"aku akan mengawasimu di café itu" Kata Naruto, kemudian dia memejamkan matanya lagi.

"eh,,jangan!" Kata Hinata, tapi dia mendengar suara dengkuran halus dari Naruto.

"Tidur?" Batin Hinata.

"Hei bangun!" Hinata mengguncangkan tubuh Naruto, tapi pemuda tersebut sama sekali tak bergeming rupanya ia sudah tertidur pulas.

"Apa lagi yang akan dilakukannya?" Batin Hinata

.

.

Naruto ©Masashi Kisimoto

Amnesia ©msconan

Rate : T+

Warning : AU,OOC, Typo berserakan dimana2, EYD tidak jelas dll

Don't like, press the back button!

Happy reading ^^/

Present:

Amnesia chap 8

~0~

.

.

"sudah berapa kali kubilang kau tak usah ikut" Kata Hinata kesal pada Naruto.

Terang saja, ternyata Naruto benar-benar ingin mengawasi Hinata. Yang benar saja. Sejak pagi Naruto terus mengikuti kemana Hinata pergi, mulai dari sarapan hingga mereka keluar rumah, bahkan ia tidak masuk kerja hari ini.

"Kan aku sudah bilang" Kata Naruto cuek.

"aku tidak mau" Kata Hinata melawan.

"kalau begitu kau tidak boleh kesini, ayo pulang!" Kata Naruto menarik tangan Hinata.

"ukh! Baiklah" Kata Hinata akhirnya.

Naruto tersenyum karena Hinata menuruti perkataannya.

"Memangnya kau tidak punya kerjaan ya?" Kata Hinata pada Naruto.

"Tentu saja punya, tapi ini lebih penting" Jawab Naruto.

"Kau akan dimarahi Sasuke kalau membolos" Kata Hinata lagi.

"Tidak akan" Jawab Naruto sambil tersenyum.

Kenapa?ukh, Hinata kesal sekali tidak ada kah hal yang bisa membuat Naruto pergi dari café ini?

"Tapi jangan buat masalah" Kata Hinata lagi.

"aku tidak janji" Kata Naruto, kemudian masuk kedalam café maid tersebut meninggalkan Hinata di belakangnya.

Hinata masuk melalui pintu depan café, ketika dia didalam dia melihat Naruto telah duduk di salah satu kursi yang ada disana.

"Ternyata dia duduk disana, liat saja sampai kapan ia akan tahan" Kata Hinata, kemudian ia masuk untuk berganti baju dan bersiap untuk bekerja.

Setelah berganti baju Hinata menuju ruang depan café tersebut, dia mengedarkan pandanganya di ruangan cefe itu, loh? Kemana? Sosok pemuda pirang yang dia cari itu tidak ada di tempatnya, kemana Naruto? belum ada lima belas menit tapi Naruto sudah menghilang, apakah dia pulang?

"Sepertinya dia sudah menyerah" Batin Hinata. Hinata tersenyum senang, Naruto tidak akan mengawasinya.

"Hei,hei aku tidak tau kalau pak pemilik akan menambah pelayan lagi" Kata salah seorang maid disana berbicara pada temannya sesama maid.

Saat itu Hinata sedang melayani pelanggan yang datang bersama beberapa temannya.

"Syukurlah jika pak pemilik sudah mendapatkan pengganti ku" Batin Hinata mendengar percakapan maid tadi. Tapi kenapa di dalam berisik sekali ya? Mungkin pelayan baru itu sangat cantik, pikir Hinata.

"Nona, kau sangat manis siapa namamu?" Kata salah satu pelanggan yang di layani Hinata tersebut.

"Eh?" Hinata terkejut, lagi-lagi dia berhadapan dengan pelanggan yang maniak.

"Anda ingin pesan apa tuan?" Kata Hinata mengabaikan pertanyaan pelanggan tersebut.

"Hei kau belum menjawab pertanyaan ku nona cantik" Kata pelanggan itu lagi, akh Hinata malas sekali meladeninya, menyebalkan, tapi dia harus tersenyum.

"Maaf tuan, jika tidak ada yang ingin anda pesan saya akan pergi" Kata Hinata menggunakan jurus andalannya lagi.

"Siapa bilang?" Kata salah satu pelanggan yang lain.

"Aku ingin memesan nona" Kata pelanggan tersebut sambil tersenyum menjijikan di mata Hinata.

"maaf tuan-"Hinata tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi, tiba-tiba saja pelanggan tersebut langsung menjulurkan tangannya memegang Hinata "Kamisama!" batin Hinata takut.

Saking takutnya Hinata memejamkan matanya, "apakah aku harus teriak?" Batin Hinata.

Sepertinya tidak ada cara lain, untuk menyelamatkan diri Hinata harus berteriak lagipula pelanggan tersebut sudah sangat tidak sopan, Hinata menarik nafasnya dalam-dalam bersiap untuk mengumpulkan suaranya, "Baiklah" Batin Hinata.

"ittai!"

Loh? Baru saja Hinata ingin mengeluarkan suaranya tapi dia merasa bahwa pergelangan tangannya sudah tidak di sentuh lagi, dan siapa yang berteriak kesakitan?

Perlahan-lahan dengan takut-takut Hinata membuka kelopak matanya yang tertutup. Hinata terkejut melihat kejadian di depannya, seseorang telah memegang atau lebih tepatnya mencengkram pergelangan tangan pelanggan yang berani memegang Hinata tadi.

"Apa yang kau lakukan!" Teriak pelanggan tersebut kesakitan.

Hinata penasaran siapa seseorang yang telah menyelamatkannya, tapi ketika dia menolehkan kepalanya menghadap sang pahlawan tersebut Hinata luar biasa terkejutnya dengan sosok yang berdiri di sampingnya.

Butler.

"NARUTO kun?!" Kata Hinata dengan sangat terkejutnya.

"Heh, jika kau berani menyentuhnya lagi, aku akan patahkan pergelangan tanganmu!" Kata Naruto sambil tersenyum sinis, Naruto kemudian menghempaskan tangan pelanggan tersebut.

"Ayo pergi Hime!" Kata Naruto menarik pergelangan Hinata menjauhi kursi pelanggan tersebut.

~0~

"Apa yang kau lakukan?" Kata Hinata ketika mereka sudah berada di ruang belakang.

"Apa? Tentu saja menyelamatkanmu" Jawab Naruto.

"Bukan! Maksudku,," Kata Hinata menggantung perkataannya, menatap penampilan Naruto.

"Heh? Kenapa? Aku rasa aku sangat tampan berpenampilan seperti ini" Kata Naruto sambil tersenyum simpul.

Deg.

"Memang sih" Batin Hinata. Penampilan Naruto sangat tampan malah, pertama kali melihatnya saja Hinata butuh beberapa detik untuk memastikan bahwa itu Naruto. jelas saja Naruto yang biasanya sedikit berantakan kali ini berpenamplan sangat rapi. Pemuda pirang tersebut memakai setelan jas berwarna Hitam semakin membentuk badan tegapnya dan membuatnya berkharsima, dengan sarung tangan putih menutupi telapak tangan tan nya, dan satu lagi yang membuatnya tampak sangat berbeda yaitu rambut pirangnya yang biasanya tampak sedikit acak-acakan dan melawan gravitasi sekarang rambut pirang itu sudah sangat rapi, poni jabrik yang selalu menutupi jidatya kini disingkap ke atas, pemuda pirang itu menyisir rambutnya kebelakang, oh tidak tampan sekali. Sama sekali tidak seperti Naruto, dia benar-benar berbeda.

"Wah-wah tak kusangka aku setampan itu sampai-sampai kau tak berkedip" Kata Naruto mendekatkan wajahnya pada Hinata yang sedari tadi menatapnya.

"Eh!" Hinata kembali ke alam sadarnya, ah dia tidak sadar jika dari tadi terus memandangi Naruto, wajahnya memerah bak kepiting rebus ketika menyadari wajah Naruto berada tepat dekat di depan wajahnya.

"Kenapa kau berpenampilan sebagai butler? Kata Hinata menjauhkan wajahnya dari Naruto.

Naruto kembali menegakkan badannya, dan tersenyum melihat tindakan Hinata, lucu sekali.

"Kenapa? Kau saja boleh jadi maid, kenapa aku tidak?" Kata Naruto.

"Bukan itu, ini kan café maid, kau tidak boleh seenaknya" Kata Hinata lagi, ah dia berusaha menormalkan detak jantungnya.

"Aku sudah di beri ijin oleh pak pemilik" Kata Naruto sambil memeletkan lidahnya.

"Ke,kenapa bisa?" Tanya Hinata.

"Tentu saja bisa, lagi pula cafe ini sedang butuh pelayan bukan?" Jawab Naruto.

"Kau-" Kata Hinata tidak bisa membalas perkataan Naruto.

"Kan aku sudah bilang akan mengawasimu, dan seharusnya kau berterima kasih padaku karena telah menolongmu" Kata Naruto tersenyum simpul.

"Eh?" Hinata lupa "benar juga ya" Batin Hinata.

"Baiklah, a,,arigatou" Kata Hinata dengan cepat, bahkan ia sama sekali tak menatap wajah Naruto.

Bibir Naruto membentuk seringaian dan Hinata tak melihatnya.

"Aku tidak mau" Kata Naruto tiba-tiba.

"Apa?" Tanya Hinata, kali ini dia mengangkat wajahnya menatap Naruto, Hinata menangkap senyuman Naruto. senyuman iblis, bagi Hinata.

"Kau harus memberiku sesuatu" Kata Naruto pada Hinata.

"Kau mau apa, aku sudah berterima kasih" Kata Hinata pada Naruto, senyum Naruto membuat perasaannya tidak enak.

"Aku mau,," Naruto menggantungkan kata-katanya, sebagai gantinya dia menatap bibir Hinata sebagai isyarat.

"He,hei" Sepertiya Hinata bisa dengan cepat mengartikan maksud Naruto.

Naruto melangkah memajukan tubuhnya mendekati Hinata, semakin dekat.

"ukh" pipi Hinata rasanya memanas, kenapa dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, ah jangan bilang dia sudah terikat oleh pesona Naruto? tidak mungkin!

Salah satu tangan Naruto menangkup pipi chubby Hinata yang tampak memerah, sejauh ini tak ada perlawanan, pikir Naruto. Naruto sedikit membungkukkan badannya yang tinggi dibanding Hinata agar posisi mereka sejajar.

Deg,deg,deg,,

"aku tak berani menatapnya" batin Hinata

Naruto semakin mengembangkan senyumnya ketika melihat Hinata menutup matanya.

"Anak manis" bisik Naruto lirih.

Kini Hinata dapat merasakan hembusan nafas Naruto. Hinata merasa sekarang dia mungkin akan pingsan.

Awalnya Naruto hanya ingin mejahili Hinata, pasti lucu sekali melihat ekspresi wajahnya, tetapi Naruto tak menyangka bahwa akan mendapa respon yang melebihi dari dugaanya, ya sudah tidak boleh melewatkan kesempatan bukan? dia dapat jackpot!

Hinata merasa gerakan Naruto bagaikan slowmotion, kakinya sudah tidak kuat lagi untuk berdiri.

Naruto semakin mendekatkan bibir nya dengan bibir mungil Hinata, semakin dekat dan,,

.

.

"permisi tu,tuan, a,,anda dipanggil"

Dengan tiba-tiba salah satu maid dari café tersebut datang tanpa di undang, pipi maid tersebut merona karena baru saja menyaksikan adegan yang,, belum baru hampir.

Dengan bersamaan Naruto dan Hinata mejauhkan tubuh mereka yang berdekatan tadi, Begitupula denga Naruto karena terkejut.

"Ia aku akan segera datang" kata Naruto.

Setelah mengucapkan beberapa kata tersebut maid itu langsung pergi dengan cepat.

"Sial" erang Naruto "Padahal tinggal sedikit lagi" Batinnya.

"aku akan pergi" Kata Hinata, wajah merahnya belum hilang karena kejadian tadi.

"Eit, tunggu aku belum selesai" Kata Naruto menyunggingkan senyumnya.

"lepaskan! Dasar bodoh" kata Hinata melepaskan tangannya kemudian berlari meningalka Naruto.

"hehe,, ya ampun manis sekali" Kata Naruto terkekeh sepeninggalan Hinata, sebenarnya Naruto juga merasakan hal yang sama, deg-deg an, sensasi yang ia rasakan hanya pada Hinata, tapi Hinata tentu saja tidak tau.

"Lain kali aku pasti mendapatkannya" Kata Naruto kemudian dia menuju ruang depan café.

~0~

"Aku ingin di layani oleh butler itu" Kata seorang pelanggan wanita.

Karena kedatangan Naruto sebagai butler, pemilik café memutus kan bahwa hari ini adalah hari special, 'butler day' . café yang bisanya leih bayak di datangi oleh kaum adam ini sekarang karena kehadiran Naruto café ini malah berubah 180 derajat, karena sang pemilik café membuat pengumuman tentang tema butler day, kaum hawa yang penasaran pada berdatangan memenuhi café ini, walaupun disini hanya Naruto satu-satu nya yang menjadi butler disni tetapi nampaknya para pengunung kaum hawa sama sekali tak keberatan.

"Dasar suka tebar pesona" Kata Hinata menggerutu ketika melihat Naruto melayani salah satu pelanggan wanita.

"Nona maid, bisakah anda memanggilkan butler itu?" Kata pelangan wanita pada Hinata.

"Eh baiklah, tapi anda harus menunggu" Kata Hinata.

"Tidak masalah" Kata pelanggan tersebut tersenyum senang.

Hinata berjalan mendekati Naruto ingin menyampaikan pesan yang diminta oleh pelangan wanita tadi.

"dasar iblis, senyum apa itu?" Kata Hinata dongkol, melihat Naruto melayani para pelanggan dengan tersenyum.

"Tuan tampan, sepertinya kau mempunyai banyak fans, dan salah salah satu fans wanitamu yang ada disana ingin bertemu" Kata Hinata tesenyum manis yang dibuat-buat pada Naruto ketika Naruto telah selesai melayani salah satu pelangan.

"Heh? Benarkah? Baiklah aku akan segera kesana" Kata Naruto meninggalkan Hinata.

"Apa-apan jawaban itu?" Batin Hinata "Bukan kau saja yang bisa seperti itu" Kata Hinata.

Sepertiya Hinata tidak mau kalah dengan Naruto, dia menuju ke locker belakang tempatnya biasa mengganti baju, dengan hati jengkel Hinata melepaskan cincin pernikahan yang di pakainya lalu menaruhnya di saku mantelnya.

"dasar, seharusnya pria sudah beristri tidak oleh melakukan itu, memangnya hanya kau yang bisa" Kata Hinata jengkel, kemudian dia kembali untuk bekerja.

"Kau dari mana?" Kata Naruto ketika melihat Hinata dari belakang.

"Bukan urusanmu" jawab Hinata ketus, dan meninggalkan Naruto.

"heh? Kenapa dia?" Kata Naruto bingung.

"okaerinasai gojoshi sama" Kata Hinata menyambut tamu yang baru datang, Hinata kemudian mengantar pelanggan tersebut ke kursi kosong.

"Anda ingin pesan apa tuan?" Kata Hinata tersenyum manis.

Pelanggan tersebut tersenyum senang dengan pelayanan Hinata.

"hmm, apakah kau punya rekomendasi makanan enak disin nona?" Tanya pelanggan tersebut.

"Kalau menurut saya, untuk sarapan mungkin pai apel dan orange juice adalah pilihan yang tepat" Jawab Hinata.

"Boleh juga, tapi kau akan menjamin rasanya bukan?" Tanya pelanggan tersebut bercanda.

Kali ini Hinata sama sekali tidak merasa takut, karena pelanggan ini sangat sopan padanya.

"Saya berani jamin itu tuan" Kata Hinata sambil tertawa kecil.

Dari jauh Naruto memperhatikan Hinata, kenapa gadis itu terlihat akrab sekali dengan pelanggan tersebut. Naruto cemburu.

"Tuan butler, apakah aku boleh berfoto denganmu?" Kata pelanggan wanita yang sedang dilayani Naruto.

Naruto segera mengalihkan pandangannya yang sedari tadi menatap Hinata.

"Jika kau memesan 3 set paket di café ini kau akan mendapatkan bonus berfoto nona" Kata Naruto pada pelanggan tersebut, ini adalah kebijakan dari café maid ini, tapi karena 3 set makanan tersebut sangat banyak dan harganya cukup mahal hanya beberapa pelanggan saja yang membelinya.

"Baiklah, aku pesan" Kata Pelanggan wanita tersebut.

Naruto tak menyangka bahwa pelanggan wanita tersebut rela membeli 3 set paket di café ini.

"Baiklah akan saya siapkan" Kata Naruto.

Dia masih memandang tajam pada Hinata yang berbincang dengan pelanggan pria tersebut.

Naruto hampir selesai menyajikan 3 set makanan yang dipesan oleh pelanggan wanita tersebut, kemudian Hinata datang dan berdiri disampingnya untuk mengambil pesanannya pula.

Hinata melihat pesanan yang dibawa Naruto, ternyata ada pelanggan yang ingin berfota dengannya.

"Wah, ternyata fans mu rela melakukan apapun ya?" Kata Hinata pada Naruto.

Hinata kenapa sih? memang biasanya dia berbicara ketus pada Naruto, tapi kali ini cara bicaranya aneh, dari tadi membicara kan fans melulu.

"Kau kenapa?" Tanya Naruto akhirnya.

"kenapa? Tidak apa-apa?" jawab Hinata.

"Hei, apa jangan-jangan kau cemburu?" Tanya Naruto asal tebak.

Deg.

Cemburu?

"Bodoh" Jawab Hinata.

Tapi perkataan Naruto seakan tepat menusuk jantungnya. Cemburu? Masa sih?

Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba untuk tidak mengambil pusing pernyataan Naruto.

"Lebih baik kau menyembunyikan cincin yang kau pakai itu jika tidak ingin para fans mu kecewa" Kata Hinata pada Naruto.

"Hei, itu tidak mungkin" Kata Naruto sambil tersenyum.

"Terserah" Kata Hinata, dia kemudian mengangkat nampan pesanan dari pelanggannya.

Mata Naruto menangkap jari manis Hinata yang tidak memakai cincin pernikahannya.

"Hei, dimana cincinmu?" Kata Naruto terkejut.

"Aku melepasnya, solanya aku tidak mau jika fans mu kecewa melihat kita memakai cincin yang sama, dan tau status kita" Jawab Hinata enteng.

Menurut Naruto Hinata sudah keterlaluan, bagi Naruto sampai dalam keadaan apapun dan samapi mati pun ia tidak akan melepas cincin pengikat janji sucinya pada Hinata, tapi Hinata.

"Kau sebenarnya kenapa Hinata?" Tanya Naruto lagi.

"Aku bilang tidak apa-apa" Kata Hinata meninggalkan Naruto.

Naruto yakin sekali, pasti Hinata cemburu, dia senang sih, tapi dengan tindakannya melepas cincin tersebut Naruto sedikit kecewa. "baiklah aku akan buktikan padamu, hime" Kata Naruto, kemudian dia membawa pesanannya.

Hinata berjalan menuju meja dan membawa pesanan pelangganya, tapi pikirannya sama sekali tidak fokus, kacau. Kenapa sih dia? Dia teringat ucapan Naruto.

"cemburu? Yang benar saja?" batin Hinata. "Menyebalkan!"

Lagi-lagi Hinata tidak fokus melayani pelangganya, pandangannya terus tertuju pada Naruto, apalagi sekarang Naruto sedang berfoto dengan salah satu pelanggan wanita tersebut.

"Dasar playboy" Batin Hinata kesal.

"Nona apa kau baik-baik saja?" Kata pelangga tersebut melihat Hinata yang dari tadi memandang ke arah lain.

"saya baik-baik saja tuan" Jawab Hinata.

Sebenarnya Hinata hanya merasa sedikit terabaikan, mungkin karena Naruto selalu ada di dekatnya, dia merasa aneh jika Naruto terlihat bersama dengan yang lain, tidak hanya para pelanggan kaum hawa saja tetapi maid yang bekerja di di café tersebut juga mendekati Naruto.

Hinata masih menatap Naruto dengan kesal, sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa salah satu maid yang membawa pesanan berjalan ke arahnya.

PRANG!

Piring serta gelas yang yang ada di nampan itu pun jatuh dan pecah berkeping-keping.

"Gomen!" Kata Hinata panik, "kenapa bisa seperti ini?" batinnya.

Hinata berjongkok ingin memunguti pecahan kaca tersebut, saat ini pikirannya sangat kacau.

"Hinata jangan" Kata maid tersebut memperingatkan Hinata agar tak memunguti pecahan kaca tersebut.

"Maafkan aku, aku akan membereskannya" Kata Hinata ingin memunguti pecahan kaca tersebut.

Tapi saat ingin mengambil pecahan kaca tersebut tiba-tiba tangannya di tepis oleh tangan lain, tangan yang lebih besar dari tangan mungil Hinata.

"Apa yang kau lakukann?" Tanya Naruto yang ikut berjongkok di depan Hinata.

"aku akan membereskannya" jawab Hinata datar.

Naruto menggenggam pergelangan tangan Hinata, mencoba mencegah wanita tersebut mengambil pecahan kaca.

"Nona tolong bisakah kau mengambilkan sesuatu untuk membersihkan ini?" Naruto pada maid yang membawa nampan tadi.

"Jari mu bisa terluka jika kau menyentuhnya langsung" Kata Naruto khawatir.

"Biar saja" Jawab Hinata, ah, rasanya sekarang ia ingin menangis, kenapa?

"Hinata, ada apa denganmu?" Tanya Naruto khawatir.

"Pergilah, jangan perdulikan aku, banyak yang menunggumu" Kata Hinata, wajahnya tetunduk tak ingin menatap Naruto.

Naruto tak habis pikir dengan perlakuan Hinata, tapi ia yakin setiap perkataan Hinata padanya menunjukan bahwa Hinata sedang cemburu.

"Hinata?" Kata Naruto memanggil Hinata tetapi wanita itu tetap menundukkan wajahnya.

"Pergilah, jika orang-orang melihat kita seperti ini mereka akan berpikir yang tidak-tidak" Jawab Hinata.

Naruto sama sekali tak mengerti, Hinata sangat keras kepala sekali.

"Aku akan menunjukan satu hal agar kau percaya" Kata Naruto, kesabarannya sudah habis meghadapi Hinata, gadis ini tidak akan mengerti kalau hanya dengan kata-kata.

Tangan tan Naruto dengan sigap memegang dagu Hinata, membuat gadis tersebut mengangkat kepalanya menatap mata biru Naruto. Naruto semakin mempersempit jarak mereka, dan dalam hitungan detik.

CUP.

Bibir ranum Hinata bersentuhan dengan bibir Naruto.

Pemuda itu menciumnya! Ditempat umum! Didepan semua orang!

Begitu dengan tiba-tiba hingga Hinata tak sempat mengelak.

Bola mata Hinata membulat terkejut denga apa yang terjadi, perlakuan Naruto, ia tidak pernah membayangkan jika Naruto akan melakukan hal ini.

Deg.

Jantung Hinata berdetak, seakan ingin keluar dari rongga dadanya, kepalanya tiba-tba pusing, seperti ada sesuatu yang muncul di dalam pikirannya. Seperti memori yang yang tiba-tiba mencuat namun kembali hilang.

Tidak hanya Hinata, bahkan pelanggan yang ada di sekitar mereka pun sangat tekejut melihat adegan yang berada di depan mereka, sangat ekstrim.

Hinata, sekuat tenaga medorong tubuh Naruto, Namun tubuh Naruto yang besar di bandingnya membuatnya harus mengeluarkan tenaga ekstra.

Tak lama kemudian Naruto perlahan-lahan melepaskan bibirnya dari Hinata.

"Sudah aku buktikan bukan, jika kau milikku bahakan tanpa harus memperlihatkan cincin pernikahan kita" Kata Naruto tersenyum simpul.

Wajah Hinata memerah antara marah dan malu bacampur aduk menjadi satu.

Marah?

Tentu saja, Naruto menciumnya di di depan umum dan tanpa se ijinnya pula, dan Hinata merasa kalau ini adalah ciuman pertamanya. Tentu saja karena dia lupa.

Hinata berdiri dari tempatnya, kini dia melihat semua pasang mata yang ada di café tersebut memandanganya.

"Maaf, membuat kalian terkejut, ini adalah bagian dari pertunjukan yang telah di rencanakan" Kata Naruto berdiri disamping Hinata dan menggenggam tangan Hinata.

Hinata tekejut dengan perkataan Naruto, pertunjukan? Benarkah?

Naruto membungkukkan badanya seperti layaknya pemain yang mengakhiri pertunjukan, Hinata pun mengikuti Naruto.

Para pengunjung café tersebut benar-benar percaya dengan perkataan Naruto, mereka bertepuk tangan, pertunjukan yang bagus. Benar-benar café yang unik. Pikir mereka.

Setelah itu Naruto menarik Hinata menuju ke bagian belakang café.

"Apa ada yang terluka?" Kata Naruto ketika mereka sudah dibelakang.

"Kenapa?" Kata Hinata, cairan bening sudah menumpuk di pelupuk matanya.

"Hei, kenapa menangis?" Kata Naruto panik.

"Kau! Bisa-bisa nya kamu mempermainkan aku" Kata

"apa maksudmu Hime" Kata Naruto bingung,

"Kau, melakukannya di depan umum dan tanpa se ijinku, lalu kau bilang itu hanya pertunjukan?" Kata Hinata, ah dia sudah tidak tahan.

"Heh" Naruto terkekeh mendengar perkataan Hinata.

Hinata bingung, kenapa pemuda itu malah menertawakannya?

"Tentu saja itu bukan pertunujkan" Kata Naruto tersenyum.

"eh?" Hinata terkejut.

"Seharusnya kau bilang kalau kau cemburu, heh?" Kata Naruto sambil mengusap bibir mungil Hinata.

Wajah Hinata merona hebat, karena perlakuan Naruto.

"lagi pula itu hukuman buatmu karena telah melepas cincinnya" Kata Naruto lagi.

"Menjauhlah, aku ingin pulang, setelah apa yang kau lakukan aku jadi tidak ingin bertatap muka dengan orang-orang" Kata Hinata kemudian pergi.

"Hei, kau marah?" Kata Naruto pada Hinata, tapi Hinata sama sekali tak mengubrisnya.

Hinata meminta ijin pada pak pemilik untuk pulang cepat. Dia benar-benar meminta maaf atas kejadian tadi.

"Maafkan saya pak" Kata Hinata pada pemilik cafer tersebut.

"Tidak apa, lagipula berkat kalian aku jadi mendapatkan ide bagus" Kata pak pemilik tersebut.

"Sykurlah" kata Hinata

"ya, sesekali mungkin harus di adakan pertunjukan-pertunjukan kecil disini" Kata pak pemilik itulagi.

Pertunjukan, mengingat itu pipi Hinata kembali merona.

"Hontouni Arogatou pak" Kata Hinata membungkukkan badannya.

"Ya, terimakasih juga atas bantuan kalian berdua, aku sangat tertolong, lain kali kalian berdua datanglah kesini sebagai tamu" Kata pak pemilik tersebut sambil tersenyum

"kalau begitu kami permisi pak" Kata Hinata undur diri, sepertinya dia memnita ijin untuk Naruto juga.

Hinata sudah tau, pasti pemuda itu akan ikut dia pulang.

~0~

Benarkan!

Sekarang pemuda pirang tersebut sedang berjalan di samping Hinata.

Sekarang mereka sedang dalam perjalan pulang.

"Kau juga mengijinkan ku, terima kasih sayang" Kata Naruto merangkul bahu Hinata

"lepaskan" Kata Hinata Ketus "kenapa kau mengikuti ku sih"

"kenapa? Tentu saja karena aku ingin selalu berada disisi mu" Kat Naruto dengan cengirannya.

"menyebalkan!"

"Hei, kemana cincinmu kenapa kau tidak memakainya" Tanya Naruto, melihat jari Hinata tidak tersemat cincin tersebut.

"Suka-suka aku" Jawab Hinata.

"Hei kau masih marah" Tanya Naruto.

"Pikirkan saja sendiri" Jawab Hinata.

Naruto hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sepertinya mencium Hinata dengan tiba-tiba adalah ide buruk.

We are figthting dreamer

Takami wa mezasite

Faighting dreamer,,,

Saku jaket Naruto bergetar, ternyata ponselnya berdering.

Naruto terkejut ketika memandang nama yang tertera dia layar ponselnya.

-Neji nii-

"Mo,moshi moshi" kata Naruto mengangkat telponnya, tumben Neji menelpon.

[Naruto, kau bersama Hinata? Aku menelponnya tapi tidak aktif]

"Ya,ya begitulah, ada apa?"

[aku sekarang berada di depan rumah kalian, cepatlah kemari]

"Heh!" Kata Naruto terkejut.

[awas kalau kalian lama]

Neji kemudian mengakhiri sambungan teleponnya.

"ada apa?" Tanya Hinata, melihat wajah Naruto yang pucat dia penasaran siapa yang menelpon.

"Neji nii sudah berada di rumah kita" Jawab Naruto.

"Nii san?" tanya Hinata tak percaya.

"ya, Kita harus cepat pulang, Hinata pakai cincinmu!" Perintah Naruto.

Hinata segera merogoh saku mantelnya mencari cincin yang dia simpan.

Loh?

Tidak ada?

Hinata memeriksa semua kantong mantel tersebut namun hasilnya nihil. Ia ingat betul kalau dia menaruh cincin itu di saku mantelnya, kemana?

Cincinnya hilang!

"Naruto kun" Kata Hinata lirih.

"Ya?"

"Aku tidak menemukan cincinnya"

"Hah!?"

.

.

To be continue :D

.

.

Yuhuuuu,,,,, 0^,^0/

Ogenki desu ka minna? #dengan wajah tanpa dosa (._.)a

Wkwkw,maaf-maaf upadet lambat - #readers: huu,dasar tukang PHP -3-

Karena kegiatan dunia nyata saya yang padat seperti tanah liat membuat saya mengesampingkan fic ini dulu,,heheh,, biar sekalian nambah2 riview gtu? #prangdorprak,,dilempari readers

Aku selalu membayangkan kalau Naruto mau jahili Hinata seperti ada tanduk yang mucul di kepala kuningnya,,wkwkwk :v dan disini naruto sangaaaaaatttt kereeeeennnn XD XD XD

Oh ya, beberapa readers yang nanya, tentang lemon atau rate fic ini, jawabannya NO LEMON :D tapi rate nya masih saya kasih plus,,kenapa? Karena aku tokoh-tokoh disini rata-rata adalah orang dewasa,, hehehee,,, aku sesuikan dengan umur mereka ^^. Jadi maaf ya bagi yang mengharapkan LEMON ^^/.

Buat chap kemaren sepertinya banyak yang salah sangka ya tentang hukuman Naruto :v #selamat anda di kerjai author :3

Jujur chap ini buat jantung ku loncat-loncat di buatnya hha,,dan ini adalah chapter terpanjang yang pernah saya buat :v hampir 4k loh #senyum bangga,,kalau masih ada yang review "kurang panjang" bakalan aku jitak :3 khukhu #digebukin massa ama readers.

Kemarin ada seseorang yang tidak ada angin tidak ada hujan mampir ke PM facebook ku minta di update an fic ini,,hha iya,,iya aku hampir lupa :v #plakk

Baiklah sebelum saya benar-benar babak belur oleh readers saya akan kabur.

Wasalam :3/

Yang log ini silahkan intip PM nya,,diajakin ngobrol ama author tuh XD #plakkk

Thanks to :

meong chan, agusajisaputro, Blue-senpai, , Uzumaki-Namikaze Serizawa, putchy-chan, Bunshin Anugrah ET, Tiwie Okaza, Amu B, AnnisaIP, Abrory-The-Kijin27, LotuS-Mein319, vinara 28

Pendatang baru : hehe,, beruntunglah karena kau telah menemukan blog ini #plakk XD kalau aku baca fanfic itu 3 kali sehari kaya minum obat nyahahah :v

Guest : banyak banget nama guest disini :D #plakk,, haha begitu lah Hinata aja binging kok bisa g sinkron gtu yaa?

Fii san : 1 ribu,,hwaaa,,,kalau aku bisa buat sampe segitu aku bisa ngebalab manganya Masashi sensei yang sudah sampai 663 dong,,hahah XD

Uzumaki zhufar : bagus,, mudahan ga bosan ampe akhir yaa XD baca teruss XD

Etimumu : nii lanjut XD

Ryuji : hehe,, aku ga bisa nulis Rate M ^^

Hqhqhq : hehee,, gmana ya? Ada orang ketiga gay a? khukhu :3 ya udah liat nnti, biarkan otakku mengalir apa adanya XD

Durara : maacih X* kalau chap ini gmana?

Mikuru12 : hehe,, tebakan mu hampir benar tuh tapi Naruto ga jadi maid dong, tapi satunya :3

Yui kazu : haha,,kamu tertipu :3 hayoo yui chan mikirin apa coba? khekkhekkhek, hahahaa,,, kayaknya aku nularin virus senyam senyum, atau ketawa2 sendiri disini yaa,,kalau virus gila mah aseli punya yui chan #plakk, kabur XD

tanteiFath : yosh! makasih tantei san :3 XD

guest : aku masukkan pair lain buat ngedukung hub naruhina lagipula kalau Cuma mereka berdua aja sepertinya kurang :D

.

.

Yeay! Aku senang banya yang riview \,/

*makasih juga buat silent readers, jika ada :D

*buat yang sudah nge fav or nge follow :D/

Seperti biasa RIVIEW ^^ lagi dong,,,

msconan