"Apakah dia sudah keluar dari kamarnya?"

"Tidak, ini adalah hari ke-4 dia masih mengurung diri dikamarnya," ucap Theodore sembari menatap beberapa lembar dokumen penting ditangannya. Hermione hanya menatap pria itu dengan sedikit kecewa.

...

Hi, I'm Your Killer.

Author – C.O.N.S

Rated - T semi M.

Harpot Characters- J.K Rowling

Warning inside.

Don't Like Don't Read

...

"Aku akan kekamarnya," ucap Hermione, namun ekspresi wajahnya seolah meminta persetujuan Theodore dan pria itu mengacuhkannya, mendapatkan perlakuan seperti itu Hermione hanya mendengus kesal dan beranjak keluar dari ruangan Theodore.

Hermione mengenakan kemeja kotak-kotak kebesaran dan celana jeans selutut. Sebenarnya bukan tanpa alasan Hermione mendatangi Theodore di pagi hari. Hermione hanya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi kepada Draco, hanya itu saja.

Pada saat mereka terpisah, Hermione pulang bersama Theodore dan Draco tak pulang bersama mereka.

Setelah tiga hari tidak ada kabar dan Draco pulang saat tengah malam, ia tidak mabuk atau dalam pengaruh akohol atau obat-obatan terlarang. Tetapi Ia berjalan dengan kebisuan dimulutnya. Bahkan ia tak peduli akan tatapan Theodore yang meminta penjelasan kemana dirinya dan segera mengurung dirinya di kamar.

Semenjak itu Draco tak keluar dari kamarnya.

Hermione tak tahu apa yang terjadi kepada pria itu sehingga Draco mulai membatasi sendiri ruang geraknya. Tak ada yang diizinkannya masuk kekamarnya, bahkan Theodore. Semenjak kejadian itu Theodore yang mengambil alih semua tugas Draco dan mencoba untuk tidak memperdulikan keanehan saudaranya itu.

Bahkan mencoba untuk tidak pedulikan, ketika Hermione bertanya kepada Theodore apa yang sedang terjadi kepada Draco, pria itu seolah mendadak tuli dan bisu ketika ditanyai tentang Draco. Sikap Theodore yang seperti itu membuat Hermione berdecak kesal dibuatnya dan memutuskan untuk mencari tahu sendiri.

Selama ini pelayannya hanya meninggalkan makanan di depan pintu kamarnya lalu tiga puluh menit kemudian Draco baru mengambil makanan itu. Ketika ia selesai ia hanya akan menaruh makanan itu di tempat pertama kali ia mendapatkan makanan itu.

Sikap Draco benar-benar menjadi aneh dan sikap itu sepertinya sudah sangat biasa terjadi dirumah ini. Hal itu terbukti bahwa Theodore sama sekali tidak memperdulikan keanehan Draco. Namun Theodore sama sekali tak mengizinkan Hermione untuk mendapatkan celah sedikitpun atas informasi perusahaannya.

Hermione terdiam, perasaan tak nyaman perlahan melandanya. Memang ia harus dituntut untuk profesional namun ia merasa sedikit tersiksa, ia harus mendapatkan kelemahan Draco bagaimanapun caranya. Jika Theodore menyuruhnya untuk bersabar tetapi hatinya tidak.

Ia membenci apapun yang ada pada pria itu, rambutnya yang pirang, matanya sayunya yang kelabu serta bibirnya yang tipis. Ia membenci pria itu karena setiap kali ia menatap wajah Draco yang ia teringat akan pembunuhan kekasihnya yang dulu—Victor Krum.

Misteri yang sampai sekarang sudah tak ingin dilanjutkan lagi oleh Hermione. Ditambah lagi Hermione tak bisa memasukkan Draco kedalam penjara karena ia memiliki seorang pengacara yang hebat, Blaise Zabini.

Terkadang Ia masih mengingat bagaimana wajah Draco Malfoy, ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya.

Victor adalah anggota kepolisian yang paling patuh dan taat, pria itu masih muda sekitar 28 tahun dan menangkap Draco muda seharusnya bukan masalah untuknya mengingat umur Draco hanya 20 tahun. Ia bersama dengan Hermione yang dulu juga adalah salah satu bawahan Victor atau lebih tepatnya polisi baru yang ikut andil dalam penyergapan itu. Memang tak seharusnya Hermione ikut dalam misi itu, tetapi wanita itu bersihkeras untuk ikut. Banyak anak buah Victor yang meninggal akibat baku tembak sesama Mafia.

Namun setelah kejadian itu Hermione memilih untuk mengundurkan diri karena kecewa atas kematian kekasihnya.

Kejadian itu sudah cukup lama dan meninggalkan bekas bagi pemainnya. Baik Hermione maupun Draco sendiri bahkan seorang Theodore sekalipun. Karena pada saat Itu adalah puncak karir seorang Draco Malfoy yang kini menjadi seorang yang sukses. Penyergapan itu terjadi setelah polisi mendapatkan sebuah informasi bahwa Draco Malfoy dan anak buahnya mencoba untuk mengadakan suatu perjanjian antara Mafia. Hanya polisi yang mendapatkan informasi itu dan mencoba untuk menyergap mereka.

Terutama Draco, anak muda yang berbakat yang mampu menjadi kepala Mafia pada usia 20 tahun.

Draco adalah aset penting dalam penyergapan ini.

Mengingat misi ini cukup bahaya dan memaksa untuk Victor terjun kedalam misi itu. Dengan pangkat ketua Victor membawa banyak polisi untuk segera menyergap gedung tua yang tak terpakai itu. Namun salah seorang anggota mafia mengetahui kejadian itu dan suara pistol beradu satu sama lain mulai terdengar. Banyak polisi dan mafia yang tewas atas kejadian itu.

Namun Hermione menyadari bahwa hanya Victor yang berhasil mengejar Draco, dengan cara membunuh para pengawal pemuda itu dan kini ia menghilang entah kemana.

Hermione mencoba untuk menghubungi Victor namun pria itu sama sekali tak menjawab panggilannya, ucapan terakhirnya adalah 'aku bersama dengan Draco' hanya itu. Ketika Hermione akhirnya berhasil melacak dimana Victor berada. Ia melihat Draco menodongkan pistolnya, ia menggunakan tangan kirinya karena tangan kanannya terluka cukup hebat dengan wajah panik seolah tak percaya dengan apa yang ia lakukan sementara disebrangnya terdapat tubuh pria kekar itu tergeletak tengkurap dengan banyak darah disekitarnya.

Melihat hal itu Hermione segera menembakkan peluru kearah Draco sembari mendekati tubuh pria itu dan Draco berlari berusaha menyelamatkan dirinya.

Memang Draco tidak melihat wajah Hermione seluruhnya karena ia sudah berlari menyelamatkan dirinya sendiri.

Tetapi Hermione mengetahui seperti apa wajah Draco. Jika ia dibandingkan dengan pria umur 20 tahun pada umumnya ia memiliki tubuh yang kurus dan sangat tidak cocok dalam balutan setelan mahalnya. Tetapi sangat berbeda dengan sekarang, walaupun tubuhnya kurus tetapi ia membentuk tubuhnya dan sangat cocok menggunakan pakaian apapun.

Tanpa Hermione sadari kakinya sudah membawanya sampai pada depan pintu kamar Draco. Hermione mencoba untuk menenangkan semua emosinya. Walaupun Hermione sudah berjanji bahwa ia takkan membunuh Draco, tetapi hati kecilnya bernafsu untuk membunuh Draco.

Tangannya merasa dingin, bayangan masa lalu sedikit mengusiknya dengan perlahan ia mengetuk pintu kamar Draco.

Tak ada suara atau tanggapan dari Draco.

Hermione mengetuk lagi dengan sedikit keras.

"Siapa?" tanya Draco dengan suara yang aneh. Suaranya berubah menjadi serak dan parau, hanya dengan sebuah suara itu sudah membuat hati Hermione sedikit lemah.

Draco bisa membunuhnya kapanpun dan dimanapun, bahkan jika ia bisa menyuruh seorang sniper untuk menembakan pistol dari segala arah dan Draco tetap bersih dari tuduhan.

"Hermione," jawabnya.

Tak ada tanggapan dan Hermione mengetuk lagi dan lagi.

Kelihatannya Draco sedikit terganggu dengan ketukan Hermione, sehingga memaksa dia untuk membuka pintu kamarnya sendiri.

Pintu terbuka tetapi tak ada sambutan dari Draco, yang ada pemandangan cukup mencengangkan dari kamar itu.

Hermione perlahan masuk melihat seluruh ruangan berantakan. Bantal guling, selimut dan kain pelapis kasurpun sudah tergeletak tak beraturan. Buku-buku berada dilantai bawah terbuka, terbalik tak beraturan, hanya meja kantornya saja yang rapi dan Draco duduk tenang sembari membaca buku tebal itu. Draco memiliki sebuah tombol yang mampu membuat pintu kamar itu terbuka tanpa ia harus membukanya.

"Apa yang terjadi disini?" tanya Hermione matanya menatap sekelilingnya, ia terlalu terkejut dengan keadaan kamar yang berantakan ini sampai-sampai ia lupa tujuannya pertama kali datang ke ruangan ini.

Draco menatapnya dari balik buku yang dibacanya, pria itu tampak lebih mengerikan dari pada sebelumnya.

Kemeja dengan kancing yang terpasang tak rapi atau malah asal-asalan, rambut acak-acakan, kantong mata yang semakin tebal dan kacamata dengan bingkai hitam yang menempel pada wajahnya.

Kulitnya nampak semakin pucat karena disinari oleh pencahayaan yang kurang. Draco meletakkan buku yang dibacanya dan menatap Hermione, bukan hanya menatap atau lebih tepatnya mengawasi.

Yah, Draco mengawasi gerak-gerik wanita itu.

"Apa yang kau mau dariku?" pertanyaan Draco membuat Hermione sedikit terkejut. Ia mencoba untuk berjalan mendekati pria itu, Hermione kini menyadari kenapa polisi mampu tunduk kepadanya.

Pria ini benar-benar memiliki sesuatu aura yang menyelimuti seolah ada sesuatu yang melindunginya. Bukan jika diperhatikan lagi bukan sembarang aura melainkan hasrat atas kebenciannya atas masa lalunya, kebencian itu yang telah melindunginya dan menjadikannya seseorang pria seperti ini.

"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja,"

Draco terdiam dengan ucapan Hermione, namun matanya masih menatap wanita itu dengan waspada. Draco benar-benar berubah dari yang semula ramah kini menjadi seseorang yang waspada. Jika semula ia membebaskan Hermione kini ia tak percaya kepada wanita itu.

Mata hazel Hermione menyelidiki sesuatu benda yang mungkin menjadi bukti kewarasannya, beberapa kotak eskrim berada disamping meja kantornya berserakan. Setidaknya itu adalah bukti bahwa Draco masih menyukai eskrim.

"Ha, lucu sekali manis," Ucap Draco, ia tak bercanda bahkan dengan nada suaranya ia terlihat seperti mengalami depresi.

Hermione menyeritkan alisnya, "Ada apa denganmu?"

"Ada apa?" tanyanya lagi dengan nada sedikit mengejek, "Kau bertanya ada apa Hermione?" ia berdiri dari kursinya berjalan kedepan mendekati Hermione yang waspada.

"Lucu sekali kau mengkhawatirkanku, manis." Ucap Draco dan duduk di meja kerjanya. Kedua tangannya ia taruh di sekitar kakinya, matanya menatap kebawah dan bibirnya tersenyum tipis seolah mengejeknya.

"Apakah aku belum bilang kepadamu bahwa kau cantik?" ucapnya memuji, Hermione benar-benar meningkatkan kewaspadaannya sekarang.

"Belum,"

"Ah, kurasa aku sedikit ceroboh. Baru kusadari kau wanita yang cantik, sungguh!" ucapnya semakin keras, ia menutup kedua matanya dengan telapak tangannya. "Apakah kau membenciku?"

"Ya," ucap Hermione tegas.

Draco hanya tertawa kecil mendengar ucapan Hermione, dengan mata yang masih tertutup ia tertawa bertambah keras. "Tegas sekali? Kau sangat jujur, pantas kau menjadi seorang polisi hahaha,"

Hermione hanya diam tak menjawab pertanyaan itu.

"Kau benar! Kau seorang polisi, mana borgolmu? Apakah kau tak mau menangkapku?" ucapnya mengulurkan salah satu tangannya kepada Hermione.

Hermione berjalan mundur mencoba untuk menjaga jarak dengan pria itu.

Draco menaruh tangan yang menutupi matanya kebawah, kini mata kelabunya menatap sedih kearah bawah.

"CIh, bahkan menyewa seorang mantan polisi yang kini menjadi pembunuh bayaran untuk mengawasiku. Dasar pengecut! Tapi kalian lebih baik dari pada si brengsek itu!" ucap Draco tiba-tiba.

Wajahnya bergeser menatap Hermione, "Aku baru menyadari bahwa tak ada yang bisa kupercaya Hermione. Dan kurasa aku terlalu baik kepada Tom."

"Seharusnya aku benar-benar menghancurkan mereka!"

"Tom? Siapa Tom?"

"Ah, itu memang tugasmu ya mencari apa kelemahanku? Baiklah akan kuberitahu bahwa Tom Riddle satu-satunya anak buah yang kupercaya, aku tak menyangka bahwa dirinya mencoba untuk mengambil seluruh kekayaanku perlahan-lahan. Pantas uangku banyak yang menghilang akhir-akhir ini," ucapnya meremas kedua tangannya sampai pucat, Draco benar-benar benci dengan penghianatan dan itu yang terjadi sekarang.

Kemudian ia tertawa kecil, "Kau mau mencarinya Hermione?" tawarnya dengan nada manis.

Hermione hanya diam, "Tentu kau harus mencarinya untuk mendapatkan kelemahanku, tetapi maaf membuatmu kecewa manis yang kau bisa temukan hanyalah mayatnya saja, Hermione dear, " ucap Draco tertawa kesenangan.

"Baru saja ia meninggal, Ah tidak kurasa ketika kau dan Theodore pulang dari taman bermain dan aku pergi untuk mengurusi tikus kecil brengsek itu! Seharusnya aku tak perlu repot-repot untuk membunuhnya, tetapi seorang penghianat memang layak untuk dibunuh."

Draco masih menatap kearah bawah, kemudian itu mengerakkan sedikit tangannya seolah mengusir wanita itu, "Lupakan! Aku lelah dan aku tak mau berdebat denganmu. Terserah jika kau mau membawa kasusku kepengadilan. Aku tak peduli!"

"Terimakasih untuk informasinya Draco," ucap Hermione sopan, ia mengambil buku yang berada tepat disamping dirinya berdiri, mengambil buku itu dan menaruhnya di atas meja Draco.

"Selamat malam Draco," ucap Hermione menutup jendela kamar Draco.

Draco hanya memperhatikan wanita itu, walaupun dengan tatapan setengah kosong.

Hermione menyadari bahwa jika mendapatkan kelemahan Draco takkan berpengaruh kepadanya. Draco tak peduli akan kelemahannya dan berusaha untuk memutarbalikkan apa yang terjadi, seolah semua keberuntungan berpihak kepadanya.

Pantas saja Draco dengan santai menerima Hermione, ia merasa bahwa polisi hanya ingin melenyapkan dirinya karena sudah menjadi aib bagi kepolisian, tak seharusnya seorang polisi menjadi pembunuh bayaran yang handal bukan?

Ini adalah misi bunuh diri untuknya dan ia menyetujuinya.

Ternyata kepolisian sama saja, Hermione tak bisa keluar dari permainan ini dan menunggu sampai tiga bulan selanjutnya.

Walaupun sebenarnya apa yang diinginkan Hermione adalah mengungkapkan apa yang terjadi dengan kekasihnya dan hanya Draco yang bisa memberitahunya.

Apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu.

Apakah Draco benar-benar membunuh Victor?

Dan mengapa Victor berkerja sendiri, kenapa pria itu tak meminta bantuan anggota lain dan malah mengejar Draco sendirian?

Itulah yang sampai sekarang masih menjadi sebuah misteri yang belum terselesaikan.

Hermione terdiam menatap jendela yang ditutupnya, ia merasa bahwa ia gagal. Tak seharusnya ia berada disini.

Draco terlalu menakutkan dan alasan ia mau bekerja sama hanyalah Victor cuma itu.

Matanya menatap jendela dengan gorden hijau sutra itu mengulus kain itu dengan lembut.

"Apakah kau tak mau membunuhku Draco?" tawarnya ramah.

Draco terdiam namun sedikit tak peduli akan ucapan Hermione.

"Kenapa aku harus membunuhmu Hermione,"

Hermione mengeluarkan sebuah pisau disaku celananya, berbalik menatap punggung pria itu. Matanya putus asa, jika ia mampu membunuh Draco bukankah ini selesai?

Walaupun ia tak bisa mengungkapkan kematian kekasihnya tetapi setidaknya ia mampu membalaskan dendamnya bukan?

Hermione mengenggam pisau itu dengan erat dan bersiap untuk menusuk Draco tetapi Draco segera mengetahuinya dan berdiri dengan cepat memutarkan tagan Hermione kebelakang dengan cepat.

"Lepaskan pisaunya Hermione," ucapnya dengan tenang.

Tangan Hermione terkunci dan tubuh pria itu berada dibelakangnya. Bukan cuma itu tangan kanannya menahan tangan kirinya untuk tidak melawannya.

Walaupun Draco memiliki tubuh yang kurus tetapi cengkramannya pada Hermione memaksanya untuk melepaskan pisau hal itu berhasil kepadanya Hermione melepaskan pisau itu.

Jadi ini akhirnya Hermione akan mati bukankah itu bagus, ia akan bertemu Victor dengan cepat?

"Kau mencoba untuk membunuhku Hermione?" tanya Draco dengan nada yang aneh. Antara tenang tetapi seperti sedang menahan sesuatu dari nada suaranya.

"Kau bisa membunuhku Draco," ucap Hermione mencoba untuk tenang.

Tetapi Draco tak langsung menjawab perkataan Hermione melainkan mengambil sebuah borgol dari laci mejanya dan memborgol kedua tangan Hermione.

"Kau terkunci Hermione,"

"Aku tak akan membunuh Hermione karena aku tak menyukai membunuh seorang wanita. Tetapi jika aku terdesak aku akan membunuhnya,"

"Bukankah aku mencoba untuk membunuhmu? Seharusnya kau membunuhku,"

"Kau mau kubunuh? Bagaimana dengan cara lain?"

"Cara lain?" Hermione sedikit takut dengan ucapan Draco. Apa yang ingin dilakukan pria itu?

Draco perlahan menyampingkan rambut Hermione kearah kiri, menatap lehernya yang putih mulus. "Bagaimana kalau kita sedikit bermain?"

"Hentikan, Draco! Lebih baik kau membunuhku saja!" ucap Hermione meronta-ronta. Tetapi teriakan itu adalah kesenangan untuknya.

Draco mencekram muka Hermione dari belakang dengan tangan kirinya sementara ia memeluk pingul Hermione yang ramping dengan tangan kanannya. "Kau memiliki kulit yang bagus untuk seorang pembunuh Hermione,"

"Kecantikan adalah kuncinya Draco,"

"Oh, kau benar. Berarti kau tak keberatan bukan kalau aku mencobamu sebentar?"

Jantung Hermione berdetak lebih kencang, Draco benar-benar mengintimidasinya dan hal itu yang paling dibencinya dan sebenarnya Hermione tak menyukai posisi ini. Seharusnya dia yang mengintimidasi bukan Draco.

Ia dapat merasakan pada saat hidung Draco menciumi leher putihnya dan menimbulkan sensasi aneh yang membuatnya sedikit lemah dan takut. Dengan tangan terbogol ia tak mampu melakukan apapun dan itu membuatnya tak mampu melawan Draco.

Draco menciumi leher putihnya itu dengan perlahan, menjilat lehernya, lidah kering itu benar-benar membuatnya takut. Dan kini Draco memaksa wajahnya untuk menatapnya, mata kelabu itu mengunci mata hazelnya dan perlahan Draco menciumnya dengan kasar.

Draco menekan bibirnya, melumat satu sama lain dan memaksa Hermione untuk bermain bersamanya, tetapi Hermione mencoba untuk melawan.

"Draco! Hen.. Hentikan, bodoh!" ucap Hermione mencoba untuk melawan pria itu dan semakin Hermione melawan Draco semakin menikmati ciuman mereka.

Hermione mencoba untuk mencari celah dari perlawanan Draco, dan ia menginjak kaki Draco dan menendang kakinya dengan keras membuat Draco terkejut membuat ia melonjak mundur serta menjerit kesakitan.

Hermione segera berlari keluar dari kamar itu dengan tangan terbogol, salah jika ia berpikir bahwa mengetahui keadaan Draco ternyata lebih menakutkan dari apa yang semula ada dipikirannya.

Draco menyentuh kakinya yang sakit, Hermione menendang tepat pada tulang keringnya membuat Draco kesakitan tetapi ia sama sekali tak marah kepada wanita itu. Bahkan semakin tertarik.

Draco mengulus kakinya yang terluka, "Bahkan dalam keadaan terborgol seperti itu, ia masih bisa melawanku? Bukankah ini menarik? Membunuhnya sekarang tak ada gunanya. Beruntung kau memiliki bibir yang nikmat Hermione, jika tidak mungkin pisau itu sudah menancap pada perutmu," ucapnya sambil tertawa mengingat kejadian yang baru saja ia alami.

"Selanjutnya apa yang harus aku pakai? Pisau? Kayu? Atau hahaha. Memikirkannya saja membuatku bergairah, wanita itu memang menarik,"

...

Theodore sedang duduk menikmati waktu istirahatnya, walaupun tumpukan kertas-kertas masih menghiasi meja kerjanya. Tetapi ia tak mau melewati waktu istirahatnya, menikmati secangkir espresso kesukaannya.

Sebuah ketukan dengan suara aneh seperti ditendang oleh kaki terdengar.

Ia hanya mendengar dan tak berniat membuka pintu itu karena pintu itu memang tak dikunci dan tentu saja orang itu bisa membukanya.

Tetapi suara itu terus terdengar membuat Theodore mneyerah dan berdiri dari kursinya, membuka pintu itu sendiri. Ia sedikit terkejut melihat Hermione dengan keadaan berantakan dengan nafas tak beraturan. "Apa yang sedang terjadi kepadamu?"

"Draco memborgolku, bisakah kau melepaskannya?"

"Draco yang memborgolmu? Bukankah seharusnya kau meminta kuncinya kepada dia? Untuk apa datang kepadaku?" tanya Theodore melipat kedua tangannya di dada.

"Cih. Buat apa aku datang kemari kalau Draco mau membuka borgol ini,"

"Kau sendiri yang mau datang kekamarnya Hermione. Jika Draco bersikap aneh lebih baik kau tak mendekatinya. Aku tak tahu apa yang kalian bicarakan sampai-sampai Draco memborgolmu seperti itu. Tetapi hanya dia yang memiliki kuncinya, mintalah."

Hermione kesal, saat ia lengah dan tak berpikir panjang , ia tak menyangka bahwa Draco mampu memborgolnya dengan cepat, padahal keadaan itu sedang gelap dan seharusnya pria itu tak bisa menghindar dari serangannya.

"Lebih baik borgol ini tak lepas dari pada aku harus pergi bertemu dengannya,"

"Baiklah nona keras kepala, aku hanya memberitahumu. Draco memiliki kuncinya, mintalah jika ia sedang dalam mood bagus ia akan melepaskanmu. Tetapi kalau ia sedang tidak mood mungkin dia akan membunuhmu,"

Hermione menyerah, "Tak bisakah kau membantuku Theodore?"

"Kau mau dengan cara kasar? Aku akan menyuruh orang untuk mematahkan borgol itu dengan kapak atau mesin las? Hanya saja kalau ia meleset kau kehilangan tanganmu,"

"Apakah kau memiliki cara yang lebih bagus?!" bentak Hermione kesal dan Theodore hanya menatapnya dengan pandangan aneh.

"Aku akan berbicara kepada Draco," ucap Theodore sembari melipat kedua tangannya dan berjalan melewati Hermione. Wanita itu hanya mengikutinya di belakangnya dan berharap Draco mau memberikan kuncinya.

Kamar Draco tidak terkunci bahkan sekarang kamar itu sedang dibersihkan oleh para pesuruh. Kelihatannya mood Draco sudah bagus sampai-sampai ia mau keluar dari tempat persembunyiaannya.

"Dimana Draco?" tanya Theodore kepada salah satu pesuruh.

"Saya tidak tahu Tuan Theodore. Tuan Draco menyuruh kami untuk merapikan kamarnya, hanya itu."

Theodore mengeluarkan ponselnya, menyentuh layarnya kemudian ia menempelkannya pada telinganya.

Cukup lama tak ada yang mengangkat dan ia terus mencoba untuk menghubungi Draco.

"Tidak ada jawaban," ucapnya singkat. "Kurasa kau harus bertahan dengan keadaan seperti itu Hermione. Rumah ini begitu besar dan Draco bisa dimana-mana," ucap Theodore sembari menatap layar ponselnya.

"Kurasa aku harus pergi, ada rapat sebentar lagi." Ucapnya, kemudian menatap Hermione. Wanita itu terlihat kesal dengan keadaannya, walaupun ia terlihat lucu juga dengan ekspresi muka kesalnya.

Hermione menyerah dan kembali menuju kamarnya.

Ketika ia kembali menuju kamarnya ia dikejutkan dengan seorang pria yang sedang duduk manis di atas ranjangnya.

"Well, kau sudah kembali?" ucapnya dengan gembira.

Hermione hanya menatapnya sinis, ternyata pria yang dicarinya berada dikamarnya tersenyum lebar menatapnya.

"Lepaskan aku Draco,"

"Ah, kenapa kau tak berbasa-basi dulu Hermione? Padahal aku ingin berbincang-bincang dulu denganmu," ucapnya manis.

"Lepaskan borgol ini!"

"Atas semua yang sudah kau lakukan kepadaku, kau memang harusnya dihukum Hermione. Pertama kau mencoba untuk membunuhku, namun aku bisa menghindar darimu bukan. Kedua, kau menendang kakiku tepat pada tulang kering dan kini aku berjalan sedikit pincang."

"Dan kini kau memaksaku untuk melepasmu? Kalau aku melepasmu mungkin kau bisa membunuhku bukan Hermione?"

"Tentu,"

Draco berbaring diranjangnya, "Karena itu lebih baik kau terborgol Hermione. Baiklah kalau kau bisa melukai tubuhku aku akan memberikan kunci ini kepadamu," ucap Draco menunjukan kunci kecil.

"Melukai? Sampai berdarah?"

"Tidak, hanya melukai Hermione bukan membunuh. Tapi kalau kau tak bisa melakukannya dalam lima belas menit, aku akan memberikan servis ekstra untukmu," ucap Draco menawarkan sebuah penawaran yang menarik. "Tangan kosong Hermione,"

"Bagaimana bisa? Dengan tangan kosong aku melukaimu?"

"Tendanganmu itu cukup membuatku kesakitan Hermione,"

"Tidak, bisakah kita melakukan cara yang lain? Aku tak mau melukaimu karena kau bisa membunuhku sewaktu-waktu."

Draco terdiam sesaat.

Kemudian ia berbicara dengan nada ceria, "Baiklah, kita menggunakan cara lain." ia membuka kepala ikat pingang yang dipakainya, melonggarkan celananya dan memasukkan kuncinya kedalam celananya. Kemudian ia menyeringai puas. "Ambilah, kau sudah melihatnya bukan dimana tempatnya? Ambilah. Aku takkan menyerangmu,"

Hermione menatap apa yang dilakukan Draco dengan tatapan tidak percaya, pria ini gila atau mengalami sedikit gangguan? Ia tahu bahwa Draco sangat menyukai permainan, sesuatu yang diluar akal sehat adalah kesukaannya. Tapi perlakuan ini benar-benar menyebalkan.

Hermione mencoba untuk berpikir dan mencari cara lain agar ia tak memasukkan tangannya. Tangannya terlalu berharga.

Hermione berjalan mendekati Draco secara perlahan dan berjalan dengan gerakan sedikit sensual dan pria itu menatapnya dengan pandangan penasaran akan reaksi Hermione, ia mengulus rambut Draco dan pria itu masih menyeringai menebak-nebak apa yang akan dilakukan Hermione kepadanya.

Hermione perlahan memiringkan kepalanya dan mencium perlahan bibir Draco. Pria itu hanya menikmati ciuman itu, walaupun ia masih penasaran apa selanjutnya. Hermione menaruh tangannya pada leher Draco seolah-olah mereka berpelukan dengan rantai yang berada di belakang leher Draco.

Hermione masih bercumbu pria itu, ciuman mereka yang panas perlahan Hermione sedikit menegakkan badannya dan menarik leher Draco perlahan untuk berdiri dan pria itu mengikutinya tangan Draco memeluk pinggul wanita cantik itu.

Tetapi Hermione menghentikan ciumannya membuat Draco menatapnya dengan bingung. "Draco aku sangat tidak nyaman dengan posisi ini," ucapnya manis, ia menatap kearah lain dengan wajah sedikit memerah walaupun seringai wajahnya yang sedikit menantang membuat Draco sedikit tertarik.

Draco tersenyum melihat perubahan ekspresi Hermione dan mengerti maksudnya. "Kau seharusnya mengambilnya sendiri Hermione, atau kita bermain dengan tangan teborgol itu lebih menarik," ucap Draco bercanda.

"Kau tahu Draco, aku memang selalu tertarik kepadamu. Bisakah kau melepaskannya sebentar. Aku benar-benar tidak nyaman, cengkramanmu yang sebelumnya sudah melukai salah satu tanganku. Lepaskan borgol ini,"

Draco tertawa mendengar ucapan Hermione, "Kau pikir aku akan luluh dengan ucapanmu Hermione?"

"Bukankah pada posisi ini kau yang tidak diuntungkan?" ucap Draco.

"Kau benar," ucap Hermione melepaskan pelukannya dengan menaikan tangannya dan berjalan mundur sebanyak dua langkah, dan hal itu membuat Draco melepaskan tangannya dari pingul wanita itu lalu kembali duduk diranjang itu.

Hermione menatap kunci yang sudah tergeletak di lantai dan segera mengambilnya lalu berlari keluar. Tanpa Draco sadari bahwa ketika pria itu berdiri kunci itu meluncur kebawah dan keluar dari salah satu kakinya. Karena terlalu terfokus atas ciuman itu sehinggga membuat Draco tak merasakan bahwa kunci itu sudah jatuh dari celananya.

"Aku menang Draco," ucapnya berteriak senang, Draco hanya tersenyum setelah mengetahui bahwa Hermione bersikap licik sama sepertinya.

"Kau benar. Baguslah setidaknya kau menggunakan otakmu," kekehnya dengan apa yang baru ia alami. Ia tak menyangka bahwa Hermione mampu menyandingi permainannya, banyak wanita yang menyerah dan mengambil kunci itu, tapi Draco tak pernah menyangka bahwa Hermione akan menggunakan sedikit tipuan dengan cara menciumnya agar rencananya tidak ketahuan.

Walaupun hatinya sedikit senang karena menemukan sesuatu yang mampu menariknya, tetapi insting bertahannya semakin besar, ia menyadari bahwa Hermione berbeda dengan kepolisian dan bahkan wanita itu sempat mau melukainya.

Walaupun Hermione tak menyadari tetapi pisau itu sedikit menyobekkan kemejanya dan sedikit menggoreskan luka pada kulit pucatnya karena itu darah segar bersamaan dengan rasa perih mulai merasukinya, namun ia tak peduli dan segera menuju kamar Hermione dan mencoba agar Hermione tak menyadari bahwa wanita itu berhasil melukainya. Memang harus diakui bahwa selama 3 hari penuh ini dirinya tidak bisa tidur dan kerena itu ia sedikit kehilangan fokus dan pergerakannya tak selincah biasanya.

Draco berdiri dari ranjang, lebih baik ia segera kembali menunju kamarnya sebelum ada beberapa orang yang mulai menyadari kemejanya yang sedikit robek.

Ponsel Draco berbunyi dan dengan cepat pria itu mengambilnya dari saku celananya.

"Ada apa?" tanyanya pada seseorang yang menelponnya.

"Maaf Mr. Malfoy, Ada seseorang yang menunggu anda,"

"Siapa? Aku sedang tak ingin bertemu dengan siapapun saat ini,"

"Tapi dia bilang dia ingin berbicara dengan anda, dia sedang menunggu anda di ruangan kantor anda tuan,"

"Bilang padanya bahwa aku tak mau bertemu dengan siapapun saat ini,"

"Dia bilang, dia bagian keluarga anda,"

Draco terdiam, keluarga? Itu adalah kata-kata yang sensitif untuknya. Lagipula sudah tidak ada yang mengangap dirinya dan Theodore adalah bagian dari keluarga bangsawan, keluarganya sendiri juga tidak peduli akan dirinya dan Theodore ketika waktu masih kecil. Persetan dengan keluarga, mereka sudah Draco anggap meninggal sejak dirinya masih kecil.

Tetapi rasa penasaran mengelitiknya membuatnya sedikit ingin mengetahui siapa orang yang masih menyebutnya bagian dari keluarganya.

"Baiklah, aku akan segera kesana."

-To Be Continued-

A/N : Apakah kalian menyukainya?

Aku sangat menyukai review kalian, Sempat ada kendala untuk melanjutkan fic ini tetapi tenanglah aku bisa mengatasinya.. Dan seperti janjiku aku memberikan cerita yang sedikit panas disini, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada Chapter 4 jadi aku belum bisa memberikan cluenya hahaha... #Gomen,

Kuharap kalian masih menunggu cerita ini :)

Thanks juga yang sudah mereview, memfave, dan memfollow cerita ini, #membungkuk.

Akhir kata, Review please :D

Don't be A Silent reader, please.

Thanks to your respones guys :)

Jenny Hallwask, Macey harris, andreanibebe, bunu, sentiia15, amii, Wanda, Narcissy, Clato-chan, Rinnakartikaa, Loading, , apple, yelowers, electra malfoy, Evelyn Malfoy, DeAng, Undhott, vanesangelique, Dare, Clato-chan.