Hermione berjalan dengan anggun mengikuti Rafael yang sedang menuntunnya menuju kamar barunya, namun Hermione tidak hanya berdua dengan Rafael, ia juga ditemani oleh dua orang pelayan yang membawakan kopernya yang besar dan juga seorang yang spesial.
Theodore Nott.
...
Hi, I'm Your Killer
Costantine Clues
Rated T semi M.
J.K Rowling
Warning
Don't Like don't read
...
Pria itu mengikuti Hermione dengan pandangan curiga, ia masih curiga apa yang membuat polisi mampu menyuruh pembunuh bayaran. Bukankah Draco bisa membayar dua kali lipat untuknya jika ia mau berkhianat?
Tapi kenapa Hermione mau bekerja sama dengan polisi, walaupun Draco memberikan kelonggaran atas misinya tetapi tetap saja Draco bisa membunuhnya kapanpun dan dimanapun.
Walaupun andai kata Hermione tidak mencoba untuk membunuh Draco dan Draco berbohong dan membunuhnya hanya kala alasan ia bosan? Bukankah sifat Draco yang semena-mena itu sangat tak menguntungkan Hermione?
Theodore yakin bahwa Hermione memiliki rencana lain yang tak ada kaitannya dengan misinya. Theodore melihat gerak-gerik wanita itu. Ia berjalan begitu anggun seolah ia adalah wanita terpandang, rambutnya yang coklat mengembang dan sedikit keriting menambah pesonanya.
"Apa yang kau perhatikan dari tadi Theodore?" tanya Hermione tiba-tiba, melihat Theodore yang sedang memperhatikannya, "Apakah kau tertarik akan tubuhku?" tanya Hermione menggodanya.
Theodore mempalingkan muka darinya, "Cih buat apa aku menyukai wanita yang mampu membunuhku secara tiba-tiba?"
Mendengar itu Hermione berbalik menatapnya dengan pandangan menggoda, mengulurkan tangannya menyentuh dagu Theodore dan memandang mata hijaunya yang indah namun Hermione tahu bahwa matanya menampilkan kesedihan yang mendalam didalamnya.
"Kau memiliki mata yang indah Theodore," puji Hermione, namun Theodore dengan cepat menggengam tangan wanita itu dengan erat dan menghempaskannya.
"Jangan menyentuhku Hermione, walaupun aku mengenalmu. Tapi aku masih belum percaya kepadamu!" ucap Theodore sedikit menyentak.
Melihat itu Hermione hanya tersenyum kecut, "Kau begitu kaku Theodore, cobalah belajar dari Draco seberapa lincahnya dia ketika ia bisa menahklukkan wanita,"
"Aku tak peduli,"
Hermione sedikit bosan, rumah Draco yang besar ini sedikit menggangunya. Tentu ruangan Draco dan kamarnya begitu jauh seolah Draco sendiri menjaga dirinya agar rahasianya tidak diambil. Ah jika salah satu cara agar bisa mendapatkan informasi, Theodorelah orangnya.
Pria itu selalu berada di dekat Draco bahkan membelanya jika itu perlu, dan tentu ia juga sudah tinggal lama di rumah ini. Tentu ia mengenal rumah ini dengan baik bukan?
"Theodore," panggil Hermione di tengah kesunyian mereka.
"Apa?"
"Apa kamarmu berada didekat kamarku? Kenapa kau mau repot-repot menemaniku sampai kekamarku?" ucap Hermione dengan nada sedikit menggoda.
Theodore yang mendengar hal itu terdiam, "Tidak, kamarku tidak berada di sekitar sini."
"Lalu dimana?" tanya Hermione sedikit penasaran.
"Di lantai 4, kamarku dan Draco berada disana."
"Bukankah ini lantai 2? Jadi buat apa kau mau repot-repot menemaniku sampai menuju kamarku?"
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, tapi lebih baik kalau kita menuju kamarmu."
"Ah, Mr. Nott aku baru hari pertama disini dan kau ingin melihat kamarku atau kau memiliki alasan lain?" ucap Hermione dengan nada dramatis, namun Theodore tidak peduli.
"Maaf menggangu pembicaraan anda tuan dan nyonya, tetapi Miss Hermione ini kamar anda," ucap Rafael sopan, ia mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya dan membuka kamar tamu itu.
Ketika pintu terbuka sebuah ranjang besar yang empuk dengan gaya victoria menyambutnya, disamping ranjang itu terdapat sebuah meja kecil dari kayu dengan lampu tidur yang nyaman. Kamar itu begitu besar untuk sebuah ruangan tamu. Televisi 32 inch yang menempel pada dinding yang menghadap ke arah ranjang dan di bawahnya terdapat berbagai peralatan seperti rak buku mini dan meja kecil.
Bukan cuma itu bahkan diruangan itu terdapat rak buku mini yang hanya berisi 10 buku, dan sebuah lemari besar untuk menyimpan pakaian, bahkan ruangan itu dilengkapi dengan kamar mandi dalam yang lengkap. Hermione harus mengakui bahwa Draco adalah pria kaya yang brengsek dan menggoda yang mampu memperlakukan tamunya seperti seorang raja sekaligus.
Ruangan ini lebih tepatnya seperti hotel dari pada kamar tamu. Hermione sedikit puas dengan fasilitas yang diberikan oleh Draco. Namun ia belum bisa menikmati ruangan itu sepenuhnya karena Theodore masih dengan setia memperhatikannya.
Dua pelayan itu membawa tas Hermione dan meminta ijin untuk pergi, dan menyisakan Hermione serta Theodore. Hermione menghempaskan tubuhnya diranjangnya kemudian ia berbaring, "ah sungguh nyaman. Kakakmu itu benar-benar tau bagaimana memperlakukan seorang tamu,"
"Aku sedikit senang dengan fasilitas yang ia berikan kepadaku," tambahnya.
"Ada yang ingin kutanyakan kepadamu, mengapa kau mau membantu pemerintah?" ucap Theodore dingin dan langsung. Ia bukalah pria yang suka berbasa-basi untuk membuka sebuah percakapan.
"Seberapa banyak uang yang diberikan oleh polisi untuk menyelidiki kelemahan Draco? Katakan kepadaku dan aku akan memberikanmu dua kali lipat, tidak lima kali lipat agar kau berhenti dari perkerjaan ini."
Hermione hanya tertegun dengan ucapan Theodore, tetapi ia malah memejamkan matanya dan menikmati kasur barunya yang sangat nikmat. "Tidak Theodore, ini hari pertamaku aku tidak ingin mengacaukannya. Bukan uang yang aku cari,"
"Aku tahu bahwa Draco telah membunuh kekasihmu dan aku yakin bahwa kau tak sepenuhnya misi ini untuk polisi bukan? Katakan kepadaku apa yang kau inginkan sebenarnya," ucap Theodore dengan tenang.
"Aku percaya bahwa kau sangat membenci Draco bukan! Harus kuakui Draco membunuh kekasihmu bukan tanpa alasan. Ia terancam dan—" percakapan Theodore terhenti pada saat Hermione meletakkan jari telunjuknya di bibir Theodore.
"Kau benar, bahkan harus kuakui berada di satu ruangan bersamanya membuatku muak. Tapi bisakah kau tak mengganguku? Aku lelah kau tau perjalananku dari Thailand menuju Itali itu begitu melelahkan. Jadi kalau kau tak keberatan Theodore, bisakah kau keluar?" tanya Hermione lembut. Ia berdiri dari ranjangnya menuju pintu kamar dan membukanya.
Theodore yang melihat pengusirannya secara halus hanya berdecak lidah.
"Aku hanya memperingatkanmu Hermione. Walaupun kau mungkin bisa menipu Draco tapi tidak denganku. Aku tak tahu apa yang kau inginkan tetapi lebih baik kau berhati-hati dengannya,"
Hermione hanya tersenyum, "terimakasih atas sarannya Theodore," ucapnya kemudian menutup pintu kamarnya.
...
Draco berjalan dengan perlahan, lebih tepatnya ia sengaja menghindar dengan cepat dari ruangan itu. Kedatangan Hermione tidak membuatnya sedikit nyaman, tentu bagaimana bisa ia nyaman bertemu dengan sang wanita yang menjadi saksi pembunuhannya dulu?
Setidaknya memberikan fasilitas yang nyaman untuknya adalah balas budi atau salah satu pengalihan bahwa Draco berharap Hermione tak memancingnya untuk membunuhnya.
Jujur membunuh wanita sangat tidak menyenangkan.
Draco membuka ruangan kerjanya, menyeret kakinya yang malas untuk berjalan.
Kantong matanya menjadi hiasan yang menyedihkan akan wajahnya, Draco mencoba untuk menyegarkan wajahnya.
Ia membuka keran air itu, menyatukan tangannya dan lalu membilas wajahnya berkali-kali. Kemudian mengusap wajahnya dengan tangannya, memandang wajahnya yang tampan namun sayu. Matanya yang kelabu itu melihat sosoknya sendiri dicermin.
Wajahnya berantakan, kantong mata, bibirnya yang kering dan kulit wajahnya yang kering. Walaupun tetap saja ketampanan wajahnya masih ada tetapi itu tak membuat Draco senang.
Memang benar ia sudah membunuh orang yang telah mencuri darinya tetapi tetap saja. Hari ini tanggal 5 April, hari dimana orang tuanya meninggal dan itu yang selama ini membuat Draco tak nyaman.
Bahkan ia menyetujui Hermione untuk tinggal dirumahnya karena malas berdebat dengan anggota kepolisian, membiarkan Hermione berkeliaran bebaspun asalkan wanita itu tak berada disekitar ruangan kerjanya dan kamarnya, ia sudah puas.
Lagi-lagi ia membasuh wajahnya, meresapi setiap air yang segar yang mengenai kulit wajahnya yang kering. Entah mengapa air ini begitu nikmat untuk saat ini.
Perlahan sepotong memori yang paling dibencinya merasuki dirinya dengan cepat.
Kematian ayahnya dan siksaan manusia kalangan bawah.
Ia terkejut, bahkan jeritannya begitu nyata. Ia segera melihat sekelilingnya dengan waspada namun tak ada apa-apa.
Sejenak ia mencoba untuk menenangkan dirinya, tetapi suara tubuh terjatuh terdengar, ibunya yang cantik meninggal dengan matanya menatapnya.
Draco tak mau mengingat kejadian ini lagi, tetapi setiap tanggal 5 April dia akan mengingatnya lagi dan itu selama seharian.
"Hentikan!" jeritnya menutup telinganya, matanya membulat besar dan tubuhnya yang kurus jatuh tersungkur. "Hentikan!" ucapnya sambil melihat ayahnya yang kemudian menembaknya.
Bahkan ia juga melihat dirinya, Draco kecil yang hanya terdiam melihat kejadian itu. Ia mendekati ibunya dan mengoyangkannya tetapi tubuhnya bersimpah darah.
Draco kecil melihat itu, melihat darah ibunya dan ia merasa jijik. Semula ia tak membenci warna merah tetapi darah ini membuatnya jijik. Draco kecil terjatuh, lututnya bergetar hebat dan kakinya lumpuh. Ia ketakutan.
"Dad?" panggilnya pelan melihat mayat ayahnya yang berada di samping mayat ibunya.
Draco melihat kejadian itu, "Jangan panggil dia Dad! Dasar bodoh! Dia tak pantas menjadi ayahmu!" jeritnya pada halusinasinya sendiri.
"Hentikan! Aku membenci kalian! Aku membenci kalian!" ucapnya berulang-ulang, Draco mencoba berdiri berdiam diri di ruangan kerjanya hanya membuatnya semakin gila.
Ia mencoba untuk bangkit berdiri, tetapi kakinya tak mau berjalan seolah lumpuh, "Kaki bodoh! Kenapa kau tak bisa berjalan untuk saat ini?!"
Setiap tanggal 5 April adalah hari penyiksaan untuknya dan Draco tak mau menunjukan kelemahannya kepada siapapun, bahkan Theodore saudaranya sendiri.
Keringat keluar dengan deras dari pelipisnya, matanya terus menatap kejadian yang paling dia tak ingin lihat. Halusinasi ini begitu mengerikan.
Draco mencoba untuk menutup matanya tetapi suara jeritannya ketika ia masih kecil terdengar begitu menyedihkan.
"Kalian gila!" ucapnya, mencoba berdiri dan menyeret kakinya lalu keluar dari ruangan kerjanya sendiri.
Kemejanya basah dan ia mencoba untuk berjalan sejauh mungkin dari ruangan kerjanya. Sebenarnya halusinasi itu terus mengikutinya ketika ia sedang sendirian dan pikirannya kacau.
Beberapa pelayan melihatnya, "Tuan apa yang terjadi kepada anda?" tanyanya menopang tubuh Draco yang nyaris pingsan.
"Bawa aku kemana saja asalkan jangan menuju kamarku."
"Baik tuan," ucapnya menopang Draco, beberapa pelayan yang melihat kejadian itu segera memberitahukan Theodore Nott dan Blaise. "Dan jangan panggil dokter,"
...
Theodore menatap kakaknya yang sedang berbaring diranjangnya. Begitu juga dengan beberapa pelayan yang berjaga disekitarnya.
"Apa yang terjadi?" tanya seseorang yang memaksa untuk masuk. "Biarkan aku masuk, Theodore!"
Theodore hanya melihatnya sebentar lalu memberikan isyarat untuk mengijinkan Hermione masuk.
Hermione yang hanya mengenakan pakaian tidur berjalan mendekati kerumunan, ia melihat Draco yang terbaring lemas.
"Hei kau," panggil Theodore kepada Hermione dan wanita itu hanya menatapnya dengan kesal, "Apa? bukankah kau tahu namaku?"
"Kau dokter bukan? Coba cek dia?" perintah Theodore sembari melipat kedua tangannya.
"Well walaupun aku dokter, aku hanya psikiater bodoh! Bukan dokter umum!" ucap Hermione cepat.
Theodore mengambil pistol yang berada disakunya dan menodongnya, "Kubilang kau dokter bukan?"
"Cih, kau sama seperti Draco. Kupikir kau berbeda ternyata kalian sama saja. Iya-iya aku akan mecobanya, tapi hanya mencoba dasarnya karena itu bukan bagianku." Ucap Hermione mendekati Draco mengulus rambutnya yang pirangnya dengan lembut. Kemudian memeriksanya.
"Bagaimana?" ucap Theodore.
"Seperti yang kau lihat, ia sedang tegang semua ototnya mengeras seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu. Apakah kau memiliki obat penenang?"
"Ambilkan obat penenang, cepat!" ucap Theodore memerintah.
Hermione berdiri, "kau sangat peduli kepada dia ya?"
Namun Theodore tak membalasnya dan hanya diam.
"Kenapa kau tak memanggil dokter?"
"Karena Draco tak mau jika dokter menyetuhnya ketika ia berada dalam keadaan seperti ini."
"Tunggu dulu, apakah ini setiap saat? Draco bisa seperti ini?"
Pelayan itu segera datang dan memberikan jarum suntik yang berisi obat penenang, Theodore menyerahkan kepada Hermione.
Hermione hanya menerimanya kemudian melihat wajah Draco yang meringis menahan sesuatu, kemudian ia meletakkan jarum itu dibawahnya.
"Bangunkan dia," ucap Hermione menyuruh pelayan itu.
"Siapkan air, cepat!" perintahnya.
"Apa yang terjadi Hermione?!" tanya Theodore panik.
Hermione hanya terdiam, mengoyangkan tubuh Draco dengan cepat. "Bangun, bagun Draco!" ucapnya.
Tetapi Draco masih tetap memejamkan matanya, "dasar pria keras kepala! Bangun, cepat bagun!"
"Apa yang terjadi Hermione? Kenapa kau membangunkannya? Bukankah itu memberinya syok mental?"
"Kau diam saja bodoh, cepat bangunkan dia!"
Theodore berlutut disamping Hermione membantunya mengoyang-goyangkan Draco tetapi Draco masih tertidur.
"Air, mana airnya lambat!" bentaknya panik.
Pelayan itu segera datang dengan mangkuk berisi air, memberikan Hermione air dan Hermione menuangkannya keatas kepala Draco.
Ketika kulitnya menerima air yang dingin itu, tubuhnya segera terlonjak dan ia terbangun karena kaget.
"Apa yang terjadi disini?" tanyanya sedikit takut.
"Kau tertidur dan aku berusaha membangunkanmu," ucap Hermione santai.
Draco mencoba untuk berdiri dari tempat tidurnya, tetapi keseimbangan tubuhnya belum bagus sehingga ia nyaris terjatuh kalau saja Theodore tidak dengan sigap menangkapnya.
"Bisakah kita jalan-jalan? Aku tak nyaman berada dirumah," tanyanya memaksakan senyum dibibirnya.
"Tentu, siapkan tubuhmu Draco," ucap Theodore menyuruh pelayan untuk membantu Draco mempersiapkan pakaiannya.
Theodore menatap wanita yang sedang memandang Draco dengan pandangan nar-nar.
"Terimakasih," ucap Theodore, Hermione hanya melihatnya sebentar. "Well kau berutang banyak kepadaku. Kuharap kau tak menodongkan pistol itu seperti tadi kepadaku,"
"Aku tak berniat untuk membunuh kalian berdua. Hanya informasi itu yang kubutuhkan tidak lebih." Ucap Hermione duduk di ranjang bekas Draco dan menaikan kaki kanannya keatas kaki kirinya sehingga menampilkan kakinya yang putih bersih.
"Aku masih belum percaya kepadamu. Tapi kenapa kau tak memberikannya obat penenang tetapi malah mencoba untuk membangunkannya?"
Hermione terdiam, "apakah kau tak memiliki rokok?" tanyanya sopan.
Theodore mengeluarkan sebuah cerutu dari sakunya, memberikannya kepada Hermione, "lebih baik daripada rokok."
Hermione tersenyum menghisap cerutu itu, tetapi Theodore dengan sopan mengeluarkan juga pematik api dari sakunya dan menyalakan cerutu itu untuk Hermione.
Hermione terdiam dengan tingkah Theodore yang begitu sopan, ia menghisapnya kemudian mengeluarkan asapnya dari bibirnya. "Kau baik sekali Theodore,"
"Jawablah pertanyaanku dulu Hermione," ucap Theodore menunggu.
"Aku sengaja tak memberikannya obat penenang karena dia bisa kecanduan jika menerima obat itu. Aku menyadari bahwa kejadian ini bukanlah tiba-tiba atau apa, kejadian ini tentu sudah sangat familier denganmu bukan Theodore?"
Pria itu hanya mengangguk, "Dari mana kau tahu?"
"Kau tak melihat seberapa kuatnya dia untuk menahan mimpi buruknya? Sepertinya dia tertekan atas mimpi itu karena itu jika aku memberinya obat penenang dan dia mengetahuinya tentu dia akan terus mengunakannya. Kau tahu dia bisa mati karena obat itu. Lagipula dosis obat akan terus bertambah seiring berjalannya waktu,"
Hermione berdiri dari ranjang menghisap kembali rokoknya lalu mengeluarkan asapnya, "Jika kau peduli kepadanya kenapa kau tak memanggil dokter? Dia begitu menderita, kau lihat?"
"Dia melarang kami kau lihat, dan aku menurutinya."
"Kau gila, apakah dirumah ini adanya orang waras selain aku? Aku tak tahu apa yang dibuat Draco sehingga ia mampu menakuti kalian semua. Tetapi lebih baik jika kau memangil dokter," ucap Hermione berjalan keluar.
"Hermione," suara Theodore bergema diruangan yang besar itu.
Hermione berbalik menatap pria yang sedang menatapnya dengan pandangan sedikit ragu, "Ya Theodore?" tanyanya.
"Apakah kau mau berjalan-jalan bersama kami?"
Hermione tersenyum kecil, "Tentu Theodore,"
...
Draco menghisap cerutunya dan menatap Hermione yang sedang memainkan ponselnya, mereka bedua sedang berada disatu ruangan yang sama dan menunggu orang yang sama, Theodore yang sedang berganti pakaian.
Draco mengenakan pakaian yang santai seperti kaos bewarna putih tulang serta celana dengan panjang selutut berwarna coklat susu. Matanya yang kelabu terus memperhatikan wanita yang berada disebrangnya.
Hermione juga mengenakan pakaian yang santai, sebuah kemeja berwarna biru dengan garis horisontal berwarna merah, dan sebuah celana pendek serta high heels berwarna coklat tua.
Draco mendekatinya dan kemudian memeluknya dengan cepat. Hermione yang mendapatkan perlakuan itu hanya terdiam lalu memandang ponselnya kembali.
"Cih kau mengacuhkanku Hermione?"
"Seperti yang kau lihat," ucap Hermione dengan santai.
"Kupikir kau akan menyukainya," goda Draco.
"Jika aku wanita murahan yang selalu berada dikamarmu tentu aku akan menyukainya, sayangnya aku tak seperti itu,"
"Wow, berapa harganya?"
"Harga?"
"Ya, harga dirimu itu? Apakah kau membutuhkan pakaian mahal atau resort di sebrang pantai?"
Hermione menghentikan aktivitasnya, kemudian menatap Draco mendekati tubuh pria itu dan Draco hanya terdiam dengan reaksi Hermione.
Hermione mendekati telinga Draco kemudian berbisik dengan mesra, "Maaf Mr. Malfoy harga diriku sangat mahal, kau tentu tak mampu membelinya."
Mendengar hal itu Draco hanya tertawa senang, "Kau benar, kau sangat berbeda. Manis sekali,"
Draco berbaring di sofa meletakkan kedua tangannya untuk mengganjal kepalanya, "Ah, kurasa hanya kau yang menjawab hal itu. Ah tidak, aku lupa kalau mantan kekasihku juga mengucapkan kata-kata yang sama."
"Ah, kekasih yang kau bunuh itu?"
Draco menyeritkan alisnya, kemudian ia memandang langit ruangan itu. "Kau benar, kau sepertinya mendapatkan banyak informasi tentang diriku yah haha,"
"Yah seperti yang kau tahu. Mana mungkin aku mau bekerja sama tanpa mengenal musuhku?"
Namun percakapan mereka terhenti begitu melihat Theodore yang datang,Theodore menggunakan kemeja putih dan celana jeans biru panjang.
"Well kami dibuat menunggu hanya untuk melihat kau menggunakan dua pakaian itu? Kau berdandan begitu lama, bahkan Hermione begitu cepat darimu. Kau lihat," ucap Draco menyindir Theodore.
Tetapi pria itu hanya diam.
"Baiklah kalau kalian sudah datang, akan kuajak kalian ke taman hiburan."
"Taman hiburan?" tanya Hermione.
"Well, baik aku maupun Theodore belum pernah menuju taman hiburan karena dulu kami tak diizinkan untuk menuju tempat yang biasa. Kita seorang bangsawan, tapi itu dulu. Lagipula bangsawan atau tidak jika ia kaya ia bisa melakukan apapun," ucap Draco tertawa sambil memasukan tangannya kesakunya.
...
Disinilah mereka tiga orang dewasa sedang duduk dengan nyaman pada sebuah kafe di taman hiburan. Hermione menghela nafas berat dan Theodore hanya memperhatikan anak kecil yang bermain dengan santainya, sementara Draco hanya dengan santai melahap eskrimnya.
"Kau mengajak kami karena ingin membeli menu spesial yang diadakan taman bermain?" tanya Hermione menggerutu.
"Kau bisa bermain kalau kau mau Hermione, kau lihat banyak pasangan yang sedang bermesraan, kau lihat?"
"Kau yang membunuh kekasihku Draco," ucap Hermione masam.
"Dan aku juga sudah membunuh kekasihku Hermione, bukankah itu impas?" ucap Draco santai.
"Kau gila," ucap Hermione menyandarkan punggungnya dengan keras.
Theodore hanya terdiam melihat pertangkaran kecil itu sembari meminum kopinya.
"Theodore, kau mau bermain bersamaku? Ada permainan menarik disana."
"Kenapa kau tak mengajakku Hermione?"
"Cih buat apa aku mengajak seorang yang telah membunuh kekasihku?"
Draco tak peduli dan terus memasukkan eskrim kemulutnya.
"Aku tak mau,"
"Ayolah Theodore,"ucap Hermione sambil menarik tangan Theodore.
"Pergilah Theo, nikmatilah harimu."
Mendengar hal itu Theodore menyerah dan mengikuti Hermione.
"Draco bilang bukankah kalian tidak pernah pergi ke taman bermain? Seharusnya kau bisa menikmatinya bukan?"
"Bukan aku Hermione, melainkan Draco. Dia yang belum pernah ke taman hiburan,"
"Eh tapi bukankah tadi Draco yang bilang bahwa kau juga belum pernah kemari?"
"Apa kau berpura-pura bodoh Hermione? Draco dan aku memang saudara tapi kami sempat terpisah ketika umurku 7 tahun, aku di adopsi oleh keluarga bangsawan tetapi Draco terus menjalani kehidupannya yang berat. Aku bertemu dengannya ketika aku berumur 21 tahun dan bergabung bersamanya," ucap Theodore duduk disebuah kursi pada taman bermain.
"Aku tahu Theodore." Ucap Hermione menekuk wajahnya, "Maaf jika aku memintamu untuk pergi dari kafe, karena aku tak tahan bersamanya, aku sangat ingin menampar Draco atas ucapannya tapi aku tak bisa. Bagaimana bisa dia dengan mudah mengucapkan kata-kata itu! Apakah dia tak memiliki perasaan akan hatinya?" ucap Hermione dingin, namun ia mengepalkan tangannya kuat-kuat berusaha menahan emosinya.
"Cih aku lupa kalau dia tak memiliki hati, kita berpisah." Ucap Hermione melihat jam tangannya yang menunjukan pukul 12, "Aku akan kembali ke kafe pada tepat jam 2, jangan khawatir."
"Kalau kau sibuk kau bisa meninggalkanku," tambahnya kemudian berjalan menjauhi Theodore.
Pria itu terdiam, kemudian ia mengucapkan kata-kata yang mampu menghentikan langkah kaki Hermione, "Kau masih lemah Hermione. Sampai kapanpun jika kau mau mendapatkan rahasianya itu tidak akan berhasil. Draco bukanlah bangsawan kaya raya bodoh yang digerakkan oleh sifatnya yang egois dan suka membunuh. Kau harus memenangkan hatinya jika kau mau mendapatkan rahasianya bahkan kelemahannya," ucap Theodore, "Walaupun dia menghinamu atau kekasihmu, cobalah untuk bertahan. Karena semakin bisa kau menangkalnya dia akan semakin tertarik kepadamu dan percaya kepadamu,"
Hermione berbalik menatap pria yang sedang memandang langit dengan nyaman.
"Siapa kau? Apakah kau Theodore yang kukenal?"
Theodore hanya tersenyum mendengar hal itu, "Bukankah kita impas? Terimakasih sudah membantu Draco tadi, Aku akan berjalan-jalan sebentar. Aku akan ke kafe pukul 2."
...
Draco masih melahap eskrimnya, walaupun ia sedikit merasa kesepian karena tak ada yang menemaninya, taman bermain tak senyaman yang selama ini berada dipikirannya. Bahkan keceriaan orang-orang sedikit mengusiknya.
Sudah lama tak ada yang mampu membuatnya tersenyum begitu tulus selain membunuh atau ekspresi ketakutan akan manusia. Hanya itulah yang mampu membuatnya sedikit bahagia.
"Esnya sudah mencair, membosankan." ucap Draco berjalan keluar tanpa menghabiskan eskrimnya.
Mata kelabunya memandang orang-orang yang sangat bebas tanpa ketakutan sedikitpun, sementara dirinya masih belum bisa menenangkan diri.
Tak pernah ada memori indah ketika ia masih kecil, remaja bahkan sampai sekarang.
Yang ada hanyalah pembunuhan, obat-obatan terlarang, kekerasan dan berbagai kegiatan mengerikan lainnya.
Dari kecil ia selalu waspada kalau dia tak membunuh itu tandanya ia yang akan dibunuh.
Ia sedikit merenung dan mencoba untuk mengembalikan moodnya.
"Bukankah ini taman bermain? Seharusnya aku mencoba semua permainan ini! Aku sekarang kaya bukan? Buat apa harus memikirkan bagaimana caranya untuk bermain dengan salah satu wahana disini bukan? Aku kaya dan aku tak membutuhkan siapapun untuk menemaniku," ucap Draco mencoba untuk menikmati harinya.
...
Hermione melihat Theodore, pria itu memang tampan dalam posisi diamnya. Seperti tadi yang diucapkannya ia menunggu di kafe tepat saat mereka berkumpul tadi.
"Apakah kau sudah lama menunggu?"
"Tidak aku baru datang,"
Hermione menghela nafas ringan, "Banyak wahana yang menyenangkan hari ini. Apa kau bermain juga?"
"Yah, aku bermain beberapa."
"Mana Draco?"
"Dia menyuruhku untuk mengantarmu kembali. Kurasa dia tak akan pulang hari ini,"
"Baiklah kalau begitu kita harus kembali, kau lihat kulitku nyaris terbakar." Ucap Hermione berjalan dengan cepat, Theodore hanya mengikutinya dan berjalan disampingnya.
"Bisakah kau menggambarkan 4 kata seperti apa Draco itu?"
"Monster, kesepian, eskrim, berkuasa,"
"Es krim, kau lucu sekali Theodore." Ucap Hermione menyindir. "Kau tahu kurasa aku sudah menemukan bagaimana caranya untuk mendapatkan rahasia Draco,"
"Tubuhmu, bisa menarik dirinya. Percayalah."
"Terimakasih Theodore, kau manis sekali."
Tetapi pria itu berjalan lebih cepat untuk mendahului Hermione, "Menarik, wanita ini menarik. Aku penasaran bagaimana dia bisa bertahan dengan Draco," ucapnya dalam hati.
...
-To Be Continued-
A/N : Apakah kalian menyukainya?
Aku sangat menyukai review kalian, Sempat ada kendala untuk melanjutkan fic ini tetapi tenanglah aku bisa mengatasinya.. Kurasa chapter 3 akan Hot kyu-kyu-kyu tapi aku tak bisa berjanji.
Kurasa aku meyukai interaksi Theodore dan Hermione apakah kalian juga menyukainya? Dua pria ini benar-benar mempesona :)
Thanks juga yang sudah mereview, memfave, dan memfollow cerita ini, #membungkuk.
Akhir kata, Review please :D
Don't be A Silent reader, please.
Thanks to your respone guys :)
Dare, Clato-chan, erm-ridla99, narcissy, guest, ocha sasuHinaTachi, reply, loading, reply, , deAng, Wanda Adinda A. W, Ochan malfoy, Rinaakartikaa, amii, SkeppyDrackris, Kai Anbu, LarasatiiX18, , AbraxasM, Yellowers, Clairy Cornell, Vanesangelique, undhott, .
...
