuke berubah menjadi dingin.
"Bicaramu sama sekali tidak sopan, Sasuke! Aku kemari karena ingin bertemu dengan cucuku, tentu saja," jawab ibu Sasuke.
"Setelah kalian tahu kalau anak ini berbakat? Saat anak ini sudah menunjukkan kemampuannya?" tanya Sasuke.
"Kau benar-benar ..."
"Mama! Kenapa semua orang berteriak-teriak? Aku tidak suka! Aku mau keluar!"
Mau tidak mau aku menoleh juga ke arah Sageki dan melihat anak itu menatapku dengan tatapan tidak suka. Dia marah. Kedua alisnya bertaut dan bibirnya mengatup rapat.
"Maafkan aku. Tapi bisakah kalian selesaikan urusan kalian di luar ruangan ini? Aku khawatir Sageki akan marah dan itu akan mengacaukan semuanya," ujarku kemudian. Tanpa menoleh pada siapapun di sana, aku mendekati Sageki.
"Jadi kau mengusirku?" aku mendengar suara ibu Sageki.
Aku menarik napas panjang dan menghelanya.
"Tidak mudah mengurus anak ini. Kalau kalian mau memahaminya, kalian pasti akan mengerti. Semuanya tidak terjadi secara begitu saja. Selalu ada proses. Dan membuat anak ini mengerti, adalah proses panjang yang sulit. Kalau kalian tetap menghakimiku sebagai perempuan dan ibu yang tidak bertanggung jawab, silakan saja. Bagaimanapun juga, anak ini tetap akan membutuhkanku. Karena saat ini, satu-satunya orang yang benar-benar bisa menerima perbedaannya hanya aku. Kalau kalian ingin dekat dengan anak ini, cobalah mengerti keadaannya dan jangan menuntutnya untuk jadi sempurna seperti yang kalian inginkan," ujarku panjang lebar seraya mengusap kepala Sageki dengan lembut. Anak itu langsung memegang tanganku dengan erat dan kembali menatap kedua orangtua Sasuke dengan tatapan tak senang.
Aku masih tidak menoleh. Tapi dari sudut mataku, aku bisa melihat kedua orangtua Sasuke berjalan ke arah pintu dan keluar dari sana. Aku memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.
"Apa kau juga menyuruhku keluar?" suara Sasuke membuatku langsung membuka mata dan menoleh ke arahnya.
Dia masih di sana. Berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam celananya. Menatapku dengan serius.
"Kalau kau juga membuat keributan di sini, aku–"
"Apa kau akan menyuruhku keluar lagi dari kehidupanmu?" Sasuke menyela perkataanku tanpa menungguku selesai berkata-kata.
Aku terhenyak di tempatku. Untuk beberapa saat mata kami bertemu dan itu adalah pertama kalinya aku kembali menatapnya dengan tatapan seperti ini setelah sekian lama.
"Aku tahu aku salah selama ini. Tapi bisakah kita memulai semua dari awal lagi?" Sasuke masih menatapku dengan tatapan tajam yang menghujam dadaku. Hatiku berdesir cepat sekali melihat kedua matanya yang menatapku dengan tatapan itu. Tatapan yang selalu ditujukan untukku. Dan aku sadar kalau aku masih mencintai laki-laki ini setelah semua yang dilakukannya.
"Papa, kau tidak akan pergi lagi 'kan?" tanya Sageki tiba-tiba. Aku terkesiap dan segera mengalihkan pandanganku dari tatapan Sasuke.
Baik aku maupun Sasuke langsung menoleh ke arahnya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Sasuke.
"Ajari aku piano. Aku ingin main piano dengan papa," jawab Sageki.
Aku merasa kalau Sasuke sedang menatapku lagi. Tapi aku mengabaikannya dan tidak menoleh ke arahnya.
"Tentu saja. Aku akan mengajarimu," sahutnya kemudian.
Aku masih tidak menoleh ke arahnya saat aku melihat Sageki berseru senang sambil memainkan mobil-mobilan di tangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[Ino]
Aku terbangun dengan kaget karena bunyi alarm yang berdering dengan nyaring tepat di samping telingaku. Mataku langsung terbuka dengan susah payah sambil tanganku meraba-raba sekitar tubuhku mencari asal suara. Tanganku memegang sesuatu yang dingin dan keras di samping kepalaku. Aku membuka mataku dengan susah payah dan mengamati benda yang aku pegang itu. Ahh, ponselku berbunyi. Aku menguap lebar sekali dan merasakan kepalaku berdenyut dengan keras saat aku mencoba bangun dari tidurku.
Ohh.. Kenapa rasanya pusing sekali? Aku meremas kepalaku dan kembali meletakkan kepalaku di atas bantal. Bantal? Aku meraba-raba sekitar tempatku berbaring saat ini. Hangat. Dan lembut.
Aku membuka mataku lebar sekarang. Lalu aku mulai menyadari sesuatu. Di mana aku?
Aku terbangun dari tidurku dan menatap sekeliling ruangan. Aku sangat mengenali ruangan ini. Ini kamarku yang ada di rumah orangtuaku. Samar-samar telingaku mendengar bunyi gaduh di luar pintu kamar. Bunyi denting perabotan yang disertai bunyi-bunyi lain dari balik pintu kamar ini.
Ini rumah orangtuaku. Kenapa aku bisa sampai di sini?
Bukankah seharusnya aku berada di apartemenku?
Ingatanku mulai terkumpul dengan samar-samar. Aku menengok ke arah jam weker yang ada di meja samping tempat tidurku. Apa? Sudah jam sembilan pagi? Aku membelalakkan mata menatap jam itu. Dahiku berkerut mencoba mengingat-ingat kenapa aku bisa sampai di rumah orangtuaku.
Seingatku, tadi malam aku recording di studio dan pulang agak larut malam. Lalu aku pergi ke kafe untuk minum dan–
OH! Aku menutup mulutku sendiri dengan kaget. Aku bertemu Sai di sana dan sepertinya aku mabuk berat.
Suara ketukan di luar pintu membuatku terlonjak kaget.
"Ino. Kau sudah bangun?" suara ibuku terdengar dari balik pintu itu.
"Oh! Iya!" aku berseru dengan agak keras.
"Sarapanmu sudah siap. Kau ada jadwal hari ini 'kan? Cepat bangun dan keluar," kata ibuku lagi.
"Aku akan segera keluar," jawabku.
Aku lalu turun dari tempat tidurku dan baru sadar kalau gaun yang aku pakai tadi malam masih melekat di tubuhku. Aku mendesah panjang. Ahh.. Apa aku semabuk itu sampai aku lupa mengganti bajuku?
Aku lalu berjalan ke arah lemari pakaian bersamaan dengan dering yang berbunyi dari ponselku. Aku mengambil ponsel yang tergeletak begitu saja di tempat tidurku yang berantakan dan segera membuka layarnya untuk mengecek siapa yang mengirimiku e-mail.
Jantungku seketika berhenti rasanya saat aku membaca nama yang tertera di ponsel itu. Dan tanganku jadi bergetar saking kagetnya. Aku bahkan tidak bisa mengungkapkan bagaimana perasaanku saat ini. Antara senang karena menerima pesan darinya, atau malu karena aku mungkin melakukan hal memalukan di depannya kemarin.
Dengan hati-hati aku membuka pesan dari Sai dengan perasaan berdebar.
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Aku tidak mau orang-orang melihatku mengantarmu ke apartemenmu dan fans akan mengira macam-macam tentang kita. Jadi aku membawamu ke rumah orangtuamu. Bagaimanapun juga itu jauh lebih aman. Jangan khawatir. Kau tidak mengatakan sesuatu yang memalukan tadi malam. Itu 'kan yang kau khawatirkan? Tapi kau harus mengganti biaya karena aku mengantarkanmu. Bagaimana kalau kita bertemu nanti malam? Di tempat biasa? Aku akan menunggu di sana."
Aku menatap layar ponsel itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
Apa yang aku katakan tadi malam sampai Sai melakukan hal ini? Mana pernah dia mengajakku dengan cara seperti ini selama ini? Aku harap aku tidak mengatakan sesuatu yang fatal. Aku mengacak-acak rambutku dengan gemas saking frustasinya.
Tapi ada sesuatu dalam diriku yang mulai berdenting pelan dan membuatku bersiul sepanjang pagi ini. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya sepanjang hari ini. Dan kata-kata Sai tadi malam terngiang-ngiang terus dalam kepalaku.
"Kalau sebenarnya aku masih menyukaimu dan aku tidak bisa melupakanmu."
Aku tersenyum lebar.
Mungkin setelah ini, kita bisa memulai semuanya lagi dari awal.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[Sakura]
"Mama! Aku membuat prakarya dari clay dan Miss Senju bilang bagus sekali," Sageki langsung bergelayut manja kepadaku saat aku baru saja tiba di ruang tunggu untuk menjemput anak itu.
"Oh? Benarkah? Boleh Mama melihatnya? Apa yang kau buat?" tanyaku antusias, seraya duduk di kursi yang ada di ruang itu.
"Miss Senju menyimpannya di lemari kaca di kelas. Aku membuat kelinci. Mama aku ingin memelihara kelinci," Sageki berkata sambil duduk di pangkuanku.
"Apa? Tapi kau baru saja membeli anak kucing dua hari yang lalu. Sekarang sudah minta kelinci," kataku. Sageki mulai terlihat sedikit cemberut.
"Kata Himawari, dia memelihara kelinci. Dan telinganya panjang sekali," sahutnya.
"Ahh.. Lalu bagaimana dengan anak kucingnya? Apa kata Mama? Kau janji akan menyayangi dan memeliharanya dengan baik 'kan?" tanyaku.
Sageki terdiam sebentar. Lalu dia mengangguk tanpa mengucapkan kata-kata.
"Nah.. Kalau begitu, ayo kita pulang. Mama akan memasakkan sesuatu untukmu," kataku seraya menurunkan Sageki dari pangkuanku.
Sageki segera menggenggam tanganku dengan erat begitu aku mengajaknya keluar dari ruangan itu. Sudah tidak ada orang di halaman sekolahan itu. Hanya terlihat beberapa guru yang sedang bersiap pulang dan menyapa ramah ke arah kami saat kami berjalan menyusuri taman sekolah itu.
"Papa!" seru Sageki tiba-tiba saat kami tiba di luar gerbang sekolah.
"Eh?" aku menatapnya bingung.
"Itu," Sageki menunjuk pada satu arah di kejauhan. Aku melihat ke arah yang ditunjuk.
Sageki melepaskan tangannya dariku dan berlari ke arah yang tadi ditunjuknya. Aku melihat seorang laki-laki berkacamata hitam dan mengenakan topi menutupi sebagian wajahnya berdiri di samping mobil yang terparkir di antara dua pepohonan berdaun rimbun di salah satu sisi jalan. Dia terlihat melambaikan tangan ke arah Sageki yang berlari ke arahnya. Laki-laki itu berjongkok saat Sageki sampai padanya dan menggendongnya sambil mencium pipinya dengan gemas.
Aku menghela napas panjang sebelum akhirnya berjalan ke arah mereka berdua dengan langkah agak berat.
"Kenapa kau tidak menghubungiku padahal aku sudah bilang akan menjemputnya 'kan?" Sasuke berkata dengan nada protes saat aku tiba di depan mereka.
"Kau bilang ada interview hari ini. Cepat masuk. Nanti banyak yang melihatmu," kataku seraya menatap sekelilingku. Tidak ada tanda-tanda orang yang sedang memperhatikan kami, tapi fans punya mata seribu. Apalagi para otaku.
"Mama, aku duduk di belakang," Sageki berlari ke pintu mobil untuk jok di belakang dan langsung membukanya. Aku menahan pintu mobil agar tidak menutup sebelum melangkah masuk mengikutinya. Tapi tiba-tiba tanganku ditahan dan aku kembali berdiri di luar.
"Kau duduk di depan. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu," kata Sasuke, masih memegangi lenganku. Aku melepaskan tanganku darinya.
"Baiklah," sahutku seraya menutup pintu mobil dengan agak keras.
Aku berjalan melewatinya tanpa melihat wajahnya dan langsung membuka pintu mobil bagian depan. Sageki sudah mulai berceloteh mengomentari apapun yang lewat di sekitarnya. Mulai dari mobil yang berjalan di jalanan, beberapa iklan yang terpasang di baliho di pinggir jalanan dan hal-hal sepele yang tidak aku perhatikan sebelumnya.
"Mama, Hot wheel-ku yang kemarin rusak. Rodanya sudah lepas," kata Sageki sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sasuke masuk ke dalam mobil dan langsung menghidupkan mesin mobil setelah sebelumnya mengenakan sabuk pengamannya.
Aku membuka mulutku untuk menjawab Sageki tapi sudah didahului Sasuke.
"Kita akan beli yang baru nanti. Asal kau jadi anak penurut dan tidak marah-marah," katanya seraya menoleh ke arah Sageki seraya tersenyum lebar.
"Baiklah! Aku tidak akan marah-marah, papa," sahut Sageki datar. Dia kembali menatap mobilnya tanpa memperhatikan kami lagi. Dan mulai asik dengan dunianya sendiri lagi. Menatap jalanan di sekeliling dengan pandangan bertanya-tanya lalu memikirkannya sendiri. Entah apa yang ada dalam kepala anak itu. Sebentar lagi pasti dia akan mulai menanyakan hal-hal aneh lagi. Mobil mulai melaju dan aku juga memakai sabuk pengamanku tanpa bicara.
"Kenapa kau masih tidak mau bicara padaku? Kau bilang kau akan memberiku kesempatan setelah ini," Sasuke memulai pembicaraan tanpa melihatku. Pandangannya fokus pada jalanan di depannya yang sudah mulai dipenuhi beberapa mobil.
"Kalau begitu, beri aku waktu untuk membiasakan diri dengan keadaan ini," sahutku singkat. Aku juga tidak melihat ke arahnya.
"Apa? Ini sudah satu bulan lebih, Sakura. Kau selalu menghindariku. Kau tidak pernah mau bicara denganku kalau itu bukan sesuatu yang penting sekali. Kau hanya selalu fokus pada Sageki dan sama sekali tidak menggubrisku. Kita seperti benar-benar menjadi orang lain," kata Sasuke panjang lebar.
Aku menghela napas panjang seraya melempar pandang keluar jendela di sampingku.
"Aku hanya butuh waktu. Itu saja," jawabku kemudian.
Sasuke tidak segera menjawab.
"Kenapa? Apa kau takut aku akan mengkhianatimu lagi? Kau takut aku akan mencampakkanmu lagi? Kau takut aku akan melakukannya lagi?" tanyanya kemudian.
Aku tidak segera menjawab. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku tidak bersikap sebebas dulu padanya. Entah hanya aku sendiri yang merasakannya atau bagaimana, tapi aku merasa selalu ada jarak yang tidak bisa dilewati setiap kami hanya berdua saja. Sasuke selalu memulai semuanya, tapi tetap saja perasaanku seakan menahanku untuk melakukan semuanya seperti dulu. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku rasa Sasuke benar. Mungkin aku sendiri yang terlalu takut kalau semua akan terulang lagi suatu saat. Aku belum siap untuk membuka perasaanku padanya lagi, karena perasaanku mungkin tidak akan sesakit dulu kalau suatu saat aku harus pergi lagi darinya.
"Kau boleh melakukan apapun yang kau mau kalau aku menyakitimu lagi. Kau boleh menamparku, mengataiku sesukamu, mengatakan pada publik tentang ini semua, mengutukku.. Apapun! Lakukan apapun yang kau mau kalau aku membuatmu terluka lagi," kata Sasuke dengan nada setengah kesal.
"Jangan bicara yang macam-macam," ujarku datar.
"Lalu apa? Apa lagi yang bisa aku lakukan untuk bisa membuatmu memaafkanku? Kau bilang sudah memaafkanku, tapi sikapmu padaku sama sekali tidak menunjukkan kalau kau benar-benar memaafkanku. Tinggal beberapa bulan sebelum aku pergi ke Taiwan untuk filming doramaku. Aku tidak akan ada di Jepang untuk beberapa bulan. Aku ingin memperbaiki hubungan kita dan memulainya dari awal. Orangtuamu maupun orangtuaku juga sudah tidak mempermasalahkan ini lagi 'kan? Mereka sudah mau membuka hati untuk pernikahan kita. Tapi kenapa sekarang kau yang mulai menutup diri dariku?" ujar Sasuke. Sekarang dia menatapku.
"Lihat jalan di depanmu. Dan jangan membicarakan ini di depan Sageki," kataku dingin.
"Aku tidak tahan melihatmu bersikap dingin padaku. Apa kita tidak bisa memulainya dari awal lagi? Seperti dulu lagi.. Sakura?" Sasuke menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas menyala merah dan dia menatapku lama.
Aku tidak balas melihatnya dan asik mengamati beberapa orang yang sedang menyeberang jalan di depanku. Tapi Sasuke masih bergeming dan melihatku, seolah menuntut jawaban dariku saat ini juga. Dia tahu aku selalu tidak bisa mengelak kalau ditatap dengan cara seperti itu. Makanya aku memilih untuk tidak melihatnya.
"Kalau kau terus seperti ini, terpaksa aku akan kembali pada perempuan itu," kata Sasuke kemudian, kembali fokus pada jalanan di depannya.
Aku tersenyum sinis menanggapi kata-katanya.
"Sejak kapan aku melarangmu berhubungan dengan perempuan itu? Kau bebas melakukan apa saja semaumu selagi kau bisa," sahutku dingin.
Sasuke berdecak pelan dan tampak sekali kekesalan di wajahnya.
"Lalu apa gunanya aku memintamu kembali kalau kau terus menjauhiku seperti ini?" ujarnya gemas.
"Demi Sageki. Karena dia membutuhkanmu. Sebagai ayahnya," jawabku singkat.
"Kau tidak membutuhkanku?" tanya Sasuke lagi.
"Sejauh ini belum," sahutku pendek.
"Kau benar-benar ..." Sasuke tidak melanjutkan kata-katanya dan kelihatan menahan kekesalan di wajahnya. Aku tidak menggubrisnya. Biarkan saja. Kalau dia bersabar dan mau menunggu seperti kata-katanya dulu, aku pasti akan berubah untuknya.
"Mama," panggil Sageki pelan dari jok belakang.
"Ada apa?" aku menoleh ke arahnya.
Sageki terlilhat sedang mengamati sesuatu di luar jendela.
"Itu.. Yang di mobil bibi yang itu. Namanya apa?" tunjuk Sageki pada sesuatu di luar jendela. Aku mengikuti arah telunjuknya dan melihat keluar jendela mobil. Seorang perempuan sedang menggendong bayi kecil yang dililit selimut dan kain hangat di dalam mobil di samping mobil kami.
"Itu? Bayi? Kenapa?" tanyaku.
"Satoru juga punya adik bayi. Aku pernah melihat mama-nya membawanya ke sekolah. Satoru bilang, adiknya lucu. Mama.. Lucu itu apa?" tanya Sageki dengan mata polos.
Nah.. Benar 'kan? Dia pasti akan menanyakan hal di luar dugaan seperti ini. Aku terdiam dan berpikir untuk sesaat.
"Itu adalah.. perasaan di mana kau akan tersenyum atau tertawa saat melihat sesuatu. Seperti saat kau tertawa saat melihat kartun kesukaanmu," jawabku kemudian.
Sageki tidak menjawab. Dia kelihatan sedang mencerna dan memikirkan jawabanku karena dahinya berkerut sambil mulutnya mengulangi jawabanku dengan pelan.
"Apa.. Apa Shiroi juga lucu?" tanya anak itu kemudian. Shiroi adalah nama anak kucing yang baru dibelinya dua hari yang lalu denganku. Karena warnanya putih, makanya dia menamainya Shiro yang artinya putih. Sasuke tepatnya yang memberinya nama.
"Ahh.. Iya. Seperti itulah," jawabku kemudian.
"Mama," panggil Sageki lagi.
"Ya?" aku kembali menoleh ke arahnya.
"Aku juga ingin adik bayi," jawab Sageki.
"Eh?" sahutku kaget.
Aku mendengar Sasuke tertawa agak keras di sampingku mendengar jawaban Sageki tadi. Tapi dia tidak menoleh ke arahku dan masih terus menyetir.
"Satoru bilang adiknya sering menangis keras. Dan suka menggigiti robot miliknya. Mama.. Aku mau adik bayi," kata Sageki lagi dengan polos.
Aku kebingungan sendiri mau menjawab bagaimana sementara Sasuke tak berhenti tertawa geli sambil melihat Sageki dari spion di depannya.
"Ahh.. Sageki sayang.. Begini, adik bayi tidak bisa datang dengan mudah seperti Shiroi-mu. Jadi.. Untuk sementara, anggap saja Shiroi seperti adik bayi. Lagipula, dia juga lucu 'kan?" kataku.
"Tapi dia tidak bisa menangis. Dan larinya kencang sekali. Kadang dia menggigitku dan mencakar tanganku kalau mainannya aku ambil," ujar Sageki.
Aku membuka mulutku untuk menjawab tapi Sasuke mendahuluiku untuk menyahut.
"Akan aku berikan kau adik bayi, Sageki!" jawabnya.
Aku langsung menoleh ke arahnya dengan cepat sekali dan menatapnya penuh protes.
"Sasuke-kun! Jangan menjanjikannya yang macam-macam. Kalau kau tidak bisa menepatinya, dia akan marah," kataku. Tapi Sasuke hanya menatapku sambil angkat bahu tak acuh.
"Benarkah? Papa?" tanya Sageki.
"Hm. Asal kau janji akan sabar menunggunya. Adik bayi tidak bisa langsung datang saat kau menginginkannya. Kau mau menunggu atau tidak?" Sasuke bertanya sambil menatap Sageki dari spion di depannya.
"Iya. Aku mau menunggu. Aku mau adik bayi," jawab Sageki dengan antusias.
"Sasuke!" aku masih berkata dengan nada protes kepada Sasuke.
"Kenapa? Bukankah untuk anak seusia Sageki sudah pantas punya adik? Dia sudah hampir 5 tahun, tidak masalah 'kan? Apa kau takut aku tidak ada saat kau hamil nanti? Ada orangtuaku, orangtuamu. Aku rasa mereka tidak akan keberatan untuk menemanimu," ujar Sasuke panjang lebar tanpa melihatku.
"Bukan itu masalahnya," kataku.
"Lalu apa? Apa kau sudah lupa bagaimana membuatnya?" Sasuke menatapku dengan pandangan menggoda dan itu sukses membuat wajahku bersemu merah.
"Hei!" sahutku dengan nada protes.
Tapi Sasuke kembali tidak menggubrisku dan kembali menatap jalanan di depanku sambil tersenyum penuh kemenangan. Aku membuang napas kesal. Yang benar saja! Dan wajahku masih bersemu merah saat aku melihat Sasuke diam-diam mengerling ke arahku.
Sial.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
END
.
.
.
A/N: Hahahaha! Kecepeten, ya? Saya punya waktu luang beberapa hari ini, jadi full di depan laptop buat nerusin fic. Gile lu, ndroo! Kayak gak ada kerjaan aja.
Yang penting udah end, deh.
Kisah ini terinspirasi dari keponakan saya sebenernya. Dia juga punya sindrom Asperger dan syukurlah sekarang udah banyak perkembangannya. Penggambarannya kayak Sageki itu. Bedanya, keponakan saya itu berkembangnya di drum. Dan sebenernya, kalimat yang dilontarkan anak asperger itu gak sesimpel Sageki. Bahkan kata-kata mereka terkesan gak dipahami banya orang, karena terlalu baku dan kaku. Jadi, ya beginilah.
Maafkan atas segala kekurangan dan kecacatan dalam fic ini. Yah, namanya juga fic.
Dan sekarang saatnya menyelesaikan fic-fic lain yang terlantarkan.
Makasih yang udah follow, fav, review fic ini. Dan juga para silent readers di luar sana.
