Chapter 4
Suara takbir menggema diseluruh penjuru dunia, hari ini adalah hari terakhir bulan puasa dan malam hari ini seluruh umat muslim sedang bertakbir menyambut hari kemenangan esok hari.
Dimalam takbiran ini terlihat di RT.001 seluruh warga sedang bersuka cita, dan juga sibuk. Karna malam hari ini para bapak-bapak dan para pemuda RT.001 sedang bersiap untuk membagikan zakat fitrah ke fakir miskin yang membutuhkan.
Para pemuda RT.001 dibantu genk Akatsuki sedang berkeliling untuk membagikan zakat kepada warga yang membutuhkan, bukan hanya RT.001 tapi RT tetangga jika ada warga yang membutuhkan akan mereka berikan.
Dengan membawa gerobak dorong mereka berkeliling, dengan memulai start dari masjid Al-Konoha di RT.001 dan sekarang mereka sampai di RT.003, mereka telah berjalan lumayan jauh untuk berkeliling.
Hosh... Hosh... Hosh...
"Lu kenapa Ju?" Tanya Hidan kepada Kakuzu yang sedang duduk didelat gerobak sambil mengipas-ngipaskan tangannya.
Kakuzu yang ditanya langsung menengokkan kepala ke arah Hidan.
"Udah tahu gue kayak gini, dan elu masih nanya gue kenapa. Gue rasa lu harus periksain mata lu, Dan." Jawab Kakuzu sedikit emosi.
"Iye Ju iye sory, gue cuma nanya."
"Wooyyy... Ketombe Biawak, enak banget lu ye duduk disini." Teriak Pain yang sedang berjalan menuju ke arah sohibnya tersebut.
Kakuzu dan Hidan menengok ke arah Pain yang meneriaki mereka tadi.
"Enak banget lu Ju, duduk-duduk santai disini. Yang lain lagi mencar buat ngebagiin zakat lu malah duduk disini." Omel Pain.
Kakuzu yang diomeli seperti itu langsung berdiri dan memasang wajah horor nan menyeramkan. Secara jujur sebenarnya Pain juga rada takut juga kalo ngeluat wajah Kakuzu yang horor begitu.
"Dengkul Kecoa, gue udah dorong ini gerobak dari RT.001 sampe sini dan elu masih ngomel? Elu emang kagak ada rasa kasihan ama gue, lu pikir enteng apa ngedorong itu gerobak." Kali ini Kakuzu mengomel balik pada Pain sambil sesekali menyeka air matanya.
"Sabar Ju jangan emosi gitu." Hidan berusaha menenangkan temannya tersebut. "Lu juga Pain keterlaluan, minta maaf gih sama Kakuju." Kali ini Hidan juga mengomel pada Pain.
"Iye deh, maafin gue ya Ju." Pain pun meminta maaf sambil cengar-cengir.
" Ada apaan sih Pain? Gue denger ribut-ribut daritadi." Tanya Shikamaru yang sudah kembali berkumpul setelah membagikan zakat.
Pain menengokkan kepalanya ke arah Shikamaru, dan terlihat dibelakangnya para pemuda RT.001 berjalan ke arah Pain.
"Kagak ada apa-apa." Jawab Pain santai. "Udah semuanya?" Tanya Pain.
"Udeh, kita lanjut jalan lagi." Ajak Shikamaru.
"Oke, kita berangkat. Ju dorong lagi." Perintah Pain pada Kakuzu.
Sedangkan Kakuzu hanya bisa mengelus dada diperlakukan seperti itu.
Dan pembagian zakat malam itu kembali dilakukan, mereka berkeliling sampa RT.005. Setelah itu mereka kembali ke masjid Al-Konoha untuk beristirahat dan takbiran sampai pagi.
=0=0=0=0=
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu, hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa menahan lapar, haus, serta hawa nafsu. Seluruh umat muslim yang ada di dunia merayakan dengan penuh suka cita, tanpa terkecuali.
Sama halnya para warga di RT.001 Kampung Konoha, mereka kini sedang bersiap-siap untuk melakukan sholat ied, di masjid Al-Konoha.
Kita lihat dirumah pak RT Minato yang selalu diwarnai kehebohan.
"Naruto bangun!" Teriak bu RT alias Kushina sambil menggedor-gedor pintu kamar anak semata wayangnya.
Sedangkan yang bersangkutan masih dengan lelapnya tertidur, tak menghiraukan terikan sang ibu yang membangunkan.
"Naruto!"
Tak ada respon.
"Naruto!" Teriaknya lagi.
Tak ada respon.
Kushina yang sudah habis kesabaran dengan terpaksa mendobrak pintu kamar tersebut. Dengan kekuatan luar biasa pintu tersebut langsung terbuka, Kushina langsung berjalan ke arah putranya yang sedang tidur memeluk gulingnya.
Dengan sekuat tenaga ia langsung menjewer kuping Naruto, hingga Naruto terbangun dari tidurnya yang nyenyak.
"A-adaaww!" Teriak Naruto.
"Bangun kagak lu" Teriak Kushina tepat ditelunga Naruto.
"I-iye mak." Naruto duduk diatas kasurnya sambil mengucek matanya.
Minato yang mendengar ribut-ribut tersebut segera berjalan ke arah kamar putranya tersebut.
"Ada apa sih, kok ribut-ribut?" Tanya Minato kalem.
"Ini be, emak ngejewer kuping Naru." Ujar Naruto mengadu pada babenya.
"Itu karna elu dibangunin, kagak bangun-bangun." Ujar Kushina mendorong kepala Naruto.
Sedangkan Naruto hanya bisa bersungut-sungut diperlakukan seperti itu.
"Udah, Naruto cepetan mandi ini udah siang." Titah Minato.
"Emang lu mau telat sholat ied." Tambah Kushina.
Naruto dengan reflek langsung menengokkan kepalanya ke arah jam dinding yang ada dikamarnya.
"GUE TELAT!" Teriak Naruto.
Jika keluarga pak RT diwarnai kehebohan, maka beda lagi dengan keluarga satu ini yang seluruh keluarganya tenang. Siapa lagi kalau bukan keluarga Uchiha.
Kita lihat dikamar sang bungsu Uchiha yang sedang bersiap-siap untuk sholat ied.
'Gue semakin hari semakin tampan aja.' Ujar Sasuke narsis, sambil menyisir rambut bebeknya agar semakin terlihat rapi.
Sasuke yang sedang bersiap-siap tidak menyadari bahwa ia sedang diperhatikan oleh sang kakak yang sedang berdiri diambang pintu kamar Sasuke. Itachi memang sudah siap untuk berangkat ke masjid, ia tinggal menunggu Sasuke yang sedang berdandan.
"Itu kaca bisa pecah kalo elu ngaca mulu." Ujar Itachi pada Sasuke, ia sudah jengah melihat adiknya terus-terusan berkaca dari habis subuh sampai jam segini.
Sasuke dengam malas menengok ke arah Itachi yang berdiri dibelakangnya.
"Bilang aja lu ngiri ama gue." Balas Sasuke.
"Siapa yang ngiri sama elu?" Tanya Itachi. Ya memang sedikit banyak ia iri dengan wajah mulus milik Sasuke, tidak seperti wajahnya yang ada keriput.
"Udeh ngaku aja, muke lu kan emang keriputan." Ejek Sasuke pada kakaknya.
Ingin sekali Itachi menjitak kepala Sasuke, yang dengan seenak mengejek keriput.
"Udahlah berantem sama elu gak ada habisnya. Ayo berangkat, ntar kita telat." Ajak Itachi.
Dengan ogah-ogahan ia berjalan keluar kamar untuk berangkat ke masjid.
Warga RT.001 kini berbondong-bondong menuju masjid Al-Konoha, bukan hanya warga RT.001 warga RT lain juga datang untuk sholat ied disana.
Sholat ied berlangsung dengan khusyuk, dan para warga juga mendengarkan khotbah dari pak ustadz Mifune.
Sholat ied pun selesai, para warga kini saling bersalam-salaman untuk memohon maaf.
=0=0=0=0=
Naruto kini sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, ia pulang bersama dengan Sasuke karna rumah mereka yang berdekatan.
"Sas, ngantuk banget gue." Ujar Naruto sambil sesekali menguap.
"Salah lu sendiri semalem takbiran sampe pagi."
"Kan lebaran jadinya kita harus takbiran sampe pagi." Kali ini Naruto membela diri.
"Eh... Lu kagak inget pak ustadz bilang apa?" Tanya Sasuke.
Naruto hanya menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak ingat.
"Kata pak ustadz, waktu yang paling utama takbiran itu subuh sampe dengan sebelum sholat ied." Terang Sasuke.
"Gitu ya Sas?" Beo Naruto.
Sasuke hanya menganggukkan kepala mengiyakan.
"Sasuke, Naruto." Panggil Shikamaru.
Sasuke dan Naruto berhenti menengok ke arah suara yang memanggil mereka.
"Ada apaan Shik?" Tanya Naruto.
"Jangan lupa abis ini kita dirumah pak RT, buat keliling silahturahmi." Ujar Shikamaru.
Sasuke dan Naruto mengangguk mengerti.
"Satu lagi, kalo Akatsuki mau ikut biarin aja." Tambah Shikamaru.
"Iye, mereka kagak usah dibilangin ngumpul sendiri." Jawab Sasuke.
"Ya udeh gue pulang dulu." Pamit Shikamaru pada Naruto dan Sasuke.
Sasuke dan Naruto memandang kepergian Sahabatnya tersebut.
"Nar, semalem begadang sampe jam berape emang?" Tanya Sasuke.
"Jam 3, emang kenapa?" Jawab Naruto.
"Pantes aje itu bocah matanya kagak kuat melek." Terang Sasuke sambil menunjuk punggung Sasuke yang menjauh.
Kedua pemuda tersebut kembali melanjutkan perjalanan pulang mereka. Setelah sampai ke rumah, Naruto langsung sungkem ke ayah dan ibunya memohon maaf atas semua kesalahan yang pernah Naruto buat, yang disengaja maupun tidak disengaja.
Setelah itu ia dan keluarga langsung sarapan bersama dengan kutupat dan opor ayam, yang dimasak oleh Kushina. Keluarga kecil yang bahagia memang. Setelah selesai sarapan Naruto duduk diteras rumahnya untuk menunggu kawan-kawannya yang akan berkeliling silahturahmi ke tetangga. Karna kemungkinan para anggota genk Akatsuki akan ikut, bisa jadi mereka akan berkeliling samapai ke RT.005.
Pemuda di RT.001 memang tidak banyak, tapi mereka selalu kompak. Hal inilah yang Naruto sukai, teman-temannya selalu datang disaat dibutuhkan. Begitu pula dengan genk Akatsuki, biarpun kadang mengesalkan tapi mereka selalu datang membantu disaat dibutuhkan.
Dan hari lebaran memang selalu ditunggu-tunggu, dimana kita bisa saling memaafkan atas segala kesalahan yang perha kita buat. Dan lebaran juga menjadi momen untuk mempererat tali silahturahmi antar sanak-saudara, sahabat, sampai tetangga.
.
.
.
.
THE END
Omake/
Para pemuda-pemudi RT.001 dan juga genk Akatsuki kini sedang melepas lelah di pos ronda, setelah berkeliling bersilahturahmi ke tetangga-tetangga yang dikenal.
"Bencana." Ujar Kakuzu.
"Apanya yang bencana Ju?" Tanya Hidan.
"Ini bencana Dan, bentar lagi kiamat." Jawab Kakuzu.
"Apaan sih lu, ngomong ngelantur gitu?" Kali ini Konan bertanya.
"Ini bemcana, ini kiamat." Lagi-lagi Kakuzu ngomong ngelantur tidak menjawab pertanyaan Konan.
"Ada apaan sih Ju? Lu ngomong ngelantur lagi gue hajar lu." Kali ini Pain sudah tidak sabar dengan ocehan Kakuzu.
"Ini bencana Pain, tahun ini gue sama sekali kagak dapet THR." Kakuzu mulai menjelaskan, dengan air mata yang bercucuran.
"DASAR KUMIS ONTA!" Teriak mereka semua berjamaah, setelah mendengar penjelasan dari Kakuzu.
Halo, minna-san! Ryu kembali, ini chapter terakhir dari Cerita di Kampung Konoha.
Mohon maaf ya buat para readers selama membaca fic ini, Ryu masih mengecewakan. Dan mohon maaf juga para readers harus nunggu lama fic ini.
Terima kasih sebelumnya buat readers yang berkenan meluangkan waktunya untul membaca fic dari Ryu, terima kasih juga buat readers yang sudah memberikan review untuk fic ini.
Jujur Ryu seneng bisa menamatkan fic ini. Dan semoga para readers suka membacanya, dan mau memberikak reviewnya.
Satu lagi, Happy Eid Mubarak Mohon Maaf Lahir dan Batin, bagi yang mereyakannya.
Jangan lupa ya...
REEEVVVIIIEEEWW!
20-07-2015
