Cerita DiKampung Konoha

Chapter 1

Kampung Konoha. Ya, sebuah kampung yang asri dan sangat nyaman untuk ditinggali siapapun dan apapun. Mulai dari manusia, tumbuhan, sampai hewan sekalipun pokoknya menyenangkanlah tinggal disini. Kampung ini memiliki juga empat RT.

Keadaan yang tenang dan menyenangkan ini salah satu keunggulan dari kampung ini, tapi setenang-tenangnya kampung Konoha selalu saja ada yang bikin ribut. Dan tentu saja yang bikin ribut adalah warga RT.001.

Tapi entah kenapa hari ini ada yang berbeda. Disebuah pos ronda terdapat dua orang manusia yang sedang melamun, aura suram menguar dari tubuh mereka. Tanpa menghirauakan tatapan ngeri dari orang-orang lewat didepan mereka.

Dari kejauhan tampak seorang pemuda berambut nanas sedang berjalan dengan malasnya menuju pos ronda, kedua matanya bisa melihat dua sahabatnya sedang duduk melamun dengan wajah yang sangat memprihatinkan. Tak butuh waktu lama diapun sampai dipos ronda, dan duduk diantara dua sahabatnya itu.

Sesekali dia melihat sahabatnya yang duduk disampin kanan dan kirinya. Yang sebelah kanan berambut pirang jabrik hanya menundukkan kepala sambil melihat tanah, yang sebelah kiri berambut hitam kebiru-biruan dan mencuat kebelakang seperti buntut ayam memandang pohon yang ada dihadapannya dengan tatapan kosong.

"Lu berdua kenapa sih?" Tanya Shikamaru.

Tidak ada jawaban sama sekali, yang ada hanya helaan nafas putus asa.

"Lu ditolak lagi sama Sakura, Sas?" Tanya Shikamaru pada sahabat disebelah kirinya.

Sasuke hanya menjawab dengan anggukkan kepala.

"Terus kalo elu Nar, kenapa?" Tanya Shikamaru pada Naruto yang disebelah kanannya.

Naruto hanya diam tidak menjawab.

"Gara-gara Hinata?" Tebak Shikamaru.

Lagi-lagi tidak ada jawaban dari yang bersangkutan.

"Kan udah gue bilang, si Hinata itu suka sama elo." Terang Shikamaru.

"Kalo dia suka ama gue, kenapa dia selalu pingsan tiap ketemu gue? Emangnya Gue setan." Tanya Naruto sedikit gusar.

"Mirip." Celetuk Sasuke.

"Diem Lu Sas."

Dari kejauhan tampak seorang pemuda sedang berlari-lari seperti banci yang dikejar satpol pp, menuju pos ronda.

Hosh! Hosh! Hosh!

"Ternyata lu disini Nar." Ujar pemuda tadi.

"Ada apaan Kib?" Tanya Naruto.

"Gue mau bicara." Ujar Kiba sambil duduk disebelah kiri Naruto, dan dengan semena-mena menggusur Shikamaru dan juga secara otomatis Sasuke ikut terdorong.

"Kampret, lu kib dateng-dateng bikin rusuh aje." Dengking Sasuke.

Yang tidak dihiraukan oleh yang bersangkutan.

"Lu mau bicara apaan?" Tanya Naruto dengan malas-malasan.

"Ikut gue yuk." Ajak Kiba.

"Kemana?"

"Gue mau ke toko hewan."

"Ngapain? Lu kan juga punya toko hewan."

"Gue mau beli kucing."

SIINNGG!

GEDUBRAK!

Secara reflek Naruto, Shikamaru, Sasuke langsung berdiri dari duduknya. Kiba hanya cengo melihat ketiga sahabatnya seperti itu, Shikamaru dan Sasuke sudah siap dengan posisi kuda-kuda berkelahi, bahkan Naruto sudah memegang sebuah balok kayu yang entah dia dapat darimana.

" Siapa lu?" Tanya Shikamaru pada Kiba.

"Ya gue kibalah." Jawabnya.

"Bohong, setau gue Kiba itu suka anjing bukan kucing." Kali ini Sasuke yang bicara.

"Sumpah samber duit, gue Kiba." Yakin Kiba.

"Bohong, lu pasti alien yang dateng ke bumi terus nyamar jadi Kiba buat nyulik kita-kita kan?" Tanya Naruto.

Kiba hanya bisa melongo mendengar omongan sahabat jabriknya itu.

"Ini gue beneran Kiba, bukan alien." Erang Kiba yang mulai frustasi buat ngeyalinin ketiga sahabatnya itu. "Kalo kagak percaya, lu cium bau gue." Tambahnya.

Shikamaru, Sasuke, dan Naruto memperhatikan dengan seksama orang yang ada didepan mereka.

"Nar, lu cium baunya." Shikamaru membuka suara.

Narutopun mulai mengendus-ngendus seperti anjing pelacak, dan diapun tersadar akan sesuatu.

"Kampret lu pikir gue anjing pelacak ngendus-ngendus baunya dia. Tuding Naruto. "Tapi bener sih, baunya Kiba." Tambahnya.

"Emanga bau gue apaan." Tanya Kiba.

"Bau anjing." Jawab Naruto.

"Kampret lu."

Akhirnya tiga orang tadi yang tiba-tiba berdiri, duduk kembali disebelah Kiba. Tapi masih tetap dengan tatapn aneh, secara Kiba itu pecinta anjing, sedangkan anjing itu musuhnya kucing buat apa coba Kiba beli kucing.

"Sebenernya lu mau beli kucing buat apaan?" Tanya Shikamaru.

"Itu... Anu... "

"Jawab yang jelas." Sasuke ikut berbicara.

"Nnnggg..."

Tapi semua itu terjawab saat seorang gadis cantik berambut coklat berjalan melewati mereka.

Shikamaru dan Sasuke yang memperhatikan gerak-gerik Kiba yang mendadak berubah menjadi malu-malu kucing, akhirnya mengerti alasan Kiba yang ingin membeli kucing.

"Lu suka ya sama Tamaki?" Tanya Shikamaru.

"Eh... Kagak." Elak Kiba.

"Udeh lu jujur aja sama kita-kita." Paksa Sasuke.

"Serius lu Kib, naksir si Tamaki?" Tanya Naruto. "Dia kan pecinta kucing, beda sama elu." Tambahnya.

"Lu bego ye Nar." Cemooh Sasuke.

"Apaan sih lu Sas, ngatain gue bego." Dengking Naruto.

"Masa lu kagak sadar Nar, Kiba ngajakin lu beli kucing buat pedekate sama si Tamaki." Jelas Shikamaru.

"Begitukah, Shik?" Tanya Naruto.

"Ya..." Jawab Shikamaru. "Dan lu ngajakin Naruto buat beli kucing buat ngehindar diejekin sama kita-kitakan." Kali ini beralih pada Kiba.

Kiba hanya terdiam, karna dalam hatinya membenarkan semua perkataan dari Shikamaru.

"Ya... Sudahlah, karna kalian bertiga udah tahu jadi mau kan lu bertiga buat ngerahasiain ini terus ngebantuin gue." Pinta Kiba.

Shikamaru, Sasuke, dan Narutopun memasang pose berpikir.

"Kita mau aja ngebantuin lo." Ujar Sasuke memulai pembicaraan.

"Tapi yang jelas ada syaratnya." Tambah Naruto

"Apaan syaratnya?" Tanya Kiba.

"Lu harus terktir kita bertiga." Jawab Shikamaru, yang diikuti anggukan dua Sasuke dan Naruto.

Kiba yang dari awal sudah ngebet banget buat pedekate sama Tamaki, tanpa pikir panjang langsung menyetuji persyaratn tersebut.

"Oke, gue terima." Putus Kiba.

"Oke, kalau gitu kita langsung berangkat ke toko hewan." Ajak Naruto.

=0=0=0=0=

Sesampainya di toko hewan mereka langsung mencari kucing yang diinginkan.

"Buset banyak banget kucingnya." Ujar Naruto.

"Yaiyalah, namanya juga toko banyak paku, noh ditoko bangunan." Jawab Sasuke.

Naruto hanya mengabaikan perkataan Sasuke, dan memilih melihat-lihat yang lain.

Kiba benar-benar serius ingin membeli kucing, tapi dia bingung ingin membeli yang mana. Jangankan tahu jenis kucingnya apaan, la dia aja kagak tau mana yang jantan mana yang betina.

Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam akhirnya dia memilih seekor kucing berbulu putih yang entah jenis apa. Sang penjaga tokopun mengambilkan hewan tersebut untuk diserahkan kepada Kiba.

Tapi ada satu hal yang saat ini Kiba lupakan, bukannya apa-apa. Sebenarnya dia itu...

BRRUUUKKK!

Alergi sama bulu kucing.

=0=0=0=0=

Saat ini Shikamaru, Sasuke, dan Naruto sedang duduk dipos ronda(lagi), karena Kiba yang tiba-tiba pingsan. Padahal ujung jarinya saja belum menyentuh bulu kucing tersebut.

Setelah ditunggu hampir 30menit, akhirnya Kiba pun sadar dari pingsannya.

"Kampret lu, udah tau alergi kucing masih aja lu nekat buat beli kucing." Maki Naruto.

"Iye, sory gaes gue khilaf." Sesal Kiba.

"Bikin malu aja lu, untung lu temen kita, kagak udeh gue buang lu ke kali." Tambah Sasuke yang ikutan jengkel karna dia yang ngegendong Kiba tadi, dari toko hewan sampai pos ronda.

"Lu semua masih maukan ngantuin gue?" Tanya Kiba dengan tatapan melas. "Please, mau ya Sas, Nar, Shik. Gue bakal beneran nraktir lu-lu pada."

"Oke, kita mau ngebantuin, tapi kalau sampai lu pingsan lagi awas lu." Ancam Sasuke.

Kiba hanya mengangguk girang.

Berangkatlah lagi mereka menuju toko hewan yang tadi. Setelah menyelesaikan semua administrasi akhirnya mereka berangkat menuju rumah Tamaki, kali ini Sasuke langsung mengambil alih sang kucing, takut-takut jika Kiba yang membawa akan jatuh pingsan lagi.

Jarak rumah Tamaki dengan keberadaan mereka berempat tinggal beberapa meter lagi, Sasuke pun langsung menyerahkan kucing yang tadi dibawanya kepada Kiba. Yang tentu saja diterima Kiba dengan agak gemetar.

"Udah cepet sana samperin rumahnya, awas lu pingsan tengah jalan." Ancam Sasuke.

Kiba hanya menganggukkan kepala mantap sambil berjalan perlahan, biarpun agak sempoyongan juga karna barang yang ia bawa.

'Gue harus bisa, gue harus kuat.' Ujar Kiba dalam hati.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup menyiksa akhirnya sampai juga ia didepan rumah sang pujaan hati.

Belum sempat Kiba mengetuk pintu, pintu sudah terbuka menampakkan bidadari yang turun dari angkot. Mungkin seperti itu pemikiran Kiba.

"Eh... Mas Kiba, ada apa ya?" Tanya Tamaki yang terkejut akan kedatangan Kiba ke rumahnya.

"Begini dik Tamaki, ada yang mau aku omongin." Ujar Kiba.

"Ya udah mas, ayo duduk." Ajak Tamaki duduk dikursi diteras rumahnya.

"Jadi gini dik Tamaki, aku mau minta tolong, aku mau nitip kucing ini disini." Mulai Kiba sambil menunjuk sebuah kotak yang isinya seekor kucing yang baru ia beli.

Tamaki sedikit terkejut mendengar permintaan dari Kiba.

"Gimana ya mas, kucing Tamaki udah banyak." Tolak Tamaki secara halus.

"Mas minta tolonglah, dik Tamaki mau ya." Bujuk Kiba sambil memegang tangan Tamaki.

"Gimana ya mas."

Sedangkan Shikamaru, Sasuke, dan Naruto hanya bisa ngedumel ngeliat si Kiba modus pegang-pegang tangan Tamaki.

"Kalo enggak gini, mas bakal tiap hari ngasih duit buat beli makanan kucing-kucingnya dik Tamaki." Bujuk Kiba lagi. " Kasian kucing ini, nggak mungkin mas ngebawa kucing ini pulang kerumah, nanti yang ada malah berantem sama peliharaannya mas." Tambahnya lagi.

Tamaki pun berpikir untuk beberapa saat, dan akhirnya menerima permintaan dari Kiba.

"Ya udah, tapi mas janji ya makanan kucingnya mas yang beliin."

"Oke, dik Tamaki tenang aja."

Setelah itu Kiba langsung pamit pulang, dia memasang senyum bahagia karna sekarang ada alasan buat deket-deket sama sang gebetan. Tapi senyum kebahagian itu seketika sirna karna melihat senyum iblis dari ketiga sahabatnya.

"Yookk... Kib kita beli mie ayam, kita bertiga udah laper berat." Ajak Naruto, sedangkan Kiba? Jangan ditanya dia sudah pasrah mengikuti ketiga sahabatnya jalan didepannya.

.

.

.

.

TBC

Omake/

Sesosok pemuda berambut coklat sedang berjalan gontai menuju rumahnya, bagaimana tidak tadi ia menraktir ketiga sahabatnya yang dengan bar-barnya mereka menghabiskan sembilan buah mangkok mie ayam. Dan ia pun harus membayar itu semua dengan mencuci mangkok-mangkok kotor yang bejibun banyaknya hanya karna uangnya kurang seratus rupiah, ulangi seratus rupiah.

"Kampret lu Nar, Sas, Shik."

Kiba ku sayang, Kiba ku malang.

Yoooo... Minna ini chapter satunya, saya harap kalian suka ya. Mohon maaf kalau fic ini kurang lucu.

REEVVIIEEWW!