Pagi yang cerah dan tenang , pagi ini Naruto bangun pagi tidak seperti biasanya dikarenakan tidurnya yang tidak nyenyak, setelah insiden dia di lempar dari kamarnya sendiri oleh istrinya yang telah melupakannya, Naruto berpikir secangkir kopi hangat di pagi hari akan sedikit merilekskan otaknya.

Duk!duk!duk!,,,,

Langkah kaki yang berisik dari lantai dua menyapa pagi tenang Naruto.

"Eh, ada apa?" Kata Naruto, penasaran degan suara berisik itu.

Tak lama kemudian sosok yang membuat keributan di pagi hari itu pun datang dari lantai dua menuruni tangga . Hinata, masih dengan piyama tidur yang melekat di badannya berlari kearah Naruto yang sedang berada ruang tengah, mencicipi kopinya.

"Ji san! Kau melihat seragam sekolahku?"

BRUUSSHH,,.


Naruto ©Masashi Kisimoto

Amnesia ©msconan

Rate : T+

Warning : AU,OOC, Typo berserakan dimana2, EYD tidak jelas dll

Don't like, press the back button!

Happy reading ^^/

Present:

Amnesia chap 3

~0~

.

.

"Uhuk,uhuk,,," Naruto tersedak, kopi hangat yang tadinya belum melewati kerongkongannya itu pun dengan tidak elitnya menyembur keluar.

"Seragam apa?" Kata Naruto sambil memukul-mukul dadanya, sedikit mengurangi rasa sakit karena tersedak kopi.

"Ya seragam sekolah, masa seragam militer!" Jawab Hinata cepat.

Hampir saja Naruto tersedak untuk kedua kalinya. Hei, sejak kapan Hinata pintar membuat lelucon! sepertinya acara minum kopi Naruto harus ditunda dulu, kalau dia tidak ingin berakhir di Unit Gawat Darurat karena tersedak kopi berkali-kali.

"Hah?" Naruto menaikkan sebelah alisnya, masih bingung.

"Ji san! Aku sudah tidak punya waktu, nanti terlambat kesekolah!" Kata Hinata Hinata dengan wajah cemas.

1,2,3,,,,Naruto Loading,,

"pffft,,,,wahahahahaha" Naruto tertawa sambil memegangi perutnya.

"Bukan waktunya untuk tertawa " Kata Hinata, dia merasa di permainkan oleh Naruto.

"Ehem! kau serius?" Tanya Naruto berusaha menahan tawanya agar tidak meledak.

"Tentu saja, aku sudah tdak punya waktu lagi ji san" Jawab Hinata

Naruto menaikkan sebelah alisnya, berpikir sejenak. Kemudian dia tersenyum, sepertinya dia mendapatkan sesuatu.

"Sudah kubilang, jangan panggil aku 'Ji san' hime!" Kata Naruto sambil menyandarkan punggungnya pada sofa.

"Bukan saatnya membahas itu" Kata Hinata masih memasang tampang cemas.

Naruto tak bergeming, dan masih mempertahankan senyum diwajahnya.

"Aku tidak akan memberitahumu" Kata Naruto datar

"Hah?"

"Jika kau masih memanggilku 'Ji san' aku tidak akan memberitahukan dimana letak seragammu" Kata Naruto lagi, padahal seragam sekolah itu memang sebenarnya tidak ada.

"Hei!" Hinata ingin Protes, tapi dia melihat Naruto hanya diam dan mengacuhkannya, tidak ada cara lain.

"Ukh, Baiklah Na,Naruto kun, dimana seragamku?" Kata Hinata, entah mengapa Hinata menjadi gagap menyebut nama Naruto.

Kedua sudut bibir Naruto semakin mengembang, menciptakan senyum.

"Apa? Aku tidak dengar" Kata Naruto kemudian.

"Dimana seragam sekolah ku, Na, Naruto kun?" Kata Hinata dengan cepat.

Hinata sudah tida sabar mendengar jawaban Naruto, kenapa Pria itu hanya diam?

"Aku tidak tau" Akhirnya Naruto mengeluarkan jawaban, tanpa memandang Hinata dia meminum kopinya.

"Hah? Apa maksud mu? Jangan bohong!" Tuding Hinata kepada Naruto.

"Benar aku tidak tau, Ah mungkin ayah mu sudah menyimpannya dengan rapi di gudang"

"Heh?" Habis sudah kesabaran Hinata, sama sekali bukan jawaban yang diharapkannya.

"Kau itu bukan anak sekolah lagi sayang, bahkan kamu sudah mendapat gelar di Universitas, lagi pula mana mungkin aku menikahi anak sekolah, heh?" Jelas Naruto.

"Ta,,tapi" Kata Hinata kemudian.

"Kemarin aku sudah bilang jika kau lupa ingatan bukan? Bahkan diriku saja kau lupakan" Kata Naruto lagi. Hinata hanya mematung mendengar perkataan Naruto.

"I,,itu, aku merasa aneh?" kata Hinata sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.

"La,,lalu jika aku tidak bersekolah apa yang aku lakukan? Dan hei, apa yang kau lakukan jii- Na, Naruto kun kenapa kau berada dirumah? Jangan bilang kau adalah pengangguran" Kata Hinata sambil berkacak pinggang, mengalihkan pembicaraan.

"Aku ini orang sibuk " Kata Naruto dengan bangganya "Lalu kenapa aku berada disni? Sini,, aku beritahu" kata Naruto mengayunkan telapak tangannya memanggil Hinata.

Hinata sepertinya cukup penasaran dengan pria di hadapanya itu, tubuhnya bergerak mendekati Naruto dan duduk disampingnya.

Seringaian terbentuk di wajah tan Naruto. Naruto meletakkan tangannya di bahu Hinata, membuat Hnata terkejut.

"Aku sedang libur" Bisik Naruto di dekat wajah Hinata "Kau tau? Seharusnya kita melakukan hal-hal yang biasa pengantin baru lakukan bukan?" Naruto semakin mengeratkan pelukannya di pundak Hinata.

"A,,apa?" Sepertinya sesuatu terlintas di pikiran Hinata, mebuat jantungnya berdebar dan keringat dingin.

"jangan pura-pura tidak tau" Bisik Naruto lagi didekat wajah Hinata. Melihat tingkah Hinata dia berusaha mati-matian menahan senyum agar tidak tertawa.

Wajah Naruto sudah semakin mendekat, Aaak! Bisa-bisa jantung Hinata meledak kalau begini.

"KYAAA! Mesum! Teriak Hinata Histeris.

"heh,,ppft,,,hhahahahahahahaah!" Naruto menjauhkan wajahnya tertawa terbahak-bahak untuk kedua kalinya pagi ini, kali bahkan dia sampai mengeluarkan air mata "Apa yang kau pikirkan Hinata chan?" Kata Naruto sambil mencoba meredam tawanya.

"A,,apa" Hinata melongo, melihat Naruto yang tiba-tiba tertawa, tapi wajahnya masih saja meninggalkan semburat merah "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, dasar mesum"

"Loh? Apa yang salah? Kata-kataku tidak ada yang salah" Kata Naruto kali ini dia berhasil menghentikan tawanya.

"Duduk berdampingan, minum teh bersama di pagi hari bukannya itu yang bisanya dilakukan pengantin baru" Kata Naruto sambil melirik Hinata, ingin tau bagaimana ekspresi wanita itu.

Kalau saja tidakjaga image di depan Naruto, mungkin Hinata sekarang sudah sembunyi di bawah meja, apa sih yang dipikirkannya, lagi pula Naruto juga mengatakannya dengan cara seperti itu siapa yang tidak salah sangka?

"Ba,,baka!" Kata Hinata, hanya itu yang bisa di katakannya untuk membalas perbuatan Naruto.

"Kau manis hime" Kata Naruto sambil terkekeh.

Naruto suka sekali mempermainkan Hinata, Amnesia membuat sifat Hinata berubah pula, baru saja satu hari tapi Hinata sudah memperlihatkan beragam ekspresi yang menurut Naruto lucu, ah menarik sekali.

~0~

"Mau kemana?" Tanya Naruto ketika melihat Hinata turun dari tangga dengan pakaian rapi.

"Keluar" Jawab Hinata singkat

"Tidak boleh" Kata Naruto cepat.

"Hei!"

"Kau itu baru saja keluar dari rumah sakit kemarin Hime" Naruto berdiri dari sofanya berjalan mendekati Hinata.

"Aku nggak mau berlama-lama dengan orang asing dirumah ini" Jawab Hinata

Naruto hanya terkekeh mendengar jawaban Hinata, asing apanya? Hei dia Suaminya!

"Ah, aku juga bosan" Kata Naruto sambil meregangkan tangannya ke atas kemudian dia berdiri. "Aku ikut" Kata Naruto kemudian.

"Hei aku tidak mengajakmu"

"Kalau begitu kau tidak boleh keluar"

"Memangnya kau bisa menahan ku?" Kata Hinata Ketus.

"Tentu saja, mau bukti?" Kata Naruto dengan seringaian di wajahnya.

"Akh, pria ini! Batin Hinata, sepertinya Naruto bisa melakukan apapun. "Baiklah" Kata Hinata kemudian.

Kemudian Naruto pergi kekamarnya untuk mengganti Baju.

"Aku siap, ayo pergi" Kata Naruto sambil memakaikan sebuah topi ke kepala Hinata.

"Hei, aku tidak mau pakai topi" Kata Hinata mencoba melepaskan topinya.

Naruto meletakkan tangannya di atas kepala Hinata sehingga Hinata tidak bisa melepaskan topi itu.

"tidak boleh kau harus memakainya" Kata Naruto.

Bisa gawat jika Hinata bertemu dengan kenalan mereka, yah itu lah yang dipikirkan Naruto, dia belum siap menjelaskan apapun pada orang-orang disekitarnya, Naruto butuh waktu, biarlah begini dulu utnuk sementara.

"Ayo pergi" Kata Naruto menggandeng tangan Hinata.

Naruto dan Hinata keluar dari rumah mereka, kemudian berjalan menuju mobil.

"Tunggu dulu, aku ingin naik bus saja" Kata Hinata sambil menarik tangan Naruto.

"Eh, kenapa? Naik mobil jauh lebih nyaman" Kata Naruto.

"Tapi aku ingin naik bus" Kata Hinata tak mau kalah.

"Nanti kamu kepanasan Hime" Kata Naruto kemudian.

"Aku pakai topi" Kata Hinata tersenyum, sambil memegangi topi yang terpasang di kepalanya.

"Baiklah, ayo" Melihat senyum Hinata akhirnya Naruto mengalah.

Mereka berjalan kaki menuju halte bus terdekat, dan menunggu disana. Tidak lama kemudian bus yang ditunggu pun datang.

"Kalau saja kita naik mobil tadi, kita tidak perlu berdiri seperti ini Hinata chan" Gerutu Naruto

Ternyata, bus yang mereka tumpangi lumayan penuh, terpaksa mereka harus berdiri.

"Panas sekali" Kata Naruto sambil mengibas-ngibaskan tangannya berharap mendapatkan sedikit udara "Kau baik-baik saja Hime" Kata Naruto kemudian, dia khawatir karena Hinata hanya diam sedari tadi.

Hinata menyesal, kalau saja tadi dia tidak bersikeras untuk naik bus, seharusnya dia mendengarkan kata-kata Naruto tadi. Ternyata tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Udara panas dan aroma tidak sedap membuat kepalanya pusing.

"Hei, kau pucat! Kau baik-baik saja Hime?" Kata Naruto lagi.

"Ehm, yah aku sedikit pusing" Jawab Hinata.

"Kemarilah, sebentar lagi kita sampai" Kata Naruto, menarik Hinata kedalam pelukannya.

"Eh, apa yang-"

"Bersandarlah" Kata Naruto masih dengan memeluk Hinata.

Hinata sudah tidak kuat lagi, kepalanya pusing. Akhirnya dia menyandarkan kepalanya di dada bidang Naruto.

"Pegangan, kalau tidak nanti kau jatuh loh" kata Naruto sambil menyungging kan senyum nya kepada Hinata.

"Begini saja cukup" Kata Hinata, begini saja sudah membuat jantungnya berdebar tidak karuan, bagaimana jika lebih dekat lagi.

Tiba-tiba bus yang mereka tumpangi mengerem mendadak, membuat karena Hinata tidak berepegangan membuatnya hilang keseimbangan.

"Tuh kan" Kata Naruto memeluk pinggang Hinata agar tidak jatuh "Jangan jatuh lagi Hime, pegangan!" perintah Naruto.

Dengan enggan Hinata melingkarkan tangannya di badan Naruto, sesuatu yang panas menjalar di wajahnya.

"Pegangan yang erat ya" Kata Naruto masih dengan senyum menawannya.

Wangi. Indera penciuman Hinata menangkap aroma yang menenangkan, aroma mint. Ternyata tubuh Naruto beraroma mint. Perlahan rasa pusing yang sesaat hinggap dikepala Hinata berkurang, aroma yang menyegarkan.

Sepanjang jalan mereka bertahan dengan posisi itu, bahkan orang-orang disekeliling mereka menatap mereka, sungguh romantis pasangan itu.

~0~

"Hinata chan, kita sudah sampai" Kata Naruto kepada Hinata

Tidak ada jawaban.

"Hime" Naruto meletakkan tangannya dikepala Hinata membuat empunta kepala terkejut.

"Eh!"

Ah, rupanya Hinata terlalu nyaman menghirup aroma mint itu, sampai-sampai dia tidak sadar jika bus telah berhenti dan para penumpang sudah mula turun.

"Heh, apakah kau masih ingin berlama-lama dengan posisi ini?" Kata Naruto memandang Hinata.

Dengan cepat Hinata mengumpulkan kesadarannya menjauhkan wajahnya dari tubuh Naruto.

"Aku sih tidak keberatan" Kata Naruto, sambil merentangkan tangannya, member isyarat pada Hinata.

"A,ayo turun!" Hinata dengan cepat melangkahkan kakinya keluar bus.

"Hei, tunggu jangan kau tidak perlu malu Hinata chan" Kata Naruto mengejar Hinata yang meninggalkannya.

Ketika keluar dari bus Hinata dan Naruto disuguhkan dengan pemandangan yang menakjubkan, deretan pohon sakura yang telah berbunga memanjakan mata mereka, sungguh cantik.

Naruto, memandang Hinata di sampingnya, memperhatika wajah mata Hinata yang berbinar, sepertinya dia suka.

"Ayo jalan" Kata Naruto kemudian menggandeng tangan Hinata.

Beberapa kelopak bunga Sakura diterbangkan angin, sepanjang jalan aroma bunga Sakura lah yang memanjakan indera penciuman mereka.

"Kita seperti sedang kencan ya" Naruto membuka suara setelah beberapa menit diam.

"Kencan apanya"

"keh, jadi ingat waktu pacaran, pasti kau tidak ingat kan?" Kata naruto lagi.

Hinata hanya diam, sungguh dia tidak ingat apapun.

"Aku janji akan mengembalikan memori kita Hime" Kata Naruto sambil mengeratkan genggaman tangannya.

Kemudian mereka berjalan dalam diam, menikmati pemandangan sakura yang disajikan.

.

.

"Naruto, Hinata?"

Sebuah suara memanggil nama mereka, Hinata dan Naruto sontak menoleh kebelakang, menghadap siapa yang menyapa mereka itu.

"Te,,teme?" Kata Naruto terkejut.

"Gawat, kenapa bertemu dengan mereka!" batin Naruto,Naruto melirik Hinata yang berdiri disampingnya yang menampakkan wajah bingung.

Sedangkan Naruto, pucat.

.

.

To Be Continue :D

.

.

Ahahahaha :D :D :D #pingsan

Ukh,, baiklah,,, #sambil megangi kepala.

.

.

Hallo minna XD/

Yey,, akhirnya aku update juga chapter selanjutnya hahah ^^7

Maaf yaa yang sudah menunggu lama, huhu…

Memang benar, kalau dirumah orang ga bisa konsen,,ckck begitu aku coba buat dirumah eh, dengan sendirinya words nya bertmbah :v

Ahahaaa,,, sebenarnya aku kurang begitu mengerti dengan jalan ceritanya, nah loh?

Bercanda, bercanda #keringat dingin

Apa kah yang aku tulis disini sudah tersampaikan untuk kalian semua? :D

Maaf jika kalian kurang puas dengan chap ini ^^7

Mohon saran-saran kalian ya :D

Bagi yang log in aku balas lewat pm yaa fufufu


Thanks to :

Guest, Bunshin Anugrah ET, Abrory-The-Kijin27, Restyviolet, Blue-senpai, utsukushi hana-chan , Namehime( iyaa maaf, soalnya ga sempet hhe^^), bala-san dewa hikikomori, Manguni, Yui Kazu, Kimmi Kaze, Si Merah Uzumaki ( saya masih waras, haha,^^), Neko-Chan ( Hinatanya ooc ya,,haha), Hiruma Enma 01.

Untuk silent readers juga *jika ada :D

.

.

Makasih semuanya sudah mau baca

Aku sayang kalian :*

Seperti biasa, silahkan tinggalkan jejak dikotak RIVIEW ^0^/

msconan