Pada suatu pagi, Ina bangun lebih awal untuk melaksanakan tugasnya. Ketika dia baru saja selesai mandi dan berganti pakaian dengan yukata birunya, suara Kai dan Hayakawa mulai terdengar. Mereka menyuruh Ina agar segera merapikan kamar tidur mereka.
"Tunggu sebentar, Hayakawa … aku belum selesai membereskan kamar tidur Kai …," ujar Ina ketika menghadapi berbagai protes dari Hayakawa.
"Ya sudah, pokoknya cepetan! Nggak pakai bantah-bantahan, titik!" tukas Hayakawa.
"B-baiklah!" Ina segera membereskan kamar tidur Kai dengan rapi.
Setelah membereskan kamar tidur Kai dan Hayakawa, Ina memutuskan untuk ke dapur dan memasak sarapan. Lalu, Zhen Ji dan Ieyasu datang, disusul oleh Kai dan Hayakawa.
"Wah, wah … sepertinya kamu hebat juga," puji Zhen Ji setelah Ina menyiapkan sarapan, "Aku iri padamu, Ina."
"Kenapa harus iri, Zhen Ji-sama?" tanya Ina, "Padahal anda juga bisa melakukannya."
"Tanpa menyuruh Ina pun kamu juga bisa, tahu," gerutu Ieyasu, namun tetap tenang, "Masa kamu malu dengan seorang putri dari Wu?"
Mendengar kata itu, Zhen Ji merasa tersindir. Kemudian, mereka segera menikmati sarapan yang telah disiapkan oleh Ina. Setelah sarapan, Ina langsung membereskan rumah. Ketika Ina baru saja menyapu seluruh lantai rumah, Kai datang dengan membawa seember air yang diberi sabun dan kain untuk membersihkan lantai.
"Ina! Setelah ini kamu harus membersihkan lantai!" ujar Kai sambil menaruh ember tersebut dengan kencang di hadapan Ina, "Aku malas untuk melakukannya, oleh karena itu aku menyuruhmu!"
Lalu, Hayakawa datang sambil berkata dengan tegas namun nyelekit, "Ina, pemanah rendahan! Bersihkan jendelanya setelah menyapu dan mengepel lantai dengan kain itu! Ingat, jangan dibantah! Aku benar-benar malas membersihkan jendela!"
"Bukannya kalian harus …?" tukas Ina, kemudian terpotong oleh kedatangan Zhen Ji.
"Sudahlah, lakukan saja apa yang Kai dan Hayakawa perintahkan padamu!" ujarnya di hadapan Ina.
"B-baik," balas Ina, "Padahal ini kan, tugas mereka …"
"Tidak ada bantahan, cepat! Itupun setelah kamu menyapu lantai!" omel Zhen Ji kemudian.
"Oh, ya sudahlah …," Ina menghela nafas, lalu dia langsung lanjut menyapu lantai.
Setelah menyapu seluruh bagian lantai, Ina langsung mengepel lantai dengan kain. Selama mengepel, dia mendengungkan salah satu lagu kesukaannya. Karena terlalu capek mengepel, dia terlihat sedang melamun. Sesaat kemudian, dia lanjut mengepel karena masih ada bagian yang kotor.
"Kai, aku sudah selesai …," Ina bernafas lega, "Seandainya kamu lebih mandiri lagi, kamu tidak akan menyuruhku untuk melakukan semua ini."
"Heh, aku tahu itu. Tapi … bersihkan jendela rumah sekarang!" protes Kai.
"Baiklah, Kai," Ina segera membersihkan seluruh bagian jendela yang ada di rumah.
Karena Ina masih terus menuruti perintah mereka berdua, dia makin tertekan dengan perlakuan kedua kakak tirinya. Sementara Zhen Ji selaku ibu tirinya, dia membiarkan mereka memperlakukan Ina sebagai pembantu dadakan di rumah. Ketika Ina hampir selesai membersihkan jendela, Ieyasu datang.
"Ina, ada apa denganmu?" sambut Ieyasu.
"Seperti biasa, Kai dan Hayakawa tetap saja memperlakukan diriku layaknya pembantu …," balas Ina, "Seandainya mereka lebih mandiri lagi, mereka tidak akan memperlakukan diriku seperti ini lagi."
"Aku tahu itu, Ina. Aku juga sudah berkali-kali menegur Zhen Ji agar Kai dan Hayakawa bisa melaksanakan tugas mereka tanpa perlu menyuruhmu terus-menerus," tutur Ieyasu kemudian, "Menurutku, mungkin kamu harus mengatakannya baik-baik."
"Eh, yang benar!?" ujar Ina, "Tetapi, dono … menurut mereka, apa yang kukatakan pada mereka sendiri dianggap sebagai bantahan terhadap Zhen Ji-sama, Kai, dan Hayakawa."
Ieyasu mengangguk, lalu berkata, "Lain kali, kamu harus bisa membuat mereka lebih mandiri lagi."
"Baik!" tukas Ina.
Sesaat kemudian, ada dua orang pengawal kerajaan yang datang ke rumah mereka. Kedua pengawal tersebut bernama Guo Jia dan Cao Ren. Mereka berdua datang ke rumah untuk memberikan sebuah undangan pesta dansa dari kerajaan.
"Permisi … apakah Tokugawa Ieyasu-sama ada di rumah?" sambut Cao Ren ketika mengetuk pintu rumah.
"Ieyasu-dono ada, kok! Sebentar …," Ina langsung membukakan pintu untuk menyambut kedatangan Guo Jia dan Cao Ren.
Tak lama kemudian, Ieyasu mendatangi Guo Jia dan Cao Ren setelah Ina membukakan pintu rumah. Lalu, mereka berdua langusng memasuki rumah untuk memberikan undangan tersebut.
"Ngomong-ngomong, Zhen Ji-sama, Inahime, Kaihime, dan Hayakawa-sama diundang menuju pesta dansa yang diselenggarakan oleh Yang Mulia Raja Sanada Masayuki untuk mencarikan seorang wanita yang pantas dinikahi Pangeran Sanada Nobuyuki, putra sulungnya," jelas Cao Ren kemudian.
"Saya mengerti, Cao Ren. Sesuai dengan pesan terakhir dari Honda Tadakatsu, Ina harus menemukan seorang lelaki terbaik untuk dinikahinya. Asalkan lelaki tersebut bisa menemaninya dengan sepenuh hati sepeninggal Tadakatsu," balas Ieyasu kemudian.
"Baguslah kalau begitu," Guo Jia tertawa kecil.
Lalu, Zhen Ji, Kai, dan Hayakawa datang
"Oh, iya … saya senang mendengarnya, Cao Ren," ujarnya sambil menerima undangan tersebut.
"Pesta dansa tersebut diadakan pukul tujuh malam, di Istana Ueda," jelas Guo Jia, "Ngomong-ngomong, seluruh wanita yang ada di rumah ini telah diundang dalam acara ini."
"Ah, terima kasih …," tutur Hayakawa, "Itu berarti … kita semua bisa ketemu sama pangeran, dong!"
"Benar sekali, kalian akan bertemu dengan sang pangeran, Sanada Nobuyuki," balas Guo Jia.
"Wah … asyiknya!" ujar Kai, "Kita akan berdansa dengan pangeran, kan?"
"Benar sekali," ujar Cao Ren sambil tertawa kecil.
Sesaat kemudian, Ina datang setelah merapikan ruang tamu. Tak lama kemudian, dia segera menghampiri Guo Jia dan Cao Ren.
"Eh, undangan pesta dansa?" ujarnya, disusul oleh anggukan mereka berdua.
"Ina, ngomong-ngomong pesta dansa itulah yang memberimu peluang untuk bertemu dengan sang pangeran kerajaan," jelas Ieyasu.
"Benarkah?" tukas Ina.
"Seperti yang Tadakatsu katakan padamu, kamu harus bisa menemukan seorang lelaki yang dapat mendampingimu dengan sepenuh hati sepeninggal dirinya," tutur Ieyasu kepada putri angkatnya; Ina, "Aku harap, sang pangeran akan menikahi dirimu suatu saat nanti …"
Mendengar kata itu, Kai dan Hayakawa tersentak kaget
"Ieyasu-sama! Memangnya anda pikir, sang pangeran akan tertarik dengan Ina!?" protes Kai.
"Tentu saja, karena Ina begitu membutuhkan seseorang yang setia mendampinginya dengan sepenuh hati," balas Ieyasu.
"Heh, dia tidak akan cocok dengan Ina si pemanah rendah …," ejek Hayakawa di hadapan Ina, lalu terpotong oleh teguran Guo Jia.
"Hei, kalian berdua! Anak orang jangan diejek, kenapa?!" tegur Guo Jia di hadapan Kai dan Hayakawa, "Seingatku, dia kehilangan ayahnya; Honda Tadakatsu ketika perang yang waktu itu! Terus, Tokugawa Ieyasu-sama mengangkatnya sebagai putrinya."
"Maaf …," Kai dan Hayakawa menyerah di hadapan Guo Jia yang tengah menegur mereka.
"Seharusnya kalian tahu diri selama menjadi kakak tiri Inahime sepeninggal ayah kandungnya!" tukas Cao Ren.
Setelah itu, Guo Jia dan Cao Ren kembali ke Istana Ueda. Lalu, Zhen Ji, Kai, dan Hayakawa langsung bersiap-siap untuk berangkat ke pesta dansa ketimbang mengerjakan tugas mereka sebagai pengurus rumah tangga. Sebelum itu, mereka bertiga malah menyuruh Ina untuk membersihkan seluruh wilayah rumah selama hampir satu jam.
"Ingat, dan jangan dibantah dengan alasan apa saja! Rumah ini harus bersih dalam waktu satu jam atau kamu tidak akan diizinkan oleh Ibu untuk hadir ke pesta dansa!" ujar Kai sebelum bersiap-siap ke pesta bersama Hayakawa dan Zhen Ji.
"Baiklah!" tukas Ina dengan berat hati.
Sebelum membereskan rumah dalam waktu hampir satu jam, Ina memutuskan untuk menghampiri Ieyasu yang tengah membaca undangan itu dengan baik-baik.
"Dono, satu jam adalah waktu yang paling singkat untuk membereskan rumah …," keluh Ina.
"Wah, wah … pasti Zhen Ji, Kai, dan Hayakawa langsung mempersiapkan segalanya untuk pesta dansa …," pikir Ieyasu kemudian, "Apa yang mereka lakukan sebelum itu?"
"Mereka menyuruhku untuk membersihkan rumah ini selama satu jam," balas Ina sambil menghela nafas, "Ngomong-ngomong, karena semua perempuan yang ada di rumah ini diundang ke pesta dansa, aku jadi ingin hadir dan bertemu dengan pangeran kerajaan."
"Ina, aku sudah membaca undangan itu baik-baik," jelas Ieyasu, "Pesta dansa tersebut dimulai pukul tujuh malam. Seluruh tamu undangan diperkenankan untuk memakai pakaian terbaik mereka ketika menghadiri pesta dansa tersebut. Acara tersebut diadakan di Istana Ueda."
"Baiklah, Ieyasu-dono. Aku masih beruntung karena memiliki sebuah kimono peninggalan ibuku yang dulu," balas Ina, "Aku yakin, sang pangeran pasti tertarik saat melihatku dengan kimono itu."
"Kalau begitu … sesanggup apapun, kamu pasti bisa membersihkan rumah ini dalam waktu satu jam," dukung Ieyasu kemudian.
"Oh, iya … terima kasih," Ina segera beranjak mengambil sapu untuk membersihkan rumah.
Satu jam kemudian, kira-kira dua jam menjelang pesta
"Ina, sudah selesai belum?!" tanya Zhen Ji dengan tegas.
"Sudah, Zhen Ji-sama," jawab Ina.
"Kalau begitu, aku memperbolehkanmu untuk pergi ke pesta dansa," ujar Zhen Ji.
Akhirnya, Ina terlihat senang dan dia memutuskan untuk berganti pakaian dengan kimono peninggalan ibunya sendiri. Kimono tersebut berwarna merah muda dengan corak bunga sakura dan sabuk biru muda.
