"Mati kau!" ia begitu bahagia, pria yang memiliki wajah yang nyaris sama sepertinya tersenyum lebar melihat penderitaan itu. "Kau tahu Draco, kematianmu adalah kebahagiaanku."
Draco hanya diam, ini adalah kejadian yang tidak adil menurutnya. Dua lawan satu.
Tubuhnya perlahan melemas, seluruh cairan, udara yang seharusnya mengalir melalui tenggorokannya mulai berhenti. Lehernya memanas dan perih, matanya mulai tak jelas menggambarkan peristiwa itu.
"Tidak," sebuah perkataan perlawanan dari Draco.
"Aku tak boleh mati, kau yang seharusnya mati!" ucap Draco menjerit dengan segenap kekuatannya.
...
Hi, I'm Your Killer.
Author – C.O.N.S
Rated - T semi M.
Harpot Characters- J.K Rowling
Romance, Hurt/comfort, Supranatural.
Warning inside.
Don't Like Don't Read
...
Draco tersadar baru mimpi buruknya, tubuhnya sedikit menegang menahan semua rasa ketakutan yang menjalar ke dalam tubuhnya serta pikirannya. Perasaan aneh melandanya, baru pertama kali ia bermimpi seperti ini tetapi tubuhnya seperti sudah biasa mengalami reaksi ini.
Keringat sedikit keluar dari tubuhnya, uratnya menengang sementara dirinya hanya berusaha mengatur nafasnya untuk kembali normal. Ia menatap semprei putih yang kusut akibat ulahnya.
Draco mencoba untuk tenang, memastikan dirinya bahwa itu hanyalah mimpi belaka dan itu tak boleh menganggunya. Tetapi ia merasa kekuatannya habis, pikirannya seolah memaksanya untuk sadar dari mimpi buruknya dan itu menghabiskan semua tenaganya.
Ia mengacak rambutnya yang kacau, mengusap wajahnya yang kusut mencoba untuk menangkan dirinya. Mimpi ini begitu nyata, kenapa ia bisa melihat dirinya sendiri seolah-olah ingin membunuhnya? Apa yang salah dengannya?
Sebuah suara langkah kaki membuatnya menoleh, Hermione menatapnya dengan pandangan aneh antara suka atau tidak. Draco tahu bahwa wanita itu menyimpan sesuatu dari wajahnya dan Draco tak tahu itu.
Apa yang berada dipikiran Theodore, menitipkan pembunuh bayaran untuk menjaganya? Bukankah ini suatu kegilaan? Apakah Theodore ingin membunuhnya secara perlahan.
Kejadian yang aneh ini membuatnya sedikit terganggu.
"Apa yang terjadi denganmu? Mengapa wajahmu begitu kusut?" tanya Hermione mendekati ranjang Draco. Sementara pria yang ditanyainya hanya diam, membuang mukanya dan tak mau melihat wajah wanita itu.
Ia memilih untuk melihat kearah jendela dari pada melihat wanita itu.
"Apa yang terjadi? Apakah kau marah padaku?" tanya Hermione sedikit melunak.
"Tidak—tidak apa," ucap Draco mengarahkan kepalanya menatap kembali semprei kasurnya. "Kurasa aku sudah merasa sedikit enakkan, bisakah aku pulang?"
Hermione berpikir sejenak, sebenarnya apa yang sedang disembunyikan Hermione ini berhubungan dengan tempat tinggal Draco. Entah apa yang dipikirkan pria itu.
Walaupun Theodore memberikan sebuah alasan yang jelas tentang hal itu, tetapi tetap saja hatinya sedikit menolak.
Theodore memberikan uang yang cukup banyak untuknya, atau lebih tepatnya mengurus keperluan Draco tetapi pria itu tak boleh datang menuju semua harta warisannya. Draco tak boleh keluar bebas mendekati perusahaannya bahkan Theodore mengusulkan untuk menginsolasi Draco pada sebuah rumah mewahnya di bibir pantai. Tetapi ada yang lebih gila lagi, Hermione harus merawat pria itu dan mereka hanya tinggal pada rumah itu hanya berdua.
Walaupun itu sudah cukup untuk menghalau kecurigaan kepolisian serta mafia, tetapi hal itu tetap saja membuatnya sedikit takut.
Draco sedang lupa ingatan dan sifat pria itu berubah 180⁰, jika sebelum ia lupa bahwa dirinya adalah pria yang lihai mempermainkan wanita karena kekayaannya, tetapi Draco yang sekarang sangat berbeda. Pria itu lebih menurut, lebih baik, lebih pendiam, dan lebih tertutup sedikit menegangkan.
Hermione merasa gelisah, jujur ia sedikit tertarik dengan perubahan sikap Draco yang berubah menjadi pria seutuhnya bahkan Theodore memprediksi bahwa Draco belum mengenal perasaan cinta itu sendiri.
Karena Draco baru bertungangan setelah ia berjaya dan pembunuhan itu membuatnya sedikit acuh tentang percintaannya.
"Untuk sementara kau tinggal bersamaku," ucap Hermione mencoba untuk tersenyum walaupun ia tahu bahwa Draco mengacuhkannya. Entah mengapa Hermione bersikap seolah ia merawat anak keras kepala yang menyebalkan.
"Tidak, aku ingin pulang. Lagi pula aku tak tahu apakah aku aman tinggal bersamamu?"
Hermione memijat pelipisnya, Draco benar-benar mencurigainya. Berterimakasilah kepada Theodore yang membuat, mengacau serta memaksanya. Pria itu benar-benar membuatnya terseret dalam kehidupan Draco.
"Draco, kenapa kau tak mempercayaiku?" tanya Hermione berusaha memastikan bahwa ia harus membujuk Draco untuk percaya kepadanya.
"Aku tak mengenalmu, lagi pula aku tak memiliki hubungan apapun denganmu."
Hermione sedikit gusar, Draco benar-benar tidak mempercayainya. Tentu saja orang yang dipercayai Draco hanya Theodore dan kini pria itu benar-benar berubah ketika ia sadar.
"Aku temanmu. Teman akrabmu, apakah kau mau pulang denganku?"
Draco mendengus, berbaring dan tidak peduli dengan ucapan Hermione, matanya sedikit melamun dan Hermione benar-benar kacau.
"Draco bisakah kita bekerja sama? Kau harus pulang bersamaku, karena tidak aman jika kau tinggal di luar sana. Aku berjanji bahwa aku tidak akan membunuhmu tetapi kau harus pulang bersamaku. Bagaimana?"
Draco sedikit menimang ucapan Hermione, menatapnya lagi dan Hermione menatapnya berharap bahwa ia mampu membujuk Draco.
"Baiklah,"
Mendengar hal itu Hermione nyaris melompat kegirangan.
...
Theodore mengantarkan mereka dengan helikopter milik Draco, tetapi Draco hanya memilih untuk melamun selama perjalanan. Jujur sebentar lagi mereka akan tinggal berdua dan hal itu membuat Hermione sedikit gelisah. Walaupun Theodore bilang ada beberapa orang yang tinggal disana tetapi tetap saja Hermione khawatir.
Rumah dengan nuansa perkebunan yang kental, Draco memiliki villa yang cukup bagus dengan hutan buatan dan rumah kayu modern. Rumah itu begitu nyaman dan hangat ketika mereka masuk pertama kali. Perapian, permadani, peralatan mewah dan gudang wine. Bukankah rumah ini lebih cocok untuk bulan madu? Dari pada rumah menginap sementara?
Draco segera berbaring pada ranjang yang sudah dipiliihnya sementara Hermione tidur pada kamar seberangnya. Pria itu memilih untuk melamun dan Hermione mencoba untuk membuat Draco untuk mengingat kembali masalalunya walaupun secara tidak langsung.
Hal pertama yang Hermione lakukan adalah memasakan makanan untuk pria itu. Ia yakin bahwa makanan di rumah sakit tidak nyaman dan tentu sup tiram dan chicken fillet with brown sauce adalah menu yang sehat untuk Draco.
Ia mengambil sepotong ayam, membersihkannya dan merebusnya lalu memotongnya menjadi potongan kecil-kecil. Ia juga membersihkan tiram dan berbagai bahan-bahan yang sudah disiapkannya. Hanya dalam waktu 30 menit Hermione menyelesaikan kegiatan masaknya.
Ia menghias meja, dan menyusun semua makanan itu lalu menuangkan jus pir untuk Draco.
Semula Draco menolak untuk makan tetapi Hermione memaksanya dan disinilah mereka. Makan dimeja makan yang sama namun tak bercakap-cakap.
"Bagaimana Draco?"
"Aku tak tahu kalau kau bisa memasak,"
"Kau menghinaku? Tentu aku bisa memasak!"
Draco menghabiskan makanannya, "cukup enak,"
"Cukup? Hanya cukup?" ucap Hermione. Tetapi Draco tak membalas ucapannya, memakan makanannya dan meminum jusnya, membereskan piringnya dan mencucinya.
"Terimakasih untuk makanannya."
Hermione cukup senang mendengarnya, tetapi suatu perasaan yang cukup menggangunya sedikit menyebalkan. Bagaimana bisa pria itu mengucapkan kata-kata yang manis?
"Ingat Hermione, dia itu lupa ingatan dan itu hanya bertahan sebentar!"
...
Hari pertama mungkin tidak buruk dan Hermione berharap jika hari selanjutnya menjadi baik, namun nihil. Sudah seminggu Hermione tinggal bersama Draco dan pria itu menujukkan gelagat bahwa ia ingin sedikit tertekan—sangat tertekan.
Semenjak makan malam itu, Draco jarang keluar dan memilih untuk mengurung dirinya dikamarnya.
Ia selalu meringkuk dari sudut ranjangnya, menekuk kakinya dan mengawasi sekelilingnya buhkan cuma itu sudah 3 hari ini Draco tidak mau tidur. Setiap kali ia tidur pria itu menjerit-jerit seperti tersiksa kemudian ia menjadi curiga serta waspada.
Hermione yang melihatnya sedikit terganggu dan merasa sedikit iba pada pria itu. Memang tak seharusnya iba terhadap pria itu, tetapi mengingat bahwa pria itu sudah sedikit menolongnya dengan memberikan sebuah kamar mewah kepadanya dan tidak memperlakukannya sebagai wanita rendah.
Well mungkin ini adalah saatnya untuk berterimahkasih dan dirinya impas.
Ia membawakan sarapan untuk Draco, pria itu juga jadi jarang makan sehingga tubuhnya semakin kurus. Setiap kali Hermione memaksanya untuk makan ia hanya diam, melamun dan tak peduli.
Hermione menyerah, ia menarik kursi dan duduk diatasnya dengan sopan. Mata kelabu Draco terus mengawasi namun Hermione mencoba untuk tenang. Ia menghela nafas berat, menenangkan dirinya—atau menguatkan dirinya. Memejamkan matanya dan membuat tubuhnya santai, karena ia tahu Draco bisa membuat emosinya memuncak.
"Baiklah, namaku Hermione. Siapa namamu?"
Bingung dengan mata melirik tajam dan sementara alisnya sedikit berkerut, itulah ekspresi Draco ketika mendengar perkataan Hermione.
"Bisakah kau duduk nyaman? Lalu kita berbicara?" tanya Hermione ramah.
Draco sedikit curiga namun ia memilih untuk menuruti wanita itu, walaupun ia duduk agak jauh dari Hermione, menjaga dirinya sendiri.
"Siapa namamu, tampan?" tanya Hermione mencoba untuk meringankan suasana.
"Draco, Draco Malfoy." Ucapnya singkat. Ia tak bertanya apa yang dilakukan Hermione atau apa, tetapi memilih untuk menjawabnya.
"Apa kesukaanmu?"
"Tidak ada,"
"Tidak ada ya? Baiklah Draco, tentu kau bingung bukan dengan apa yang kulakukan?"
Draco mengangguk setuju.
"Aku akan membantumu, melihatmu yang sedikit tertekan. Sungguh baik jika kau mau memberikan sedikit masalahmu agar aku bisa membantumu menyelesaikannya."
Draco sedikit gusar, matanya melihat Hermione kemudian menatap arah lain dan itu dilakukannya berulang-ulang.
"Aku tak akan menyakitimu Draco,"
Draco menggigit jempolnya, tatapan terakhir yang dilontarkannya seolah meminta pertolongan tapi ia tak tahu harus mulai dari mana.
"Draco?"
"Baiklah, kudengar kau cukup mengenalku di tahun yang lain. Aku tak tahu Hermione, aku merasa aneh dengan diriku sendiri."
Hermione mendengarkan dan perlahan Draco mengubah posisi duduknya dari menekuk dan sedikit melonjorkan kakinya. "Aku mencoba untuk mengingat apa yang terjadi, tapi tidak bisa. Sementara aku terus bermimpi buruk. Seorang pria yang memiliki wajah sepertiku selalu mencoba membunuhku dan itu membuatku sangat tertekan. Karena itu aku tak berani tidur, tetapi kalau aku tak tidur aku merasa mimpiku menjadi nyata. Bahkan aku pernah melihatnya berjalan dirumah sakit dan mencoba untuk menyerangku. Tetapi tiba-tiba suster datang dan dia menghilang,"
Hermione cukup heran dengan ucapan Draco tetapi memang benar bahwa Draco selalu merasa ketakutan akhir-akhir ini.
"Apa kau mengangapku gila? Atau kan akan menyuntikanku bermacam-macam obat?" tanya Draco.
"Tidak, aku tak mengangapmu gila dan aku takkan memberikanmu bermacam-macam obat." Ucap Hermione berdiri dari kursinya, ia duduk mendekati Draco, menjulurkan tangannya diatas kepala Draco dan pria itu menutup matanya berusaha menahan tindakan Hermione.
Draco berpikir bahwa Hermione akan memukulnya, tetapi tidak. Wanita itu mengusap rambutnya, memeluk tubuh Draco, mengusap pungungnya.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Draco berusaha untuk melepaskan diri.
"Diamlah dan pejamkan matamu!" perintah Hermione dan pria itu menurutinya.
Hampir 15 menit Hermione mengusap pungungnya terus menerus dan pria itu terlelap dalam tidurnya, ia sedikit membaringkan Draco pada kasur dan menyelimuti tubuh pria itu.
Berjalan perlahan keluar dari kamar Draco dan menutup pintunya.
Ia mengeluarkan ponselnya, menelpon nomor Theodore.
"Hermione, bagaimana?" ucap Theodore sedikit antusias dengan panggilan dari Hermione.
"Aku hanya ingin bilang bahwa Draco cukup tertekan tinggal di dalam rumah. Aku ingin mengajaknya keluar sebentar, kudengar ada pantai bagus di dekat sini. Apakah aku boleh membawanya?"
"Tentu kau boleh, asalkan kau jangan membunuhnya dan ingat jangan jatuh cinta kepadanya!" seru Theodore.
Hermione sedikit tertawa dengan perkataan terakhir Theodore. "Tentu saja tidak, bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?"
"Mungkin karena kalian sering berdua? Tentu saja cinta bisa muncul dimanapun dan kapanmu, Mione."
"Apa kau menyukaiku Theodore?" tanya Hermione sedikit usil.
"Mungkin?" ucap Theodore dengan nada usil.
"Kau gila!" bentak Hermione dan mematikan ponselnya. Ia tahu bahwa Theodore hanya menggodanya dan tentu saja pria itu hanya bercanda.
Tetapi Hermione tak mau memikirkannya, "Liburan? Kurasa bukanlah sesuatu yang buruk."
...
Hermione sudah menyiapkan semuanya. Ia mengambil kopernya dan memasukkan pakaiannya, begitu juga dengan paspor dan kebutuhan yang lainnya. Ia tak menunggu jawaban Draco bahwa pria itu setuju untuk jalan-jalan atau tidak.
Hermione sudah menyiapkan sandwich tuna serta jus tomat. Makanan bergizi sangat penting kesehatan Draco bukan?
Pria itu bangun dari tidurnya dan kabar baiknya ia tak terbangun dimalam hari seperti biasanya atau meraung-raung tak jelas.
"Bagaimana tidurmu, Big baby?"
Draco menarik kursi dan mengambil sandwich yang sudah disediakan Hermione.
"Cukup menyenangkan, well aku tak tahu mengapa tapi tidurku cukup nyenyak."
"Itu bagus, jadi kalau begitu kau pasti memiliki cukup banyak tenaga untuk jalan-jalan,"
"Jalan-jalan?" tanya Draco kemudian mengunyah sandwichnya.
"Ya, ada pantai yang cukup menarik di dekat sini. Kau mau kesana? Bukankah melihat suasana pantai begitu menenangkan?" Tanya Hermione, duduk disebrang Draco dan memakan sandwichnya juga.
Draco sedikit berpikir, tetapi ia tahu bahwa Hermione memaksanya. Iya atau tidak jawabannya tetap saja Hermione akan memaksanya untuk pergi.
"Terserah,"
"Tentu Draco kau tak boleh menolak."
"Baiklah, aku akan menyiapkan pakaianmu," ucap Hermione berdiri dari kursinya, tetapi tangan Draco menahannya.
"Tidak perlu, biar aku yang mengurusnya. Nikmatilah sandwichmu," ucap Draco seraya berdiri dari kursinya.
Hermione hanya tersenyum mendengarnya. Setidaknya Draco mau berkerja sama dengannya.
...
Hermione mengenakan kaca mata dengan kaca gelap berbingkai putih, ia juga mengenakan celana pendek jeans dan kaos bergaris-garis tanpa lengan. Sementara Draco hanya mengenakan kaos putih tipis dan celana pendek.
"Apa yang ingin kau lakukan setelah kita sampai?"
"Entalah, bersenang-senang mungkin?" jawab Hermione santai, matanya terus fokus pada jalan dan kurang memperhatikan Draco yang duduk disampingnya.
"Apa kau orang kaya?" tanya Draco tiba-tiba, Hermione sedikit terkejut tetapi ia mampu menjawabnya dengan tenang. "Aku memiliki uang yang cukup untuk diriku sendiri,"
"Kelihatannya kau memiliki lebih," ucap Draco sedikit skakartis.
"Bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu?"
"Mobil bagus yang sedang kau kendarai ini. Tentu bukan harga yang sedikit bukan?"
Hermione tertawa mendengar ucapan Draco, tentu pria ini lupa ingatan karena itu ia tak menyadari bahwa mobil yang dikendarai Hermione adalah miliknya.
"Bagus? Kau menyukainya?" tanya Hermione dan pria itu hanya mengangguk.
Kemudian hening, Draco dapat merasakan hembusan angin yang menerpa kulit pucatnya. Aroma asin dan panas matahari samar-samar mulai tercium, ia menyukai aroma ini. Begitu menenangkan, cuaca yang cerah namun tidak terlalu panas bahkan sedikit teduh benar-benar menyenangkan.
Hermione memarkirkan kendaraannya, mengeluarkan bekal yang sudah dibuatnya dan pakaian ganti untuk mereka berdua. Mata kelabunya menatap lurus ombak-ombak yang menari-nari menyambutnya. Bahkan ia menghirup dalam-dalam udara yang nyaman itu lalu mengeluarkannya secara perlahan.
"Bagaimana kau menyukainya?" tanya Hermione berdiri disebelahnya.
Draco tak menjawab tetapi tubuhnya sedikit terdorong, Hermione mendorong pelan tubuh pria itu, "Bermainlah sampai puas dan biarkan aku yang menyiapkan segalanya."
Draco menoleh, kemudian ia berlari dengan cepat seperti anak kecil yang terlalu bahagia mendekati bibir pantai.
Laut dengan warna biru bercampur hijau muda dengan dua warna yang mencolok. Pasir putih, dan pemandangan khas lainnya. Pantai ini jarang dikunjungi orang mengingat letaknya agak sedikit susah atau terpelosok.
Hermione menyediakan semuanya, melihat Draco yang berlari kecil mendekati pantai kemudian berjalan mundur, lalu maju lagi sepertinya ia sedikit ragu untuk berenang.
Kurasa ia lupa bahwa dirinya adalah perenang yang handal. Draco benar-benar tak menyadari bahwa ia memiliki banyak bakat, namun sayang ia melupakannya seolah ia merestart sendiri pikirannya.
Hermione mendekati Draco, ia mengenakan bikini dengan warna biru yang mempesona. Ia mendekatkan kakinya, berjalan dengan berani mendekati laut, mengandeng tangan Draco.
Dingin adalah kata pertama yang diucapkan Draco, Hermione tersenyum kecil berusaha untuk membuat Draco nyaman. Ia tahu bahwa Draco tertekan karena itu Hermione harus menenangkan pria itu sebelum menjadi fatal.
Draco memandang kecil sekelilingnya, tetapi Hermione sedikit usil melemparkan air yang mengenai wajahnya. Semula Draco tak bereaksi, tetapi begitu melihat Hermione tertawa ia membalas wanita itu dengan cipratan air yang lebih kuat dari Hermione.
Tak mau kalah Hermione juga menyipratkan air, tubuh mereka benar-benar basah dan Draco menyukainya.
Bahkan ia melontarkan senyum tulus yang manis dari wajahnya, ia begitu bahagia dan Hermione belum pernah melihat wajah serta ekspresinya yang seperti ini.
Ia merasa aneh tapi ia ingin semakin sering melihat wajah Draco yang seperti itu, perlahan semburat merah menguasai dirinya.
Draco tertawa, ia menyipratkan air kesembarang arah dan ia tertawa lepas.
"Draco,"
"Ya?" tanyanya dan sebuah kecupan mendarat pada bibirnya. Hermione menciumnya dengan lembut, bahkan Draco dapat merasakan bibir merah muda yang menggoda itu begitu nikmat dan memabukkan.
Pria itu tak melawan bahkan menikmati apa yang sedang dilakukannya. Draco melumat bibir wanita itu, perlahan tangannya memeluk tubuh wanita itu dan mendalamkan ciuman mereka. Gelombang kecil dari ombak, pasir putih, teriknya matahari adalah saksi ciuman mereka.
Hermione menyadari tubuhnya yang bergerak sendiri, membuka matanya dan terkejut akan apa yang sedang dilakukannya. Ia mendorong kecil tubuh Draco, membuat pria itu melepaskan pelukannya, wajahnya memerah seperti kepiting rebus dan ia menutup bibirnya dengan pandangan tak percaya.
"Maaf," ucapnya singkat dan berjalan keluar menjauhi Draco dan mendekati bibir pantai.
Draco hanya terdiam, tak mengerti apa yang sedang terjadi tetapi ciuman Hermione harus diakui sangat menyenangkan dan ia sangat menikmatinya.
Seolah ciuman itu begitu tulus dan ia tak tahu mengapa, tubuhnya begitu bersemangat atas ciuman itu dan perasaan bahagia mengedor-gedor jantungnya.
Hermione masih menyentuh bibirnya, ia tak percaya dengan apa yang dilakukan tubuhnya. Bagaimana bisa ia mencium pria itu? Apa karena mereka tinggal berdua dan ini yang terjadi?
Tidak! Hermione tidak boleh menyukai Draco. Pria itu sudah membunuh kekasihnya, dan hanya karena sebuah ciuman ia merasa tubuhnya kacau.
"Tidak! Aku tak boleh membiarkan tubuhku! Bagaimana bisa aku menciumnya?"
Hermione terdiam, ia menoleh kebelakang, menatap pria yang sedang asyik bermain air laut itu. Ia begitu tampan dengan sinar matahari yang menyinarinya.
"Tidak aku tak boleh menyukainya!"
To Be Continued-
A/N "Just Review and we can see what the next"
Romance? Just wait.
Author Note : Maaf sebesar-besarnya kurasa aku tak bisa menepati janjiku karena berhalangan dengan Laptop yang sempat rusak tetapi untunglah datanya tidak hilang. Jadi aku tak berani menjanjikan apa yang belum bisa kutepati. Tapi aku tak menyangka bahwa masih ada yang mencari cerita membosankan ini :)
Thank to :
Guest, Shailenamalfoy, Veni346, electramalfoy. Aplle, scorpryena, yellowers, wanda, loading, arinamour036, macey harris, mrs. Alex Watson, clairy cornell.
