Draco menatap kaca bening yang menampilkan pemandangan kota dengan rutinitas sehari-hari, mata kelabunya memperhatikannya dengan sesama dan menatapnya dengan pandangan kosong, terkadang ia juga mengetukkan jarinya pada kaca itu kemudian diam seolah membeku.

Sementara ia memperhatikan kaca dari ruangan kantornya ada sesuatu yang membuatnya sedikit tidak nyaman. Seseorang yang sedang duduk disebrang meja kantornyalah yang membuatnya seperti ini, Regulus Black.

...

Hi, I'm Your Killer.

Author – C.O.N.S

Rated - T semi M.

Harpot Characters- J.K Rowling

Warning inside.

Don't Like Don't Read

...

Pria paruh baya dengan mata dingin serta rambut pirang yang panjang, ia mengenakan kemeja serta jas hitam terbaik yang dimilikinya, pria itu duduk dengan tidak nyaman pada kursi empuk yang disediakan.

"Tenanglah, kau sudah datang kemari dari jauh." Ucap Draco tiba-tiba dan berbalik menatap pria itu dengan pandangan aneh. Ia memasukkan kedua tangannya kesaku celananya dan berjalan mendekati meja kantor kayu mewah miliknya.

"Apa kau mau minum teh?" tawarnya sopan.

"Ya," ucapnya kemudian melipat kedua tangannya.

"Pansy bawakan pria ini teh untuknya dan teh untukku." Ucap Draco menekan tombol dimejanya dan dengan cepat wanita itu segera datang ketika mendengar perintah dari Draco. Wanita dengan rambut pendek bob berwarna hitam serta kemeja hitam dan rok mini hitam membawakan dua cangkir teh dan beberapa kantong mini gula. Ia menaruh cangkir-cangkir itu diatas meja Draco dengan sopan, "ada lagi tuan?"

"Tidak, kau boleh pergi," ucap Draco.

"Silahkan nikmati minumanmu Regulus," ucapnya sopan, Draco mengambil cangkir teh miliknya dan membuka nyaris semua kantong mini gula yang disediakan dan memasukkan semuanya kedalam minumannya lalu mengaduknya dengan sendok teh, kemudian meminumnya dengan nikmat.

Regulus juga mengambil minumannya dan meminumnya sedikit, lalu ia memindahkan duduknya semula ia bersandar dan kini ia menegakkan punggungnya, "lama tak bertemu denganmu Draco, bagaimana keadaan adikmu?"

Draco tersenyum mendengarnya. "Baik seperti yang kau lihat Regulus, baik aku dan Theodore tumbuh menjadi pria yang hebat."

"Aku senang mendengar berita tentangmu, yang kini menjadi seorang yang sukses." pujinya.

"Senang? Apakah kau yakin kau senang dengan keberhasilan kami? Bukankah kau mengharapkan berita yang lebih menarik dari itu seperti kematian pewaris tahta terakhir keluarga Malfoy?" ucap Draco dengan nada menyindir.

"Apa maksudmu Draco, aku sangat senang kau bisa menjadi seorang yang hebat." Ucapnya dengan perasaan getir pada mulutnya.

"Baiklah, hanya saja—aku tak yakin bahwa kau senang melihatku berdiri dihadapanmu dan tertawa akan ucapanmu bukan?" ucap Draco menaruh kembali cangkirnya, "Ah aku ingat bagaimana dengan masalah adopsi itu? Aku yaris lupa bahwa kau adalah orang yang seharusnya merawat kami. Yah, kau benar—kau merawat kami lalu membuang kami bukan?"

Regulus terdiam, memang ucapan Draco itu benar, ia memang membuang Draco dan Theodore, lalu merekayasa dan bilang kepada pemerintah bahwa anak kecil itu kabur darinya. Padahal Draco dan Theodore diikat lalu dibuang sembarangan di kota yang kumuh dan kotor jauh dari tempat tinggal mewah mereka.

Draco menyandarkan pungungnya, menatap langit-langit kantornya. "Ah benar-benar indah. Kini kau orang yang membuang kami datang dihadapanku dan melangkahkan kakinya sendiri dikantorku. Ayolah jangan membuatku penasaran, apa yang kau inginkan Regulus?"

"Aku ingin kau membantuku Draco, kau tahu perusahaan kami sedang kritis dan jika kau berbaik hati maka kau bisa menyelamatkan perusahaan kami," ucapnya dengan dingin menyerahkan beberapa lembar map pada meja Draco.

Draco hanya melirik map itu dan tidak membacanya, kemudian menatap Regulus lalu ia menyeringai puas, "Apa kau tak punya malu Regulus? Oh ya, aku lupa kalau kau berasal dari keluarga bangsawan yang sangat haus dengan harta. Apa kau kalah dengan persaingan saudara-saudaramu yang lain?"

"Kami tidak seperti itu Draco,"

"Tapi itu yang aku lihat dan ingat," ucap Draco mencoba tenang.

"Mulutmu begitu kotor Draco. Oh ya aku lupa kau besar dari kalangan sampah. Tak seharusnya aku meminta bantuan kepada anak kecil yang suka bermain pistol dan membunuh sesukahatinya. Kau adalah seorang anjing pecundang yang mencoba untuk menahklukan para serigala dihadapanmu Draco."

Draco merenung semua perkataan Regulus, lalu berdiri dari kursinya, "Kurasa itu yang kau dengar semua tentangku. Memang benar, bahwa aku tumbuh dari kalangan sampah dan aku bersumpah untuk tidak menjadi seperti mereka. Jika kau berpikir bahwa aku hanyalah anak kecil yang menyukai bermain pistol." Ucapnya terhenti berjalan mendekati Regulus yang menatapnya dengan padangan dingin menusuk.

"Akan kuberitahu kepadamu bagaimana aku menguasai mafia ketika umurku 18 tahun," ucap Draco tersenyum kecil.

"Apa yang mau kau lakukan?!" seru Regulus sedikit panik dengan pergerakan Draco.

"Aku tak membawa senjata apapun. Kurasa sebaiknya aku menceritakan sedikit kepadamu. Ketika aku berumur 18 tahun aku mendatangi markas seorang mafia. Kau tahu apa yang aku ucapkan?"

"Ka.. kau mau bergabung dengan mereka?" tebaknya.

"Tidak. Sayangnya kau salah." Ucap Draco mencoba untuk mengingat masalalunya, "Aku berhadapan dengannya dan mengucapkan satu kata, 'Jadikan aku ketuamu,' hanya itu."

"Kau gila, kau seorang amatir dan kau mau memimpin seorang kelompok mafia?!"

"Itu benar, aku seorang amatir seperti yang kau bilang. Tapi kurasa ancamanku berhasil,"

"Regulus tatap mataku dan kau akan mengerti semuanya." Draco menekan kepala Regulus mendekatinya, menatapnya dengan pandangan yang dingin bukan cuma itu melainkan suatu perasaan aneh disekitarnya. Aura kebenciannya dan haus akan membunuh perlahan mulai menguasai ruangan itu.

Matanya menunjukan kebencian yang sangat mendalam terhadap semua kejadian gelap yang ia dapatkan, kebencian terhadap semua orang dan kepercayaan akan dirinya sendiri adalah kuncinya bukan cuma itu, tak ada keraguan sedikitpun dalam matanya dan itulah yang menyebapkan orang menunduk hormat kepadanya.

"Aku mengancam mereka dengan membunuh ketua mereka,"

"A ... Apa yang kau lakukan kepada ketua mereka?" ucapnya bergetar. "Aku membuka bajuku dan mereka terkejut ketika melihat granat itu melapisi tubuhku. Aku mengancam mereka bahwa aku tak hanya memasang granat pada diriku melainkan juga bom untuk meledakkan mereka. Tentu melihat hal itu mereka membuka jalan untukku bahkan ketua mereka hanya membisu melihat kegilaanku."

"Kau mau apa yang dikatakannya?"

Draco tersenyum lebih lebar, menjilat bibir bawahnya dan menyeringai puas. "Aku cocok untuk menjadi anggota timnya dan ia akan memberikanku posisi tertinggi untukku. Tapi aku tak menginginkannya, yang kuinginkan adalah menguasai koloni kecil ini."

"Aku mengeluarkan sebuah pistol dari sakuku dan menodongkannya pada ketua mereka. Tentu para anggota itu mengeluarkan pistol mereka, kejadian itu benar-benar menarik Regulus. Tapi aku mengetahui pergerakan mereka dan mengancam mereka, bahwa jika mereka membunuhku itu sama saja dengan bunuh diri."

"La ... lalu apa yang kau lakukan?" ucap Regulus memaksa semua suaranya untuk keluar dari mulutnya.

"Aku menembakkan pistol pada mulutnya dan memaksakan agar pistol itu masuk kedalam mulutnya agar ia lebih cepat meninggal." Ucapnya sambil terkekeh pelan.

"Kau gila! Kau benar-benar gila!"

"Tapi berkat kegilaan itu tak ada yang berani melawanku bahkan ketika aku mengambil posisi ketua mereka,"

"Jika kau bilang bahwa aku hanya bisa membunuh dengan pistol. Aku bisa membuatmu pingsan hanya dengan semua tekanan ini Regulus, " ucap Draco manis, mengalungkan lengannya pada leher Regulus menutup mata pria itu dengan telapak tangannya.

Lalu membisikkan kata-kata mencekam untuknya, "apakah kau dapat merasakannya? Perasaan dimana kau selalu terancam oleh binatang buas? Aku bisa menyembunyikan nafsu untuk membunuhku, hanya saja jika aku bertemu dengan seseorang yang mengancamku."

"Aku tidak segan-segan membunuh mereka baik menggunakan pistol atau menggunakan kekuatanku sendiri," ucap Draco menjilat leher Regulus.

"Bukankah ini menarik Regulus, ingatlah selalu hari ini Regulus dan semua perasaan kebencian ini. Ingatan ini akan selamanya membekas, Regulus."

Draco benar-benar mengancamnya, tangannya yang dikepal rapat olehnya perlahan bergetar hebat, matanya menatap kaca kantor Draco dengan terbelalak dan keringat dingin keluar dari kulitnya yang pucat. Jantungnya berdetak kencang dan pikirannya tak mampu memikirkan apapun hanya terkunci dengan kejadian yang baru saja ia alami. Ucapan itu bergelung-gelung dalam telinganya seolah itu adalah perkataan yang akan membawanya menuju kematiannya sendiri.

Draco melepaskan ancamannya dan menyisakan ketakukan mendalam untuk Regulus. "Kau boleh keluar Regulus," ucap Draco dan berjalan duduk kembali menuju kursi kantornya yang yang nyaman, ia menyandarkan punggungnya dan menatap Regulus, pria itu sudah membatu.

Regulus mencoba untuk berdiri dari kursinya, ia mencoba untuk berjalan normal, namun ia tak bisa ancaman itu terlalu menakutkan untuknya. Kakinya sedikit melemas dan membuat ia harus menyeret tubuhnya tetapi ia sama sekali tidak sadar akan apa yang sedang ia lakukan. Mengapa ia tak berjalan normal atau apa.

Dua kali langkah berat, kemudian ia baru menyadari semuanya. Kesadaran yang baru saja diambilnya perlahan muncul merasuki dirinya dengan cepat, memaksa semua sisa-sia kekuatan dari tubuhnya untuk menerima kesadarannya. Ia menyentuh gangang pintu dan dalam hitungan detik.

Ia menjerit-jerit bagaikan bertemu oleh monster yang menakutkan untuknya.

"Tolong aku! Keluarkan aku dari sini!" jeritnya memohon agar orang mau membantunya untuk keluar dari ruangan kerja Draco.

Draco menekan tombol kecil dari mejanya, dengan otomatis pintu itu terbuka dan Regulus segera keluar dari ruangannya.

"Karena itu aku lebih suka pistol dari pada mental. Tetapi melihat ekspresinya mampu membuatku puas. Jika aku tidak salah kurasa mentalnya sedikit tergangu, kalau ia berhasil pulih dan ketika melihat wajahku ia akan menjerit ketakutan hahaha." Tawanya lebar, kemudian ia menikmati kembali tehnya.

"Ah manis sekali hari ini. Kurasa berlibur ke Canada bagus juga," ucap Draco tertawa kecil.

...

Hermione melipat kedua tangannya dengan kesal sembari menatap pria yang memakan eskrimnya dengan lahap. "Apa yang kau inginkan dariku? Kenapa kau mengajakku kemari?"

Pria yang ditanyainya tak menjawabnya dan masih menikmati eskrimnya.

"Jawab aku Draco,"

"Aku sedang bahagia hari ini Hermione," ucapnya menyeringai puas.

"Lalu?"

"Kurasa aku tak mau menceritakan apa yang membuatku bahagia hari ini manis. Ayo kita berlibur, aku sudah memesankan tiket untuk kita berdua."

"Aku menolak,"

"Aku memaksa Hermione."

Hermione hanya terdiam, jika ia mengikuti Draco setidaknya ia bisa mendapatkan sedikit celah untuk mengungkapkan kelemahan pria itu. Tapi apakah ia akan baik-baik saja ketika ia berlibur bersama dengan Draco?

"Maaf, aku tak bisa."

"Baiklah, berikan aku seribu alasan apa yang mampu membuatmu tak mau pergi bersamaku?"

"Seribu? Apakah itu tidak terlalu banyak?"

"Baiklah 10. 000 alasan kenapa kau tak mau ikut denganku. Dalam waktu 30 detik kalau kau tak bisa menjawabnya, kau ikut denganku."

Hermione mendenguskan nafas kesal bersandar pada sofanya, "aku tahu walalupun aku bisa menjawab 10.000 alasanpun kau tetap akan memaksaku untuk ikut bukan?"

"Yep, ucapanmu benar sekali. Kurasa kau harus bersiap-siap Hermione karena kita akan berangkat hari ini,"

"Tak bisa ditebak itu adalah sifatmu yang mendarah daging Draco,"

"Apakah itu pujian Hermione? Kalau iya aku senang sekali."

Draco mengambil ponselnya dan terdapat pesan singkat dari Theodore.

'Temui aku sekarang, di Madame Pies,'

Draco hanya tersenyum kecil kemudia memasukan ponselnya kembali kesakunya.

"Baiklah kurasa pertemuan kita selesai. Ada seseorang yang harus kutemui. Siapkan dirimu Hermione," ucap Draco dan beranjak pergi dari tempat duduknya.

Hermione hanya mendesah kesal, "sampai kapan aku terus bersamanya? Tiga bulan terasa sangat lama,"

...

Theodore menatap sekelilingnya berusaha mencari seseorang yang ditunggunya dari tadi. Walaupun ia mencoba untuk tenang dalam keadaan cafe yang cukup sepi ini tetapi tetap saja ia tak bisa tenang.

Ia tahu kejadian yang dilakukan Draco pagi ini, bukan lebih tepatnya pada siang hari dan bertepatan dengan ketika dirinya keluar dari kamarnya. Ia tahu bahwa Draco berada di bawah kondisi yang mampu membuat sesuatu dari bagian tubuhnya yang tidak sepantasnya keluar, kini perlahan-lahan keluar berusaha mencoba mengambil alih tubuhnya serta pikirannya.

Karena itu Theodore meminta Draco untuk segera datang menemuinya.

Pria yang ditunggunya tersenyum kecil berjalan mendekatinya, ia sedikit melambaikan tangannya dan Theodore hanya menatapnya dengan sinis sementara di tangan kanannya ia memegang menu.

"Apa yang membuatmu risau Theodore?" tanya Draco dan segera duduk pada sofa empuk bersebrangan dengan Theodore.

"Apa yang terjadi Draco. Berikan aku penjelasan,"

Pria itu tak segera menjawab pertanyaan Theodore melainkan membuka menu itu mengamati nama serta gambar-gambar yang membuatnya tertarik kemudian memesan menu yang ia suka.

Diacuhkan begitu saja membuat Theodore menunggu sampai Draco menyelesaikan pesanannya.

"Jawab," ucap Theodore singkat, mencoba untuk membawa Draco fokus akan ucapannya.

"Apa? Apa yang terjadi?" ucap Theodore. "Regulus, apa yang diinginkan dia,"

Draco menatap Theodore dengan tatapan gugup, sedikit menggesekkan tangannya pada siku tangannya. "Dia ingin meminjam uang,"

"Lalu mengapa ia berteriak setelah keluar dari ruanganmu,"

"Aku mengancamnya. Hanya itu. Apakah kau menyuruhku kesini untuk memberitahu detailnya? Aku bukan anak kecil Theodore yang harus setiap saat menjelaskan kepadamu apa yang kulakukan. Bisakah kau memberiku sedikit jarak? Aku rasa hubungan kita semakin intim dan aku tak menginginkannya,"

"Maksudmu?" tanya Theodore menaikkan salah satu alisnya dan menatap Draco bingung.

"Aku tak ingin kau terlalu mengawasiku Theodore. Walaupun kau saudaraku. Ada cerita yang aku ingin beritahu kepadamu dan ada cerita yang tidak ingin kuberitahu kepadamu."

Theodore terdiam dan Draco masih menatapnya dengan pandangan aneh.

"Baiklah, melihatmu terdiam membisu itu membuatku sedih." Ucap Draco kemudian, ia mengambil kotak rokok dari saku celananya dan membukanya.

"Kau tidak bisa merokok disini Draco."

"Kalau begitu, ayo kita pergi dimana kita bisa merokok. Ayolah temani aku," ucap Draco walaupun ia berbicara dengan nada senang tetapi Theodore tahu bahwa dirinya sedang meredam sesuatu.

Theodore selalu mengingat bahwa kematian yang dihasilkan oleh tangan Draco meninggalkan bekas mendalam untuknya.

Draco tidak akan membunuh orang yang sembarangan.

Hanya penghianat yang ia bunuh, dan ia selalu senang dengan ekspresi ketakutan manusia karena setiap ia melihat ketakutan akan penghianat itu hatinya merasa sedikit lega atas pengkhianatan mereka.

Dia membenci semua orang dan bersumpah untuk membunuh semua penghianat tanpa kecuali bahkan mantan tunangannya sendiri.

Draco keluar dari restoran itu dan duduk pada tingkatan batu pemisah jarak antara cafe dan jalan raya. Ia duduk dengan nyaman kemudian mengambil rokok itu dan menyalakannya lalu menghisapnya serta mengeluarkan asapnya secara perlahan.

"Apa yang kau lakukan mematung seperti itu? Duduklah disampingku dan kita akan bernostalgia seperti kita muda dulu,"

Theodore hanya mengikuti apa yang diperintahkan Draco dan duduk disampingnya, Draco menyodorkan sekotak rokok dan Theodore mengambil satu rokok itu lalu menyalakan rokok itu dengan korek api yang ia miliki sendiri.

"Apa kau ingat dulu, kita selalu duduk di jalan seperti ini ketika kita berhasil menyelesaikan sebuah misi?" tanya Draco tiba-tiba, sembari ia meniupkan asap dari mulutnya dan menatap langit dengan pandangan nar-nar.

"Kau benar, kejadian itu sudah sangat lama."

"Aku masih ingat ketika dulu kita dihajar masa gara-gara ketahuan mencuri, apa kau melupakannya?" tanyanya dengan nada manis.

"Ya, itu adalah kejadian pertama untukku dan namun bukan yang terakhir,"

"Kau tahu Theodore, tubuhku sudah sangat betah dengan rasa sakit. Sampai-sampai aku tak mengerti rasa sakit itu seperti apa. Karena mereka selalu memukulku sampai aku tak bisa bergerak,"

"Bukan cuma kau saja yang mengalami itu Draco, aku juga."

"Bukankah itu klise? Sampai sekarang aku selalu berpikir Theodore. Jika atau andai saja kita tidak dilahirkan dari keluarga bangsawan yang bangkrut dan hanyalah orang biasa dari keluarga yang hangat. Menurutmu aku akan menjadi apa?"

"Entalah, aku tak tahu."

"Aku juga tidak tahu, tetapi kenangan itu tak bisa kuhilangkan sampai sekarang. Yang ku tahu adalah manusia itu sangat mencintai hidupnya, karena keegoisan mereka yang telah mendarah daging bahkan seorang manusia tak rela jika dirinya meninggal bukan?"

"Lalu? Apakah ada sesuatu yang menganjal dirimu?"

"Ya, ada. Aku tahu tentang dirinya, aku sudah menyelidikinya sebelum kejadian itu terjadi. Ia memiliki tunangan yang cantik, pangkat pekerjaan yang tinggi, latar belakang yang bagus dan keluarga yang bahagia, serta wajah yang tampan."

"Jujur aku iri dengannya," ucap Draco kemudian diam sejenak.

"Tapi sampai sekarang yang masih kupikirkan, kenapa dia mau pergi meninggalkan ini semua?"

"Apa yang kau maksud Draco? Apa ini berhubungan dengan kejadian yang dulu ketika kau masih menjadi ketua mafia?" tanya Theodore berusaha untuk menyelidiki saudaranya.

"Ah, tidak. Lupakan, kurasa aku akan pergi. Kalau kau pulang dan bertemu dengan Hermione, bilang padanya bahwa aku membatalkan liburan itu." Draco berdiri dari duduknya dan merapikan celana kain hitamnya yang dipenuhi dengan butiran-butiran pasir kecil.

"Aku pergi,"

"Kau mau kemana?"

"Menenangkan diriku," ucap Draco dan pergi berjalan kaki. Theodore hanya memperhatikan pria itu, ia menyadari bahwa Draco sedang mengalami suatu tekanan yang mampu membuatnya sedikit bertindak gegabah.

Fakta bahwa sangat jarang bahwa seorang Draco Malfoy lebih memilih untuk mengintimidasi lawannya dari pada membunuhnya. Keanehan itu sudah membuktikan bahwa dirinya sedang tak ingin bermain-main.

...

Draco berjalan pada jalanan sempit yang terdapat banyak sekali kejahatan akan gang itu. Seolah ia bernostalgia akan kehidupan yang masa lalunya, ia berjalan dengan tenang walalupun banyak orang dengan pakaian kumuh serta compang-camping yang memperhatikan dirinya. Namun seolah ia tak peduli dan berjalan dengan perlahan dengan pikiran kosong di dalam otaknya.

"Well , lihatlah siapa yang kembali pada kehidupannya yang lampau. Apa yang kau inginkan dari sini Draco Malfoy sampai-sampai kau mau kembali lagi ketempatmu? Bukankah kau sudah memiliki tempat yang layak disana?"

Draco tersenyum kecil, menadahkan tangannya. "Aku juga tidak tahu apa yang aku lakukan kemari, kakiku seolah menuntunku kemari dan sesuatu yang menjadi sumber permasalahanku berada disini," ucap Draco dan berjalan perlahan mendekati kumpulan pria itu.

Para pria itu memiliki tubuh yang kekar dengan dua kali lipat dari Draco, mereka sangat lihai menggunakan senjata mereka dan Draco hanya memiliki sebuah pistol di saku jasnya. Bukan cuma itu, percuma Draco takkan bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini walaupun ia bisa membunuh mereka semua, tetapi salah satu dari mereka akan membawa pasukan yang lebih banyak lagi untuk membunuh Draco.

"Kurasa orang kaya ini harus mengingat bagaimana dirinya ketika ia masih muda," ucap pria itu sambil tertawa meremehkan, ia mengepalkan tangan kirinya dan memukul kecil pada tangan kanannya dan tertawa jahat.

Draco menatapnya, perasaan ini, penggelihatan ini bukanlah sesuatu yang baru untuknya bahkan terkesan sangat biasa.

"Baiklah, kurasa aku tidak akan menggunakan pistolku tetapi bisakah kalian memberikanku pemukul kasti? Kurasa tidak adil bahwa kalian banyak dan saya hanya satu orang? Bisakah saya mendapatkan sebuah kemurahan?" tanyanya dengan merendah.

Pria yang menjadi pemimpin itu terlihat berpikir kemudian menyetujuinya, ia menyuruh orang untuk memberi Draco pemukul kayu yang entah didapatinya dari mana.

"Hancurkan dia saudaraku, buat pria kaya ini mengingat seperti apa masa lalunya!" teriaknya puas.

Pria dengan rambut pirang yang di panggil John meninju pada muka Draco dengan pukulan lurus dan Draco tak menghindar menyebapkan tubuhnya bergerak mundur kebelakang dan darah perlahan mengalir dari hidungnya yang mancung.

"Kau lihat, pria kaya ini lemah ternyata. Semua kejayaannya telah sirna karena kini ia menjadi sosok yang manja, Ayo saudaraku habisi dia dan dapatkan semua uangnya lalu kita berpesta!" jeritnya puas, beberapa orang mulai terpancing dengan ucapannya bergegas mendekati Draco secara perlahan-lahan.

Draco terdiam suatu perasaan aneh mulai melandanya, seolah masa lalunya datang untuk melihatnya, apakah ia akan diam dan menerima semua pukulan itu seperti dulu atau ia akan melawan?

Masa lalu itu bagaikan monster yang memperhatikannya dengan perlahan, mengawasi semua pergerakan Draco dan menunggu untuk melihat aksi yang menarik.

Draco mengengam erat pemukul kasti itu dan memukul dari arah kanan dan mengenai leher pemimpin mereka. Tentu kejadian yang tiba-tiba itu membuat John terkejut dan kesakitan dalam hitungan detik belum sempat John menghindar Draco memukul kepalanya dari atas saking kerasnya menyebapkan kayu itu pecah dan serpihan kecil kayu sedikit melukai tangannya. Draco mengunci tangan pria itu dan memutarkan tubuhnya kearah belakang, mengambil serpihan kayu yang cukup besar dan mengarahkannya tepat pada tenggorokan pria itu.

"Apa ada yang masih mau melawanku? Kau lihat pemimpinmu ini sebentar lagi akan mati. Apa dari kalian yang masih mau merasakannya. Karena pemukulku sudah pecah kurasa aku akan menyelesaikannya dengan cepat. Bagaimana?" tawarnya dengan tersenyum kecil.

Masa lalunya tertawa dengan hebat melihat aksi dari Draco. Monster itu bertepuk tangan dan tertawa seolah ia melihat kejadian yang diinginkannya tetapi hal itu membuat Draco semakin tertekan, matanya menatap tajam akan masa lalunya dan ia membenci akan hal itu.

"Aku bukan tontonanmu Monster!" bentaknya melepaskan pria yang berada dipelukannya dan membiarkan pria itu jatuh tak bergerak.

Draco berjalan kecil dan tak peduli akan tawaan monster masalalunya. Meninggalkan orang-orang yang membisu akan kejadian yang baru saja terjadi. Melihat ketua mereka yang sedang kritis membuat mereka tak berani untuk mencoba memukul Draco. Karena mereka menyadari melawan Draco tak ada artinya, kau bisa mati dan mereka memilih untuk hidup.

Tak ada perasaan bahagia lagi ketika ia melihat ketakutan mereka. Ketakutan dan kematian mereka bukanlah sesuatu yang menarik lagi bagi Draco.

"Cih membosankan," ucapnya menatap langit yang memandangnya dengan perasaan kecewa, awan yang semula cerah perlahan berubah menjadi gelap dan dengan sekejap rintik-rintik hujan mulai datang.

Draco tak segera bersembunyi atau menghindari hujan itu. Melainkan ia berjalan ditengah-tengah hujan. Hujan ini benar-benar membuatnya sedikit nyaman, namun monster itu masih saja menatapnya.

Seorang anak kecil secara tiba-tiba muncul disebelahnya. Ia memiliki perawakan yang kurus dengan tubuh yang kecil, rambutnya yang pirang kotor dan ia berusaha untuk menghangatkan dadanya dengan kedua tangannya sama seperti apa yang dilakukan Draco.

"Kenapa kau hujan-hujan seperti ini?" tanya Draco sedikit penasaran.

Anak kecil itu mungkin berumur 8 tahun, ia menundukkan kepalanya dan diam membisu tidak menjawab pertanyaan Draco.

Anak kecil itu berjalan disampingnya dan Draco memperhatikannya.

Kemudian langkah anak kecil ini terhenti pada sebuah rumah kecil sederhana. "Apa yang kau lihat dari rumah kecil itu?" tanyanya sedikit penasaran.

Anak kecil itu melihat sebuah rumah dengan jendela rumahnya yang sedikit lebar menampilkan suasana rumah yang hangat, ayah dan ibu yang menyiapkan makanan sementara anak perempuannya duduk manis di meja makan.

"Kau menginginkannya?" tanya Draco lagi.

Tetapi anak kecil itu hanya terdiam dan berjalan lagi.

Draco mengikutinya, karena hujan yang deras itu ia sedikit kesusahan untuk menemukan anak kecil yang tadi berada disampingnya.

Draco mencoba untuk menemukannya tetapi ia tak berhasil, Draco mengetahui gang ini karena ia tinggal pada gang ini ketika ia masih kecil bersama Theodore.

Matanya terbelalak terkejut, tubuhnya sedikit bergetar akan apa yang ia lihat, ditambah dengan guyuran hujan yang deras membuat pemandangannya sedikit kabur. Ia menemukan anak kecil yang tadi bersamanya kini tergeletak di tengah jalan, meringkuk lemah dan tubuh penuh bekas pukulan.

Draco mendekatinya mencoba untuk melihat apakah ia masih hidup atau tidak.

Ia mendekati wajahnya dan ia sangat mengenal wajahnya. Wajah anak kecil ini sama seperti wajahnya ketika masih kecil. Melihat wajah anak kecil itu ia terkejut dan tubuhnya menjadi aneh.

"Cih kenapa dengan tubuhku ini, bahkan rasanya begitu dingin. Aku tak bisa merasakan tanganku," ucapnya melihat tangannya yang sedikit membiru. Ia menjatuhkan tubuhnya kesamping anak kecil yang memiliki wajah yang sama sepertinya. Ia merasa tubuhnya habis dipukuli habis-habisan walaupun ia tak mendapatkan satupun pukulan dari para penganguran itu.

Kemudian mencoba untuk meresapi air hujan yang mengenai wajahnya dan tubuhnya.

"Hey anak kecil, kenapa kau terbaring disini? Bukankah kau seharusnya memiliki rumah yang mewah?"

"Kau juga kenapa berbaring disini? Bukankah kau memiliki apapun yang kini ada padamu?" tanyanya akhirnya ia bersuara.

"Kau tak menjawab pertanyaanku dan malah bertanya kepadaku? Baiklah, sudah lama aku tak merasakan seperti ini,"

Hening tak ada percakapan dari mereka. Derasnya hujan hanyalah yang bersuara dan Draco maupun anak kecil itu hanya diam.

"Aku ingin mati," celetuk anak kecil itu.

Draco terdiam, bibirnya semakin pucat dan ia masih mencoba kekuatannya untuk berbicara dengan anak kecil itu, "kenapa?" tanya Draco walaupun dia sudah tau alasannya

"Bukankah kau memiliki alasan yang sama sepertiku? Seharusnya kau sudah tahu alasan itu,"

Draco mencoba untuk mengumpulkan semua kekuatannya untuk bergerak tetapi ia tak bisa, tubuhnya melemah dan ia tak tahu harus berpikir apa.

"Kau benar. Sampai sekarang aku tak bisa menemukannya. Walaupun aku sudah memiliki segalanya tetapi tetap saja aku tak bisa menemukannya,"

Draco tersenyum kecil, kemudian memejamkan matanya. Membiarkan Hujan mengguyur tubuhnya yang semakin dingin pucat.

"Kurasa tubuhku sudah pada batasnya. Kuharap aku bisa meninggal saat ini juga,"

"Aku juga ingin meninggal dan melepaskan semua rasa sakit ini."

Anak kecil itu menatapnya dengan dingin dan tersenyum kecut. Mengeluarkan sebuah pisau dari saku celananya. Perlahan anak kecil itu bangkit dan tersenyum perih memegang pisau itu ditangan kanannya.

"Selamat tinggal masa depanku,"

-To Be Continued-

A/N "Just Review and we can see what the next"

Thanks to "Swift, Scorpryena, Aprilda, bunu, Loading, Jenny Hallwask, Hermione lu Malfoy, guest, AbraxasM, Undhott, Narcissy, Electra Malfoy, Yellowers, Apple, Clato-chan, Vanessa. Lenka, Macey Harris, Guest.

I love you guys, and thanks you so much because your reviews :)