Cerita Di Kampung Konoha

Chapter 3

Bulan puasa, bulan penuh berkah, bulan penuh rahmat bagi umat muslim diseluruh dunia. Bulan puasa juga banyak akan pahala yang berlimpah, tak jarang orang-orang berlomba-lomba untuk mencari pahala.

Kata pak Ustadz tidurnya orang puasa itu dapat pahala. Mungkin itu yang saat ini dipikirkan oleh pemuda berambut kuning, anak dari pak RT Minato.

Ya, siapa lagi kalau bukan Naruto. Ia saat ini sedang tidur-tiduran dikamarnya yang nyaman bin tentram, setidaknya itu yang ia pikirkan.

"Ah... puasa kayak gini emang paling enak tidur-tiduran, sambil ngadem." Ujar Naruto sambil memejamkan matanya menikmati hembusan angin, dari kipas angin yang ada dikamarnya.

'Kira-kira, siang-siang gini ngedelusi Hinata bikin batal kagak ya?' Tanyanya dalam hati. 'Kayak gini tiba-tiba Hinata dateng sambil nganterin ta'jil buat buka puasa, beruntung banget gue. Udeh kayak ketiban durian runtuh.' Tambahnya lagi sambil senyum-senyum sendiri.

Sedang asyik-asyiknya berdelusi, tiba-tiba sebuah benda jatuh dari atap kamarnya dan menimpa tepat diperutnya.

BBRRRRAAAAAKKKK!

BBBUUUUKKKKK!

AAADDDAAAWWW!

Sebuah terikan kesakitan terdengar dengan keras dikediaman pak RT tersebut. Dari arah luar terdengar suara seseoranh berlari dengan terburu-buru, dan langsung mendobrak kamar Naruto.

"Nar, lu kagak apa-apa kan?" Tanya orang tersebut, yang ternyata Kiba.

Kiba dapat melihat sohibnya sedang meringkuk kesakitan sambil memegangi perutnya, disebelahnya tergeletak sebuah benda bulat dengan kulit berduri lumayan tajam. Ya, Naruto baru saja kejatuhan Durian dalam artian sebenarnya.

"Kagak apa-apa, mbahmu." Jawab Naruto. "Lu liat perut gue sakit banget, mau remuk rasanya." Tambahnya lagi.

Kibapun memegang perut Naruto dengan tidak berperikemanusiannya.

"ADAAAWWW! Sakit woyy." Sentak Naruto.

"Ah... Masih belum remuk Nar, tenang aja." Ucap Kiba dengan entengnya.

Naruto yang masih ngambek, kalo gak mau dibilang marah hanya menatap Kiba dengam tatapan sengit.

"Iye, gue minta maaf Nar." Pinta Kiba.

"Lagian, lu ngapain dirumah gue?" Tanya Naruto penuh selidik.

"Jadi gini, tadi gue ketemu emak lu, katanya duren belakang rumah lu udah mulai bisa dipanen. Nah, ya gue ambil dah ntu duren." Jelas Kiba. "Terus baru satu buah, eh... malah jatuh niban elu." Tambahnya.

"Jadi gara-gara elu, gue ketiban duren betulan." Sengit Naruto.

"Iye, maaf Nar kan gue kagak sengaja."

"Terus ntu duren mau lu bikin apa?" Tanya Naruto sambil menunjuk duren yang tergeletak disampingnya.

"Mau gue bikin es duren, kan lumayan buat buka puasa." Jawab Kiba.

"Ta'jil?"

"Iye, ta'jil."

Mendadak sebuah ide muncul dalam otak Naruto, yang sebenarnya sangat jarang ia gunakan untuk berpikir.

"Kenapa lu senyum-senyum sendiri? Gila lu ya?" Tanya Kiba.

"Enak aja, gue punya ide Kib."

"Apaan?"

"Ntar aje dimasjid, kita kumpul sama anak-anak yang lain. Ntar gue kasih tau."

Kiba yang penasaran akan ide sohibnya, hanya menganggukkan kepala.

"Eh... Lu benerin genteng kamar gue." Suruh Naruto pada Kiba.

"Iye-iye gue benerin."

Kibapun berjalan keluar kamar Naruto untuk memperbaiki genten kamar Naruto yang tadi kejatuhan buah durian.

=0=0=0=

Malam harinya seperti yang dikatakan Naruto tadi siang pada Kiba, para remaja RT.001 sedang berkumpul di serambi Masjid Al-Konoha seusai sholat Tarawih setelah Naruto meminta teman-temannya untuk tidak pulang dulu.

"Jadi lu mau apa ngumpulin kitan disini Nar?" Tanya Shikamaru dengan nada malasnya.

"Jadi gais, gue tadi siang mendadak dapet wangsit dari mbah Hashirama..."

"Waaahh... Syirik lu." Potong Sasuke.

"Dosa lu Nar, bulan puasa percaya ama yang begituan." Tambah Chouji.

"Cepetan tobat Nar, sebelum kamu kehabisan waktu." Kali ini Neji yang bersuara.

"Apaan sih lu Ji, ngedoain gue cepet mati ya." Ujar Naruto sedikit emosi. "Lagian gue cuma becanda..."

"Ah... Kalo cuma becanda gak usah ngumpulin kita-kita juga dong." Ino memotong ucapan Naruto.

"Iye, buang-buang waktu kita aja lu." Tambah Shikamaru.

"Lu kagak tau ye, gue ntu capek seharin jaga toko gue. Gue pengen istirahat." Ino menambahkan lagi.

"Pleeaassee! Gais dengerin dulu omongan gue sampai selesai." Pinta Naruto dengan wajah frustasinya.

"Yaudah, lu ngomong sekarang. Awas aje kalo kagak serius." Ancam Sasuke.

"Iye Sas, iye gue serius." Jawab Naruto yang hampir menangis frustasi.

.

.

.

"Jadi gue punya ide, gimana kalau dibulan puasa ini kita jualan ta'jil."

Siiingg.

Mendadak Sasuke dan Shikamaru loncat memegangi tangan kanan dan kiri Naruto, Sai dan Chouji lamgsung memegangi kaki kanan dan kiri Naruto, Kiba memegang kepala Naruto, Shino melongo, Lee memberikan semangat terhadap rekan-rekannya.

"Ji, cepetan lu bacain ayat kursi. Gue yakin ini anak kesambet setan pohon beringin deket pertigaan sono." Perintah Sasuke.

Nejipun mengerti, diapun mulai mendekat ke arah Naruto yang sedang dipegang kuat oleh teman-temannya agar tidak bergerak.

"Wooiii... Apa-apaan neh, lepasin gue." Ronta Naruto.

Sedangkan teman-temanya yang memeganginya hanya bergeming, tanpa mau melepaskan. Sedangkan Neji semakin dekat berjalan ke arahnya.

"Woooyyy... Gais, gue kagak kesambet setan. Lepasin gue." Pinta Naruto dengan nada memelas.

Tak ada respon sama sekali. Sedangkan Neji sudah berlutu dihadapannya bersiap membacakan ayat kursi.

Naruto entah mendapat kekuatan darimana, berhasil melepaskan diri dari teman-temannya.

"Gila lu pada ya, temen sendiri dikatain kesambet." Ujar Naruto.

"Abisnya lu kagak pernah punya ide bener kayak gitu." Balas Sasuke.

"Apa sehina itu gue dimata lu Sas?" Tanya Naruto dengan mata berkaca-kaca.

"Udah-udah jangan ribut gitu, gue setuju sama idenya Naruto." Lerai Shino.

Narutopun menatap Shino dengen tatapan mendamba, dan langsung memeluk lengan Shino.

"Lu emang sohib gue Shin."

Shino yang diperlakukan seperti itu langsung mendorong wajah Naruto hingga terjungkal. Sedangkan Shikamaru dan lainnya memasang pose berpikir.

"Gue setuju ama ide lu Nar." Shikamaru mulai bersuara.

Yang lainnya juga mengangguk setuju, sedangkan anak-anak cewek yang sedari tadi melihat tingkah konyol para anak-anak cowok juga setuju.

"Terus modhalnya dharimana?" Tanya Sakura.

"Gimana kalo kita patungan saja." Usul TenTen.

"Aku setuju dengan ide TenTen." Ujar Lee.

"Boleh juga, terus ntar uang hasil penjualannya kita kemain?" Tanya Neji.

"Buat makan-makan aja." Seru Chouji.

"Lu pikirannya cuma makan mulu ndut." Seru semuanya.

"Gimana kalo kita sumbangin ke panti asuhan." Kali ini Sasuke yang bersuara.

"Oke juga ide lu Sas." Puji Shikamaru.

Sedangkan Naruto sang pencetus ide tersenyum sumringah melihat respon positif dari teman-temannya.

"M-maaf N-naruto, aku boleh nyumbang jajanan tradisional enggak?" Tanya Hinata pada Naruto.

"Eh... Boleh kok Hinata, boleh banget malah." Ujar Naruto dengan semangatnya.

'My lope-lope ngerespon juga, duh senengnya.' Batin Naruto.

Akhirnya para remaja RT.001 menyepakati ide dari Naruto tersebut. Sedangkan disisi lain serambi masjid, terlihat genk Akatsuki sedang berkumpul dan mencoba menguping. Terlihat dari kuping sang ketua genk yang bergerak-gerak.

"Kita kumpul dirumah gue." Titah Pain.

=0=0=0=

Keesokkan harinya seperti yang sudah disepakati sebelumnya, sore hari ini Shikamaru dan lainnya bersiap untuk berjualan ta'jil. Semuanya sudah dipersiapkan sejak pagi tadi.

Semalam Shikamaru dan kawan-kawan sudah setuju soal pembagian tugas masing-masing. yang bertugas berbelanja kepasar untuk kebutuhan ta'jil, ada Shino, Chouji, Lee, dan Sai. Lalu Shikamaru, Kiba, Neji, dan Sasuke bertugas sebagai tukang angkut untuk kebutuhan berjualan, seperti meja, panci, dan lain sebagainya. Hinata dan Sakura bertugas membuat ta'jilnya, Ino dan TenTen bertugas menjadi penjual. Lalu Naruto bertugas menjadi apa? Dia dengan seenak udelnya menobatkan diri sebagai mandor.

"Nar, untung gue lagi puasa. Kalo kagak, gue hajar lu." Geram Sasuke dengan ngos-ngosan. Dia dan Neji baru saja menggotong meja yang lumayan berat dari rumahnya hingga ke jalan besar, tempat mereka berjualan saat ini.

"Udah Sas, kamu yang sabar." Ucap Neji menenangkan.

"Iye, lagian enak banget lu kagak kerja apa-apa." Tambah Kiba.

"Kib, dimana-mana yang punya ide itu jarang kebagian tugas." Ujar Naruto membela diri.

"Pokoknya lu ntar harus bantuin Ino ama TenTen jualan."

"Kiba udah jangan marah-marah, nanti aku sama Sakura bakal ngebantuin Ino sama TenTen juga kok." Ucap Hinata berusaha menenangkan keadaan.

Kibapun menoleh ke arah Hinata.

"Yaudah, berlima. Naruto tetep harus kerja juga."

"Iye-iye, ntar gue bantuin." Kali ini Naruto menjawab dengan ogah-ogahan.

Dari jauh terlihat, enam orang remaja tua (baca:Akatsuki) sedang berjalan menuju ke jalan besar tempat remaja RT.001 sedang berjualan, yang paling depan ada Pain sang ketua yang berjalan dengan wajah sok cool tapi gagal karna wajah mesumnya masih kelihatan, lalu dibelakangnya ada Itachi, menenteng sebuah termos dan sebuah tas plastik lumayan besar, disebelahnya ada duo Sasori dan Deidara yang membawa sebuah panci, dibarisan paling belakang ada duet maut Kakuzu dan Hidan yang membawa sebuah meja besar yang pastinya amatlah berat.

"Dasar ketua kagak tau diri, udah jalan paling depan kagak bawa apa-apa lagi. Nah kita, anak buahnya dusuruh bawa beginian." Omel Deidara.

"Udah Dei, kagak usah ngomel ntar puasa lu batal." Ujar Sasori.

Merekapun berhenti tepat disebelah stand remaja RT.001 berjualan.

"Ngapain lu semua bawa- bawa begituan? Mau piknik emangnya?" Tanya Sasuke penasaran.

Akatsuki mengabaikan pertanyaan Sasuke, dan mulai meletakkan jajanan ta'jil mereka diatas meja yang tadi sudah digotong oleh Hidan dan Kakuzu.

"Jangan bilang lu semua mau jualan ta'jil juga?" Kali ini Naruto yang bertanya.

"Kalo iya, emang kenapa?" Jawab Pain dengan santainya.

"Kagak bisa, lu pindah dari sini." Usir Naruto.

"Emang disini ada gitu tulisannya, Akatsuki dilarang berjualan disini?" Tanya Pain.

Naruto hanya diam tidak bisa menjawab.

"Ya pokoknya, lu jangan jualan disini. Ntar kagak laku lagi jualan gue."

Pain hanya mengibaskan tangannya dan mengabaikan ucapan dari Naruto. Setelah persiapan selesai, Akatsuki siap untuk berjualan ta'jil.

"Kita lihat jualan siapa bakal habis duluan." Tantang Pain dengan senyum meremehkan.

"Jangan salah kita juga punya orang yang jago jualan." Ujar Lee dengan semangatnya sambil menepuk pundak TenTen.

"Haiya, lu olang liat gue juga jago kalo ulusan jualan." Ucap TenTen.

Sedangkan remaja RT.001 kecuali Lee dan TenTen hanyak bergidik ngeri karna tahu apa isi otak TenTen jika sudah berurusan dengan uang, yang jelas tidak kalah dengan Kakuzu sirentenir Akatsuki.

Waktu yang ditunggupun tiba, jalanan semakin ramai dilewati banyak kendaraan, ada juga yang berjalan kaki. Para bapak-bapak dan ibu-ibu yang sehabis pulang kerja, ataupun sedang ngabuburit bersama keluarganya terlihat berlalu-lalang melewati jalan RT.001 dan genk Akatsuki berusaha memawarkan jajanan yang mereka jual kepada pengendara ataupun pejalan kaki yang melewati stand mereka.

Dan sudah bisa ditebak, stand milik remaja RT.001 lah yang paling banyak dikerubuti oleh orang-orang, hal itu terlihat dari Naruto yang mondar-mandir kesana kemari mengambil inilah, mengambil itulah, bahkan sampai menukarkan uang ditoko seberang jalan Dan terhitung sudah enam kali ia bolak-balik untuk menukarkan uang.

Bagaimana dengan Akatsuki? Dari awal mulai berjualan sampai sekarang belum ada satupun yang laku terjual, tapi sang ketua masih memasang wajah tenang.

"Pain gimana nih, punya kita belum laku sama sekali?" Tanya Itachi.

"Tenang kawan, lu taukan pahlawan selalu menang belakangan." Jawab Pain dengan senyum tenang.

"Lu kata ultramen, pahlawan menang belakangan. Ini jualan, bukan berantem." Seloroh Hidan.

"Kawan tenanglah, oke." Ujar Pain sambil mengacungkan jempolnya dan mngedipkan sebelah matanya.

Dan diantara mereka semua yang paling deg-degan hanya Kakuzu seorang, bagaimana tidak modal berjualan ini semuanya dari uang pribadi miliknya. Tentu saja dia yang palinga resah, jika tidak laku maka bisa dipastikan ia akan kehilangan uang yang paling ia sayangi.

Tak berapa lama seorang ibu-ibu berjalan melewati stand mereka, Pain pun langsung berdiri untul menewarkan ta'jil yang ia jual. Setidaknya dengan susah payah Pain berhasil menghentikan ibu-ibu tersebut, dan itu sebuah kemajuan. Senyum sumringah langsung terpancar dari wajah para anggota Akatsuki.

"Harganya berapa mas?" Tanya ibu-ibu tersebut.

Pain berpikir sejenak menimbang harga yang pas untuk ta'jil yang ia jual.

"Lima ribu aja, kagak mahal." Ucap Pain.

Kakuzu yang mendengar kata lima ribu langsung bereaksi, tapi dengan secepat kilat Itachi langsung membungkam mulut Kakuzu, Deidara dan Hidan memegangi tangan Kakuzu, sedangkan Sasori memegangi tubuh Kakuzu dari belakang.

'Mapus gue rugi, gue rugi. Pain kampret gue rugi.' Batin Kakuzu yang masih meronta-ronta minta dilepaskan.

Setelah ibu-ibu itu pergi, Kakuzu baru dilepaskan oleh teman-temannya.

"Pain, apa-apaan lo. Ngejual murah banget?" Tanya Kakuzu dengan geramnya.

"Apaain sih Ju, yang pentingkan laku dulu. Tenang aja sebelum magrib jualan kita bakal abis kok." Jawab Pain dengan yakin.

Kenyataannya sampai menjelang magrib pun tidak ada satupun yang terjual lagi. Suara adzan magrib mulai berkumandang menandakan buka puasa.

"Alhamdulillah buka puasa." Seru remaja RT.001.

Naruto terduduk lemas ditanah karna kehabisan tenaga, setelah mondar-mandir kesana- kemari.

"Naruto buka dulu." Ujar Hinata sambil menyodorkan segelas kolak pisang kepada Naruto.

"Iye, makasih Hin." Jawab Naruto sambil menerima gelas tersebut.

"Laper!" Seru Chouji yang langsung menyerbu jajanan ta'jil yang masih tersisa.

"Wooyy... Ndut jangan lu abisin sendiri gue juga laper." Seru Kiba yang langsung berlari ke arah Chouji yang juga diikuti Lee dan Naruto.

Dan perang merebutkan jajanan ta'jilpun dimulai.

Neji, Shino, Shikamaru, Sasuke, dan Sai hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan ajaib keempat sahabatnya tersebut.

Lalu bagaimana dengan Akatsuki? Keadaannya sangat mengenaskan, terutama Kakuzu yang sudah berwajah pucat pasi. Karna sudah dipastikan ia telah rugi.

"Pain, gimana ama makanannya?" Tanya Sasori.

"Ya mau gimana lagi, kucing lewat aja kita kasih kagak mau." Ujar Pain.

"Udeh sikat aja, kita abisin." Seru Hidan.

Dan hari itu adalah hari terburuk dalam hidup Kakuzu, yang untuk pertama kalinya ia tidak mendapatkan sebuah ke untungan saat berjualan.

.

.

.

.

TBC

Omake/

Disebuah ruangan yang gelap gulita, yang entah lampunya tidak dinyalakan atau belum bayar listrik, hanya pemilik ruangan tersebut yang tau.

Cklek!

"Ju, jangan depresi gitulah." Bujuk Hidan.

"Gue gak bisa diginiin, Dan." Ujar Kakuzu dengan berlinang air mata.

"Lu harus kuat Ju." Kali ini Itachi berusaha menguatkan temannya.

Teepp!

"Ju, lu yang sabar ya."

"Ini gara-gara elu ketua kampret, gue jadi rugi. Betapa berharganya uang gue." Omel Kakuzu.

Sedangkan Pain hanya tersenyum tenang mendengar ocehan dari Kakuzu.

Tidak jauh dari sana Konan hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan teman-temannya, karna sejak dari dulu apapun yang dikerjakan Akatsuki selalu berkhir dengan kegagalan dan berantakan.

TBC

Yooooo... Ketemu lagi sama Ryu, maaf ya kalau update telat, hehehe...

Ryu mau ucapin terima kasih buat readers yang udah mau ngeluangin waktu buat baca fic Ryu, buat yang ngereview juga makasih. Makasih juga buat FahChan readers yang udah ngePM Ryu buat cepetan update.

Oke segitu saja, terakhir kalinya Ryu minta...

REEVVIIIEEWWW!