Mata coklatnya menatap jalanan, walaupun wajahnya sama sekali tidak tenang. Ia mengetahui semuanya sekarang. Draco tak mungkin berbohong kepadanya, ia menyamakan semua ucapan Draco dan perasaan rumah itu. Jika Draco bisa mengingat kembali dan Hermione juga bisa merasakan seperti apa kejadian yang sudah terjadi. Ingatan Draco sudah pulih bukankah itu yang seharusnya membuat Hermione gembira sekarang?
Tetapi apa yang terjadi mengetahui fakta yang sebenarnya sebenarnya merugikan Hermione.
...
Hi, I'm Your Killer.
Author — C.O.N.S
Rated — T semi M.
Harpot Characters — J.K Rowling
Romance, Hurt/comfort, Mystery, Action.
Warning inside.
Don't Like Don't Read
...
Sesekali ia menggerakkan tangannya, ia masih setengah melamun. Sementara Draco hanya duduk dengan tenang menyetir mobilnya. Tak sedikitpun tersirat perubahan wajah karena terbebani oleh ingatannya yang baru. Bahkan ia bisa tenang seolah tak terjadi apa-apa.
Hanya Hermione saja yang tidak tenang.
Selama ini Hermione hidup membenci Draco, kebencian itu sudah mengalir melalui fakta yang sudah diterimanya—kematian Victor Krum—kejahatan Draco. Fakta itu tak bisa diganggu gugat. Hanya alasan itu Hermione tak memperbolehkan ada sebuah perasaan lain selain membunuh pria itu.
Bagaikan dunia yang baru saja hancur lebur dan ketika kau memejamkan mata semuanya telah kembali. Kebenaran itu yang tak bisa diterima Hermione.
Fakta bahwa pria itu tak membunuh kekasihnya, pria itu tak meledakkan gedung itu dan fakta bahwa pria itu tak seburuk yang ia kira.
Perasaannya tak menentu, ia marah, kecewa, sedih, bahagia dan bingung. Dan semua perasaan itu tak mampu ia luapkan dalam bentuk apapun.
Ia tak berani menatap wajah Draco, semakin menatap pria itu seolah semuanya bagaikan batu keras yang menghantam kepalanya. Ia tak bisa menerima fakta itu.
Tidak, ia tak bisa. Jika ia selama ini marah karena kematian kekasihnya dan sekarang kekasihnya ternyata bunuh diri. Siapa yang harus disalahkan?
Ia telah menuduh orang yang salah, membencinya dengan seluruh jiwanya dan tak mengijinkan pria itu untuk memasukinya sedikitpun.
"Hermione,"
Wanita itu masih diam.
"Hermione," ucap Draco sedikit lebih keras.
Tetapi Hermione benar-benar tak menanggapi panggilan itu. Tentu Draco harus menyentuh pelan lutut Hermione agar mendapatkan perhatiannya. Reaksi Hermione, ia terkejut dengan setuhan sepele itu. Matanya melotot kaget seperti ia habis disentuh oleh monster yang menyeramkan.
"Ada apa?" tanyanya berusaha mengontrol dirinya sendiri.
"Tidak, kupikir kita tak bisa pulang."
"Kenapa? Kau lupa jalannya?" Hermione menatapnya dengan gelisah.
Draco terdiam, matanya menatap jalan, alisnya sedikit berkerut. "Aku belum siap, itu saja. Lagi pula Theodore tak punya hak apapun untuk memerintahku,"
"Lalu apa yang kau inginkan?"
Draco terdiam, jarinya menunjuk sebuah bangunan tua yang nyaman. Penginapan yang terlihat menyenangkan.
"Aku ingin menenangkan diriku saja. Kau terlihat lebih syok dari padaku. Lebih baik kita tak pulang malam ini," ucap Draco memakirkan mobil mewah itu.
Seorang gadis muda dengan rambut coklat tua, tubuh yang cantik menyambutnya. Draco tak peduli dengan gadis itu dan Hermione hanya tersenyum kecil menerima sambutan itu. Draco memesan dua kamar tidur untuknya, satu untuk Hermione dan satu untuknya.
Draco tak banyak bicara ketika ia menyerahkan kunci itu, ia segera berjalan dengan tenang menuju kamarnya. Tak ada sapaan manis, seperti selamat malam sayang atau tidurlah dengan nyenyak.
Ia diam dan segera masuk.
Yah, tentu saja apa yang kau harapkan dari pria yang sadis adalah sifat utamanya?
Hermione memasuki kamarnya, ruangan itu cukup nyaman. Satu lemari kayu yang cukup besar, satu ranjang yang nyaman dan rapi, jendela dengan pemandangan dan tentu saja kamar mandi dalam.
Jam menunjukkan pukul 9 malam, ia tahu bahwa perjalanan ini cukup menyita waktu dengan kebenarannya.
Hermione membanting tubuhnya, memejamkan matanya menikmati suasana yang tenang.
Tetapi rasa tenang itu tak berlangsung lama, perasaan bersalah perlahan mulai menderanya seolah meminta pertanggungjawaban.
Tentu ia mencoba untuk tak merasa salah dalam kasus ini. Fakta bahwa ia telah membenci orang yang salah, menghinannya, menunjukkan ekspresi jijik ketika bertemu dengannya, takut dengan semua pergerakannya. Itu sangat menakutkan.
Sekarang buat apa ia masih melanjutkan pekerjaannya? Ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Misteri yang sebenarnya sudah terungkap.
Jadi sekarang apa? Berada disisi Draco hanya membuat rasa bersalahnya semakin besar saja.
Apa ia harus meminta maaf? Pria itu tak membencinya, bahkan menyambutnya ketika ia pertama kali datang, bersikap ramah kepadanya, memberikan ruangan yang terbaik, dan yang terpenting tak menuntutnya karena pencemaran nama baik.
Semakin besar saja rasa bersalahnya.
Dan terlihat bahwa Draco sedikit menjaga jarak darinya.
Ia mencoba untuk menghapus semua pikiran itu, tetapi semakin ia hapus semakin besar saja ketakutan itu.
"Kurasa sebuah permintaan maaf bukanlah sesuatu yang buruk,"
Hermione berusaha untuk meyakinkan dirinya. Meminta maaf, tetapi rasanya bukan waktu yang tepat.
...
Ketukan membangunkannya dari tidurnya yang cukup tidak nyenyak. Ketika ia membuka pintu dengan kesal.
Pria itu sedikit berbeda dari kemarin. Rambutnya rapi seperti ciri khasnya dulu, kemeja yang ia kenakan ia sudah ganti dengan pakaian kaos yang diambilnya dari mobil.
"Ada apa?"
"Apa kau mau sarapan dibawah bersamaku?"
Bersama? Sedikit menakutkan untuk Hermione, ia seolah mengalami Jetlag, dan segala perasaan bersalahnya kembali mendatanginya. Ia sedikit pusing, bahkan ia memegang kepalanya. "Kurasa aku tak bisa, aku masih ada urusan,"
"Oh, baiklah." Singkat, dan tak tersiratpun nada kecewa dari penolakan halus itu.
Hermione menutup pintunya, bagaimana bisa ia sedikit menjauhi pria itu. Bagaimana bisa mulutnya berkata bahwa ia tak bisa? Ia ingin berbicara dengan pria itu, memberitahu pria itu semua ucapan tentang perasaannya yang aneh. Tapi ia tak bisa, mulutnya kaku begitu juga dengan otaknya.
Dan harus diakui bahwa Draco terlihat lebih tampan dari biasanya dan sedikit panas.
...
Hermione meminta untuk makan paginya diantarkan menuju kamarnya. Sampai siang Draco tak menunjukkan batang hidungnya, bahkan mengunjungi wanita itu saja tidak.
Sementara Hermione berusaha keras untuk tidak membuat semuanya bertambah buruk.
Ia ingin bertemu dengan pria itu.
Bagaimana bisa pikiran konyol itu muncul dari otaknya?
Kali ia memberanikan dirinya, ia berdiri dari kasurnya, keluar dari pintu kamarnya dan tentu saja berdiri dengan tenang dihadapan pintu kamar disebelahnya. Kamar Draco.
Ia mengetuk perlahan, berusaha menenangkan nafasnya yang sedikit cepat.
"Sebentar!" seru Draco dari dalam.
Cukup lama Hermione menunggu dan semakin membuatnya kesal.
KREKK, pintu terbuka.
"Ada apa?" tanya Draco, Hermione menatapnya mata kelabu itu. Apakah ia pernah memuji matanya yang indah? Apakah kebenaran ini membuatnya sedikit gila?
Terlihat jelas pria itu baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah tetapi ia masih mengenakan pakaian.
"Kapan kita akan kembali?"
"Sebentar lagi," ucapnya sedikit cuek, apakah pria itu marah karena penolakannya tadi pagi.
"Baiklah, aku akan menunggu dikamarku," ucap Hermione sedikit canggung.
"Silahkan," ucap Draco sedikit mengangukkan kepala.
Tetapi tubuhnya tak bergerak, masih kaku. Matanya menatap tegang melotot seolah melihat medusa yang kini kakinya seolah membeku. Ia tak bisa beranjak dari situ dan perasaan aneh perlahan menguasai dirinya.
"Hermione, kau baik-baik saja?" tanyanya tiba-tiba.
Matanya masih terpaku, menatap mata pria itu, bagaimana bisa tatapannya begitu lembut? Padahal selama ini yang Hermione lihat hanyalah kekejaman dari tatapannya?
Bukan kekejaman lebih tepatnya itu yang ingin Hermione lihat.
Hermione terdiam tak bergerak, Draco terlihat sedikit khawatir.
"A.. aku!"
Tubuh Hermione bergetar hebat, ia tak mampu berpikir, ia kecewa, kesal dan marah. Penderitaan ini lebih menyedihkan daripada mengetahui kekasihnya yang telah meninggal. Siapa yang harus disalahkan?
Hermione berusaha keras untuk tak menumpahkan semua emosinya tetapi ia tak bisa, hanya dengan melihat wajah Draco saja rasa bersalahnya muncul. Ia menangis, air matanya keluar dengan deras, ia meledak, meraung-raung bagaikan anak kecil yang memendam ketakutannya selama ini.
Ia merasa kecewa, marah bagaimana bisa semuanya seperti ini! bagaimana bisa? Kekasihnya sudah lama meninggal dan itu karena ulahnya sendiri, tetapi kenapa ia menyalahkan pria yang berada dihadapannya itu? Kenapa ia dengan bodoh menerima itu semua tanpa memperhatikan detail yang ada?
Rasa sakit dan malunya bercampur menjadi satu, perasaan itu mencambuk kulitnya dan meninggalkan bekas luka yang mendalam. Ia tak bisa berkata apa-apa, hanya menangis, menunduk karena kalau ia berdiri ia akan jatuh linglung. Semuanya, bahkan harga dirinya dan egonya yang selama ini merasuki dirinya, menguasai dirinya dan kini menghilang hancur lebur.
Hatinya terluka, ia tak tahu mengapa ia harus marah dan kecewa serta ia selama ini membuat ulah bodoh! "A.." Hermione berusaha untuk berbicara tapi ia tak bisa, ia hanya menangis dan terus menangis. Beberapa orang mulai memperhatikan mereka, menduga-duga bahwa Hermione mengandung anak dari Draco dan pria itu tak mau bertanggung jawab. Hanya dengan tatapan Draco bisa mengetahui apa yang sedang dipikiran mereka.
Draco mendunduk, ia memeluk Hermione menariknya perlahan agar wanita itu mau menyingkir dari pintu dan masuk kedalam. Draco membantu Hermione untuk duduk di ranjang dan ia segera menutup pintu kamarnya seolah tak terjadi apa-apa.
Ia menatap wanita itu, bagaimana bisa wanita itu menangis, kehilangan kontrol atas dirinya, seperti anak kecil yang kecewa karena tak dibelikan mainan?
Ia berjalan perlahan, duduk disamping wanita itu. Ia tak pernah merasakan kata iba. Draco yang dulu mungkin bisa bersimpati tapi Draco yang sekarang sudah kembali kesosok aslinya. Ia tak pernah bersimpati bahkan terhadap makhluk terlemah sekalipun.
Tapi kenapa hanya dengan melihat betapa rapuhnya wanita ini membuat suatu perasaan aneh dari hatinya, suatu perasaan yang tulus yang belum pernah ia tunjukan kepada siapapun.
Ia menatap wanita itu, wanita yang selama ini menatapnya dengan pandangan benci bahkan dari kaki sampai sehelai rambutnya wanita ini membencinya dan Draco tak peduli.
Wanita yang selama ini berjalan dengan angkuh, tak pernah menujukkan kelemahannya sedikitpun. Bagaimana bisa ia disini menangis seperti orang yang kehilangan orang yang ia kasihi?
Perlahan ia memberikan Hermione tisu, dan wanita itu menerimanya, membersihkan wajahnya yang berantakan dengan air mata dan ingus. Perlahan Draco mengulus pundak Hermione, menempelkan secara perlahan ditubuhnya yang hangat, berusaha untuk menenangkannya.
Hanya dalam sekejap Draco memeluk Hermione yang masih menangis.
Ia tak mengeluarkan sepatah kata apapun. Ia hanya diam, mengulus pundak wanita itu agar tenang.
Hanya itu yang ia bisa untuk saat ini.
...
Hermione tahu bahwa dirinya sudah gila. Ia merasa nyaman dan aman ketika tangan kekar itu memeluknya dengan lembut. Ia tak marah, memberontak atau apa dan masih menangis.
Tubuhnya sudah tenang, walaupun ada beberapa air mata yang masih keluar. Matanya bengkak, rambutnya berantakan dan yang paling parah hatinya sudah hancur lebur tak bersisa.
Draco memesan teh dan beberapa kudapan kecil untuk Hermione.
Tangan Draco masih memegang tangan kecil Hermione berusaha untuk menenangkannya.
Dan Hermione sangat menghargai itu.
Ia memberikan secangkir teh hangat itu kepada Hermione. Hermione meminumnya, tetapi ia tak merasa lebih baik.
"Tenangkan dirimu Hermione." mungkin itu adalah ucapan pertama Draco setelah melihatnya menangis.
"Aku minta maaf," ucap Hermione nyaris mendesis, tetapi Draco mendengarnya.
"Untuk apa?" tanyanya sopan jiwa bangsawannya belum terlalu hilang dari tubuhnya.
Hermione terdiam, menarik nafasnya dalam-dalam, menguatkan dirinya. "Menyalahkanmu atas semuanya."
"Tidak apa. Apa kau menangis karena itu?"
Hermione mengeleng lemah, Draco menyeritkan alisnya, "lalu apa?"
Hermione hanya diam, berbaring dan meringkuk.
"Kau teringat Victor?" ucap Draco keluar dari mulutnya.
"Tidak,"
"Lalu apa?" Draco sedikit penasaran dan tidak sabaran.
Hanya diam. Hermione tak yakin apakah memberitahu sekarang adalah yang terbaik. "Aku minta maaf,"
"Buat apa?"
"Maafkan saja aku,"
"Tentu saja tidak Hermione, kau harus memberitahu aku alasannya. Baru aku bisa memaafkanmu,"
Draco menarik kursi, duduk disamping ranjang, "Apa yang kau tangisi?"
"Karena marah padamu secara asal?" ucap Hermione tak pasti. Mata coklatnya menatap wajah Draco.
"Baiklah kau dimaafkan, apakah kau tenang sekarang?"
"Tentu saja tidak,"
Draco menghela nafas panjang, "Hermione, membenciku atau tidak itu bukan masalah untukku. Aku tak pernah marah kepadamu walaupun kau menuduhku. Kenapa kau begitu menyalahkan dirimu?"
"Aku tak tahu," ucap Hermione, ia mengetuk jarinya yang ramping dikasur, bersikap seperti anak kecil yang malu karena baru saja tahu kesalahannya.
"Aku tak marah, tapi aku senang kau setidaknya tak terlalu membenciku."
Hermione terdiam, apakah itu kata-kata yang manis? Atau Draco hanya mengucapkannya karena kasihan? Atau hanya untuk menenangkannya?
Tapi perkataan itu spontan keluar dari mulutnya.
Hermione tak tahu apakah ia harus senang atau apa, yang ia tahu matanya perih dan ketika ia memejamkan matanya rasanya begitu nikmat.
...
Draco menatap wanita yang sedang terbaring diranjangnya. Ia begitu mungil dan rapuh seolah mungkin ketika disentuh tubuhnya akan hancur. Sedikit ia memandangi wanita itu, tidak ia tak berpikiran kotor. Hanya menduga.
Draco menarik selimut untuk menutupi tubuh Hermione, dan kemudian memandangi lagi wajahnya.
Ia mengulus wajah itu, merapikan rambutnya yang sedikit menutupi wajahnya yang cantik.
Harus diakui bahwa Hermione cantik, bukan cuma itu sejak ia bertemu dengan wanita itu ia menyadari bahwa Hermione berbeda dari wanita yang biasanya.
Ia anggun, lembut namun tegas. Ia tak bersikap murahan walaupun ia pandai menggoda. Ia tahu Hermione bukanlah seorang yang kaya, tetapi hanya dengan sikap dan prilakunya, ia mampu membuat para bangsawan memperhatikannya.
Wanita yang mampu membuat Draco terpesona.
Ia mengagumi Hermione, wanita yang tegas dan kuat. Tapi darah wanitanya tak hilang darinya.
Ia juga tak tahu mengapa Victor rela membunuh dirinya sendiri dan meninggalkan wanita ini. Kematiannya bagaikan kehancuran pilar penting dalam hidupnya.
Dan Draco ingin mengantikan pilar itu.
Tidak! Bagaimana ia bisa berpikiran seperti itu. Ia belum siap berkomitmen dalam membuat suatu hubungan. Semenjak pengkhianatan kekasihnya itu, ia belum siap berkomitmen serius dan ia yakin Hermione juga sama.
Baik dirinya maupun wanita itu sama-sama kehilangan pilar penting dalam hatinya.
Draco sakit hati, membunuh kekasihnya sendiri karena pengkhianatan seperti membunuh dirinya sendiri.
Ia mengelus lagi wajah Hermione, sedikit penasaran dan mencium lembut kening wanita itu.
Draco dapat merasakannya, aroma vanila yang hangat.
Tetapi ia memilih untuk keluar dari kamarnya dan menenangkan dirinya. Membiarkan wanita itu istirahat.
Bukan hanya Hermione yang masih tidak bisa terima, bahkan Dracopun masih harus menyusun semua memori yang dibencinya, semua memori yang disembunyikannya selama ini menyembur kuat berhamburan dalam pikirannya. Tetapi ketika melihat wanita itu menangis, untuk sementara ia tak mempeributkan hal itu tetapi memperhatikan wanita itu. Tapi sekarang adalah waktu yang tepat untuk menyusunnya dan menyembunyikannya kembali.
...
Hermione tak berani sedikitpun mendongakkan kepalanya, sejak ia duduk, melihat menu dan bahkan sampai makanan itu tiba dihadapannya. Ia masih belum bisa mendongakkan kepalanya.
Draco duduk dengan anggun dan menyantap hati angsa dengan nikmat, Hermione mencoba untuk nyaman akan duduknya tapi ia tak bisa. Ia merasa malu karena sudah menangis dan kini pria itu dihadapannya bertingkah seolah kejadian tadi siang tak pernah terjadi.
Hermione masih belum sadar ketika Draco menanyainya untuk makan malam. Draco mengajak Hermione untuk makan malam disuatu restauran yang mewah. Hermione mengenakan pakaian yang biasa begitu juga dengan Draco.
Ia tak bisa menolak pria itu atas segala kebaikannya. Lagi pula menghindari pria itu hanya akan menimbulkan masalah.
Hermione berusaha dengan cepat untuk menghabiskan makanannya tetapi rasa malunya membuat perutnya sedikit mual dan ia sama sekali tak bergairah.
"Makanlah, aku yang bayar."
Hermione hanya diam, ia tak peduli akan uang Draco. Ia masih bisa membiayai makanan ini, hanya saja ia tak bisa.
"Apa yang ingin kau bicarakan Hermione? Kau begitu diam sekali hari ini,"
"Tidak, tidak ada."
Draco menatapnya, ini bukan pertamakalinya Hermione menyembunyikan sesuatu darinya. Tetapi setelah semua yang ia lakukan bersama wanita ini, ia sedikit tak nyaman karena wanita belum sama sekali nyaman dengannya.
Hermione makan sedikit makanannya, berusaha menghabiskan setengah dan ia sudah kenyang. Draco menatapnya, Hermione benci dengan tatapan itu.
"Aku sudah kenyang." Seolah membaca pikiran Draco yang ingin berkomentar kenapa ia hanya makan setengah, Draco hanya menganguk mengerti.
Makanan yang berada diatas meja sudah bersih, Draco menawarkan wine merah dan Hermione meminumnya hanya sedikit, lalu menaruh gelasnya. Matanya masih menatap kearah lain. Ia tak mau melihat Draco.
Sementara Draco melipat kedua tangannya di dada, salah satu tangannya mengambil gelas dan mengoyangkan anggur itu. Mencium aroma itu, meresapi dan berusaha untuk membuatnya santai. Tapi ia tak bisa, ia benci diacuhkan dan Hermione mengacuhkannya hari ini.
"Kau membenciku ya? Sampai tak nyaman duduk bersamaku?"
Hermione terkejut, ia mendongak, bagaimana bisa pria ini berpikiran seperti itu. Memang mereka saling membenci—Hermione yang membencinya lebih tepatnya. "Tidak!" ucapnya berseru dan berdiri dari tempat duduknya.
Orang-orang di sekitar mereka memperhatikan Hermione yang berdiri, sadar bahwa dirinya diperhatikan ia segera duduk dengan wajah memerah.
"Aku tahu, kau ingin pulang tetapi aku malah mengulurnya bukan?"
"Bu... bukan seperti itu, hanya saja—"
"Ada apa?" ucap Draco meminum winenya lagi, berusaha untuk tetap santai. Ia memperhatikan wanita itu, ia mengigit bibir bawahnya ragu. Berusaha mencari kata-kata yang pas sepertinya.
"Aku merasa—"
"Kau tak nyaman bersamaku?"
"Hentikan Draco! Bagaimana bisa kau memaksaku terus?" ucap Hermione sedikit tertekan dengan ucapan Draco.
Draco sedikit terkejut, ia berdiri dari kursinya. "Ayo pulang, seperti yang kau inginkan." Ia segera berbalik meninggalkan Hermione.
Hermione mengutuk dirinya, bagaimana bisa ucapan itu keluar dari mulutnya? Bukannya membuat suasana bertambah baik tetapi semakin buruk saja.
Ia juga berdiri dari kursinya, Draco sudah mengurus billnya dan Hermione semakin merasa bersalah.
Draco berjalan menuju parkiran mobilnya, ia segera masuk tanpa menoleh sedikitpun kearah wanita itu.
Hermione merasa Draco sedikit kesal dengan perlakuannya. Bagaimana bisa? Seharusnya ia tak membentak pria itu dan mengungkapkan yang sesungguhnya?
Kakinya yang mungil masuk kedalam mobil, bahkan Draco sama sekali tak menatapnya ketika dirinya masuk kedalam.
"Bisakah kita diam sebentar?"
"Aku mengerti," ucap Draco mematikan mesin mobil.
Mereka berdua hidup dalam khayalan masing-masing.
"Apa kau sangat membenciku? Sehingga aku merasa semua yang kulakukan salah dihadapanmu?"
Apakah ini lamaran? Apakah Draco memperhatikannya? Bukankah pria itu tak pernah peduli?
"Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja—" mata coklatnya menatap wajah itu, memperhatikannya. Perlahan ia mengulurkan tangannya, menyentuh pipi tirus pucat itu. Draco merasakan sentuhan yang lembut itu, ia tak merespon walaupun ia sangat menikmatinya.
Tetapi Hermione menyadarinya dan segera menarik tangannya kembali. "Aku merasa bersalah denganmu Draco, atas segalanya."
Kejujuran yang terucap manis dari bibirnya.
"Aku tak tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya. Aku bingung, selama ini aku membuat alasan untuk membencimu karena telah membunuh kekasihku. Tapi aku sudah mengetahuinya dan aku tak—" Hermione terdiam, ketika ia merasakan tangan Draco menyentuh lehernya, mengarahkan mukanya berhadapan dengan mukanya dan sentuhan bibir hangat akan dirinya seolah membiusnya.
Hermione tak marah, ia hanya menikmati ciuman ini. Ciuman Draco yang lembut lalu menuntut dan kembali lembut benar-benar membuat Hermione terbuai dalam permainannya.
Persetan dengan semua masalahnya kali ini. Ia menginginkan pria itu, menginginkan lebih dari sekedar ciuman dan Draco mau memberikannya.
...
Wajahnya memerah hangat setiap kali ia mengingat apa yang baru saja terjadi, pakaiannya berantakan dan pria itu kini sedang terbaring disampingnya dan Hermione sangat nyaman.
Sudah sangat lama ia tak melakukan hal ini dengan sangat panas. Draco benar-benar pria yang mengesankan, tak ada yang pernah membuatnya sebahagia ini bahkan percintaannya dengan pria-pria yang sudah ia temui.
Draco pria itu menuntut, keras dan mempesona. Setiap tatapannya yang seduktif, Hermione ingat tatapan itu seolah menginginkannya dan Hermione sudah lama tak melihat tatapan itu. Sudah lama ia tak peduli akan pria dan Draco memberikannya.
Sentuhannya yang kasar dan menuntut membuat Hermione menjadi liar, ia tak pernah seperti ini. Ia wanita terhormat dan Draco—pria itu benar-benar tahu dimana kelemahannya.
Tetapi ada saat dimana Draco menjadi lembut dan kemudian menjadi kasar dan seterusnya membuat Hermione kehilangan kontrol akan dirinya.
Sepertinya Draco sudah memaafkannya, dan perasaan bahagia membuncah tak kendali dari hatinya.
Ia tak pernah merasa sehidup ini, belum pernah semenjak kematian Victor. Tapi ia merasa hidup dan bergairah lebih tepatnya ia merasa diinginkan.
Telepon Hermione bergetar, nama Theodore tertera diponselnya. Tetapi ia tak peduli. Mereka masih berpelukan, Hermione mengecup kepala Draco, mengulusnya lembut.
Ia menyadari jika dulu ia memiliki sebuah alasan untuk tidak menyukai Draco karena pria itu telah membunuh kekasihnya dan sekarang ia sudah tak memiliki alasan lain untuk membencinya.
Karena dari awal ia sudah sangat menyukai pria itu.
Hermione masih ingat, ia mengoleksi semua berita tentang pria itu dan berdoa bahwa ia tak akan pernah berurusan dengan pria itu. Hermione pernah melihat Draco ketika masih muda, dan dirinya masih magang. Wajahnya sedikit kesal dengan atasannya yang memarahinya habis-habisan karena masalah sepele.
Draco duduk sambil merokok, secangkir kopi hangat disampingnya. Ia tak mengenal Draco, yang ia tahu untuk remaja seumuran 18 tahun kenapa wajahnya terlihat sendu?
Mata mereka bertemu, Draco menatapnya begitu juga dengan dirinya. Draco menyeringai sepertinya ia tahu bahwa Hermione terkena masalah.
"Mau?" tawarnya, menodongkan sebuah rokok dihadapannya.
"Tidak," tolak Hermione halus.
"Mau duduk?" ucapnya sambil menyeringai, Hermione tak habis pikir bagaimana bisa anak itu menyeringai seperti itu? Hanya dengan seringai saja ia begitu mempesona, Hermione yakin bahwa Draco pasti memiliki banyak pacar.
Tetapi Hermione tak menolak ajakan itu, ia duduk dengan manis di dekat Draco hanya kopi panas adalah jarak mereka.
"Ada masalah?" sifatnya sungguh dewasa. Ia bertingkah seperti seorang dewasa padahal ia hanyalah anak muda.
"Masalah? Darimana kau tahu?" ucap Hermione sedikit terkekeh.
"Hanya dengan wajahmu aku sudah tahu, kau sendirian? Dan kau seorang polisi magang ya?" terdengar nada mencemoh ketika ia mengucapkan kata 'polisi magang' tetapi kemudian ia menatap jalanan lagi.
"Kau tak sekolah?"
"Kenapa? Kau ingin menyekolahkanku?" celetuk Draco asal.
"Tidak aku hanya bertanya?"
Draco terdiam, ia berpikir kemudian bertanya, "Apa kau tak bosan? Menjadi polisi? Menangkap pencuri dan merasa kuat?"
"Kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu?"
"Kalau aku bilang aku suka mencuri apa kau mau menangkapku?" tanyanya dan Hermione tertawa mendengarnya. "Ya, sini kemarikan tanganmu?"
Draco mengulurkan tangannya tetapi Hermione hanya diam, tak pernah ada keraguan dalam matanya. Hermione tahu bahwa pria ini akan menjadi seseorang yang hebat dan tegas kelak.
"Aku hanya bercanda,"
"Well bagaimana bisa kau menjadi seorang polisi kalau menangkap orang saja kau tak becus?"
"itu berbeda? Kau bukan penjahat hanya seorang pengangguran, ya bukan?" tanya Hermione ragu.
Draco hanya tersenyum, "Aku harus pergi, kopi itu baru. Aku belum meminumnya dan tak ada racun atau air ludah didalamnya. Kalau kau mau minumlah,"
"Apa kau mencurinya?"
"Tidak, aku membelinya." Draco berdiri dari duduknya.
Hermione menatap bingung, "lalu kenapa kau tak meminumnya?"
"Pelayannya bodoh tak memberikanku gula, hanya dengan mencium saja aku sudah tahu mana kopi yang ada gulanya atau tidak!" seru Draco menjauh, "Senang berbicara denganmu. Kuharap kita bisa bertemu lagi lain kali tegaslah,"
Hermione hanya menatap, sedikit penasaran dengan kopi itu dan benar ucapan Draco.
Kopi itu pahit sekali.
Hermione tak mengenal nama anak itu, tetapi yang ia tahu ia sedikit penasaran dengan anak itu.
Dua minggu setelah kejadian itu, Hermione tak pernah menduga bahwa anak muda itu adalah seorang pimpinan geng, ia sangat muda dan wajahnya tak cocok dengan kepala geng.
Draco mungkin tak mengingat pertemuan mereka, tetapi hanya dengan melihat mata kelabu sendu itu Hermione sudah mengingat semua, dan berusaha menyangkal tetapi setelah tahu semuanya ia merasa bebas, ia tak perlu menyangkal apapaun.
...
Hermione terbangun, yang ia ingat terakhir kali ia dan Draco masih di dalam mobil, tapi kenapa kini ia berada di kamar yang tak tampak asing untuknya.
Ini kamarnya, lebih tepatnya rumah Draco.
Draco membawanya pulang benarkah? Ia segera bangun dan sedikit terkejut karena pakaian tidur dari sutra mahal melekat ditubuhnya.
Tapi yang ia pikirkan adalah Draco dan pria itu, bukan cuma itu tetapi Theodore juga.
Pintu terbuka, seorang pria mengenakan setelan jas mahal berdiri disamping pintu.
"Draco? Kau membuatku khawatir," ucap Hermione sedikit berlari kearahnya ia ingin memeluk pria itu tetapi ragu, ia mengehentikan larinya dan berjalan dengan biasa. Seharusnya ia menyadari bahwa mereka hanya satu malam saja dan selanjutnya mereka kembali kebidang mereka.
"Kau tak mau memelukku?" tanya Draco merentangkan tangannya dan Hermione segera berlari memeluknya, menikmati aroma mint yang khas. "Aku merindukanmu," bisiknya.
Draco hanya tersenyum kecil, mencium bibir wanita itu dan memeluknya lebih erat.
"Apakah kita harus merahasiakannya? Aku tak tahu kau kini berpihak kepada siapa. Polisi atau aku?"
"Eh apa yang kau maksud? Kau tak pernah melamarku,"
Draco menyeringai, seringai yang masih sama seperti mereka bertemu. "Tak perlu lamaran Hermione. Karena kita tak membutuhkannya, kurasa kita harus merahasiakannya dan aku juga tak mau terlibat dengan kepolisian,"
"Aku bukan polisi,"
"Kau pembunuh bayaran Hermione. bahkan kita harus merahasiakannya dari Theodore,"
"Kenapa?" ucap Hermione tak nyaman.
"Karena tersembunyi semakin bagus." Draco terkekeh, sementara Hermione merasa sedikit kecewa. Apakah Draco benar-benar mencintainya? Kenapa ia harus merahasiakannya?
Tentu hubungan ini harus dirahasiakan. Karena ini terlalu berbahaya.
Lagi pula Hermione tak yakin apakah mereka bisa selalu bersama. Draco sudah kembali kekehidupannya. Theodore melindunginya dan pasukan itu begitu kuat. Draco begitu kuat dan ia tak yakin apakah Draco bisa mempercayainya seratus persen.
Karena mereka seharusnya saling membunuh bukan saling mencintai.
Tapi biarkan ia berpura-pura buta bahwa fakta bersama Draco sama sekali tak pernah membuatnya merasa aman sedikitpun.
Draco mencium bibirnya cepat dan berjalan keluar meninggalkannya.
"Nikmatilah, sementara aku akan mengurusi beberapa urusan."
Terlalu banyak rahasia, terlalu mencekam. Hermione tak yakin apakah Draco benar-benar mencintainya dan ciuman itu hanyalah sebuah formalitas bahwa Draco hanya menginginkannya.
Menginginkannya berbeda dengan menjadi istrinya atau seseorang yang bisa dipercayainya.
Rasa takut perlahan menjalar, bagaimana bisa keraguan berada dalam hatinya. Hubungan mereka baru saja dimulai dan ketakutan ini sedikit menggangunya.
Ketukan dipintu membuat ia tersentak, dengan cepat ia membuka pintu berharap bisa menemukan Draco tetapi bukan. Hanya seorang pelayan yang menyerahkan sebuah surat.
"Buat anda Miss Hermione. Tak ada pengirimnya, hanya tertuju untuk anda," ucapnya sopan menyerahkan surat itu dan Hermione menerimanya.
Ia menutup pintunya setelah pelayan wanita itu undur diri dan duduk diranjangnya.
Sebuah amplop dan secarik kertas.
"Kenapa kau begitu lama? Aku merindukanmu?" V
Hanya sebuah tulisan romantis tanpa nama pengirim dan hanya sebuah inisal V?
V, ia mencoba untuk mengingat. Ia selama ini tak pernah memiliki kekasih selain Victor yang memiliki nama depan V. Tapi kenapa kini ada seseorang mengirimkan sebuah surat simpel yang bertuliskan seperti itu? Bagaimana jika Draco tahu? Tentu pria itu akan semakin tak mempercayainya. Hermione harus membuktika kepada Draco bahwa ia bisa dipercaya.
V? Victor Krum?
Tidak ini tidak mungkin. Bagaimana jika itu memang Victor? Jiwanya kacau, perlahan sebuah potongan memori yang dibencinya perlahan merasuki dirinya, ia ingat bahwa hubungan mereka dulu berdasarkan dari surat, Victor sering menggodanya dan menuliskan puisi dan mengirimnya tanpa pengirim dan hanya sebuah inisial. Tapi tulisan ini?
Hermione memperhatikan, walaupun sudah sangat lama, tapi tulisan tangan itu masih ia ingat. Bagaimana bisa ada orang usil yang mengirimkannya tulisan seperti itu? Bukan cuma itu, tulisan ini begitu mirip dengan milik Victor.
Ia yakin bahwa kekasihnya itu sudah meninggal. Ia melihat sendiri.
Ini tidak mungkin, Hermione segera merobeknya menjadi potongan kecil dan membuangnya kedalam sampah.
Apalagi sekarang? Setelah fakta tentang Draco dan kini ada seseorang yang mengirimnya pesan yang persis dengan tulisan Victor?
Lelucon apa lagi ini?
"To Be Continued"
Big Thanks to: bunuuu, aquadewi, guest, apple, scorpryena, , guest21, mrs. Alex Watson, ELMAIIY MALFOY, abraxasM, narcissy, Yellowers, clairy cornell, Veni346, vanesangelique.
Thanks atas reviewnya #bow.
Kuharap kalian masih mau membaca dan Mereview chap 9 #Thanks.
C.O.N.S
