Hermione mendengus kecil. Ia benci diperintah terutama oleh Theodore, dan semakin lama pria itu semakin kurang ajar terhadapnya.

Theodore hanya berkata bahwa ia dan Draco harus pulang sekarang dan segera mematikan ponselnya. Hermione tak tahu apa yang ada dipikiran pria itu dan nyaris mengeluh karena sifat Theodore yang berubah total, memang pria itu menjaga Draco tetapi sekarang ia seperti pemegang semua kekuasaan Draco dan itu sangat menyebalkan.

Hermione kembali menuju dapur dengan ekspresi yang cukup menyebalkan ia melihat Draco sudah menyelesaikan makanannya dan membereskan peralatan makannya. Pria itu sedikit menatap wajah Hermione sebentar lalu kembali ke pekerjaannya,"apakah kita akan pulang?" tanyanya, terlihat ia mendengar percakapaan itu.

...

Hi, I'm Your Killer.

Author – C.O.N.S

Rated - T semi M.

Harpot Characters- J.K Rowling

Romance, Hurt/comfort, Supranatural.

Warning inside.

Don't Like Don't Read

...

Hermione hanya mengangguk kecil, menyeret kursi dan menggigit sedikit pancakenya. Tetapi telepon dari sang pria angkuh Theodore sukses membuatnya tak bergairah untuk menyantap makanan itu.

"Kenapa kau tak senang kembali bersama Theodore?" tanya Draco menyalakan keran air dan membilas piring kotor.

Hermione mendengus, "entalah, aku tak nyaman bersamanya. Dia sedikit berubah," ucap Hermione kemudian menerawang.

"Bagaimana denganku, kau nyaman bersamaku?" tanya Draco tiba-tiba dan sukses membuat Hermione nyaris melonjak dari tempat duduknya. "Tentu saja tidak, kalian berdua sama-sama menyebalkan."

"Aku hanya bertanya Hermione. Kenapa reaksimu seperti wanita yang kepergok berselingkuh?" goda Draco, mematikan keran air lalu ia mengambil serbet dan mengeringkan tangannya lalu duduk disebrang Hermione.

"Aku tak memberikan reaksi apapun atas pertanyaanmu,"

"Tetapi wajahmu memerah Hermione," ucap Draco tersenyum kecil dan Hermione menunduk kesal, kenapa wajahnya bisa memerah?

Draco berdiri dari kursinya, berjalan menuju belakang kursi Hermione. "Apa yang mau kau lakukan?"

"Memijat? Kau kelihatannya lelah sekali,"

Hermione segera berdiri, mengambil piring dengan sisa makanan itu dan berjalan menjauhi Draco, "jangan bersikap manis Draco, karena kalau kau sudah mengingat semuanya itu terasa sangat menyeramkan."

"Memangnya ada apa? Ada yang salah? Apa yang kau bicarakan?" tanya Draco sedikit terkejut dengan tindakan Hermione yang tiba-tiba.

"Kau lupa ingatan Draco, kau seharusnya tau itu. Tetapi kenapa kau tak berusaha untuk mengingatnya? Bukankah aku dan Theodore selalu mengucapkannya." Hermione mendengus, membuang sisa makanannya ke bak sampah lalu menaruh piring di wastafel.

"Lalu? Jelaskan padaku apa yang kulupakan? Kenapa kau takut sekali denganku?"

Hermione sedikit ragu menjelaskannya, menatap piring kotor, ragu apakah ia harus memberitahu Draco atau tidak. Mengingat pikiran Draco sedang tidak stabil.

"Aku tak bisa memberitahumu,"

"Beritahu aku Hermione. Kau selalu memaksaku untuk mengingat INGATANKU, tapi aku tak bisa mengingat apapun yang kulupakan. Aku tak mendapatkan petunjuk sedikitpun!" bentak Draco. Hermione terkejut dan pria itu terlihat gelisah.

"Aku tak mendapatkannya Hermione, tetapi aku selalu bermimpi bahwa aku dikejar oleh orang yang memiliki wajah sepertiku! Setiap aku tertidur aku selalu bertemu dengannya, Apakah itu kurang? Apalagi yang harus kuketahui untuk bisa mengingat siapa diriku? SIAPA AKU!" ucap Draco membentak terlihat bahwa ia tidak mengerti apa yang terjadi. Tubuhnya penasaran dengan siapa dirinya tetapi jiwanya tidak.

Hermione mengambil nafas panjang, menghembuskannya berusaha mencoba memikirkan kata-kata yang tepat.

"Baiklah Draco, kurasa aku harus memberitahumu. Kau menakutkan untukku, karena Draco yang kukenal adalah pria yang tegas, dingin, sadis dan tak pandang bulu. Tak ada perasaan selain perasaan bahagia—karena melihat ketakutan dari musuhmu, dan perasaan kecewa karena sebuah penghianatan."

Pria itu menatap Hermione, rahangnya keras dan ia terlihat marah dengan ucapan wanita itu. Ia mengepalkan tangannya, dan dari wajahnya terlihat bahwa dirinya ingin menyangkal semua itu.

"Kau Draco Malfoy, pemimpin Malfoy Group, dingin, tegas, kejam, jahat namun tetap darah bangsawanmu tak pernah hilang. Sosok lembut, ramah, dan menyenangkan seperti ini bukanlah dirimu Draco. Aku tahu kau lupa ingatan, tetapi perubahan sikap ini membuatku takut." Hermione menekan bibirnya, ia membisu sebentar, sedikit ragu apakah ia harus melanjutkannya atau tidak. Sementara Draco menatapnya dengan pandangan tak percaya, "Jika disisi lain aku terus menyangkal untuk tidak menjauhimu karena kondisimu, disisi lain aku selalu mengingatkan tentang siapa kau sebenarnya."

"Tak seharusnya kau baik denganku. Baik, aku dan kau, kita disini hanya untuk urusan bisnis semata. Aku memata-matai kegiatanmu dan kau seharusnya tak memberiku celah untuk memasuki perusahaanmu seharusnya kau berhati-hati denganku Draco,"

"Kesempatan kita untuk bersama sangatlah minim dan aku tak mau menambahnya," ucap Hermione, ia merasa bahwa tenggorokannya sedikit serak ketika menghentikan ucapannya.

"Kurasa aku mengerti. Sekarang aku mengerti kenapa kau selalu memberiku jarak denganmu. Kupikir kau seseorang yang baik Hermione. Tentu hidup berdua dengan pembunuh sadis itu pasti menakutkan bukan?" ucap Draco berusaha untuk menenangkan suaranya. Walaupun ia sedikit tidak terima tetapi pria itu berusaha untuk mengerti.

"Tunggu Draco, memang itu benar tetapi— kau cukup menyenangkan, hanya saja kalau kau mengingat semuanya itu terasa menakutkan." Bagaimana kata-kata itu bisa muncul dari mulutnya? Apa yang ada dipikirannya? Sebenarnya ia ingin menenangkan pria itu atau malah membuatnya semakin kesal?

"Hermione, aku tak tahu apa yang kau ucapkan. Tetapi kini aku menyadari bahwa mengapa aku bisa melupakan ingatanku." Draco berdiri menatap jendela.

"Draco," panggil Hermione merasa bersalah. Tak seharusnya ia membuat kesalah pahaman seperti ini.

"Ternyata aku benar-benar jahat. Lalu kenapa kau tak membunuhku saja? Bukankah itu bagus? Aku tak bisa mengingat apapun. Kau seharusnya membunuhku, Hermione." ucap Draco keluar dari dapur, ia menerawang, tak menyangka bahwa dirinya seperti itu. Selama ini ia berpikir bahwa ia adalah pribadi yang menarik dan menyenangkan tetapi nyatanya ia adalah seorang monster.

"Draco tenanglah, baiklah aku minta maaf. Tak seharusnya aku membebanimu," Hermione ingin sekali mengutuk mulutnya yang semakin tak terkendali. Ia sedikit menundukkan kepalanya menatap lantai tak berani menatap punggung pria itu. Bahkan seorang pembunuh bayaran bisa merasa tak nyaman dengan seseorang.

"Tidak Hermione, seharusnya aku berterimakasih kepadamu. Kau tak boleh jatuh cinta kepadaku karena itu berbahaya. Aku sudah mengerti dari kemarin bahwa kau sudah menderita cukup banyak tak seharusnya kau menderita lagi!"

"Apa? Tidak Draco, jangan mencoba untuk bunuh diri!" ucap Hermione spotan. Tentu jika Draco meninggal, masalah akan semakin runyam.

"Tidak! Kurasa aku mengerti bagaimana caranya untuk mengembalikan ingatanku Hermione." ucap Draco sedikit meringis.

"Bagaimana?" ucap Hermione.

Draco menyeritkan alisnya, ia menyentuh dagunya seperti orang yang sedang berpikir,"Sumber semua mimpi burukku Hermione."

"Dimana itu?" ucap Hermione penasaran.

"Rumah tua itu. Rumah ketika aku masih kecil,"

...

Hermione menatap rumah besar dan mewah itu. Tak sembarangan orang bisa masuk kedalam rumah itu, tetapi Hermione mendapatkan ijin dari polisi setempat. Garis polisi yang semula berwarna kuning kini berubah warna menjadi kuning pucat, bahkan terlihat sedikit sobek. Rumah mewah dengan halaman yang luas, serta rumah yang memang menunjukkan bahwa sang pemilik rumah adalah orang yang sangat kaya. Tetapi kini rumah yang semula dibanggakan itu malah seperti rumah hantu.

Hermione menyadari bahwa Draco memang sudah terlahir sebagai orang kaya ketika ia bayi namun tidak beruntung ketika ia beranjak dewasa. Tetapi dengan kegigihannya ia bisa mendapatkan semua kejayaannya kembali ketika dewasa. Mata coklatnya menatap pria disebelahnya yang menatap rumahnya dengan pandangan dingin.

Draco berjalan perlahan, ia memasuki rumahnya. Banyak perabotan yang sudah hilang, ada yang masuk rumah lelang dan ada yang dicuri.

Namun suatu perasaan asing ketika Hermione memasuki rumah itu, suatu perasaan seolah menceritakan tentang kejadian mengerikan yang sedang dulu pernah terjadi pada rumah mewah ini.

Hermione membayangkan bagaimana rumah mewah itu, terlihat dari sudut dan bentuk ruangan Hermione bisa membayangkan seperti apa rumah mewah itu dulu.

Barang-barang antik nan mahal, berbagai macam pelayan, beberapa orang terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka. Ada yang membersihkan kaca, lemari dan masih banyak lagi. Mungkin mereka memang dibayar untuk mengerjakan pekerjaan seperti itu.

Hermione melihat dua orang pria berambut pirang dan hitam yang sedang duduk manis dan mendengarkan guru privat mereka. Hanya hitungan detik Hermione mengetahui siapa dua bocah itu, Draco dan Theodore.

Semua hal baik yang diputar dirumah itu, sampai ia mendengar suara bising seperti orang bertengkar sementara Draco kecil yang semula bermain diluar kini mendekati pintu ruang keluarnya.

Dan tiba-tiba seorang pria dengan muka tegak, rambut pirang berjalan memasuki ruangan. Draco dan Theodore segera berdiri dan sedikit menunduk.

"Ayah," desis Draco kecil, tetapi pria itu tak mengubrisnya bahkan melihat bocah berambut pirang itu saja seolah tak ingin. Hermione menyadari bahwa ayah Draco terlihat kurang menyukai Draco. Tetapi tatapannya berbeda ketika melihat Theodore, pria itu sepertinya lebih peduli dengan Theodore daripada Draco.

Pria itu berjalan melewati mereka dan memasuki sebuah ruangan disamping ruangan belajar Draco, dua orang wanita cantik menyusul kemudian, Hermione tahu bahwa kedua wanita itu adalah ibu mereka.

Seorang wanita cantik dengan rambut pirang berkata, "aku tak tahan lagi! Aku tak tahan dengan semua ini. Kita bangkrut dan apa lagi yang harus kulakukan? Aku tak mau menjilat kaki mereka memohon uang!"

Semula pria itu diam, menatap wajah wanita itu dengan dingin seolah merendahkannya.

"Apa yang kau mau? Kau tak ingin lagi hidup denganku?" tanya pria itu lagi. Terlihat bahwa mereka sering berdebat tentang masalah keuangan ini dan hal itu membuat sang pria bosan dengan pertanyaan yang sama.

"Tidak bagaimana bisa kau berbicara seperti itu?"

Pria itu tersenyum, kemudian memandang wanita itu merendahkan. "Rendah!"

"Jaga ucapanmu Lucius!" desis wanita itu.

"Cih, bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Padahal aku tahu bahwa kau bermain cinta dengan pria lain dibelakangku?"

Wanita itu tampak panik bahkan ia tak bisa membantah dan hanya diam.

"Kau pikir aku buta Narcissa?! Aku mengenalnya, pria brengsek itu juga seorang bangsawan bukan? Kebangkrutan ini bukanlah hal susah untukmu, karena kau bisa menjadi seorang selirnya!"

Wanita itu berdiri, "Kau benar-benar gila Lucius, semua hal ketidakwarasaan ini membuat kau gila. Kalau kau bilang aku berselingkuh terserah padamu. Aku tak peduli," ucapnya kemudian berdiri dengan anggun. Matanya menatap putranya Draco yang menatap dari ambang pintu.

Suara tembakan terdengar selanjutnya. Narcissa perlahan mulai ambruk didepan Draco kecil dan anak itu masih terkejut tak percaya dengan apa yang terjadi. Sementara Lucius mengarahkan pistol itu dan suara pistol itu kemudian terdengar.

Dua wanita tewas bersimpah darah pada ruangan mewah itu. Begitu mengerikan dan mencekam.

"Bukankah ini bagus? Aku bisa mendapatkan uang dari kematian kalian,"

Draco menatapnya dengan tak percaya, tubuh kecilnya bergetar hebat dan kakinya sepertinya lumpuh untuk pertama kalinya ia melihat pembunuhan. Mata kelabunya mengunci sosok pria jahat yang menatapnya dengan dingin.

Mata kelabu itu saling menatap.

Lucius berjalan mendekati Draco kecil.

Lucius ternyum penuh arti dan Draco tahu bahwa itu bukanlah arti yang bagus untuknya, "Tak boleh ada saksi," ucap Lucius mengarahkan pistolnya kearah Draco kecil.

"Ayah," panggilnya dengan suara bergetar,

"Ayah? Masi pantaskah kau memanggilku ayah? Kau bukan anakku Draco, anakku hanya Theodore bukan kau. Aku mencintai istriku yang bisu itu karena ia setidaknya tidak mengecewakan seperti ibumu Draco. Jadi matilah kau anak haram!" ucap Lucius menarik pelatuk.

Suara tembakan terdengar.

Baik tubuh Draco maupun Lucius membatu.

Beberapa detik kemudian suara tubuh roboh dan darah dimana-mana.

Draco terdiam, jarak antara mereka begitu dekat dan darah merah itu mengenai wajah serta tubuhnya. Dua darah dari kedua orang tuanya sendiri.

Tubuh Draco bergetar hebat, ia merebahkan tubuhnya, ia tak menyangka bahwa ia telah membunuh ayahnya sendiri. Ia tak menangis, hanya terdiam dan tak mengerti dengan apa yang terjadi.

Hanya saja yang ia tahu bahwa ibunya telah mati dan ayahnya sangat membencinya.

Darah menetes dari wajahnya, Draco menyentuhnya. Rasa hina dan jijik perlahan menjalar dari tubuhnya. Ia benci dengan darah ini, darah dari seorang pembunuh. Bahkan ia segera melepaskan pakaiannya menggunakannya dan membersihkan darah itu dengan pakaiannya.

"Aku sudah membunuhnya mom," desisnya sembari memandang wanita cantik dengan mata terbuka.

"Kau senang? Aku sudah membunuhnya, setidaknya ia tak akan berbicara hal yang buruk kepadaku atau kepadamu. Kau menyukainya? Aku membunuhnya dengan tanganku sendiri dan dia membunuh ibuku dengan tangan kotornya!" Draco mengucapkan itu tanpa air mata, wajahnya menatap dingin mayat ibunya.

Pistol yang dilepaskannya kemudian diambilnya dan dimasukan kedalam sakunya.

Hermione tahu pistol itu, itu adalah pistol kesayangan Draco. Pistol yang selalu bersamanya, pistol emas yang selalu ia taruh didalam laci kerjanya.

Dan pistol itu adalah barang bukti pembunuhan ayahnya.

Pintu terbuka lagi, Theodore kecil yang kini masuk.

"Apa yang terjadi kak?"

"Theodore, ayah membunuh kedua ibuku kita. Kita harus pergi dari sini sebelum semuanya bertambah parah."

"Tapi kenapa?"

"Karena kau dan aku kini menjadi buron."

Dan fakta bahwa ia baru menyadari bahwa ia yang telah membunuh ayahanya bukan ayahnya yang membunuh dirinya.

...

Hermione meminum minuman yang baru saja dibelinya, begitu juga dengan Draco.

"Semua orang tahu bahwa ayahmu bunuh diri. Tetapi aku tak menyangka bahwa kau yang telah membunuh ayahmu,"

Draco menerawang, "Aku juga tidak menyangka bahwa aku telah membunuhnya. Karena mungkin aku terlalu tidak percaya dengan apa yang terjadi karena itu otakku membuat memori sendiri bahwa ayahku yang bunuh diri padahal aslinya tidak. Tetapi aku tetap membenci dia,"

"Apakah kau masih belum mengingat apapun?"

"Belum,"

Hermione menghela nafas, "Apakah ada tempat yang berkesan denganmu?"

"Aku tak ingat, memori terburukku adalah ketika aku masih kecil. Itu saja yang kuingat,"

Hermione terdiam, ia berpikir.

Sementara Draco masih asik dengan minumannya.

"Kurasa aku tahu dimana memorimu, kau melupakan ini karena kau sangat membenci memori ini."

"Apa itu?" ucap Draco sepertinya ia cukup tertarik.

"Aku tak yakin, tetapi kurasa kita harus pergi. Segera!" ucap Hermione berdiri dan segera berjalan menuju mobil.

Draco mengikutinya dan menatapnya dengan tatapan ganjil, "Kemana?"

"Gedung tua, sebelum kau menjadi seorang yang sukses."

...

Hermione menyentuh bangunan itu, sudah sangat lama kejadian itu dan gedung tua itu juga sudah sangat lama. Perasaan kekecewaan kembali menjalar didadanya. Ia datang kembali ketempat kejadian yang sangat besar itu bersama dengan sang pembunuh kekasihnya.

Tetapi mungkin dengan cara ini, ia bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dengan sang kekasihnya.

Begitu ia masuk kedalam, ia membayangkan apa yang terjadi.

Suara pistol saling beradu, dan berbagai kata-kata kotor serta jeritan terdengar. Disinilah Draco bersama dengan Viktor Krum, tangan Draco yang besimpah darah sepertinya ia tak bisa mengerakan tangan kanannya.

Wajah tampan Viktor menyeritkan kemenangan, bahwa Draco sebentar lagi akan ditaklukannya.

"Draco Malfoy, sang kepala mafia muda yang ceroboh. Aku sudah membunuh semua anak buahmu dan hanya sisanya kau."

Draco terdiam memikirkan sesuatu.

"Jika aku menangkapmu, tentu kau akan lolos. Jadi cara yang terbaik adalah dengan membunuhmu bukan?"

"..."

"Apakah seorang mafia kini menjadi bisu?" ucap Victor lagi, Hermione tak menyangka bahwa Victor mampu mengucapkan kata-kata yang mengejek.

"Aku tahu kau menyimpan sebuah bom dan kau hanya tinggal menunggu waktu untuk meledakkan gedung ini bukan?"

"Kau benar! Lalu kalau kau sudah tahu kenapa kau tak menyerah?"

Victor tersenyum,"Menyerah? Aku tak peduli dan aku tak takut untuk mati!"

"Kau pria yang hebat. Kau benar-benar percaya diri, apa yang membuatmu sangat percaya?" tanya Draco berusaha untuk mengulur waktu. Ia tak memiliki senjata apapun selain tombol untuk menghancurkan ruangan. Tetapi ia harus keluar dulu baru ruangan ini diledakkan.

Tetapi ia melihat Victor dan merasakan adanya suatu kejanggalan pada tubuh pria itu.

Pria itu berkeringat dingin, keringat terus keluar dari kulitnya. Sepertinya ia baru pertama mengenakan pistol. Pupil matanya berubah menunjukkan ekspresi keanehan.

"Kau tak takut mati? Tetapi kenapa kau gemetar memegang pistol itu?"

"Waktuku tak banyak semakin cepat aku membunuhmu maka semakin cepat aku keluar dari sini." Ucap Victor berjalan mendekat, sementara Draco berjalan mundur mencoba untuk kabur tetapi ia terjepit. Ia melirik kearah jendela beberapa polisi sudah mengepung gedung itu. Tak ada cara lain selain meledakkannya.

"Aku cuma punya satu peluru dan aku ditugaskan untuk membunuhmu. Pilihannya hanya ada dua, kau yang mati atau aku yang mati?" ucap Victor tertawa kekecewaan. Draco tahu bahwa pria itu bukan bahagia melainkan putus asa dan siap untuk mati, tetapi kenapa? Bukankah Victor memiliki segalanya? "Mana yang kau pilih?"

'DOOOR'

Pelatuk itu ditarik, memang ini bukan yang pertama kali Draco melihat sebuah kematian seseorang. Victor Krum menembak sendiri tubuhnya tepat pada bagian kepala. Draco tak menyangka dan tak menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Pada saat itu pintu dibuka dan seorang wanita masuk melihat tubuh pria itu terbaring ia segera menembak Draco secara membabi buta.

Draco segera lari dari ruangan dan menuruni tangga berusaha untuk menemukan jalan keluar. Para polisi sudah mengepung ruangan itu. Draco melepaskan pakaiannya, mengambil salah satu pakaian dari mayat polisi dan mengenakannya lalu segera lari keluar.

Ia berhasil lolos dan bersembunyi. Tetapi ia tak bisa meledakkan gedung itu karena banyak anak buah yang berada di dalamnya. Melihat para polisi segera keluar dengan membawa orang yang sekarat begitu juga dengan Hermione yang ditopang oleh rekannya karena tubuhnya lemas melihat kekasihnya yang tewas.

'BOOOMM'

Ledakan terdengar dan banyak korban yang masih berada di dalam gedung itu.

Tetapi bukan Draco yang meledakkannya, melainkan karena kelalaian seorang polisi yang salah memotong kabel.

Draco tak menyangka bahwa gedung itu akhirnya meledak juga.

Dan sebuah misteri terungkap.

...

Hermione menundukkan kepala, sudah nyaris sejam ia berusaha bergulat bahwa selama ini yang ada dipikirannya salah. Draco tak membunuh Victor tetapi Victor yang membunuh dirinya sendiri. Tapi kenapa? Memang sebelum kejadian itu memang Victor berlagak sedikit aneh.

Tetapi itu membuat Hermione terombang-ambing.

Bukankah seharusnya Hermione tak dendam dengan pria itu? Ia melirik Draco yang duduk memandangi jalanan. Ia sepertinya berpikir keras.

"Apa kau sudah ingat?"

Pria itu hanya diam.

"Jawab Draco! Apakah kau sudah mengingat semuanya?!"

Draco hanya mengangguk.

"Apakah kau tahu siapa aku?"

"Wanita yang selalu bilang bahwa aku telah membunuh kekasihnya. Kini sekarang kau tahu bukan Hermione bahwa aku bukan pembunuhnya?" ucap Draco dingin.

Hermione menunduk, "aku tahu. Itu sedikit melegakan, fakta bahwa kau bukan pembunuhnya."

"Tetapi aku tak tahu harus bagaimana? Bagaimana bisa selama ini kau mengakui bahwa kau pembunuhnya!" bentak Hermione histeris.

"Tentu, karena kau selalu menatapku seolah aku pembunuh. Bahkan dipengadilan itu, kau terlihat terpukul. Aku tak mengakui bahwa aku pembunuhnya dan juri membebaskan aku. Tetapi kau yang selalu memanggilku dengan pembunuh Victor Krum!"

Hermione hanya terdiam mendengar penjelasan Draco. Tapi memang itu yang dilihat.

"Bisakah kita pulang? Kepalaku sakit sekali," ucap Hermione menerawang.

"Aku ingin jalan-jalan," ucap Draco dari kursi kemudi.

"Belum puaskah selama ini? Aku benar-benar lelah, dan aku tak sanggup untuk menghadapi Theodore." Ucap Hermione menekuk kakinya dan menerawang.

"As you wish Hermione,"

Hermione menutup kedua matanya, perasaan aneh melanda hatinya. Disisi lain ia sedikit senang karena bukan Draco yang membunuh kekasihnya, tetapi ia sedikit sedih karena fakta kekasihnya memilih untuk bunuh diri dari pada menikah dengannya.

Hermione begitu lelah dengan kebenaran yang dialaminya dalam satu hari. Dan ia tak menyangka hanya dengan masuk kedalam rumah itu Draco sudah bisa mengingat semua memorinya.

Memori yang tak ingin diingatnya lagi.

-To be Continued-

A/N "Just Review and we can see what the next"

Big Thanks to : Carbon, Veni346, bunuuu, vicko, guest21, Mrs. Alex Watson, VJoyce1910, apple, Vanesangelique, Yellowers, CallistaLia, Druella Wood, Narcissy, Scopryena, Clairy Cornell

Maaf jika saya tidak bisa membalas reviews karena banyaknya tugas yang menumpuk. Bahkan saya mencuri waktu untuk bisa menyelesaikan chapter ini :) kuharap kalian tidak menyerah dan masih mereview cerita saya :')

Thanks you so much, But i need your Review about this chapter :) i can't wait to see the review about this chapter :)