"Apa yang akan Nii san lakukan?"

"Mungkin menghajar bocah sialan tersebut tidak akan cukup" Jawab Neji dan terus berjalan.

"Nii san tunggu dulu,," Nampaknya Hinata hanya buang energi, karena Neji sama sekali tak mengubrisnya.

"Satu lagi" Kata Neji tiba-tiba mengehtikan langkahnya, "kurasa ayah juga harus tau" Kata Neji memandang Hinata denga tajam.

"HEH?!"

~0~

Naruto ©Masashi Kisimoto

Amnesia ©msconan

Rate : T+

Warning : AU,OOC, Typo berserakan dimana2, EYD tidak jelas dll

Don't like, press the back button!

Happy reading ^^/

Present:

Amnesia chap 12

~0~

"ayah?" Hinata seketika mematung mendengar bahwa ayahnya akan tahu, dia sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika ayahnya tau masalah ini, dia sangat tau seperti apa watak ayahnya tersebut.

Neji tak mau buang-buang waktu, kemarahannya belum juga redah, mungkin rasa amarahnya itu akan hilang dengan satu atau dua kali pukulan kewajah Naruto mungkin bisa lebih, pikirnya. Dengan segera dia kembali melangkahkan kaki nya menuju mobilnya tanpa memperdulikan Hinata.

"Nii san! Kumohon jangan!" teriak Hinata pada Neji. Hinata tau betul bahwa sekuat apapun dia menahan Neji itu tidak akan membuahkan hasil.

Neji terkejut mendengar suara Hinata, ia menghentikan langkah kakinya. Seumur hidupnya belum pernah ia melihat adik kesayangannya ini berteriak di hadapannya seperti itu, jangankan berteriak berbicara dengan nada tinggi saja tidak pernah.

"Jika Nii san pergi, maka aku akan membenci Nii san seumur Hidupku!" Kata Hinata dengan lantang, dia tidak punya pilihan lain ini adalah cara terakhirnya untuk mencegah Neji.

Untuk kedua kalinya Neji terkejut mendengar pernyataan yang keluar dari mulut sang adik, Hinata benar-benar lupa ingatan rupanya.

Sejenak Neji terdiam dan berpikir, di benci oleh Hinata? Oh, tidak! Tidak ada hal yang lebih buruk dibanding hal tersebut. Begitulah pikiran Neji. Sungguh sister complex.

"Aku tidak main-main Nii san" Lanjut Hinata lagi, melihat ekspresi Neji yang nampak berbeda sepertinya caranya kali ini akan berhasil.

"haa~ah, kenapa kau begitu membelanya Hinata, dia telah membuatmu seperti ini?" Kata Neji, kini amarahnya sudah tidak memuncak seperti tadi.

Hinata menundukkan wajahnya, sebenarnya dia juga tak mengerti jalan pikirannya sendiri.

"Aku,,aku tidak tau Nii san, hanya saja aku percaya padanya" Kata nya kini dia menatap wajah Neji sambil tersenyum.

~0~

"Hei! Apa yang dilakukan nona cantik seperti mu ditempat ini?" Naruto melangkahkan kakinya mendekat kearah perempuan bersurai kuning pucat tersebut.

"Menurut mu?" Kata perempuan itu bertanya balik.

"Entah lah, mungkin saja kau sedang menunggu pangeran berkuda putih" Kata Naruto sambil mengeluarkan cengiran jahilnya.

"Iya, tapi aku malah bertemu dengan dua orang kurcaci" Kata Shion dengan sambil melirik ke arah Naruto dan Sasuke.

"Hei!" Protes Naruto.

"Sudah lama tak melihatmu shion" Kata Sasuke membuka pembicaraan baru.

"Begitulah, memang baru seminggu yang lalu aku kembali ke Jepang" Jawab Shion.

"Kau banyak berubah rupanya" Kata Sasuke lagi.

"Apa-apan ini, kau memakai wig" Kata Naruto sambil membelai rambut panjang Shion.

"Enak saja! Kau tidak tau berapa lama aku membutuhkan waktu untuk memanjangkan rambut ini" Kata Shion.

"Sasuke! dia pasti melakukan ini untuk menarik perhatian pria, haha" Ejek Naruto.

"Hei, hentikan Naruto!" Kata Shion sambil menepis tangan Naruto dari rambutnya.

"hehe,,jadi sedang apa kau disini?" Tanya Naruto lagi.

"Aku menunggu dua arsitek yang akan membangunkan resort disini, ayahku menyuruhku untuk menemui mereka" Jawab Shion.

"Kurasa kau sudah menemuinya" Kata Sasuke.

Manik purple shion membulat sempurna, begitu mencerna perkataan dari kedua sahabatnya Saat SMP tersebut.

"Jadi kalian?" Tanya shion sambil tersenyum lebar.

"Yah,, kami pangeran yang kau tunggu itu" Jawab Naruto sambil berkacak pinggang dengan bangganya.

"Kurasa aku tidak perlu meragukan kemampuan kalian bukan?" Kata Shion.

"Tentu saja" Jawab Sasuke.

"Kita tidak punya banyak waktu, ayo kita selesaikan Sasuke" Kata Naruto menyela.

"Shion, aku dan Naruto ingin menjelaskan beberapa rencana untuk Resort ini! Kau tau pria pirang ini sudah tidak sabar ingin pulang" Kata Sasuke.

"Heee,,,,pasti kau ingin berkencan dengan kekasih mu kan" Kata Shion dengan nada mengejek.

"Bukan, tapi dia takut istri tercintanya kabur" Ejek Sasuke.

"Temee!"

"HEH!" Istri? Kau sudah menikah?" Tanya Shion tidak percaya.

"Ya,,kami berdua sudah menikah, kapan kau menyusul nona hihihi" Jawab Naruto.

"Rupanya aku banyak tertinggal berita, aku ingin dengar cerita kalian" Kata Shion.

"Ayo kita pergi!" Ajak Naruto.

~0~

"Aku tidak mengerti jalan pikiran mu Hinata" Kata Neji, amarahnya sudah teredam, tapi bukan berarti tidak akan muncul lagi.

"Tolong percaya lah pada ku dan Naruto kun Nii san" Kata Hinata lagi.

Keduanya tidak lagi berada di luar rumah, Hinata berhasil membujuk Neji agar tidak pergi dan kembali masuk kedalam rumah.

"Kau, padahal ingat Naruto saja tidak? Kenapa kau begitu percaya padanya?"

"Entahlah" Jawab Hinata dengan senyum nya.

"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang Hinata? Apa hanya berdiam diri?" Tanya Neji.

"Ano,,sebenarnya aku agak merasa aneh, apa yang harus aku lakukan ya nii san?" Tanya Hinata kembali.

"Hei, kenapa kau bertanya pada ku?"

"Kalau bisa aku ingin pergi sekolah" Jawab Hinata dengan wajah polosnya.

Wajah datar Neji seketika menjadi cengo mendengar pernyataan dari sang adik.

"tidak Mungkin" jawab Neji cepat.

"Kenapa?"

"Tentu saja itu tidak mungkin"

"Tapi nii san,"

"Tidak!" Sela Neji, kalau di pikir-pikir Neji sekarang seperti berbicara dengan Hanabi Saja, tidak! Bukan. Bahkan Hanabi pun tidak akan bersikap seperti ini.

Pipi tembem Hinata menggembung mendengar penolakan dari sang kakak, tentu saja dia akan bosan jika terus berada dirumah bukan?

"Jangan berwajah seperti itu" Kata Neji sambil berdiri dari tempat duduknya.

"eh,,Nii san mau pergi kemana?"

"Aku ada urusan sebentar" Jawab Neji.

"Tidak boleh, pasti Nii san akan menemui Naruto kun kan" Tebak Hinata.

"maunya sih" jawab Neji enteng.

"Aku akan benar-benar membenci Nii san!" Ancam Hinata lagi.

"Yayayayaaa,,,, aku tidak akan melakukannya"

"Janji?"

"hm"

"Baiklah" Kata Hinata dengan senyum mengembang diwajahnya.

"Hinata yang lupa ingatan sungguh merepotkan ternyata" inner Neji

"Baiklah aku pergi dulu" Kata Neji kemudian meniggalkan Hinata.

~0~

Krauk,krauk,krauk,,

Wanita yang masih merasa dirinya remaja SMA ini sedang asik duduk di sofa sambil menonton sebuah acara tivi yang tidak jelas, ya karena sejak tadi Hinata sama sekali tidak fokus pada tivi tersebut. Mulut mungil Hinata terus mengunyah keripik kentang yang memenuhi ruangan di mulutnya tersebut, pikirannya menerawang.

"akh! Kenapa Naruto kun sama sekali tidak menelpon balik ya?"

Hinata mengambil ponselnya yang tergeletak di depannya, melihat layar ponsel touch screenya tersebut, tapi tidak ada apa-apa disana, jangankan panggilan tak terjawab sms atau e-mail pun tidak ada.

"apa sih yang dilakukan paman mesum itu?" omel Hinata melihat tidak ada tanda-tanda bahwa lelaki yang mengaku sebagai suaminya tersebut menghubunginya.

Jari jemari Hinata menyentuh sekali lagi nama yang tertera di daftar kontak nama di ponselnya.

Tuuut,tuut,,tutt,,,"nomor yang ada tuju,,"

"ukh! Menyebalkan! Kenapa saat genting seperti ini dia tidak bisa dihubungi sih?"

.

.

"Hei dobe! Apa kau sudah memberi kabar pada istrimu?"

"Heh?" Naruto merogoh saku celananya mencari ponselnya "akh ponselku tertinggal di mobilmu teme!"

"ya sudah nanti saja, lagi pula sebentar lagi kita selesai" kata sasuke pada Naruto.

"aku rasa juga dia tidak mungkin marah karena tidak menerima kabar ku" Kata Naruto lagi.

Huhft, kau salah Naruto, sekarang Hinata sedang uring-uringan karena kau sama sekali tak mengangkat teleponnya, semoga saja Naruto tidak tersedak ketika minum nanti.

"Hei, maaf menunggu" Shion datang dan membuat kedua pria tampan tersebut mengingat kembali ke tujuan mereka datang kesini.

"maaf ya memotong perbincangan kita tadi, hehehe" kata Shion kemudian kembali duduk di kursinya semula.

"tak masalah, oh iya jadi bagaimana? Kau setuju dengan konsep kami" Kata Sasuke memulai lagi pembicaraan mereka.

"aku suka, kau tau aku tak perlu meragukan kalian bukan? Kebetulan sekali ya kalian berdua yang mengerjakan proyek resort keluarga ku"

"hm kami juga" Kata Sasuke.

"Sekarang aku ingin dengar cerita kalian, kenapa sama sekali tidak member kabar kalau kalian menikah? jahat sekali"

"Siapa yang jahat disini, kau yang mencampakkan kami berdua, iya kan teme" Kata Naruto tak mau kalah.

"hehe,, maaf aku sama sekali tidak member kabar kalian, habisnya kepergian ku mendadak sih., nomor kalian juga hilang" jelas Shion.

"ya setidaknya kau masih ingat wajah kami" Kata Naruto lagi

"kan aku sudah minta maaf Naruto no baka, jadi seperti apa wanita pilihan kalian,sudah berapa lama kalian menikah, jangan-jangan aku sudah punya keponakan hihi,, wah aku penasaran" kata shion lagi.

"hei nona, kau sudah seperti wartawan saja" kata Naruto pada Shion mendengar rentetan pertanyaan yang diberikan Shion.

"Aku sudah punya calon keponakan untuk mu Shion, entah kalau Naruto" Kata Sasuke sambil tersenyum melirik Naruto.

Wajah Naruto menjadi kusut seketika "ck! Kau sedang menyindir ku ya teme! Menyentuh istriku saja aku belum pernah" batin Naruto kesal, lelaki pirang tersebut membalas tatapan Sasuke dengan deathglare.

"haha,, kalau Naruto tidak usah ditanya dia kan mesum" kata Shion sambil tertawa.

"Diam kau" balas Naruto kesal "hei bisa kah kita hentikan perbincangan ini" kata Naruto lagi.

"Kenapa? Aku kan penasaran dengan cerita kalian" Kata Shion lagi.

"heh, bagaimana dengan mu nona, aku penasaran lelaki hebat seperti apa yang bisa menerima mu,,hahaha"

"Naruto no Baka, Sasuke kun bantu aku!"

Ketiga insan tersebut asik membicarakan kisah-kisah yang tak mereka lewati bersama, tak menghiraukan sekeliling mereka, yang mereka tau saat ini mereka bernostalgia seolah-olah café tempat mereka berbincang tersebut adalah kantin sekolah.

~0~

Mata soft ungu Hinata memandang dengan lurus dan serius, sesekali alisnya berkerut tampak seperti memikirkan sesuatu. Bola mata nya yang besar itu melirik ke kiri, ke kanan ke atas juga kebawah, sebenarnya apa yang dia lakukan ya?

"apa Neji nii makan malam diluar ya?" tanya Hinata pada dirinya sendiri.

Wanita yang di cintai Naruto tersebut menutup pintu kulkas tersebut dengan ragu.

"Lebih baik masak atau tidak?" Kata nya lagi. kemudian tangannya memegang gagang pintu kulkas tersebut dan membukanya kembali.

"Bagaimana jika Nii san makan diluar? Akh, aku bingung"

Sepertinya otak Hinata benar-benar terinstal ulang, mungkin otak Hinata bukan kembali pada ingatan SMA melainkan pada saat zaman purba, bukan kah lebih gampang jika menghubungi Neji dengan ponselnya sehingga dia tidak perlu menyiksa pintu kulkas dengan berulang kali membuka dan menutupnya.

"Akh! Bagaimana jika aku telpon saja nii san" kata Hinata sambil merogoh ponsel yang ada di kantongnya celanyanya. #authorsweetdrop

Tuuut,,tuuut,,,

Setelah beberapa kali nada tunggu telpon tersebut akhirnya sesorang diseberang sana menjawab telpon Hinata.

"moshi-moshi, ada apa Hinata chan" jawab Neji.

"Ne, Nii san apakah Nii san makan malam dirumah?"

"aa, sepertinya aku akan sedikit terlambat, kau tak usah menunggu ku" Kata Neji.

"Hm, begitu ya, ya sudah"

"iya"

Tut. Dan sambungan komunikasi keduanya pun terputus.

"Bosaaaaaaaaaaaaannnn!" teriak Hinata setelah menutup sambungan telepon tersebut.

"coba saja ada Hanabi chan disini" Kata Hinata lagi.

Hinata melangkahkan kaki mungilnya mengitari rumah yang sederhana tersebut, entah mengapa walaupun dia sama sekali tak mengingat apa pun tapi baginya rumah ini tidak asing baginya, rasanya hangat.

Kaki nya berhenti melangkah ketika kedua matanya menangkap sesuatu yang mengusik pkirannya. Kedua bola matanya terus memandang benda tersebut, sebuah foto. Kedua objek difoto tersbut sangat serasi mereka solah diciptakan bersama, seorang wanita memakai gaun pengantin berwarna putih di damping oleh seorang pria tampan dengan pakaian yang senada dengan wanita tersebut, yang membuat Hinata terpaku adalah ekspresi kedua insan tersebut, mereka terlihat sangat bahagia.

"apa kah itu aku?" kata Hinata melihat sosok wanita di dalam foto tersebut.

Manic matanya bergerak pada sosok pria yang bersanding dengannya. Naruto begitu tampan di foto tersebut.

"Naruto kun, aku percaya padamu" Kata Hinata sambil tersenyum memandangi foto pernikahan mereka.

"tunggu dulu! Suami macam apa dia, meninggalkan istrinya tidak memberi kabar sama sekali, huh! Week,,Naruto kun no baka!" Kata Hinata sambil menjulurkan lidahnya pada sosok Naruto di foto tersebut.

Hinata membalikkan badanya tapi wajahnya tidak lagi kesal, melainkan bibirnya mengembang tersenyum.

"HINATA CHAN!"

"kyaaaaaaa~,," Hinata tersentak karena tiba-tiba saja seseorang muncul dari luar memanggil namanya. "si,,siapa kau?!" tanya nya pada pria tersebut.

"Hah? apa kepalamu terbentur lagi Hinata chan? Ini aku Neji" Kata Neji menjelaskan.

"Bukan, aku baru saja menelpon Neji nii dia bilang akan puang terlambat, bukannya ada disini" Kata Hinata polos.

Neji jawdroop, pria Hyuuga sulung tersebut menepuk jidatnya.

"aku tidak jadi pulang telat, ada hal yang gawat makanya aku segera pulang" Kata Neji pada Hinata, sepertinya dia tampak sangat terburu-buru.

"Oh, ada apa?" Tanya Hinata.

"Gawat, lusa ayah akan datang kesini!" Kata Neji langsung pada intinya.

"APA!" seketika wajah santai Hinata berubah menjadi panik.

"Iya, aku baru saja mendengar dari ayah" Kata Neji lagi.

"Apa Neji nii sudah menceritakannya semuanya paa ayah?!" Tanya Hinata dengan wajah yang semakin gelisah.

"Tentu saja tidak, aku belum mengatakan apa-apa" Jawab Neji

"Ba,bagaimana ini NIi san" Kata Hinata cemas.

"Sepertinya kau harus menghubungi Naruto" kata Neji.

"ukh, orang itu sama sekali tak menjawab telponku" wajah Hinata kini bertambah gusar.

~0~

"Hwaaaaa,,,,Teme!" Suara cempreng Naruto menggelegar di gendang telinga Uchiha bungsu tersebut.

"Kenapa sih?!" Kata Sasuke sinis sambil meniup-niupkan angin ke lubang telinganya.

"Lihat ini, lima puluh panggilan tak terjawab dari hinata chan!" Kara Naruto dengan wajah horror menatap layar ponselnya.

"Heh? Benarkah?" Tanya Sasuke tak percaya.

"Benar, lihat saja sendiri!" Kata Naruto memperlihatkan panggilan tak terjawab di ponselnya.

"Benar, jangan-jangan ingatannya sudah kembali" Kata Sasuke innocent.

"Hah! apa yag terjadi ya? Aku harus menelponya" kata Naruto sambil menyentuh layar touchscreennya.

Tut,,tut,,tut #naik kereta api tut,tut,tut plakk author gila XD#abaikan

Terdengar nada tunggu dari dari seberang sana, jantung Naruto semakin cepat berdetak, tentu ia cemas sekali kalau terjadi sesuatu pada Hinata. Deg,,deg,,deg,, "Kenapa tidak di angkat?" pikir Naruto."eh,,,?"

"NARUTO KUUUN NO BAKAAAAAA!"

Seketika tangan Naruto dengan refleks menjauhkan ponsel yang yang menempel di telinganya karena suara dari sebarang telepon, jangankan Naruto Sasuke saja bisa mendengar suara tersebut.

"Hi,,Hinata chan?" Kata Naruto dengan gugup.

"Kenapa telepon ku tidak kau angkat hah?"

"ma, maaf,,ada apa?apa kau begitu merindukan ku" Kata Naruto sambil nyengir.

"BAKAAAA!"

Sekali lagi Naruto menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya, menyelamatkan gendang telinganya dari suara melengking Hinata yang berteriak.

"Hehe,,maaf tadi hape ku ketinggalan di mobil Sasuke teme" Kata Naruto mencoba menjelaskan.

"Semuanya kacau" Kata Hinata singkat.

"Kenapa?"

"Neji nii sudah tau semuanya, dan yang paling buruknya lagi otou san akan datang lusa" Jelas Hinata.

"APA!" tanpa sadar Naruto berteriak membuat hingga Sasuke terkejut "lalu apa yang dikatakan Neji nii?"

"dia bilang akan menghajarmu jika kau pulang"Kata Hinata enteng.

"APA!" lagi-lagi Naruto berteriak

"anak ini kenapa sih?" batin Sasuke sambil mengelus dadanya karena terkejut.

"Bagaimana ini?" Tanya Naruto bingung.

"Aku juga tidak tau" balas Hinata.

"Tunggu dulu, kau sudah menemukan cincinmu?" tanya Naruto.

"belum" jawab Hinata.

"ya ampun!" Kata Naruto sambil menpuk jidatnya.

Sebenarnya Sasuke sedikit heran melihat gelagat aneh sahabat pirang tersebut, tapi dia tak begitu ambil pusing karena menurutnya Naruto memang adalah makhluk yang unik. XD

"Begini saja, aku akan usahakan pulang sebelum ayah datang, tapi kau harus menemukan cincin pernikahan mu dulu, selebihnya biar aku yang urus" Kata Naruto menjelaskan.

"hmm,,,baiklah akan aku usahakan" jawab Hinata ragu.

"sudah, kau tak usah cemas Hime" Kata Naruto menenangkan Hinata.

"Iya, baiklah aku akan ikuti perkataan mu" Kata Hinata lagi.

"hehe,,gadis manis"

"huh" Hinata tak bisa membalas perkataan Naruto kali ini.

"Apa kau tak merindukan ku, hmm?" Kata Naruto mencoba mencairkan suasana.

"tidak tuh" jawab Hinata ketus.

"Benarkah?" goda Naruto.

"Kenapa aku harus merindukanmu" Kata Hinata.

"karena aku merindukan mu" Jawab Naruto dengan nada menggoda dan sambil tersenyum simpul.

Tanpa di ketahui Naruto wajah Hinata merona mendengarkan perkataan Naruto, pria tersebut memang pandai mengambil hati wanita ini.

"su,,sudah! Lebih baik cepat kau selesaikan pekerjaan mu" Kata Hinata gugup.

"iya sayang~" Jawab Naruto manja.

"Hentikan! Jangan menggodaku, ero jii san!" Kali ini Hinata harus menyembunyikan rasa gugupnya.

"Aku tak menggoda mu" Kata Naruto.

"Sudahlah, aku tutup teleponnya!" Kata Hinata dengan buru-buru. Karena jika tidak begitu maka Naruto pasti akan tau kalau Hinata sangat gugup sekarang.

"Iyaa,,,I love you" Kata Naruto sebelum telepon tersebut akhirnya terputus.

Tentu saja kali ini sekarang ini Hinata sedang menepuk-nepuk kedua pipi chubby nya yang terasa memanas. Tampaknya tuan Namikaze tersebut cukup berhasil menggoda istrinya.

Naruto memasukkan ponselnya tersebut ke saku celananya. Wajah tampan Naruto terlihat sangat bahagia, sepertinya sudah lama dia tidak melakukan hal seperti ini, mengingatkannya saat masih pacaran dulu.

"kau kenapa teme?" Kata Naruto ketika melihat wajah Sasuke tampak pucat di sampingnya.

"Aku ingin muntah" jawab sasuke singkat.

"Hah?"

~0~

Rambut panjang dan lurus Hinata seakan menari ditiup oleh angin. Poninya yang rata menutupi keningnya tersebut kini menutupi hampir sebagian wajah gadis cantik ini karena posisi Hinata yang sekarang ini sedang menunduk.

"Kira-kira dimana cincin itu jatuh ya?" Kata Hinata berguman pada dirinya sendiri.

Hinata terus berjalan dengan posisi seperti itu, matanya memandang dengan teliti daerah yang ia tapaki.

"Kurasa aku hanya melewati jalur ini kemarin" Kata Hinata lagi.

Gadis mungil ini berhenti sejenak, dan berfikir sejenak.

"mungkin aku harus bertanya pada pak pemilik café maid" Kata Hinata lagi.

Setelah memikirkan hal tersebut, Hinata segera melanjutkan pencariannya sambil menuju café maid tempat dimana dia pernah kerja sambilan..

.

.

"maaf Hinata chan, saya rasa kami tidak menemukan benda tersebut" Kata pak pemilik café pada Hinata.

"hmm,,arigatou jii san" Kata Hinata sambil membungkuk kemudian meninggalkan ruangan pemilik café maid tersebut.

"ukh, dimana aku harus menemukannya" Kata Hinata gusar.

Hinata terus berjalan, tekadnya masih juga belum menyerah, kedua bola mata Hinata terus menyapu setiap sudut jalanan yang ia jalani, bahkan di tempat yang tidak mungkin sekalipun. Hingga kakinya berhenti disuatu tempat.

"Loh? Ternyata ada sebuah sekolah disini?" Kata Hinata ketika melihat sebuah bangunan sekolah di depannya. Beberapa anak terlihat memakai seragam sekolah menarik perhatian Hinata

"Wah, seragam musim semi cantik sekali" mata Hinata berbinar memandang siswa-siswi yang memakai seragam disana.

Kaki Hinata dengan sendirinya melangkah masuk kedalam kawasan sekolah tersebut, mungkin naluri remajanya semakin kuat sekarang, dia ingin sekali pergi sekolah.

"Aku juga ingin memakainya" Kata Hinata sambil memperhatikan beberapa siswi yang memakai seragam musim semi tersebut dari balik semak-semak. Memang jika di perhatikan Hinata akan tampak sangat mencurigkan. Tapi gadis tersbut tidak perduli karena dia asik melihat para siswi-siswi tersebut.

"Hei apa yang kau lakukan disini?"

gadis dengan bola mata bak permata tersebut kembali dari alam mimpinya, ada suara yang mengsiknya, siapa? Apa kah ada orang yang berbicara padanya? Pikir Hinata.

"Hei!" Kata Suara itu lagi.

Kali ini pendengaran Hinata yakin sekali jika suara tersebut memang ditujukan kepadanya. Hinata kemudian membalikkan badannya kearah sumber suara tersebut.

"Ma,,maaf,,,Heh?"

Raut wajah Hinata berubah seketika melihat siapa sosok yang sedang berdiri di hadapannya.

"kamu?" Kata sosok pria yang beberapa kali memanggil Hinata, wajahnya pun sama terkejutnya dengan Hinata.

"SA,,SASORI KUN?" Kata Hinata dengan terbata-bata.

.

.

To be Continue :D

.

.

Yeyeyeyy~~ akhirnyaaa,,,, #tebar beras kuning XD

Akhirnya aku bisa mengupdate chap ini juga :3

E,,eto,,se,,sebenarnya aku ragu masih adakah reader yang mengingat fic ini ToT #pundung

Maafkan ketidakbertanggungjawaban author abal ini karena telah meninggalkan fic ini hingga menjadi fosil # ~T_T~

Tapi berita baiknya fosil itu kan bakalan dicari-cari #plakk XD #abaikan.

Jujur saja aku sempat lupa bagaimana caranya membuat fic #nah loh? XD

Sebenarnya aku sempat bener2 down, tapi mengingat para readers yang aku cintai, makanya aku melanjutkan fic ini dengan segenap jiwa XD #nyahahahah

Karena jeda waktu chap ini dengan sebelumnya sangat mengerikan jauhnya XD jadi harap maklum jika kalian mungkin merasa gaya penulisan ku berbeda, maklum saya menulis fic ini kan berdasarka susanan hati wkwk :v #digebukin massal

Yah, di persingkat saja,,, kali ini aku memunculkan dua karacter pembantu sekaligus dalam satu chapter,,tujuannya satu, supaya fic ini cepat tamat :v karena aku liat para readers yang tampaknya sudah tidak sabar,,tapi aku sangat senang sekali jika kalian menikmati cerita yang aku buat ini :D

Sekali lagi aku ingatkan, fic ini di buat semata-mata untuk bersenang-senang, jadi jika ada yang mengharapkan sebuah konflik yang serius aku rasa tidak bakalan ada :v sebenarnya ini adalah bentuk ke egoisan author semata :v Cuma mau mempertunjukan kemesraan Hinata dan Naruto #plakkk # kyahahahaha XD~

Baiklah, sebelum readers menjadi ngamuk dan brutal mendengar ocehan ku sebaiknya aku kabur :D

Aku tau kalian sangat kangen sama aku :v so mari yang kangen banget silahkan review,,ntar aku bkalan kasih pelukan buat kalian #plakk XD

Thanks to :

ahmadbima27, Blue-Temple Of The King, Amu B, KandaNHL-desu, , shiro19uzumaki, fitri anna, Ahaya Uzunami, Dragon Hiperaktif, Yui Kazu, june25, Hayati JeWon, betmenpengangguran, Chimunk-NHL, Arashi MN, Khula-chin, JF Kennedy, shin jun, sahwachan, 7th ChocoLava, ranggagian67, LordRyan, Nyuga totong, UNGUlavender, sinuza, TigaSetangkai, Soputan, Guest, Yuuna Emiko, Mio Himeka, Bunshin Anugrah ET, kidsall982, mangetsuNaru, dylanNHL, hikaru, natasia sato, , Khula-chin, yy, fifin, uzumaki gigio, hyuga, Misti Chan, Rivaldi, dinarock35, Rivaldi, Bara-chan, YuniMoet01.

Maaf jika aku tak bisa membalas satu2 riview kalian :* tapi aku benar sangat-sangat berterima kasih buat kalian yang mau baca fic ini T^T #terharu.

Chap ini review lagi yaaaa X*

*makasih juga buat silent readers, jika ada :D

*buat yang sudah nge fav or nge follow :D/

msconan