Langit malam begitu terang, bulan dan bintang seolah bersaing untuk menjadi pusat perhatian dengan cara menampilkan cahaya untuk menghias langit gelap, jam dinding telah menunjukkan pukul 11 malam dan semua orang nyaris terlelap pada kasurnya. Nyaris semua kecuali seorang pria yang memilih untuk berkutat kepada kertas-kertas yang berada dimejanya.

...

Hi, I'm Your Killer.

Author – C.O.N.S

Rated - T semi M.

Harpot Characters- J.K Rowling

Romance, Hurt/comfort, Supranatural.

Warning inside.

Don't Like Don't Read

...

Theodore meneguk minuman kopi panasnya dengan perlahan, ia mencoba untuk meresapi rasa pahit kopinya itu, rasa pahit yang seperti ucapan Draco. Theodore membaca dokumen penting yang sedang dipegangnya, ia mencoba untuk memfokuskan semua pikirannya kedalam dokumen itu. Tapi hasilnya nihil, ia tak bisa.

Pikirannya tidak fokus dan semua itu karena ucapan Draco. Theodore tahu bahwa Draco mencoba untuk menjaga jarak darinya dan itu yang dicemaskan Theodore.

Jika Draco mulai menjaga jarak darinya, itu pertanda bahwa Draco sedikit tidak percaya kepadanya dan kepercayaan itulah yang penting untuk Theodore. Jika Draco mulai untuk menjaga jarak darinya dan Draco semakin bertindak seenaknya maka sifat Draco yang seperti itu bisa membuat perusahaan mereka bermasalah.

Dengan cepat ia meneguk kopinya lagi dan mencoba membaca, memaksa dirinya untuk fokus pada kertas itu. Tapi semakin dipaksa pikirannya akan terus memutar ucapan Draco.

Mulai dari awal mereka bertemu pada hari ini. Draco mengajaknya untuk duduk diluar dan kemudian menceritakan kembali tentang kenangan pahit yang tak seharusnya mereka ingat.

Terutama untuk Draco, mengingat pria itu adalah pria yang pendendam.

Ponsel miliknya berbunyi dan memunculkan nama Hermione pada layarnya namun Theodore tidak peduli dan tidak mengangkat telepon itu.

Mencoba untuk membaca kembali dokumen miliknya.

Tetapi Hermione terus menelponnya membuat pemiliknya mendesah kesal. Ia mengangkat telepon itu dan dengan sedikit membentak ia berkata 'HALO!'

Suara Hermione begitu panik dan sedikit tidak jelas, "Kau dimana bodoh?!"

"Apa yang kau mau Hermione?! Kenapa kau mengganguku semalam ini?"

"Temui aku di rumah sakit Theodore! Aku akan mengirim alamatnya, tetapi cepatlah kemari Draco berada disini!" ucapnya sedikit membentak dan banyak sekali suara bising disekitarnya. Lalu ia mematikan teleponnya.

Theodore seharusnya menyadari hal ini lebih cepat. Keanehan Draco membuatnya semakin khawatir, dengan cepat ia mengambil jas serta kunci mobilnya dan berlari secepat mungkin untuk sampai menuju rumah sakit.

Sebuah pesan diterima olehnya dari Hermione.

Theodore mencoba untuk menghubungi wanita itu tetapi ponselnya tidak aktif membuat Theodore frustasi.

Draco kakaknya adalah tanggung jawab untuknya, jika Draco meninggal maka hanya dirinya sendirilah yang ia miliki di dunia ini dan Theodore tak menginginkan itu.

Suara berdecit dari sepatu vantofel miliknya yang bersanding dengan kerasnya lantai perusahaannya. Suasana tiba-tiba menjadi sedikit mencekam, Theodore panik dan ketakutan, kemejanya basah karena keringatnya sendiri dan kulitnya menjadi pucat dingin.

Ia benar-benar khawatir terhadap Draco.

Dengan cepat ia menemukan mobilnya yang terpakir di ujung lapangan parkir, membuka kunci mobil dengan tombol yang berada pada kunci yang dipengangnya, dengan cepat ia segera masuk kedalam mobil itu dan menyalakannya.

Walaupun Theodore bukanlah orang yang religius, tetapi untuk saat ini dirinya berusaha untuk tidak mengkhawatirkan Draco dan sedikit berharap entah pada sedikit keajaiban bahwa saudaranya itu masih hidup dan tidak terjadi apa-apa.

...

Wanita itu menggigit kecil kuku jarinya kemudian ia berdiri dari kursinya dan berjalan mondar-mandir di sekitar ruangan itu. Sedikit ia meracau tak jelas kemudian ia berjalan lagi. Rambutnya yang coklat bergelombang sedikit acak-acakan, bahkan ia hanya mengenakan sebuah kemeja yang diambilnya asal dan celana panjang 7/8.

Panggilan itu rasanya baru terjadi sebentar padahal sudah nyaris 1 jam, ia menunggu di rumah sakit.

Panggilan dari kepolisian mengenai Draco, membuatnya tersentak bangun dari kasurnya dan segera berpakaian asal. Ia terus mencoba untuk menghubungi Theodore tetapi pria itu mematikan ponselnya, nyaris setengah jam Hermione bersumpah serapah atas kedua pria itu.

Baik Theodore maupun Draco.

Suara beberapa orang berdatangan membuat Hermione menoleh dengan cepat berhara bahwa itu adalah Theodore. Namun yang dilihatnya adalah pemimpinnya, Severus Snape.

Pria dengan rambut klimis itu membawa beberapa polisi untuk menjaga kamar Draco mengingat beberapa wartawan mulai mencari berita tentang Draco.

"Hermione Granger. Ikuti aku sekarang,"

Dan ketakutan inilah yang ditakutkan Hermione.

Snape berjalan dengan tenang sementara Hermione mengikutinya dengan gugup. Walaupun kejadian ini bukan karena dirinya tetapi tetap saja Hermione harus menanggung akibatnya.

Snape membawa Hermione sedikit jauh dari ruangan dan keramaian, mereka berada di tangga darurat dimana jarang ada orang yang berada disana.

"Jelaskan kepadaku Hermione, apa yang sedang terjadi?!" tanyanya dingin, ia melipat kedua tangannya didadanya.

Hermione menatapnya, wanita itu juga bingung dengan apa yang terjadi karena mereka memang tidak bertemu. "Terakhir kali aku bertemu dengannya tadi siang ketika dia menyuruhku untuk menemaninya berlibur. Tetapi Theodore bilang padaku bahwa Draco membatalkan liburannya, karena itu aku menelpon Draco tetapi pria itu tak menjawab panggilanku. Semula aku tidak peduli tetapi setelah kepolisian menelponku karena aku adalah nomor terakhir yang menghubunginya."

Hermione memiringkan wajahnya, ia sedikit menunduk. "Polisi bilang bahwa Draco terkena Hipotermia parah. Dirinya tak sadarkan diri, badannya menjadi kaku, bahkan nafasnya begitu lemah. Bukan cuma itu terdapat luka tusukan pada perutnya, namun lukanya tak menusuk organ dalam dan kini ia sedang dalam masa perawatan."

Snape menatap Hermione dengan tajam, "kau tahu bukan Hermione bahwa Draco adalah aset berharga, kematiannya akan membuat semuanya menjadi repot baik kepolisian maupun mafia sekalipun. Aku menyuruhmu untuk mengawasinya, mencari kelemahannya. Kau tahu buat apa aku menyuruhmu itu. Karena kita tak bisa membunuhnya bahkan dia tak boleh terbunuh. Jika Draco Malfoy meninggal maka kekayaannya akan jatuh kepada Theodore,"

"Dan Theodore akan memutuskan semua hubungan baik dengan mafia maupun kepolisian, karena saham mereka yang tinggi tentu dengan mudah Theodore bisa menghancurkan perusahaan manapun. Kau tahu itu yang kita takutkan."

"Dan kini kau lalai menjaganya? Kau kusuruh untuk menjadi sekertarisnya untuk bisa mengawasinya jika ia bertindak aneh, jadi aku bertanya kepadamu Hermione apa yang kau lakukan selama ini. Baru sebentar kau tinggal bersamanya dan ini yang kudapat?"

"Tunggu Snape, ini bukan murni kesalahanku. Lagi pula Draco tak mau diikuti dan Theodore mengunci semua berkas-berkas penting."

"Cih, kau dibayar mahal untuk ini Hermione. Kuasai Draco, buat pria itu menurut kepadamu dan kau akan mendapatkan semua akses untuk itu. Aku tak peduli bagaimana caranya bahkan kalau perlu dengan tubuhmu. Kuharap kejadian ini adalah pertama dan terakhir Hermione." ucap Snape dan berjalan pergi walaupun pria itu hanya berucap datar tetapi ia memberi tekanan pada nadanya, itu membuktikan bahwa Snape benar-benar kesal.

"Bersikap baiklah kepada Draco, buat ia percaya kepadamu dan kemudian dapatkan kunci miliknya." Ucapnya sambil berlalu.

"Bodoh, bagaimana bisa ia berkata seperti itu! Cih, Draco kau benar-benar menyusahkan. Kini aku harus mengubah semua taktik yang sudah kupersiapkan, dasar bodoh. Bagaimana bisa ini terjadi, siapa orang yang berhasil melukai pria gila itu?" ucap Hermione berjalan menuju ruangan Draco tetapi melewati arah berlawanan dengan Snape.

...

Hermione kembali dengan muka sedikit masam. Ia sedikit kesal karena Snape mulai meragukan dirinya dan itulah yang dibenci oleh Hermione. Mata hazelnya menatap Snape yang sedang duduk dengan tenang pada kursi tunggu, disampingnya ada Theodore yang sedang duduk khawatir.

Hermione berjalan perlahan kemudian duduk disamping Theodore, mata Snape menatapnya dengan pandangan menyalahkan seolah kejadian yang dialami oleh Draco adalah murni kelalaiannya.

"Apakah ada kabar?"

"Tidak, tidak ada!" seru Theodore membentak. Hermione tahu bahwa pria itu sedikit ketakutan, kakinya bergoyang dan matanya menatap lantai. Bukan cuma Theodore yang khawatir, Hermione juga karena jika Draco meninggal, penyebap kematian mantan kekasihnya itu tak bisa terungkap.

Cukup lama mereka menunggu bahkan Snape sudah kembali menuju rumahnya, menyisakan mereka berdua. Theodore mencoba untuk tetap terjaga walalupun dirinya mengantuk, entah berapa gelas kopi yang diminumnya, memaksanya untuk tetap sadar.

"Theodore, bagaimana kalau kau yang tidur di kamar tamu? Aku akan menunggu hasil dari Draco," tanyanya melihat pria itu.

"Tidak, aku harus terjaga."

"Lebih baik kau segera tidur. Karena jika kau memaksa dirimu kemungkinan aku menyewa satu kamar lagi untukmu. Jadi sekarang tidurlah!" seru Hermione, karena terlalu lelah pria itu menyetujui ucapan Hermione dan segera menuju kamar tamu.

Pukul 6 tepat, ketika seseorang perawat membangunkan Hermione yang tertidur di kursi tunggu. Hermione terbangun, mengucek matanya dan mencoba untuk sadar dari tidurnya.

"Draco Malfoy sudah sadar, anda bisa melihatnya."

Hermione segera bangkit dari kursi, "Kumohon jangan bangunkan pria yang bersamaku tadi. Ia membutuhkan istirahat lebih,"

"Baiklah," ucap perawat itu

Hermione membuka pintu kamar Draco, ia melihat pria dengan rambut pirang itu duduk di ranjangnya. Bukankah seharusnya ia tidur tetapi ia malah duduk diranjangnya.

"Syukurlah kau masih hidup Draco," ucap Hermione mendekat.

Tetapi pria itu terdiam, matanya masih menatap lantai.

"Draco apa kau lapar?" tanya Hermione, dan Draco hanya mengeleng pelan.

Kulit Draco masih pucat dan matanya menatap lantai dengan kosong, Hermione mencoba untuk membuat Draco sedikit bersemangat.

Pria itu jauh berbeda dengan apa yang dilihatnya pada saat pertama kali.

Hermione berlutut dihadapan Draco, menatap wajah pria tampan itu, mengusap pipi pucatnya dengan tangannya yang halus. "Kulitmu masih dingin ya?" tanyanya dengan lembut.

Tetapi Draco hanya diam dan menatapnya dengan pandangan kosong. Pupil mataya hanya fokus pada satu tujuan namun kekosongan itu terukir jelas pada bola matanya.

"Apa kau masih kedinginan?" tanya Hermione berdiri kemudian memeluk pria itu dengan lembut, berusaha memberikan kehangatan dari tubuhnya.

Tangannya memeluk leher Draco dan ia sedikit mengusap rambut pria itu.

Hermione sedikit terkejut ketika ada air mengenai tangannya, ia melepaskan pelukannya dan menatap Draco.

Ia begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya, Draco Malfoy menatap lantai dengan pandangan kosong dan hanya satu dari bola matanya yang menangis. Mata kanannya mengeluarkan air mata tetapi mata kirinya masih menatap lantai dengan tatapan kosong.

"Apa yang terjadi kepadamu Draco?!" seru Hermione panik.

Tetapi tangan pucat Draco menyentuh tangan Hermione yang masih memeluknya dan sedikit menariknya untuk melepaskan pelukannya,

"Apa yang terjadi kepadamu Draco?" tanya Hermione lagi.

"Siapa kau?" tanyanya tiba-tiba.

"Kau bercanda, apakah kau tak mengingat apapun Draco? Kau mengingat aku, Hermione?!" ucap Hermione.

"Aku tidak ingat pernah bertemu denganmu,"

"Kau pasti bercanda," ucap Hermione sedikit mendesah kesal, ia mengacak sedikit rambut panjangnya dan menganggap bahwa Draco masih mengigau. "Draco ini tidak lucu,"

"Aku tak bercanda,"

"Kau melupakanku? Kau amnesia? Bagaimana bisa?"

Suara langkah kaki perlahan terdengar, walaupun suara itu mencoba untuk tidak membuat gaduh tetapi tetap saja suara sepatunya sedikit mengganggu. Pria dengan rambut gelap acak-acakan segera masuk, ia masih mengenakan jasnya, hanya saja wajahnya kusut seperti kain yang belum disetrika.

"Draco syukurlah kau baik-baik saja," ucapnya senyuman kecil dibibirnya ketika melihat sumber kekhawatirannya duduk nyaman pada kursinya.

"Theodore? Apakah itu kau? Kenapa kau sedikit berubah."

"Berubah?" tanya Theodore menaikkan salah satu alisnya, namun ia tak peduli akan ucapan Draco dan segera mendekatinya lalu memeluknya.

"Syukurlah, kupikir aku akan kehilanganmu."

"Apa yang terjadi?" tanya Draco sedikit bingung.

Hermione melipat kedua tangannya, menatap pemandangan mangharukan dari persaudaraan ini. "Bloody Hell, Draco! Aku tahu, kau curiga kepadaku selama ini. Tapi ini kelewatan, bagaimana bisa kau melupakanku sedangkan kau mengingat Theodore?!"

"Lupa? Apa yang sedang kau bicarakan Hermione?" ucap Theodore melepaskan pelukannya dari Draco.

"Theodore kau berubah, kurasa. Kau bertambah tinggi dan jujur kau bertambah tampan. Bagaimana bisa kau berubah hanya dalam satu malam?" tanya Draco menekuk wajahnya.

"Berubah? Aku tidak berubah Draco. Ini memang wajahku, tapi thanks kau menyebutku tampan."

"Ini bukan sebuah lelucon Theodore. Ada yang bermasalah dengan ingatan Draco," ucap Hermione kesal.

"Kenapa wanita ini begitu berisik. Siapa dia Theodore!"

"Kau tak tahu siapa dia Draco. DIa Hermione pembunuh bayaran,"

Draco mendelik tajam, meraba kasur sekitarnya mencoba menemukan barang yang mampu untuk melindunginya tapi hasilnya nihil. "Bagaimana bisa dia berada disini, bukankah aku hanya berurusan dengan mafia? Kenapa sekarang ada seorang pembunuh bayaran?"

"Draco berapa umurmu?"

"Kau bertanya kepadaku Theodore? Kau bodoh. Tentu saja aku berumur 20 tahun," ucap Draco dengan ringan."Bukankah aku seharusnya berada di gedung karena aku akan mengadakan sebuah rencana untuk memperbesar kelompokku?"

"Dokter?!" seru Theodore berjalan keluar.

...

"Apa yang terjadi dengan Draco?" tanya Theodore menatap tajam kepada pria paruh baya yang sedang menatap hasil tes dari Draco.

"Hasil tes menunjukan Draco mengalami Continous Amnesia. Continous Amnesia adalah penderita tidak bisa mengingat kejadian khusus dalam hidupnya, seperti sesuatu kejadian yang khusus seperti saat ini, Ingatannya hanya sampai 20 tahun, dan dia tak menyadari bahwa umurnya lebih dari itu."

"Lalu bagaimana caranya agar Draco bisa mengingat kembali?"

"Ingatan pasien akan kembali jika ia mengingat apa yang pernah ia lakukan. Tapi jika dia dipaksa itu hanya akan memperburuk keadaannya. Karena kejadian yang dilupakan oleh pasien adalah kejadian yang paling membekas untuknya."

Baik Theodore dan Hermione hanya terdiam. Theodore keluar dari ruangan dokter dengan pandangan kecewa.

"Tunggu Theodore. Jika Draco hanya mengingat kejadian ketika umurnya 20 tahun, bukankah kau bertemu dengannya ketika dia berumur 21. Lalu bagaimana bisa dia mengenal wajahmu?"

"Cih ternyata kau masih mengingatnya Hermione. Kau menyeramkan. Kurasa kita harus bertanya soal itu,"

Theodore segera masuk menuju kamar Draco dan Hermione mengikutinya. Draco hanya berbaring dengan bantal empuk dengan tangan satu yang ia tekuk kebelakang. Matanya menerawang langit-langit dan ia sedikit terkejut melihat Theodore maupun Hermione.

"Draco, bolehkah aku bertanya kepadamu?" ucap Theodore menarik kursi dan duduk diatasnya.

"Tentu Theo," ucap Draco ramah.

"Jika kau bilang bahwa kau berumur 20 tahun, bukankah aku bergabung dengan kelompokmu pada usia 21 tahun? Bukankah seharusnya kau tak mengenal wajahku?"

Draco terkekeh mendengar ucapan Theodore. "21 tahun? Kau bercanda? Aku masih berumur 20 tahun dan kau berumur 18 tahun. Bukankah kau masih harus menyelesaikan sekolahmu di Paris? Aku mengawasimu bodoh, setelah aku menguasai geng mafia pada umur 18 tahun. Kemudian aku menyuruh orang untuk mengawasimu. Tentu aku mengenal wajahmu,"

"Apakah ucapanmu bisa dipercaya Draco?" ucap Hermione dengan nada menyelidik. "Apa kau ingat Victor Krum?"

"Siapa dia?" tanya Draco.

"Kau tak mengingatnya? Tentu saja tidak. Lagi pula, aku masih punya banyak urusan, aku harus mengawasi anak buahku."

"Draco kau tak menyadarinya bahwa umurmu sekarang 26 tahun. Kau adalah jutawan kaya raya yang memiliki apapun. Apa kau tak mengingatnya?"

Draco tertegun dengan ucapan Theodore kemudian ia tertawa keras, namun ia segera menghentikan tawanya ketika ia merasa perutnya sedikit sakit. "Kau gila? Aku masih tidur di kasur murah Theodore. Aku tidak sepertimu yang dirawat oleh keluarga kaya raya. Kita terpisah kau ingat ketika kita masih kecil?"

"Draco aku serius, kurasa tak ada gunanya. Aku menyerah, kau bebas melakukan apapun," ucap Theodore.

"Adakah dari kalian berdua yang mampu menceritakan kepadaku kenapa aku bisa dirumah sakit dengan luka pada perutku?"

"Kalau ingatanmu kembali itu akan lebih mudah Draco. Baik aku maupun Theodore tidak tahu apa yang terjadi kepadamu," ucap Hermione, tetapi Draco tidak memperdulikannya dan menatap Theodore memohon sebuah jawaban.

"Kau mengacuhkanku Draco?"

Theodore hanya mengeleng lemah. "Baiklah Draco, ucapan wanita itu benar dan wanita itu adalah pelayanmu. Jadi kau bisa menyuruhnya apapun,"

"Bloody Hell Theodore! Apa-apaan kau? Kau gila? Bagaimana bisa kau bilang aku adalah pelayannya?"

"Pelayan? Bukan pelacur?"

"Kurasa aku harus membungkam mulut kotormu itu Draco!"

"Dengan ciuman?"

"Kurasa Draco muda lebih menyebalkan dari pada Draco yang lama."

"Baiklah Hermione. Buat ingatannya kembali, aku senang Draco baik-baik saja dan aku juga senang kau berada disini. Jangan membuat Draco memaksa ingatannya atau aku yang akan memaksamu untuk melupakannya!" ucap Theodore tersenyum licik, "Aku sangat terbantu denganmu Hermione. Karena kau sekertarisnya, jadi uruslah dia sekarang. Aku akan kekantor sebentar."

"Tenanglah Draco, perusahaanmu aman ditanganku." Ucap Theodore menyeringai, kemudian mengacak kecil rambut Draco.

Draco yang tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi hanya terdiam, kemudian menatap Hermione.

"Menurutmu aku atau Theodore yang lebih tampan?"

Hermione tidak peduli akan ucapan Draco, walaupun Draco yang muda memiliki nada riang dari setiap suaranya berbeda dengan Draco yang lama yang memiliki nada suram dari semua ucapannya.

Seolah Draco ketika muda masih optimis terhadap masa depannya dan Draco yang lama sangat pesimis terhadap masa depannya.

"Entalah," ucap Hermione. "Apa ada yang kau inginkan?"

"Kau boleh pergi," ucap Draco, kemudian berbaring di ranjangnya. Ia merebahkan tubuhnya secara perlahan, "Kasur ini empuk sekali, sudah lama aku tak memiliki kasur seperti ini."

Hermione hanya memperhatikannya, Theodore kembali masuk dan menyuruh Hermione untuk mengikutinya.

"Apa? kau bilang aku harus menjaganya,"

"Yah itu benar. Aku menyuruhmu untuk menjaganya karena aku tahu kau pembunuh yang handal. Tetapi kuharap kau tak memberitahukan apa yang terjadi kepada Draco kepada siapapun. Bahkan bosmu Snape. Aku yakin bahwa mereka hanya akan mengambil sesuatu yang menguntungkan dari kejadian ini. Hanya kau, aku dan Blaise serta dokter itu saja yang tahu. Begitu juga dengan pengurus rumah. Hanya itu dan kuharap kau tak membocorkannya kepada siapapun." Ucap Theodore sedikit mengancam Hermione.

"Tentu, aku tahu. Tapi apa yang mau kau lakukan? Menyegel Draco di dalam kamarnya? Mengurungnya seperti orang gila?" ucap Hermione dengan sedikit mengejek.

Theodore berpikir, "Jika itu yang terbaik. Tentu akan kulakukan,"

"Kau gila!" bentak Hermione. "Kau mau membunuhnya?"

"Tentu saja tidak. Draco lupa bahwa dirinya berurusan dengan orang-orang yang kejam. Jika Draco tidak mampu mengingat masa setelahnya itu adalah bencana. Para Mafia dan Polisi akan memberontak dan aku tak mau hal itu terjadi! Aku tahu kau berada di pihak polisi. Tapi jika kau memberitahukan kepada bosmu, aku tak segan-segan menyewa semua pembunuh bayaran yang handal untuk membunuhmu Hermione. Aku tak bercanda," ucapnya dingin.

"Aku mengerti," ucap Hermione, ia menyadari bahwa Theodore benar-benar anjing penjaga yang handal. Bahkan ia melindungi Draco berserta hartanya dan membangun pertahanan untuk perlindungannya.

"Baguslah, aku akan pergi bekerja."

Hermione hanya menatap punggung Theodore dalam diam.

Baik Draco maupun Theodore mereka pribadi yang berbeda, tetapi mereka memiliki satu kesamaan ketika dirinya terancam. Jika Draco menggunakan cara kasar dan ancaman untuk menakuti musuhnya, Theodore menggunakan cara seorang bangsawan, perlahan dan mencekam.

Hermione masuk kembali, memperhatika gerak-gerik Draco. Pria itu hanya diam, menerawang dan memikirkan sesuatu kemudian memejamkan matanya.

...

Draco terdiam, memperhatikan dirinya pada cermin dengan bingkai emas dan ukiran ular. Ia memperhatikan wajahnya dengan perlahan, melihat wajahnya yang semakin menyeramkan.

Bahkan ketampanannya perlahan menghilang, ia mengingat kamar ini. Kamar ini adalah kamar dimana kedua orangtuanya meninggal hanya saja tanpa jasad mereka berdua.

Dan disinilah Draco menatap kaca itu dengan serius. Ia menyadari bahwa dirinya berubah, ia menyentuh pipinya dengan jarinya yang kurus lalu. Banyangan dicermin itu mengikuti gerakannya.

"Kenapa kau melupakanku?" ucap seseorang. Draco terkejut dan menoleh ke semua sudut ruangan namun tak menemukan siapapun. Kemudian ia memperhatikan kaca itu lagi dan wajahnya masih sama sayu.

"Kenapa kau melupakanku?"

Draco terkejut menoleh mencari sumber suara itu, "Siapa kau! Tunjukan dirimu!"

"Aku disini, dihadapanmu bodoh."

Draco segera menoleh mendapati kaca itu memunculkan sosok dirinya, jika semula pantulan kaca itu menampilkan sosok utuhnya namun sekarang menampilkan dirinya dengan tubuh penuh dengan luka dan pakaian yang compang-camping.

"Siapa kau? Apa yang kau inginkan dariku?"

"Kau lupa? Kau melupakanku?" tanyanya dengan nada dingin. "Aku adalah dirimu, kau adalah aku."

"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Draco dengan nada waspada.

"Kematianmu bodoh," ucapnya mengulurkan tangannya, dan tangan dingin itu mencekram leher Draco. Draco meronta-ronta dan tak ada sorot belas kasihan dari mata sang pencekik.

"Lepaskan aku bodoh! Lepaskan!" ucap Draco berusaha melawan, namun ia tak bisa. Tangannya diborgol oleh sesosok monster yang mengerikan, masa lalunya.

Masa lalunya itu tertawa melihat Draco yang tercekik. Bahkan seringai puas dari sang pencekik semakin melebar ketika melihat tubuh Draco melemas tak melawan.

"Mati kau!"

-To Be Continued-

A/N "Just Review and we can see what the next"

Romance? Just wait.

"Clato-chan, mellamello11, bluebels01, mike, scorpryena, guest, aprilda, electramalfoy,yellowers, reader, loading, apple, clairy cornell, ."

Aku akan mengupdate dengan jarak 1 atau 2 minggu sesudah publish. Jika melebihi batas silahkan Inbox atau send me pm di ffn atau facebook :)