"Heh?! Nii san akan pindah ke konoha?" Tanya Hinata pada Neji, sekarang mereka bertiga sedang bersantai di ruang keluarga.
"yah begitulah, ayah ingin aku sepenuhnya mengurus cabang perusahaan yang ada disini" Jawab Neji.
"Memangnya kapan Nejii nii akan berencana pindah?" Kali ini Naruto yang bertanya.
"Dalam waktu dekat ini" Jawab Neji singkat.
"Dan Hanabi juga akan segera pindah disini" tambah Neji.
Naruto ©Masashi Kisimoto
Amnesia ©msconan
Rate : T+
Warning : AU,OOC, Typo berserakan dimana2, EYD tidak jelas dll
Don't like, press the back button!
Happy reading ^^/
Present:
Amnesia chap 10
~0~
.
.
"heh?! Hontou ni? Hyaaaa,,, aku senang sekali!" Kata Hinata bersorak.
Neji mengangkat sebelah alisnya, melihat dari respon Hinata, kali ini dia cukup yakin jika ada yang salah pada Hinata.
"ne, Hinata chan apa benar kau baik-baik saja?" Kata Neji penasaran.
"Nii san, kenapa sih aku baik-baik saja" Jawab Hinata.
Neji hanya diam, di terus berpikir pasti ada yang salah dengan adiknya ini.
"Jadi, kalian akan tinggal dimana?" Tanya Hinata membuyarkan pikiran Neji.
"Eh,, ayah akan membelikan apartemen untuk kami berdua" Kata Neji kembali ke alam sadarnya.
"oh, begitu,,aku sudah tidak sabar ingin bertemu Hanabi, apa dia sudah tambah tinggi ya?" Kata Hinata girang.
Kali ini bukan hanya Neji yang terkejut tetapi Naruto pun sama terkejutnya denga perkataan Hinata.
"Kamu kan baru saja melihatnya di pesta pernikahan kalian? Kamu lupa ya?" Tanya Neji bingung.
Akh, Hinata sepertinya salah bicara.
"Pa,pasti Hinata chan sangat merindukan Hanabi chan Nii san, makanya dia merasa waktu sangat berjalan lambat, hahaha" Kata Naruto sambil tertawa garing.
Kali ini Neji semakin bingung di buatnya.
"Sudah malam aku ingin beristirahat" Kata Neji kemudian.
"eh, I,iya,,Nii san istirahat lah duluan" Kata Hinata.
Neji berdiri dan berjalan meninggalkan Hinata dan Naruto berdua.
"Hinata chan, kau membuat jantungku hampir berhenti" Kata Naruto saat dia yakin Neji sudah masuk kedalam kamarnya.
"Eh? Kenapa?" Tanya Hinata Innocent.
"kau tau, kurasa Neji nii sudah mulai curiga dengan mu" jawab Naruto.
"Kenapa bisa? Aku tidak melakukan apa pun?" Tanya Hinata lagi.
Naruto mengacak surai kuningnya frustasi, wanita di sampingnya ini benar-benar bisa membuatnya terkena serangan jantung mendadak.
"Sudah lah lupakan" Kata Naruto kemudian.
"Apa sih? dasar aneh" Jawab Hinata.
"Hoaaam,,aku mengantuk ingin tidur" Kata Naruto berdiri dari duduknya.
"Eh! Hei,,kau mau pergi kemana?" Tanya Hinata ketika melihat Naruto mulai meninggalkannya.
"Tentu saja ke kamar kita, apa kau tidak ingin beristirahat, eh?" kata Naruto menyunggingkan senyumnya. Sebenarnya dia itu benar-benar mengantuk atau tidak?
"Eh! A,apa!" Wajah Hinata memerah seketika mendengarkan perkatan Naruto, tentu saja dia benar-benar lupa kalau malam ini dia akan tidur dengan Naruto.
"Hei tu,tunggu!" Dengan sigap berdiri dari tempatnya dan memanggil Naruto tapi pria tersebut terus saja berjalan tanpa menghiraukan Hinata.
~0~
Kriet,,
Pintu kamar mandi perlahan terbuka, menampakkan sosok Naruto yang telah berganti pakaian, Naruto kini mengenakkan piyama tidurnya yang berwarna orange.
Deg.
Sejak Hinata masuk kekamarnya dia terus saja berdiri di dekat pintu, pikirannya sungguh berkecamuk.
"ah, dia benar-benar akan tidur disini!" Batin Hinata melihat Naruto yang sudah memakai piyama.
"loh? kenapa berdiri disitu?" Tanya Naruto saat melihat Hinata yang terus berdiri mematung tanpa melakukan apa-apa.
"Eh!" Hinata terkejut, sepertinya dia melamun.
"Ayo tidur!" Kata Naruto sambil naik ke atas ranjang berukuran King size tersebut.
"Hei! Kenapa kau naik ke atas ranjang?!" Kata Hinata melihat Naruto naik ke atas ranjangnya, perlahan wajahnya terasa memanas.
"Eh, tentu saja karena aku ingin tidur" jawab Naruto dan mulai menarik selimut.
"si,siapa yang bilang kau boleh tidur disitu?!" Kata Hinata gugup.
"he?" sambil menaikkan sebelah alisnya pemuda tampan itu menyunggingkan senyum "ayolah, kita tidak perlu membahasnya lagi bukan? Kata Naruto.
"Tentu saja perlu, karena,," Hinata tampak berpikir dia harus mencari kata-kata yang tepat agar tidak terlihat memalukan.
"Karena?" Kata Naruto melanjutkan pernyataan Hinata.
"Itu,,,akh pokoknya tidak boleh, ayo turun!" Tampaknya Hinata tidak tau harus menjawabnya dengan kalimat yang seperti apa, intinya tentu saja dia tidak mau tidur dengan seorang pria. Titik.
"Aku tidak mau!" bukannya menuruti perkataan Hinata, Naruto malah membaringkan badannya meletakkan kepalanya di atas bantal, sambil tersenyum mengejek dia melihat ke arah Hinata.
"Kalau begitu aku tidak akan tidur" Kata Hinata, dia kemudian duduk di atas sofa berwarnah merah marun yang ada di kamar tersebut.
"Benarkah, ya sudah" Kata Naruto cuek.
Naruto menutup matanya, ia berpura-pura tidur, tentu saja karena ia ingin melihat sampai sejauh mana Hinata akan bertahan.
Setelah beberapa lama duduk di sofa tersebut, Hinata akhirnya berdiri. Dia mengambil sebuah baju di lemarinya.
"apa yang akan dilakukannya" Batin Naruto, matanya mengintip Hinata.
Dilahatnya gadis bersurai indigo tersebut masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintunya.
"jangan-jangan dia mau tidur di kamar mandi" pikir Naruto, sungguh pikiran yang sangat bodoh.
Naruto menatap pintu kamar mandi yan tertutup rapat tersebut, "kenapa Hinata belum keluar ya?" batinnya.
Lelah dengan rasa penasarannya akhirnya pria tan tersebut beranjak dari tidurnya dan menuju ke pintu kamar mandi tersebut.
Duk,duk,duk.
"hei Hinata chan apa kau di dalam!" Teriak Naruto sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi tersebut.
Tak ada jawaban.
Sekilas kejadian ini seperti dejavu. Ya, Naruto kembali teringat kejadiaan saat malam pertamanya, saat Hinata jatuh tak berdaya di dalam kamar mandi tersebut. Pikiran Naruto kembali kacau mengingat kejadian tersebut, sekali lagi dia menggedor-gedor pintu kamar mandi tersebut.
"Hei, Hinata chan kau mendengarkan ku?!" Teriak Naruto. tangannya masih saja meggedor-gedor pintu tersebut.
"Hina-"
"Apa sih!" Pintu kamar mandi yang sedari tadi di gedor oleh Naruto itupun terbuka
"Heh?" perasaan Naruto yang tadinya cemas kini menjadi legah saat melihat Hinata berdiri di ambang pintu tersebut.
"Kau berisik sekali, bukannya sudah tidur, kenapa bangun?" Kata Hinata melewati Naruto yang masih berdiri mematung.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Naruto.
"Aku mengganti baju, apa kau tidak lihat" jawab Hinata.
Pikiran Naruto sangat kacau sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa Hinata telah memakai piyama.
Eh, tunggu dulu!
Mata biru Naruto membulat sempurna menatap penampilan Hinata.
"Hei, apa yang kau pakai?" Tanya Naruto ketika sadar dengan penglihatannya.
"Kau benar-benar tidak bisa lihat ya, tentu saja ini piyama tidur, bodoh!" Jawab Hinata.
Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengambil alih penuh kesadarannya yang entah akan pergi kemana.
"Ya ampun" batin Naruto sambil memegangi kepalanya.
Jelas saja, Hinata kini menggunakan sebuah piyama terusan dengan gambar kepala seekor beruang di bagian depan dadanya.
"Astaga beruang itu!" batin Naruto frustasi mencoba menstabilkan pikirannya.
Baju terusan tersebut sedikit membentuk di bagian depan dada Hinata, sehingga membuat kedua pipi gambar tersebut menjadi chubby. Ya Naruto tau itu.
Dengan refleks Naruto memegangi hidungnya dengan telapak tangannya, mencegah sesuatu terjadi. pikirannya sudah mulai kacau rupanya.
"Kau kenapa sih?" Tanya Hinata yang melihat kelakuan Naruto yang sangat aneh.
"Kau, piyama apa itu?" Tanya Naruto yang kini telah kembali kepikiran nomalnya meski hanya sekian persen.
"Ini? Piyama tidur, aku pikir ini lucu, makanya aku membelinya" Jawab Hinata polos.
"Bukan, bukan itu maksudku" Kata Naruto, wanita di depannya ini sama sekali tidak peka ya'
"Kau tidak salah beli kan?" Tanya Naruto lagi.
"Tentu saja tidak" Jawab Hinata mantap.
Kemarin Hinata dengan polosnya bertanya tentang seragam sekolahnya, sekarang Kalau Hinata adalah seorang gadis remaja yang masih SMA maka baju itu mungkin akan sangat pas untuknya, tapi Hinata kan bukan seorang remaja lagi, dan gambar beruang tesebut, akh, lagi-lagi Naruto tidak sengaja melihat beruang dengan pipi chubby tersebut.
"ah, sudahlah aku mau tidur" Kata Naruto dengan cepat, naik keatas ranjang kembali lalu metupi dirinya dengan selimut. Dia tau sampai mana batas kesadarannya, jika terlalu lama berhadapan dengan Hinata yang seperti itu, Naruto yakin sekali bahwa pikiran kesadarannya akan berkurang sampai 0.99%.
Set.
Naruto merasakan pergelangan tangannya ditarik.
"Hei ayo bangun!" Kata seseorang yang menarik tangannya tersebut, yaitu Hinata.
"Kamisama, apa lagi ini?" batin Naruto.
"Apa sih" Kata Naruto yang masih mencoba berlindung dari selimut tak ingin menatap Hinata.
"aku yang akan tidur disini" kata Hinata lagi menarik tangan Naruto dengan sekuat tenaga.
Ah, lagi-lagi Hinata mempermaslahkan soal itu.
"pikiranku tak akan berubah" Kata Naruto tak mau mengalah, sepertinya dia sekarang sedikit tertular sifat kekanak-kanakan Hinata.
"Aku tidak akan menyerah" Kata Hinata lagi menarik Naruto dengan kuat.
Tetapi sekuat apapun Hinata mencobanya, tentu saja kekuatanya dengan Naruto sangat berbanding jauh, alhasil hal tersebut membuatnya hilang keseimbangan dan,
Blug.
"Kyaaaa,,"
Naruto merasakan ada sesuatu yang terjatuh menindihnya, dengan perlahan dia menyigkap selimut yang tadinya menutupi wajahnya.
"Eh!" Naruto terkejut, ketika melihat Hinata sudah berada di atasnya.
"ittai" Kata Hinata, sepertinya di belum sadar dengan posisinya,
"Hei!" Kata Naruto mengembalikan kesadaran Hinata.
Wajah Hinata seketika memerah menyadari posisinya sekarang dengan Naruto, wajahnya sangat dekat sekali dengan pemuda tampan tersebut.
Dengan cepat Hinata menjauhkan wajahnya, tetapi karena posisi mereka yang berada di paling pinggir sisi ranjang tersebut dengan pergerakan Hinata yang tiba-tiba membuat tubuh Hinata akan terjatuh ke bawah lantai.
"WAA!" Teriak Hinata ketika merasa tubuhnya akan jatuh, kali ini dia menutup mata pasrah dengan rasa sakit yang akan diterima karena berbenturan dengan lantai kamar.
Loh? tubuhnya berhenti bergerak.
Perlahan-lahan Hinata membuka kedua bola matanya, dan menyadari posisinya sama sekali tak berubah.
"Kau berisik sekali, hime" Kata Naruto sambil tersenyum.
"Eh?!" Hinata menyadari bahwa kedua tangan kekar Naruto kini sudah memeluk melingkari pinggulnya. Menyadari hal tersebut wajahnya semakin tambah memerah.
"apa yang kau lakukan?!" kata Hinata, ah, karena posisinya dengan Naruto membuat jantungnya berdetak cepat, mungkin Naruto bisa merasakannya.
"Heh, aku menahan tubuhmu" Jawab Naruto masih dengan senyumnya.
"Lepaskan!" Kata Hinata sambil meronta.
"he,hei jangan bergerak, kau akan jatuh!" Kata Naruto dan semakin mengeratkan pelukanya.
Hinata berhenti bergerak, sepertinya perkataan Naruto ada benarnya juga, dia tida mau mengantam lantai, tapi posisinya saat ini sangat-sangat tidak nyaman juga untuknya.
"Sampai kapan aku akan berada di posisi seperti ini. Tidak ada kah yang bisa di lakukan?" batin Hinata.
"He,hei, sampai kapan kita akan begini, tidak bisa kah kau melakukan sesuatu?" Tanya Hinata, dia memalingkan wajahnya menyembunyikan rona merah di pipinya, padahal hal tersebut percuma karena posisinya yang sangat dekat dengannya membuat Naruto bisa melihatnya dengan sangat jelas sejak tadi.
"yah, kau juga cuku berat" Jawa Naruto.
"huh! Aku tidak ingin mendengkan itu" Kata Hinata lagi. wajahnya masih tetap mempertahankan warna merahnya.
Entahlah, sepertinya Naruto kali ini sedang di uji, kalau saja Hinata, istrinya ini tidak melupakan bahwa dia adalah suaminya, pasti Naruto sudah sejak tadi menyerang Hinata. Tapi sampai kapan Naruto akan bertahan? 1 detik 2 detik atau,,,
Dengan Hitungan sepersekian detik Naruto mengubah posisi mereka menjadi terbalik, Hinata Kini telah terbaring di bawahnya. Sebenarnya dia bisa melakukannya sedari tadi, tapi tentu saja dia tidak ingin melewatkan sedikitpun kesempatan-kesempatan yang diberikan untuknya bukan.
"Hinata" kata Naruto lirih.
Wajah merah Hinata kini sudah tak terbendung lagi, mungkin asap akan keluar dari kedua telinganya keran suhu tubuhnya yang semakin meningkat.
Jari-jemari Naruto dengan lembut menyingkap beberapa helaian rambut yang menutupi wajah Hinata. Kini dia bisa dengan jelas melihat wajah cantik istrinya tersebut, rona merah yang menghiasi kedua pipi chubby Hinata membuatnya tampak sangat terlihat manis dimata Naruto.
"A,a,apa yang kau lakukan?" Tanya Hinata.
Naruto sama sekali tak menjawab pertanyaan Hinata, mata birunya terus menatap masuk kedalam mata soft ungu milik perempuan di depannya ini.
"Na,,Naruto kun" Kata Hinata gugup.
Hinata, tidak tau kah kau bahwa suara dan ekspresimu saat ini malah membuat Naruto semakin tenggelam.
"Kau menggodaku, eh?" Kata Naruto dengan senyumannya, entahlah yang mana yang kini menguasai pikiran Naruto, hasrat atau logika?
Posisi mereka sama sekali tidak berubah, Hinata pun tidak bisa berbuat apa-apa, tenaganya terasa lenyap entah kemana.
Naruto semakin mendekatkan wajahnya pada Hinata, aroma tubuh Hinata menyapa indera penciumannya.
"Kamisama apa yang akan dia lakukan" batin Hinata gugup.
wajah Naruto semakin mendekat ke arah Hinata, dekat, dekat sangan dekat.
Hinata tidak bisa membayangkan apa yang akan di lakukan Naruto, dia menutup matanya rapat-rapat wajah suaminya tersebut sudah sangat dekat sekali. Jari-jemarinya menggemggam erat kedua pundak Naruto.
Loh?
Hingga beberapa detik Hinata tidak merasakan apapun.
Perlahan Hinata denga ragu Hinata membuka kedua bola mata nya. Wajah Naruto tidak sedekat tadi.
Dia melihat Naruto menyunggingkan senyum ke arahnya?
"wah, kau menunggu sesuatu terjadi heh?" Kata Naruto sambil tetap menyunggingkan senyumnya dan menatap Hinata. Walaupun wajah mereka tidak sedekat tadi, tetapi posisi mereka tidak berubah. Naruto masih mendekap Hinata dibawahnya.
"Heh?!" otak Hinata sudah tidak sanggup berpikir lagi.
"pfft,,hahaha,,,kau tau wajahmu sangat lucu sekali hime" kata Naruto sambil tertawa.
Entah mendapat energi darimana, Hinata mendorong tubuh Naruto untuk menjauh darinya. Naruto kini terduduk di samping Hinata.
Dengan sigap Hinata menarik selimut berwarna biru tua yang tadi di pakai Naruto untuk menutupi tubuhnya.
"Da,,dasar mesum!" Teriak Hinata.
"sepertinya yang berpikir macam-macam adalah kamu" kata Naruto masih mencoba menahan tawanya.
"Bo,bodoh,," balas Hinata.
"baiklah terserah kau saja, aku mau kedapur sebentar, menertawakanmu membuatku haus" kata Naruto baranjak berdiri dari posisinya.
"sana pergi, jangan kembali!" Kata Hinata melempar sebuah guling kea rah Naruto yang akan menuju pintu.
"Tentu saja aku akan kembali" Kata Naruto sambil menghindari lemparan bantal Hinata. Tidak lupa juga sebelum keluar kamar pemuda tersebut mengambil kunci yang tergantung di kenop pintu.
"Yah, untuk jaga-jaga" Kata Naruto tersenyum pada Hinata dan menghilang dari balik pintu.
"Ukh! Menyebalkan, ero jii san!" teriak Hinata.
~0~
Glekh,glekh,glekh,,,
Ini ada adalah gelas ketiga yang Naruto minum, sepertinya tiga gelas air putih belim cukup untuk mendinginkan kepalanya, air yang dia minum hanya sesaat melewati kerongkongannya, kemudian rasa hausnya datang lagi.
"sial!, untung aku bisa menahan diri" Kata Naruto ketika menghabiskan air putih di gelas ketiganya.
"Hah, rasanya aku ingin menyiram kepalaku" Kata Naruto berdiri didepan kulkas sambil kembali mengisi gelasnya dengan air untuk yang ke empat kalinya.
Naruto sepertinya tidak memikirkan resiko yang satu ini, ya resiko ketika sekamar dengan Hinata.
"Tapi, apa kata Hinata nanti kalau aku kembali dalam keadaan basah" Kata Naruto lagi pada diri sendiri. "ck! Ini semua adalah salah beruang itu, sialan!" Umpat Naruto.
"semoga, saat aku kembali dia sudah tidur, karena aku tak akan menjamin untuk yang kedua kalinya" Naruto menaruh gelasnya, kemudian dia kembali kekamaranya.
Perlahan Naruto membuka pintu kamarnya dengan Hinata, kemudian dia melangkahkan kakiknya masuk kedalam kamar tersebut. Dilihatnya Hinata telah berbaring di salah satu sisi ranjang.
"Rupanya sudah mengalah eh? Sepertinya dia sudah tidur, baguslah!" Batin Naruto.
Pemuda pirang tersebut naik ke atas ranjang di sisi yang berlawanan dengan Hinata dengan perlahan-lahan, takut jika gerakannya tersebut membangunkan gadis lavender yang nampaknya telah tertidur di sampingnya.
"Naruto kun"
Naruto terkejut, ternyata gadisnya belum tidur.
"Kau belum tidur?" Tanya Naruto, Kini dia sudah berada di dalam selimut, ya selimut yang sama dengan di pakai oleh Hinata.
"Aku ingin tanya" Kata Hinata, masih dengan posisinya membelakangi Naruto, sepertinya dia tak berniat mengubah posisi tersebut.
"Ada apa?" Tanya Naruto.
"Aku seperti apa?" Tanya Hinata singkat.
"Maksudmu?"
"Aku, apakah aku sangat berbeda?" Kata Hinata "dulu, dan sekarang, apakah aku benar-benar berbeda?"
Naruto menghela nafasnya, sejenak dia berpikir untuk menyusun kata-kata.
"Tidak, kau masih Hinata ku" Jawab Naruto.
"Tapi, kau selalu memperingatkanku ketika bertemu dengan orang-orang bukan?" Tanya Hinata lagi.
"Tidak ada yang berubah dari mu Hime, kau hanya menunjukkan sisi dirimu yang lainnya, kau tetaplah dirimu, sekarang maupun yang dulu" Jelas Naruto.
"Naruto kun"
"hm?"
"Aku merasa ada yang hilang dari diriku, aku ingin ingatakan ku kembali" Kata Hinata lagi.
"Tentu saja sayang, aku pasti akan mengembalikan ingatanmu secepatnya" Kata Naruto sambil tersenyum memandangi punggung Hinata yang membelakanginya.
Hinata hanya diam tak membalas perkataan Naruto.
"Sudah malam, tidurlah" Kata Naruto lagi. dia cukup senang mendengar Hinata punya kemauan yang besar untuk mengembalikan ingatannya.
Tak seperti biasanya, Hinata pasti akan melawan atau berbicara kasar pada Naruto, tapi kali ini pembeciraan mereka begitu tenang, seolah-olah perasaan mereka yang berbicara.
"satu lagi" Kata Hinata kemudian.
"Apa?"
"Jika kau berani macam-macam, maka aku tidak akan segan-segan menghajarmu" Kata Hinata lagi, setelah itu dia memejamkan matanya.
"Heh, soal itu aku tak bisa janji" Kata Naruto sambil tersenyum dan membalikkan badannya menghadap Hinata yang tidur membelakanginya.
~0~
Berkas-berkas cahaya matahari masuk melalui pori-pori sebuah korden yang tipis, membuat sebuah ruangan yang redup cahaya kini telah sedikit terang bermandikan cahaya matahari tersebut.
"Ukh" Gadis beambut hitam lurus tersebut menggeliat di bawah hangatnya selimut, dia merasa tidurnya sangat nyenyak sekali, berat rasanya untuk membuka kedua kelopak matanya.
"Nyamannya" pikir gadis tersebut, kehangatan ini membuatnya ingin menambah jam tidurnya.
Poninya yang rata sedikit tersingkap, sehingga dia bisa merasakan sebuah hembusan angin kecil di kulitnya.
Hembusan?
Perlahan gadis lavender tersebut membuka kedua kelopak matanya, mempelihatkan kedua bola amesthysnya, yang kini membulat lebar.
"Kyaaaaaaa!"
Suara nyaring menyapa gendang telinga Naruto, membuatnya terbangun dari alam mimpinya.
"Hei!" Kata Naruto sambil mengusap-usap telinganya yang di sapa oleh suara memekak tadi.
"Kau, kenapa memelukku?" Tanya Hinata Hororr.
"Eh?" Naruto memperhatikan posisi tidurnya yang kini masih memeluk Hinata.
"Be,,beraninya" Kata Hinata dengan wajah merah. Siap-siap akan memukul Naruto
"He,,hei tunggu dulu!" Kata Naruto sambil menangkis pukulan Hinata, dan dia mencoba bangun dari tidurnya.
"Aku akan menghajarmu" Kata Hinata lagi geram.
"He,,hei dengarkan dulu!" Kata Naruto mencoba menjelaskan.
"Tidakk!" Hinata sama sekali tidak memperdulikan Naruto dan terus saja mecoba memukulinya.
"He! Itu bukan salahku! Kau sendiri yang datang kepelukanku" Kata Naruto menjelaskan.
Yang dikatakan Naruto itu sepenuhnya tidak salah, semalam memang Hinata sendiri lah yang mendekati Naruto, udara malam yang sangat dingin membuat tubuhnya secara otomatis mencari kehangatan karena mereka sama-sama tidur di bawah satu selimut tanpa sadar posisi mereka telah menjadi seperti itu. Hinata yang dengan senang hati datang kepadanya, tentu saja Naruto sama sekali tidak keberatan.
"tentu saja aku juga tidak akan melewatkan kesempatan bukan?"Kata Naruto lagi, perkataannya tersebut malah membuat Hinata semakin geram, dan semakin ingin menghajar Naruto.
"bodoh! Itu tidak mungkin, dasar ero jii san!"
"Lagi pula kau hanya memeluk mu kan" Kata Naruto dengan wajah nyengir.
Hinata semakin geram sehingga membuatnya wajahnya memerah, nampaknya pagi ini otot-otot jantungnya benar-benar berolahraga.
We are fighting dreamer,,
Takami wa mezasite,,
We are fighting dreamer,,
Handphone Naruto berbunyi, hal tersebut membuat Hinata menghentikan aktifitas memukuli suaminya tersebut.
Naruto mengambil handphone touchscreennya yang tergeletak di atas meja
'Sasuke Teme is Calling'
Alis Naruto terangkat satu melihat sebuah nama yang tertera di poselnya.
"Buat apa Teme menelpon pagi-pagi begini?" Batin Naruto menatap layar poselnya.
"Moshi moshi" Kata menjawab panggilan tersebut.
[Dobe, jam delapan aku akan menjemputmu]
"Eh? Untuk apa?" tanya Naruto cengo mendengar perkataan Sasuke di seberang telepon.
[BAKAAA! Aku akan menghajarmu Dobe!]
"ada apa sih?" Tanya Naruto, dia benar-benar tak mengerti.
[Kita akan pergi ke Kyoto hari ini, kau lupa? Jika kau belum apa-apa sesampainya aku dirumah mu maka aku akan benar-benar meghajarmu Baka dobe!]
"Eh?! He,hei-"
Tut,tut,tut.
Nampaknya Sasuke telah memutuskan panggilan telponnya secara sepihak.
Naruto menepuk jidatnya, bisa-bisanya dia melupakan hal penting, Hari ini dia akan pergi ke Kyoto, karena proyek sebuah resort yang dia terima kemarin akan mulai beroprasi hari ini, jika dia tidak datang maka tidak mungkin mereka akan memulainya bukan? Dengan apa para tukang tersebut bekerja tanpa sang arsitek, ya ampun.
"Hei, masalahmu belum selesai!" Kata Hinata masih dengan tampang geram.
"Hime, hari ini aku akan pergi Kyoto" Kata Naruto dengan wajah memelas.
"Eh? Benarkah terus kenapa?" Kata Hinata acuh.
"Tapi itu berarti aku akan meninggalkanmu hingga dua sampai tiga hari, bisa-bisanya aku lupa" Kata Naruto sambil mengacak-acak rambutnya yang memang telah berantakan sehabis bangun tidur.
"Eh?Kau akan menginap?"
Sepertinya Hinata sejenak lupa dengan kemarahannya pada Naruto.
To be continue :D
Halo ^^ #watados
Saya selalu menambahkan 'smile' di tulisan to be continue supaya readers g ngamuk karena ceritanya tiba-tiba saya potong,,wkwkwk :v #abaikan
Baiklah, chapter ini sebenarnya yang mesum itu Naruto apa Authornya ya?#plakk XD
Maaf kan atas keterlambatan saya, karena akhir-akhir ini sangat sibuk, dan pikirannya juga lagi error (alasab klasik) yah kalau bisa di singkat saya lagi kena penyakit M.A.L.A.S #plakkditimpuk sandal.
Oh iya, untuk sesorang yang nemuin cincin Hinata belum saya munculkan di chap ini, mungkin chap depan :D silahkan menebak lagi :p
Yah, cukup sekian saja ocehan saya, karena tangan sudah mulai keriting XD semoga kalian suka chap ini,,oh iya, dan maaf juga kalau masih banyak typo apalagi di chap ini, karena saya memang g baca ulang soalnya ga kuat XD wkwkw #nosebleed
Yang log ini intip PM XD
Thanks to :
Yui Kazu unyu2 : #merinding nulis nih nama ,,,
Sebelum baca chap ini minum obat penenang dulu yah XD wkwkw #kaburrr XD
Nh : tunggu aja,, XD
Fii san : hahahaaa,,, aduh jangan sampe 1 ribu dong xD
Guest : tenang aja konflik ama romance nya kayaknya banyak romancenya hahaha :D
Durara : hayoo…aku kasih kesempatan buat nebak lagi sebelum chap depan dia muncul wkwkwk :v
TanteiFath : yuhuuuu! Makasih,, aku juga suka Hinata OOC :3
LotuS-Mein319, utsukushi hana-chan, Gorm Speir, , Blue-senpai, 7th ChocoLava, Amu B, betmenpengangguran, rantachibanasoraaoiyl, Bunshin Anugrah ET, bala-san dewa hikikomori, vinara 28, Khula chiiNH lover's, Chimunk-NHL,
*makasih juga buat silent readers, jika ada :D
*buat yang sudah nge fav or nge follow :D/
…
Seperti biasa silahkan RIVIEW ^^
msconan
