A Naruto Fanfiction
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Humor/Romance nyempil
Rate : K-T
Warning : OOC, AU, typo(s), bahasa mungkin gak baku, humor (semoga enggak) garing, pairing mungkin berganti setiap cerita, gahoel detected, dll..
.
.
.
My first drabble, maybe
Eeeeennjooyy! xD
.
.
:: Parody of Gombal © bie ::
.
.
.
Ruang diskusi Perpustakaan Universitas Konoha, 10:49 AM
Seorang pemuda berambut cerah sedang mematut muka dihadapan bungkusan kantong lusuh berwarna gelap, sesekali ia menyentuh bungkusan gelap tersebut dan kemudian terdengar geraman kecil. Si pemuda berambut gelap yang duduk disampingnya mengalihkan pandangannya dari lembaran-lembaran kertas berisi tulisan-tulisan bercampur angka dan huruf, yang dirangkai membentuk suatu formula khas jalur ilmu fisika. Meletakkan pensilnya dan duduk santai merenggangkan tangannya diatas kepala.
"Naruto, aku tahu kau sedang galau. Tapi jangan menggangguku sekarang."
Si pemuda kemudian mengambil sebotol air minum yang berada tepat disebelah kiri tumpukan kertasnya dan meneguknya beberapa kali. Terlihat dari sudut matanya si pemuda berambut cerah masih memasang raut muka kusut.
"Hinata itu gadis baik. Ia tak akan mungkin marah hanya karena hal seperti itu."
Naruto menganga, raut wajahnya lebih mirip nasi hangat yang dicampur telur mentah. Telur busuk mentah.
"Kau bahkan tak melihat wajahnya seperti apa saat itu, Sasuke."
Sasuke mengangkat alis sarkastis. Ia tak peduli wujud Hinata seperti apa, yang ia pedulikan sekarang adalah bagaimana mengerjakan tugas bertumpuk dari dosen killernya. Sehingga ia bisa mendapatkan waktu free lebih lama, jika si kuning bodoh ini tidak mengganggunya dengan curahan hatinya yang terkesan seolah dibesar-besarkan. Sasuke merasa beruntung karena tak perlu merasa direpotkan oleh makhluk bergender wanita. Apalagi yang suka bertingkah sok jagoan.
"Nee, Sasuke. Menurutmu Hinata akan memaafkanku tidak ya?"
"Tanya saja sendiri."
"Itu tidak mungkin, pantat ayam. Hinata sangat mar— Aduh duh." Naruto refleks mengelus kepalanya yang ditimpa kamus fisika setebal lima senti milik Sasuke.
"—Nah, kira-kira seperti itu reaksinya, bedanya wajahku penuh cakaran. Ya ampun, padahal kukunya sangat pendek, tapi rasanya aku seperti dicakar oleh kucing Nee-san. Lihat, wajahku tak semulus dulu lagi."
Naruto menunjuk bekas luka yang beberapa masih berwarna kemerahan. Ia tahu, Neji kakak Hinata itu atlet taekwondo, tapi apa iya gerakan olahraga bela diri yang mengutamakan perlawanan dengan tendangan kaki berhubungan dengan cakaran khas yang membentuk goresan tebal abstrak kemerahan seperti ini?
"Maksudku, Hinata ada diujung lorong itu."
Sasuke tidak memperdulikan celotehan Naruto mengenai lukisan abstrak bulan sabit khas kuku Hinata. Jadinya, ia hanya melambaikan tangannya kearah gadis pemalu berambut indigo yang terkejut diujung lorong sana. Naruto menahan napas, Sasuke menyimpulkan temannya sedang berusaha memasang tampang keren. Butuh waktu hampir lima belas menit lamanya untuk Hinata berjalan kearah mereka, itupun sudah didorong-dorong oleh temannya yang berambut mencolok. Sasuke melirik ponselnya, rasanya hari ini terlalu jauh untuk dibilang hari valentine. Ah, lupakan. Ia kembali meneruskan tugasnya.
"Err, Na-Naruto—"
"Cepat sedikit, Hinata." Si gadis berambut mencolok memotong percakapannya. Sasuke melirik sekilas.
"I-iya, Sakura-chan. Ta-tapi—"
"Ck. Naruto, aku tidak tahu apa masalahmu dengannya. Tapi kalau kau punya salah, bersikaplah seperti pria. Minta maaf padanya."
Sebenarnya, Sasuke ingin memotong omongan si gadis bernama Sakura yang seenaknya bicara dan menghakimi orang lain. Namun, tak bisa disangkal bahwa ia juga setuju dengan perkataan gadis tersebut. Jadilah ia hanya pura-pura tak mendengarkan.
"Sakura-chan. Aku yang salah." Raut muka Hinata kini seperti bocah polos. Sasuke sekarang mengerti kenapa Naruto bisa sampai seperti itu.
"Sudah, deh. Gak usah sok jual mahal pasang tampang begitu. Kalau Hinata disalip baru kau tahu rasa." Tuding sakura dengan jari telunjuknya.
Naruto masih diam, wajahnya terlihat bingung.
"Tuh, Hinata. Gombal sekarang gih." kata Sakura to-the-point tak menghiraukan wajah Hinata yang memerah tiba-tiba. Sasuke seperti melihat eskrim tomat buatan ibunya.
"Hinata-chan, kau tidak marah?"
Naruto memotong pembicaraan sebelum Hinata, sambil tetap berusaha untuk tetap memasang tampang keren, padahal detakan jantungnya sudah berdisko dengan suara bertalu-talu, sedang Hinata hanya menggeleng malu-malu. Dan Sasuke merasa terpojok berada di situasi beraura merah jambu.
"Naruto-kun?" Untungnya Hinata sudah tidak gugup lagi.
"Ya."
"Ka-kamu?"
Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?"
"Ka-kamu, anak Mesin kan?"
"Kan memang iya. Dari dulu juga begitu— Aduh!"
Kali ini yang melakukannya adalah Sakura, dengan buku tipis yang digulungnya menyerupai sebuah tongkat. Sasuke hanya menyembunyikan tawanya dalam hati. Dia kan Uchiha, apa kata dunia kalau Uchiha tertawa nista?
"Maksud Hinata itu, karena kamu anak mesin mangkanya saat ia berada didekatmu, seolah bisa membuat jantungnya seperti sedang balapan."
Hanya ada hening dan jeda yang cukup panjang setelah Sakura mengatakan itu. Yang lain masih enggan membuka suara. Sasuke yang merasa otaknya paling waras mulai berbicara bijak, ala Uchiha tentunya.
"Bodoh. Tokoh utama disini itu bukan kau, tapi mereka berdua." Katanya sambil menunjuk Naruto dan Hinata yang semakin tertunduk dengan semburat merah menghiasi wajah mereka.
"Apa katamu?" Tangan Sakura terkepal.
"Kau bodoh." Ulang Sasuke.
"Coba kau katakan sekali lagi."
"Dasar tuli. Sok jagoan pula."
Sakura hampir saja meninju muka sarkastis pemuda Uchiha tersebut jika tangannya tidak ditahan oleh Hinata.
"Kita ke kelas, yuk. Masalahku sepertinya sudah selesai."
Hinata melirik perlahan pada Naruto yang tersenyum salah tingkah. Sebelum Hinata pergi, ia cepat mengambil kantong lusuh berwarna gelap yang tadi dan memberikannya pada Hinata.
"Ini sebagai permintaan maafku kemarin, kau terima ya."
Hinata mengambilnya dan membukanya perlahan, matanya mulai berair. Gadis itu menutup lagi kantong lusuhnya dan memberi gesture seolah ingin mengembalikan, sedang Naruto mengusap belakang kepalanya menyembunyikan kegugupannya.
"Dia mencarinya kemana-mana. Kalau kau tidak menerimanya, apa kau tidak kasihan?"
Oh, Sasuke. Kau bijak sekali.
"Ba-baiklah. Padahal yang hilang itu cuma software, bu-bukan laptop. Laptopku masih bagus kok."
"Tidak apa-apa. Itu juga bukan laptop. Setidaknya itu bisa membuatku lega setelah kejadian itu. Kau terima ya."
Entah kenapa kali ini muka Naruto benar-benar terlihat keren. Sekilas, Sakura terlihat mematung sebentar.
"Err, jadi. Masalahnya sudah selesai kan, Hinata? Bisa kita kembali kekelas?"
Hinata menoleh sebentar ke Sakura, dan mengucapkan terima kasih berulang kali pada duo siang-malam Naruto dan Sasuke. Lalu melambaikan tangan dan menuruni tangga perpustakaan.
"Satu kilogram." Sasuke mulai membuka suara saat dirasa Hinata dan Sakura sudah tidak terlihat lagi.
"Apanya? "
"Kau berhutang padaku satu kilogram tomat segar."
"Kapan aku pernah berhutang padamu?"
"Memangnya bantuan tadi gratis?" Sasuke menyunggingkan seringainya, lalu kembali meneruskan pekerjaannya.
Hening sebentar, dan…
"Sasukeee!"
.
.
.
End
.
Hai aku datang lagi, finally update juga haha. Ini lanjutan drabble chapter sebelumnya. Serius deh ini beneran drabble, tapi kalo mau dibilang nyambung sama cerita selanjutnya juga gapapa deh xD
Makasih atas review di chapter sebelumnya :D
For :
Diane Ungu : iya Narutonya kusengajain dengan sifat aslinya, still baka dia. xD di film The Last pun itu jabrik masih butuh waktu buat nyadarin perasaan Hinata /curcol
dylanNHL : ah makasih. Ini udah aku panjangin, semoga enggak garing ya, haha. Masih NH kok di chapter ini :D
Ovo-kun : iya si Hinata ooc, lagi pms kali haha. Iya udah lanjut, sekarang pun Naruto masih sial /eh
Guest : aduh makasih, aku emang keren kok. Eh, Hinata maksudnya xD
sin : ini udah lanjut, udah lebih panjang. Tapi gak tau lebih lucu atau enggak /uhuk
Kali ini masih NaruHina, tapi kedepannya tergantung mood sama rikues. Atau malah mupon ke fandom lain /eh kok jadi galau
Oh ya, ada yang minat baca fanfiksiku yang satunya. Daku sekalian promosi. xD
Bedewe, ada yang tau isi bungkusan lusuh gelap dari Naruto?
Akhir kata, kritik dan saran atau mau ngasih kue, just klik review. :3
jaa ne,
author unyu
en-ube- i-e
