Hinata mengumpulkan kesadarannya, terkejut dan bingung melihat pria besurai kuning yang ada dihadapannya yang, memeluknya?

"K,Kyaaaaaaaaaaaaa!"

"EH?!"

BRUAKHH!

Naruto ©Masashi Kisimoto

Amnesia ©msconan

Rate : T+

Warning : AU,OOC, Typo berserakan dimana2, EYD tidak jelas dll

Don't like, press the back button!

Happy reading ^^/

Present:

Amnesia chap 2

Tubuh besar Naruto terlempar, dan sekarang telah terduduk di lantai, sesaat tadi gendang telinganya di sapa dengan gelombang suara yang memekik, ketika Hinata berteriak tepat di telingannya.

"H,,Hinata chan, ada apa? Daijobu ka?" Naruto berdiri dari posisi jatuhnya tadi dan langsung menghampiri Hinata yang terduduk di ranjangnya.

"Sepertinya kau sudah sehat Hime, kau kuat sekali mendorongku sampai terjatuh,haha! Eh, kenapa wajahmu merah? Mana yang sakit?" Naruto melontarkan pertanyaan beruntun pada Hinata.

.

.

"O,oji san siapa?"

Akhirnya kalimat tanya itu yang meluncur dari bibir Hinata saat pertama kali saat dia sadar, dan memperlihatkan wajah bingung.

"HEH?"

" Sudah lah Hinata chan, jangan bercanda! Aku sangat mengkhawatirkan mu" Sambil tersenyum Naruto mengsusap surai indigo wanita yang dirindukannya itu.

Hinata hanya diam terpaku tak menjawab pertanyaan Naruto, pikirannya masih mencari-cari siapa pria yang tengah berdiri dihadapannya itu, melihat Hinata hanya terdiam sedikit kekhwatiran muncul dalam benak Naruto, "Eh?" Batin Naruto.

"Ehm, baiklah aku akan meperkenalkan diri" Kata Naruto, karena dia masih berpikir mungkin saja Hinata mengerjainya makanya dia ingin mengikuti permainan Hinata.

"Perkenalkan, Pemuda tampan yang berdiri didepanmu ini Namikaze Naruto, Suami dari Namikaze Hinata" jelas Naruto disertai dengan cengiran rubahnya, meperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi. "Bagaimana? Apa kau puas Nyonya Namikaze?" Kata Naruto menekankan kata kata 'nyonya' tepat di depan wajah Hinata,memajukan wajahanya hingga hidung mereka hampir bersentuhan.

"Kyaa~, menjauhlah ero jiisan!" Kata Hinata dan medorong tubuh Naruto menjauh dari tubuhnya, karena posisi mereka sangat berdekatan. Wajahnya pun sudah merah padam.

"Hei, hei, baiklah Hime aku menyerah, aku kalah, kau berhasil mengerjai aku!" Naruto mengangakat kedua tangannya menandakan dia menyerah.

"Ta,tapi aku tidak sedang bercanda!" Kata Hinata, sekarang kedua tengannya menyilang didepan dadanya, memasang posisi waspada.

Melihat raut wajah hinata yang sedemikan seriusnya membuat Naruto berpikir "Hei ada apa ini" batinnya

~0~

"Bagaimana baa chan, apakah Hinata baik-baik saja?"

Akhirnya Naruto memanggil salah satu dokter yang menangani Hinata, yaitu neneknya sendiri. Tsunade. Setelah itu Naruto berbicara di luar ruangan dimana tempat Hinata dirawat.

"Kondisinya sehat, tapi ini tidak bisa dikatakan baik-baik saja" Kata Tsunade setelah memeriksa keadaan Hinata.

"Heh? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Naruto meminta penjelasan kepada Tsunade.

"Sewaktu terjatuh, Hinata mengalami benturan yang cukup keras dibagian kepalanya membuatnya shock, menyebabkan sebagian memorinya hilang" jelas Tsunade.

"A,,apa?" Tanya Naruto, ia masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya saat ini.

"Tapi kau tidak perlu khawatir Naruto, kecelakaan yang menimpa Hinata tidak menyebabkan hal fatal lainnya, mungkin salah satu efeknya hanya ingatannya ini yang hilang" Jelas Tsunade, ia sangat tau sekali kalau cucu nya itu sangat teramat khawatir.

"tapi tetap saja,,Tadi aku dengar dia memanggilku dengan sebutan jii san?" Tanya Naruto.

"Kemungkinan memori yang masih tersimpan di dalam ingatan Hinata adalah ketika dia sekolah?" Tsunade menelaah apa yang dikatakan Naruto dan menyimpulkannya.

"Pantas Saja dia tidak ingat denganku, kami baru bertemu sewaktu kuliah, berarti dia juga lupa kalau kami sudah menikah?" Tanya Naruto.

"Yah, bisa dibilang begitu Naruto" kata Tsunade.

"Apakah ingatan Hinata bisa kembali?" Tanya Naruto lagi.

"Kemungkinan ingatannya pulih ada, itu tergantung pada Hinata, seberapa besar kenginannya untuk mengingat kejadian yang hilang itu"Jelas Tsunade lagi. "Dan kau Naruto, kau juga berperan besar untuk mengembalikan ingatan Hinata" Tambah Tsunade.

"Kalau masalah itu baa chan tidak perlu khawatir, aku pasti akan mengembalikan ingatan Hinata secepatnya" Kata Naruto

"Baguslah" Kata Tsunade, dia legah akhirnya Naruto bisa menerima hal ini. Sejenak Tsunade meandang wajah cucu nya itu, Naruto hanya diam.

"eh, ada apa Naruto ?" Tsunade bertanya, sepertinya Naruto memikirkan sesuatu.

"Ehm, begini Baa chan, sepertinya hal ini harus dirahasiakan dulu dari ayah dan ibu, begitu pula dengan ayah Hiashi" Kata Naruto menjawab pertanyaan Tsunade.

"Kenapa kau ingin merahasiakannya?" Tanya Tsunade, ia penasaran apa yang di pikirkan oleh cucu nya itu.

"Pernikahan ku dan Hinata ini baru saja sehari, tapi kami sudah mengalami kejadian seperti ini, aku tidak ingin orang tua kami khawatir, lagi pula Hinata kini menjadi tanggung jawabku sepenuhnya, aku yakin bisa mengatasinya" Jelas Naruto panjang lebar.

"Ternyata kau sudah dewasa, Naruto?" batin Tsunade, ia tidak menyangka bahwa Naruto akan berpikir sejauh itu, ia salut, mungkin dia harus memberikan kesempatan kepada cucu nya itu.

"Baiklah Naruto, aku percaya padamu! Tapi apabila kau tidak bisa menyelesaikannya maka aku tidak bisa menolongmu lagi" Kata Tsunade sambil tersenyum kepada Naruto.

"Tenang baa chan, aku akan melakukan apapun untuk mengembalikan kenangan kami dalam ingatan Hinata" Senyum lebar kini mengukir di wajah tampan Naruto.

"Baiklah, sebaiknya temui Hinata dan menjelaskan kepadanya apa yang terjadi, tapi pelan-pelan saja aku takut kalau dia tidak bisa langsung menerima hal ini" Jelas Tsunade, sebelum pergi meninggalkan Naruto

"Baa chan, Arigatou ne?" Kata Naruto.

"Hmm,," Tsunade mengusap rambut pirang Naruto, kemudian pergi meninggalkannya. Setelah itu pun Naruto langsung masuk kedalam ruangan Hinata.

~0~

Walaupun di benak Naruto masih tidak bisa percaya dengan kejadian ini, tapi akal sehatnya membenarkan bahwa kejadian yang menimpanya adalah kenyataan begitupula dengan Hinata yang mengalami amnesia.

Naruto melangkah kan kakinya kedalam ruangan dimana wanitanya beristirahat, sekarang dia sedikit demi sedikit harus belajar menerima kenyataan didepannya itu. Dengan tersenyum dia mendekati Hinata yang tengah duduk diranjang nya.

"Tadi aku sudah bicara dengan baa chan, eh maksud ku dokter yang memeriksamu" Kata naruto mengawali percakapannya pada wanita di depannya itu, sepertinya Hinata terlihat asing dimata Naruto, "benarkah dia melupakanku?" Batin Naruto.

"Apa yang dikatakannya? Apa yang terjadi denganku?" Tanya Hinata, sebenarmya dia ingin tau sebenarnya mengapa dia bisa berada di ruangan perawatan ini.

"Dokter bilang kau mengalami amnesia Hinata chan" Berat hati Naruto memberitahukan kenyataan pahit itu, tapi Hinata harus tau.

"Hah? Tidak mungkin, aku merasa baik-baik saja!" Kata Hinata membantah pernyataan yang di berikan Naruto. "Dan Oji san ini siapa?"

Naruto mendengus, lagi-lagi dia mendengar panggilan itu. Sepertinya istrinya ini benar-benar melupakannya.

"Hei, aku kira kau tadi bercanda, tapi seperti yang sudah aku katakana tadi, aku adalah SUAMI mu" jelas Naruto.

"Jangan bercanda, Aku tidak ingat kalau aku pernah menikah" Kata Hinata kemudian.

"Kau tidak percaya? Lalu cincin yang melingkar di jari manismu itu siapa yang menyematkan, heh?" Kata Naruto tersenyum simpul.

"Hah ini?" Hinata melihat jari manisnya yang tersemat oleh cincin dengan berlian kecil sebagai hiasannya.

"Sekarang kau percaya, hmm?" Tanga Naruto terjulur mensejajarkan jari manisnya dengan jari manis Hinata, mepemperlihatkan cincin pernikahan mereka.

"Belum tentu, aku masih tidak percaya" Kata Hinata megalihkan wajahnya, tak mau menatap Naruto.

"haha, keras kepala sekali kau" Kata Naruto mengusap surai indo keunguan milik Hinata.

Mendapati kelakuan Naruto, wajah Hinata hanya bisa merona.

"Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil jii san" Kata Hinata mengembungkan pipinya, sepertinya dia salting.

"eh? Baiklah" Naruto melepaskan tangannya yang tadi berada di puncak kepala Hinata. "Kata Baa chan, kondisi mu sudah baikan, apa kau ingin pulang?"

"Benarkah? Aku ingin pulang, disini tidak enak, makanan nya pun rasanya hambar" Kata Hinata menggerutu.

Heh? Ternyata selain memorinya hilang, sifat Hinata berubah 180 derajat. Tidak ada Hinata yang anggun, feminim serta keibuan. Sekarang sifatnya seperti anak remaja, manja, ceria dan sedikit blak-blakan. Seperti Hanabi, adiknya. Dan Naruto cukup meyadari perubahan sikap Hinata itu. Seperti yang disrankan oleh nenek nya Tsunade, dia tidak ingin memaksa Hinata, dia ingin dengan sendirinya Hinata mengembalikan ingatannya.

"Baiklah, kalau begitu aku akan mengurus kepulangan mu, mungkin nanti sore kita sudah bisa keluar" kata Naruto, dia berbalik kemudian meninggalkan Hinata,"beristirahatlah, Hime!" kata Naruto sebelum menutup pintu.

"Hime? Dasar Jii san aneh!" Kata Hinata kemudian dia berbaring lagi di tempat tidurnya.

~0~

.

.

"yak, kita sudah sampai dirumah"

Mobil Naruto terparkir di Halaman rumah mereka.

Hinata keluar dari mobil Naruto melihat dengan seksama rumah megah yang berdiri di hadapannya.

"Hei! Jii san kau membawaku kemana?" Hinata bertanya kepada Naruto yang kini tengah membereskan perlengkapan Hinata saat dirawat dirumah sakit. Ah, suami yang baik.

"Tentu saja kerumah kita" Jawab Naruto.

"Kita? Maksud nya aku dan jii san tinggal berdua?" Tanya Hinata lagi.

"Yah, tentu saja! Lagi pula siapa lagi disini yang berstatus suami istri selain kita?" Sekarang giliran Naruto yang bertanya balik.

"Euhm,, tapi I,tu,,," Kini Hinata tampak bingung menjawab pertanyaan Naruto. "Hei jii san Tunggu!" ternyata Naruto telah jalan meninggalkan Hinata yang asih berdiri dihalaman.

"Oh iya, jangan memanggilku 'jii san', itu sangat mengganggu, kau tau? Lagi pula umurku masih muda untuk mendapat sebutan itu dari wanita seumurmu" Kata Naruto menghentikan langkahnya berbalik menghadap Hinata.

"Tapi kau memang pantas mendapat panggilan itu" Kata Hinata berusaha mensejajarkan langkah panjang Naruto.

Naruto menghentikn langkahnya kemudian berbalik menghadap Hinata "panggil aku 'Naruto kun'! tapi aku akan lebih senang jika di panggil 'Anata'!" Kata Naruto dengan senyum simpulnya, kemudian berbalik kembali.

"Hahaha,,,lucu sekali jii san" Kata Hinata sambil menjulurkan lidahnya. Dengan pipi merona yang tidak disadari oleh empunya.

"Baiklah Nona muda, silahkan masuk!" Naruto membuka pintu rumah mereka dan mempersilahkan Hinata masuk layaknya tuan putri.

"Tempat tinggal yang nyaman" Kata Hinata ketika dia telah masuk dan mengedarkan pandangannya ke segala ruangan.

"Indah bukan?" Tanya Naruto "Seperti saat pertama kali kau melihat rumah ini" Kata Naruto lagi.

"Oh ya?" Kata Hinata

"Dan disnilah aku akan mengembalikan ingatan mu tentangku Hime?" Kata Naruto, memandang Hinata.

Dipandang seperti itu Hinata merasa aneh, tak sanggup menatap wajah pemuda di depannya. hei ini baru permulaan nona Namikaze.

"Aku lelah, dimana kamarnya?" Kata Hinata segera mencoba mengalihkan rasa aneh dalam dadanya.

"Di atas dilantai dua" Kata Naruto, kemudian dia berjalan didepan Hinata.

Hinata mengikuti langkah Naruto dari belakang, menuju kesebuah ruangan dilantai dua, sebuah kamar.

"Hmm,,ini kamarku ya? A- Hei apa yang kau lakukan?! Kenapa kau masuk kekamar orang jii san?" Teriak Hinata sambil mengacungkan jari telunjuknya, ketika diliatnya Naruto masuk dan menutup pintu.

"Hah?" Naruto menaikkan salah satu alisnya, salah satu sudut bibirya tertarik menciptakan senyum, kemudian dia berjalan ke ranjang King Size yang ada disitu dan duduk disana "Huh, benar ini kamarmu, tepatnya kamar kita berdua Hime" Kata Naruto sambil menepuk nepuk tempat disamping dia duduk, member sinyal kepada Hinata agar duduk disitu.

"Heh?" Hinata terlonjak, cukup terkejut dengan tindakan Naruto dan dengan pikirannya sendiri.

"Ja,,jangan gila!" Kata Hinata, tangannya mengepal mencoba menetralisir jantungnya yang semakin cepat berdetak.

Naruto mendengus, bibirnya semakin menampakkan senyum yang menawan, bukannya berdiri dia malah berbaring di ranjang empuk itu.

"Hei, ero jii san! Apa yang kau lakukan?!" Hinata tidak habis pikir, apa sih yan dipikirkan oleh pria didepannya ini?

Naruto sama sekali tidak menghiraukan Hinata, dia malah mengambil guling dan memeluknya.

Habis sudah kesabaran Hinata, dia ingin cepat-cepat istirahat, dan pemuda di depannya ini sama sekali tidak mau beranjak dari kasur empuk didepannya itu.

"Hei jii san!" Hinata beranjak dari tempatnya, menarik paksa lengan Naruto agar bangun.

"Ke,keluar dari sini, pergi kekamar mu sendiri" Sekuat tenaga Hinata menarik tubuh Naruto tapi hasilnya Naruto tidak bergerak sama sekali. Tubuh pemuda yang ditariknya itu kalah besar dibanding dengan tubuh Hinata yang mungil.

Lagi-lagi muncul niat untuk menggoda Hinata di benak Naruto, dengan sekali tarik tubuh mungil Hinata langsung jatuh ranjang king size itu.

"Masih banyak tempat disini, lagi pula tempat ini terlalu besar jika untuk satu orang" Kata Naruto tepat di depan wajah Hinata.

Entah dapat tambahan kekuatan dari mana, mungkin karena pasokan darah yang di pompa jantungnya menjadi dua kali lipat, kali ini Hinata berhasil mendorong tubuh Naruto.

DUKH!

Tubuh Naruto jatuh dari atas ranjang karena dorongan Hinata.

"Ittei" Naruto meringis, mengusap bagian belakang badannya yang terbentur lantai.

"Keluar lah!" Kata Hinata, wajahnya sudah merah padam dengan sekuat tenaga dia menarik tubuh Naruto menuju pintu.

"He,,hei,, dimana aku akan tidur!"

"Rumah sebesar ini pasti memiliki banyak kamar"

"Tu,,tunggu dulu Hi-"

"Oyasumi"

BLAM

Belum sempat Naruto menyela, Hinata sudah mendorongnya keluar kamar. Naruto berdiri di depan pintu kamar mereka yang sudah tertutup.

"Hei,,buka pintunya!" Kata Naruto menggedor-gedor pintu kamarnya. "Hinata, pasti diluar sangat dingin, biarkan aku masuk!" Teriak Naruto luar pintu kamar.

Tak lama pintu kamar itu terbuka perlahan.

"Sepertinya dia berubah pikiran" Batin Naruto, ingin masuk kedalam kamar.

Tetapi dari dalam Hinata menyodorkan pakaian dan selimut untuk Naruto, mungkin dia tidak tega.

"Heh?"

"Untukmu"

Arigatou sayang" Kata Naruto, mengambilkan selimut serta pakaian nya.

"Hmm" setelah itu Hinata menutup pintu kamarnya kembali.

KLIK

Dan menguncinya.

"Tidak perlu mengunci pintu, aku ini suami mu!" Setengah berteriak dari luar pintu kamar" Heh, baiklah cukup hari ini" Kata Naruto, tertawa geli.

Begini kah kepribadian baru Hinata, yah mulai sekarang Naruto harus menghadapinya setiap hari.

"Yokatta, sepertinya kau baik-baik saja Hime" Senyum tulus terukir diwajah tampannya, melihat Hinata hari ini membuatnya legah, setidaknya Hinata tidak kekurangan suatu apapun, terlihat normal, hanya ingatannya saja.

"Hm, aku tidur dimana ya?"

.

.

.

TBC

.

.

Yeaayyyyy! ^^/

Holla minna,,, #khukhukhu :3

Saya merasa masih ada yang kurang, tapi apa yaa? :O

Semoga readers bisa memaklumi kekurangan yang tidak saya sadari ini yaa,,hha

Sebenernya, chap 3 ini saya agak kurang konsentrasi buatnya, soalnya lagi dirumah orang, biasanya kalau ada dikamarku sendiri ide2 itu ngalir gtu kayak air terjun,,hahahaa

Tapi kalau menunggu, aku ga tau kapan bisa melanjutkan fic ini, yahahaa makanya sekalian aja aku gotong laptop aku biar bisa ngetik kalau ada waktu luang,,hehehee

Kalau kemarin2 saya nulis fic ini multichap karena ada waktu, ==" eh tiba2 ada tugas mendadak jadi yaa harap maklum ya readers,,

Baiklah cukup skian keluh kesah saya sodara2,,hha silahkan di abaikan XD

Aku sayang redars semua :*

.

.

Silahkan tinggalkan jejak di kotak RIVIEW,, ^0^/

msconan