Maaf kalau ada typo atau kesalahan penulisan kalimat ^_^ Saya hanya manusia biasa :v
Happy Reading dan tolong tinggalkan jejak kalian :D
I SEE YOU-THE LAST JOURNEY
Genre : Crime,Thriller,Mistery
Boys x Boys
Cast : Infinite
R&R
Happy reading,readers ^_^
xXx
.
.
.
Kegelapan malam terusik dengan hentakan demi hentakan kaki seorang pria yang berlari dengan cepatnya. Matanya yang nyalang memandang dengan awas setiap sudut gelap yang ia lewati. Raut khawatir dan takut membias jelas pada wajahnya yang tampan. Sementara pepohonan pinus besar semakin memperburuk suasana malam.
Key.
Pria dengan rambut cokelat tua itu terus berlari tanpa sedikitpun menolehkan kepalanya kebelakang. Ia merasa sesuatu sedang mengejar dan memperhatikannya sejak ia meninggalkan kediaman keluarga Kim.
"aku tak mau mati. .aku tak akan mati. . " desis nya berkali kali.
Key menghentikan larinya. Didepan ia melihat sebuah pondok kecil yang sepertinya sudah ditinggalkan pemiliknya. Dengan ragu Key mendekati pondok itu. ia memicingkan matanya untuk melihat situasi didalam pondok. Sepi. Hanya sebuah lilin kecil yang menyala didalam sana.
Api.
Kemungkinan ada orang didalamnya. Key mendekat kearah pintu masuk dan mengetuknya perlahan. "permisi. .tuan, bisakah saya masuk? "
Hening. Hanya kebisuan yang semakin terasa menggigit. Key merapatkan jaketnya. Udara dingin menembus sumsum tulang dan menambah penderitaannya. Sekali lagi ia mengetuk, kali ini dengan cukup keras. Masih seperti tadi, hanya kesunyian yang membalas panggilan nya.
Key menelan salivanya susah payah. Telinganya yang tajam mendengar derap langkah perlahan dari arah belakangnya. Sesuatu yang berat sedang berjalan perlahan menuju kearah nya. Seseorang itu. .
"TOLONG BUKA PINTUNYA! BIARKAN SAYA MASUK! TUAN! NYONYA! SIAPAPUN TOLONG SAYA! " teriaknya panik. insting nya yang tajam sudah menyadari bahwa bahaya sudah sedemikian dekat dengan nya.
Suara langkah kaki itu terhenti tepat dibelakang nya. Tubuh Key menggigil kuat. Ia memberanikan dirinya untuk menoleh kebelakang dan melihat sosok itu berdiri dengan tepat dibelakang nya.
Bugh!
"ukhh! "
Key terjungkal ketika dengan cepat sosok hitam itu dengan kuat memukul wajahnya dengan sebatang kayu keras. Hidungnya terasa patah dan darah mulai merembes dari sana. Dengan kesadaran yang tersisa Key masih sempat melihat dengan jelas sosok itu. seseorang yang memakai topeng kelinci dengan pakaian hitam yang membalut tubuhnya dari atas hingga bawah. Matanya membeliak ketika kayu yang digunakan untuk memukulnya tadi merupakan gagang sebuah kapak. Tangannya sedemikian mungkin meraih tanah dan mencoba merangkak menjauh dengan sisa kekuatan yang ia punya. Sosok itu menyeringai dibalik topengnya. Tangannya dengan cepat mengangkat kapak tinggi2 dan menghantamkan nya tepat dikepala Key. Suara derak tengkorak kepala yang hancur terdengar jelas. Key memekik putus asa. Nyawanya lepas seketika. Pria bertopeng dengan tenang menarik kapaknya kembali. Dengan satu tangan yang tersisa ia menarik tubuh tak bernyawa Key, dan dibawah rembulan yang mulai keluar dari kurungan mendung, terlihat jelas pergelangan tangan kanannya terbalut kain dengan darah yang merembes jelas.
.
.
Sementara itu dikediaman keluarga Kim.
Sungyeol menarik nafasnya berat. ia sama sekali tak menduga kejadian yang teramat buruk akan terjadi malam ini. Tangannya meremas rambutnya. Kenangan demi kenangan buruk yang pernah ia terima dulu kembali terbayang jelas dikepalanya. Ibunya. Ayahnya. Teman2nya.
"kau baik2 saja. .? "
Sungyeol tersadar dari dejavu yang menyiksanya. Nafasnya memburu. Sunggyu yang berada disampingnya mendekat dengan cemas. Ia menekan kening Sungyeol untuk memastikan keadaannya. "kau demam.. " bisik Sunggyu. Sungyeol mengangguk. Ia adalah seorang mahasiswa kedokteran dan ia lebih tau tentang keadaannya sendiri.
"aku baik2 saja Hyung. . " ucapnya menenangkan Sunggyu. Pria itu kembali mendekati mayat Woohyun yang tergeletak didekatnya. Ia sudah kehabisan air matanya. Hanya wajah sendu yang ia tampilkan sejak tadi.
"aku tak menduga, malam ini adalah malam terakhir aku melihatnya. . mengapa harus begini.?apa salah kami? Mengapa harus seperti ini nasib yang menimpanya? "
Bisiknya. Sungyeol menatap penuh sesal. Ya. Semua terasa sangat buruk sekarang. 3 orang sudah terbunuh, Key melarikan diri dan ia sama sekali tidak mengetahui dengan pasti keadaan kekasihnya Myung Soo.
"myungie. .kuharap kau baik2 saja. . " desisnya penuh khawatir.
.
.
xXx
.
.
Tuan Kim melangkah dengan hati2 kedalam setiap kamar yang ia masuki. Sudah berkali2 ia memeriksa setiap sudut kamar hingga berakhir pada sebuah dinding aneh pada kamar nya yang tertutup gorden besar. Dengan hati2 tuan Kim menyibak kain itu dan menemukan sebuah pintu kecil terdapat disana. Dengan perasaan gusar tuan Kim membuka secara paksa pintu itu dengan samurai tajam yang dipegang nya. tuan Kim memasuki ruangan itu dengan perlahan, didalamnya ia menemukan sebuah ruangan yang cukup besar dengan berbagai macam sampah makanan dan puluhan puntung rokok yang berserakan dilantainya.
"aku seperti mendengar bisikan seseorang. . "
Kalimat yang diucapkan Dongwoo terngiang kembali ditelinganya. Tuan Kim akhirnya meyakini bahwa suara itu berasal dari ruangan tersembunyi ini.
"apakah ayah menemukan sesuatu? " tanya Dongwoo ketika melihat tubuh tuan Kim melangkah keluar dari ruangan kecil itu. Tuan Kim menggeleng lesu. Ia kembali melangkah kearah kamar selanjutnya. Kali ini ia memasuki kamarnya sendiri. Ia melihat mayat istrinya yang membeku diatas ranjang dengan kain yang menutupi. Pria paruh baya itu menjatuhkan dirinya duduk dipinggir ranjang. Matanya kembali membasah mengingat kematian tragis yang menimpa keluarganya.
"apakah ayah sedih. .? " tanya Dongwoo. Tuan Kim mengerjap kesal. "Tentu saja! Jangan bertanya hal bodoh! " hentaknya. Pria itu terperanjat ketika mendengar tawa kecil dari bibir anak kedua nya itu.
"kalau begitu. .ikutlah dengan ibu ke alam sana. . " bisik Dongwoo. Tuan Kim membeliak marah. Ia sudah siap mengatakan kalimat kotor dari mulutnya sebelum sebuah tusukan dengan cepat menembus dadanya.
"ukhh! " mulutnya mengeluarkan darah berbuku buku. Tuan Kim masih sempat membalikkan tubuhnya dan melihat Dongwoo tersenyum sinis disana. Sementara Hoya hanya memberikan pandangan mencemooh padanya. Mulut berdarah tuan Kim terbuka dengan susah payah. Ia ingin mengatakan sesuatu namun pisau tajam yang menembus dadanya merobek jantungnya dengan parah. Hanya tangannya yang masih bisa ia gerakkan menggapai2 tubuh Dongwoo yang menyeringai tipis. Pria tampan itu menarik samurai yang tergeletak didekat kakinya dan dengan sekali tebasan pedang tajam itu membuat kepala Tuan Kim terputus dari batang lehernya. Tubuh tuan Kim menggelinjang sesaat sebelum akhirnya benar2 kaku. Hoya mengalihkan pandangannya dengan ekspresi jijik. sementara Dongwoo hanya menyeringai dengan ekspresi puas.
"selamat jalan ayah. . " bisiknya.
.
.
xXx
.
.
"bagaimana? Kalian menemukan nya? " tanya Sungyeol memburu ketika melihat Dongwoo dan Hoya turun dari lantai atas. Dongwoo dan Hoya serempak menggelengkan kepala mereka berdua. Sungyeol mendesah frustasi. Keadaan semakin menekan mereka yang tersisa didalam ruangan. Sungyeol bangkit dari duduk nya. ia bergegas menuju dapur dan mengambil palu serta beberapa benda tajam yang lain.
"aku menemukan beberapa senjata untuk. . "
PRANGG!
Sungyeol yang sangat dekat dengan kaca sangat terkejut dengan kondisi itu. kakinya yang goyah menginjak ceceran darah dan membuatnya terjungkal. Kepalanya menghantam lantai dengan keras.
Key.
Benda yang menghantam jendela kaca dengan keras adalah kepala Key yang bersimbah darah. Matanya terbuka dengan ekspresi ketakutan yang sangat mengerikan.
Sungyeol menekan kepalanya yang sakit, matanya melihat sosok hitam mengenakan topeng kelinci dengan sebuah kapak tajam melangkah dengan tenang masuk kedalam rumah melalui jendela yang pecah. Tangannya mengayunkan kapak dengan cepat kearah Sungyeol yang masih terbaring diantara kesadarannya yang melemah.
Dongwoo dengan sigap menarik tangan Hoya bergerak menjauh sementara Sunggyu yang berada paling jauh dari Sungyeol berlari dengan gerakan cepat hendak menahan tebasan sosok tersebut pada Sungyeol.
Sungyeol yang menyadari bahaya masih sempat menarik tubuhnya kesamping dan tebasan kapak itu menembus lantai.
Brakk!
"akhhh! " Sungyeol berteriak histeris sambil menendangkan kakinya kearah tubuh lawan. Gerakan tak terduga itu berhasil membuat sosok bertopeng terhuyung kebelakang. Sungyeol dengan sigap memanfaatkan keadaan dan meraih palu yang tak jauh dari tangannya.
Bughhh! Hantaman pertama berhasil menghantam kaki sosok itu dan membuatnya terjatuh kebelakang. Sungyeol berdiri dengan garang, tangannya berkelebat cepat kearah kepala sosok bertopeng.
"arghhhh! "
Hantaman demi hantaman dengan tepat meremukkan tulang kepala sosok bertopeng. Darah memuncrat kemana mana dan mengenai wajah Sungyeol yang menggila. Tangannya terus dan terus menghantam kan palu itu pada kepala sosok yang sudah tak bernyawa itu. hingga ia berhenti ketika menyadari sosok itu sudah tewas dengan kepala hancur. Tangannya mengusap darah yang terciprat diwajahnya. Matanya menatap garang pada ketiga pria yang termangu melihat aksinya.
"aku tak menyadari kau segila itu. . " desis hoya. Sungyeol menajamkan pandangannya.
"kau bahkan belum tau sama sekali. . " bisik Sungyeol dengan suara bergetar. Hoya menelan ludahnya. Sungyeol yang mereka lihat jelas berbeda dari pertama kali mereka lihat.
"sebaiknya kita segera pergi dari sini. .aku akan memanggil ayah. . " ujar Sunggyu. Ia segera bergerak keatas dengan Dongwoo dan Hoya yang mengikutinya. Sungyeol menarik nafasnya. Ia menuju dapur dan membasuh wajahnya dengan air dari wastafel. Ia melihat cermin kecil dan menenangkan dirinya sebelum kembali keruang tamu. Dengan ngeri ia membuka topeng sosok tak bernyawa itu. sebuah wajah pria dengan kumis dan berewok kasar terlihat disana. Ingatan nya yang tajam tiba2 mengingat sesuatu. Ia meraih pergelangan tangan pria itu. Sungyeol terkesiap. Pergelangan itu tidak terluka sedikit pun.
"berbeda. .ini bukan org yang menyerangku didapur. .lalu siapa? Atau. .mereka ada lebih dari satu. .? "
Sungyeol bergerak cepat menaiki anak tangga untuk menyusul ketiga pria yang telah lebih dahulu kesana. Pikirannya berkecamuk dengan kesimpulan baru yang ia temukan. Sungyeol dengan gusar membuka tiap kamar yang ia lewati. Kosong. Hingga ia berakhir didepan kamar tuan Kim dan Nyonya Kim. Sungyeol menelan ludahnya. Ia melihat pintu itu terbuka sedikit dengan kesunyian yang mencekam. Tangannya dengan perlahan mendorong pintu untuk membuka lebih lebar lagi. "Sunggyu. . " panggilnya. "dongwoo. .hoya. . " panggilnya lagi. Tak ada jawaban sedikitpun yang terdengar. Sungyeol memasuki ruangan yang temaram itu. ia terpekik ngeri melihat Tuan Kim tergeletak diranjang dengan kepala terpisah. Panik. Sungyeol memundurkan tubuhnya keluar. Tubuhnya menggigil hebat mengetahui kondisi Tuan Kim yang tewas mengerikan.
"Myungie. .kau dimana. .aku takut. . " desisnya. ia semakin terlarut dalam suasana hingga ia menyadari sesuatu. .Hoya.
Kemana ketiga pria itu pikirnya. Apakah mereka sudah mengetahui keadaan tuan Kim dan keluar meminta bantuan? Lalu lewat mana? Mengapa ia tak melihat mereka tadi?
Kepala Sungyeol penuh dengan pertanyaan2 hingga ia mulai melangkah mencari keberadaan ketiga pria itu. langkah nya berakhir diruang tamu yang menjurus kearah halaman belakang rumah. Ia mencari dengan teliti setiap sudut yang mencurigakan baginya.
"tak ada bekas mereka berlari dari pintu belakang. . "
Sungyeol menyandarkan tubuhnya kedinding. Kepalanya bertumpu pada dinding yang terbuat dari kayu itu. telinga nya berdesing pelan. Sungyeol menarik dirinya. Dengan penasaran Sungyeol mengetuk2 permukaan dinding itu. ia bisa merasakan kehampaan didalam memberitahunya bahwa ada ruang kosong didalamnya. Sungyeol terus mengetuk2 permukaan dinding dan mengikuti arahnya. Gerakannya terhenti pada sebuah lemari berukuran sedang yang menutupi dinding. Sungyeol menggesernya dengan perlahan. Sebuah pintu terlihat disana.
Krieett. .
Sungyeol membukanya dengan hati2. Ketika pintu terbuka terlihat sebuah ruangan gelap dengan berbagai macam benda usang disana, dengan perlahan pria tinggi itu memasukinya. Suasana pengap karena abu yang berserakan sontak menyesakkan nya. berkali kali ia terbatuk dan berusaha menutup mulutnya dari abu yang masuk. Matanya yang tajam mengitari sudut ruangan dengan cermat.
"gudang. .sepertinya ini gudang yang tersembunyi dan terhubung dengan ruang tamu. ."
Karena tak menemukan sesuatu yang mencurigakan, Sungyeol berbalik hendak melangkah keluar.
Deg.
Jantungnya berdegup kencang. Telinga nya yang tajam mendengar derak kaca pecah yang terinjak kuat. Sungyeol menghentikan langkahnya dan merapatkan dirinya kesudut ruangan. Ia mendengar langkah kaki berat mendekat dari arah luar.
"arghh! Siapa yang melakukan ini!? Aku akan bunuh! Aku akan bunuh siapapun yang melakukan nya! "
Sungyeol merapatkan kakinya dengan takut mendengar teriakan keras dari luar. Matanya mengintip keluar dari sebuah lubang kecil didinding. Matanya terbeliak ngeri. Disana ia melihat dengan samar sesosok tubuh berpakaian serba hitam sedang meratapi tubuh tak bernyawa pria yang ia bunuh tadi. Sungyeol menelan ludahnya susah payah. Dugaannya mengenai pelaku lebih dari satu orang terungkap sekarang. Ia melihat sosok dengan panah otomatis itu membuka topengnya. Sebuah wajah tak dikenali terlihat disana. Pria dengan wajah tirus dan pucat pasi. Sungyeol terperanjat kecil ketika mata pria itu mengalih padanya seolah mengetahui keberadaan Sungyeol. Sungyeol membekap mulutnya menahan teriakan takut yang hendak keluar. Tubuhnya yang menggigil kuat beringsut menjauh dari posisinya. Sial, kakinya yang gemetar tanpa sengaja menyenggol kardus yang bertumpuk dan menjatuhkan kaleng cat diatasnya hingga menimbulkan suara yang cukup gaduh.
Sungyeol membeku. Ia menggenggam palu ditangannya dengan erat.
Hening.
Tak ada sedikitpun suara yang terdengar dari ruang tamu. Keringat mulai membanjiri tubuh Sungyeol. matanya kembali mengintip dari lubang kecil untuk memastikan situasi. Tepat saat itu dengan refleks Sungyeol menarik mundur tubuhnya hingga cukup jauh.
BRAAK!
Dinding yang terbuat dari kayu itu hancur terhantam kapak. Sungyeol bergerak menjauh. Pria itu kembali mengayunkan kapaknya hingga membentuk lubang yang cukup untuk ia masuki. Tangannya kembali mengayun kuat. Kali ini serangan itu tepat diarahkan kearah kepala Sungyeol yang masih terbaring shock dilantai.
"bangsatt! "
Tepat saat itu Sunggyu muncul dengan kayu ditangannya. Kayu itu ia hantamkan dengan keras ketubuh pria dengan topeng kelinci.
Bugh!
Pukulan keras itu dengan tepat menghantam dan membuat pria bertopeng terjajar. Sungyeol yang menyadari sebuah kesempatan dengan cepat menghantamkan palu yang ia pegang kearah pergelangan kaki lawan. Meleset. Sosok itu masih sanggup mengelak dengan kekuatan yang ia punya. Menyadari posisinya yang tidak baik pria bertopeng itu dengan gerakan cepat menarik kapaknya dan mengibaskan nya kesembarang arah. Mereka berhadapan sekarang. Sunggyu memegang kayu dengan posisi siap menyerang sementara Sungyeol mengeratkan pegangannya pada palu yang ia pegang.
Sunggyu dan Sungyeol serentak menyerang namun sudah terlebih dahulu pelaku menarik mundur tubuhnya dan melarikan diri melalui pintu depan yang terbuka lebar.
Sungyeol menghempaskan nafasnya berat.
Sosok itu sudah berlari menghilang di kegelapan malam.
Ia mendekati Sunggyu yang masih berusaha menenangkan adrenaline nya.
"gomawo Gyu. .kalau tanpa mu. .aku sudah mati. . " Sunggyu mengangguk cepat. Sesaat kemudian mereka mendengar langkah kaki mendekat. Dongwoo dan Hoya.
"dari mana saja kalian? Keadaan sangat berbaya jika kita berjalan sendiri2. . " tanya Sunggyu khawatir. Dongwoo dan Hoya hanya membisu.
"sudahlah. .yang penting semua baik2 saja. .sekarang kita harus memasang strategi untuk melindungi diri kita. . " ujar Sungyeol. semua mata mengarah padanya seolah sependapat dengan pria tinggi itu.
"aku akan memasang beberapa jebakan dipintu masuk. . "
"aku akan mencoba menggunakan radio di ruang bawah tanah. .siapa tau masih berfungsi. "
Sungyeol mengangguk setuju. Ia mulai mengambil beberapa paku dan papan dari dalam gudang dengan dibantu Hoya. Sementara Sunggyu dengan Dongwoo bergegas ke ruang penyimpanan dibawah tanah.
.
.
"aku tak menyangka kau akan seheroik itu. . " ucap Hoya sambil memperhatikan Sungyeol yang memasang paku pada papan dan meletakkan nya dibawah jendela yang terbuka. Ia menaruhnya berbaris dua untuk mengecoh lawan.
"aku tinggal di panti asuhan. .kurasa kau sudah tau itu. . "
Hoya mengerutkan keningnya. "kau. . "
Sungyeol mengangguk seolah mengerti. "orang tua ku meninggal karena kecelakaan saat aku kecil. .sejak saat itu aku hidup di panti asuhan dan dari sana lah aku belajar bertahan hidup. "
Setelah memasang dibawah jendela, Sungyeol bergegas menuju pintu. Disana ia juga menaruh beberapa papan berpaku tanpa menyadari sedikit pun Hoya sedang memperhatikannya dengan tajam. Tangan pria itu bergerak perlahan mengambil papan berpaku yang terdapat di bawah jendela dan mengangkatnya tinggi2.
"mati kau. . " desisnya tanpa suara sambil bersiap memukul kepala Sungyeol. namun nasib berkata lain. saat itu Sungyeol dengan refleks menoleh kearah belakang dan Hoya dengan sigap menurunkan tangannya. Sungyeol menatap bingung sikap gugup yang Hoya tampakkan padanya.
"kau harus menaruhnya dibawah situ. . " ucap Sungyeol sambil menunjuk jendela. Hoya mendengus perlahan. Ia meletakkan papan itu dan bergerak menuju dapur. Sungyeol memandangi jebakan yang ia pasang dengan puas.
"sebaiknya aku juga memasangnya diatas. . " pikir Sungyeol. ia mengambil beberapa papan dan paku kemudian bergegas menaiki tangga ke lantai dua. Saat itu Hoya melangkah dengan hati2 menuju pintu. Tangannya membuka pintu yang semula terkunci dan menyingkirkan jebakan yang terdapat disana. Seringai tipis membias jelas diwajahnya sebelum melangkah menuju tempat Dongwoo dan Sunggyu berada.
.
.
xXx
.
.
"ini tidak berfungsi. . " ujar Sunggyu kesal. Ia mencoba berbagai cara yaang ia tau namun radio tua itu tetap tak berfungsi.
"Hyung. . " panggil Dongwoo. Sunggyu hanya menggumam kecil.
"Hyung. . " seru Dongwoo lagi. Sunggyu berbalik dengan kesal. "wae? apa yang . .ukhh. . " kalimatnya terhenti ketika tangan Dongwoo dengan cepat menusukkan pisau yang entah dari mana ia peroleh. Sunggyu terbeliak tak mengerti. Darah mengalir dari sudut bibirnya. tangannya yang melemah merengkuh bahu Dongwoo dengan kuat. Dongwoo menyeringai buas. Ia menusukkan pisaunya lebih dalam.
"maafkan aku. .tapi kau harus mengerti. .ini adalah pilihan terbaik. .aku sudah bosan dengan tekanan mu . .sikap sok berkuasa mu. .jadi mati adalah pilihan tepat untuk mu. Hyung. ."
Dongwoo menarik pisaunya dan dengan cepat menusukkan nya tepat di leher Sunggyu.
"Ukhh! " darah membanjir dari luka koyak yang sangat lebar itu. tubuh Sunggyu terjajar kebelakang. Tangannya masih mencoba menggapai Dongwoo dengan lemah. Sementara Dongwoo dengan tenang mendorongnya kebelakang hingga Sunggyu terjatuh. Dongwoo berdiri tepat diatasnya.
"mianata. .Hyung. " bisiknya lagi sebelum tangannya dengan kuat menusuk tepat dikening Sunggyu. Sunggyu terpekik lemah. Nyawanya melayang seketika.
Dongwoo mengangkat tubuhnya. Matanya menatap nanar tubuh kaku Sunggyu yang bersimbah darah dengan jijik. dengan lunglai Dongwoo melangkah keluar dan menuju Hoya yang berdiri dibelakangnya sejak tadi.
.
.
Sementara itu dilantai atas. Sungyeol masih sibuk memukul paku hingga menembus papan yang ia bawa. Semenit kemudian gerakannya terhenti. Ia dengan jelas dapat melihat bayangan hitam itu berdiri dibelakang nya. siluet samurai panjang terlihat didinding dengan posisi siap memotong tubuhnya. Sungyeol meraih palu nya dengan cepat dan melemparkan nya kebelakang. Naas, gerakan sembrono tanpa pertimbangan itu meleset jauh dari sasaran. Sementara sosok hitam itu sudah melayangkan serangannya dengan cepat. Sungyeol menghindar cepat. Satu serangan kembali menyusul dengan cepat kearahnya. Tak ada pilihan sama sekali. Sungyeol dengan panik menghempaskan tubuhnya ke jendela kaca yang masih tertutup.
Prangg!
Bugh!
"ukhh! " tubuh kurusnya menghantam tanah dengan keras. Rasa sakit menyeruak hebat dari sekujur tubuhnya yang lebam. Matanya terbuka nyalang melihat sosok hitam itu memandangnya dengan tajam dari atas. Sungyeol menarik tubuhnya dengan paksa. Dengan sisa tenaga yang ia miliki Sungyeol berlari dengan tertatih kearah pepohonan pinus.
Ketika sudah merasa cukup jauh Sungyeol menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon besar yang rimbun. Rasa perih terasa sangat hebat dari pahanya yang terluka akibat ditembus kaca jendela yang pecah. Ia mengambil ranting yang cukup besar dan menggigitnya dengan kuat. Tangannya perlahan menarik kaca yang menancap dalam itu. rasa sakit yang tidak terperi menerpanya. Giginya bergemeletuk kuat menahan kesakitan hebat yang melanda.
"akhh! " pekiknya saat kaca itu berhasil ia cabut. Ia melepas kemejanya dan membalut lukanya erat untuk menahan darah yang mengucur.
Sungyeol menarik nafasnya lega. Kesunyian malam kembali terasa. Perasaan mencekam kembali menekan setiap indranya. Matanya yang awas memandang dengan pasti setiap sudut gelap yang tampak. Ketika menyadari ia benar2 seorang diri sungyeol merebahkan kepalanya. Wajah Myung Soo berkelebat didepan matanya.
"Myungie. .kau dimana? Aku ketakutan. . " desisnya. air matanya mulai mengalir satu demi satu. Malam ini adalah malam terberat yang pernah ia hadapi.
"aku harus bagaimana. . " bisiknya. Ia menatap kejauhan dan melihat atap pondok yang menjulang tinggi. Sungyeol akhirnya memutuskan untuk kembali kedalam rumah untuk mencari tiga orang lain yang masih berada didalam.
Sambil terpincang Sungyeol memasuki rumah dari pintu depan yang terbuka. Dahinya mengerut mengingat ia sudah mengunci pintu itu dan tak terlihat jebakan yang ia pasang disana. Namun keanehan itu ia enyahkan. Ia melangkah kedalam dan kembali ke ruang tamu. Saat itu ia mendengar derap langkah kaki mendekat kearahnya. Sungyeol menarik tirai dan menyembunyikan dirinya dibalik gorden yang menutupi hingga lantai. Nafasnya memburu. Rasa takutnya membuat ia tak berani sedikitpun membuka tirai untuk melihat siapa yang mendekat. Samar2 ia mendengar suara Dongwoo dan Hoya. Sungyeol bernafas lega, ia baru saja akan melangkah keluar sebelum akhirnya mendengar satu lagi suara pria yang asing ditelinga nya.
"sudah kukatakan aku akan membunuhnya! " seru suara asing itu. Sungyeol merapatkan kakinya. Telinga nya ia pasang baik2 untuk mendengar percakapan diluar.
"itu tidak termasuk perjanjian! Kalau kau membunuhnya aku akan dapat masalah! " ujar Dongwoo. Pria asing itu mendengus. Ia meraih kerah baju Dongwoo dan menatapnya dengan berapi api. Hoya menarik tangan pria itu dan menjauhkannya dari Dongwoo.
"jangan sentuh dia. . " ucapnya memperingatkan.
"dengarkan aku manis. Pria jalang itu sudah membunuh adikku. Aku akan mencincang tubuhnya sampai lumat. Ia atau tanpa persetujuan kalian. "
Sungyeol membeku. Ia bisa menduga sekarang kalau Dongwoo dan Hoya sudah berkomplot dengan para pembunuh itu.
Dongwoo hendak mengeluarkan kalimat penolakannya sebelum pria asing itu menarik kerahnya lagi dan mendorongnya hingga jatuh.
"kalau kau melarang ku! Aku juga akan membunuh kalian berdua! "
"hentikan. " bisik sebuah suara lagi. Sungyeol tercekat. Ternyata masih ada satu lagi orang diluar sana.
"dengar Dongwoo. .nyawa harus dibayar nyawa. Atau. Kau juga ingin mati seperti mereka? " ucap suara asing kedua dengan nada mengancam. Sungyeol bisa mendengar desah nafas ketakutan Hoya. Dongwoo menggelengkan kepalanya.
"bagus. Kalau begitu kita sesuai perjanjian. .kami akan membunuh pria itu dan kami ingin bayaran kami ditambah 100 juta won lagi. "
"jaga bicara mu! " seru Hoya. Pria asing kedua mengacungkan kapaknya. "kau harus menerimanya. . " Hoya membeku. Dongwoo menarik tangannya mendekat.
"baiklah. .aku setuju. Cepat selesaikan masalah ini. " ucap Dongwoo. Pria asing kedua tertawa kecil. Ia melirik tajam pada tirai yang terdapat dibelakang mereka ber empat.
"kurasa kita menemukannya dengan cepat. . " bisiknya.
"apa maksud mu? "
Pria asing itu menyuruh semuanya mundur. Ia melangkah perlahan kearah tirai tempat Sungyeol bersembunyi. "tirai ini terbuka beberapa saat lalu. .mengapa sekarang tertutup. .apa kalian tidak menyadari nya? " tanyanya. Dongwoo dan Hoya akhirnya mengerti. Mereka mulai bergerak menjauh dari tirai itu. pria asing pertama maju perlahan untuk memeriksa. Sungyeol menahan nafasnya menyadari persembunyiannya diketahui. Ia memutar otaknya hingga menemukan sebuah cara. Sesaat kemuadian Jarinya memasang sikap kaku dan lurus pada satu titik.
Leher adalah bagian vital pernafasan. .
Sungyeol menganggukkan kepalanya pasti. Ia mulai memasang posisinya bersiap.
Hembusan nafas berat Sungyeol terasa seketika pada saat tirai terbuka dengan perlahan. Sebuah wajah tirus dan pucat telihat jelas didepannya. Sungyeol mendorongkan jarinya dengan penuh kekuatan.
"ukhh! " jari2 Sungyeol menghantam tenggorokan lawan dan membuatnya terjajar kebelakang. Kesempatan itu Sungyeol gunakan untuk berlari secepat kilat kerah pintu keluar.
"KEJAR DIA! " seru pria asing kedua. Dongwoo dan Hoya segera berlari mengikuti jejak Sungyeol disusul kedua pria asing yang sudah kembali memakai topeng mereka dan membawa masing2 kapak.
.
.
Dongwoo menjejakkan kakinya kesal. Mereka kehilangan jejak Sungyeol.
"kau kesana. .dan kami kesana. . " ujar pria asing pertama diikuti oleh Dongwoo dan Hoya kearah kanan. Sementara pria kedua mencari kearah belakang rumah.
Pria asing itu melangkah perlahan kearah belakang yang mengarah ke dapur. Ia melihat sebuah bayangan melintas dengan cepat. Bibirnya menyeringai tipis. Ia mendekat kearah jendela yang terbuka. Kosong. Ia melemparkan kapaknya dan mencoba menaiki jendela untuk masuk. Saat itu tanpa diduga Sungyeol muncul dari sisi kiri dan menusukkan sebuah pisau dengan cepat tepat di kepala pria itu.
"akhh! " pekiknya dengan kepala tertembus pisau. Sungyeol meraih kapak yang tergeletak dan memukul kepala pria itu berkali kali hingga tubuhnya berhenti mengejang. Mati.
.
.
xXx
.
.
Kegelapan menyelimuti ruang bawah tanah. Sesosok tubuh berjalan penuh hati2 memasuki ruangan pengap itu. ia sudah berpisah dengan Dongwoo dan Hoya diluar tadi tanpa menyadari bahwa teman nya sudah tewas ditangan Sungyeol.
Blztt!
Pria itu menolehkan kepalanya. Ia melihat seberkas cahaya berkali kali berkilat disana. Dengan hati2 pria itu mendekat dan menemukan sebuah handphone tergeletak disana dengan timer otomatis untuk memotret sendiri.
Blzttt!
Lagi2 kilauan cahaya itu berkilat menyilaukan pandangan nya. ia mengambil HP itu dengan santai. Bibirnya tersenyum kecil.
"apa yang sedang kau mainkan pria kecil. . " bisiknya dengan nada mengejek.
"ssttt. . " pria itu sontak menoleh kesebelah asal suara itu. disana Sungyeol sudah berdiri dengan sebilah balok kayu ditangannya. Satu kibasan berkiblat dengan tepat menghantam kepala pria asing itu tanpa dapat ia hindari.
"arghhhh! " teriakan demi teriakan mewarnai aksi brutal Sungyeol. darah menciprat kemana mana dan membasahi tubuh dan wajahnya. Sungyeol berdiri. ia bergerak cepat meninggalkan ruang gelap itu.
.
.
Hoya bergerak lamban kearah dapur. Tangannya memegang sebilah pedang dengan noda darah yang masih basah. Matanya nyalang mencari keberadaan Sungyeol disetiap sudut dapur.
"akhhh! " saat itu tanpa diduga Sungyeol menyerang pergelangan tangan Hoya dengan kayu ditangannya. Pukulan keras itu sontak membuat Hoya menjatuhkan pedang nya. bibirnya meringis kesakitan menahan pukulan yang ia terima.
Sungyeol mengayunkan kayu ditangannya namun gerakan Hoya lebih cepat. Kakinya yang terbuka menendang tepat pinggang Sungyeol. Sungyeol terhempas jatuh. Hoya mengejar dan mencekik lehernya dengan kuat.
"mati kau! " pekik Hoya. Sungyeol tercekik hebat. Ia mengerahkan seluruh kekuatan nya untuk meraih gagang Pan yang berada didekatnya.
DANG!
Pan yang keras menghantam kepala Hoya. Hoya lengah sesaat. Sungyeol berbalik mencekiknya. Semua kekuatan yang ia punya ia kerahkan untuk menghentikan nafas pria itu segera. Mata Hoya membeliak ngeri. Ia sudah kehabisan energinya. Sessat lagi tubuhnya akan ambruk sebelum akhirnya Dongwoo tiba2 datang dari arah belakang dan menusuk punggung Sungyeol dengan sebilah pisau kecil.
"arghhh! " Sungyeol memekik hebat. Ia melepaskan cekikan nya dan Hoya terjajar jatuh dengan lemas. Pria itu terbatuk2 untuk beberapa saat.
Dongwoo yang berada dibelakang Sungyeol menekankan pisau itu lebih dalam membuat Sungyeol memekik dahsyat akibat sakit yang dideritanya. Tangannya mengibas kebelakang dan berhasil mengenai Dongwoo dengan keras. Pria itu terjajar kebelakang. Sungyeol dengan cepat meraih sebuah blender.
"gyaa! " pekiknya menghantamkan blender itu pada Dongwoo hingga pecah. Dongwoo terjatuh. Sungyeol menariknya dengan gusar. Dengan satu tusukan kuat ia menekan kan blender yang sudah pecah itu kekepala Dongwoo.
"ughh! "
Sungyeol memekik garang. Ia meraih kabel blender dan memasukkan ke lubang aliran listrik. Blender seketika berputar dengan cepat menghancurkan kepala Dongwoo hingga memburai isi otaknya.
"Ghhaa! " Sungyeol membeku. Ia melihat tubuh Dongwoo berhenti mengejang. Tubuhnya berbalik pada hoya yang masih terduduk lemah akibat cekikan nya.
Matanya membeliak sadis. Sungyeol menarik cepat pisau yang menancap dipunggung nya dan secepat kilat pula menusukkan nya tepat di ubun2 Hoya. Erangan parau keluar dari bibir pria itu mengiringi kematiannya.
Sungyeol tertunduk lemas. Ia menopang tubuhnya yang nyaris jatuh kelantai. Darah membanjir diseluruh ruangan. Nafasnya memburu. Ia berkali kali menggigit bibirnya untuk menenangkan dirinya sendiri.
Drtttt. .drtttt. .
Perhatian Sungyeol serta merta tertuju pada saku Dongwoo yang bergetar. Ia menarih sebuah Handphone dari sana.
"Handphone Satelite. . " desisnya. sebuah nomor tertera disana melakukan panggilan masuk.
Sungyeol menekan tombol hijau dan mendekatkan Hp itu ke telinganya. Sebuah suara terdengar disana membuatnya nyaris memekik girang. Namun kebahagiaan itu hanya sesat terjadi.
"Hyung. .apa semua sudah selesai? Semua sudah mati? Maaf aku sangat ingin membantu mu. .namun sepertinya aku terlalu pengecut untuk itu. .sebagai gantinya aku akan mengurus pembagian uang itu. .dan aku akan memberikan bagian yang lebih besar pada mu. . "
Apa?
Handpone itu nyaris terjatuh dari tangan Sungyeol. ia sangat mengenali suara itu dengan baik. Suara yang ia sukai sejak setahun lalu.
"Hyung. .kau mendengar ku? Mengapa kau diam saja? ah persetan dengan mu. .aku akan masuk. "
Sungyeol membeku tak percaya. Ia melangkah perlahan kearah ruang tamu ketika mendengar langkah kaki seseorang masuk kedalam.
.
.
Seorang pria melangkah masuk dengan ngeri kedalam ruang tamu. Ia melihat darah yang berceceran dan mayat pria bertopeng dengan kepala hancur. Ia mendekatkan HP nya.
"Hyung. .jangan bermain main. .tunjukkan dirimu. " ucapnya. Ia terkesiap melihat Sungyeol muncul dari arah dapur. Melangkah dengan pandangan kosong dan membeku.
"wow. .Yeollie. .ini. .sangat mengerikan. . " desis nya pada Sungyeol saat melihat keadaan diruang tamu. Sungyeol membisu. Tangannya masih memegang HP itu dengan kuat. Sementara tangan sebelahnya memegang pisau yang menusuk nya tadi.
"Yeollie. .apa yang terjadi? Dimana Dongwoo-Hyung. .? " tanya pria yang ternyata Myung Soo itu. Sungyeol menatap kosong kekasihnya itu. " mati. .mereka semua mati. . aku membunuhnya. ." desisnya.
Myung Soo menghela nafasnya.
"Yeollie dengarkan aku. . "
"kau yang merencanakan hal ini. ." ucap Sungyeol berat. matanya yang kosong menatap tajam pada pria tampan itu.
"sayang. .dengarkan aku. .aku bisa menjelaskan nya. .kau tak tau tapi ayahku akan Bangkrut. Aku bangkrut. Sunggyu juga dalam masalah. Hanya asuransi jiwa ayahku yang bisa menolong kami. "
"dan kau membunuh mereka untuk mengambil dana asuransi itu? "
Myung Soo menarik nafasnya.
"sayang. .aku hanya ingin membahagiakan mu. Aku tau kau sangat butuh biaya untuk melanjutkan kuliah mu untuk lulus. .aku juga butuh dana untuk bisa menjadi suami yang baik bagimu. Aku tak ingin jatuh miskin dan kau mencampakkan ku. Aku melakukan semua ini demi dirimu Yeollie. .kumohon percayalah. .dan Dongwoo Hyung. .dia yang mengajak ku melakukan ini. Dia juga butuh biaya untuk membawa Hoya keluar negeri. .sayang dengarkan aku. . " Myung Soo mulai mendekatkan dirinya pada Sungyeol.
"kita bisa membicarakan nya sayang. . "
"you try to kill me. .kau mencoba membunuh ku Myungie. . "
"tidak tidak. .jangan berkata seperti itu yeollie. .kau adalah prioritas ku! Aku membuat mu terjaga dan aman dari rencana ini. "
"aku akan mati Myungie. .mereka mencoba mencincang tubuh ku. .menusukku. .memukul kepala ku. .apa itu yang kau sebut perlindungan dari rencana mu? " balas Sungyeol dingin.
Myung Soo membekap wajah Sungyeol. ia mengecup bibir Sungyeol sekilas.
"Yeollie. .jangan pikirkan hal itu. .saat ini hanya tinggal kita berdua. .kita bisa pergi dan mengambil uang itu. .kemudian kita akan hidup dengan baik. .atau. .aku akan melaporkan mu ke polisi dan semua akan berakhir disini. .kita berdua akan dituduh sebagai pembunuh dan semua akan lenyap begitu saja. .pikirkan baik2 sayang. .aku sangat. .sangat mencintai mu Yeollie. .jebal. .mengertilah aku kali ini saja. .aku hanya ingin membahagiakan. .Ukhhhh! "
Kalimat Myung Soo terhenti ketika tangan Sungyeol berkelebat cepat menusuk lehernya dengan pisau yang ia pegang. Myung Soo mendekap lehernya yang mengucurkan darah. Tangannya berusaha menggapai Sungyeol. Sungyeol dengan dingin mendorongnya kebelakang. Myung Soo jatuh terduduk menahan darahnya. Ia nyaris kehilangan kesadaran nya.
"berhenti mengatakan omong kosong Myungie. .kau sama sekali. .tak pantas untuk itu. "
Desis Sungyeol sambil mengangkat pisau ditangannya setinggi mungkin.
"kau sama sekali tak ber hak untuk itu. . "
Crasss!
"Ukhhhh! "
Pisau itu menembus batok kepala Myung Soo dengan cepat. Tubuh Myung Soo limbung sesaat. Ia menatap Sungyeol putus asa. Ia melihat dengan jelas mata itu mengeluarkan buliran2 bening yang semakin deras. Sungyeol menangis.
"mianata. .Yeollie.. " desis Myung Soo diakhir nafasnya. Sungyeol menjambak rambutnya frustasi. Ia tak bisa menaha laju air matanya yang semakin membanjir.
.
.
ARGHHHHHHH!
Teriakan demi teriakan putus asa menghiasi kesunyian malam yang ikut menangisi kejadian tragis yang menimpa. Waktu berputar dengan cepat. Pagi menyingsing dengan lamban menahan matahari yang hendak memunculkan dirinya, seolah berkata, takkan ada cahaya kebahagiaan untuk selanjutnya-
.
.
The End-
Wuahhh akhirnya selesai juga _
Semoga gak kecewa dengan endingnya, kalau kecewa, jangan pukulin author please :v ampunilah wajah polos ini _
Akhir kata , sampai jumpa di FF selanjutnya. .kalau masih ada -_-
Anyyeong ^_^
