Cerita Di Kampung Konoha
Chapter 2
Suatu sore yang cerah di RT.001 kampung Konoha, hari yang menyenangkan dilewati oleh warga disana. Anak-anak yang sedang bermain bola dilapangan, para bapak-bapak yang baru pulang bekerja mencari uang untuk menghidupi keluarganya, para ibu-ibu yang sedang berkumpul. Apalagi kalau tidak sedang bergosip, membicarakan apa saja, mulai dari artis, pejabat, sampai *uhuk* tetangga sendiri *uhuk*.
Tapi tunggu ada yang aneh, dimana para remajanya? Kalian jangan berpikir jika para remaja disini suka tawuran dengan warga kampung lain. Tenang saja meraka saat ini sedang berbondong-bondong menuju masjid Al-Konoha.
Biarpun tampang remaja laki-laki disini lebih mirip preman pasar, tapi mereka rajin sholat kok. mereka punya motto : "Boleh berantem, tapi jangan berani sama orangtua."
Ya, itulah mereka. Tapi yang ikut pengajian kali ini bukan hanya remaja muda saja, remaja tua(baca: Akatsuki.) pun juga ikut. Tau lebih tepatnya terpaksa ikut, karna sang pemimpin genk tersebut diseret oleh sang pacar agar ikut pengajian. Karna ingin menjadi pemimpin yang baik Yahiko langsung memaksa anggotanya untuk ikut.
"Pain, ngapain sih kita ikut pengajian kayak gini?" Tanya Zetsu.
"Sebagai pemimpin yang baik, gue pengen pengetahuan agama lu bertambah" Jawab Pain.
"Sialan lu, blangsak-blangsak gini gue juga tau agama." Balas Zetsu.
"Apaan kemaren lu ngambil wudhu aja salah." Sengit Pain.
Itachi yang berjalan disebalah kiri Zetsupun ikut nimbrung, pembicaraan dua sahabatnya itu.
"Serius lu, ngambil wudhu aja salah?" Tanya Itachi.
"Iye bener Chi, masa zetsu wudhu abis kumur-kumur langsung basuh rambut, kan salah." Terang pain.
"Iye salah lu Jet." Itachi turut menyalahkan.
"Padahalkan yang bener abis-abis kumur-kumur basuh kaki." Ujar Pain dengan bangganya.
Konan berjalan paling depan dan sedari tadi hanya mendengarkan obrolan kekasihnya langsung menengokkan kepalanya.
"Lu juga salah mesum." Ujar Konan dingin.
"Eh... Salah juga ya." Pain hanya nyengir malu, niatnya pengen disanjung sama Konan malah disalahin juga.
"Chi, lu kasih tau yang bener gimana." Suruh Konan.
Itachi mau tak mau harus menjelaskan pada dua sahabatnya yang rada kurang ini.
"Yang bener, abis kumur-kumur ngebersihin lobang idung, terus ngebasuh muka, kedua tangan kanan-kiri bergantian, ngebasuh rambut, lobang telinga kanan-kiri, terus yang terakhir kaki." Jelas Itachi.
"Gitu ya Chi." Beo Pain dan Zetsu bersamaan setelah mendengar penjelasan dari Itachi.
Perjalanan genk Akatsuki menuju masjid Al-Konoha pun berlangsung dengan keheningan yang seperti tidak biasanya. Dari arah yang berlawan terlihat remaja RT.001 berjalan menuju masjid, dimana Sasuke yang berjalan paling depan memimpin rekan-rekannya.
"Jet, lu liat si Sasuke lagaknya makin songong aje." Ujar Hidan pada Zetsu.
"Iye, bener lu Dan. Untung adeknya Itachi, kalo kagak gue bejek-bejek tu bocah." Ujar Zetsu menggebu-gebu.
Itachi yang mendengar adiknya dibicarakan, langsung mengok ke arah Hidan dan Zetsu.
"Apa lu? Berani ama adek gue?" Tanya Itachi.
Hidan dan Zetsu pura-pura tidak mendengar.
Remaja RT.001 dan genk Akatsuki telah sampai dimasjid Al-Konoha, tapi lagi-lagi terjadi keributan antara remaja RT.001 dan genk Akatsuki.
"Eh... Gue dulu yang masuk." Ujar Sasuke.
"Gue yang duluan." Balas Pain tak ingin kalah.
Saat ini mereka berdua sudah berada dipintu depan masjid, tapi karna mereka masuk secara bersamaan mau tak mau tubuh mereka menutupi pintu dan saling gontok-gontokan buat masuk terlebi dahulu.
"Kagak bisa, gue masuk duluan. Lu liat jempol kaki kanan gue udah masuk." Ujar Sasuke sambil menunjuk jempol kakinya.
"Apaan? Nih telunjuk tangan gue udah masuk duluan." Balas Pain tak ingin kalah.
"Pokoknye gue duluan."
"Gue..."
"Gue..."
"Gue..."
"Gu..."
TEEPP!
Sasuke dan pain menengok kebelakang melihat siapa yang menepuk mereka berdua.
"Nak Sasuke, nak Yahiko jangan berantem disini, ini masjid buat beribadah." Ujar orang tersebut sambil tersenyum.
Secara otomatis menyingkir memberikan jalan kepada orang yang sudah mempringatkan mereka tadi, yang ternya pak ustadz Mifune.
"Udahlah Sas, biarin mereka masuk dulan." Kali ini Neji yang menasehati.
Sasuke pun menuruti kata-kata temannya tersebut, Neji mempersilahkan genk Akatsuki untuk masuk terlebih dahulu. Yang mengikuti pengajian kali ini bukan hanya remaja dari RT.001 saja, tapi remaja dari RT sebelah juga ikutan.
Para remaja itupun masuk ke dalam masjid, dan duduk dengan rapinya. Pak Ustadz Mifune duduk diantara jama'ah pengajian, remaja putra berada disisi kiri pak Ustadz, sedangkan remaja putri berada disebelah kanan.
"Semuanya sudah siap?" Tanya pak Ustadz.
"Siap pak." Jawab para remaja.
"Assalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuh." Buka pak Ustadz.
"Waalaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh." Jawab para Jama'ah pengajian.
"Tema pengajian kita kali ini adalah Ramadhan." Ujar pak Ustadz.
Semua jama'ah mulai mendengarkan dengan seksama.
"Bulan Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, dan bulan berlimpah pahala dari Allah swt." Terang Pak ustadz Mifune. "Bulan Ramdhan juga bulan diturunkannya Al-qur'an, sebagai panduan umat manusia. Karna itu setiap tanggal tujuh belas bulan Ramadhan diperingati sebagai Nuzulul Qur'an, nah selain Nuzulul Qur'an ada apa lagi di bulan Ramadhan?" Tanya pak ustadz Mifune kepada seluruh jama'ah pengajian.
"Malam Lailatul Qadar, pak ustadz." Jawab Konan.
"Iya betul. Malam Lailatul Qadar adalah satu malam penting di bulan Ramadhan, yang dalam Al-Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan." Terang pak ustadz. "Malam dimana para malaikat diutus turun ke bumi oleh Allah swt."
Para jama'ah mendengarkan dengan serius penjelasan dari pak ustadz.
"Nah jadi bulan puasa itu adalah bulan yang penuh dengan pahala jika kita mengerjakannya. Tidurnya orang puasa itu juga mendapatkan pahala, tapi alangkah baiknya saat kita berpuasa nanti tidak hanya tidur tapi juga untuk beribadah pahalanya akan lebih besar lagi. Apa ada pertanyaan?" Tanya pak ustadz.
"Pak ustadz, nungguin buka puasa sambil ngopi boleh nggak?" Tanya Pain dengan polosnya.
"Tidak boleh nak Yahiko." Jawab pak ustadz Mifune.
"Berarti kalau ngeteh boleh dong." Ujar Pain dengan santai. Semua yang ada disitu terkikik geli, sedangkan Itachi yang duduk disebelah Pain tngannya sudah gatal ingin menjitak kepala sahabatnya itu.
Pak ustadz Mifune hanya tersenyum mendengarkan penuturan dari Pain.
"Diakhir bulan Ramadhan kita juga diwajibkan untuk membayar yang namanya Zakat fitrah." Lanjut pak ustadz Mifune. "Karna dua setengah persen dari harta kita ada hak untuk anak yatim, dan fakir miskin."
Kakuzu yang mendengar penjelasan dari pak ustadz Mifune langsung merinding disco. Bagaimana tidak, dia sangat jarang untuk membayar yang namanya Zakat fitrah, tahun lalu dia membayar Zakat fitrah itupun karna dipaksa dengan ancaman yang tidak-tidak dari Konan.
"Tuh Ju, makanya lu harus bayar Zakat. Karna dua setengah persen dari duit lu ada hak anak yatim dan fakir miskin." Bisik Hidan pada Kakuzu yang berada disebelahnya.
"Iye gue tau Dan." Jawab Kakuzu.
"Daripada lu susah-susah nyari anak yatim ama fakir miskin, mending lu sumbangin ke gue." Tambah Hidan.
Sedangkan Kakuzu hanya menatap Hidan dengan tatapan. 'Apaan sih lo.'
"Nah, adik-adik remaja sudah siap belum menjalankan ibadah puasa?" Tanya pak ustadz.
"SIAP PAK USTADZ!" Jawab serempak jama'ah disana.
"Kira-kira hutang puasa tahun lalu sudah dibayar belum?" Tanya pak ustadz lagi.
Eh...
Anggota Akatsuki minus Itachi dan Konan tampak kebingungan mendengar kata hutang, Kakuzu yang seorang rentenir bingung. Karna seumur hidupnya ia tidak pernah berhutang, yang ada orang-orang yang berhutang sama dia.
"Maaf pak ustadz hutang puasa itu bagaimana?" Tanya Kakuzu.
Pak ustadz Mifune sedikit berpikir bagaimana caranya menjelaskan kepada Kakuzu.
"Dik Kakuzu puasa tahun lalu penuh satu bulan?" Tanya pak ustadz.
Kakuzu mengingat-ingat kembali puasa tahun lalu, dan dijawab dengan gelengan kepala.
"Terus dik Kakuzu bolong puasa berapa kali?" Tanya pak ustadz lagi.
Kakuzu kembali mengingat-ingat lagi puasa tahun lalu, kira-kira berapa kali ia bolong puasa.
"Kalau nggak salah sepuluh kali pak ustadz." Jawab Kakuzu dengan polosnya.
"Buseeett!" Seru Pain terkejut. "Lu ngapai Ju, bolong sampe sepuluh kali?" Tanya Pain.
"Abisnya gue gak tahan ngeliat anak kecil makan mie ayam didepan gue." Terang Kakuzu, sedangkan pak ustadz Mifune hanya geleng-geleng kepala.
"Nah jadi dik Kakuzu harus membayar hutang puasa dik Kakuzu yang tahun lalu bolong sepuluh kali." Terang pak ustadz.
"Oh... Gitu, terus cara bayarnya gimana pak ustadz? Pake uang cash apa kartu kredir, terus bayarnya lewat man? Kantor pos apa bank." Tanya Kakuzu.
"Dasar mata duitan, lu kira nyicil rumah bayar lewat bank." Celetuk Itachi yang sudah gatal ingin menjitak Kakuzu.
"Dik Kakuzu cukup membayar dengan berpuasa saja." Terang pak ustadz singkat.
Kakuzu pun manggut-manggut mengerti.
"Ada pertanyaan lainnya?" Tanya pak ustadz sambil memperhatikan para jama'ah. "Jika tidak ada, saya akan tutup pengajian ini. Sebelumnya saya minta maaf kalau ada salah-salah kata, kita sama-sama tutup dengan bacaan hamdalah."
'ALHAMDULILLAH.' Serempak jama'ah pengajian.
"Wassalamualikum Warahmatullahi Wabarokatuh."
"Walallaikumsalam Warahmatullahi Wabarokatuh."
Para remaja itupun perlahan mulai berdiri untuk meninggalkan masjid Al-Konoha.
=0=0=0=0=
Diserambi masjid terlihat hanya ada beberapa orang saja yang duduk-duduk sambil menunggu adzan magribh berkumandang, terlihat remaja RT.001 mengobrol dengan serunya, ada juga genk Akatsuki yang juga mengobrol dengan tak kalah serunya. Tapi ada satu keanehan dengam sang ketua mereka yang sedari tadi hanya terdiam.
"Hei, ketua ada apa lu bermuram durjana?" Tanya Sasori.
"Bermuram durja Ri." Celetuk Itachi membenarkan.
Sasori pun menengok ke arah Itachi.
"Iye, maksudnya bermuram durja."
Pain hanya menghela nafas seperti orang tua.
"Gue pengen tobat." Ujar Pain tiba-tiba.
'WHAAAATTT!' Seru genk Akatsuki berjamaah minus Konan, karna do'i memang pilih pulang duluan sehabis pengajian.
Suara berisik dari genk Akatsuki sukses mengalihkan perhatian para Shikamaru cs. Naruto yang sangat penasarn langsung berlari ke arah genk Akatsuki yang juga diikuti yang lain.
"Ada apaan nih?" Tanya Naruto dengan penasarannya.
"Si Pain mau tobat." Ujar Sasori.
Naruro dan lainnya hanya bisa tercengan tak percaya.
"Lu serius Pain?"
"Ah, yang bener lu."
"Boong lu pasti."
Suara-suara seperti terdengar ditelinga Pain. Pain pun memperhatikan teman-temannya tersebut dengan senyum tipis.
"Gue mau tobat, gue nggak mau jadi mesum lagi, gue mau buang semua majalah bokep gue." Ujar Pain dengan terengah-engah.
Semua yang berada disitu hanya bisa melongo tak percaya mendengarkan penuturan dari ketua genk Akatsuki yang terkenal mesum. Tapi dari semua orang yang berada disitu, hanya Itachi yang tersenyum sumringah.
"Serius lu mau tobat beneran?" Tanya Itachi meyakinkan.
Pain hanya menjawab dengan anggukkan kepala.
"Alhamdulillah akhirnya temen gue mau tobat, terus pidio yang ada di hp lo gimana?" Tanya Itachi lagi.
Pain pun tersenyum sambil menatap lagit senja.
"Gue simpen, buat kenang-kenangan." Jawabnya dengan kalem dan enteng.
'JIIIIAAAAHHH! Itu sih sama aja.' Seru mereka berjama'ah.
Sedangkan Pain memasang senyum polos sambil memandang teman-temamnya.
"Sudah-sudah, ayo ambil wudhu udah adzan magrib." Ajak Neji.
Seluruh anggota genk Akatsuki dan remaja RT.001 berjalan menuju tempat wudhu, dan bersiap untuk sholat magrib berjama'ah.
.
.
.
.
TBC
Omake/
Disebuah ruangan yang sederhana terlihat seorang pemuda berambut pirang sedang mengutak-atik sesuatu.
"Dei, lagi ngapain lu?" Tanya Sasori.
"Karna bentar lagi mau puasa, jadi gue mau bikin petasan." Jelas Deidara.
Sasori mendengarkan penjelasan dari Deidara menjadi tertarik melihat hasil karya sahabatnya tersebut.
"Pffft... Apaan nih? Petasan kecil gini, ini mah petasan cabe-cabean." Ejek Sasori.
Deidara hanya mengabaikan ejekan dari Sasori.
"Emangnya lu punya yang lebih gede?" Tanya Deidara.
Sasori memasang senyum yakin.
"Sasori kampret gue lu suruh bawa yang beginian." Seru seseorang dari arah luar rumah.
Sasori dan Deidara yang mendengar ribut-ribut dari luar langsung keluar. Terlihatlah Hidan yang membawa sebuah benda berwarna biru lumayan besar.
"Nih Dei gue bawain lu petasan gede." Ujar Sasori.
Deidara yang melihat hal itu langsung emosi.
"SASORI KAMPRET! Itu tabug gas dua belas kilo." Emosi Deidara.
Yosh... Ini dia chapter keduanya, hahahaha. Oh, iya Ryu minta maaf ya kalau dalam fic ini ada kesalahan kata-kata, atau penjelasannya salah. Dan satu lagi Ryu minta maaf karna senbentar lagi puasa.
REVIIEEWW!
