Senyum itu membuatku mati rasa..
Entah apa yang terpendam dibalik senyum menawanmu itu untukku..
Aku hanya takut, kau menagih janji kita dulu..
Dan membuat segalanya berakhir, tanpa menyisakkan sedikitpun bagian dirimu dalam diriku..
Sunbae, bisakah aku tetap mencintaimu?
Bisakah aku...
.
.
.
.
.
"Ambillah."
Eunhyuk mendongakkan wajahnya ketika melihat Donghae telah berada tepat dihadapannya dengan membawa dua kaleng kola dingin yang membuat sosok manis itu hanya mampu menerjapkan kedua matanya tak mengerti. Wajahnya yang lugu membuat sosok yang sedang menyodorkan minuman kola dingin itu hanya bisa tersenyum tipis, pasti sejak tadi Eunhyuk sedang melamun.
"Ini untukmu." Ujar Donghae lagi seraya mendekatkan kaleng kola itu tepat di wajah Eunhyuk yang terlihat memerah.
"Te, terima kasih." Sahut Eunhyuk pelan. Ia meraih kaleng dingin itu dari tangan Donghae, wajahnya ia palingkan agar kedua matanya tak melihat langsung wajah tampan pria yang kini memposisikan tubuhnya untuk duduk di atas bangku yang berada cukup jauh dari tempat Eunhyuk duduk.
"Hari ini panas sekali, minumlah selagi dingin." Titah Donghae kepada Eunhyuk yang hanya diam tanpa niat membuka penutup kaleng itu dan malah membekapnya dengan kedua tangan kurusnya itu.
Donghae segera membuka penutup kaleng itu dan meneguk segala isinya yang dipenuhi dengan kenikmatan soda hingga mampu membuat besi kokoh menjadi karatan, dan jika diminum dengan jangka panjang akan membuat tubuhmu rusak juga.
Eunhyuk mengalihkan pandangan matanya setelah ia memandangi wajah teduh Donghae yang sedang menikmati kola dingin di sampingnya, tatapan matanya ia arahkan tepat di depan sebuah sungai kecil yang bersebelahan dengan jalanan pertokoan dimana tempat kerjanya berjarak cukup dekat dengan tempat yang biasa dilalui oleh sepasang kekasih ataupun untuk mengajak keluarga bersenang-senang dan menikmati semilir angin sore disungai kecil ini.
Pikirannya menerawang jauh, seakan ia mampu kembali kemasa lalu ketika benda itu telah berada didalam pelukannya. Tangannya yang mungil meremas kuat benda itu hingga membuatnya dapat merasakan kebahagiaan yang amat sangat dan juga membuatnya harus menangis pilu disaat bersamaan, saat itu bahkan ia telah mengotori benda itu dengan airmatanya sendiri.
Dua tahun ia seakan lari dari kenyataan, ia bahkan tidak bermaksud mengabaikan kesepakatan itu. Hanya saja keadaanlah yang menyebabkannya tidak bisa untuk sekedar berdiri lagi ditempat yang jauh dan kembali menatap diam-diam sosok disampingnya ketika nanti ia berhasil masuk ke SMA yang sama dengan sunbaenya itu.
Ia tak bermaksud kabur dan melanggar kesepakatan itu, hanya saja kondisi finansialnyalah yang tidak berpihak padanya untuk sekedar berdiam diri tanpa memikirkan kebutuhan hidupnya sendiri. Maka dari itu ia memilih untuk bersekolah di tempat negri yang mampu memberikannya kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Meninggalkan impiannya dan meninggalkan Donghae, pujaan hatinya.
Bahkan ia sempat berfikir, mungkin ini adalah kesempatan yang bagus untuk tidak bertemu dengan Donghae lagi. Ia jadi bisa mengabaikan kesepakatan itu, dan terus memendam perasaan cinta ini tanpa harus melupakannya.
Namun yang terjadi tidak seperti perkiraannya selama ini. Sosok itu, entah bagaimana caranya bisa berada disampingnya. Memandanginya dengan tatapan mata yang sulit sekali ia baca.
Eh?
"Apa yang kau lihat, hm?"
"Ha, hah? Ah! A, aku tidak..." Eunhyuk sontak tergugup ketika ia kepergok oleh Donghae karena tanpa ia sadari ia memandangi wajah rupawan itu dengan tatapan sendu, bahkan Eunhyuk tak menyadari bahwa justru dialah yang sejak tadi dipandangi oleh Donghae.
Ia gelagapan, dan segera mengalihkan perhatiannya dengan membuka tutup kaleng kola yang sejak tadi belum ia sentuh dan kemudian menenggak cairan hitam itu dengan cepat, hingga memyebabkannya tersendak cairan soda itu.
"Uhuk! Uhuk!"
"Pelan-pelan saja, ada apa denganmu? Dasar bodoh." Donghae segera beranjak dari tempat duduknya yang berjarak cukup jauh dengan Eunhyuk. Ia mendekatkan dirinya pada Eunhyuk dan mengusap punggung kecil itu dengan lembut.
Eunhyuk melebarkan kedua matanya, ia sontak beranjak dari tempatnya duduk ketika merasakan sentuhan lembut itu dipunggungnya. Ia menjauhkan tubuhnya dari Donghae seraya mengusap cairan cola yang keluar dari hidungnya dengan tangan kanannya.
"A, apa yang kau lakukan?" Seru Eunhyuk gusar. Ia membalikkan tubuhnya memunggungi Donghae yang saat ini hanya bisa terdiam memandangi punggung sempit itu.
"Eunhyuk."
"Maafkan aku, aku harus bekerja! Kita, kita bicara lain kali saja! Beri aku waktu agar aku siap! Aku mohon sunbae! Beri aku waktu..." Ucap Eunhyuk cepat. Ia segera menatap Donghae dengan mata yang berkaca-kaca, berharap dengan ini Donghae mau mengerti. Memang belum ada pembicaraan apapun tentang kesepakatan itu, hanya saja hatinya tiba-tiba saja menjadi gusar dan gelisah.
Ia belum siap menerima kenyataan yang ada, ia terlalu takut mendengar penolakan untuk yang kedua kalinya dari sosok pria dihadapannya yang saat ini hanya mampu diam tanpa mau mengatakan apapun kepada Eunhyuk.
"Eunhyuk, aku..."
"Aku tahu, maka dari itu... Aku mohon, berikan aku waktu... " Mohon Eunhyuk dengan suara lirih. Ia mengigit bibir bawahnya sebelum membalikan tubuhnya dan meninggalkan Donghae yang kini hanya mampu menghela nafas panjang.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, tanpa berniat mengejar Eunhyuk yang kini telah pergi dengan mengendarai vespa tuanya.
"Dia itu... Ck, bukan itu yang ku maksud bodoh! Kenapa kau tidak diam lebih lama dulu? Bukan itu yang ingin aku bicarakan..."
.
.
.
.
.
.
"Eunhyukee, kau kenapa? Apa kau sakit?"
Eunhyuk terperanjat kaget tatkala bibi Oh tiba-tiba saja menepuk bahunya ketika ia sedang membersihkan meja pelanggan yang baru saja didatangi salah satu pemilik toko di ujung jalan beserta dengan keluarga untuk menikmati mie dingin buatan bibi Oh.
"Astaga! Bibi Oh, kau mengagetkanku!"
"Siapa yang mengagetkanmu eoh? Kau sendiri yang melamun hingga tak menyahuti panggilanku tadi!" Sahut bibi Oh seraya memukul pelan lengan kurus Eunhyuk hingga membuat sosok manis itu sedikit meringis karena serangan dari bibi Oh.
"A, aku tidak... A, aku tidak melamun bibi!" Sergah Eunhyuk membela diri. Ia mengusap lengan kanannya yang baru saja di pukul bibi Oh, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya mengelap meja dan kali ini ia lanjutkan di meja yang lain.
"Apanya yang tidak melamun. Jelas-jelas kau melamun tadi. Ngomong-ngomong ada yang ingin bibi bicarakan padamu." Wanita separuh baya itu perlahan menarik sebuah kursi dan mendudukan dirinya di meja yang sama dengan yang sedang Eunhyuk bereskan saat ini. Eunhyuk segera menghentikan kegiatannya dan memfokuskan dirinya pada wajah bibi Oh yang terlihat senang dengan lesung pipi terpancar di pipi kirinya.
"Bicara apa?" Sahut Eunhyuk tak mengerti.
"Bukankah kau memberikan nomer ponsel bibi kepada seseorang? Kau ingat?" Tanya bibi Oh penuh misterius. Hingga tanpa sadar membuat Eunhyuk tersendak ketika mengingat apa yang telah ia lakukan dengan nomer ponsel milik bibi Oh kemarin. Ia menggaruk pipinya yang tak terasa gatal dan mengalihkan bola matanya kearah lain.
"Ehm... Iya. Di, dia sunbaeku waktu SMP." Jawab Eunhyuk sekenanya. Sebenarnya ada apa dengan bibi Oh? kenapa ia tiba-tiba membicarakan ini dengannya? Tidak biasanya.
Bibi Oh segera merogoh saku apronnya dan meraih sebuah benda persegi panjang berbentuk flip dengan tergesa-gesa. Kumudian menyerahkannya kepada Eunhyuk.
Eunhyuk menerjapkan kedua bola matanya tak mengerti akan tindakan bibi Oh yang tiba-tiba saja menyerahkan ponsel miliknya kepada Eunhyuk. Ia menatap sebuah menu pada ponsel yang bergambar seperti amplop lalu kembali menatap bibi Oh secara bergantian.
"Apa maksudnya dengan..."
"Buka saja! Sejak semalam dia selalu mengirimkan pesan ke ponsel bibi! Bahkan setelah dia tahu itu bukan kau, dia tetap saja mengirimkan pesan pada bibi! Sampai-sampai bibi mengirimkannya alamat kedai kita jika saja dia mau mampir! Dia mengatakan kalau dia itu adalah mantan kekasihmu saat sekolah dulu, dia bilang kalau kau lah yang memutuskan hubungan itu secara sepihak! Maka dari itu mulai sekarang bibi akan memberikan ponsel itu untukmu! Kau harus memperbaiki hubunganmu dulu, baru kau bisa mengembalikan ponsel itu pada bibi! Bibi akan selalu mendukung segala keputusanmu! Meskipun bibi belum pernah bertemu dengannya, tapi sepertinya dia adalah orang yang baik. Jangan kau sia-siakan pria baik seperti mantan kekasihmu itu. Arraseo?!" Ucap bibi Oh dengan antusias kepada Eunhyuk yang saat ini hanya melongo tak percaya akan perkataan yang terlontar dari wanita senja dihadapannya. Ia hanya terdiam hingga pembicaraan itu selesai dengan bibi Oh yang memberikannya sebuah ponsel kuno yang kini telah berada dalam genggamannya.
"A, apa maksudnya? Mantan kekasih? A, apa dia sedang mempermainkanku? Apa jangan-jangan ini adalah..."
.
.
.
.
.
"Dari mana saja hm? Tidak biasanya kau pulang terlambat?"
Pria bersurai hitam legam itu sontak membalikan tubuhnya saat mendapati sesosok wanita cantik tengah menyapanya dengan sebuah senyum hangat yang selalu terpancar diwajah lembut itu. Rambutnya yang terikat rapih, menambah kesan anggun dari wanita berusia 39tahun itu.
"Eommanim."
"Hei, seharusnya kau bilang 'aku pulang' terlebih dahulu. Ini sudah pukul 6 sore, kemana saja hm? Eomma sudah bilang jika kau pulanh terlambat, hubungi eomma supaya eomma tidak perlu me cemaskanmu." Wanita cantik itu menghampiri sosok pria yang ternyata adalah anak dari wanita bersurai kecokelatan itu. Ia mengusap wajah sang putra dengan penuh rasa sayang, menyalurkan cinta yang tak akan per ah pudar oleh waktu.
"Hm, aku tadi pergi kesuatu tempat. Maaf jika aku terlambat." Sahut Donghae-Putra dari wanita cantik itu. Ia meraih tangan halus sang ibu dan menurunkan tangan itu dengan pelan.
Membuat sosok wanita itu tersenyum kecut ketika menerima penolakan halus dari anaknya sendiri.
"Oh, jika eomma boleh tahu... Kemana?"
"Yang pasti bukan untuk menemui abeoji. Aku pergi ketempat yang seharusnya aku temui... Maaf, aku ingin istirahat dulu. Aku akan segera turun untuk makan malam." Jelas Donghae dengan senyum simpul di wajah rupawannya. Ia segera beranjak dari ruang tamu apartemennya dan pergi menuju kamarnya yang berada dilantai atas.
Meninggalkan sang ibu yang saat ini tengah menatap punggung sang anak dengan airmata yang membasahi pipi meronanya.
"Donghae..."
.
.
.
.
.
.
Donghae segera menghempaskan tubuh lelahnya di atas ranjang miliknya yang sangat empuk itu. Kedua matanya menerawang jauh seakan menembus dinding kamarnya hingga mampu memperlihatkan suasana malam dengan bintang yang bertaburan diatas langit.
Ia menghembuskan nafas beratnya melalui mulutnya yang terbuka, entah kenapa ia jadi merasa tidak tenang sejak kejadian sore tadi. Ia segera beranjak dari pembaringannya, rambutnya yang berantakan tidak ia pedulikan sama sekali, yang terpenting sekarang ia harus berfikir bagaimana caranya agar dirinya bisa menyelesaikan segalanya dengan sosok manis yang tadi ia temui.
Ia melirik sebuah benda yang menggantung di samping meja belajarnya, benda yang dulu pernah ia kenakan dengan ukuran yang berbeda dan juga memang bukan miliknya namun benda itu milik seseorang yang satu sekolah dengannya, bahkan sosok itu adalah hubae yang tidak pernah ia kenal sebelum upacara perpisahannya dulu waktu SMP. Sebuah blazer kecil yang selalu menjadi bayang-bayangnya selama ini, menjadi horror baginya saat pertama kalinya ia secara terpaksa harus menyimpan benda itu di kamarnya. Tapi benda itu jugalah yang menjadi penghiburnya disaat kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai.
Ia tersenyum simpul ketika membayangkan betapa bodohnya dia selama 2 tahun hingga saat ini, ia selalu mengajak berbicara blazer milik sosok itu seakan jika tidak melakukannya, sosok amarah karena rasa dicampakan oleh kedua orang tuanya itu akan keluar dari dalam dirinya dan membuatnya menjadi orang yang benar-benar paling menyedihkan di dunia ini.
"Aku tidak bisa membiarkan benda miliknya terus berada di dalam jangkauan mataku... Itu benar-benar menyiksa..." Gumamnya pelan. Sebelum kembali menghempaskan tubuhnya diatas ranjang tunggalnya.
.
.
.
.
.
.
Eunhyuk termangu di meja belajarnya setelah ia baru saja menyelesaikan kegiatan membaca beberapa pesan dari ponsel flip milik bibi Oh yang diberikan kepadanya. Ada lebih dari sepuluh pesan yang dikirim oleh seseorang dengan berbagai macam cerita palsu untuk meyakinkan bibi Oh seolah-olah dia adalah mantan kekasih yang telah di sia-siakan oleh Eunhyuk dan memohon bantuan dari bibi Oh agar membujuk Eunhyuk untuk mau kembali padanya.
Hal itu membuat Eunhyuk yang membacanya hanya mampu menghela nafas panjang, omong kosong macam apa ini?! Apa yang sebenarnya ingin pria itu lakukan padanya? Mempermainkannya? Mempermalukan dirinya di hadapan bibi Oh dengan mengatakan cerita karangan yang tidak seharusnya pria itu lakukan padanya? Tidak cukupkah pria itu menyakitinya dulu? Hingga membiarkan rasa sakit itu menjadi bunga tidur Eunhyuk selama 2 tahun ini?
"Aku tidak mengerti, kenapa ia melakukan ini? Apa dia sedang mengujiku?" Sungut Eunhyuk tak mengerti. Ia meletakkan ponsel flip itu di atas meja belajarnya, kemudian mengalihkan pandangannya pada sisi lain dari flat kecil miliknya untuk melihat blazer milik pria yang masih di cintainya itu.
"Kembalikan balzer ini, saat musim kelulusan tahun depan.. Ketika kau bisa melupakanku, dan mampu melanjutkan keSMA yang sama denganku."
"Kau mengujiku untuk mengetahui aku masih mencintaimu atau tidak kan?" Eunhyuk berujar sendu kepada blazer biru yang menggantung apik di samping pintu kamar mandi flat miliknya, seakan-akan saat ia berbicara dengan benda mati itu, ia seperti berbicara secara langsung dengan pria impiannya sejak dahulu.
"Jika kita bertemu lagi, tanda bahwa aku tak menyukaimu adalah…. Membakar blazermu dihadapanmu juga.."
"Aku takut..."
"Kau harus tetap mengembalikannya."
Tanpa Ia sadari, airmata menetes membasahi sudut matanya hingga mengalir di pipi putih Eunhyuk yang sedikit merona.
"Kau... Kau kejam sekali... Tidak bisakah kau biarkan saja aku menyimpannya? Tidak bisakah kau pergi? Kau menyakitiku... Uh..."
"Dan satu hal yang harus kau terima….Aku tak suka sesama pria… Maaf…"
Tak apa jika kau tidak menyukaiku, tak apa jika kau membakar blazer milikku dan menatapku dengan tatapan merendahkan seperti waktu itu, maki saja aku, lakukan saja...
Tapi ijinkanlah aku untuk memiliki blazer milik mu selamanya, meskipun aku tidak bisa memilikimu, maka memiliki blazermu saja aku tak apa...
Asal jangan mengujiku untuk berhenti mencintaimu...
Karena aku tak bisa menghentikannya...
.
.
.
.
.
.
"Lobak, bawang putih, apa lagi? Hm, sepertinya sudah lengkap semua... Selanjutnya kembali ke kedai. Paman Lee? Aku pergi dulu, terima kasih!" Eunhyuk kembali memasukan catatan belanjaannya pada tas besar yang sengaja ia bawa dari kedai supaya menghemat plastik ketika ia sedang belanja kepasar untuk membeli segala keperluan kedai seperti sekarang ini.
"Ya hati-hati!" Sahut paman Lee dengan senyum senja yang begitu Eunhyuk sukai. Bukan dalam artian khusus, hanya saja Eunhyuk memang selalu suka ketika melihat senyum orang lain yang begitu tulus diberikan untuk dirinya. Baginya melihat senyum kebahagiaan orang lain mampu memberikannya semangat baru untuknya dalam menjalani kehidupannya yang memang hidup menyendiri. Setidaknya masih ada orang-orang yang mau menganggapnya sebagai seorang anak seperti yang telah dilakukan bibi Oh terhadapnya dengan hati yang tulus. Meskipun ia tidak memiliki orang tua, namun adanya bibi Oh ia sudah merasa bersyukur dengan hidupnya.
Eunhyuk berjalan menghampiri vespa kunonya yang ia parkirkan didepan toko paman Lee, dan kemudian menaikinya. Ia tak lupa mengenakan helm putih yang selalu wajib ia kenakan dan kemudian melajukan vespanya menuju kedai bibi Oh yang letaknya cukup jauh dari toko paman Lee.
Hari ini ia memutuskan untuk tidak berangkat ke sekolah karena di sekolahnya sedang diadakan hari kunjungan orang tua. Sejak dia menginjak usia 13tahun, ia tidak pernah mengikuti kegiatan tersebut dan itu sejak kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan yang mereka alami saat ia baru saja masuk di SMP favorit yang selalu ia inginkan dan juga untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya.
Tapi sebelum orang tuanya melihatnya berpidato sebagai perwakilan terbaik murid angkatan baru, ketika dalam perjalanan menuju sekolahnya, sebuah truk menghantam keras badan bus yang tengah di naiki oleh kedua orang tuanya, hingga mengakibatkan 20 korban jiwa meninggal dunia termasuk kedua orang tuanya atas kejadian mengerikan sekitar 4 tahun yang lalu.
Namun seiring berjalannya waktu, pada akhirnya Eunhyuk yang hancur perlahan berhasil menata hidupnya kembali berkat usaha bibi Oh yang ternyata masih berhubungan baik dengan ibunya.
Ia tersenyum senang ketika melihat sosok bibi Oh sedang menyirami tanaman hias yang berada di depan kedai. Ia sontak mempercepat laju vespanya hingga akhirnya ia sampai di depan kedai bibi Oh seraya membawa beberapa belanjaan yang cukup banyak.
"Bibi~ Aku kembali!" Pekik Eunhyuk riang. Ia segera turun dari vespanya, kemudian menenteng belanjaannya dengan kedua tangannya yang mungil.
"Aigo, kemana saja kau? Mengapa lama sekali?! Cepatlah masuk, ada seseorang yang sejak tadi menunggumu didalam!" Bibi Oh segera meraih belanjaan yang tadi Eunhyuk bawa.
"Huh? Siapa?" Tanya Eunhyuk tak mengerti. Ia membuka helm putihnya dahulu dan meletakkannya di atas kaca spion.
"Aishh! Jangan banyak bertanya, cepat kau selesaikan hubunganmu dengan pria tampan itu!"
"A, apa?"
.
.
.
.
.
.
Donghae diam dengan tatapan matanya yang tak pernah lepas dari sosok yang sejak tadi tak bergeming disampingnya, pandangan pria manis itu hanya tertuju pada sungai kecil yang mengalir deras dihadapan mereka berdua.
"Eunhyuk..."
"Kenapa sunbae mengatakan itu pada bibi Oh?"
"Apa?"
Eunhyuk menoleh kearah Donghae dengan tatapan tajam yang ia tunjukkan pada pria bersurai hitam disampingnya saat ini. Sudah cukup, ia tidak bisa hanya berdiam diri saja seperti ini! Tidak atas apa yang telah Donghae lakukan padanya!
"Kau mengatakan pada bibi Oh bahwa aku ini adalah mantan kekasihmu yang telah mencampakanmu dan memohon pada bibi Oh untuk membantumu memperbaiki hubungan kita berdua!" Eunhyuk sontak beranjak dari tempat duduknya dan berdiri didepan Donghae yang masih mendengarkan perkataan Eunhyuk.
"Eunhyuk-ah..."
"Jangan sebut namaku seperti itu! Apa alasanmu melakukan ini padaku?! Apa salahku? Kau membohongi bibiku! Memangnya siapa yang mencampakanmu?! Siapa yang mantan kekasih?! Bahkan khayalanku pun tidak pernah terjadi hal seperti itu! Apa mau mu?! Kau, kau... Kau menginginkan blazermu kembali? Kau ingin tahu apakah aku masih mencintaimu atau tidak kan? Kau melakukan ini untuk mempermainkanku kan?!" Eunhyuk tanpa sadar berteriak didepan Donghae dengan air mata yang entah sejak kapan telah mengalir membasahi kedua pipinya yang memerah karena menahan amarah yang kian membuncang hatinya.
"Lee Eunhyuk!" Donghae mendesis ketika mendengar nada bicara Eunhyuk yang kian meninggi, dan juga airmata yang tidak ia harapkan keluar begitu saja membasahi pipi Eunhyuk. Membuat emosi dalam dirinya semakin tak tertahankan. Ia sontak beranjak dari tempatnya duduk sejak tadi, bahkan ia mencoba meraih bahu Eunhyuk namun pria manis itu malah menghindarinya.
Berhentilah bicara! Dengarkan penjelasanku terlebih dahulu!
"Baik! Aku akan kembalikan! Aku akan membawanya kehadapanmu sekarang juga! Tapi setelah ini, aku mohon pergilah dari kehidupanku!" Ucap Eunhyuk seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sontak membalikan tubuhnya dan berlari meninggalkan Donghae yang terus saja memanggil-manggil namanya.
Beberapa menit kemudian sosok manis itu telah kembali menghampiri Donghae dengan membawa sebuah blazer biru yang ada dalam genggaman tangannya.
Ia ingin melempar benda menyedihkan itu tepat di depan wajah Donghae. Namun belum sempat ia melakukannya, Donghae sudah merebut blazer biru itu dari tangannya yang bergetar dan kemudian tanpa ia duga, Donghae sontak melempar blazer itu tepat menuju sebuah sungai kecil yang saat ini mengalir dengan cukup deras. Hingga mampu menghanyutkan benda menyedihkan itu sampai tak terlihat lagi.
"Semua karena benda sialan itu!"
Dengan nafas yang terengah-engah, Donghae segera menatap wajah Eunhyuk yang kini terdiam dengan tatapan tidak percaya akan apa yang telah Donghae perbuat.
"Apa kau puas? Apa dengan ini kita bisa menghentikan kekonyolan ini? BUKAN KAH KAU SENDIRI YANG MEMUTUSKAN JIKA KAU MENYERAH KAU AKAN MENGEMBALIKAN BLAZER ITU PADAKU?! KAU YANG MEMULAINYA! DAN AKU HANYA INGIN KAU MELAKUKANNYA KARENA AKU TIDAK MAU MEMBUAT MU TERLUKA SAAT ITU!"
"Ji, jika… Jika suatu saat kita bertemu lagi, ma… Maka aku akan mengembalikannya lagi padamu… Jika aku sudah menyerah, aku akan kembalikan…"
Eunhyuk membekap mulutnya dengan kedua tangannya.
" Tapi- Saat itu... Aku masih terlalu muda untuk memahami perasaanmu... Aku, tidak menyangka... Kesepakatan kita dulu menjadi awal kesesakan di dalam dadaku, berbicara dengan blazermu setiap waktu seakan itu adalah dirimu... Aku... Aku terus mencarimu dan datang bukan untuk menagih blazer sialan itu dan membakar blazermu yang ada padaku sebagai jawaban bahwa aku tidak menyukaimu... Tapi aku... Aku ingin kau menggantikan posisi blazer milikmu menjadi dirimu di dalam setiap pandangan mataku, karena aku... Tanpa sadar telah terpaut begitu erat denganmu Eunhyuk-ah..."
"Sejak kembali bertemu denganmu, aku hanya ingin mengatakan ini padamu dan mengakhiri kesepakatan bodoh kita dulu... Tapi kau-" Donghae menjeda perkataannya dengan sorot mata sendu yang mengarah pada paras Eunhyuk yang memerah menahan isakannya.
"Eunhyuk-ah... Apa kau memutuskan untuk menyerah sekarang? Karena aku... Terlanjur mencintaimu..."
.
.
.
.
.
Donghae terbaring dengan tatapan kosong yang ia arahkan pada langit-langit kamarnya, sudah hampir satu jam sejak ia tiba didalam kamar ketika sebelumnya ia terpaksa mengikuti sidang perceraian yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
Tepat enam bulan setelah ia menginjakan kakinya untuk menimbah ilmu ditingkat 1 SMAnya, akhirnya kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah saja dan ibunya sebagai pengasuh tunggalnya untuk beberapa tahun kedepan sebelum ia memutuskan untuk hidup mandiri.
Donghae memejamkan kedua matanya saat merasakan sakit yang tiba-tiba saja berdenyut di dalam hatinya. Ia tak pernah menyangka hal ini akan terjadi dalam kehidupan masa remajanya, mereka mengatakan ini adalah keputusan terbaik bagi kedua orang tuanya dan juga untuk dirinya.
Mustahil, darimananya keputusan itu dianggap kebaikan? Apanya yang baik untuk dirinya? Bahkan mereka memutuskan perpisahan itu tanpa membicarakan dulu padanya! Apa itu bisa disebut dengan kebaikan?!
Donghae sontak memiringkan tubuhnya kearah lain ketika sakit itu tak kunjung mereda dan semakin menyakitkan saat air mata eommanya mengalir ketika hasil persidangan telah di putuskan bahwa mereka telah resmi bercerai.
Perlahan ia membuka kelopak matanya dan mendapati sebuah blazer biru tergantung apik tepat disisi meja belajarnya. Ia terdiam saat bayangan pemilik sosok itu terlintas dipikirannya.
"Jangan mengejekku seperti itu... Dasar bodoh..." Ujarnya pelan, menatap tak minat blazer biru yang terpaksa harus ia simpan itu. Ia segera beranjak dari tempat pembaringannya dan melangkahkan kakinya untuk mendekati blazer biru itu.
"Apa aku terlihat menyedihkan? Sampai-sampai kau memandangku dengan tatapan sendu itu?" Donghae tercekat ketika ingatan beberapa bulan yang lalu kembali terngiang dalam ingatannya. Saat mata sendu itu memohon padanya untuk saling bertukar blazer dan mengungkapkan perasaannya yang tidak pernah Donghae rasakan sebelumnya. Entah kenapa, tatapan menyakitkan itu seperti mengejeknya sekarang ini.
"Kau tidak ada disini, tapi aroma tubuhmu seakan-akan dapat ku hirup... Lucu sekali..." Donghae terkekeh pelan seraya memainkan lengan blazer itu seakan-akan ia mampu mengenggam sang pemilik blazer itu.
"Kau benar-benar mengusik ku... Blazer ini selalu mengingatkanku akan kejadian dulu... Dan sekarang kau menghukumku karena telah menyakitimu kan? Mengatakan hal yang menyinggungmu bahwa aku tidak menyukai sesama laki-laki sepertimu... Konyol sekali, aku tak mengerti apa yang aku bicarakan... Aku jadi bertanya apakan perasaanmu tulus padaku? Apakah ada perasaan cinta yang tulus? Aku tak percaya... Bahkan eomma dan abeojiku..." Donghae tercekat. Tanpa sadar airmata telah membasahi pipinya.
"Aku tidak tahu... Bisakah, bisakah kau tunjukan padaku tentang perasaanmu itu? Aku membutuhkannya... Kembalilah, aku mohon kembalilah untuk perlihatkan padaku... Rasa cintamu itu padaku... Lee Eunhyuk..." Donghae menyandarkan keningnya tepat di dada blazer biru yang menggantung itu. Meremas bagian lengannya, dan membiarkan isakan pilu lolos dari bibir tipisnya.
Aku berjanji akan menemukanmu lagi, dan mengakhiri segala kekonyolanku dulu...
Dan mengganti posisi blazermu dengan ragamu didalam pelukanku...
Karena aku tanpa sadar...
Telah terikat denganmu...
Hanya karena blazer milikmu itu...
Aku mencintaimu...
.
.
.
.
ENd
Maaf ini anehh sekali u.u endingnya tidak memuaskan ya? hehehe
