A Naruto Fanfiction

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Humor/Romance nyempil

Rate : K-T

Warning : OOC, AU, typo(s), bahasa mungkin gak baku, humor (semoga enggak) garing, pairing mungkin berganti setiap cerita, gahoel detected, dll..

.

.

.

My first drabble, maybe

Eeeeennjooyy! xD

.

.

:: Parody of Gombal © bie ::

.

.

.

Kantin Fakultas Teknik Blok B-2 Pukul 11.35 AM (tiga hari setelahnya)

Kotak bento dua tumpuk dengan bungkus kain berwarna kuning cerah bermotif polkadot berwarna merah muda itu masih tergeletak pasrah didepan seorang mahasiswa nyentrik yang juga berambut kuning cerah, bedanya rambutnya tidak dicat polkadot apalagi yang berwarna merah muda. Duduk di pojokan kantin dan menyesap kembali botol softdrink yang berada di genggaman tangan kirinya. Melirik ke pintu masuk kantin yang kembali didatangi oleh mahasiswa yang mulai kelaparan, ia menarik tas milik orang disampingnya lalu meletakkannya disamping sisi kotak bento yang memiliki celah.

"Malu?"

Si pemilik tas yang tasnya disandera oleh temannya melirik sungkan pada piring berisi burger yang baru saja dibelinya.

"Warnanya, Sasuke. Warnanya. Mana simpul ikatan kainnya sulit dilepas."

Naruto melirik kotak bento dua tumpuk itu dengan pandangan frustasi, dan memekik histeris dengan suara pelan. Pemuda yang dipanggil Sasuke tersebut tidak berkomentar, lalu duduk disamping si kuning cerah. Ia bergegas merapikan tumpukan kertas-kertas kosong berantakan yang masih belum diisi dengan bahan praktikum miliknya.

"Kenapa dia selalu memperlakukanku seperti ini. "

"Jangan mengeluh padaku, orangnya masih mengantri disana."

Naruto menatap Sasuke dengan pandangan memohon meminta pertolongan, apapun bentuknya . Mengerti, Sasuke mengambil burger dan tas miliknya yang dijadikan Naruto sebagai dinding pembatas dan melangkah keluar kantin tanpa sadar sesuatu jatuh dari dalam tasnya.

"Hoi! Bukan itu maksudku!"

Dan suara geraman Naruto mengiringi kepergian Sasuke yang mengangkat tangan kirinya memberi semangat—atau rasa kasihan dengan latar belakang angin dramatis dari jendela-jendela kantin yang terbuka lebar.

:: Varodi ov gomval © nubie ::

Gadis berambut indigo panjang sepunggung yang ditunjuk Sasuke sebelum ia keluar tadi kini sudah duduk tepat dihadapan Naruto yang tersenyum meringis. Ia meletakkan segelas jus buah yang tadi ia pesan diatas meja.

"Naruto-kun belum lapar?"

Hinata menatap khawatir, Naruto yang ditatap merasa tak enak. Kalau bisa jujur ia sedang lapar. Sangat. Cuma masalahnya itu ada pada kotak bento yang diberikan oleh Hinata tepat sebelum si gadis mungil itu pergi mengantri membeli makanan lain. Alasannya, hari ini spesial ia membuatkannya untuk Naruto yang telah susah payah membeli buku-buku yang telah lama ia cari mengenai bahan untuk proyek desain model robot yang akan dijadikannya sebagai bahan praktikum nanti.

Senyum di wajah si gadis mengembang. Ia masih memperhatikan si pemuda berambut cerah yang juga memasang senyum didepannya—dalam artian berbeda.

Merasa tak enak, Naruto perlahan menyentuh simpul ikatan dari kain penutup berwarna kuning cerah tersebut, sembari melirik liar pada beberapa mahasiswa lain yang mungkin sedang memperhatikannya menyentuh barang dengan warna khas para wanita. Niatnya sih bakal mengajak duel kalau ada yang memperhatikannya dalam tawa, tapi karena Hinata ada disini jadilah ia menjadi sosok alim dadakan.

Ia sungguh tak rela jika harga dirinya sebagai lelaki tulen terinjak begitu saja hanya karena kain pembungkus bento berwarna kuning cerah bermotif polkadot merah muda. Ulangi, berwarna kuning cerah dengan motif polkadot merah muda.

Dipikir eike banci gitcu? Pliss deh cyint.

Suara drama picisan dari televisi yang memutar channel luar negeri membuat Naruto merinding tiba-tiba.

"Kau su-suka pembungkusnya?"

Hinata bertanya dengan nada bersemangat, sedang Naruto mematung. Hanya tangannya saja yang masih bergerak membuka simpul ikatan kain tersebut. Beberapa saat kemudian ia hanya mengangguk dalam diam. Bisa bahaya kalau Hinata terserang sindrom PMS di kantin tiba-tiba.

"Sakura-chan me-membantuku memilihnya kemarin."

Otak Naruto konslet mendadak,

"Oh, begitu." Gumamnya.

'Kurang ajar, pink sialan itu ingin mengerjaiku rupanya.'

"Sini. Bi-biar aku bantu."

Hinata mengambil kotak bentonya dari Naruto, tak sengaja tangan mereka saling bersentuhan.

Maa. Rii. Maar.. Awww!

Alunan musik telenovela jaman baheula tedengar entah darimana. Beberapa pasang mata melirik kearah datangnya suara yang disambut dengan kekehan pelan berharap maklum dari orang yang dilirik. Naruto berdehem pelan, berharap kegantengannya tidak berkurang. Lalu melepas pegangannya dari simpul kain kotak bento dan menyerahkannya pada Hinata yang menunduk dibalik rambut panjangnya. Perlahan, Hinata berhasil membuka simpul sulit yang entah darimana ia pelajari, lalu memberikan kembali kotak bento tersebut pada Naruto.

"Di-dimakan ya." Hinata mengatakannya tanpa melihat Naruto. Mungkin malu-malu serigala.

Naruto memisahkan dua kotak yang bertumpuk tersebut dan mulai membukanya. Kotak pertama isinya seperti sosis goreng yang dililit sesuatu berwarna kemerahan, irisan kue ikan, dan telur dadar gulung.

"Ka-karena Naruto-kun suka ramen, a-aku membuatnya dari ra-ramen berbumbu yang kugulung la-lu digoreng."

Naruto mengambil sumpit dan memakan satu.

"Ba-bagaimana?"

Enak.

"Hontou ni."

"Hontou ni?"

"Ramen ini—"

"Y-ya."

Naruto menyuap kembali ramen sosis goreng buatan Hinata, "—ehaak sehali."

Meski dengan mulut yang masih mengunyah, Hinata mengerti apa yang dimaksud dan tersenyum puas.

"Yokatta. Ka-kalau yang ini bagaimana?"

Hinata mendorong pelan kotak kedua yang belum dibuka Naruto. Isinya beberapa nasi gulung berwarna sedikit coklat kemerahan yang dikepal dan dihiasi dengan telur dadar dibagian atas. Masing-masing dihiasi dua kacang polong menghiasi dibagian tengah nasi kepal, dan irisan cabai yang melintang membentuk setengah lingkaran dibagian bawah.

'Apa ini?'

"A-aku baru saja mempelajari ba-bagaimana cara membuat c-chara bento."

'Rasanya aku seperti memakan diriku sendiri.'

Tak tega, Naruto mengambil satu dan mengunyah dengan tampang ogah-ogahan.

"Enak kok." Ia tersenyum tipis, matanya sedikit menyipit.

Hinata memegang pipinya yang mulai menghangat, lalu perlahan meminum jus buah yang tadi sempat diabaikannya.

Naruto menarik tas miliknya mendekat dan mencari sesuatu didalamnya. Matanya melirik Hinata yang menatapnya dengan rasa ingin tahu.

"Oh ya, Fisika Dasar semester lalu kau dapat apa?"

"Me-memangnya kenapa?"

"Tidak, aku hanya ingin bertanya mengenai Hukum Newton."

"Ya-yang mana? Pertama, Kedua, atau Ketiga?"

"Kalau yang Pertama?"

"Setiap benda memiliki kecepatan konstan jika resultan gaya pada suatu benda sama dengan nol."

Hinata tidak gagap, dan Naruto tersenyum lebar, "Lalu yang Kedua?"

"Percepatan benda berbanding lurus dengan resultan gaya yang bekerja dan berbanding terbalik dengan massa benda."

"Yang Ketiga?"

Hinata menatap ragu, alisnya berkerut. "Ma-mau mengetes ya?"

Oke, gagap is back.

"Tidak, tidak, tidak."

"K-kau kan bi-bisa baca sendiri."

"Baik, baik. Jangan marah ya Hinata-chan."

Naruto menarik tangannya dari dalam tasnya, dan menunjukkan buku tebal di hadapan Hinata, lalu membukanya di halaman tertentu.

"Aksi = Reaksi."

Naruto menyatukan jari-jari tangannya dan menyadarkan dagunya. Ia menggumam pada Hinata yang alisnya masih berkerut dengan senyum lebar yang masih menghiasi wajahnya.

"Lalu, Hukum Kekekalan Momentum, Linear."

Matanya berpindah sebentar dari Hinata ke halaman didalam buku, mengisyaratkan agar si gadis indigo mengikuti arah pandangannya. Hinata membaca dalam hati.

"Dalam peristiwa tumbukan sentral, momentum total sistem sesaat sebelum tumbukan sama dengan momentum total sistem sesaat sesudah tumbukan. Asalkan—"

Naruto memperhatikan ekspresi Hinata yang sepertinya masih sibuk meneliti kalimat-kalimat didalam halaman buku dan membolak-balik halaman mencari materi yang baru saja dijelaskan olehnya.

"—tidak ada gaya gaya luar yang bekerja pada sistem." Ia meneruskan.

Hinata mengangkat kepalanya dan menatap bingung pada Naruto. "Lalu?"

"Dengan kata lain, momentum total cinta milikku sesaat sebelum kau datang harusnya sama dengan momentum total cintaku sesaat setelah kau datang." Naruto tersenyum lagi.

Hinata speechless, entah karena senyum Naruto yang mendadak lebih ganteng atau karena penjelasan si pemuda kuning yang menabrak logika kaidah per-Fisika-an karya para ilmuwan Abad Kejaya—Pertengahan.

"Padahal gaya luar yang terjadi cuma karena bento buatanmu."

Si gadis indigo masih speechless. Kini otaknya yang mendadak lemot.

"Ne, Hinata-chan." Naruto tersenyum lagi.

"Nani?"

"Daisuki-desu. Hontou ni daisuki desu."

"Na-Naruto-kun!" Hinata memalingkan wajahnya yang memerah diiringi tawa renyah dari Naruto.

.

Today's Challenge

Naruto : Hinata

1 : 0

.

"Ne, Hinata-chan?"

"A-apa? Kau ma-mau menggodaku lagi?" Hinata masih belum berani menatap Naruto, gadis itu masih setia memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang melewati pintu masuk kantin.

"Sasuke dan Sakura pacaran loh."

"Apa?" Refleks ia menatap Naruto yang memasang senyum jahil. "Ka-kau bohong ya."

"Jangan cemberut. Aku mau menceritakan sesuatu yang menarik. Kemarikan telingamu."

Hinata menurut dan mendekatkan telinganya ke Naruto yang tingkatan senyum jahilnya bertambah.

"Masakanmu enak, kapan-kapan bertemu ibuku mau ya."

Dan wajah Hinata menjadi lebih merah dari sebelumnya.

Ralat.

Today's Challenge

Naruto : Hinata

2 : 0

.

.

Chapter Tvvo End

.

.

.

Gimana? Udah fluffy kah? :3

Kei, this is Omake, hoho

Sasuke menatap sekelebat bayangan berwarna mencolok berjarak sekitar dua ruang kelas yang bergerak semakin mendekatinya. Ia tahu apa itu. Matanya masih memutari kalimat-kalimat yang beberapa telah ia tulis di kertas laporan, beberapa masih dirangkai menjadi kalimat baku yang lebih baik didalam otaknya. Pensil berujung tumpul yang digunakannya untuk menulis coretan praktikum miliknya kini berhenti bergerak. Ia menyandar pada pohon besar dibelakangnya, dan menatap bayangan yang kian mendekat.

'Ck.'

Dan bayangan mencolok berwujud seorang gadis sampai di hadapan matanya. Si gadis berkacak pinggang sambil menatap sengit, dagunya sedikit terangkat keatas dan menatapnya dengan pandangan merendahkan.

"Heh, pantat ayam sialan. Kembalikan sekarang!"

.

.

.

Beneran End

.

Finally update juga haha. Ini lanjutan drabble chapter sebelumnya. Rasanya aku jadi ragu deh ini dibilang drabble, multi-chapter keknya ya. Tapi dibaca terpisah juga aman kok xD

Makasih atas review di chapter sebelumnya :D aku terharu karena reviewnya bertambah banyak :')

For :

hqhqhq : kepikiran sih bikin hadiahnya sejenis gadget, tapi kayaknya kemahalan kalo ngeliat tampang Naruto xD

Hayashi Hana-chan : iya tuh, si Sasuke tajem banget katanya *ikutan judge* mana minta tomat sekilo pula haha. Makasih, ini udah dilanjut :D

Fahirafi : drabble menurutku sih cerita yang berchapter-chapter tapi tiap chapter isinya gak saling berhubungan. Mungkin punyaku ini multichapter haha. Gomen, aku nebus buat event dulu, mungkin SasuSaku muncul di chapter depan :D

MIROKU PERVERT : buku buat praktikum Hinata :D ah makasih. Harusnya kalo drabble ini end, tapi kayaknya ini multi-chapter jadi sifatnya semi end-tobecontinue tapi bisa dibaca nyambung/terpisah

bumbum : isinya buku yang dibutuhin Hinata buat praktikum xD okei udah dilanjuut

izumi chieko : panggil saya bie aja :3 haha, di dunia ninja gombal mungkin gak terlalu populer mangkanya kesannya maksa, lagian asik juga kalo si Hinata rada ceriwis gitu. Gomen, ini buat nebus event yang aku gak bisa, SasuSaku mungkin chapter depan. :D

still NaruHina :) sebagai tebusan karena aku gak bisa ikutan event NaruHina April kemarin. Seriusan, tema Family itu berat -_- Mana duet maut ujian-tugas nyita waktu banget. Semoga lumayan nyangkut ke tema kemarin ya :')

Isi kantung lusuh dari Naruto di chapter sebelumnya itu buku kok xD kuanggap si Naruto itu mahasiswa biasa aja bukan bagian dari F4 /eh

Chapter depan kemungkinan besar lebih ke SasuSaku sesuai dengan request di chapter kemarin :D Betewe si Sakura enaknya jurusan apa ya? Aku sih niatnya jurusan Hukum atau Akuntansi. Tapi Manajemen sama Ilmu Komunikasi cocok sama karakter Sakura yang gak pemalu kayak Hinata. Ada sarankah?

Oh ya, kayaknya diatas ada sesuatu yang terselip deh, ada yang bisa nemuin itu apa?

Btw, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436H buat yang merayakan

Akhir kata, minta reviewnya ya minna. :3

jaa ne,

author unyu

en-ube- i-e