Ina adalah putri dari Honda Tadakatsu yang lahir di musim semi. Sejak kecil, dia mulai diajarkan cara memanah dengan baik oleh ayahnya. Teringat tentang hal itu, Ina selalu mengikuti jejak Tadakatsu yang tengah melayani Tokugawa dengan begitu setia. Dia selalu ikut berperang di samping ayahnya sembari membantu pekerjaannya sebagai pasukan Tokugawa dari Klan Honda.
Ina merasa bahagia karena memiliki ayah yang berjiwa kuat dengan kesetiaannya kepada Tokugawa. Setengah tahun kemudian, tepat pada suatu hari, ibunya meninggal karena jatuh sakit. Ina merasa sangat sedih, sehingga dia mulai merasa kesepian tanpa ibunya yang senantiasa melahirkannya ke dunia dan membesarkannya hingga terjun ke medan perang bersama Tadakatsu selaku ayahnya.
Pada hari itu juga, Tokugawa Ieyasu, kepala Klan Tokugawa, datang menghampiri Ina dan Tadakatsu.
"Dono … sepertinya Ina merasa agak kesepian setelah ditinggal oleh istriku," keluh Tadakatsu, "Jika aku menikah dengan wanita lain, itu akan membuatnya lebih baik."
"Baiklah kalau begitu, Tadakatsu. Aku sempat mendengar bahwa ada seorang janda dari Wei dengan kedua putrinya," tutur Ieyasu selama mendengar keluhan itu.
"Ah, terima kasih. Dengan menikahinya, aku harap … Ina tidak akan merasa kesepian lagi," balas Tadakatsu.
Setahun kemudian, keputusan itu mulai berjalan melalui lamaran pernikahan yang diajukan oleh pihak Wei di hadapan Klan Honda. Beberapa bulan setelah lamaran itu, mereka menikah. Kemudian, Ina memiliki seorang ibu tiri bernama Zhen Ji dan sepasang kakak tiri bernama Kai serta Hayakawa.
Pada awalnya, Ina, Kai, dan Hayakawa terlihat akrab. Namun, Kai dan Hayakawa terlihat iri dengan kecantikan serta kehebatan yang ada pada diri Ina. Oleh karena itu, Ina lebih dekat dengan Tadakatsu ketimbang bersama ibu dan kakak-kakak tirinya itu. Ketika Ina berusaha untuk mengajak Kai dan Hayakawa bermain bersama, mereka berdua malah mengajaknya ribut dengan bertengkar.
Selama Ina bertengkar dengan Kai dan Hayakawa, Zhen Ji selalu melerai mereka. Zhen Ji mengatakan bahwa Kai dan Hayakawa harus bersikap baik di hadapan Ina selaku adik tiri mereka, tetapi mereka berdua mengabaikannya dengan terus menjahili Ina. Tak lama setelah pertengkaran yang berujung kejahilan itu, biasanya Ina langsung menghampiri Tadakatsu.
"Aduh … Tadakatsu-sama selalu membela Ina …," Zhen Ji menggelengkan kepalanya.
"Iya, Bu! Dia selalu saja mengadu kepada Tadakatsu-sama!" tukas Hayakawa.
Sesaat kemudian, Ina segera menghampiri Tadakatsu untuk segera memberitahu apa yang telah Hayakawa dan Kai lakukan di hadapannya.
"Ayah … mereka jahat …!" tukas Ina ketika segera menghadap Tadakatsu.
"Ina, apa yang mereka lakukan padamu?" tanya Tadakatsu kemudian.
"Mereka menjahiliku …," jawab Ina, kemudian pandangannya berkaca-kaca.
Tadakatsu menghela nafas, lalu berkata di hadapan putrinya, "Ayah mengerti perasaanmu, Ina. Mungkin mereka benar-benar asyik dengan dunia mereka sendiri, sehingga mereka selalu mengajakmu ribut. Walaupun kamu sudah cukup sabar menghadapi Kai dan Hayakawa yang tengah menyakiti dirimu, sepertinya kamu mulai lelah menghadapi kenakalan mereka."
Tak lama setelah mendengar kata itu Ina, langsung memeluk ayahnya dengan erat sambil menangis sejadi-jadinya. Ketika Kai dan Hayakawa melihat keadaan itu, mereka mengejek Ina sebagai gadis kecil yang cengeng.
"Ah, dasar cengeng!" ejek Kai dengan nada genit dan nyelekit, "Kamu selalu menangis hanya karena ini!"
"Dia memang tidak tahu cara bercanda yang benar!" jelas Hayakawa. Kemudian, Kai dan Hayakawa tertawa dengan centil.
"Kai, Hayakawa … nanti malah tak ada habis-habisnya," kata Zhen Ji kemudian.
Mendengar kata itu, Ina mengencangkan suara tangisannya di dalam pelukan Tadakatsu selaku ayahnya. Tak terasa, dia sempat mengungkapkan bahwa Kai dan Hayakawa benar-benar tak bisa dimaafkan.
"Jangan dengarkan kata-kata mereka, Ina," hibur Tadakatsu sambil membalas pelukan Ina, "Tidak ada salahnya jika kamu ingin terus menangis sekaligus mengeluarkan semua luka hati yang kamu rasakan belakangan ini …"
Tak lama kemudian, Ina mengeratkan pelukannya sambil menangis dengan agak keras untuk mengeluarkan seluruh beban yang membuatnya merasa sedih.
Dua tahun kemudian, Ina berpamitan kepada Zhen Ji, Kai, dan Hayakawa untuk ikut berperang dengan Tadakatsu sebagai pasukan Tokugawa pada bagian pemanah. Tanpa berpikir panjang, Hayakawa dan Kai langsung mencegat mereka berdua.
"Jangan, biar Tadakatsu-sama saja yang pergi!" ujarnya, "Mana mungkin kamu bisa memanah dengan kemampuanmu yang masih seperti orang rendahan?!"
"Ina, cewek pengecut sepertimu tidak berhak untuk ikut perang! Jika kamu tetap memaksa, akan kuhajar!" omel Kai yang kemudian datang.
Tiba-tiba, perasaan Ina langsung tersakiti oleh ulah kedua kakak tirinya. Kemudian, Zhen Ji datang untuk menegahi pertengkaran itu.
"Hayakawa, Kai! Bersikaplah baik di hadapan saudari tiri kalian!" ujar Zhen Ji.
"Tapi, Ibu … dia tetap memaksakan dirinya untuk ikut berperang dengan Tadakatsu-sama …," protes Hayakawa, dilanjutkan oleh Kai.
"Biarkan mereka pergi berperang bersama Tokugawa untuk mengetahui bagaimana kelanjutannya!" tiba-tiba, amarah Zhen Ji makin menjadi.
Kai dan Hayakawa terkejut
"B-baik!" tukas mereka kemudian.
Lalu, Tadakatsu dan Ina langsung berjalan ke medan perang dengan menunggangi kuda mereka. Sesampainya di sana, perang tersebut berjalan selama hampir tiga jam lebih. Pasukan Tokugawa berjumlah sekitar 10.000 orang sementara para pasukan pemberontak ada sekitar 30.000 orang. Ternyata, jumlah tersebut tidak mempengaruhi para pasukan Tokugawa oleh usaha mereka.
"Mundur!" perintah Ina di hadapan seluruh pasukan pemanah Tokugawa yang diketuai olehnya.
Ketika seluruh pasukan Tokugawa mulai meninggalkan medan perang secara bergantian, pasukan pemberontak masih saja berniat untuk menyerang mereka. Sebagian perwakilan dari Tokugawa langsung menyerang beberapa pasukan.
Tak lama kemudian, Ina tak menyadari bahwa Tadakatsu terluka parah saat menghadapi beberapa pasukan yang masih berniat untuk menyerangnya. Dia langsung menembakkan panah di hadapan beberapa pasukan itu. Lalu, Ina memutuskan untuk mengantar ayahnya ke pusat medis.
"Ayah, bertahanlah! Kita harus cepat-cepat pulang!" ujar Ina.
Sesampainya di pusat medis pasukan Tokugawa, para pengurus medis langsung menangani luka yang diderita Tadakatsu selama perang berlangsung. Namun di mata semua orang, Tadakatsu adalah sosok panglima perang yang tak pernah mengalami luka satupun. Oleh karena itu, Ina harus merelakan keadaan ayahnya yang mengalami luka parah.
"Maaf, nona," tutur salah seorang dokter, "Luka yang diderita ayah anda terlihat makin kritis, maka … nyawanya tak mampu kita tolong lagi."
"Tidak mungkin!" seru Ina, "Ayah pasti bisa bertahan! Benar, kan?"
"Ayah bisa bertahan, tetapi … sekarang adalah waktunya untuk meninggalkan dunia ini dengan penuh kehormatan sebagai pelayan setia Tokugawa …," balas Tadakatsu menjelang ajalnya.
"Jangan tinggalkan aku, karena Ayah harus tetap berada di sampingku! Kai dan Hayakawa tentu merasa iri padaku, tetapi aku merasa tidak tahan dengan kelakuan mereka!" tiba-tiba, Ina mulai menangis.
"Mungkin kamu harus mengendalikan emosimu untuk menghadapi kejahilan mereka, Ina-ku …," Tadakatsu tertawa kecil untuk terakhir kalinya di hadapan Ina.
Tak lama kemudian, Ieyasu datang
"Tadakatsu, aku juga belum bisa merelakan kepergianmu …," dia pun menghela nafas.
"Ieyasu-dono …," panggil Tadakatsu kemudian, "Datanglah ke sini, untuk mendengarkan pesan-pesan terakhirku …"
Ieyasu segera menghampiri pelayan setianya dari Klan Honda; Tadakatsu
"Ada apa, Tadakatsu? Apakah aku harus …?" tanyanya.
"Aku benar-benar memohon bantuan anda, untuk menjaga Ina. Seperti yang aku tahu setelah istriku meninggal, Ina selalu mendapat tekanan dari Zhen Ji, Kai, dan Hayakawa. Aku kira, Zhen Ji mampu menjadi ibu tiri yang baik untuknya, tetapi dia malah mengikuti jalan pikiran kedua putrinya," jawab Tadakatsu, "Jika dia mulai dibentak-bentak oleh ketiga perempuan itu, berilah dia kehangatan seperti ketika aku mendekatinya."
"Baiklah, aku mengerti sekarang …," balas Ieyasu, "Demi apapun, aku akan melaksanakan tugas ini."
"Ina, dengarkan Ayah untuk terakhir kalinya," Tadakatsu segera memanggil Ina.
Ina segera menghampiri ayahnya untuk terakhir kalinya. Kemudian, dia menaruh kepalanya di atas pundaknya.
"Ayah … aku mohon, jangan tinggalkan aku sekarang …!" tiba-tiba, pandangan Ina mulai berkaca-kaca.
"Ayah tidak akan meninggalkanmu, Ina. Ayah akan selalu berada di dalam lubuk hatimu …," balas Tadakatsu dengan terbata-bata, karena ajalnya semakin mendekat, "Dono … sekali lagi, jagalah Ina dan lindungi dirinya dari apapun yang membahayakan dirinya …"
"Tadakatsu …!" isak Ieyasu ketika melihat Tadakatsu yang tengah sekarat.
"Ayah … tetaplah bersamaku dan Ieyasu-dono …!" rintih Ina.
Sepuluh menit setelah mengatakan kata-kata terakhirnya kepada Ieyasu dan Ina, Tadakatsu menghembuskan nafas terakhirnya. Lalu, Ina menangis agak keras dibandingkan dengan Ieyasu. Tak lama kemudian, seorang pasukan datang dan mengingatkan bahwa upacara pemakaman untuk para prajurit ataupun panglima Tokugawa yang gugur akan dilaksanakan dua hari kemudian.
Mendengar pesan terakhir Tadakatsu, Ieyasu memutuskan untuk mengangkat Ina sebagai putrinya sendiri. Lalu, perasaan Ina terlihat sedikit lega setelah Ieyasu resmi menjadi ayah angkatnya walaupun Tadakatsu tidak memberikan permintaan itu.
Keesokan harinya, tepat di lokasi acara pemakaman, seluruh anggota keluarga dari pasukan Tokugawa yang gugur dalam perang mulai berdatangan. Ketika Zhen Ji, Kai, dan Hayakawa menghampiri Ina, mereka bertiga langsung memberikan beberapa sindiran kepada Ina.
"Heh, begitulah jika kamu ikut perang bersama ayahmu!" ejek Kai.
"Salahmu sendiri karena memutuskan untuk ikut!" tukas Hayakawa dengan nada nyelekit, "Kamu pasti penyebab kematian …"
Mendengar perkataan itu, Ina terlihat berpura-pura tidak mendengar sambil menundukkan kepalanya di atas peti mati Tadakatsu untuk menangis. Lalu, Ieyasu mendatangi mereka.
"Diam!" potong Ieyasu kemudian, "Ini merupakan tugasnya sebagai pelayan Tokugawa bersama Tadakatsu selaku ayahnya sendiri, mengerti!"
"Jangan ikut campur, Tokugawa Ieyasu …," Zhen Ji menghela nafas di hadapan Ieyasu.
Sejak hari itu, kesepian Ina semakin bertambah tanpa ayahnya; Tadakatsu. Tanpa dia sadari, dia malah dijadikan pembantu dadakan oleh Zhen Ji, Kai, dan Hayakawa. Dia harus mengerjakan apa yang mereka perintahkan, tanpa berbagai bantahan. Menurut Ieyasu, perlakuan Zhen Ji kepada putri tirinya terlihat sangat kasar, apalagi Kai dan Hayakawa. Begitulah awal dari segenap penderitaan yang dialami oleh Ina sepeninggal ibu dan ayahnya.
